Anda di halaman 1dari 24

Laporan Praktikum MPD

Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.


D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengertian Motor Bakar
Motor bakar adalah salah satu jenis dari mesin kalor, yaitu mesin yang
mengubah energi termal untuk melakukan kerja mekanik atau mengubah tenaga
kimia bahan bakar menjadi tenaga mekanis. Energi diperoleh dari proses
pembakaran, proses pembakaran juga pengubahan enegi tersebut dilaksanakan di
dalam mesin dan ada yang dilakukan di luar mesin kalor (Kiyaku dan Murdhana,
1998). Ada dua jenis mesin kalor dilihat dari cara kerjanya yaitu :
1.
Mesin pembakaran dalam atau sering disebut juga sebagai internal
combustion engine (ICE), yaitu dimana proses pembakarannya
berlangsung di dalam motor bakar itu sendiri sehingga gas pembakaran
yang terjadi sekaligus berfungsi sebagai fluida kerja.
Hal-hal yang dimiliki pada mesin pembakaran dalam yaitu :
a. pemakaian bahan bakar irit .
b. berat tiap satuan tenaga mekanis lebih kecil.
c. konstruksi lebih sederhana, karena tidak memerlukan ketel uap,
condenser dan sebagainya.
2.
Mesin pembakaran luar atau sering disebut juga sebagai eksternal
combustion engine (ECE), yaitu dimana proses pembakarannya terjadi di
luar mesin. Hal-hal yang dimiliki pada mesin pembakaran luar yaitu :
a. dapat memakai semua bentuk bahan bakar.
b. dapat memakai bahan bakar yang bermutu rendah.
c. cocok untuk melayani beban-beban besar dalam satu poros.
d. lebih cocok dipakai untuk daya tinggi
Pada motor bakar torak tidak terdapat proses pemindahan kalor gas
pembakaran ke fluida kerja, karena itu jumlah komponen motor bakar sedikit,
cukup sederhana, lebih kompak, dan lebih ringan dibandingkan dengan mesin
pembakaran luar (mesin uap). Karena itu pula penggunaan motor bakar sangat
banyak dan menguntungkan. Penggunaan motor bakar dalam masyrakat antara
lain adalah dalam bidang transportasi, penerangan, dan sebagainya.
2.2 Siklus Ideal
Proses termodinamika dan kimia yang terjadi dalam motor bakar torak
amat sangat kompleks untuk di analisa menurut teori dasar yang ada. Maka dari
itu, untuk memudahkan analisa proses tersebut perlu dilakukan pendekatan secara
teoritis (siklus ideal). Dimana apabila kita melakukan pendekatan yang semakin
ideal maka akan semakin mudah kita untuk menganalisa akan tetapi hasil yang
kita peroleh akan semakin jauh dari kondisi motor yang sebenarnya. Pendekatan
yang di ambil biasanya adalah siklus standart, untuk lebih jelasnya di jelaskan di
bawah ini.

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

2.2.1 Siklus Otto ( Motor Bensin )


Siklus otto dapat digambarkan dalam diagram P V diagram sebagai
berikut.

Gambar 2.1 siklus otto


Proses kerja:
1. Langkah Hisap (4-1)
Dimana piston bergerak turun dari TMA ( Titik Mati Atas ) ke TMB (
Titik Mati Bawah ), dan inlet valve terbuka sehingga bahan baker
masuk ke ruang baker. Proses yang terjadi disini adalah proses tekanan
konstan.
2. Langkah Kompresi (1-2)
Dimana piston bergerak dari TMB ke TMA, dan inlet valve serta
exhaust valve dalam keadaan tertutup sehingga tekanan di ruang baker
naik, beberapa saat sebelum TMA (12o) terjadi pembakaran bahan
baker diruang baker, proses yang terjadi adalah proses isentropic.
3. Langkah Ekspansi (2-3)
Akibat dari pembakaran bahan baker, tekanan diruang bakar sangat
tinggi sehingga mampu menggerakkan piston kembali ke TMB dan
terjadi langkah ekspansi,
4. Langkah Buang (3-4)
Dimana piston bergerak ke bawah ( TMA ke TMB ), sedang exhaust
valve terbuka dan inlet valve tertutup sehingga sisa hasil pembakaran
akan terbuang.
Asumsi asumsi ideal yang di gunakan:

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

1. Fluida kerja ( campuran bahan bakar dengan udara ) dianggap sebagai


gas ideal yang memiliki kalor spesifik tetap.
2. Siklus yang terjadi dianggap tertutup, artinya pada saat siklus ini
berlangsung dengan fluida kerja yang sama atau gas yang berada dalam
silinder pada titik 1 dapat di keluarkan dari dalam silinder pada waktu
langkah buang, tetapi pada saat langkah hisap akan masuk fluida kerja
yang pula.

2.2.2 siklus diesel


Motor diesel adalah motor bakar torak yang berbeda deangan
motor bensin. Perbedaan utama keduanya adalah pada system penyalaan,
yaitu pada motor bensin penyalaan dilakukan oleh busi tetapi pada motor
diesel penyalaan terjadi karena temperature ruang bakar yang tinggi (
400oC ) akibat tekanan yang terjadi di ruang bakar yang sangat tinggi baru
bahan bakar di injeksikan, oleh karena itu pada saat langkah hisap yang
masuk ke ruang bakar hanya udara murni sedang bahan bakar di injeksikan
pada saat pembakaran dan ini berbeda dengan motor bensin yang pada saat
langkah hisap yang masuk ke ruang bakar adalah campuran bahan bakar
dengan udara sedang pembakaran terjadi karena percikan bunga api dari
busi.
Motor diesel pada umumnya memiliki perbandingan kompresi
antara 14 hingga 19. kompresi yang tinggi ini di perlukan untuk
menciptakan temperature pembakaran yang sesuai, dan biasanya motor
diesel memiliki putaran rendah

( sekitar 4000 rpm ). Pada mulanya

motor diesel diciptakan untuk memenuhi siklus diesel ideal, seperti siklus
otto tetapi pemasukan kalornya di lakukan pada tekanan konstan dan pada
operasinya mengalami siklus tekanan terbatas ( siklus diesel ). Yang
ditemukan oleh Dr.Rudolf Diesel tahun 1973.
Siklus diesel dapat digambarkan dalam diagram P V sebagai berikut:

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

Gambar 2.2 P-V diagram untuk siklus Diesel


Untuk siklus ini di gunakan pendekatan ideal seperti pada motor
bensin yaitu siklus volume ideal, kecuali pada pemasukan kalr qm diesel
dilakukan pada tekanan konstan.
Proses kerja:
1.

langkah hisap (1-2)

pada saat langkah hisap berlangsung piston bergerak ke bawah ( dari TMA
ke TMB) dan katup hisap terbuka sedang katup exhaust tertutup sehingga
udara bersih masuk kedalam ruang bakar.
2.

langkah kompresi (2-3)

pada saat langkah kompresi katup buang dan katup hisap dalam keadaan
tetutup sehingga tidak ada udara yang masuk ataupun keluar dari ruang
bakar, dan pada langkah ini piston bergerak dari TMB ke TMA sehingga
tekanan dalam ruang bakar akan naik seiring naiknya piston. Pada langkah
kompresi ini, kira kira 15o sebelum TMA bahan bakar di injeksikan
kedalam ruang bakar yang sudah dalam kondisi siap untuk pembakaran,
sehingga terjadi pembakaran bahan bakar.
3.

langkah ekspansi (3-4)

pembakaran bahan bakar akan menyebabkan kenaikan tekanan yang


sangat tinggi, sehingga piston terdorong kembali untuk bergerak ke TMB.
4.

langkah buang (4-1)

pada saat langkah buang katup exhaust terbuka sedang katup hisap tertutup
sehingga sisa hasil pembakran yang berada dalam ruang bakar keluar.

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

Asumsi asumsi ideal yang di gunakan:


1. Fluida kerja ( campuran bahan bakar dengan udara ) dianggap sebagai
gas ideal yang memiliki kalor spesifik tetap.
2. siklus yang terjadi dianggap tertutup, artinya pada saat siklus ini
berlangsung dengan fluida kerja yang sama atau gas yang berada dalam
silinder pada titik 1 dapat di keluarkan dari dalam silinder pada waktu
langkah buang, tetapi pada saat langkah hisap akan masuk fluida kerja
yang pula.

2.2.3 Siklus Udara Tekanan Terbatas (siklus gabungan)


Apabila pemasukan kalor pada suatu siklus dilaksanakan baik pada
volume konstan maupun pada tekanan konstan, siklus tersebut dinamai
siklus tekanan terbatas atau siklus gabungan.

Gambar 2.3 siklus Udara Tekanan Terbatas (Siklus Gabungan)


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Fluida kerja dianggap gas ideal


Langkah isap (0 1) merupakan proses tekanan konstan.
Langkah kompresi (1 2) merupakan proses isentropik
Proses pemasukan kalor pada volume konstan (2 3).
Proses pemasukan kalor pada tekanan konstan (3 3a)
Langkah kerja (3a 4) merupakan proses isentropik

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

7.
8.

Langkah pembuangan (4 1) dianggap sebagai proses


pengeluaran kalor pada volume konstan.
Langkah buang (1 0) terjadi pada tekanan konstan.

2.3 Unjuk kerja motor bensin dan diesel


2.3.1 Daya
Pada motor bakar torak, daya yang berguna ialah daya yang terjadi
pada poros. Karena poros itulah yang menggerakkan beban motor. Daya
poros itu sendiri dibangkitkan oleh daya indicator yang merupakan daya
hasil pembakaran yang menggerakkan piston. Sebagian besar daya
indicator yang dihasilkan dari hasil pembakaran bahan bakar di gunakan
untuk mengatasi gerak mekanik pada peralatan mesin itu sendiri, misalnya
kerugian karena gesekan antara diding silinder dengan ring piston, poros
dengan bantalan. Disamping itu pula daya indicator ini juga harus
menggerkkan berbagai peralatan tambahan seperti pompa pelumas, pompa
air pendingin atau pompa bahan bakar dan generator listrik,sehingga daya
akir yang efektif yang dihasilkan dari proses pembaklaran adalah
Ne = Ni ( Ng + Na )
keterangan:
Ne

= daya proses atau daya effektif (Ps)

Ni

= daya indicator (Pg)

Ng

= daya gesek (Ps)

Na

= daya aksesori (Pa)

Untuk mengetahui daya poros diperlukan beberapa peralatan


laboratorium dbutuhkan dinamometer untuk mengukur momen puter dan
tacometer untuk mengukur kecepatan putaran poros engkol kemudian daya
poros dihitung dengan persamaan :

BHP

N
g b 746

keterangan:
BHP (Ne )

= daya generator (effektif) mesin (Hp)

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

N(P)

= daya mesin ( V.I ) (watt)

= effisiensi generator

= effisiensi belt (0,96)

dari persamaan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa ( Na + Ng )


harus dibuat sekecil mungkin agar Ne yang diperoleh dapat sebesar
mungkin.

2.3.2 Momen Torsi


Poros

yang

bergerak

dengan

kecepatan

tertentu,

akan

menghasilkan momen torsi atau momen puntir, waktu berputarnya dan


torsi sendiri adalah kemampuan mesin untuk menghasilkan kerja:
T

746.60.BHP
2 .n

keterangan:
T

= Torsi ( N.m)

BHP

= daya generator (daya effektif) (Hp)

= kecepatan putaran mesin (rpm)

2.3.3 Pemakaian bahan bakar spesifik (BSFC)


Pemakaian bahan bakar spesifik adalah suatu pernyataan yang
dikonsumsi motor untuk menghasilkan tenaga sebesar 1 KW selama
selang waktu satu jam. Jika dalam pengujian di peroleh data penggunaan
bahan bakar bakar dengan masa tertentu dalam 1 detik dan tenaga yang
dihasilkan sebesar Ne (BHP), maka pemakaian bahan bakar per-jamnya
adalah:
BSFC
=

m
BHP.t

.
BHP.t

keterangan:
m = Massa bahan bakar ( . v ) (kg)

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

= Density bahan bakar ( bensin 0,73 kg/m3 = 730


kg/L dan untuk solar 0,84 kg/m3 = 840 kg/l)

= Waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan bb


20 cc

2.3.4 Effisiensi Thermis


Effisiensi thermis tergantung dari pada BSFC dan LHV (Q) atau
Law Heating Value (nilai kalor karakter bawah, persamaannya yaitu :

th

632 ,5
.100 %
BSFC .Q

keterangan :
BSFC

= pemakaian bahan bakar spesifik(

LHV (Q)

= nilai kalor bawah bahan bakar (

Kg
)
Hp .Jam

KKal
)
Kg

2.3.5 Tekanan Effektif Rata Rata (BMEP)


Tekanan effektif rata rata (BMEP) dideffinisikan sebagai tekanan
hypothesis yang terjadi pada piston sepanjang langkah ekspansi. Sehingga
persamaan yang dapat digunakan:

BMEP

BHP .746 .x
VL .n s .N rot

keterangan:
BMEP

= Tekanan effektif rata rata (N/m2)

VL

= Volume langkah silinder (cm3)

= Jumlah siklus tiap putaran


(x = 1 untuk mesin 2 langkah)
(x = 2 untuk mesin 4 langkah)

2.4 Mesin Bensin

ns

= Jumlah silinder

Nrot

= kecepatan putaran mesin (rpm)

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

Motor bakar adalah jenis mesin kalor yang termasuk Mesin Pembakaran
Dalam (Internal Combustion Engine). Internal Combustion Engine (I.C. Engine)
adalah mesin kalor yang mengubah energi kimia bahan bakar menjadi kerja
mekanis, yaitu dalam bentuk putaran poros. Energi kimia bahan bakar pertama
diubah menjadi energi panas melalui proses pembakaran atau oksidasi dengan
udara dalam mesin. Energi panas ini meningkatkan temperatur dan tekanan gas
pada ruang bakar. Gas bertekanan tinggi ini kemudian berekspansi melawan
mekanisme mekanik mesin. Ekspansi ini diubah oleh mekanisme link menjadi
putaran crankshaft, yang merupakan output dari mesin tersebut. Crankshaft
selanjutnya dihubungkan ke sistem transmisi oleh sebuah poros untuk
mentransmisikan daya atau energi putaran mekanis yang selanjutnya energi ini
dimanfaatkan sesuai dengan keperluan.
Siklus Otto pada mesin bensin disebut juga dengan siklus volume konstan,
dimana pembakaran terjadi pada saat volume konstan. Pada mesin bensin dengan
siklus Otto dikenal dua jenis mesin, yaitu mesin 4 langkah (four stroke) dan 2
langkah (two stroke). Untuk mesin 4 langkah terdapat 4 kali gerakan piston atau 2
kali putaran poros engkol (crank shaft) untuk tiap siklus pembakaran, sedangkan
untuk mesin 2 langkah terdapat 2 kali gerakan piston atau 1 kali putaran poros
engkol untuk tiap siklus pembakaran. Sementara yang dimaksud langkah adalah
gerakan piston dari TMA (Titik Mati Atas) atau TDC (Top Death Center) sampai
TMB (Titik Mati Bawah) atau BDC (Bottom Death Center) maupun sebaliknya
dari TMB ke TMA.
2.4.1 Prinsip Kerja Motor Bensin
A. Mesin 4 langkah
Mesin 4 langkah mempunyai 4 gerakan piston yaitu :
1.
Langkah hisap (suction stroke)
Pada langkah ini bahan bakar yang telah bercampur dengan
udara dihisap oleh mesin. Pada langkah ini katup hisap (intake
valve) membuka sedang katup buang (exhaust valve) tertutup,
sedangkan piston bergerak menuju TMB sehingga tekanan dalam
silinder lebih rendah dari tekanan atmosfir. Dengan demikian maka
campuran udara dan bahan bakar akan terhisap ke dalam silinder.
2.

Langkah Kompresi (compression stroke)


Pada langkah ini kedua katup baik intake maupun exhaust
tertutup dan piston bergerak dari TMB ke TMA. Karena itulah
maka campuran udara dan bahan bakar akan terkompresi, sehingga
tekanan dan suhunya akan meningkat. Beberapa saat sebelum
piston mencapai TMA terjadi proses penyalaan campuran udara
dan bahan bakar yang telah terkompresi oleh busi (spark plug).
Pada proses pembakaran ini terjadi perubahan energi dari energi
kimia menjadi energi panas dan gerak.

3.

Langkah Ekspansi (expansion stroke)

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

Karena terjadi perubahan energi dari energi kimia menjadi


energi gerak dan panas menimbulkan langkah ekspansi yang
menyebabkan piston bergerak dari TMA ke TMB. Gerakan piston
ini akan mengakibatkan berputarnya poros engkol sehingga
menghasilkan tenaga. Pada saat langkah ini kedua katup dalam
kondisi tertutup.
4.

Langkah Buang (exhaust stroke)

Pada langkah ini piston bergerak dari TMB ke TMA,


sedangkan katup buang terbuka dan katup isap tertutup, sehingga
gas sisa pembakaran akan terdorong keluar melalui saluran buang
(exhaust manifold) menuju udara luar .

Gambar 2.4 prinsip kerja mesin bensin 4 langkah


B. Mesin 2 langkah
Pada motor bensin 2 langkah, terjadi siklus kerja yang sama, tetapi
piston hanya
bergerak dari TDC ke BDC atau sebaliknya sebanyak 2 langkah.
Disini tidak melibatkan
katup buang dan katup masuk. Namun melibatkan crankcase,
ruang bilas, saluran
masuk, dan saluran buang.

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

Gambar 2.5 prinsip kerja mesin bensin 2 langkah


Berikut prinsip kerja motor bensin 2 langkah:
1. Langkah hisap
a. Piston bergerak dari TDC ke BDC
b. Pada saat saluran bilas masih tertutup oleh piston, di
dalam crankcase terjadi kompresi terhadap campuran
bensin dengan udara
c. Di atas piston, gas sisa pembakaran dari hasil
pembakaran sebelumnya sudah mulai terbuang keluar
saluran buang
d. Saat saluran bilas terbuka, campuran bensin dengan
udara mengalir melalui saluran bilas terus masuk kedalam
ruang bakar
2. Langkah kompresi :
a. Piston bergerak dari BDC ke TDC
b. Rongga bilas dan rongga buang tertutup, terjadi langkah
kompresi dan setelah mencapai tekanan tinggi busi
memercikkan bunga api listrik untuk membakar campuran
bensin dengan udara tadi
c. Pada saat yang bersamaan, dibawah (di dalam crankcase)
bahan bakar yang baru masuk kedalam bak mesin melalui
saluran masuk
3. Langkah kerja :
a. Torak kembali dari TDC ke BDC akibat tekanan besar
yang terjadi pada waktu pembakaran bahan bakar
b. Saat itu piston turun sambil mengkompresi bahan bakar
baru didalam crankcase.

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

4. Langkah buang :
a. Menjelang piston mencapai BDC, saluran buang terbuka
dan gas sisa pembakaran mengalir terbuang keluar
b. Pada saat yang sama bahan bakar baru masuk ke dalam
ruang bahan bakar melalui rongga bilas
c. Setelah mencapai BDC kembali, piston mencapai BDC
untuk mengadakan langkah sebagai pengulangan dari yang
dijelaskan diatas

2.4.2 siklus aktual motor bensin


Siklus udara volume konstan atau siklus otto adalah proses yang
ideal. Dalam kenyataannya baik siklus volume konstan, siklus tekanan
konstan dan siklus gabungan tidak mungkin dilaksanakan, karena adanya
beberapa hal sebagai berikut:
1. Fluida kerja bukanlah udara yang bisa dianggap sebagai gas ideal,
karena fluida kerja di sini adalah campuran bahan bakar (premium) dan
udara, sehingga tentu saja sifatnya pun berbeda dengan sifat gas ideal.
2. Kebocoran fluida kerja pada katup (valve), baik katup masuk maupun
katup buang, juga kebocoran pada piston dan dinding silinder, yang
menyebabkan tidak optimalnya proses.
3. Baik katup masuk maupun katup buang tidak dibuka dan ditutup tepat
pada saat piston berada pada posisi TMA dan atau TMB, karena
pertimbangan dinamika mekanisme katup dan kelembaman fluida kerja.
Kerugian ini dapat diperkecil bila saat pembukaan dan penutupan katup
disesuaikan dengan besarnya beban dan kecepatan torak.
4. Pada motor bakar torak yang sebenarnya, saat torak berada di TMA
tidak terdapat proses pemasukan kalor seperti pada siklus udara. Kenaikan
tekanan dan temperatur fluida kerja disebabkan oleh proses pembakaran
campuran udara dan bahan bakar dalam silinder.
5. Proses pembakaran memerlukan waktu untuk perambatan nyala apinya,
akibatnya proses pembakaran berlangsung pada kondisi volume ruang
yang berubah-ubah sesuai gerakan piston. Dengan demikian proses
pembakaran harus dimulai beberapa derajat sudut engkol sebelum torak
mencapai TMA dan berakhir beberapa derajat sudut engkol sesudah TMA
menuju TMB. Jadi proses pembakaran tidak dapat berlangsung pada
volume atau tekanan yang konstan.
6. Terdapat kerugian akibat perpindahan kalor dari fluida kerja ke fluida
pendingin, misalnya oli, terutama saat proses kompresi, ekspansi dan
waktu gas buang meninggalkan silinder. Perpindahan kalor tersebut terjadi
karena ada perbedaan temperatur antara fluida kerja dan fluida pendingin.
7. Adanya kerugian energi akibat adanya gesekan antara fluida kerja
dengan
dinding silinder dan mesin.

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

8. Terdapat kerugian energi kalor yang dibawa oleh gas buang dari dalam
silinder ke atmosfer sekitarnya. Energi tersebut tidak dapat dimanfaatkan
untuk kerja mekanik.

Gambar 2.6 siklus actual motor bensin

2.4.3 Sistem Penyalaan


Penyalaan motor bensin dilakukan dengan menggunakan busi. Loncatan
api pada kedua elektrode busi dibangkitkan dengan beda tengangan listrik
yang cukup besar, sekitar 10.000-20.000 volt.
Besar tegangan tergantung dari :
1)
2)
3)
4)
5)

Perbandingan campuran bahan bakar-udara


Kepadatan campuran bahan bakar-udara
Jarak dan bentuk elektroda
Jumlah molekul campuran yang yang terdapat diantara kedua
elektroda
Temperatur campuran dan kondisi operasi yang lain

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

Gambar 2.7 busi


2.4.4 sistem bahan bakar
Motor bensin merupakan jenis dari motor bakar. Motor bensin
kebanyakkan dipakai sebagai kendaraan bermotor yang berdaya kecil
seperti mobil, sepeda motor, dan juga untuk motor pesawat terbang.
Bensin premium mempunyai sifat anti ketukan yang baik dan dapat
dipakai pada mesin kompresi tinggi pada semua kondisi. Sifat-sifat penting
yang diperhatikan pada bahan bakar bensin adalah :
a. Kecepatan menguap (volatility).
b. Kualitas pengetukan (kecenderungan berdenotasi).
c. Kadar belerang.
d. Titik beku.
e. Titik nyala.
f. Berat jenis.
2.5 Mesin Diesel
Motor diesel adalah motor bakar torak yang proses penyalaannya bukan
menggunakan loncatan bunga api melainkan ketika torak hampir mencapai titik
mati atas (TMA) bahan bakar disemprotkan ke dalam ruang bakar melalui nosel
sehingga terjadilah pembakaran pada ruang bakar dan udara dalam silinder sudah
mencapai temperatur tinggi. Syarat ini dapat terpenuhi apabila perbandingan
kompresi yang digunakan cukup tinggi, yaitu berkisar 16-25.

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

Gambar 2.8 Mesin Diesel


Motor diesel adalah salah satu dari internal combustion engine (motor
dengan pembakaran didalam silinder), dimana energi kimia dari bahan bakar
langsung diubah menjadi tenaga kerja mekanik. Pembakaran pada motor diesel
akan lebih sempurna pada saat unsur karbon (C) dan hidrogen (H) dari bahan
bakar diubah menjadi air (2) dan karbon dioksida (2), sedangkan gas
karbon monoksida (CO) yang terbentuk lebih sedikit dibanding dengan motor
bensin.
2.5.1 Prinsip Kerja
Pada motor diesel, solar dibakar untuk memperoleh energi termal.
Energi ini selanjutnya digunakan untuk melakukan gerakan mekanik.
Prinsip kerja motor diesel secara sederhana dapat dijelaskan sebagai
berikut, yaitu solar dari boostpump dihisap masuk ke dalam silinder, udara
murni dihisap dan dikompresikan pada 8-12 sebelum piston mencapai
titik mati atas kemudian bahan bakar dikabutkan maka terjadilah
pembakaran. Bila piston bergerak naik turun didalam silinder dan
menerima tekanan tinggi akibat pembakaran, maka tenaga pada piston
akan mengakibatkan piston terdorong ke bawah. Gerakan naik turun pada
torak diubah menjadi gerak putar pada poros engkol oleh connecting rod.
Selanjutnya gas-gas sisa pembakaran dibuang dan campuran udara bahan

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

bakar tersedia pada saat-saat yang tepat untuk menjaga agar piston dapat
bergerak secara periodik dan melakukan kerja tetap.

Gambar 2.9 Piston pada mesin diesel


a) Prinsip Kerja Motor Diesel 4 Langkah
Siklus 4 langkah pada dasarnya adalah piston melakukan 4 kali
langkah dan crankshaft melakukan 2 kali langkah untuk
menghasilkan satu kali tenaga atau satu kali pembakaran. Untuk
lebih jelasnya, gambar berikut adalah prinsip kerja motor diesel 4
langkah.

Gambar 2.10 Prinsip kerja motor diesel 4 langkah


1. Langkah Hisap
Pada langkah hisap, udara dimasukkan ke dalam silinder. Piston
membentuk kevakuman didalam silinder seperti pada mesin bensin,
piston bergerak kebawah dari TMA menuju TMB. Terjadinya

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

vakum ini menyebabkan katup hisap terbuka dan memungkinkan


udara segar masuk kedalam silinder. Sedangkan katup buang
menutup selama melakukan langkah hisap.
2. Langkah Kompresi
Pada langkah kompresi, piston bergerak dari TMB menuju TMA.
Pada saat ini kedua katup hisap dan buang tertutup. Udara yang
dihisap selama langkah hisap kemudian ditekan pada 8-12
sebelum piston mencapai titik TMA bahan bakar dikabutkan maka
terjadilah pembakaran.
3. Langkah Kerja
Energi pembakaran mengekspansikan dengan cepat sehingga piston
terdorong kebawah. Gaya yang mendorong piston kebawah
diteruskan ke connecting rod dan poros engkol dirubah menjadi
gerak putar untuk memberi tenaga pada mesin.
4. Langkah Buang
Pada saat piston menuju TMB, katup buang terbuka dan gas sisa
hasil pembakaran dikeluarkan melalui katup buang pada saat piston
bergerak ke atas lagi. Gas akan terbuang habis pada saat piston
mencapai TMA.
2.5.4 Diagram P-V Sebenarnya Motor Diesel 4 Langkah
Proses ini sering disebut dengan proses otto yaitu proses yang
sering terjadi dalam motor diesel 4 langkah, dimana proses
pembakarannya menggunakan nozzle dan proses pembakaran terjadi
dengan volume tetap.

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

Gambar 2.11 Diagram P-V Sebenarnya Motor Diesel 4 Langkah


Keterangan :
0 1 = Langkah hisap
1 2 = Langkah kompresi
2 3 = Langkah pembakaran
3 4 = Langkah ekspansi
4 1 = Pembuangan pendahuluan
1 0 = Langkah buang
1. Langkah hisap (0-1)
Pada waktu piston bergerak ke kanan, udara masuk ke dalam
silinder. Karena piston dalam keadaan bergerak, maka tekanannya
turun sehingga lebih kecil daripada tekanan udara luar, begitu juga
suhunya. Garis langkah hisap dapat dilihat pada diagram di atas.
Penurunan tekanan ini bergantung pada kecepatan aliran. Pada
motor yang tidak menggunakan supercharge tekanan terletak
antara 0,85-0,9 atm terhadap tekanan udara luar.
2. Langkah kompresi (1-2)
Dalam proses ini kompresi teoritis berjalan adiabatis.
3. Langkah pembakaran (2-3)
Pembakaran terjadi pada volume tetap sehingga suhu naik.
4. Langkah ekspansi (3-4)

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

Pada langkah ini terjadi proses adiabatik karena cepatnya gerak


torak sehingga dianggap tidak ada panas yang keluar maupun
masuk.
5. Pembuangan pendahuluan (4-1)
Terjadi proses isokhorik yaitu panas keluar dari katup pembuangan.
6. Langkah pembuangan (1-0)
Sisa gas pembakaran didesak keluar oleh torak. Karena kecepatan
gerak torak, terjadilah kenaikan tekanan sedikit di atas 1 atm.

2.5.6 Sistem bahan bakar


Ada beberapa sistem penyaluran bahan bakar pada motor diesel :
1. sistem pompa pribadi
2. sistem distribusi
3. sistem akumulator
Ketiga sistem ini mempergunakan beberapa komponen yang sama
yaituuan, dan pompa (tekanan rendah) penyalur. Saringan bahan bakar
sangat diperlukan untuk mencegah masuknya kotoran ke dalam pompa
penyalur, pompa tekanan tinggi, dan penyemprot bahan bakar. Kotoran
didalam aliran bahan bakar dapat menyebabkan kerusakan, terutama
keausan pompa dan penyemprot. Juga saluran bahan bakar bisa
tersumbat sehingga mengganggu kerja motor diesel.

Gambar 2.12 Skema pompa pribadi

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

Gambar 2.13 skema sistem distribusi

Gambar 2.14 skema sistem akumulator bahan bakar


2.5.7 Penyemprotan Bahan Bakar
Penyemprotan bahan bakar ke dalam silinder dilaksanakan dengan
menggunakan sebuah alat yang dinamai penyemprot bahan bakar. Di
samping beberapa persyaratan lain yang diperlukan, bahan bkar yang
disemprotkan itu harus habis terbakar sesuai dengan prestasi yang
diharapkan. Dapat dikatakan fungsi penyemprot bahan bakar adalah :
1. memasukan bahan bakar ke dalam silinder sesuai dengan kebutuhan
2. mengabutkan bahan bakar sesuai dengan derajat pengabutan yang
diminta
3. mendistribusikan bahan bakar untuk memperoleh pembakaran sempurna
dalam waktu yang ditetapkan.
2.6 Sistem Pelumasan
Pelumas memegang peranan penting dalam desain dan operasi semua
mesin otomotif. Umur dan service yang diberikan oleh mobil tergantung pada
perhatian yang kita berikan pada pelumasannya. Pada motor bakar, pelumasan
bahkan lebih sulit dibanding pada mesin-mesin lainnya, karena di sini terdapat
panas terutama di sekitar torak dan silinder, sebagai akibat leadakan dalam ruang
pembakaran. Tujuan utama dari pelumasan setiap peralatan mekanis adalah untuk
melenyapkan gesekan, keausan dan kehilangan daya. Tujuan lain dari pelumasan
pada motor bakar adalah:
1. Menyerap dan memindahkan panas.

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

2. Sebagai penyekat lubang antara torak dan silinder sehingga tekanan tidak
bocor dari ruang pembakaran.
3. Sebagai bantalan untuk meredam suara berisik dari bagian-bagian yang
bergerak.
2.7 Sistem Pendinginan
Panas hasil pembakaran di dalam mesin, sebagian diubah menjadi tenaga
penggerak, sebagian dibuang keluar sebagian gas buang,dan sebagian lagi diserap
oleh bagian-bagian mesin.
Panas yang diserap ini harus dibuang juga keluar agar panas mesin tidak
berlebilan (over heating), sebab panas yang berlebihan dapat menyebabkan
gangguan pada kerja mesin dan menyebabkan kerusakan yang fatal.
Untuk mengatasi hal tersebut, maka mesin dilengkapi dengan sistem pendinginan.
Ada dua cara sistem pendinginan pada mesin, yaitu sistem pendinginan udara dan
sistem pendinginan air: Tetapi yang lebih umum digunakan pada mobil adalah
sistem pendinginan air .
2.8 Bahan Bakar
Bahan bakar adalah suatu materi apapun yang bisa diubah menjadi energi.
Biasanya bahan bakar mengandung energi panas yang dapat dilepaskan dan
dimanipulasi. Kebanyakan bahan bakar digunakan manusia melalui
proses pembakaran(reaksi redoks) dimana bahan bakar tersebut akan melepaskan
panas setelah direaksikan dengan oksigen di udara. Proses lain untuk melepaskan
energi dari bahan bakar adalah melalui reaksi eksotermal dan reaksi nuklir
(seperti Fisi nukliratau Fusi nuklir). Hidrokarbon (termasuk di
dalamnya bensin dan solar) sejauh ini merupakan jenis bahan bakar yang paling
sering digunakan manusia. Bahan bakar lainnya yang bisa dipakai adalah logam
radioaktif.
2.8.1 Jenis Berdasarkan bentuk dan wujudnya
1. Bahan Bakar Padat
Bahan bakar padat merupakan bahan bakar berbentuk padat, dan
kebanyakan menjadi sumber energi panas. Misalnya kayu dan
batubara. Energi panas yang dihasilkan bisa digunakan untuk
memanaskan air menjadi uap untuk menggerakkan peralatan dan
menyediakan energi.
2. Bahan Bakar Cair
Bahan bakar cair adalah bahan bakar yang strukturnya tidak rapat,
jika dibandingkan dengan bahan bakar padat molekulnya dapat
bergerak bebas. Bensin/gasolin/premium, minyak solar, minyak
tanah adalah contoh bahan bakar cair. Bahan bakar cair yang biasa
dipakai dalam industri, transportasi maupun rumah tangga adalah
fraksi minyak bumi. Minyak bumi adalah campuran berbagai
hidrokarbon yang termasuk dalam kelompok senyawa: parafin,
naphtena, olefin, dan aromatik. Kelompok senyawa ini berbeda
dari yang lain dalam kandungan hidrogennya. Minyak mentah, jika

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

disuling akan menghasilkan beberapa macam fraksi, seperti: bensin


atau premium, kerosen atau minyak tanah, minyak solar, minyak
bakar, dan lain-lain. Setiap minyak petroleum mentah mengandung
keempat kelompok senyawa tersebut, tetapi perbandingannya
berbeda
3. Bahan Bakar Gas
Bahan bakar gas ada dua jenis, yakni Compressed Natural Gas
(CNG) dan Liquid Petroleum Gas (LPG. CNG pada dasarnya
terdiri dari metana sedangkan LPG adalah campuran dari propana,
butana dan bahan kimia lainnya. LPG yang digunakan untuk
kompor rumah tangga, sama bahannya dengan Bahan Bakar Gas
yang biasa digunakan untuk sebagian kendaraan bermotor.
2.8.2 Hasil Pengolahan Minyak Bumi untukbahan bakar mesin otto dan
mesin diesel
1. Pertamax plus
Adalah bahan bakar motor bensin tanpa timbal yang diproduksi
dari High Octane Mogas Component (HOMC) yang berkualitas tinggi
ditambah dengan bahan aditif generasi terbaru sesuai dengan
kebutuhan yang direkomendasikan pabrikan kendaraan bermotor.
Bahan bakar ini diformulasikan khusus untuk memenuhi tuntutan akan
bahan bakar minyak yang dapat melayani mesin yang bekerja pada
kompresi tinggi tetapi ramah lingkungan dan lebih aman terhadap
kesehatan manusia.
Pertamak plus mempunyai angka oktan minimal 95 dimana angka
oktan ini lebih tinggi dari premix dan premium. Pertamax plus
dipasarkan tanpa diberi pewarna (bening) direkomendasikan untuk
kendaraan keluaran tahun 1992 keatas atau kendaraan yang
menggunakan katalistik converter.
2. Pertamax
Adalah bensin tanpa timbal dengan kandungan aditif generasi
mutakhir yang dapat membersihkan Intake Valve Port Fuel Injektor
dan ruang bakar dari carbon. Mempunyai angka oktan 92 dan dapat
digunakan pada kendaraan dengan kompresi yang tinggi.
3. Premium Tanpa Timbal
Adalah bahan bakar motor bensin yang tidak mengandung
timbale dan komponen HOMC. Bahan bakar ini dapat digunakan
pada kendaraan yang menggunakan Catalitic Conventer.
4. Premium
Adalah bahan bakar jenis ditilat dengan warna kekuningan yang
jernih dan mengandung timbale sebagai octane booster (TEL). Warna
kuning pada premium ini diakibatkan oleh penambahan. Umumnya
premium digunakan untuk bahan bakar motor bensin seperti mobil,
sepeda motor dan motor temple. Bahan bakar ini sering juga disebut
sebagai gasoline atau petrol dan tidak boleh digunakan pada

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

kendaraan yang dilengkapi catalytic conventer. Bila bahan bakar yang


mengandung timbal digunakan pada kendaraan yang dilengkapi
dengan catalytic conventer, akan menyebabkan pori-pori katalis
tertutup oleh bahan timbal ini dan menyebabkan hilangnya
kemampuan katalitic conventer sebagai katalis konversi emisi
pencemaran menjadi emisi yang bersahabat dengan lingkungan.
5. Solar
Bahan bakar solar adalah bahan bakar minyak hasil
sulingan dari minyak bumi mentah bahan bakar ini
berwarna kuning coklat yang jernih (Pertamina: 2005).
Penggunaan solar padaumumnya adalah untuk bahan
bakar pada semua jenis mesin Diesel dengan putaran
tinggi (diatas 1000 rpm), yang juga dapat digunakan
sebagai bahan bakar pada pembakaran langsungdalam
dapur-dapur kecil yang terutama diinginkan pembakaran
yang bersih. Minyak solar ini biasa disebut juga
Gas Oil, Automotive Diesel Oil, High Speed Diesel
(Pertamina: 2005).

2.9 Troubleshooting
2.9.1 Knocking
Terjadi pada mesin diesel , knocking terjadi apabila pembakaran
campuran udara bahan bakar telah selesai melakukan proses pembakaran
pada saat kompresi masih aktif, akibatnya tekanan yang dihasilkan oleh
gas pembakaran akan rendah sekali sehingga tenaga yang dihasilkan akan
habis, tetapi masih bisa melakukan pembuangan.
2.9.2 Detonasi
Detonasi adalah Proses pembakaran pada mesin yang tidak tepat
pada waktunya, yaitu api yang tiba-tiba menjadi besar dalam proses
pembakaran, sehingga proses pembakaran yang tidak sempurna. Dengan
kemajuan api utama dari lilin belum mencapai campuran mengalami
proses kompresi dan pemanasan, dapat mencapai semua titik di otomatis
suhu bahan bakar. Jika api utama menyapu campuran selama penundaan
sebelum pembakarankimia, maka pembakaran adalah normal. Jika tidak,
ini bagian dari campuran akan meledak tiba-tiba, pada volume konstan,
menyebabkan peningkatan yang sangat tajam dalam tekanan, dengan
propagasi akibat gelombang kejut.

Laporan Praktikum MPD


Ir. Joko Sarsetiyanto, M.T.
D3 TEKNIK MESIN FTI-ITS

Gambar 2.15 Detonasi