Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Angin merupakan udara yang bergerak di atas permukaan bumi. Angin
bergerak dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan rendah.
Apabila dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai menjadi lebih
ringan sehingga naik. Apabila hal ini terjadi, tekanan udara turun karena udaranya
berkurang. Udara dingin di sekitarnya mengalir ke tempat yang bertekanan rendah
tadi. Udara menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Di atas tanah udara
menjadi panas lagi dan naik kembali.Aliran naiknya udara panas dan turunnya
udara dingin ini dinamakan konveksi.
Perubahan arah aliran angin serta hubungannya dengan tekanan udara di
bumi memiliki kaitan erat dalam perubahan cuaca dan iklim di bumi. Ada
beberapa faktor yang akan mempengaruhi arah pergerakan angin, antara lain;
gradien barometris, lokasi, elevasi lokasi, dan waktu terjadinya hembusan angin
tersebut. Angin yang terjadi di suatu belahan bumi mungkin saja dapat
berpengaruh pada belahan bumi lainnya.
Oleh karena itu, arah aliran angin yang berpengaruh pada kondisi cuaca di
bumi akan memiliki pengaruh juga pada kondisi hujan yang akan turun di
permukaan bumi. Hal ini tentu saja penting dipelajari, dikarenakan perubahan
kondisi cuaca merupakan faktor penting dalam perhitungan curah hujan yang
terjadi di permukaan bumi. Maka laporan tugas ini merupakan salah satu cara
untuk memahami kondisi pergerakan angin di permukaan bumi.
1.2 Batasan Masalah
Angin yang bergerak di atas permukaan bumi merupakan salah satu faktor
terjadinya perubahan cuaca dan persebaran hujan di permukaan bumi. Maka
batasan masalah yang digunakan dalam laporan tugas ini adalah:
1. Hukum gerak yang berpengaruh pada pergerakan angin
2. Gaya-gaya utama penggerak angin

3. Gaya gaya sekunder yang mempengaruhi angin


4. Kesetimbangan gaya-gaya pengatur angin

1.3 Rumusan Masalah


Dengan memperhatikan batasan masalah, maka permasalahan yang dapat
dirumuskan adalah sebagai berikut:
1. Hukum gerak apa sajakah yang berpengaruh pada pergerakan angin di
atas permukaan bumi?
2. Gaya gaya apa saja yang berpengaruh pada pergerakan angin di atas
permukaan bumi?
3. Apakah terdapat gaya sekunder yang juga berperan dalam pergerakan
angin di permukaan bumi?
4. Bagaimanakah kesetimbangan gaya yang berpengaruh pada pergerakan
angin?

1.4 Tujuan dan Manfaat


Penyusunan laporan tugas Mata Kuliah Hidrometrologi ini bertujuan untuk
memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pengajar serta mendalami materi bab
pergerakan angin dalam mata kuliah tersebut. Laporan tugas ini bermanfaat
sebagai bahan referensi pembaca serta mahasiswa dalam memahami dan
mendalami

materi

Hidrometrologi.

Angin

dan

Pergerakannya

dalam

Mata

Kuliah

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Angin
Angin adalah udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan
juga karena adanya perbedaan tekanan udara di sekitarnya. Angin bergerak dari
tempat bertekanan udara tinggi ke bertekanan udara rendah.
Apabila dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai menjadi
lebih ringan sehingga naik. Apabila hal ini terjadi, tekanan udara turun kerena
udaranya berkurang. Udara dingin di sekitarnya mengalir ke tempat yang
bertekanan rendah tadi. Udara menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah.
Di atas tanah udara menjadi panas lagi dan naik kembali. Aliran naiknya udara
panas dan turunnya udara dingin ini dinamanakan konveksi.
Faktor terjadinya angin, yaitu:

Gradien barometris
Bilangan yang menunjukkan perbedaan tekanan udara dari 2 isobar yang
jaraknya 111 km. Makin besar gradien barometrisnya, makin cepat tiupan
angin.

Letak tempat
Kecepatan angin di dekat khatulistiwa lebih cepat dari yang jauh dari garis
khatulistiwa.

Tinggi tempat
Semakin tinggi tempat, semakin kencang pula angin yang bertiup, hal ini
disebabkan oleh pengaruh gaya gesekan yang menghambat laju udara. Di
permukaan bumi, gunung, pohon, dan topografi yang tidak rata lainnya
memberikan gaya gesekan yang besar. Semakin tinggi suatu tempat, gaya
gesekan ini semakin kecil.

Waktu
Di siang hari angin bergerak lebih cepat daripada di malam hari.

Gambar 2.1
Anemometer, alat pengukur kecepatan angin
2.1.1. Angin laut
Angin laut (sea breeze) adalah angin yang bertiup dari arah laut ke
arah darat yang umumnya terjadi pada siang hari dari pukul 09.00 sampai dengan
pukul 16.00 di daerah pesisir pantai. Angin ini biasa dimanfaatkan
para nelayan untuk pulang dari menangkap ikan di laut. Angin laut ini terjadi pada
siang hari. Karena air mempunyai kapasitas panas yang lebih besar daripada
daratan, sinar matahari memanasi laut lebih lambat daripada daratan. Ketika suhu
permukaan daratan meningkat pada siang hari, udara di atas permukaan darat
meningkat pula akibat konduksi. Tekanan udara di atas daratan menjadi lebih
rendah karena panas, sedangkan tekanan udara di lautan cenderung masih lebih
tinggi karena lebih dingin. Akibatnya terjadi gradien tekanan dari lautan yang
lebih tinggi ke daratan yang lebih rendah, sehingga menyebabkan terjadinya angin
laut, dimana kekuatannya sebanding dengan perbedaan suhu antara daratan dan
lautan. Namun, jika ada angin lepas pantai yang lebih kencang dari 8 km/jam,
maka angin laut tidak terjadi.
2.1.2. Angin darat
Angin darat (land breeze) adalah angin yang bertiup dari arah darat ke
arah laut yang umumnya terjadi pada saat malam hari dari jam 20.00 sampai
dengan jam 06.00 di daerah pesisir pantai. Angin jenis ini bermanfaat bagi para
nelayan untuk berangkat mencari ikan dengan perahu bertenaga angin sederhana.

Pada malam hari daratan menjadi dingin lebih cepat daripada lautan, karena
kapasitas panas tanah lebih rendah daripada air. Akibatnya perbedaan suhu yang
menyebabkan terjadinya angin laut lambat laun hilang dan sebaliknya muncul
perbedaan tekanan yang berlawanan karena tekanan udara di atas lautan yang
lebih panas itu menjadi lebih rendah daripada daratan, sehingga terjadilah angin
darat, khususnya bila angin pantai tidak cukup kuat untuk melawannya.
2.1.3. Angin lembah
Angin lembah adalah angin yang bertiup dari arah lembah ke arah
puncak gunung yang biasa terjadi pada siang hari.
2.1.4. Angin gunung
Angin gunung adalah angin yang bertiup dari puncak gunung ke lembah
gunung yang terjadi pada malam hari.
2.1.5. Angin Fohn
Angin Fohn/angin jatuh adalah angin yang terjadi seusai hujan Orografis.
angin yang bertiup pada suatu wilayah dengan temperatur dan kelengasan yang
berbeda. Angin Fohn terjadi karena ada gerakan massa udara yang naik
pegunungan yang tingginya lebih dari 200 meter di satu sisi lalu turun di sisi lain.
Angin Fohn yang jatuh dari puncak gunung bersifat panas dan kering, karena uap
air sudah dibuang pada saat hujan Orografis.
Biasanya angin ini bersifat panas merusak dan dapat menimbulkan korban.
Tanaman yang terkena angin ini bisa mati dan manusia yang terkena angin ini bisa
turun daya tahan tubuhnya terhadap serangan penyakit.
2.1.6. Angin Munsoon
Angin Munsoon, Moonsun, muson adalah angin yang berhembus secara
periodik (minimal 3 bulan) dan antara periode yang satu dengan yang lain polanya
akan berlawanan yang berganti arah secara berlawanan setiap setengah tahun.
Biasanya pada setengah tahun pertama bertiup angin darat yang kering dan
setengah tahun berikutnya bertiup angin laut yang basah. Pada bulan Oktober
April, matahari berada pada belahan langit Selatan, sehingga benua Australia
lebih banyak memperoleh pemanasan matahari dari benua Asia. Akibatnya di

Australia terdapat pusat tekanan udara rendah (depresi) sedangkan di Asia


terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi (kompresi). Keadaan ini menyebabkan
arus angin dari benua Asia ke benua Australia.
Di Indonesia angin ini merupakan angin musim Timur Laut di belahan
bumi Utara dan angin musim Barat di belahan bumi Selatan. Oleh karena angin
ini melewati Samudra Pasifik dan Samudra Hindia maka banyak membawa uap
air, sehingga di Indonesia terjadi musim penghujan. Musim penghujan meliputi
seluruh wilayah indonesia, hanya saja persebarannya tidak merata. makin ke timur
curah hujan makin berkurang karena kandungan uap airnya makin sedikit.
Pada bulan April-Oktober, matahari berada di belahan langit utara,
sehingga benua Asia lebih panas daripada benua Australia. Akibatnya, di asia
terdapat pusat-pusat tekanan udara rendah, sedangkan di australia terdapat pusatpusat tekanan udara tinggi yang menyebabkan terjadinya angin dari australia
menuju asia.
Di indonesia terjadi angin musim timur di belahan bumi selatan dan angin
musim barat daya di belahan bumi utara. Oleh karena tidak melewati lautan yang
luas maka angin tidak banyak mengandung uap air oleh karena itu di indonesia
terjadi musim kemarau, kecuali pantai barat sumatera, sulawesi tenggara, dan
pantai selatan irian jaya.
Antara kedua musim tersebut ada musim yang disebut musim pancaroba
(peralihan), yaitu musim kemareng yang merupakan peralihan dari musim
penghujan ke musim kemarau, dan musim labuh yang merupakan peralihan
musim kemarau ke musim penghujan. Adapun ciri-ciri musim pancaroba yaitu :
Udara terasa panas, arah angin tidak teratur dan terjadi hujan secara tiba-tiba
dalam waktu singkat dan lebat.
Angin Munson dibagi menjadi 2, yaitu Munson Barat atau dikenal dengan
Angin Musim Barat dan Munson Timur atau dikenal dengan Angin Musim Timur.
2.1.6.1.Angin Musim Barat
Angin Musim Barat/Angin Muson Barat adalah angin yang berhembus
dari Benua Asia (musim dingin) ke Benua Australia (musim panas) dan

mengandung curah hujan yang banyak di Indonesia bagian Barat, hal ini
disebabkan karena angin melewati tempat yang luas, seperti perairan dan
samudra. Contoh perairan dan samudra yang dilewati adalah Laut China Selatan
dan Samudra

Hindia.

Angin

Musim

Barat

menyebabkan

Indonesia

mengalami musim hujan. Angin ini terjadi pada bulan Desember, januari dan
Februari, dan maksimal pada bulan Januari dengan kecepatan minimum 3 m/s.
2.1.6.2.Angin Musim Timur
Angin Musim Timur/Angin Muson Timur adalah angin yang mengalir dari
Benua Australia (musim dingin) ke Benua Asia (musim panas) sedikit curah hujan
(kemarau) di Indonesia bagian Timur karena angin melewati celah- celah sempit
dan berbagai gurun (Gibson, Australia Besar, dan Victoria). Ini yang
menyebabkan Indonesia mengalami musim kemarau. Terjadi pada bulan Juni, Juli
dan Agustus, dan maksimal pada bulan Juli.
2.2. Tiga Hukum Gerak
Penyerapan panas oleh bumi tergantung pada beberapa faktor, misalnya
sifat permukaan bumi, arah datangnya sinar, lama penyinaran, dan keadaan
berawan. Akibat hal ini adalah energi radiasi bumi diserap atmosfer di suatu
tempat berbeda dengan tempat lain. Energi radiasi bumi pada siang hari berbeda
dengan keadaan pada malam hari. Energi radiasi bumi di khatulistiwa berbeda
dengan daerah kutub. Hal ini mengakibatkan terjadinya perbedaan tekanan udara,
sehingga mengalirlah udara dari tempat bertekanan tinggi ke tempat bertekanan
rendah. Aliran udara ini disebut dengan angin.
Di atmosfer keadaan tidak seimbang terjadi berkaitan dengan gaya-gaya
yang saling berinteraksi. Untuk mengkompensasi gaya-gaya ini, udara akan
bergerak untuk mencapai kesetimbangan kembali. Di atmosfer lebih dari satu
gaya yang bekerja, sehingga pada udara yang bergerak sekurang-kurangnya ada
buah gaya hadir dan jika kedua gaya ini tidak sama besarnya maka udara akan
bergerak dengan percepatan. Secara umum angin diartikan sebagai udara yang
bergerak nisbi terhadap permukaan bumi dari tempat yang bertekanan rendah.
Dalam

bentuk

yang

sangat

sederhana

angin

dapat

dibatasi

sebagai

gerakan horizontal udara relatif terhadap permukaan bumi. Batasan ini berasumsi

bahwa seluruh gerakan udara secara vertikal dapat diabaikan karena relatif rendah
(<1 ms-1), sedangkan arah angin dibatasi sebagai arah asal angin itu bertiup
(merupakan lawan arah gerakan angin). Walaupun aliran udara ke atas penting
dalam pembentukan awan dan hujan, namun kecepatan pergerakan horizontal jauh
lebih besar dan mempengaruhi proses-proses cuaca.
Hukum-hukum fisika mengenai partikel yang bergerak dapat dihubungkan
dengan atmosfer. Beberapa yang penting adalah tiga hukum yang dijelaskan
oleh Sir Isaac Newton.
a)

Hukum Pertama Newton : Kesetimbangan


Hukum pertama gerak menyatakan bahwa sebuah benda yang dalam

keadaan diam atau bergerak akan tetap bertahan pada keadaannya kecuali ada
gaya dari luar yang bekerja terhadap benda tersebut. Atau dengan kata lain setiap
benda akan memiliki kecepatan yang konstan kecuali ada gaya yang resultannya
tidak nol bekerja pada benda tersebut. Berarti jika resultan gaya nol, maka pusat
massa dari suatu benda tetap diam, atau bergerak dengan kecepatan konstan (tidak
mengalami percepatan). Oleh karena itu, udara yang tenang akan kembali
bergerak (angin) bila ada gaya yang bekerja di amosfer yang menyebabkan
terjadinya keadaan tidak setimbang.
Lebih jelasnya, Hukum I Newton menyatakan bahwa :
Setiap benda tetap berada dalam keadaan diam atau bergerak dengan laju
tetap sepanjang garis lurus, kecuali jika diberi gaya total yang tidak nol.

b)

Hukum Kedua Newton : Percepatan


Hukum kedua gerak menyatakan bahwa perubahan gerak terhadap suatu

benda berhubungan langsung dengan gaya yang menggerakkan benda


tersebut. Suatu gaya total yang diberikan pada sebuah benda mungkin
menyebabkan lajunya bertambah. Akan tetapi, jika gaya total itu mempunyai arah
yang berlawanan dengan gerak benda, gaya tersebut akan memperkecil laju
benda. Jika arah gaya total yang bekerja berbeda arah dengan arah gerak benda,
maka arah kecepatannya akan berubah (dan mungkin besarnya juga). Karena
perubahan laju atau kecepatan merupakan percepatan, berarti dapat dikatakan
bahwa gaya total dapat menyebabkan percepatan. Begitu benda dalam keadaan

bergerak, ia akan terus bergerak dalam jalur yang lurus dan kecepatan yang sama
kecuali jika ada gaya luar yang bekerja. Arah gerak sama dengan arah gaya yang
bekerja terhadapnya.
Lebih jelasnya, Hukum II Newton menyatakan bahwa :
Percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gaya total yang
bekerja padanya dan berbanding terbalik dengan masanya. Arah percepatan
sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya.

c)

Hukum Ketiga Newton : Aksi-Reaksi


Setiap aksi akan ada reaksi yang sama besar tetapi berlawanan arahnya,

sehingga timbul gerak dengan kecepatan yang konstan.


Lebih jelasnya, Hukum III Newton menyatakan bahwa :
Ketika suatu benda memberikan gaya pada benda kedua, benda kedua
tersebut memberikan gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah terhadap
benda pertama.

2.3. Gaya Penggerak Angin


2.3.1. Gaya Primer
Gaya primer yang menyebabkan terjadinya aliran udara horizontal adalah
gaya gradien tekanan. Gaya ini timbul karena adanya perbedaan tekanan yang
disebabkan oleh perbedaan suhu. Perbedaan tekanan ini menimbulkan gradien
tekanan yang memicu terjadinya angin. Udara bergerak dari tekanan tinggi ke
tekanan yang rendah dan semakin tinggi perbedaan tekanan akan semakin cepat
udara bergerak.

2.3.2. Gaya Sekunder


Gaya sekunder merupakan gaya yang beraksi pada udara hanya setelah
udara mulai bergerak. Ada tiga gaya sekunder yang penting yang menyebabkan
terjadinya jalur (curved path flow) pada arah yang berbeda. Gaya-gaya ini adalah
gaya coriolis, gaya sentrifugal dan gaya gesekan.

10

2.3.2.1.Gaya gardien tekanan (PRESSURE GRADIENT FORCE = PGF)

Gaya yang terjadi karena perbedaan tekanan akibat perbedaan suhu.

Makin besar perbedaan tekanan makin besar kecepatan angin.

Angin Lokal dapat terjadi dikarenakan adanya perbedaan suhu (sama


seperti angin lainnya) yang bersifat lokal saja. Artinya angin ini hanya
mempengaruhi daerah cakupan yang kecil saja. Angin lokal juga hanya berada
pada lapisan troposfer bagian bawah saja. Ada banyak contoh angin lokal.
Beberapa contoh angin lokal berskala harian yang ada antara lain 2 pasangan
angin ini, angin darat dengan angin laut, dan angin lembah dan angin gunung.
Angin darat dan angin laut sangat dipengaruhi oleh perbedaan fisis antara
daratan dan lautan. Perbedaan fisis tersebut dapat dilihat seperti berikut ini.
-

Laut memiliki kapasitas panas lebih besar dari darat.

Laut lebih banyak memantulkan sinar matahari daripada darat.

Energi matahari dapat masuk kedalam laut sampai kedalaman yang cukup
dalam dengan bantuan arus, sedangkan di darat, energi matahari hanya
dapat masuk beberapa centimeter saja.
Dari perbedaan perbedaan sifat fisis tersebut, maka jelas terlihat bahwa

darat akan lebih cepat panas di siang hari jika dibandingkan dengan laut, dan
sebaliknya, dimalam hari, darat akan lebih cepat dingin daripada laut. Secara
singkat, darat lebih cepat menyimpan panas, dan juga lebih cepat melepaskan
panas.
Pada siang hari, udara di atas daratan akan lebih panas daripada udara di
atas lautan. Hal ini menyebabkan tekanan udara di atas darat menjadi lebih rendah
daripada tekanan udara di atas laut. Menuruti sifat udara yang bergerak dari
tekanan yang lebih tinggi menuju tekanan yang lebih rendah, maka udara akan
bergerak dari laut ke darat. Inilah yang disebut angin laut. Sedangkan pada malam
hari, udara di atas daratan akan lebih dingin daripada udara diatas lautan. Tekanan
udara di atas daratan menjadi lebih tinggi daripada tekanan udara di atas laut.
Sehingga angin berhembus dari darat ke laut. Inilah yang disebut angin darat.
Angin laut biasanya berhembus mulai sekitar pukul 10.00, dan mencapai

11

maksimal pada pukul 14.00. Setelah melewati pukul 14.00 angin akan menurun
hingga pukul 20.00. Lalu akan digantikan oleh angin darat. Kekuatan angin darat
dan laut sendiri sangat dipengaruhi oleh perbedaan suhu antara laut dan darat.
Semakin besar perbedaan suhunya, maka kekuatan angin akan semakin besar. Di
Indonesia sendiri, angin laut dapat terjadi sepanjang tahun. Berbeda dengan
Negara Negara di lintang menengah dan tinggi. Walaupun di Indonesia pengaruh
angin musim cukup besar, tetapi pengaruh angin laut masih bisa dirasakan. Seperti
nelayan yang memanfaatkan angin darat untuk pergi melaut, dan angin laut untuk
pulang ke daratan.

Gambar 2.2
Angin Lembah dan Angin Gunung
Berbeda dengan angin darat dan angin laut, angin lembah dan angin
gunung lebih dikarenakan perbedaan tekanan udara antara puncak pegunungan /
gunung, dengan lembahnya. Pada malam hari, puncak gunung akan lebih dingin
dari lembahnya, sehingga angin bergerak dari puncak menuju lembah atau tanah
yang lebih rendah. Inilah yang disebut angin gunung. Sedangkan di diang hari,
kondisi lereng lereng gunung dan puncak gunung yang di sinari matahari, akan
menjadi lebih panas dari daerah lembah, sehingga angin bergerak dari lembah
menuju tempat tempat yang lebih tinggi.

12

Gambar 2.3

Gaya gradien tekanan timbul karena adanya perbedaan suhu udara. Dalam
hal ini hubungan antara permukaan bumi dalam menerima energi radiasi matahari
yang sama tapi mempunyai laju pemanasan yang berbeda beda dari satu tempat
ke tempat yang lain. Perbedaan tekanan udara pemanasan terlihat dari suhu udara
yang berada langsung diatas permukaan yang terpanasi sehingga menyebabkan
ketidakseimbangan yang menimbulkan perbedaan tekanan udara antara satu
tempat dengan tempat yang lain. Gradien tekanan ini akan memicu terjadinya
angin. Atmosfer selalu berusaha membentuk sebaran tekanan yang seragam, maka
massa udara yang padat dari tekanan tinggi mengalir ke tempat bertekanan rendah
dimana massa udaranya relatif lebih renggang.
2.3.2.2.Gaya Sentrifugal

Gaya yang timbul akibat adanya pergerakan melingkar yang berpusat


pada suatu titik tertentu

Sentrifugal menuju keluar lingkaran

Gaya-gaya saling menyeimbangkan sehingga benda yang bergerak


tidak terlepas

Gaya

sentrifugal adalah

Gerakan

udara

yang

melengkung

yang

menimbulkan gaya tarik keluar. Besar nilai gaya sentrifugal tergantung pada :
Kecepatan gerak, Jari jari lengkung gerakan yang bersangkutan.

13

2.3.2.3.Gaya Coriolis

Akibat perputaran bumi pada porosnya

Di Belahan Bumi Utara dibelokkan ke kanan

Di belahan Bumi Selatan dibelokkan ke kiri

Gaya Cariolis adalah gaya pembelokan arah angin terhadap arah gradient
tekanan udaranya yang ditimbulkan oleh perputaran bumi atas sumbunya. Gaya
coriolis timbul akibat rotasi bumi. Gaya coriolis menyebabkan perubahan gerak
angin ke arah kanan pada belahan bumi bagian utara dan pembelokan angin ke
arah kiri pada belahan bumi bagian selatan.
Arah angin dipengaruhi oleh tiga faktor :
1) Gradien barometrik
2) Rotasi bumi
3) Kekuatan yang menahan (rintangan)
Makin besar gradien barometrik, makin besar pula kekuatannya. Angin
yang besar kekuatannya makin sulit berbelok arah. Rotasi bumi, dengan bentuk
bumi yang bulat, menyebabkan pembelokan arah angin. Pembelokan angin di
ekuator sama dengan 0 (nol). Makin ke arah kutub pembelokannya makin besar.
Pembelokan angin yang mencapai 900 sehingga sejajar dengan garis isobar
disebut angin geotropik. Hal ini banyak terjadi di daerah beriklim sedang di atas
samudra. Kekuatan yang menahan dapat membelokan arah angin. Sebagai contoh,
pada saat melalui gunung, angin akan berbelok ke arah kiri, ke kanan atau ke atas.
Efek Coriolis melekat pada fenomena defleksi (pembelokan arah) gerak
sebuah benda pada sebuah kerangka acuan yang berputar, khususnya di
permukaan Bumi. Pada intinya, sebuah benda yang bergerak lurus dalam
kerangka yang berputar, akan terlihat berbelok oleh pengamat yang diam di dalam
kerangka tersebut. Hukum Boys Ballot yang mengatakan "Angin cyclon di
belahan bumi utara akan berputar berlawanan arah jarum jam karena gerakan
angin (relatif terhadap permukaan bumi) di belokkan oleh efek dari rotasi bumi.
Inilah yang disebut dengan gaya Coriolis. Semakin ke arah khatulistiwa, gaya
coriolis makin mengecil. Gaya Coriolis dipengaruhi oleh posisi lintang suatu

14

wilayah. Gaya Coriolis adalah gaya semu yang timbul akibat efek dua gerakan
yaitu gerak rotasi bumi dan gerak benda relatif terhadap bumi.

Gambar 2.4
Pembelokan arah angin akibat efek Coriolis (Fisika Seribu Pena :129)

2.3.2.4.Gaya gesekan (friction forces)


Setiap aksi akan ada reaksi yang sama besar tetapi berlawanan arahnya,
sehingga timbul gerak dengan kecepatan yang konstan. Lebih jelasnya, Hukum III
Newton menyatakan bahwa :
Ketika suatu benda memberikan gaya pada benda kedua, benda kedua tersebut
memberikan gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah terhadap benda
pertama.
Contoh dari Hukum III Newton adalah pada pesawat terbang. Posisi sayap
dipasang membentuk sudut tertentu dari sumbu lateral, yakni di bagian depan
(dekat moncong pesawat) sedikit lebih naik (disebut angle of attack). Dengan
demikian, jika peswat bergerak ke depan maka udara relatif bergerak menghantam
sayap, sehingga sayap mendapat gaya angkat ke atas.

15

Gambar 2.5
2.4.

Gaya - Gaya Sekunder yang Mempengaruhi Angin


Gaya sekunder adalah gaya yang timbul pada udara setelah udara mulai

bergerak. Ada tiga gaya sekunder yang penting yang meyebabkan jalur ( curved
path flow ) pada arah yang berbeda-beda yaitu :
-

Gaya Coriolis ( Fc )

Gaya Sentrifugal ( Fs )

Gaya Gesekan ( Ff )

2.4.1. Gaya Coriolis ( Fc)


Gaya ini timbul karena rotasi bumi, kadang disebut sebagai Gaya Semu.
Di BBU (Belahan Bumi Utara), gaya ini berpengaruh membelokkan udara yang
bergerak ke kanan dari arahnya, sedangkan di BBS dibelokkan ke kiri.
Formulasinya :

Fc = - 2 v Sin = - f.v

16

Keterangan :
= kecepatan sudut bumi (2 per 24 jam)
v = kecepatan angin (ms-1)
= letak lintang
f = parameter Coriolis yang besarnya f = 2 sin
Efek Coriolis melekat pada fenomena defleksi (pembelokan arah) gerak
sebuah benda pada sebuah kerangka acuan yang berputar, khususnya di
permukaan Bumi. Pada intinya, sebuah benda yang bergerak lurus dalam
kerangka yang berputar, akan terlihat berbelok oleh pengamat yang diam di dalam
kerangka tersebut. Dari penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa bumi selalu
berotasi. Dan dari rotasi tersebut selalu menimbulkan fenomena alam. Salah
satunya adalah angin yang dikenal dengan angin utama (angin timur, barat, dan
pasat). Angin-angin utama itu berhembus dalam suatu arah yang hampir tetap
pada garis-garis lintang tertentu. Angin itu timbul karena peredaran atmosfer dan
rotasi bumi.Seandainya bumi tidak berotasi, angin akan bergerak lurus ke utara
atau ke selatan. Namun rotasi bumi menimbulkan gaya rotasi yang disebut gaya
Coriolis, yaitu gaya yang membelokkan arah angin utama. Nama Coriolis sendiri
diambil dari nama seorang ilmuwan Perancis Gaspard Gustave Coriolis (1792).
Jadi pengertian dari gaya Coriolis adalah gaya semu yang timbul akibat efek dua
gerakan yaitu gerak rotasi bumi dan gerak benda relatif terhadap bumi.
a. Efek efek Coriolis
Pada intinya, sebuah benda yang bergerak lurus dalam kerangka yang
berputar, akan terlihat berbelok oleh pengamat yang diam di dalam kerangka
tersebut. Hukum Boys Ballot yang mengatakan "Angin cyclon di belahan bumi
utara akan berputar berlawanan arah jarum jam, namun sebaliknya berputar searah
jarum jam di belahan bumi selatan". Hal ini karena gerakan angin (relatif terhadap
permukaan bumi) di belokkan oleh efek dari rotasi bumi. Inilah yang disebut
dengan gaya Coriolis. Semakin ke arah khatulistiwa, gaya coriolis makin

17

mengecil. Gaya Coriolis dipengaruhi oleh posisi lintang suatu wilayah. Semakin
kecil letak lintang suatu wilayah, maka gaya Coriolis semakin kecil pengaruhnya
Itulah sebabnya angin cyclon hampir tidak pernah terjadi di wilayah khatulistiwa.
b. Sistem K dan K'
Jika benda melakukan gerakan di sistem K' (permukaan bumi), percepatan
Coriolis akan ikut berbicara karena adanya vektor kecepatan v'. Arah percepatan
ini sudah kita ketahui selalu tegak lurus terhadap arah kecepatan benda di sistem
K', sehingga arahnya tergantung pada arah kecepatan v'. Kita tinjau misalnya
gerak benda jatuh bebas. Pada awal geraknya arah kecepatan v' adalah vertikal ke
bawah. Jika kejadiannya itu di Surabaya yang terletak pada lintang 7 LS, arah
percepatan Coriolis yang terjadi ditunjukkan oleh gambar di bawah. Percepatan
ini akan menyebabkan lintasan benda menyimpang dari arah vertikal. Dapat
diduga bahwa simpangan yang terjadi cukup kecil, kecuali kalau laju gerak
bendanya besar sekali, sehingga arah kecepatannya setiap saat dapat didekati
dengan arah vertikal. Untuknya mudahnya gesekan udara kita abaikan dan arah
vertikal kita impitkan dengan arah radial, efek sentrifugalnya juga kita abaikan.

c. Percepatan Coriolis pada benda jatuh


Ternyata percepatan ini mengambil arah timur (sumbu Y'). Akibatnya
benda yang jatuh bebas ini akan menyimpang dari lintasan vertikalnya ke arah
timur. Kenyataan ini juga berlaku untuk benda jatuh bebas di belahan bumi
sebelah utara.
2.4.2.

Gaya Sentrifugal ( Fs )
Gaya sentrifugal merupakan perwujudan dari Hukum Gerak Newton ke

tiga (aksi-reaksi). Gaya sentrifugal berlawanan arah dengan gaya sentripental


(kekuatan ke dua gaya tersebut sama besar). Gaya sentrifugal merupakan salah
satu penyebab terjadinya sirkulasi udara yang berbeda pada daerah bertekanan
rendah dan tinggi.
Gaya sentrifugal dapat diciptakan dengan menggunakan piranti tipe
sentrifugal yang bergantung pada fasa fluida yang diolah. Untuk fasa cair, pompa

18

sentrifugal dapat mengakomodasi keperluan tersebut, sedangkan untuk fasa gas,


fan dan blower sentrifugal biasanya digunakan. Secara fisik, piranti sentrifugal ini
menunjukkan bentuk yang beragam, namun masing-masing mempunyai prinsip
dasar yang sama, yakni menciptakan energi kinetik melalui tindakan gaya
sentrifugal, lalu mengubah energi kinetik tersebut menjadi energi tekanan melalui
penurunan kecepatan fluida alir secara efisien.
2.4.3. Gaya Gesekan ( Ff )
Setiap benda yang bergerak akan dipengaruhi oleh gesekan, yang
ditimbulkan oleh interaksi benda yang bergerak di atas permukaan yang tidak
merata. Bila ketinggian tempat meningkat, maka pengaruh gesekan akan
berkurang sampai mencapai nol pada ketinggian sekitar 600 m dpl. Gesekan
memperlambat gerakan udara, karena gaya gesekan ini bekerja dengan arah yang
berlawanan dengan arah gerak udara. Berkurangnya kecepatan angin karena
adanya gaya gesekan, menyebabkan gaya coriolis menjadi berkurang, sehingga
udara membelok dari jalur aslinya(10 % - 45 %).
2.5.

Kesetimbangan Gaya-Gaya Pengatur Angin


Setiap

proses

cenderung

menuju

kesetimbangan,

kalaupun

ketidakseimbangan ini terjadi, sifat sementara karena adanya reaksi terhadap gaya
yang menyebabkannya. Empat angin berikut berhubungan dengan proses tersebut
untuk belahan bumi utara.
2.5.1. Angin Geostropik
Angin geostropik yang bergerak sejajar dengan isolar yang lurus. Untuk
tahap awal, karena udara yang dipelajari adalah angin yang mengalir pada suatu
garis lurus dibelahan bumi utara diatas ambang gesekan (600 m diatas permukaan
laut) maka gaya Coriolis yang lebih berperan. Pada tahap awal, kalau gaya
gradien tekanan merupakan satu-satunya gaya yang bekerja, udara akan bergerak
dari tekanan tinggi ke tekanan yang rendah dengan kecepatan angin yang semakin
lama semakin tinggi. Tetapi dengan udara yang bergerak, gaya Coriolis

19

cenderung membelok partikel-partikel udara yang bergerak ini mengarah ke


kanan.

Gambar 2.6
Pada ketinggian dengan pengaruh gesekan nol, udara yang bergerak pada
garis lurus mempunyai kesetimbangan antara gaya gradien tekanan dan gaya
Coriolis. Pada saat kesetimbangan ini muncul angin yang terjadi disebut angin
geostropik.
2.5.2. Gaya Gradien
Angin gradien adalah angin yang bergerak sejajar dengan isobar yang
melengkung. Pada tahap kedua ini gaya sentrifugal dimasukkan sebagai gaya
ketiga untuk mencapai keadaan setimbang, dan gaya ini selalu bereaksi ke arah
luar dari pusat jalur lengkung.

2.5.3. Aliran Angin Pada Isobar Lurus Di Bawah Ambang Gesekan


Kesetimbangan terjadi apabila gaya gradien tekanan sama dengan gaya
Coriolis. Penambahan gaya esekan menyebabkan kecepatan angin melemah, yang
kemudian menurunkan gaya Coriolis. Pengurangan ini menyebabkan gaya
gradien tekanan (yang besarnya tidak berubah) mampu mengangkat udara
melewati isobar walaupun ketiga gaya-gaya berada dalam kesetimbangan.
Pengaruh gaya gesekan terhadap arah angin sangat ditentukan oleh
kekasapan permukaan bumi. Pada daerah pegunungan, sudut pembelokan udara
dari tekanan tinggi ke tekanan rendah dapat mencapai 45o dan kecepatan angin
dapat berkurang sampai sampai setengahnya. Kalau ada gaya gesekan, gerakan
akan menjadi berubah, arahnya akan cenderung menuju ke dalam, ke pusat

20

tekanan rendah dan keluar dari pusat tekanan tinggi. Dengan setimbangnya
semua gaya, sirkulasi udara akan terlihat seperti pada gambar 2.7

Gambar 2.7
Adanya

pengaruh

gesekan

pada

kesetimbangan

udara

yang

bergerak

menyebabkan aliran udara melintasi isobar dari tekanan tinggi ke tekanan rendah.
2.5.4. Pembelokan Aliran Udara Di Bawah Ambang Gesekan
Bila terjadi gesekan, gerakan menjadi berubah, arahnya akan cenderung
menuju ke dalam, ke pusat tekanan rendah dan ke luar dari pusat tekanan tinggi.
Dengan terjadinya kesetimbangan pada semua gaya, sirkulasi udara akan terlihat
seperti pada Gambar 2.8.

Gambar 2.8
Angin di belahan bumi utara dan selatan pada sistem tekanan rendah dan tinggi.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Tiga Hukum Gerak


Hukum

gerak

Newton adalah

tiga hukum

fisika yang

menjadi

dasar mekanika klasik. Hukum ini menggambarkan hubungan antara gaya yang
bekerja pada suatu benda dan gerak yang disebabkannya. Hukum-hukum fisika
mengenai partikel yang bergerak dapat dihubungkan dengan atmosfer. Beberapa
yang penting adalah tiga hukum yang dijelaskan oleh Sir Isaac Newton.
a. Hukum Pertama Newton
Hukum pertama Newton menyatakan keadaan keseimbangan sebuah
partikel yaitu sebagai prasarat sebuah partikel berada dalam keadaan
keseimbangan. Newton memiliki nama lengkap Sir Isaac Newton seorang
ilmuwan kelahiran Inggris dengan nama kecil Isaac anak laki-laki keluarga
Newton seorang petani di pedesaan Inggris. Lahir di Woolsthorpe-byColsterworth, Lincolnshire, 4 Januari 1643. Atas jasa-jasa beliau terhadap ilmu
pengetahuan serta mengharumkan nama bangsa dan kerajaan Inggris pada saat itu
maka kerajaan memberikan gelar kebangsawanan Sir. Nama Newton
diabadikan untuk penamaan satuan gaya Newton. 1 Newton = 1kgms-2.
Hukum pertama Newton tentang gerak ini dikemukakan Newton setelah
mempelajari gagasan Galileo seorang Ilmuwan Italia yang mengatakan bahwa
sebuah partikel atau benda yang bergerak lurus beraturan tidak memerlukan gaya
atau yang biasa disingkat GLB.
Hukum pertama gerak menyatakan bahwa sebuah benda yang dalam
keadaan diam atau bergerak akan tetap bertahan pada keadaannya kecuali ada
gaya dari luar yang bekerja terhadap benda tersebut. Atau dengan kata lain setiap
benda akan memiliki kecepatan yang konstan kecuali ada gaya yang resultannya
tidak nol bekerja pada benda tersebut. Berarti jika resultan gaya nol, maka pusat
massa dari suatu benda tetap diam, atau bergerak dengan kecepatan konstan (tidak
mengalami percepatan). Oleh karena itu, udara yang tenang akan kembali
bergerak (angin) bila ada gaya yang bekerja di amosfer yang menyebabkan tidak
setimbang.

21

22

Lebih jelasnya, Hukum I Newton menyatakan bahwa :


Setiap benda tetap berada dalam keadaan diam atau bergerak dengan laju
tetap sepanjang garis lurus, kecuali jika diberi gaya total yang tidak nol.
Hukum pertama Newton tentang gerak sering pula disebut hukum
kelembaman, kelembaman adalah sifat dasar dari sebuah benda. Yaitu benda akan
mempertahankan kedaannya. Hukum newton tentang gerak sering juga dituliskan
F = 0, maka partikel akan diam atau Gerak Lurus Beraturan (GLB)
Contoh nyata untuk konsep hukum kelembaman dalam kehidupan seharihari. Misalkan kamu sedang naik kendaraan (mobil) yang bergerak atau melaju
cepat tiba-tiba di rem mendadak. Apa yang terjadi dengan badan kamu? Pasti
badan kamu akan terdorong kedepan. Atau contoh kedua ketika kamu sedang naik
angkutan kota dengan laju tetap tiba-tiba angkutan kota digas atau kecepatnnya
ditambah maka badan kamu akan terdorong ke belakang. Dari contoh pertama dan
kedua

memperlihatkan

bahwa

benda

dalam

hal

ini

cenderung

akan

mempertahankan keaadaannya. Jadi yang sedang bergerak akan tetap bergerak


atau yang diam akan tetap diam bila tidak ada resultan gaya yang bekerja
padanya.
Meski dalam kehidupan nyata kondisi atau keadaan jumlah gaya sama
dengan nol sulit terjadi namun konsep ini sangat membantu untuk mempelajari
konsep-konsep mekanika atau ilmu yang mempelajari tentang gerak dalam fisika
klasik.
b. Hukum Kedua Newton
Hukum kedua gerak menyatakan bahwa perubahan gerak terhadap suatu
benda berhubungan langsung dengan gaya yang menggerakkan benda
tersebut. Suatu gaya total yang diberikan pada sebuah benda mungkin
menyebabkan lajunya bertambah. Akan tetapi, jika gaya total itu mempunyai arah
yang berlawanan dengan gerak benda, gaya tersebut akan memperkecil laju
benda. Jika arah gaya total yang bekerja berbeda arah dengan arah gerak benda,
maka arah kecepatannya akan berubah (dan mungkin besarnya juga). Karena
perubahan laju atau kecepatan merupakan percepatan, berarti dapat dikatakan
bahwa gaya total dapat menyebabkan percepatan. Begitu benda dalam keadaan
bergerak, ia akan terus bergerak dalam jalur yang lurus dan kecepatan yang sama

23

kecuali jika ada gaya luar yang bekerja. Arah gerak sama dengan arah gaya yang
bekerja terhadapnya.
Lebih jelasnya, Hukum II Newton menyatakan bahwa :
Percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gaya total yang
bekerja padanya dan berbanding terbalik dengan masanya. Arah percepatan
sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya.
Satuan untuk gaya adalah kgm/s2 atau diganti dengan nama Newton
seperti yang sudah dibahas dalam posting hukum pertama Newton. Satuan
Newton N harus ditulis dengan huruf kapital karena Newton menunjukan nama
orang.
Untuk contoh konsep percepatan dan gaya misalnya pada saat naik sepeda,
atau naik sepatu roda ketika menuju jalan yang menurun, maka sepatu rodanya
akan bertambah kecepatannya. Artinya geraknya yang memakai sepatu roda
mengalami penambahan kecepatan.
Gaya yang mengakibatkan benda jatuh di permukaan bumi atau sifat
benda yang akan bergerak menuju kepermukaan bumi adalah gaya berat. Gaya
berat adalah massa benda kali percepatan grafitasi atau dinyatakan dengan
persamaan
W = m. g
Keterangan:

W (weight) = F = gaya berat (N)


m

= massa (kg)

= percepatan gravitasi bumi (kg/s2)

Massa adalah besaran pokok sedangkan berat adalah besaran turunan yaitu
massa kali percepatan grafitasi. Massa dalam mekanika klasik besarnya mutlak
misalnya saat mengukur massa dimanapun di katulistiwa dibandingkan dengan di
kutub utara tentunya akan tetap sama atau sebuah benda yang massanya m diukur
di permukaan bumi dengan diukur di bulan massanya akan tetap. Berbeda halnya
dengan

berat

yang

dipengaruhi

oleh

percepatan

grafitasi

bila

kamu

membandingkan mengukur berat di permukaan bumi dengan di bulan akan


berbeda karena perbedaan grafitasi tersebut.

24

c. Hukum Ketiga Newton


Setiap aksi akan ada reaksi yang sama besar tetapi berlawanan arahnya,
sehingga timbul gerak dengan kecepatan yang konstan.
Lebih jelasnya, Hukum III Newton menyatakan bahwa :
Ketika suatu benda memberikan gaya pada benda kedua, benda kedua tersebut
memberikan gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah terhadap benda
pertama.
Pada hukum ketiga Newton ini gaya-gaya selalu berpasangan. Jika benda
P mengerjakan gaya pada benda Q, maka benda Q akan mengerjakan gaya pula
pada benda P. Yang besarnya sama tapi arah berlawanan. Hukum Newton ketiga
tentang gerak ini dinamakan juga dengan hukum aksi-reaksi.
F aksi = - F reaksi
Penjelasannya adalah bila benda P mengerjakan gaya pada benda Q
dinamakan sebagai gaya aksi, sebaliknya bila benda Q mengerjakan gaya pada
benda P dinamakan dengan gaya reaksi. Besar gaya aksi-reaksi selalu sama tetapi
arah berlawanan. Konsep fisika dari aksi reaksi adalah sebagai berikut:
Pasangan aksi reaksi ada bila dua benda berinteraksi
Aksi reaksi bekerja pada dua benda yang berbeda
Aksi reaksi sama besar tetapi berlawanan arah
Contoh pasangan gaya aksi reaksi adalah:
Seorang anak memakai skate-board dan berdiri mengahadap tembok. Jika anak
tersebut mendorong tembok(Faksi), maka tembok akan mendorong tangan
dengan besar gaya yang sama tetapi berlawanan (Freaksi)sehingga anak
tersebut terdorong ke belakang.
Saat palu besi memukul ujung paku berarti palu mengerjakan gaya pada ujung
paku(Faksi) maka paku akan memberikan gaya pada palu(Freaksi)
Ketika kaki atlit renang menolak dinding tembok kolam renang(Faksi) maka
tembok kolam renang kan mengerjakan gaya pada kaki perenang(Freaksi)
sehingga perenang terdorong ke depan
Gaya Normal (N) adalah gaya kontak yang bekerja dengan arah tegak
lurus dengan bidang sentuh jika dua benda bersentuhan. Contoh bila sebuah
kotak di letakkan di atas meja maka permukaan meja akan mengerjakan gaya pada

25

kotak. Contoh lain jalan akan memberikan gaya pada permukaan ban yang
bersentuhan dengan jalan. Pasangan gaya tarik gravitasi antar planet dan matahari
juga termasuk pasangan gaya aksi reaksi.

3.2. Gaya Penggerak Angin


3.2.1. Gaya Primer
Gaya primer yang menyebabkan terjadinya aliran udara horizontal adalah
gaya gradien tekanan (Fp). Gaya ini timbul karena adanya perbedaan tekanan
yang disebabkan oleh perbedaan suhu.

Perbedaan tekanan ini menimbulkan

gradien tekanan yang memicu terjadinya angin. Udara bergerak dari tekanan
tinggi ke tekanan yang rendah dan semakin tinggi perbedaan tekanan akan
semakin cepat udara bergerak.
Fp= - 1/ (dp/dz)
Semakin tinggi gradien tekanan (dp/dz) maka gaya (Fp) semakin besar, maka
udara bergerak semakin cepat. Tanda negatif menunjukkan arah gaya dari P ke
P.

3.2.2. Gaya Sekunder


Gaya sekunder merupakan gaya yang beraksi pada udara hanya setelah
udara mulai bergerak. Ada tiga gaya sekunder yang penting yang menyebabkan
terjadinya jalur (curved path flow) pada arah yang berbeda. Gaya-gaya ini adalah
gaya coriolis, gaya sentrifugal dan gaya gesekan.
v/t = Fp + Fc + Ff

26

a. Gaya Coriolis (Fc)


Gaya Cariolis adalah gaya pembelokan arah angin terhadap arah gradient
tekanan udaranya yang ditimbulkan oleh perputaran bumi atas sumbunya. Gaya
Coriolis timbul karena adanya rotasi bumi.
Fc= - 2v sin
Fc menyebabkan pembelokan arah angin ke kanan di belahan bumi utara
dan ke kiri di belahan bumi selatan. Sehingga, Fc di equator = 0 dan di Kutub =
max.
b. Gaya Sentrifugal (Fs)
Gaya sentrifugal (Fs) adalah gaya tarik ke arah luar pada jalur yang
melengkung. Gaya sentrifugal merupakan salah satu sebab terjadinya sirkulasi
yang berbeda pada daerah tekanan rendah dan tinggi. Besar nilai gaya sentrifugal
tergantung pada : Kecepatan gerak, Jari jari lengkung gerakan yang bersangkutan.
c. Gaya Gesekan (Ff)
Gaya gesekan terjadi akibat kekasapan permukaan bumi. Gaya gesekan
arahnya berlawanan dengan arah gerak angin. Semakin tinggi dari permukaan
pengaruh gaya gesekan semakin kecil. Gaya gesekan ~ 0 pada ketinggian > 600 m
dpl. Lebih jelasnya, Hukum III Newton menyatakan bahwa :
Ketika suatu benda memberikan gaya pada benda kedua, benda kedua tersebut
memberikan gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah terhadap benda
pertama.
3.2.3. Keseimbangan Gaya-Gaya Pengatur Angin
Setiap

proses

cenderung

menuju

kesetimbangan,

kalaupun

ketidakseimbangan ini terjadi, sifat sementara karena adanya reaksi terhadap gaya
yang menyebabkannya. Empat angin berikut berhubungan dengan proses tersebut
untuk belahan bumi utara.
a. Angin Geostropik
Angin yang timbul setelah gaya gradien tekanan dan gaya coriolis mengalami
keseimbangan serta paralel terhadap isobar.
b. Angin Gradien
Angin yang timbul akibat ada pengaruh gaya sentrifugal-sentripetal. Dimana
kenyataan di alam isobar tidak pernah lurus akan tetapi melengkung.

27

c. Angin Vertikal
Angin vertikal timbul karena adanya pengaruh dari gaya gravitasi bumi dan juga
gaya gerak udara keatas yang diakibatkan adanya perbedaan tekanan.

3.2.4. Pola Umum Angin


Model Hadley (1735) mengasumsikan:

Bumi tidak berotasi

Permukaan bumi rata dan terdiri dari komposisi seragam

Letak bumi tidak miring terhadap sumbunya


Satu-satunya perbedaan adalah pemanasan yang tidak sama antara daerah

equator dan kutub.

Pola umum angin di Indonesia, di daerah tropis akan terjadi angin dari
daerah maksimum subtropis ke daerah minimum equator. Angin ini disebut angin
passat timur laut di belahan bumi utara dan angin passat tenggara di belahan bumi
selatan. Angin passat banyak membawa uap air karena berhembus di laut lepas.
Akan tetapi pada beberapa wilayah dipermukaan bumi angin passat tersebut
mengalami perubahan arah akibat pengaruh lingkungan setempat. Di Indonesia
yang secara geografis terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua
samudera serta letak matahari yang berubah setiap enam bulan berada di utara dan

28

enam bulan berada di selatan khatulistiwa, maka angin passat tersebut mengalami
perubahan menjadi angin muson (angin musim) barat dan angin muson timur.
Pola angin yang sangat berperan di Indonesia adalah Angin Muson, hal ini
disebakan karena Indonesia teletak diantara Benua Asia dan Australia diantara
Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Keadaan musim di Indonesia terbagi
menjadi tiga golongan, yaitu :

Musim barat (Desember April)


Pada musim Barat pusat tekanan udara tinggi berekembang diatas benua

Asia dan pusat tekanan udara rendah terjadi diatas benua Australia sehingga angin
berhembus dari barat laut menuju Tenggara. Di Pulau Jawa angin ini dikenal
sebagai Angin Muson Barat Laut. Musim Barat umumnya membawa curah hujan
yang tinggi di Pulau Jawa. Angin muson barat berhembus pada bulan Oktober April, matahari berada di belahan bumi selatan, mengakibatkan belahan bumi
selatan khususnya Australia lebih banyak memperoleh pemanasan matahari
daripada benua Asia. Akibatnya di Australia bertemperatur tinggi dan tekanan
udara rendah (minimum). Sebaliknya di Asia yang mulai ditinggalkan matahari
temperaturnya rendah dan tekanan udaranya tinggi (maksimum).
Oleh karena itu terjadilah pergerakan angin dari benua Asia ke benua
Australia sebagai angin muson barat. Angin ini melewati Samudera Pasifik dan
Samudera Indonesia serta Laut Cina Selatan. Karena melewati lautan tentunya
banyak membawa uap air dan setelah sampai di kepulauan Indonesia turunlah
hujan. Setiap bulan November, Desember, dan Januari Indonesia bagian barat
sedang mengalami musim hujan dengan curah hujan yang cukup tinggi.

Musim Timur (April - Oktober)


Pada musim Timur pusat tekanan udara rendah yang terjadi diatas Benua

Asia dan pusat tekanan udara tinggi diatas Benua Australia menyebabkan angin
behembu dari Tenggara menuju Barat Laut. Di Pulau Jawa bertiup Angin Muson
Tenggara. Selama musim Timur, Pulau Jawa biasanya mengalami kekeringan.
Angin muson timur berhembus setiap bulan April - Oktober, ketika matahari
mulai bergeser ke belahan bumi utara. Di belahan bumi utara khususnya benua
Asia temperaturnya tinggi dan tekanan udara rendah (minimum). Sebaliknya di
benua Australia yang telah ditinggalkan matahari, temperaturnya rendah dan

29

tekanan udara tinggi (maksimum). Terjadilah pergerakan angin dari benua


Australia ke benua Asia melalui Indonesia sebagai angin muson timur. Angin ini
tidak banyak menurunkan hujan, karena hanya melewati laut kecil dan jalur
sempit seperti Laut Timor, Laut Arafuru, dan bagian selatan Irian Jaya, serta
Kepulauan Nusa Tenggara. Oleh sebab itu, di Indonesia sering menyebutnya
sebagai musim kemarau.
Di antara kedua musim, yaitu musim penghujan dan kemarau terdapat
musim lain yang disebut Musim Pancaroba (Peralihan). Peralihan dari musim
penghujan ke musim kemarau disebut musim kemareng, sedangkan peralihan dari
musim kemarau ke musim penghujan disebut musim labuh. Adapun ciri-ciri
musim pancaroba (peralihan), yaitu antara lain udara terasa panas, arah angin
tidak teratur, sering terjadi hujan secara tiba-tiba dalam waktu yang singkat dan
lebat.

Musim Peralihan (Maret Mei dan September November)


Periode Maret Mei dikenal seagai musim Peralihan I atau Muson

pancaroba awal tahun, sedangkan periode Septemer November disebt musim


peralihan II atau musim pancaroba akhir tahun. Pada musim-musim Peralihan,
matahari bergerak melintasi khatulistiwa, sehingga angin menjadi lemah dan
arahnya tidak menentu.
Selain angin muson barat dan timur juga terdapat angin lokal. Angin ini
bertiup setiap hari, seperti angin darat, angin laut, angin lembah dan angin
gunung.

Angin Darat dan Angin Laut


Angin ini terjadi di daerah pantai yang diakibatkan adanya perbedaan sifat

daratan dan lautan. Pada malam hari daratan lebih dingin daripada lautan sehingga
di daratan merupakan daerah maksimum yang menyebabkan terjadinya angin
darat. Sebaliknya, pada siang hari terjadi angin laut. Perhatikan gambar di bawah
ini. Kedua angin ini banyak dimanfaatkan oleh para nelayan tradisional untuk
menangkap ikan di laut. Pada malam hari saat bertiupnya angin darat, para
nelayan pergi menangkap ikan di laut. Sebaliknya pada siang hari saat bertiupnya
angin laut, para nelayan pulang dari penangkapannya.

30

Angin Lembah dan Angin Gunung


Pada siang hari puncak gunung lebih cepat menerima panas daripada

lembah yang dalam keadaan tertutup. Puncak gunung tekanan udaranya minimum
dan lembah tekanan udaranya maksimum. Karena keadaan ini maka udara
bergerak dari lembah menyusur lereng menuju ke puncak gunung. Angin dari
lembah ini disebut angin lembah. Pada malam hari puncak gunung lebih cepat
mengeluarkan panas daripada lembah. Akibatnya di puncak gunung bertekanan
lebih tinggi (maksimum) dibandingkan dengan di lembah (minimum) sehingga
angin bertiup dari puncak gunung menuruni lereng menuju ke lembah. Angin dari
puncak gunung ini disebut angin gunung.

Angin Gunung bisa bersifat panas maupun dingin tergantung dari massa
udara yang menaiki lereng gunung. Angin gunung yang bersifat panas biasa
disebut dengan angin Foehn (Austria) dan angin gunung yang bersifat dingin
biasa disebut dengan Angin Bora (Kroatia).

3.3. Gaya-gaya Sekunder yang Mempengaruhi Angin


Aliran udara di sekitar sistem tekanan merupakan hasilinteraksi
gaya primer dan sekunder. Pada daerah yang bertemperatur (30C - 60C), sistem
tekanan terus menerus berubah ubah. Variasi angin pada sistem ini, tidak
tergantung pada pola angin umum dunia, tetapi berhubungan dengan jarak dan
arah sistem tekanan dan sirkulasi-sirkulasi yang mengikutinya.
Gaya sekunder terdapat pada pergerakan angin di permukaan bumi karena
gaya sekunder adalah gaya yang beraksi pada udara hanya setelah udara mulai
bergerak. Ada tiga gaya sekunder yang penting yang menyebabkan terjadinya

31

jalur (curved path flow) pada arah yang berbeda. Gaya-gaya ini adalah gaya
coriolis, gaya sentrifugal dan gaya gesekan.
Gaya coriolis adalah gaya yang diperkenalkan untuk menjelaskan
penyimpangan gerak objek pada suatu bingkai referens yang berputar, seperti
bumi misalnya.

Gaya coriolis bekerja tegak lurus terhadap arah gerak dan sumbu rotasi
bingkai referens. Berikut adalah gambar gaya Coriolis pada piringan datar.

32

Bumi berbentuk bola artinya lebih komples dari piringan. Di atmosfer, kita
hanya konsern terhadap komponen horizontal gaya coriolis yang besarnya (per
unit masa) :
2 V sin

= Kecepatan sudut bumi

= Kecepatan angin

= Lintang
Karena itu maksimum di kutub dan nol di equator dan pembelokan ke

kanan di BBU, dan kekiri di BBS.

Berikut adalah gambar pengaruh geografis terhadap penyimpangan arah angin


akibat Gaya Coriolis.

33

Karena gerak rotasi bumi, gaya coriolis akan membelokkan aliran udara.
Sirkulasi rerata yang stabil mempunyai 6 sel yang bergerak berlawanan, 3 sel di
setiap belahan bumi. Dalam setiap sel, gaya coriolis membelokkan angin ke timur
atau barat. Batas antar sel bervariasi sesuai dengan musim. Gambar berikut
merupakan model penyederhanaan sirkulasi yang sebenarnya tidak kontinyu
terhadap ruang dan waktu.

Gaya sentripetal adalah suatu gaya yang nyata ada dalam kaitan dengan
pengaruh benda, sedangkan gaya sentrifugal adalah suatu gaya samaran. Gaya
samaran hadir hanya ketika sistem ditinjau dari suatu kerangka acuan percepatan.

34

Jika sistem yang sama ditinjau dari kerangka acuan non percepatan, semua gaya
samaran menghilang.
Sebagai contoh, seseorang yang naik komedi putar yang berputar akan
mengalami suatu gaya sentrifugal yang berarah meninggalkan pusat sistem itu.
Orang mengalami gaya ini sebab dia berputar pada komedi putar, yang mana
percepatan ada pada kerangka acuan.
Jika sistem yang sama dianalisa dari trotoar dekat komedi putar, sebagai kerangka
acuan tanpa percepatan, maka tidak ada gaya sentrifugal. Seseorang di trotoar
hanya mencatat gaya sentripetal yang bekerja pada orang itu bergerak ke pusat
lintasan melingkar. Secara umum, gaya riil/nyata hadir dengan mengabaikan
apakah kerangka acuan yang digunakan 154 ada percepatan atau tidak ada
percepatan, gaya samaran hadir hanya dalam suatu kerangka acuan yang ada
percepatannya.
Jadi gaya sentrifugal adalah Gaya yang timbul akibat adanya pergerakan
melingkar yang berpusat pada suatu titik tertentu. Sentrifugal menuju keluar
lingkaran. Gaya-gaya saling menyeimbangkan sehingga benda yang bergerak
tidak terlepas.
Gesekan memperlambat gerakan udara, karena gaya gesekan ini bekerja
dengan arah yang berlawanan dengan arah gerak udara. Berkurangnya kecepatan
angin karena adanya gaya gesekan, menyebabkan gaya coriolis menjadi
berkurang, sehingga udara membelok dari jalur aslinya(10 % - 45 %).
Vektor angin membentuk spiral, yakni Spiral Ekman. Angin permukaan
terletak disebelah kiri angin geostropik 10 - 20 diatas lautan, 25 - 35 diatas
daratan. Kecepatan angin beberapa meter diatas permukaan adalah ~ 70 % dari
kecepatan angin geostropik dilautan dan lebih kecil lagi untuk daratan.

3.4. Kesetimbangan Gaya-gaya Pengatur Angin


Setiap proses cenderung menuju kesetimbangan. Empat angin berikut
berhubungan dengan proses tersebut untuk belahan bumi utara.
Kesetimbangan Geostropik merupakan gaya gradien tekanan yang bekerja
apada masa udara stasioner dan akan memberikan percepatan kearah wilayah
tekanan rendah. Gaya coriolis akan membelokkan aliran ke kanan di BBU dan ke

35

kiri di BBS. Gaya tekanan akan terus memberikan percepatan pada aliran, dan
gaya coriolis akan membelokkannya. Akhirnya aliran akan bergerak sejajar
isobar, dan gaya gradien tekanan dan coriolis akan setimbang. Kondisi ini disebut
kesetimbangan geostropik, dan Vg kecepatan angin geostropik.
Karena gaya coriolis seimbang dengan gaya gradien tekanan maka gradien
tekanan sama dengan gaya coriolis :

Vg sin

Kecepatan angin geostropik berbanding lurus dengan gradien tekanan dan


bergantung terbalik dengan lintang. Untuk gradien tekanan yang konstan,
kecepatan angin geostropik berkurang ke arah kutub. Perubahan densitas udara
sangat kecil pada lintang yang teteap, dan diasumsikan konstan, tetapi berkurang
secara signifikan dengan pertambahan ketinggian. Gaya gradien tekanan untuk
gradien tekanan tertentu bertambah dengan ketinggian. Kecepatan angin
geostropik bertambah dengan ketinggian.

Aliran geostropik merupakan aproksimasi untuk observasi angin di


atmosfer bebas, kecuali disekitar ekuator dimana gaya coriolis mendekati nilai nol
/ zero. Penyimpangan terhadap kesetimbangan geostropik ditimbulkan oleh :

36

Perubahan yang konstan dalam medan tekan

Lengkungan garis isobar

Shear angin vertikal


Penyimpangan signifikan dari aliran geostropik terjadi dekat permukaan
akibat efek gesekan permukaan.

BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
1. Terdapat 3 Hukum Gerak yaitu Hukum 1 Newton, Hukum 2 Newton dan
Hukum 3 Newton.
2. Pada gaya penggerak angin terdiri dari 2 gaya, yakni gaya primer dan gaya
sekunder.
3. Gaya sekunder adalah gaya yang beraksi pada udara hanya setelah udara
mulai bergerak. Terdapat tiga gaya sekunder yang penting yang
menyebabkan terjadinya jalur (curved path flow) pada arah yang berbeda.
Gaya-gaya ini adalah gaya coriolis, gaya sentrifugal dan gaya gesekan.
4. Kesetimbangan Geostropik merupakan gaya gradien tekanan yang bekerja
apada masa udara stasioner dan akan memberikan percepatan kearah
wilayah tekanan rendah.
5. Kecepatan angin geostropik berbanding lurus dengan gradien tekanan dan
bergantung terbalik dengan lintang.

4.2. Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, serta dapat
memberikan tambahan pengetahuan bagi penyusun makalah.

37

Daftar Pustaka

http://norma-yanti.blogspot.com/2011/05/klimatologi-angin.html
Koesmaryono, Y.

1988.

Klimatologi Dasar.

Bahan Pengajaran, Jurusan

Geofisika dan Meteorologi, F-MIPA. Bogor


Sosrodarsono, S. 1993. Hidrologi Untuk Perairan. PT Pradnya Paramita.
Jakarta.
Spiegel, H.J dan Gruber, A. 1983. From weather ranes to satellites. An
Introduction to Meteorology. John wiley 8 sons. 158 pp.