Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Konsumsi energi global meningkatkan sejumlah masalah lingkungan hidup. Untuk


batubara, timbulnya polutan, seperti oksida sulfur dan nitrogen (SOx dan NOx), serta
partikel dan unsur penelusuran, seperti merkuri, merupakan suatu masalah. Teknologi
telah dikembangkan dan dikerahkan untuk menekan emisi-emisi tersebut.
Dampak pada lingkungan hidup dari konsumsi energy kita merupakan masalah bagi
kita semua. Membatasi dampak negatif dari produksi batubara dan penggunaanya
merupakan prioritas bagi industry batubara dan yang telah menjadi fokus penelitian,
pengembangan dan investasi. Banyak yang telah dicapai teknologi telah berkembang
dan banyak digunakan untuk membatasi emisi partikelpartikel halus, NOx dan SOx serta
unsur-unsur penelusuran. Peningkatan efisiensi pembakaran batubara juga telah mencapai
penguranagnyang signifikan dalam emisi karbon dioksida. Penggunaan teknologi yang
lebih untuk meningkatkan kinerja lingkungan batubara akan merupakan hal yang
penting,

terutama

di

negara-negara berkembang

dimana

penggunaan

batubara

ditentukan untuk mengalami kenaikan yang tajam.


Salah satu dampak penggunaan batubara adalah terjadinya hujan asam. Hujan asam
menjadi perhatian dunia selama bagian akhir dari abad yang lalu, pada saat
ditemukan pengasaman danau dan kerusakan pohon di beberapa bagian di Eropa dan
Amerika Utara.
Hujan asam disebabkan oleh sejulmah faktor, termasuk drainase asam dari area hutan
yang telah dibukadan emisi dari pembakaran bahan bakar fosil dalam pengangkutan
dan pembangkit listrik. Oksida sulfur (SOx) dan nitrogen (NOx) diemisikan pada
1

berbagai tingkat selama pembakaran bahan bakar fosil. Gas -gas tersebut memberikan
reaksi kimia terhadap uap air dan zat-zat lainnya di atmosfir dan membentuk asam yang
kemudian mengendap pada saat hujan.
Tindakan-tindakan telah diambil untuk mengurangi emisi SOx dan NOx secara
signifikan dari pembangkit listrik tenaga uap. Pendekatan-pendekatan tertentu juga
memiliki manfaat mengurangi emisi-emisi lainnya seperti merkuri. Sulfur ada di batubara
sebagai campuran dan bereaksi dengan udara pada saat batubara dibakar untuk
menghasilkan SOx. Sebaliknya, NOx terbentuk pada saat bahan bakar fosil dibakar.
Dalam banyak hal, penggunaan batubara dengan kadar sulfur yang rendah adalah cara yang
paling ekonomis untuk mengendalikan dampak negatif penggunaan batubara
Dalam makalah ini dibahas tentang proses pengolahan gas buang dengan teknologi
SCR dan SNCR. Proses pengolahan gas buang dengan teknik SCR dan SNCR merupakan
proses yang sederhana dan efisien untuk mengurangi secara simultan SO2 dan NOx dari gas
buang yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, khususnya pembangkit energi
listrik batubara. Dengan demikian diharapkan tulisan ilmiah ini dapat memberikan
sumbangan dalam mengatasi masalah polusi lingkungan terkait dengan beroperasinya
beberapa buah PLTU batubara di Indonesia.
1.2.

Tujuan

Mengetahui apa yang dimaksud NOX

Mengetahui apa yang dimaksud SCR dan SNCR

Mengetahui prinsip kerja SCR dan SNCR

BAB II
DASAR TEORI

Batas Emisi Gas Buang Hasil Pembakaran Batubara


Jenis polutan yang diemisikan ke atmosfer sangat dipengaruhi oleh jenis bahan
bakar fosil yang digunakan dalam berbagai sistem pembangkit energi. Sebagai contoh,
emisi SO2 yang tidak dikontrol dapat bervariasi antara 550 mg/m3 - 14.000 mg/m3 dari
pembakaran batubara, antara 125 mg/m3 - 1.300 mg/m3 untuk pembakaran minyak ringan
dan berat, dan antara 0 mg/m3 - 25 mg/m3 untuk pembakaran gas; sedangkan emisi NOx
dapat bervariasi antara 300 mg/m3 untuk gas alam dan 1.800 mg/m3 untuk batubara keras
(hard coal). Lignite adalah sumber energi yang sangat umum dan digunakan dalam jumlah
yang sangat besar di seluruh dunia untuk pembangkit listrik dan energi pemanas, karena
harganya murah. Akan tetapi gas buang dari pembakaran lignite mengandung debu, air
dan SO2 dalam jumlah yang sangat besar. Emisi debu dan SO2 per unit pembangkit
panas dari pembakaran lignite adalah jauh lebih besar daripada pembakaran bituminous
coal. Nilai kalor dari lignite kurang dari 3.500 kcal.kg-1 untuk komponen-C dan kandungan
airnya lebih dari 20%, dan emisi SO2 ke atmosfir dapat mencapai lebih dari 5.000 ppm.
Standar nasional atau batas emisi untuk SO2 dan NOx yang dipancarkan dari pembakaran
batubara telah diperkenalkan pada awal 1970 di Amerika Serikat dan Jepang. Pada tahun
1980-an regulasi mengenai lingkungan menjadi sangat maju, lebih keras dan mengikat serta
lebih tersiar kemana-mana. Batas emisi suatu polutan telah ditetapkan di beberapa negara
termasuk Indonesia, dan batas emisi tersebut bervariasi dari satu negara dengan negara
lainnya untuk suatu pabrik atau sistem pembangkit energi yang sama. Bergantung pada
situasi dan kondisi masing-masing negara, dimana batas emisi tersebut dapat berdasar pada
jenis pembangkit energi (baru atau lama), besarnya sistem pembangkit energi dan bahan
bakar yang digunakan. Batas emisi dari setiap negara bervariasi, sebagai contoh: 200
mg/m3 SO2 di Austria dan 2.000 mg/m3 SO2 di Australia untuk pembangkit energi yang
3

sama. Sejumlah negara telah menetapkan batas emisi polutan dari gas buang, namun hasil
emisi tidak selalu memenuhi batas yang ditetapkan. Hal ini mendorong usaha untuk
mendapatkan solusi yang murah guna mengendalikan kelebihan emisi SO2 dan NOx.
Indonesia memiliki cadangan batubara sekitar 36,5 milyar ton atau sebanyak 3,1% dari
seluruh cadangan dunia dengan kualitas environment coal (memenuhi baku mutu emisi
tahun 2000) kurang dari 10%, sedangkan sisanya di atas 90% adalah non environment
coal(tidak memenuhi baku mutu emisi). Cadangan tersebut di atas 67,5% terdapat di
Sumatra dan 31,6% di Kalimantan, sedangkan sisanya tersebar di Jawa, Sulawesi dan
Papua. Dari cadangan yang ada, sebanyak 21,3 milyar ton (58%) batubara dengan peringkat
lignite dan 4,7 milyar ton (13%) peringkat sub-bituminous coal yang berkualitas rendah,
sedang sisanya 5,2 milyar ton (14%) peringkat bituminous coaldan sebagian kecil 0,15
milyar ton (0,4%) berkualitas sangat baik untuk komoditas eksport..
Pada saat ini peraturan perundang-undangan pencemaran udara yang berlaku di Indonesia
adalah sebagai berikut :

Baku mutu udara ambien berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 41, Tahun 1999
tentang Pengendalian Pencemaran Udara,

Baku mutu udara ambien untuk SO2 dan NO2 dan total suspended particulate (debu),

Baku mutu emisi sumber tak bergerak berdasarkan Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No. 13/Men.LHI3/1995. Baku mutu emisi sumber tak bergerak
untuk jenis kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Uap berbahan bakar batubara adalah
sebagai berikut, batas emisi maksimum 750 mg/m3 untuk SO2 dan 850 mg/m3 untuk
NO2 (mulai berlaku pada tahun 2000).

Selain Kementerian Lingkungan Hidup, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
juga berperan aktif dalam hal konservasi lingkungan. Beberapa pendekatan telah diadopsi,
seperti penggunaan bahan bakar bersulfur rendah : bensin dengan sulfur rendah (< 3,5%)
dan batubara dengan sulfur rendah (< 1%); akan tetapi ke depan perlu dipertimbangkan

penggunaan teknologi maju pengolahan gas buang hasil pembakaran batubara, yaitu teknik
iradiasi berkas elektron untuk pengendalian emisi SO2 dan NOx ke atmosfir.

Sumber energi dan dampaknya terhadap lingkungan


Salah satu sumber energi yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia adalah batubara.
Hanya sayang sebagian besar batubara Indonesia berupa lignit yaitu batubara muda.
Batubara muda karena kandungan kandungan pengotor masih cukup besar kalau dibakar
menghasilkan gas-gas yang bermacam-macam dan abu layang berupa debu yang lebih
banyak. Untuk menjaga kelestarian alam, diperlukan biaya yang lebih banyak untuk
mengolah gas buangan ini agar tidak berbahaya bagi lingkungan.

Perkiraan konsumsi sumber energi dimasa yang akan datang dapat dilihat di Gambar
berikut :

Gambar 1. Proyeksi Sumber Energi di Indonesia di Masa Yang Akan Datang

Gas-gas dalam gas buang.


Reaksi pembakaranadalah reaksi antara bahan bakar dengan oksigen dalam ruang
pembakaran. Bahan bakar yang merupakan senyawa organik hidrokarbon bila dibakar
menghasilkan gas CO2dan H2O menurut reaksi : CXHy+ ( x + y)O2 tx CO2+ y H2O
5

Senyawa hidrokarbon yang bermacammacam dan senyawa-senyawa lain yang ada dalam
bahan bakar, menyebabkan hasil pembakaran tidak hanya karbon dioksida (CO2) dan air
(H2O) tetapi juga senyawa berbahaya seperti SO2dan NOX. Kadar gas NOX dan SO2 dalam
gas hasil pembakaran dapat dilihat dalam Tabel berikut :

Pembentukan gas NOX dalam pembakaran bahan bakar


Emisi NOx dari pembakaran dapat dijelaskan sebagai sebagai emisi nitrogen oksida (NO)
dan nitrogen dioksida (NO2). Oksida yang dominan dan yang lebih berbahaya dari kedua
senyawa itu adalah gas NO yang merupakan 95% dari NOx. Meskipun juga terdeteksi N2O
alam gas hasil pembakaran yang bisa merusak ozone di Stratosfir, tujuan pengelolaan
NOxadalah erubah menjadi NO2dan pengambilan gas tersebut.

Pembentukan NOx dalam pembakaran merupakan interaksi antara proses kimia, fisika dan
panas berlangsung melalui 3 tahapan.
1. Pembentukan NOx karena panas
Oksidasi nitrogen dalam atmosfir pada suhu tinggi membentuk radikal oksigen.
Atom berreaksi dengan nitrogen menghasilkan NO.
O2 2 O
O + N2 NO + N
N + O2 NO + O
6

N + OH NO + H
2. Pembentukan NOx dari Bahan bakar
Pembentukan NOxdari bahan bakar disebabkan adanya senyawa hiterosiklik nitrogen yang ada
alam bahan bakar seperti piridin, piperidin dan guinolin yang terdapat dalam minyak dan rantai
iklik maupun rantai terbuka nitrogen dalam batu bara. Senyawa-senyawa nitrogen ini yang
menghasilkan gas NO. Jumlah maupun kecepatan pembentukan NOx dari senyawa nitrogen
tergantung dari ikatannya masingmasing.

3. Pembentukan NOX cepat.


Pembentukan NOX ini terjadi karena reaksi nitrogen dan radikal hidrokarbon selama
pembakaran. Pembentukan NOX ini cepat terjadi pada pelepasan energi panas karena
pembakaran. Sebagai permulaan terjadinya reaksi adalah pembentukan HCN sbb:
CH + N2 HCN + N
CH2+ N2 HCN + NH

Selanjutnya HCN ini mereduksi senyawa nitrogen menjadi NO Penghilangan gas-gas


berbahaya dalam gas buang. Teknologi pengontrolan gas berbahaya dari suatu plant
misalnya pembakaran batubara, bisa melalui dua jalan yaitu dengan modifikasi teknik
pembakaran untuk mencegah terbentuknya atau penghilangan gas berbahaya yang ada
dalam gas hasil pembakaran. Pencegahan terjadinya gas berbahaya, misalnya NOX
dilakukan dengan pembakaran kembali NOX pada kondisi kekurangan udara dan
dilanjutkan pembakaran pada suhu rendah untuk menyempurnakan reaksi. Sedangkan
penanganan gas hasil pembakaran untuk mengurangi NOX yaitu dengan teknik reduksi
katalitis selektif (SCR) dan reduksi non katalitis selektif (SNCR). Penyerapan gas
berbahaya juga dilakukan dengan menyerap gas tersebut dengan bahan penyerap melalui
kontak antara gas yang mengandung gas berbahaya dengan cairan penyerap dalam kolom
absorbsi.

Abu layang yang terikut dalam gas hasil pembakaran dipisahkan dengan pemisah
elektrostatis. Penyerapan gas berbahaya dalam gas hasil pembakaran dilakukan dengan cara
mengkontakkan gas dengan penyerap kalsium hidroksida, yang mengikat gas menjadi
senyawa kalsium sulfat dan kalsium nitrat. Dalam reaktor ini, reaksi disempurnakan dan
7

kemudian dipompakan ke dalam tangki pengenap sehingga kalsium sulfat mengenap.


Setelah dipisahkan kalsium sulfat dicampur dengan abu layang dari pemisahan
menggunakan pemisah elektrotatis.

Pembakaran ulang NOX adalah modifikasi proses pembakaran, sehingga pembentukan NOx
diminimumkan . Pembakaran ulang NOX untuk mengurangi NOX dalam hasil pembakaran
dilakukan melalui 3 tahapan. Tahap pertama gas pembentukan gas NO dengan interaksi
bahan bakar dengan udara, tahap kedua adalah penambahan bahan bakar dibawah kondisi
reduksi (kekurangan oksigen) untuk memproduksi radikal hidrokarbon yang berreaksi
dengan NOX yang terbentuk, menghasilkan N2dan tahapan ketiga adalah penambahan udara
pada suhu rendah untuk menyempurnakan pembakaran. Karena biaya proses penyerapan
ini tinggi, dan hasil samping yang diperoleh yaitu gibsun tidak banyak digunakan, maka

kebanyakan negara berkembang tidak menggunakan penyerap ini, kecuali pada untuk gasgas mempunyai kandungan SOX yang sangat tinggi.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1.

Definisi
NOX adalah sebuah sebutan umum untuk mono-nitrogen oksida NO dan NO2

(nitrogen monoksida dan nitrogen dioksida). Gas ini dihasilkan dari reaksi antara nitrogen
dan oksigen di udara saat pembakaran, terutama pada suhu tinggi. Di tempat-tempat dengan
kepadatan lalu lintas yang tinggi, seperti di kota-kota besar, jumlah nitrogen oksida yang
dilepaskan ke udara sebagai polusi udara dapat meningkat signifikan. Gas NOX terbentuk di
semua tempat yang terdapat pembakaran - contohnya dalam mesin. Dalam kimia atmosfer,
sebutan NOX artinya adalah total konsentrasi dari NO and NO2. NOX bereaksi membentuk
asbut dan hujan asam. NOX juga merupakan senyawa utama pembentuk ozon troposfer.
NOX merupakan gas yang berbeda dengan dinitrogen oksida (N2O) yang merupakan gas
rumah kaca dan sering digunakan pada oksidator, anestetik, dan zat aditif makanan. NOy
(reaktif, nitrogen ganjil) diartikan sebagai penjumlahan antara NOx dengan senyawa hasil
oksidasi dari NOx, yang di dalamnya termasuk dengan asam nitrat.
Nitrogen oksida (NOX) menjadi salah satu polutan dengan jumlah besar yang dihasilkan
oleh boiler, emisi NOX dapat menyebabkan hujan asam, pembentukan ozon, gangguan
penglihatan, serta gangguan kesehatan pada manusia. Atas dasar tersebut pengendalian
emisi NOx sangat diatur oleh regulasi pemerintah di berbagai negara. Di Indonesia sendiri,
emisi gas buang dari boiler diatur batasannya oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup.

Penyusun utama polutan NOX adalah nitrogen oksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2).
Proses pembakaran semua jenis bahan bakar fosil akan menghasilkan NOX sesuai dengan
temperatur kerjanya serta ketersediaan oksigen dan nitrogen pada bahan bakar dan udara.
Emisi NOX yang dihasilkan oleh boiler tersusun atas 90-95% NO dan sisanya adalah NO2.
Namun setelah kombinasi NOX tersebut keluar dari cerobong asap boiler, NO akan
teroksidasi lebih lanjut menjadi NO2. NO2 inilah yang biasanya tampak sebagai asap yang
keluar dari cerobong asap boiler tersebut.

3.2.

Proses Pembentukan NOX

Sebelum kita mengetahui cara-cara untuk mengendalikan emisi NOX, perlu kita pelajari
terlebih dahulu bagaimana proses terbentuknya NOX di dalam furnace boiler. Ada dua
macam cara utama bagaimana NOX dapat terbentuk, yang pertama disebut dengan Termal
NOX, dan yang kedua adalah Fuel NOX. Sebenarnya ada satu jenis lagi fenomena
terbentuknya NOX yang disebut dengan Prompt NOX. Namun karena kontribusinya yang
sangat kecil dalam pencemaran NOX maka proses yang ketiga ini tidak akan kita bahas
pada kesempatan kali ini.
Nitrogen yang terkandung di dalam udara pembakaran dapat teroksidasi dan membentuk
NOX jika proses pembakaran terjadi pada temperatur yang cukup tinggi. Pada temperatur
pembakaran 1204oC, molekul nitrogen (N2) dan oksigen (O2) akan terpecah menjadi atomatom penyusunnya. Selanjutnya atom-atom N2- dan O2- akan bereaksi membentuk ikatan
NO. Pada proses oksidasi lebih lanjut, senyawa NO ini akan menjadi NO2. Proses
pembentukan NOX yang berasal dari nitrogen udara pembakaran inilah yang disebut
dengan termal NOX.
Fuel NOX adalah sebutan bagi nitrogen yang terkandung di dalam bahan bakar fosil
(minyak atau batubara), yang membentuk emisi NOX di akhir proses pembakaran.
Kontribusi fuel NOX dalam membentuk NOX adalah sebesar hingga 50% jika menggunakan
bahan bakar minyak, dan 80% jika menggunakan batubara. Nitrogen di dalam bahan bakar
10

fosil tersebut terikat di dalam ikatan organik senyawa hidrokarbon. Selama proses
pembakaran terjadi, atom nitrogen terlepas menjadi atom bebas dan akan membentuk
ikatan baru berupa NO dan N2. Sekalipun NO yang terbentuk tersebut menjadi penyusun
terbanyak NOX, namun hanya 20-30% saja atom nitrogen yang terkandung di dalam bahan
bakar fosil yang berubah menjadi NO, sisanya membentuk N2.

Pembentukan NOX Pada Pembakaran Batubara


Pada proses pembakaran batubara, atom nitrogen terlepas dari susunan molekul batubara
pada saat awal proses pembakaran karena sifatnya yang volatil (mudah menguap pada
temperatur rendah). Pelepasan atom nitrogen tersebut diikuti dengan proses oksidasi
sehingga terbentuk molekul NO disamping terbentuknya pula N2. Proses pembentukan
NOX yang berasal dari nitrogen volatil batubara menyumbang 60-90% dari keseluruhan
fuel NOX. Sebagian kecil atom nitrogen yang terikat di dalam batubara tidak bersifat volatil
seperti yang lain, sehingga dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk lepas dari molekul
batubara dan teroksidasi lebih lanjut untuk membentuk NOX.
Pembentukan NOX yang berasal dari batubara sangat tergantung dengan perbandingan
stoikiometri bahan bakar dengan udara, namun tidak terlalu tergantung dengan temperatur
proses pembakaran. Atas dasar hal tersebut, pembentukan NOX dapat dikontrol dengan
jalan mengurangi jumlah supply udara pada saat zona awal (inisiasi) proses pembakaran.
Mengontrol proses pencampuran batubara dengan udara sehingga terjadi proses
pembakaran yang bertingkat, juga dapat mengurangi produksi NOX secara signifikan.

11

Metode mengendalikan emisi NOX pada boiler terdiri dari metode pre-combustion (dengan
memilih bahan bakar rendah nitrogen), metode mengendalikan proses pembakaran, serta
metode post-combustion (dengan menggunakan bahan kimia pengurai NOX menjadi N2 dan
H2O). Namun yang paling banyak digunakan adalah dengan mengontrol proses
pembakarannya. Seperti yang telah saya utarakan sebelumnya bahwa mengurangi jumlah
udara pada campuran batubara dengan boiler di awal proses pembakaran, serta mengatur
proses pembakaran agar terjadi secara bertingkat adalah termasuk metode mengurangi
emisi NOX dengan mengontrol proses pembakaran. Berikut adalah sistem-sistem kontrol
pembakaran yang bertujuan untuk mengendalikan emisi NOX:
1.

Pembakaran Low NOX

Burner adalah sebuah komponen proses pembakaran pada boiler yang berfungsi untuk
mencampurkan udara dengan bahan bakar dan memasukkannya ke dalam furnace boiler.
Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, bahwa nitrogen di dalam batubara
menyumbang 80% NOX dari keseluruhan produksi NOX, dengan 60-90% terbentuk pada
saat awal proses (inisiasi) pembakaran. Zona inisiasi pembakaran terjadi pada burner,
sehingga penggunaan burner yang rendah NOX akan secara signifikan menurunkan
produksi NOX. Sistem burner konvensional dapat menghasilkan NOX 984-1968 mg/Nm3,
sedangkan sistem burner rendah NOX hanya menghasilkan 185-615 mg/Nm3.

12

Sistem Burner Rendah NOX (Low NOX Burner)


Prinsip kerja utama dari burner rendah NOX adalah dengan jalan mengontrol supply udara
yang akan dicampurkan dengan batubara. Keseluruhan udara yang dibutuhkan oleh proses
pembakaran dimasukkan ke dalam furnace boiler melalui burner ini, akan tetapi
pencampurannya dengan batubara dibatasi. Udara yang dicampurkan ke batubara pada zona
devolatilisasi dibatasi jumlahnya, sehingga membatasi kemungkinan pembentukan NOX
pada zona ini. Selanjutnya udara sisa yang dibutuhkan untuk proses pembakaran batubara
dimasukkan setelah melewati zona devolatilisasi. Dengan cara ini kita dapat menekan
produksi NOX pada kisaran 30-60%.

13

Bagian-bagian Low NOx Burner


2.

Sistem Udara Bertingkat

Pada sistem ini, supply udara yang dibutuhkan untuk proses pembakaran tidak keseluruhan
dimasukkan melalui burner, sehingga membatasi jumlah oksigen yang terlalu berlebihan
pada saat awal proses pembakaran. Sisa udara yang dibutuhkan untuk proses pembakaran
dimasukkan ke dalam furnace boiler melalui sebuah alat bernama Over Fire Air (OFA)
yang instalasi nya terletak di atas burner. Instalasi OFA memungkinkan terjadi proses
pembakaran yang bertingkat.

14

Sistem Over Fire Air


Efek samping dari penggunaan sistem OFA antara lain dapat meningkatkan bahan bakar
yang tidak terbakar lebih banyak, pembentukan slag (kerak) pada area furnace, serta
peningkatan kemungkinan terjadinya korosi pada pipa-pipa furnace. Resiko ini semakin
meningkat jika digunakan batubara dengan kandungan sulfur yang tinggi. Di sisi lain,
penggunaan sistem udara bertingkat ini akan menurunkan produksi NOX di kisaran 4060%.

15

Susunan Sistem Udara Bertingkat


Teknologi terbaru yang telah dikembangkan untuk mengatasi emisi NOX adalah CSNOX
yang dikembangkan oleh Ecospec Global Technology, sebuah perusahaan riset yang
berpusat di Singapura. Sistem ini tidak hanya dapat mereduksi emisi NOX, namun juga
emisi CO2 dan SO2 dengan jalan penggunaan air yang telah diberi gelombang ultra rendah
untuk mengikat polutan-polutan tersebut.

16

BAB IV
PENUTUP

4.1.

Kesimpulan

Yang dimaksud dengan NOX

adalah sebuah sebutan umum untuk mono-

nitrogen oksida NO dan NO2 (nitrogen monoksida dan nitrogen dioksida). Gas
ini dihasilkan dari reaksi antara nitrogen dan oksigen di udara saat pembakaran,
terutama pada suhu tinggi.

Salah satu cara terbaik untuk mengurangi NOx adalah menghindari dari
bentukan asalnya, beberapa cara telah ditemukan untuk membakar batu bara di
pemabakar dimana ada lebih banyak bahan bakar dari pada udara di ruang
pembakaran yang terpanas. Di bawah kondisi ini kebanyakan oksigen
terkombinasikan dengan bahan bakar daripada dengan nitrogen. Campuran
pembakaran kemudian dikirim ke ruang pembakaran yang kedua dimana
terdapat proses yang mirip berulang-ulang sampai semua bahan bakar habis
terbakar. Konsep ini disebut "staged combustion" karena batu bara dibakar
secara bertahap. Kadang disebut juga sebagai "low-NOx burners

Prinsip kerja utama dari burner rendah NOX adalah dengan jalan mengontrol
supply udara yang akan dicampurkan dengan batubara. Keseluruhan udara yang
dibutuhkan oleh proses pembakaran dimasukkan ke dalam furnace boiler
melalui burner ini, akan tetapi pencampurannya dengan batubara dibatasi.
Udara yang dicampurkan ke batubara pada zona devolatilisasi dibatasi
jumlahnya, sehingga membatasi kemungkinan pembentukan NOX pada zona ini.
Selanjutnya udara sisa yang dibutuhkan untuk proses pembakaran batubara
dimasukkan setelah melewati zona devolatilisasi. Dengan cara ini kita dapat
menekan produksi NOX pada kisaran 30-60%.

17

4.2.

Saran

Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai Pembakaran Low NOX agar bisa
mendapatkan hasil yang lebih baik untuk mengurangi produk dari hasil pembakaran NOX
dikemudian hari.

18

DAFTAR PUSTAKA

19