Anda di halaman 1dari 47

Jenis Obat yang termasuk Anestesi Lokal

Secara umum anestesi local mempunyai rumus dasar yang terdiri


dari 3 bagian : gugus amin hidrofil yang berhubungan dengan gugus
residu aromatic lipofil melalui suatu gugus antara. Gugus amin
selalu berupa amin tersier atau amin sekunder. Gugus antara dan
gugus aromatic diguguskan dengan ikatan amid atau ikatan ester.
Maka secara kimia, anestesi local digolongkan atas senyawa ester
dan senyawa amid. Adanya ikatan ester sangat menentukan sifat
anestesi local sebab pada degradasi dan inaktivasi didalam badan,
gugus tersebut akan dihidrolisis. Karena itu golongan ester
umumnya kurang stabil dan mudah mengalami metabolism
dibandingkan dengan golongan amid. Anestesi local yang tergolonga
dalam senyawa ester ialah tetrakain, benzokain, kokain, dan prokain
dengan prokain sebagai prototype. Sedangkan yang tergolong dalam
senyawaan amid ialah dibukain, lidokain, bupivakain, mepivakain, dan
prilokain.

Perbandingan Golongan Ester dan Amida


KLASIFIKASI

POTENSI

MULA KERJA

LAMA KERJA

TOKSISITAS

(infiltrasi,menit)

ESTER
Prokain

1 (rendah)

Cepat (fast)

45-60

Rendah

Kloropokain

3-4 (tinggi)

Sangat Cepat (very rapid)

30-45

Sangat rendah

60-180

Sedang

Lambat (slow)
Tetrakain

8-16 (tinggi)

AMIDA
Lidokain

1-2 (sedang)

Cepat (rapid)

60-120

Sedang

Etidokain

4-8 (tinggi)

Lambat (slow)

240-480

Sedang

Prilokain

1-8 (rendah)

Lambat

60-120

Sedang

Mepivakain

1-5 (sedang)

Sedang (moderate)

90-180

Tinggi

Lambat
Bupivakain

4-8 (tinggi)

Lambat

240-480

Rendah

Ropivakain

4 (tinggi)

Lambat

240-480

rendah

Levobupivakain

4 (tinggi)

240-480

Penggunaan Anestesi Lokal


TOPIKAL

INFILTRASI

BLOK SARAF

AR

EPIDURAL

SPINAL INTRATEKAL

IV

ESTER
Prokain

Kloropokain

Tetrakain

Lidokain

Etidokain

Prilokain

Mepivakain

Bupivakain

Ropivakain

Levobupivakain

AMIDA

Mekanisme Kerja
Anestesi local mencegah pembentukan dan konduksi impuls
saraf.Tempat kerjanya terutama di membrane sel, efeknya pada
aksoplasma hanya sedikit saja.
Sebagaimana diketahui,potensial aksi saraf terjadi karena
adanya peningkatan sesaat (sekilas) permeabilitas membrane
terhadap
ion
Na+
akibat
depolarisasi
ringan
pada
membrane.Proses fundamental inilah yang dihambat oleh
anestesik local;hal ini tejadi akibat adanya interaksi langsung
antara zat anestesik local dengan kanal Na+ yang peka terhadap
adanya peruabahan voltase muatan listrik (voltage sensitive Na+
channels).Dengan semakin bertambahnya efek anestesi local di
dalam saraf,maka ambang rangsang membrane akan meningkat
secara
bertahap,kecepatan
peningkatan
potensi
aksi
menurun,konduksi impuls melambat dan factor pengaman ( safety
factor) konduksi saraf juga berkurang.Faktor-faktor ini akan
mengakibatkan penurunan menjalarnya potensial aksi dan dengan
demikian mrngakibatkan kegagalan konduksi saraf.

Mekanisme Kerja
Anestesik local juga megurangi permeabilitas membrane bagi K+ dan Na+
dalam keadaan istirahat,sehingga hambatan hantaran tidak disertai
banyak perubahan pada potensial istirahat.Hasil penelitian membuktikan
bahwa anestesi local mnghambat hantaran saraf tanpa menimbulkan
depolarisasi saraf,bahkan ditemukan hiperpolarisasi ringan.Pengurangan
permeabilitas membrane oleh anestesi local juga timbul pada otot
rangka,baik waktu istirahat maupun waktu terjadinya potensial aksi.
Potensi berbagai zat anestesik local sejajar dengan kemampuanya untuk
meninggikan tegangan permukaan selaput lipid monomolecular.Mungkin
sekali anestesik local meninggikan tegangan permukaan lapisan lipid yang
merupakan membrane sel saraf,dengan demikian menutup pori dalam
membrane
sel saraf, sehingga menghambat gerak ion melalui
membrane.Hal ini akan menyebabkan penurunan permeabilitas membrane
dalam keadaan istirahat sehingga akan membatasi peningkataan
permeabilitas Na+.Dapat dikatakan bahwa cara kerja utama obat
anestesik local ialah bergabung dengan reseptor spesifik yang terdapat
pada kanal Na,sehingga mengakibatkan terjadinya blokade pada kanal
tersebut,dan hal ini akan mengakibatkan hambatan gerakan ion melalui
membrane.

Farmakokinetik
A. Absorpsi sistemik dipengaruhi oleh:
Tempat suntikan
Kecepatan absorpsi sistemik sebanding dengan ramainya
vasularisasi tempat suntikan ;absorpsi intravena > trakeal >
intercostal.kaudal > para-servikal > epidural > pleksus brakial >
skiatik > subkutan.

Penambahan vasokonstriktor
Adrenalin 5 g/ml atau 1:200.000 membuat vasokonstriksi
pembuluh darah pada tempat suntikan sehingga dapat
memperlambat absoprsi sampai 50%.
Karakteristik obat anestesik local
Obat anestetika local terikat kuat pada jaringan sehingga dapat
diabsorpsi secara lambat.

Farmakokinetik
B.Distribusi
Semua anestesi lokal tidak baik di absorbsi di saluran
cerna setelah pemakaian secara oral, kecuali untuk
kokain. Hampir semua anestesi lokal mengalami firstpass effect di hepar sehingga obat dimetabolisme
menjadi metabolit inaktif. Anestesi lokal diabsorbsi
dengan kecepatan yang berbeda pada membran mukosa
yang berbeda.
Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
Perfusi jaringan
Koefisien partisi jaringan atau darah
Massa jaringan

Farmakokinetik
C. Metabolisme dan ekskresi
Golongan ester
Metabolisme
oleh
enzim
pseudo-kolinesterase
(kolinesterase plasma). Hidrolisa ester sangat cepat dan
kemudian metabolit diekskresi melalui urin.
Golongan amida
Metabolisme terutama oleh enzim mikrosomal di hati.
Kecepatan metabolisme tergantung kepada spesifikasi
obat anestetik lokal. Metabolismenya lebih lambat dari
hidrolisa ester. Metabolit dieksresi lewat urin dan
sebagian kecil dieksresi dalam bentuk utuh.

Komplikasi Anestesi Lokal


1. Komplikasi lokal.
Komplikasi ini dapat terjadi bila saat penyuntikan tertusuk
pembuluh darah yang cukup besar atau pada pasien dengan
kelainan perdarahan atau yang mendapat terapi antikoagulan
sehingga membentuk hematom, infiltrasi dan abses.. Untuk
mencegah komplikasi ini kita harus selalu menanyakan riwayat
penyakit dan riwayat pengobatan pada setiap pasien, menghindari
daerah yang kaya pembuluh darah serta melakukan aspirasi pada
saat menyuntikan obat. Tindakan yang perlu dilakukan adalah
kompres hangat, atau insisi disertai pemberian antibiotika
apabila telah terjadi abses. Nekrose jaringan dapat terjadi
apabila suatu end artery organ dilakukan anestesi lokal dengan
agent yang mengandung adrenalin, dalam hal ini kadang
diperlukan nekrotomi disertai pemberian antibiotika yang sesuai .

Komplikasi Anestesi Lokal


2. Komplikasi sistemik : Pencegahan dan pengelolaannya
Secara garis besar hal ini dapat terjadi oleh karena 4 hal, yaitu :
Hipersensitif.
Dengan dosis yang masih jauh dari dosis maksimal sudah timbul
tanda-tanda komplikasi sistemik. Hal ini dapat dihindari dengan
anamnesa yang teliti serta tes sensitifivas.
Over dosis.
Penyuntikan yang berulang tanpa memperhatikan volume dan
konsentrasi obat yang dipakai merupakan salah satu penyebab
tersering terjadinya over dosis. Hal ini sering terjadi pada pasien
yang menjalani operasi yang cukup luas dan tidak kooperatif,
dimana operator tanpa disadari sering menambah suntikan anestesi
lokal.

Komplikasi Anestesi Lokal


Intravasasi.
Obat anestesi lokal dapat langsung masuk kedalam pembuluh
darah sehingga disamping tujuan anestesi tidak tercapai,
juga dapat timbul penyulit sistemik dengan segera. Hal ini
dapat dicegah dengan cara melakukan aspirasi sebelum kita
memasukan obat.
Hiperabsorbsi.
Absorbsi obat yang berlebihan dapat terjadi pada
penyuntikan obat di daerah wajah, leher, aksila dan inguinal
serta daerah yang mengalami peradangan yang merupakan
daerah kaya pembuluh darah. Pencampuran epinefrin dapat
mengurangi absorbsi obat anestesi lokal, disamping juga akan
memperpanjang aksinya.

Gejala Komplikasi Sisitemik


1.Susunan Saraf Pusat.
Manifestasi sentral dari obat anestesi lokal dapat berbeda-beda tergantung dari kadar obat
dalam plasma, bila kadar obat dalam plasma hanya sedikit diatas dosis toksis maka akan
timbul gejala stimulasi, sedang bila jauh melampaui dosis toksis akan terjadi depresi SSP.
Gejala awalnya berupa perasaan kepala terasa ringan, dizziness, kemudian diikuti dengan
gangguan visus dan pendengaran berupa penglihatan kabur dan telinga berdenging.
Stimulasi SSP pada tingkat kortek serebri dapat berupa gelisah, agitasi hingga kejang.
Tindakan untuk mengatasi penyulit ini adalah dengan memberikan obat anti konvulsi, misalnya
diazepam 0,2 mg/kg.bb atau tiopental 2 mg/kg.bb, secara intravena. Depresi pada tingkat ini
bermanifestasi sebagai kantuk, lemah hingga kesadaran menurun. Berikan Oksigen 100% dan
segera pasang infus cairan kritaloid dan tindakan lain yang perlu dilakukan.
Pada tingkat medula, stimulasi pusat kardiovaskuler bermanifestasi sebagai hipertensi dan
takikardi. Gejala ini dapat diatasi dengan pemberian Oksigen dan obat penghambat beta,
seperti propanolol. Depresi pada tingkat ini menimbulkan gejala hipotensi dan bradikardi.
Untuk mengatasi hal ini segera rubah posisi pasien jadi Trendelenburg, pasang infus cairan
kristaloid, berikan oksigen dan bila perlu obat vasopresor. Pada pusat respirasi, stimulasi
dapat menimbulkan takipnu yang dapat diatasi dengan pemberian opiat, seperti petidin atau
morpin. Depresi pada pusat ini dapat menimbulkan hipoventilasi yang harus diatasi segera
dengan nafas bantuan dan Oksigen. Stimulasi pada pusat muntah akan menimbulkan muntah
yang potensial menyebabkan aspirasi paru.

Gejala Komplikasi Sisitemik


2.Efek kardiovaskuler.
Anestesi lokal dapat beraksi langsung pada serabut
purkinje otot ventrikel jantung sehingga dapat
menimbulkan bradikardi, sedangkan aksi langsung pada
pembuluh darah akan menyebabkan vasodilatasi dan
akhirnya hipotensi. Efek ini dapat diatasi dengan
pemberian sulfas atropin, pemberian infus cairan dan atau
obat vasopresor.

3. Reaksi alergi.
Dapat hanya berupa kemerahan pada kulit, urtikaria hingga
syok anafilaktik yang fatal. Tindakan yang diambil
disesuaikan dengan tanda dan gejala yang timbul, mulai dari
pemberian obat anti histamin, kortikosteroid hingga terapi
definitif untuk syok anafilaktik.

Gejala Komplikasi Sisitemik


4. Lain-lain.
Komplikasi lain yang kadang dapat terjadi
adalah menggigil yang harus diatasi dengan
selimut hangat, pemberian oksigen dan bila
perlu dengan pemberian klorpromazin 10-25
mg atau petidin 10 mg.

ANESTESI PERMUKAAN (TOPIKAL)


Anestesi permukaan yang efektif dapat dicapai dengan jalan
mendinginkan kulit sampai 40C. Jika menggunakan es batu, sprai
etil klorid atau kantung karbon dioksida, maka pendinginan
tersebut tidak akan menimbulkan rasa sakit, bahkan dapat
digunakan sebelum dilakukan injeksi maupun grafting kulit.
Ahli anestesi pediatri dapat menggunakan anestesi topikal di
hidung dan nasofaring sebelum pemasangan nasotrakeal tube, di
faring untuk mengurangi respon terhadap oral airway, atau di
laring dan trakea sebelum pemasangan endotrakeal tube atau
bronkoskopi. Yang perlu diperhatikan yaitu pemilihan agen yang
akan digunakan. Lidokain sprai 4% atau jelli lidokain 5% yang
menjadi pilihan karena relatif aman, efektif dan bersifat
bakteriostatik. Dosis yang tepat untuk lidokain yaitu 5 mg/kg
atau 0,125 ml/kg dalam larutan 4%.

ANESTESI PERMUKAAN (TOPIKAL)


Anestesi topikal sangat membantu dalam bronkoskopi diagnostik atau
operatif. Guna keperluan tersebut, agen dapat diberikan melalui sprai
tangan, jet sprai, suntik atau perforated kanula atau plester. Jika
dimungkinkan, gunakan volume sesuai dengan kebutuhan. Sayangnya,
beberapa atomizer yang ada di pasaran memudahkan terjadinya
overdosis. Karena besarnya volume atomizer yang dihasilkan juga
bergantung posisi penyemprotannya, maka sebaiknya dicoba terlebih
dahulu sampai diperoleh posisi yang tepat.
Seperti halnya orang dewasa, respon anak terhadap anestesi lokal
bergantung pada metoda dan kecepatan pemberiannya, daerah
anatomisnya, keasaman jaringan, dan penggunaan vasokonstriktor atau
torniket.
Anestes topikali juga berguna dalam prosedur sistoskopik. Jelli dapat
diberikan di uretra sehingga memungkinkan ahli anestesimenggunakan
anestesi supplemental yang sangat ringan. Penggunaan lain anestesi
topikal meliputi pengangkatan korpus alineum dari mata (propakain
0,5%) dan membuka hidung yang tersumbat (kokain 4%).

ANESTESI INFILTRASI
Anestesi infiltrat adalah anestesi yang bertujuan
untuk menimbulkan anestesi ujung saraf melalui
injeksi pada atau sekitar jaringan yang akan di
anestesi sehingga menyebabkan hilangnya rasa di
kulit dan jaringan yang terletak lebih dalam
misalnya daerah kecil di kulit atau gusi
(pencabutan gigi)
Anestesi ini sering dilakukan pada anak-anak
untuk rahang atas maupun rahang bawah. Mudah
dikerjakan dan efektif. Daya penetrasi anestesi
infiltrat pada anak-anak cukup dalam karena
komposisi tulang dan jaringan belum begitu
kompak.

Indikasi Anestesi Infiltrat


Ada beberapa indikasi yang ditujukan untuk pemakaian anestesi infiltrat, antara lain :
Gigi dengan karies luas, karies mencapai bifurkasi dan tidak dapat direstorasi.
Infeksi di periapikal atau interradikular dan tidak dapat di sembuhkan kecuali dengan
pencabutan.
Gigi yang sudah waktunya tanggal dengan catatan bahwa penggantinya sudah mau
erupsi
Gigi sulung yang persistensi
Gigi sulung yang mengalami impacted, karena dapat menghalangi pertumbuhan gigi
tetap
Gigi yang mengalami ulkus dekubitus
Untuk perawatan ortodonsi
Sopernumerary tooth
Gigi penyebab abses dentoalveolar
Jika penderita atau ahli bedah atau ahli anestesi lebih menyukai anestesi lokal serta
dapat meyakinkan para pihak lainnya bahwa anestesi lokal saja sudah cukup.
Anestesi lokal dengan memblok saraf atau anestesi infiltrasi sebaiknya diberikan lebih
dahulu sebelum prosedur operatif dilakukan dimana rasa sakit akan muncul.

Kontra Indikasi Anestesi Infiltrat


Ada beberapa kasus dimana penggunaan anestesi infiltrat tidak diperbolehkan,
kasus0kasus ini perlu diketahui sehingga gejala-gejala yang tidak menyenangkan dan
akibat yang tidak diinginkan bisa dihindari. Kontra indikasinya antara lain :
Anak yang menderita infeksi akut dimulutnya. Misalnya akut infections
stomatitis, herpetik stomatitis.
Blood dyscrasia atau kelainan darah, kondisi ini menyebabkan terjadinya
perdarahan dan infeksi.
Pada penderita penyakit jantung. Misalnya : congenital heart disease, rheumatic
heart disease, penyakit ginjal / kidney disease.
Pada penyakit sistemik yang akut pada saat tersebut resistensi tubuh lebih
rendah dan dapat menyebabkan infeksi sekunder.
Adanya tumor yang ganas, karena dengan pencabutan tersebut dapat
menyebabkan metastase.
Pada penderita diebetes mellitus (DM). Tidaklah mutlak kontra indikasi.
Kurangnya kerjasama atau tidak adaya persetujuan dari pihak penderita.

Alat Anestesi Infiltrat


Syringe
Syringe adalah peralatan anestesi lokal yang paling sering digunakan pada
praktek gigi. Terdiri dari kotak logam dan plugger yang disatukan melalui
mekanisme hinge spring.
Cartridge
Cartridge biasanya terbuat dari kaca bebas alkali dan pirogen untuk
menghindari dan kontaminasi dari larutan. Sebagian besar cartridge
mengandung 2,2 ml atau 1,8 ml larutan anestesi lokal. Cartridge dengan
kedua ukuran tersebut dapat dipasang pada syringe standart namun
umumnya larutan anestesi sebesar 1,8 ml sudah cukup untuk perawatan gigi
rutin.

Alat Anestesi Infiltrat


Jarum
Pemilihan jarum harus sesuai dengan kedalaman anestesi yang akan
dilakukan. Jarum suntik pada kedokteran gigi tersedia dalam 3 ukuran (
sesuai standart American Dental Association = ADA ) ; panjang (32 mm),
pendek (20 mm, dan super pendek (10 mm).
Jarum suntik yang pendek yang digunakan untuk anestesi infiltrasi
biasanya mempunyai panjang 2 atau 2,5 cm. Jarum yang digunakan harus
dapat melakukan penetrasi dengan kedalaman yang diperlukan sebelum
seluruh jarum dimasukan ke dalam jaringan. Tindakan pengamanan ini akan
membuat jarum tidak masuk ke jaringan, sehingga bila terjadi fraktur
pada hub, potongan jarum dapat ditarik keluar dengan tang atau sonde.

Teknik Anestesi Infiltrasi


Pada anak-anak bidang alveolar labio-bukal yang tipis umumnya
banyak terperforasi oleh saluran vaskuler. Untuk alasan inilah,
maka teknik infiltrasi dapat digunakan dengan efektif untuk
mendapat efek anestesi pada gigi-gigi susu atas tanpa perlu
mendepositokan lebih dari 1 ml larutan secara perlahan-lahan
dijaringan.
Pada anak yang masih muda, rasa tidak enak dari suntikan
palatum yang digunakan untuk proses pencabutan gigi atau
pemasangan matriks, dapat dihindari dengan cara sebagai
berikut.
Setelah efek suntikan supraperiosteal pada suklus labio-bukal
anestesi yang memadai pada jaringan palatum. Teknik ini dikenal
sebagai suntikan interpapila dan sering digunakan oleh para ahli
pedodonti. Para ahli lainnya lebih suka mengunakan suntikan jet
atau suntikan intraligamental.

Prosedur Anestesi Infiltrat


Daerah bukal / labial / RA / RB
Masuknya jarum ke dalam mukosa 2-3 mm, ujung jarum berada
pada apeks dari gigi yang dicabut. Sebelum mendeponir
anestetikum, lakukan aspirasi untuk melihat apakah pembuluh
darah tertusuk. Bila sewaktu melakukan aspirasi dan terlihat darah
masuk ke karpul, tarik karpul. Buang darah yang berada di karpul
dan lakukan penyuntikkan pada lokasi lain yang berdekatan.
Masukkan obat dengan perlahan dan tidak boleh mendadak
sebanyak 0,60 ml (1/3 karpul).
Daerah palatal / lingual
Masukkan jarum smpai menyentuh tulang. Masukkan obat perlahan
dan tidak boleh mendadak sebanyak 0,2 0,3 cc. Akan terlihat
mikosa daerah tersebut putih / pucat.

Prosedur Anestesi Infiltrat


Daerah interdental papil
Masukkan jarum pada daerah papila interdental, masukkan
obatnya sebanya 0,2 0,3 cc. Akan terlihat mukosa daerah
tersebut memucat.
Anestesi intraligamen
Suntikkan intraligamen dilakukan ke dalam periodontal
ligamen. Suntikkan ini menjadi populer belakangan ini setelah
adanya syringe khusus untuk tujuan tersebut. Suntikkan
intraligamen dapat dilakukan dengan jarum dan syringe
konvensional tetapi lebih baik dengan syringe khusus karena
lebih mudah memberikan tekanan yang diperlukan untuk
menyuntikkan ke dalam peiodontal ligamen.

ANESTESI BLOK
ANALGESIA SPINAL
Analgesia spinal (intratekal, intradural, subdural, subaraknoid)
ialah pemberian obat anestesik local ke dalam ruang
subarachnoid.Anestesia spinal diperoleh dengancara menyuntikan
anestesik local ke dalam ruang subaraknoid.Teknik ini
sederhana,cukup efektif dan mudah dikerjakan.

Indikasi :
Bedah ekstremitas bawah
Bedah panggul
Tindakan sekitar rectum-perineum
Bedah obstetric-ginekologi
Bedah urologi
Bedah abdomen bawah
Pada bedah abdomen atas dan bedah pediatric biasanya
dikombinasi dengan anesthesia umum ringan.

ANALGESIA SPINAL
Indikasi kontra absolut :

Pasien menolak
Infeksi pada tempat suntikan
Hipovolemia berat,syok
Koagulapati atau mendapat
terapiantikoagulan
Tekanan intrkranial tinggi
Fasilitas resusitasi minim
Kurang pengalaman / tanpa
didampingi konsultan anestesi.

Indikasi kontra relative :

Infeksi
sistemik
(sepsis
,bakteremi)
Infeksi
sekitar
tempat
suntikan
Kelaianan neurologis
Kelaianan psikis
Bedah lama
Penyakit jantung
Hipovolemia ringan
Nyeri punggung kronis

Persiapan Analgesia Spinal


Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti
persiapan pada anestesi umum.Daerah sekitar tempat
tusukan diteliti apakah akan menimbulkan kesulitan,misalnya
ada kelaianan anatomis tulang punggung atau pasien gemuk
sekali sehingga tak teraba tonjolan prosesus spinosus.Selain
itu perlu diperhatikan hal-hal dibawah ini :
Informed consent (izin dari pasien)
Kita tidak boleh memaksa pasien untuk menyetujui
anesthesia spinal
Pemeriksaan fisik
Tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang
punggung dan lain-lainnya.
Pemeriksaan laboratorium anjuran
Hemoglobin,hematocrit,PT (prothrombine time) dan PTT (
partial thromboplastine time).

Peralatan Analgesia Spinal


Posisi duduk atau posisi tidur lateral decubitus dengan tusukan
pada garis tengah ialah posisi yang paling sering
dikerjakan.Biasanya dikerjakan di atas meja operasi tanpa
dipindah lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan posisi
pasien.perubahan posisi berlebihan dalam 30 menit pertama akan
menyebabkan menyebarnya obat.
Setelah dimonitor,tidurkan pasien misalnya dalam posisi
decubitus lateral.Beri bantal kepala,selain enak untuk pasien juga
supaya tulang spinosus mudah teraba.Posisi lain ialah duduk.
Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua krista
iliaka dengan tulang punggung ialah L4 atau L4-5.Tentukan
temoat tusukan misslnya L2-3,L3-4,dan L4-5.Tusukan pada L1-2
atau diatasnya berisiko trauma terhadap medulla spinalis.
Sterilkan tempat tusukan dneagn betadine atau alcohol.
Beri anestesik local pada tempat tusukan,misalnya dnegan
lidokain 1-2% 2-3 ml.

Peralatan Analgesia Spinal


Cara tusukan median atau paramedian.untuk jarum spinal besar 22 G,23
G atay 25 G dapat langsung digunakan.Sedangkan untuk yang kecil 27 G
atau 29 G,dianjurkan menggunakan penuntun jarum 9introducer),yaitu
jarum suntik biasa semprit 10 cc.Tusukan introducer sedalam kira-kira 2
cm agak sedikit kea rah sefal,kemudian masukkan jarun spinal berikut
mandrinnya ke lubang jarum tersebut.Jika menggunakan jarum tajam
(Quincke-babcock) irisan jarum 9bevel0 harus sejajar dengan serat
durameter,yaitu pada posisi tidur miring bevel mengarah ke atas atau
kebawah, untuk menghindari kebocoran likuor yang dapat berakibat
timbulnya nyeri kepala pasca spinal. Setelah resistensi menghilang,
mandarin jarum spinal dicabut dan keluar liquor, pasang semprit berisi
obat dan obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0,5 ml /detik) diselingi
aspirasi sedikit, hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik. Kalau
anda yakin ujung jarum spinal pada posisi yang benar dan liquor tidak
keluar, putar arah jarum 90o biasanya liquor keluar. Untuk analgesia
spinal kontinu dapat dimasukkan kateter.
Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya bedah
hemoroid (wasir) dengan anestetik hiperbarik. Jarak kulit-ligamentum
flavum dewasa 6cm.

Anestetik Lokal untuk Analgesia Spinal


Berat jenis cairan serebrospinalis (CSS) pada
suhu 37oC ialah 1.003-1.008. Anestesi local
dengan berat jenis sama dengan CSS disebut
isobaric. Anestesi local dengan berat jenis lebih
besar dari CSS disebut hiperbarik. Anestesi local
dengan berat jenis lebih kecil dari CSS disebut
hipobarik.
Anestesi local yang sering digunakan adalah jenis
hiperbarik di peroleh dengan mencampur anestesi
local dengan dextrose. Untuk jenis hipobarik
biasanya digunakan tetrakain diperoleh dengan
mencampur dengan air injeksi.

Komplikasi Tindakan

Hipotensi berat, akibat blok simpatis terjadi


venous pooling. Pada dewasa di cegah dengan
memberikan infus cairan elektrolit 1000ml atau
koloid 500ml sebelum tindakan.
Bradikardi, dapat terjadi tanpa disertai hipotensi
atau hypoxia, terjadi akibat blok sampai T-2.
Hipoventilasi, akibat paralisis saraf frenikus atau
hipoperkusi pusat kendali nafas.
Trauma pembuluh darah
Trauma saraf
Mual muntah
Gangguan pendengaran
Blok spinal tinggi atau spinal total

Komplikasi Pasca Tindakan

Nyeri tempat suntikan


Nyeri punggung
Nyeri kepala karena kebocoran likuor
Retensi urin
Meningitis

ANALGESIA EPIDURAL
Anestesi atau analgesia epidural ialah blockade saraf
dengan menempatkan obat di ruang epidural
(peridural, ekstradural). Ruang ini berada di antara
ligamentum flavum dan durameter. Bagian atas
berbatasan dengan foramen magnum di dasar
tengkorak
dan
di
bawah
dengan
selaput
sacrokogsigeal. Kedalaman ruang ini rata-rata 5mm
dan di bagian posterior kedalaman maksimal pada
daerah lumbal.
Obat anestesi local di ruang epidural bekerja langsung
pada akar saraf spinal yang terletak dibagian lateral.
Awal kerja anestesi epidural lebih lambat dibanding
anestesi spinal, sedangkan kualitas blockade sensorik
motoric juga lebih lemah.

Isi Ruang Epidural

Sakus duralis
Cabang saraf spinal (spinal nerve roots)
Pleksus venosus epiduralis
Arteri spinalis
Pembuluh limpe
Jaringan lemak

Indikasi Anestesi Epidural


Pembedahan dan penanggulangan nyeri pasca bedah
Tatalaksana nyeri saat persalinan
Penurunan tekanan darah saat pembedahan supaya
tidak banyak perdarahan
Tambahan pada anestesi umum ringan karena penyakit
tertentu pasien
Ruang
epidural
bertekanan
negative
(<1atm)
kemungkinan karena :
Pemindahan tekanan negative dari thorak melalui
ruang paravertebralis
Flexi maksimal punggung
Dorongan kedepan saat jarum disuntikkan
Redistribusi aliran darah serebrospinal

Penyebaran obat pada anestesi epidural


bergantung :

Volume obat yang di suntikkan


Usia pasien ( tua minimal, 19 tahun maksimal)
Kecepatan suntikan
Besarnya dosis
Ketinggian tempat suntikan
Posisi pasien
Panjang columna vertebralis, suntikan 10-15 ml
obat akan menyebar ke kedua sisi sebanyak 5
segmen.

Teknik Analgesia Epidural


Pengenalan ruang epidural lebih sulit di banding
dengan ruang subaraknoid.
Posisi pasien pada saat tusukan seperti pada
analgesia spinal
Tusukan jarum epidural biasanya dikerjakan pada
ketinggian L 3-4, karena jarak antara ligmentum
flavum durameter pada ketinggian ini adalah
yang terlebar.
Jarum epidural yang digunakan ada 2 macam yaitu
jarum ujung tajam (Crawford) untuk dosis tunggal
dan jarum ujung khusus (Tuohy) untuk pemandu
memasukkan kateter ke ruang epidural. Jarum ini
biasa di tandai setiap cm.

Teknik Analgesia Epidural


Untuk mengenal ruang epidural digunakan banyak
teknik. Tetapi yang paling popular ialah teknik
hilangnya resistensi dan teknik tetes tergantung.
Teknik hilangnya resistensi (loss of resistance)
Teknik ini menggunakan semprit kaca atau semprit
plastic rendah resistensi yang di isi oleh udara atau
NaCl sebanyak 3ml. Setelah diberikan anestesi local
pada tempat suntikan, jarum epidural di tusukkan
sedalam 1-2 cm. Kemudian udara atau NaCl disuntikkan
perlahan-lahan secara terputus-putus (intermiten)
sambil mendorong jarum epidural sampai terasa
menembus jaringan keras (ligamentum flavum) yang
disusul oleh hilangnya resistensi. Setelah yakin ujung
jarum berada dalam ruang epidural, dilakukan uji dosis.

Teknik Analgesia Epidural


Teknik tetes tergantung (hanging drop)
Persiapan sama seperti teknik hilangnya resistensi, tetapi pada teknik ini
hanya menggunakan jarum epidural yang di isi NaCl sampai terlihat ada
tetes NaCl yang menggantung. Dengan mendorong jarum epidural perlahalahan secara lembut sampai terasa menembus jaringan keras yang
kemudian disusul oleh tersedotnya tetes NaCl ke ruang epidural. Setelah
yakin ujung jarum berada dalam ruang epidural, dilakukan uji dosis ( test
dose).
Uji Dosis (test dose)
Uji dosis anestesi local untuk epidural dosis tunggal dilakukan setelah
ujung jarum di yakini berada dalam ruang epidural dan untuk dosis
berulang (kontinu) melalui kateter. Masukkan anestesi local 3ml yang sudah
bercampur adrenalin 1:200.000.
Tak ada efek setelah beberapa menit, kemungkinan besar letak jarum
atau kateter benar.
Terjadi blockade spinal, menunjukkan obat masuk ke ruang subaraknoid
karena terlalu dalam
Terjadi peningkatan laju nadi sampai 20-30%, kemungkinan obat masuk
vena epidural

Teknik Analgesia Epidural


Cara penyuntikan
Setelah di yakini posisi jarum atau kateter benar, suntikkan anestesi local
secara bertahap setiap 3-5 menit sebanyak 3-5ml sampai tercapai dosis
total. Suntikan terlalu cepat menyebabkan tekanan dalam ruang epidural
mendadak tinggi, sehingga menimbulkan peninggian tekanan intracranial,
nyeri kepala dan ganguuan sirkulasi pembuluh darah epidural.
Dosis maksimal dewasa muda sehat 1,6 ml atau segmen yang tentunya
bergantung pada konsentrasi obat. Pada manula dan neonates dosis di
kurangi sampai 50% dan pada wanita hamil di kurangi sampai 30% akibat
pengaruh hormone dan mengecilnya ruang epidural akibat ramainya
vaskularisasi darah dalam ruang epidural.
Uji keberhasilan epidural
Keberhasilan analgesia epidural :
Tentang blok simpatis diketahui dari perubahan suhu
Tentang blok sensorik dari uji tusuk jarum
Tentang blok motoric dari skala Bromage

Skala bromage untuk blok motoric


Melipat lutut

Melipat jari

Blok tak ada

++

++

Blok parsial

++

Blok hamper lengkap

Blok lengkap

Komplikasi Analgesia Epidural

Blok tidak merata


Depresi kardiovaskular (hipotensi)
Hipoventilasi (hati-hati keracunan obat)
Mual muntah

ANALGESIA KAUDAL
Anestesia kaudal sebenarnya sama dengan anestesi
epidural, karena kanalis kaudalis adalah kepanjangan dari
ruang epidural dan obat di tempatkan di ruang kaudal
melalui hiatus sakralis. Hiatus sakralis di tutup oleh
ligamentum sakrokogsigeal tanpa tulang yang analog dengan
gabungan antara ligamentum supraspinosum, ligamentum
interspinosum dan ligamentum flavum. Ruang kaudal berisi
saraf sacral, pleksus venosus, felum terminale dan kantong
dura.
Indikasi
Bedah daerah sekitar perineum,
hemoroid, fistula paraanal.

anorektal

Indikasi kontra
Seperti analgesia spinal dan analgesia epidural.

misalnya

Teknik Analgesia Kaudal


Posisi pasien telungkup dengan simfisis di ganjal (tungkai dan kepala
lebih rendah dari bokong) atau dikubitus lateral terutama pada wanita
hamil.
Dapat di gunakan jarum suntik biasa atau jarum dengan kateter vena
(venocath atau abbocath) ukuran 20-22 pada pasien dewasa.
Pada dewasa biasanya digunakan volume 12-15 ml (1-2 ml atau segmen ).
Pada anak prosedur lebih mudah.
Identifikasi hiatus sakralis di peroleh dengan menemukan kornu sakralis
kanan dan kiri yang sangat mudah teraba pada penderita kurus dan spina
iliaka superior posterior. Dengan menghubungkan ketiga tonjolan
tersebut di peroleh hiatus sakralis.
Setelah di lakukan tindakan a dan antiseptic pada daerah hiatus
sakralis, di tusukkan jarum yang mula-mula 90o terhadap kulit. Setelah
di yakini masuk kanalis sakralis arah jarum di ubah 45o-60o dan jarum di
dorong sedalam 1-2 cm. kemudian suntikan NaCl sebanyak 5 ml secara
agak cepat sambil meraba apakah ada pembengkakan di kulit untuk
menguji apakah cairan masuk dengan benar di kanalis kaudalis.

Komplikasi Analgesia Kaudal


Komplikasi anestesi kaudal seperti anestesi
epidural.

Kesimpulan
Anestesi local ialah obat yang menghasilakan
blockade induksi atau blockade lorong natrium
pada dinding saraf secara sementara terhadap
rangsang transmisi sepanjang saraf jika digunakan
pada saraf sentral atau perifer. Anestesi local
mencegah pembentukan dan konduksi impuls
saraf.Tempat kerjanya terutama di membrane
sel, efeknya pada aksoplasma hanya sedikit
saja.Tehnik pemberian obat anestesi local dapat
dilakukan dengan cara anestesi topical,anetesi
infiltrasi,anestesi blok (anestesi spinal,anestesi
epidural,anestesi blok).