Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK INSTRUMENT LABORATORIUM TERPADU UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Dosen Pembimbing :

Munaspriyanto Ramli

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK INSTRUMENT LABORATORIUM TERPADU UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Dosen Pembimbing :

Disusun Oleh:

Masruri

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN PROGRAM STUDI ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2009

PENETAPAN KADAR KAFEIN DALAM MINUMAN DENGAN KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI ( HPLC )

TUJUAN PERCOBAAN

  • 1. Mahasiswa mengetahui prinsip dasar analisa sampel dengan alat HPLC

  • 2. Mahasiswa mampu menentukan kadar kafein dalam suatu sampel

TEORI SINGKAT Kromatografi merupakan salah satu tekhnik pemisahan yang dapat memisahkan setiap komponen dalam suatu campuran. Pemisahan ini didasarkan pada perbedaan migrasi setiap komponen yang disebabkan karena perbedan sifat interaksi dari setiap komponen pada fase diam dan fase gerak. Berdasarkan fase geraknya metode kromatografi terbagi menjadi kromatografi cair dan

kromatografi gas. Salah satu contoh dari pengembangan kromatografi cair adalah HPLC ( High Perfomance Liquid Chromatograpy ) atau kromatgrafi cair kinerja tinggi. HPLC didefinisikan sebagai kromatografi cair yang dilakukan dengan memakai fase diam yang terikat secara kimia pada penyangga halus yang distribusi ukuranya sempit ( kolom ) dan fase gerak yang dipaksa mengalir dengan laju alir yang terkendali dengan memakai tekanan tinggi sehingga menghasilkan pemisahan dengan resolusi tinggi dan waktu yang relative singkat. Resolusi adalah pengukuran secara fisik suatu pemisahan. Resolusi dapat dirtngkatkan dengan mengooptimasi parameter-parameter HPLC yaitu retensi, selektivitas, dan efisiensi. Secara praktis parameter-parameter tersebut dapat dioptimalkan dengan mengubah :

  • 1. komposisi dari fase gerak

  • 2. laju alir

  • 3. sifat kimia dari fase gerak

  • 4. jenis kolom

Metode HPLC dapat digunakan untuk analisa kuantitatif dan sekaligus kualitatif. Untuk analisa kualitatif dengan membandingkan kromatogram sampel dengan kromatogram baku pembanding berdasarkan waktu retensinya. Sedangkan untuk analisa kuatitatif dapat digunakan dengan persamaan :

Keterangan :

Cx = Ax / Ap X Cp

A = Peak area = Luas puncak

  • C = Konsentrasi

  • X = sampel

P = pembanding Atau jika ingin mendapatkan data yang lebih valid dapat pula ditentukan dengan menggunakan kurva kalibrasi larutan standar.

ALAT DAN BAHAN Alat

  • 1. HPLC Series 200 dengan detector 275 nm Perkin Elmer

  • 2. Kolom : Supelcosil LC : 18,

( 25 cm X 4,6mm, 5 m )

  • 3. Pipet volum 10 mL

  • 4. Tabung ekstraksi

  • 5. Kertas saring

  • 6. Corong

  • 7. Baker glass 50 mL

  • 8. Gelas ukur 50 mL

Bahan

  • 1. Minuman Berkafein ( dalam percobaan ini sampel yang digunakan adalah Teh Poci Tubruk )

  • 2. Dichlorometane 50 mL

  • 3. Asam Asetat 70 % ( sebagai fase gerak )

  • 4. Methanol 30% ( sebagai fase gerak )

PROSEDUR KERJA

  • A. Tahap Preparasi

    • 1. Ambil sampel sebnayak 50 mL kemudian diekstraksi dengan larutan dichlorometane sebanyak 50 mL dengan menggunakan tabung ekstraksi.

    • 2. Diamkan kira-kira selama 15 menit ( proses aerasi ), sambil mengamati reaksi yang terjadi, maka dengan sendirinya akan tampak pemisahan antara air dengan dikchlorometane yang mengikat kafein. Pemisahan ini terjadi karena adanya perbedaan berat jenis antara dichlorometane ( 1.3g/cm³ ) dengan air (1g/cm³ )

    • 3. Ambil beberapa mL

sampel ( ambil sampel yang berada dibawah sekat

pemisah) yang

telah diekstraksi, kemudian saring dengan menggunakan

kertas saring.

  • 4. Ambil sebanyak 1 mL sampel yang telah disaring kemudian masukan ke dalam gelas vial.

  • B. Tahap Injection ke HPLC

    • 1. Masukan sampel yang akan diuji ke dalam auto sampler. Tentukan komposisi fase gerak yakni Asam Asetat 70 % dan Methanol 30% serta laju alir 1,5 mL / menit.

    • 2. Lakukan pemograman alat

    • 3. Sampel diinjeksikan melalui injection port secara otomatis

    • 4. Menentukan kadar kafein dalam sampel

DATA PENGAMATAN Data pengamatan dapat dilihat dalam lampiran

PEMBAHASAN

ANALISIS KUANTITATIF

Metoda Persentase Tinggi / Lebar Puncak

Metoda

ini

disebut

juga

Metoda

Normalisasi

Internal.

Untuk

analisis

kuantitatif diasumsikan bahwa lebar atau tinggi Puncak (Peak) sebanding (proportional) dengan kadar / konsentrasi zat yang menghasil puncak. Dalam metoda yang paling sederhana diukur lebar atau tinggi Puncak, yang kemudian dinormalisasi (ini berarti bahwa setiap lebar atau tinggi Puncak diekspresikan sebagai suatu persentase dari total). Hasil normalisasi dari lebar atau tinggi puncak memberikan komposisi dari campuran yang dianalisis, seperti contoh pada Tabel berikut:

No

Peak area

Kafein Standar

Kafein dalam Sampel ( Teh Poci )

1

2601417,40

2216635,31

Berdasarkan data table diatas, maka kadar kafein dalam sampel ( teh poci ) dapat dianalisis dengan mengunakan persamaan :

Cx = Ax / Ap X Cp =

2216635,31

X

200 ppm

 

2601417,40

= 170,42 ppm Maka dalam 1 mL sampel yang diuji terdapat 0,17042 mg kafein.

Ada dua masalah dengan pendekatan ini, yaitu:

Kita harus yakin bahwa kita telah menghitung semua komponen, yang tiap-tiap komponen muncul sebagai suatu puncak yang terpisah pada kromatogram. Komponen-komponen dapat berkoelusi, atau ditahan di dalam kolom, atau ,terelusi tanpa terdeteksi. Kita harus mengasumsi bahwa kita memperoleh respons detektor yang sama untuk setiap komponen Untuk mengatasi kesulitan ini, maka kalibrasi detektor diperlukan.

ANALISA KOMPOSISI ASAM LEMAK DALAM MINYAK CURAH DENGAN GCMS

TUJUAN PERCOBAAN

  • 1. Mahasiswa mampu memahami prinsip-prinsip dasar analisa sampel dengan GCMS.

  • 2. Mahasiswa mampu menjelaskan kembali dan melaporkan hasil percobaan secara ringkas, sistematis, dan akurat.

  • 3. Mahasiswa mampu menentukan komposisi asam lemak dalam minyak curah dengan tekhnik analisa GCMS

TEORI SINGKAT

Kromatografi gas adalah metode analisis, dimana sampel terpisahkan secara fisik menjadi bentuk molekul-molekul yang lebih kecil ( hasil pemisahan dapat dilihat dengan berupa kromatogram ). Sedangkan Spektroskopi masa adalah metode analisis, dimana sampel yang dianalisis akan diubah menjadi ion-ion gas- nya, dan masa dari ion-ion tersebut dapat dikur berdasarkan hasil deteksi berupa Spectrum Massa. Pada GC hanya terjadi pemisahan untuk mendapatkan komponen yang diinginkan, sedangkan bila dilengkapi dengn MS ( berfungsi sebagi detector ) akan dapat mengidentifikasi komponen tersebut, karena bisa membaca Spektrum bobot molekul pada suatu komponen, karena dilengkpi dengan Library ( reference ) yang ada pada software. Secara instrument, MS adalah detector GC Sampel-sampel yang dapat dianalisis dengan menggunakan GCMS, harus memenuhi beberapa syarat diantaranya :

Dapat diiuapkan pada suhu 400 C Secara termal stabil ( tidak terdekomposisi pada suhu 400 C Sampel-sampel dapat dianalisis setelah mlalui tahapan preparasi yang khusus.

Proses Pemisahan GC

Pemisahan komponen senyawa dalam GC terjadi di dalam koklom ( kapiler ) dengan melibatkan dua fase, yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam adalah zat yang ada di dalam kolom, sedangkan fase gerak adalah gas pembawa ( Helium ataupun hydrogen dengan kemurnian tinggi, yaitu 99,.995 %. Proses pemisahan dapat terjadi karena terdapat perbedaan kecepatan alir dari tiap molekul di dalam kolom. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan afinitas antar molekul dengan fase diam yang ada di dalam kolm.

Instrumentasi GCMS

Bagian-bagian dari instrument Kromatografi Gas adalah sebagia berikut :

Pengatur aliran gas ( Gas Flow Controller )

Tempat injeksi sampel ( Injector )

Kolom ( tempat terjadinya pemisahan )

Lalu dihubungkan pada interface ( fungsi interface adalah sebagai penghubung antara GC dan MS ) Sedangkan bagian-bagian dari Spektrofotometer Massa adalah sebagai berikut :

Tempat masuk sampel ( malalui interface )

Sumber Ion ( Ion Source )

Pompa Vakum ( Vacum Pump )

Penganalisis Massa ( Mass Analyzer )

Detektor ( Electron Multiplier Detector ) Setelah data terdeteksi, lalu data dikirimkan ke system pengolah data ( Pada

Personal Computer ) untuk diolah dan dianalisis. Pengaturan temperature kolom pemisahan sangat penting karena pemisahan komponen sangat dipengaruhi oleh kenaikan temperature dan laju alir gas pembawa. Kromatigrafi Gas Spektroskopi Massa dapat digunakan untuk analisis kualitatif dan analisis kuantitatif dengan cara membandingkan ( standar ) berdasrkan waktu retensi.

ALAT DAN BAHAN Alat

  • 1. GCMS QP 2010 [ Kolom 12 Tx MS, temperature kolom 80 C, temperature injeksi 250 C, Carier gas He, Injection 201 ( split ) ]

  • 2. Gelas ukur

  • 3. Beker glass

  • 4. Tabung reaksi beserta rak-nya

  • 5. Pemanas

  • 6. Pipet mikro

  • 7. Pipet biasa

  • 8. Vorteks

  • 9. Centrifuge

Bahan

  • 1. Methanol

  • 2. NaOH 0,5 N dalam methanol

  • 3. Sampel ( Minyak Curah )

  • 4. N-Heksan

  • 5. BF3 dalam methanol

PROSEDUR KERJA

  • A. Petunjuk Pemakaian GCMS Buka karan gas He Tekan tombol power GCMS Nyalakan computer dan proses pemvakuman, perhatikan hinga auto vakum selesai Pada munu Real Time Analisis kik Metode file. Bila ingin memanggil metode lama klik open lalu pilih metode yang diinginkan. Bila ingin membuat metode baru klik new lalu isi sampel login dan tentukan temperature program, kolom oven, suhu injeksi, split rasio, lalu OK dan tunggu hingga kondisi temperature tercapai dan siap analisis ( redy, berwarna hijau )

  • B. Preparasi Sampel ( Proses Esterifikasi ) Sebanyak 2 mL sampel ( minyak curah ) masukan ke dalam tabung reaksi kemudian direaksikan ( tambahkan ) 4,5 mL NaOH 0,5 N ( dalam methanol ) Vorteks ( mixer ) dan dipanaskan selama 5 menit pada suhu 70 C sampai terbentuk 2 lapisan. Kemudian didinginkan, setelah dingin tambahkan ( reaksikan ) 3 mL BF3 dalam methanol kiemudian di vorteks kembali.

Kemudian dipnaskan kembali selama 5 menit

Kemudian didinginkan, selanjutnya tambahkan ( reaksikan ) dengan 3 mL

Heksan Vorteks, lalu panaskan kembali selama 5 menit.

Kemudaian disentrifuge ( 7000 rpm ) selama 5 mneit

Kemudian ambil sampel yang berada pada lapisan atas untuk diuji ..

  • C. Analisa Komposisi Asam lemak dengan GCMS Sebanyak 1 mL sampel minyak curah yang telah diesterifikasi diihjeksikan ke dalam kolom GC dengan menggunakn metode Auto Sampler. Pemisahan dilakukan dalam kolom RTx MS Restech,

Hasil analisa berupa Spektrum Massa dibandingkan dengan library WILLEEY 147 dan NIST 47 yang terdapat dalam GCMS untuk mengetahuui komposisi asam lemak yang terdapat pada sampel DATA PENGAMATAN

Data pengamatan dapat dilihat dalam lampiran.

PEMBAHASAN Berdasarkan hasil chromatogram, diperoleh puncak-puncak dengan tinggi tertentu, dengan adanya puncak-puncak tersebut dapat dijadikan indikasi adanya zat penyusun ( asam lemak ) yang merupkan komposisi dari sampel. Dari sampel yang kami uji yaitu minyak curah, secara kualitatif dalam sampel terdapat berbgai macam asam lemak yang terkandung didalamya, yaitu meliputi :

  • 1. Methyl tridecanoat

  • 2. Methyl mrystate ( C14H28O2 )

  • 3. Methyl ( 9E )-9-dodecenoat ( C13H24O2 )

  • 4. Methyl palmitat ( C17H34O2 )

  • 5. Methyl margarate ( C18H36O2 )

  • 6. Methyl linoleat ( C19H34O2 )

  • 7. Methyl oleat ( C19H36O2 )

  • 8. Methyl stearat ( C19H38O2 )

  • 9. Methyl arachate ( C21H42O2 )

Dalam percobaan ini kami mengidentifikasi asam lemak yang menyusun sampel ( minyak curah ) hanya baru pada tahap identifikasi secara kualitatif saja. Namun untuk mendapatkan data kadar dari masing-masing asam lemak secara kuantitatif kita harus menggunakan standar. Cara perhitunganya hampir sama dengan penghitungan pada hitungan kuantitatif HPLC.

PENENTUAN KADAR LOGAM BESI DAN MANGAN DALAM SAMPEL AIR

Tujuan

Mahasiswa dapat melakukan preparasi sampel air untuk penentuan kadar

logam Mahasiswa dapat menentukan kadar logam besi ( Fe ) dan mangan ( Mn ) pada sampel air

Mahasiswa mengetahui dan mengaplikasikan penggunaan instrument AAS untuk analisa logam

PENDAHULUAN

Mineral yang sering berada dalam air dengan jumlah besar adalah Fe. Apabila Fe tersebut dalam jumlah yang banyak akan muncul berbagai gangguan lingkungan. Kadar Fe dalam air tanah di wilayah Jakarta semakin meningkat. Beberapa sumur memiliki kadar Fe melebihi baku mutu. Intake Fe dalam dosis besar pada manusia bersifat toksik karena besi fero bis bereaksi dengan peroksida dan menghasiolkan radikal bebas. Mangan ( Mn ) adalah logam berwarna abu-abu keputihan, memiliki sifat yang mirip dengan besi ( Fe ), merupakan logam keras, mudah retak, dan mudah teroksidasi. Logam Mn merupakan salah satu logam dengan jumlah sangat besar di dalam tanah, dalam bentuk oksida maupun hidroksida. Logam Mn bereaksi dengan air dan larut dalam larutan asam. Kadar Mn meningkat sejalan dengan

meningkatnya aktivitas manusia dan industri, yaitu berasal dari pembakaran bahan baker. Mangan yang bersumber dari aktivitas manusia dapat masuk ke lingkungan air, tanah, udara, dan makanan. Kadar mangan dalam dosis tinggi bersifat toksik. Berdasarkan ADI ( accebtable daily intake ) orang deawasa menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 416/MenKes/ Per/IX/1990 tentang syarat- syarat Air Bersih, Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas Air

Minum, maka kadar maksimum yang diperbolehkan untuk Fe adalah 0,3 mg/L sedangkan kadar Mn 0,1 mg/L. Percobaan menganalisis Fe dan Mn ini, merupakan percobaan yang menggunakan spektrofotometer serapan atom (AAS). Spektrofometri serapan atom merupakan salah satu metode analisis kuantitatif untuk penentuan kadar logam. Pada percobaan ini, larutan standar Fe dan larutan standar Mn dengan konsentrasi yang berbeda-beda yang dihasilkan dari pengenceran larutan induk, akan dianilisis absorbansinya untuk menghasilkan konsentrasi larutan sampel yang belum diketahui. Kadar Fe dan Mn dalam sampel yang dihasilkan dari perhitungan yaitu untuk sampel dari Air Minum Kemasan PRIMA

PERALATAN

  • 1. AAS ( Atomic Absorption Spectrophotometer )

  • 2. Gelas ukur 100 mL

  • 3. Beker glass 100 mL

  • 4. Pipet mikro

BAHAN

  • 1. Larutan induk Fe 1000 ppm

  • 2. Larutan induk Mn 1000 ppm

  • 3. HNO3

  • 4. Aquades

  • 5. Sampel Air ( Air Minum Kemasan PRIMA )

  • 6. Sampel Standar 1,0 ppm; 3,0 ppm; dan 6.0 ppm

PROSEDUR KERJA

Tahap Preparasi

  • 1. Pengenceran Larutan Induk Fe dan Mn 1000 ppm Larutan induk Fe dan Mn 1000 ppm diencerkan menjadi 100 ppm dan 10 ppm dalam 100 ml larutan.

  • 2. Ambil 100 mL sampel dan tambahkan HNO3 1 mL ( 1 % dari volum sampel).

  • 3. Apabila sampel agak keruh, lakukan penyaringan dengan filter paper atau centrifuge

4.

Buat larutan standar Fe dan Mn dari larutan induk Fe dan Mn dengan konsentrasi 1,0 ppm, 3,0 ppm, dan 6,0 ppm.

  • 5. Lakukan uji pengukuran sampel, dan catat konsentrasi yang tertera dalam AAS

  • 6. Apabila tidak ada pengenceran atau pemekatan pada sampel, maka konsentrasi sampel pada AAS merupalam konsentrasi logam sampel tersebut.

  • 7. Lengkapi table berikut dan buat kurva kalibrasi untuk logam Fe berdasarkan data pada table tersebut. Catat konsentrasi logam Fe sampel yang tertera dalam AAS.

Tahap Pengukuran Absorbans Dengan AAS

  • 1. Larutan standar Fe dan larutan standar Mn serta sampel yang mengandung Fe dan Mn, diukur absorbansinya.

DATA PENGAMATAN

Data pengamatan dapat dilihat dalam lampiran

HASIL DAN PEMBAHASAN

Untuk Menentukan kadar ( perhitungan Kuantitatif ) Fe dan Mn saya

menggunakan data sampel dari kelompok lain yaitu, air sumur, air sumur rumah,

air kemasan PRIMA .

HASIL

Tabel 1. Pengukuran absorbansi larutan standar Fe

C ( mg/L ) atau ppm

Absorbansi

1,0

0,0223

3,0

0,0665

6,0

0,1295

Ket : Correlation Coef ( gradien ) : 0,999208 dan Slope : 0.02172

Tabel 2. Pengukuran absorbansi larutan standar Mn

C ( mg/L ) atau ppm

Absorbansi

1,0

0,0443

3,0

0,1342

6,0

0,2551

Ket : Correlation Coef ( gradien ) : 0,999208 dan Slope : 0,04301

Tabel 3. Konsentrasi Larutan Standar

Sampel

Fe

Mn

Air sumur

0.003

0.003

Air sumur rumah

0.008

0.044

Air kemasan PRIMA

0.005

0.001

Perhitungan

Absorbans yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi larutan standar yaitu semakin besar konsentrasi yang digunakan, maka absorbansnya juga semakin besar. Setelah didapatkan absorbans dari larutan standar, maka dibuat grafik hubungan antara konsentrasi dengan absorbans yang kemudian dihasilkan regresi linear. Nilai regresi linear (R) dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi larutan sampel. Regresi linear yang mendekati 1, maka absorbans yang dihasilkan sudah cukup baik (mendekati kebenaran). Dari data larutan standar Fe dan Mn, maka dapat dibuat kurva kalibrasi konsentrasi versus absorbansi. Dari hasil pengukuran didapat kurva kalibrasi standar linier, kurva kalibrasi ini nantinya digunakan untuk menentukan konsentrasi sampel yang terukur sebenarnya dengan menggunakan persamaan regresi linier yaitu Y = bx + a, maka diperoleh b (Slope) = 0.02172 dan a (intersep) = 0,00000 Persamaan linier pada Fe adalah y = 0.02172 x + 0,00000 dimana Y adalah absorbansi dan X adalah konsentrasi dengan nilai regresi R = 0,999208. Sedangkan pada larutan standar Mn diperoleh b (slope) = 0,04301 dan a (intersep) = 0,000000 sehingga didapat persamaan linier untuk Mn adalah y = 0,04301 x + 0,00000 dengan nilai regresi R = 0,999208. Kedua grafik tersebut mendekati linear dengan nilai R

mendekati 1, yang berarti hasil per grafik tersebut sudah memenuhi hukum Lambert-Beer.

Berdasarkan persamaan dan sampeldapat di hitung sbb.

data diatas maka kadar Fe

dan Mn dalam

Kadar Fe dalam Air minum kemasan PRIMA

y = 0.02172x + 0,00000 0.005 = 0.02172 x x = 0.2302 ppm

Jadi kadar Fe dalam Air minuman kemasan PRIMA adalah 0.2302 mg/L.

Kadar Mn dalam Air minum kemasan PRIMA y = 0,04301 x + 0,000000

  • 0.001 = 0,04301 x x = 0.02325 ppm

Jadi kadar Mn dalam Air minuman kemasan PRIMA adalah 0.02325 mg/L.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan yang dilakukan bahwa hubungan antara absorbansi dengan larutan konsentrasi larutan standar Fe maka didapatkan persamaan y = y = 0.02172 x + 0,00000, sedangkan hubungan antara absorbansi dengan larutan standar Mn maka didapatkan persamaan y = 0,04301 x + 0,00000 dan berdasarkan hasil perhitungan diperoleh kadar Fe dan Mn dari sampel masing-masing sebesar 0.2302 mg/L dan 0.2302 mg/L.

PENENTUAN NITRIT ( N-NO2 ) DALAM AIR

Tujuan Mahasiswa mampu dapat melakukan analisa nitrit dalam sampel air 1. PENDAHULUAN Nitrit dalam suasana asam pada pH 2,0 2,5 akan bereaksi dengan sulfanisme dan N-1 napthyl ethylene diamnine dihydrocloride membentuk senyawa azo yang berwarna merah keunguan. Warna yang terbentuk diukur absorbansinya secara spektrofotometri pada panjang maksimum 543 nm. Metoda ini dipakai untuk penetapan kadar nitrit dalam sampel air dan air buangan industri dan rumah tanngga. Prosedur dengan spektofotometri ini digunakan untuk pengujian kadar nitrit dalam air antara 0,001 0,100 mg/L. jika menggunakan kuvet 1 cm dalam penentuan kadar nitrit, maka akan diperoleh kadar nitrit 0,18/L. Untuk meningkatkan ketelitian pembacaan dapat digunakan kuvet yang lebih panjang lintasanya ( 5 cm 10 cm ). Spektrofotometer UV-Vis (Ultra Violet-Visible) adalah salah satu dari sekian banyak instrumen yang biasa digunakan dalam menganalisa suatu senyawa kimia. Spektrofotometer umum digunakan karena kemampuannya dalam menganalisa begitu banyak senyawa kimia serta kepraktisannya dalam hal preparasi sampel apabila dibandingkan dengan beberapa metode analisa. Spektrofotometri uv-vis adalah pengukuran serapan cahaya di daerah ultraviolet (200 350 nm) dan sinar tampak (350 800 nm) oleh suatu senyawa. Serapan cahaya uv atau cahaya tampak mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi elektron-elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Panjang gelombang cahaya uv atau cahaya tampak bergantung pada mudahnya promosi elektron. Molekul- molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk promosi elektron, akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul yang memerlukan energi lebih sedikit akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih panjang. Senyawa yang menyerap cahaya dalam daerah tampak (senyawa berwarna) mempunyai elektron yang lebih mudah dipromosikan dari pada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang lebih pendek.

2.

PERALATAN DAN BAHAN Alat

UV-Vis Spektrofotometer

Kuvet silica

Pipiet mikro 1000 L

Gelas ukur 100 mL Batang pengaduk Tissue Bahan

Sampel Air

Sulfanilamida

NEDH

Aquades

  • 3. PROSEDUR KERJA Tahap Preparasi Pipet 50 sampel uji, masukan ke dalam gelas piala 200 mL Tambahkan 1 mL larutan sulfanilamida, kocok dan biarklan 2 menit sampai 8 menit. Tambahkan 1 mL NEDH, kocok biarkan selama 10 menit dan segera lakukan pengukuran ( pengukuran tidak boleh lebih dari 2 jam ) Tahap Pengukuran Absorbans Dengan UV-Vis Tahapan selanjutnya yaitu pengukuran menggunakan spektrofotometer daerah UV. Pengukuran pertama dilakukan terhadap blanko atau aquadest. Selanjutnya dilakukan pengukuran standar, untuk menentukan panjang gelombang maksimum Setelah itu dilakukan pengukuran deret standar untuk mengetahui kurva baku. Kurva baku yang terbentuk adalah seperti yang disajikan dalam grafik berikut: ( Grafik dapat dilihat dalam lampiran ).

4. PEMBAHASAN Praktikum ini bertujuan untuk menentukan kadar nitrit ( N-NO2 ) dalam larutan sampel air minum dengan metode spektrofotometri menggunakan UV-vis. Prinsipnya adalah pengukuran nitrit pada panjang gelombang maksimum yang ditentukan yaitu 543 nm, setelah larutan sampel yang mengandung nitrit dilakukan pengenceran dengan sulfanilamida. Dengan demikian pengukuran larutan sampel ( air minum ) dengan spektrofotometri UV menunjukkan adanya nitritt dengan absorbansinya adalah 0,0191 mg/L. Keberadan nitrit dalam sampel sebagai parameter indicator pencemaran air.

KESIMPULAN Kadar NITRIT dalam sampel Air minum adalah sebesar 0,0191 mg/L.