Anda di halaman 1dari 13

Berat Badan Menurun

Seorang laki-laki umur 50 tahun, mengunjungi dokter oleh karena berat badan menurun yang dialami sejak 3
bulan terakhir. Penderita juga mengeluh akhir-akhir ini selalu merasa lemas, lelah, dan selalu mengantuk.
B.

Kata Kunci

1. Berat badan

turun 3 bln terakhir

2. Laki-laki
3. 50 tahun
4. Lemas
5. Lelah
6. Selalu
C.

mengantuk

Kemungkinan Penyakit

1.

Diabetes Melitus Type 2

2.

Hipertiroid

3.

Addisons Disease

4.

Pheochromocytoma

Pheochromocytoma
Definisi
Pheochromocytoma adalah tumor kelenjar adrenal yang mennghasilkan hormon epinefrin dan norepinefrin.
Hormon ini memiliki banyak fungsi, beberapa diantaranya seperti mengatur tekanan darah dan detak jantung.
Pheochromocytoma banyak ditemukan pada orang dewasa dengan umur 30-60.
Etiologi
Banyak faktor yang dapat menyebabkan pheochromocytoma. Pada kebanyakan kasus, yang paling berperan
adalah faktor genetik dan lingkungan. Penyakit ini dapat timbul dan atau tanpa gejala.
Patomekanisme
Feokromositoma, suatu penyebab hipertensi sekunder yang jarang, merupakan tumor medullar adrenal atau
tumor rantai simpatis (paraganglioma) yang melepaskan katekolamin dalam jumlah besar (epinefrin,
norepinefrin, dan dopamine)secara terus-menerus atau dengan jangka waktu. Feokromositoma menyerang 0.1%
hingga 0.5% penderita hipertensi dan dapat menyebabkan akibat yang fatal bila tidak terdiagnosis atau diobati.
Feokromositoma dapat menyerang laki-laki dan perempuan dalam perbandingan yang sama dan mempunyai
insiden puncak antara usia 30 dan 50 tahun. Sekitar 90% tumor ini berasal dari sel kromafin medulla adrenalis,
dan 10% sisanya dari ekstraadrenal yang terletak di area retroperitoneal (organ Zuckerkandl), ganglion
mesenterika dan seliaka, dan kandung kemih. Pasien dengan neoplasia endokrin multiple (MEN II), telah
meningkatkan sekresi katekolamin dengan manifestasi klinis feokromositoma akibat hyperplasia medulla
adrenal bilateral.
Beberapa penderita memiliki penyakit keturunan yang disebut sindroma endokrin multipel, yang menyebabkan
mereka peka terhadap tumor dari berbagai kelenjar endokrin (misalnya kelenjar tiroid, paratiroid dan adrenal).
Feokromositoma juga bisa terjadi pada penderita penyakit von Hippel-Lindau, dimana pembuluh darah tumbuh
secara abnormal dan membentuk tumor jinak (hemangioma); dan pada penderita penyakit von Recklinghausen
(neurofibromatosis, pertumbuhan tumor berdaging pada saraf). Feokromositoma biasanya jinak (pada 95%
kasus), namun dapat bersifat ganas dengan metastasis yang jauh.
Manifestasi klinis

* Takikardi
* Palpitasi jantung
* Sakit kepala
* Berat badan menurun, nafsu makan

normal

* Pertumbuhan lambat
* Mual
* Muntah
* Sakit perut
Hubungan dengan BB menurun, Lemas, Lelah, dan Mengantuk
Didalam tubuh, glikogen dipecah menjadi glukosa dan lemak diubah menjadi asam lemak. Tetapi karena
pelepasan katekolamin secara terus menerus dan peningkatan glykogenolisis dan lipolisis. Menyebabkan
aktivitas metabolik meningkat (BB menurun) dan darah menjadi kental. Aliran darah ke otak lambat
menyebabkan lemas dan mengantuk
Pemeriksaan Penunjang
Tes darah dan urin
CT scan
Radioisotope scan
-Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pheochromacytoma bergantung kepada kondisi pasien, seperti:
Umur, kesehatan umum, dan riwayat kesehatan
Tingkat penyakit
Jenis penyakit
Toleransi terhadap obat-obat, prosedur, dan terapi tertentu
Pengobatan pada pheochromocytoma termasuk mengangkat tumor. Namun, sebelum mengangkat tumor,
sebaiknya memberikan medikasi untuk mengontrol tekanan darah pasien. Pada anak-anak, biasanya terdapat
lebih dari satu tumor.
Selain itu, pasien juga harus di follow-up untuk mengontrol perkembangan tumor.
Anatomi, Histologi dan Fisiologi Kelenjar Adrenal
1.

Anatomi
Kelenjar adrenal terdiri dari sepasang, berbentuk piramid, terletak retroperitoneal di bagian atas atau
medial ginjal.

2. Histologi
Kapsula fibrosa menyelimuti kelenjar adrenal. Bagian luar atau korteks adalah padat dan merupakan kira-kira
80-90% berat adrenal normal, menghasilkan steroid. Bagian dalam atau medulla adalah lembut, menghasilkan
katekolamin. Zona-zona korteks adrenal yang terpisah mensintesis hormon spesifik, menunjukkan kemampuan
enzimatik setiap zona untuk mentransformasi dan hidrolisis steroid tertentu. Zona luar (glomerulosa)
mengandung enzim untuk biosintesis aldosteron, dan bagian dalam (fasciculata dan retikularis) adalah tempat
biosintesis kortisol dan androgen.

2.

Fisiologi
Kortekas adrenal mensekresikan 2 hormon utama, yakni cortisol dan aldosteron. Berikut fungsi dari
masing-masing hormone tersebut.

Fungsi Kortisol :
a.

membantu mempertahankan tekanan darah dan fungsi jantung

b. membantu memperlambat respon peradangan sistim imun


c.

membantu menyeimbangkan efek-efek dari insulin dalam mengurai gula untuk energi

d. membantu mengatur metabolisme protein-protein, karbohidrat-karbohidrat, dan lemak-lemak


e.

membantu mempertahankan penimbulan dan perasaan kesejahteraan yang pantas


Fungsi Aldosteron :

Aldosterone termasuk pada suatu kelompok hormon-hormon yang disebut mineralocorticoids, juga diproduksi
oleh kelenjar-kelenjar adrenal. Ia membantu mempertahankan tekanan darah dan keseimbangan air dan garam
dalam tubuh dengan membantu ginjal menahan sodium dan mengeluarkan potassium. Ketika produksi
aldosterone jatuh terlalu rendah, ginjal tidak mampu untuk mengatur keseimbangan garam dan air,
menyebabkan volume darah dan tekanan darah jatuh/turun.
Addison's Disease
DefinisiAddisons Disease adalah kegagalan korteks kelenjar adrenal untuk memproduksi hormone dalam
jumlah yang adekuat sehingga akan mempengaruhi kerja tubuh dalam menekan dan meregulasi tekanan darah
serta mengatur keseimbangan air dan garam, dapat terjadi pada semua kelompok umur dan menimpa pria-pria
dan wanita-wanita sama rata
Etiologi
Penyebab terbanyak (75%) atrofi otoimun dan idiopatik, penyebab lain: operasi dua keelenjar adrenal atau
infeksi kelenjar adrenal, TB kelenjar adrenal. Penghentian mendadak terapi hormon adrenokortika akan
menekan respon normal tubuh terhadap stress dan menggangu mekanisme umpan balik normal. Terapi
kortikosteroid selama dua sampai empat minggu dapat menekan fungsi korteks adrenal. Kelainan dari kelenjarkelenjar adrenal sendiri (ketidakcukupan adrenal primer) atau oleh pengeluaran yang tidak cukup dari ACTH
oleh kelenjar pituitary (ketidakcukupan adrenal sekunder).
Patomekanisme
Antigen adrenal spesifik yang autoantibodinya meliputi 21-hidroksilase (CYP21A2) dan enzim pemecah rantai
mungkin bertanggung jawab atas serangkaian proses yang menyebabkan insufisiensi meskipun tidak diketahui
apakah antibody ini secara signifikan dapat menyebabkan insufisiensi kelenjar adrenal. Beberapa antibody
menyebabkan insufisiensi adrenal dengan memblok proses pengikatan ACTH dengan reseptornya
Manifestasi Klinis
Kelemahan otot, anoreksia, gejala gastrointestinal (GI), mudah lelah, emasiasi (tubuh kurus kering), pigmentasi
pada kulit, buku-buku jari: lutut, siku serta membran mukosa; hipotensi, glukosa darah turun, natrium serum
turun, kalsium serum tinggi. Keadaan yang berat terjadi gangguan metabolisme natrium dan air, akibatnya
dehidrasi kronis dan berat.
Pemeriksaan penunjang
Tes skrining terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan menguji respon kortisol dengan pemaparan 250 g
ACTH secara IV atau IM lalu dinilai setelah 60 menit. Hasil penilaiannya adalah level kortisol harus lebih dari
18 ?g /dl setelah 30-60 menit pemaparan. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah memeriksa kadar
ACTH plasma atau aldosteron plasma untuk membedakan apakah insufisiensi tersebut primer atau sekunder.
Penatalaksanaan

Terapi darurat ditujukan untuk mengatasi syok, memulihkan sirkulasi, memberikan caiaran, pergantian
kortikosteroid.
Pantau tanda-tanda vital.
Menempatkan klien pada posisi stengah duduk dengan kedua tungkai ditinggikan.
u Hidrokortison disuntikan IV, kemudian IVFD D5% dalam larutan normal saline.
Kaji stress/keadaan sakit yang menimbulkan serangan akut.
Bila asupan oral (+), IVFD perlahan dikurangi
Bila k.adrenal tidak berfungsi lagi, perlu dilakukan terapi penggantian preparat kortikosteroid dan
mineralokortikoid seumur hidup.
Suplemen penambah garam untuk menghindari kehilangan cairan dari saluran cerna akibat muntah dan
diare.

Diabetes Melitus
Definisi
Suatu sindrom kronik gangguan metabolisme karbohidrat, protein, lemak, akibat ketidakcukupan sekresi insulin
atau resistensi insulin.
Etiologi
Kurangnya produksi insulin DM tipe 1/ IDDM
Kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin (resisteni insulin) DM tipe 2/NIDDM
Klasifikasi
o DM tipe 1
Akibat kurangnya produksi insulin
Kerusakan sel pankreas autoimmune
Insulin Dependent Diabetes Melitus
DM tipe 2
Akibat kurangnya sensitifitas terhadap insulin (resistensi inslin)
Dapat berkembang hingga sel pankreas tidak menghasilkan insulin
Non Insulin Dependent Diabetes Melitus
o DM tipe lain
o Genetik, imunologi, infeksi, obat
o Gestasional DM
DM pada masa kehamilan
Patomekanisme
Sebagian besar gambaran patologik dari diabetes mellitus dapat dihubungkan dengan salah satu efek utama
akibat kurangnya insulin berikut ini:

1. berkurangnya pemakaian glukosa oleh


sel-sel tubuh, yang mengakibatkan naiknya konsentrasi glukosa
darah sampai
setinggi 300 sampai 1200 mg/dl
2. sangat meningkatnya mobilisasi lemak
dari daerah penyimpan lemak, sehingga menyebabkan terjadinya
metabolisme lemak abnormal diserrtai dengan endapan kolesterol pada dinding pembuluh
darah, yang
mengakibatkan timbulnya gejala aterosklerosis
3. berkurangnya protein dalam jaringan

tubuh

Meningkatnya kadar glukosa dalam urin penderita diabetes. Bila jumlah glukosa yang memasuki tubulus ginjal
dalam filtrate glomerulus meningkat di atas kadar kritis, suatu bagian kelebihan glukosa yang bermakna tidak
dapat direabsorbsi dan sebaliknya dikeluarkan ke dalam urin. Hal ini secara normal dapat timbul bila
konsentrasi glukosa darah meningkat di atas 180 mg/dl, suatu kadar yang disebut sebagai nilai ambang darah
untuk timbulnya glukosa dalam urin. Bila kadar glukosa darah meningkat menjadi 300 sampai 500 mg/dl, kadar
yang umumnya dijumpai pada penderita diabetes berat yang tidak diobati, maka dalam urin setiap hari akan
dilepaskan sebanyak 100 gram atau lebih glukosa.
Efek dehidrasi akibat kenaikan kadar glukosa darah pada diabetes. Pada penderita diabetes berat yang tidak
diobati, kadar glukosa darahnya dapat meningkat sampai setinggi 1200 mg/dl, yakni 12 kali dari normal. Namun
satu-satunya efek yang bermakna akibat peningkatan glukosa tersebut adalah dehidrasi sel-sel jaringan. Hal ini
terjadi sebagian karena glukosa tidak dapat dengan mudah berdifusi melewati pori-pori membran sel, dan
naiknya tekanan osmotik dalam cairan ekstraselular menyebabkan timbulnya perpindahan osmotik air keluar
dari sel.
Selain efek dehidrasi selular langsung akibat glukosa yang berlebihan, keluarnya glukosa ke dalam urin akan
menimbulkan keadaan diuresis osmotik. Diuresis osmotik adalah efek osmotik dari glukosa dalam tubulus ginjal
yang sangat mengurangi reabsorpsi cairan tubulus. Efek keseluruhan adalah kehilangan cairan yang sangat besar
dalam urin, sehingga menyebabkan dehidrasi cairan ekstraselular, yang selanjutnya menimbulkan dehidrasi
kompensatorik cairan intraselular. Jadi salah satu gambaran diabetes yang penting adalah adanya kecenderungan
timbulnya dehidrasi ekstraselular dan dehidrasi intraselular, dan keadaan ini dapat dihubungkan dengan
timbulnya renjatan sirkulasi.
Asidosis dan koma pada diabetes. Bergesernya metabolisme karbohidrat ke metabolisme lemak pada penderita
diabetes telah dibicarakan. Bila sumber energi tubuh seluruhnya bergantung pada lemak, maka kadar asam
asetoasetat asam keto dan asam -hidroksibutirat dalam cairan tubuh mungkin akan bertambah dari 1 mEq/liter
menjadi 10 mEq/liter. Semua tambahan asam ini cenderung menimbulkan asidosis.
Efek kedua, yang bahkan jauh lebih penting dalam menyebabkan asidosis daripada efek yang langsung
meningkatkan asam keto dalam darah, adalah berkurangnya konsentrasi natrium yang disebabkan oleh hal
berikut : asam keto mempunyai nilai ambang yang rendah untuk diekskresikan oleh ginjal; oleh karena itu, bila
pada diabetes konsentrasi asam keto meningkat, maka setiap hari dalam urin dapat dieksresikan 100 sampai 200
gram asam keto. Oleh karena asam keto ini merupakan asam kuat, yang pHnya sebesar 4.0 atau kurang, maka
asam keto dalam jumlah kecil dapat dieksresikan dalam bentuk asam; ternyata asam keto dieksresikan dalam
ikatan dengan natrium yang dilepaskan dari cairan ekstrselular. Akibatnya konsentrasi natrium dalam cairan
ekstraselular biasanya akan berkurang, dan natrium digantikan oleh bertambahnya jumlah ion hidrogen, jadi
semakin memperberat asidosis.
Seluruh reaksi yang biasanya terjadi pada keadaan asidosis metabolik akan terjadi juga pada asidosis
diabetikum ini. Gejala ini meliputi pernapasan cepat dan dalam yang disebut pernapasan Kussmaul, yang
menyebabkan ekspirasi karbon dioksida berlebihan, dan sangat berkurangnya jumlah bikarbonat dalam cairan
ekstraselular. Walaupun efek yang eksrem ini hanya terjadi pada kebanyakan kasus diabetes yang tidak
terkontrol, keadaan ini dapat menyebabkan timbulnya koma pH darah turun di bawah 7.0. seluruh perubahan
elektrolit dalam darah sebagai akibat dari keadaan asidosis diabetikum yang parah.
Hubungan antara gejala-gejala diabetes diabetes lain dengan fisiologi patologis kurangnya insulin. Poliuria
(pengeluaran urin secara berlebihan), polidipsia (minum air secara berlebihan), polifagia (makan secara
berlebihan), berkurangnya berat badan, dan astenia (kurangnya energi) merupakan gejala paling awal penyakit
diabetes. Seperti yang telah dijelaskan, gejala poliuria disebabkan oleh efek diuresis osmotik dari glukosa dalam
tubulus ginjal. Sebaliknya, gejala polidipsia disebabkan oleh keadaan dehidrasi akibat gejala poliuria. Gagalnya
metabolisme glukosa (dan protein) oleh tubuh menyebabkan berkurangnya berat badan dan timbul

kecenderungan terjadinya gejala polifagia. Gejala astenia kelihatannya terutama disebabkan oleh hilangnya
protein tubuh tetapi juga oleh berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energi.
Manifestasi klinis
diagnosis DM awalnya dipikirkan dengan adanya gejala khas berupa:
o Polifagia, poliuria, polidipsia, astenia
o Kelainan kulit : gatal, bisul-bisul
Kelainan ginekologis : keputihan
Kesemutan, rasa baal
o Kelemahan tubuh
o Luka atau bisul yang tidak sembuh-sembuh
Infeksi saluran kemih
Kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah genital atau pun daerah lipatan kulit lain seperti di ketiak
dan di bawah payudara, biasanya akibat tumbuhnya jamur. Sering pula dikeluhkan timbulnya bisul-bisul atau
luka yang lama tidak mau sembuh. Luka ini dapat timbul akibat hal yang sepele seperti luka lecet karena sepatu,
tertusuk peniti dan sebagainya. Pada wanita, keputihan merupakan salah satu keluhan yang sering menyebabkan
pasien datang ke dokter ahli kebidanan dan sesudah diperiksa lebih lanjut ternyata diabetes mellitus yang
menjadi latar belakang keluhan tersebut. Juga dalam al ini, jamur terutama candida, merupakan sebab tersering
timbulnya keluhan keputihan ini.
rasa baal dan kesemutan akibat sudah terjadinya neuropati, merupakan juga keluhan pasien, disamping keluhan
lemah dan mudah merasa lelah. Pada pasien laki-laki terkadang keluhan impotensi menyebabkan ia datang
berobat ke dokter. Keluhan lain yang mungkin menyebabkan pasien datang berobat ke dokter aialah keluhan
mata kabur yang disebabkan katarak, ataupun gangguan refraksi akibat perubahan-perubahan pada lensa oleh
hiperglikemia. Mungkin pula keluhan kabur tersebut disebabkan kelainan pada corpus vitreum. Diplopia
binokular akibat kelumpuhan sementara otot bola mata dapat pula merupakan salah satu sebab pasien berobat ke
dokter mata.
Pemeriksaan penunjang
Tes Laboratorium :
- Tes Saring :

GDP,GDs

Tes urin : Tes konvensional, Tes carik celup


Tes Diagnostik

GDP GDS

Glukosa jam ke-2 TTGO


- Tes Monitoring Terapi

GDP GD2PP A1c

- Tes Untuk Mendeteksi Komplikasi


Kolesterol totl
Kolesterol HDL

Mikroalbuminuria

Ureum, kreatinin, asam urat

Kolesterol LDL
Trigliserida

Hubungan Diabates Melitus dengan Berat Badan Menurun, Lemas, Lelah, dan Mengantuk
a.

Hubungan DM tipe 2 dengan berat badan menurun dan lemas

Kadar insulin yang rendah atau resistensi insulin menyebabkan otot kekurangan glukosa yang digunakan
sebagai sumber energy sehingga otot menggunakan cadangan energinya sendiri yaitu jaringan lemak dan

protein. Hal tersebut menyebabkan massa otot dan jaringan lemak berkurang karena digunakan sebagai sumber
energy sehingga massa tubuh berkurang atau berat badan menurun. Selain itu, penggunaan jaringan lemak dan
protein di otot sebagai sumber energy menyebabkan jaringan otot kehilangan fungsi sehingga penderrrita DM
sering merasa lemah dan cepat lelah.
b.

Hubungan DM tipe 2 dengan rasa lelah dan mudah mengantuk

Penderita DM menunjukkan gejala klinis seperti polifagi atau selalu lapar sehingga penderita DM cenderung
makan terus-menerus. Pada proses makan atau mencerna makanan, aliran darah yang membawa oksigen
bergerak menuju organ pencernaan sehingga oksigen menjadi kekurangan oksigen (masih dalam batas normal).
Otak yang kekurangan oksigen memberikan gejala mengantuk pada penderita DM. Selain itu, proses makan
mengakibatkan glikosa darah meningkat sehingga darah mengental. Hal ini mengakibatkan darah yang
membawa oksigen ke otak terhambat sehingga mengantuk.
Polifagi menyebabkan glukosa darah meningkat sehigga darah mengental dan menyebabkan pergerakan darah
terhambat. Kemudian sirkulasi oksigen dalam tubuh juga ikut terhambat. Jika proses ini didukung oleh resistensi
insulindefect, maka mekanisme katabolisme terhambat serta dalam tubuh kurang terbentuk energy. Hal inilah
yang menyebabkan penderita DM sering merasa lemas dan lelah.
Penatalaksanaan
Penyakit Diabetes Melitus dapat ditangani denga cara non farmakoterapi dan cara farmakoterapi. Cara non
farmakoterapi terbagi menjadi dua yaitu dengan olahraga dan diet rendah lemak rendah kalori. Sedangkan
penanganan DM cara farmakoterapi terbagi menjadi dua yaitu:
a.
b.

Injeksi Insulin
Pemberian obat anti hiperglikemik oral

Ada 5 jenis obat anti hiperglikemik oral, yaitu:


Biguanides, misalnya metformin.
Thiazolidinediones/ TZD/ Glitazone, misalnya rosiglitation dan pioglitation.
Sulfonilurea, misalnya klorpropamid dan glimepirid.
Glinid, misalnya repaglinid dan nateglinid.
Penghambat glukoksidasi, misalnya acarbose.
Pengaturan Hormon Tiroid - Rantai Komando
Tiroid sendiri diatur oleh kelenjar lain yang berlokasi di otak, disebut pituitari. Pada gilirannya, pituitari diatur
sebagian oleh hormon tiroid yang beredar dalam darah (suatu efek umpan balik dari hormon tiroid pada kelenjar
pituitari) dan sebagian oleh kelenjar lain yang disebut hipothalamus, juga suatu bagian dari otak.
Hipothalamus melepaskan suatu hormon yang disebut thyrotropin releasing hormone (TRH), yang mengirim
sebuah signal ke pituitari untuk melepaskan thyroid stimulating hormone (TSH). Pada gilirannya, TSH
mengirim sebuah signal ke tiroid untuk melepas hormon-hormon tiroid. Jika aktivitas yang berlebihan dari yang
mana saja dari tiga kelenjar-kelenjar ini terjadi, suatu jumlah hormon-hormon tiroid yang berlebihan dapat
dihasilkan, dengan demikian berakibat pada hipertiroid.
Angka atau kecepatan produksi hormon tiroid dikontrol oleh kelenjar pituitari. Jika tidak ada cukup jumlah
hormon tiroid yang beredar dalam tubuh untuk mengizinkan fungsi yang normal, pelepasan TSH ditingkatkan
oleh pituitari dalam suatu usahanya untuk menstimulasi tiroid untuk memproduksi lebih banyak hormon tiroid.
Sebaliknya, ketika ada suatu jumlah berlebihan dari hormon tiroid yang beredar, pelepasan TSH dikurangi
ketika pituitari mencoba untuk mengurangi produksi hormon tiroid.
Pengaturan Sekresi Hormon Tiroid
Mula-mula, hipotalamus sebagai pengatur mensekresikan TRH (Thyrotropin-Releasing Hormone), yang
disekresikan oleh ujung-ujung saraf di dalam eminansia mediana hipotalamus. Dari mediana tersebut, TRH

kemudian diangkut ke hipofisis anterior lewat darah porta hipotalamus-hipofisis. TRH langsung mempengaruhi
hifofisis anterior untuk meningkatkan pengeluaran TSH.
TSH merupakan salah satu kelenjar hipofisis anterior yang mempunyai efek spesifik terhadap kelenjar tiroid:
1. Meningkatkan proteolisis
tiroglobulin
yang disimpan dalam folikel, dengan hasil akhirnya adalah
terlepasnya
hormon-hormon tiroid ke dalam sirkulasi darah dan berkurangnya subtansi
folikel tersebut.
2. Meningkatkan aktifitas pompa yodium,
yang meningkatkan kecepatan proses iodide trapping di dalam
sel-sel
kelenjar, kadang kala meningkatkan rasio konsentrasi iodida intrasel
terhadap konsentrasi iodida
ekstrasel sebanyak delapan kali normal.
3. Meningkatkan iodinasi tirosin untuk membentuk hormon tiroid.
4. Meningkatkan ukuran dan

aktifitas sensorik sel-sel tiroid.

5. Meningkatkan jumlah sel-sel


tiroid,
disertai dengan dengan perubahan sel kuboid menjadi sel
kolumner dan
menimbulkan banyak lipatan epitel tiroid ke dalam folikel.
Efek Umpan Balik Hormon Tiroid dalam Menurunkan Sekresi TSH oleh Hipofisis Anterior
Meningkatnya hormon tiroid di dalam cairan tubuh akan menurunkan sekresi TSH oleh hipofisis anterior. Hal
ini terutama dikarenakan efek langsung hormon tiroid terhadap hipofisis anterior.
Sistem porta hipothalamus hipofisis
1.

Sekresi hormon pelepas hipothalamus dan hormon penghambat ke eminensia mediana.

Neuron-neuron khusus di dalam hypothalamus mensintesis dan mensekresi hormone pelepas hypothalamus
dan hormone penghambat yang mengatur sekresi hormone hipofisis anterior. Neuron neuron ini berasal dari
berbagai bagian hypothalamus dan mengirimkan serat serat sarafnya nenuju ke eminensia mediana da tuber
sinerum , jaringan hypothalamus yang menyebar menuju tangkai hipofisis. Bagian ujung serat serat saraf ini
berbeda dengan ujung- ujung serat saraf umum yang ada di dalam system saraf pusat.dimana funsi serat ini tidak
menghantarkan sinyal sinyal yang berasal dari neuron ke neuron yang lain namun hanya mensekresi hormone
pelepas dan hormone penghambat hypothalamus saja ke dalam cairan jaringan. Hormone- hormone ini segera
diabsorbsi ke dalam kapiler system porta hypothalamus dan hipofisis dan langsung diangkut ke sinu kelenjar
hipofisis anterior.
2.

Fungsi hormon pelepas dan hormon penghambat dalam hipofisis anterior.

Hormone hormon pelepas dan hormone hormone pnghambat berfungsi mengatur sekresi hormone hipofisis
anterior. Untuk sebagian besar hormone hipofisis, yang penting adalah hormone pelepas, tetapi untuk
prolaktin ,mungkin sebagian besar hormone penghambat yang mempunyai pengaruh paling banyak terhadap
pengaturan hormone. Hormone hormone pelepas dan penghambat hypothalamus yang terpenting adalah :
TRH : hormone pelepas tiroid yang menyebabkab pelepasan hormone perangsang tiroid.
Hormone pelepas kortikotropin(CRH) : menyebabkan pelepasan adenokortikotropin.
Hormone pelepas hormone pertumbuhan (GHRH) : menyebabkan pelepasan hormone pertumbuhan dan
hormone penghambat hormone pertumbuhan (GHIH) yang mirip dengan hormone somatostatin dan
menghambat pelepasan hormone pertumbuhan.
Hormone pelepas gonadotropin(GnRH) : menyebabkan pelepasan dari dua hormone gonadotropik, hormone
lutein dan hormone perangsang folikel
Hormone penghambat prolaktin (PIH) : menghambat sekresi prolaktin.
3.
Daerah-daerah spesifik dalam hipothalamus yang mengatur sekresi faktor pelepas dan faktor penghambat
hipothalamus yang spesifik.
Sebelum diangkut ke kelenjar hipofisis anterior , semua atau hamper semua hormone hypothalamus disekresi
ke ujung serat saraf yang terletak di dalam eminensia mediana. Perangsangan listrik pada daerah ini merangsang

ujung- ujung saraf dan oleh karena itu pada dasarnya menyebabkan pelepasan semua hormone hypothalamus.
Akan tetapi badan sel neuron yang menyebar ke eminensia mediana ini terletak di daerah khusus dalam
hypothalamus atau pada daerah yang berdekatan dengan bagian basal otak.
Anatomi, Histologi dan Fisiologi Kelenjar Pituitari
Secara Anatomi, Hypofisis cerebri atau glandula pituitari adalah struktur lonjong kecil yang melekat pada
permukaan bawah otak melalui infundibulum. Lokasinya sangat terlindungi baik yaitu terletak pada sella turcica
ossis sphenoidalis. Disebut master endocrine gland karena hormon yang dihasilkan kelenjar ini banyak
mempengaruhi kelenjar endokrin lainya.
Dibagi menjadi 2 lobus :
1. Lobus anterior ( adenohypofisis), dibagi lagi menjadi:
a. Pars anterior ( pars distalis )
b. Pars intermedia
Dipisahkan oleh suatu celah, sisa kantong embrional. Juluran dari pars anterior yaitu pars tuberalis meluas
keatas sepanjang permukaan anterioar dan lateral tangkai hypofisis.
2. Lobus posterior (neurohypofisis)
Vascularisasi
Arteri carotis interna bercabang a. Hypophysialis superior dan inferior. Vena bermuara kedalam sinus
intercavernosus.
Secara Histologi, kelenjar hipofise terbagi menjadi dua bagian yaitu adenohipofise, dan neurohipofise.
Adeno hypophysis
1.

Pars distalis

Bagian ini merupakan bagian utama dari kelenjar hypofisis krn meliputi 75% dari seluruh kelenjar. Dengan
sedian yang diberi pewarnaan HE dapat dibedakan menjadi 2 macam sel :
a.

Sel chromophobe (Sel utama)

Sitoplasma tidak menyerap bahan warna sehingga tampak intinya saja, ukuran selnya kecil. Sel ini biasanya
berkelompok dibagian tengah dari lempengan sel chromofil sehingga ada dugaan bahwa sel ini merupakan sel
yang sedang tidak aktif dan nantinya dapat beruba menjadi sel acidofil atau sel basofil pada saat diperlukan.
b.

Sel kromofil

Bagian ini terdiri dari :


Sel Acidophil
Ukuranya lebih besar dengan batas yang jelas dan dengan pewarnaan HE rutin sitoplasmanya berwarna merah
muda. Berdasakan reaksinya terhadap bahan cat, dapat dibedakan menjadi 2 sel:
-

Sel orangeophil (alpha acidophil = sel somatrotope)

Sel ini dapat dicat dengan orange-G, menghasilkan hormon GH


-

Sel carminophil (epsilon acidhophil = sel mammotrope)

Sel ini bereaksi baik terhapat cat azocarmin. Jumlah sel ii meningkat selama dan setelah kehamilan. Hormon
yang dihasilkan hormon prolaktin.
Sel Basophil

sel ini memiliki inti lebih besar dari sel acidiphil dan dengan pewarnaan HE sitoplasmanya tampak berwarna
merah ungu atau biru. Bila memakai pengecatan khusus aldehyde fuchsin, dapat dibedakan 2 macam sel :
-

Sel beta basophil (sel thyrotrophic)

Sel ini tercat baik dengan aldehyde fuchsin dan menghsilkan hormon thyrotropic hormone
-

Sel delta basophil

Dengan perwarnaan aldehyde fuchsin tidak tercat dengan baik. Berdasarkan hormon yang dibentuk, diduga
sel ini ada 3 macam:
a.

Sel gonadotrophin type 1

Sel ini menghasilkan FSH


b.

Sel gonadotropin type 2

Sel ini menghasilkan LH


c.

Sel corticotrophic

Sel ini menghasilkan hormon ACTH, pada manusia sel ini membentuk melanocyte stimulating hormone
( MSH)
2.

Pars intermedia

Bagian hypophysis ini pada manusia mengalami rudimenter, dan tersusun dari suatu lapisan sel tipis yang
berupa lempengan lempengan yang tidak teratur dan gelembung yang berisi koloid. Pada manusia diduga
membentuk melanocyte stimulating hormon ( MSH ) yang akan merangsang kerja sel melanocyte untuk
membentuk pigmen lbh bnyk. Tetapi hal ini masih dlm penelitian lbh lanjut.
Neura hypophyse
Terdiri dari 2 macam struktur :
a. Pars nervosa : infundibular processus
b. Infundibulum : neural stalk ( merupakan tangkai yang menghubungkan neuro hypophyse dengan
hypotalamus )
Bagian ini tersusun dari :
a. Sabut saraf tak bermyelin yang berasal dari neuro secretory cell hypotalamus yang dihubungkan melalui
hypotalamo hypophyseal tract
b. Sel pituicyte : sel ini menyerupai neuroglia yaitu selnya kecil dan mempunyai pelanjutan- pelanjutan
sitoplasma yang pendek.
Ciri khas yang terdapat dalam neuro hipophyse ini adalah adanya suatu struktur yang disebut herrings bodies
yang merupakan neurosekret dari neuro-secretory cell dari hypotalamus yang kemudian dialirkan melalui axon
dan ditimbun dalam neuro hypophyse sebagai granul. Hormon hormon yang dihasilkan oleh bagian ini
adalah : ADH (vasopressin ), oxytocin.
Dipandang dari sudut fisiologi, kelenjar hipofisis dibagi menjadi:
1)

Hipofisis Anterior (Adenohipofisis)

Hormon yang dikeluarkan oleh hipofisis anterior berperan utama dalam pengaturan fungsi metabolisme di
seluruh tubuh. Hormon-hormonnya yaitu:
a)

Hormon Pertumbuhan

Meningkatkan pertumbuhan seluruh tubuh dengan cara mempengaruhi pembentukan protein, pembelahan sel,
dan deferensiasi sel.
b) Adrenokortikotropin (Kortikotropin)
Mengatur sekresi beberapa hormon adrenokortikal, yang selanjutnya akan mempengaruhi metabolism glukosa,
protein dan lemak.
c) Hormon perangsang Tiroid (Tirotropin)
Mengatur kecepatan sekresi tiroksin dan triiodotironin oleh kelenjar tiroid, dan selanjutnya mengatur kecepatan
sebagian besar reaksi kimia diseluruh tubuh.
d) Prolaktin
Meningkatkan pertunbuhan kelenjar payudara dan produksi air susu.
e) Hormon Perangsang Folikel dan Hormon Lutein
Mengatur pertumbuhan gonad sesuai dengan aktivitas reproduksinya.
2)

Hipofisis Posterior (Neurohipofisis)

Ada 2 jenis hormon:


a)
Hormon Antideuretik (disebit juga vasopresin)Mengatur kecepatan ekskresi air ke dalam urin dan dengan
cara ini akan membantu mengatur konsentrasi air dalam cairan tubuh.
b)

Oksitosis.

Membantu menyalurkan air susu dari kelenjar payudara ke putting susu selama pengisapan dan mungkin
membantu melahirkan bayi pada saat akhir masa kehamilan.
3)

Pars Intermedia

Daerah kecil diantara hipofisis anterior dan posterior yang relative avaskular, yang pada manusia hamper tidak
ada sedangkan pada bebrapa jenis binatang rendah ukurannya jauh lebih besar dan lebih berfungsi.
Pembuluh darah yang menghubungkan hipotalamus dengan sel- sel kelenjar hipofisis anterior. Pembuluh darah
ini berkhir sebagai kapiler pada kedua ujungnya, dan makanya disebut system portal.dalam hal ini system yang
menghubungkan hipotalamus dengan kelenjar hipofisis disebut juga system portal hipotalamus hipofisis.
System portal merupakan saluran vascular yang penting karena memungkinkan pergerakan hormone pelepasan
dari hypothalamus ke kelenjar hipofisis, sehingga memungkinkan hypothalamus mengatur fungsi hipofisis.
Rangsangan yang berasal dari tak mengaktifkan neuron dalam nucleus hypothalamus yang menyintesis dan
menyekresi protein degan berat molekul yang rendah. Protein atau neuro hormone ini dikenal sebagai hormone
pelepas dan penghambat. Hormon hormon ini dilepaska kedalam pembuluh darah system portal dan akhirnya
mencapai sel sel dalam kelenjar hipofisis. Dalam rangkaian kejadian tersebut hormon- hormon yang
dilepaskan oleh kelenjar hipofisis diangkt bersama darah dan merangsang kelenjar-kelenjar lain ,menyebabkan
pelepasan hormon hormon kelenjar sasaran. Akhirnya hormon hormon kelenjar sasaran bekerja pada
hipothalamus dan sel sel hipofisis yang memodifikasi sekresi hormone.
Anatomi, Histologi dan Fisiologi Kelenjar Tiroid
Secara anatomi, tiroid merupakan kelenjar endokrin (tidak mempunyai ductus) dan bilobular (kanan dan kiri),
dihubungkan oleh isthmus (jembatan) yang terletak di depan trachea tepat di bawah cartilago cricoidea. Kadang
juga terdapat lobus tambahan yang membentang ke atas (ventral tubuh), yaitu lobus piramida.
Secara embriologi, tahap pembentukan kelenjar tiroid adalah:
A.
Kelenjar tiroid mulanya merupakan dua buah tonjolan dari dinding depan bagian tengah farings, yang
terbentuk pada usia kelahiran 4 minggu. Tonjolan pertama disebut pharyngeal pouch, yaitu antara arcus
brachialis 1 dan 2. Tonjolan kedua pada foramen ceacum, yang berada ventral di bawah cabang farings I.

B.
Pada minggu ke-7, tonjolan dari foramen caecum akan menuju pharyngeal pouch melalui saluran yang
disebut ductus thyroglossus.
c Kelenjar tiroid akan mencapai kematangan pada akhir bulan ke-3, dan ductus thyroglossus akan
menghilang. Posisi akhir kelenjar tiroid terletak di depan vertebra cervicalis 5, 6, dan 7.
D.
Namun pada kelainan klinis, sisa kelenjar tiroid ini juga masih sering ditemukan di pangkal lidah (ductus
thyroglossus/lingua thyroid) dan pada bagian leher yang lain.
Kelenjar tiroid dialiri oleh beberapa arteri:
1.

A. thyroidea superior (arteri utama).

2.

A. thyroidea inferior (arteri utama).

3.

Terkadang masih pula terdapat A. thyroidea ima, cabang langsung dari aorta atau A. anonyma.

Kelenjar tiroid mempunyai 3 pasang vena utama:


1.

V. thyroidea superior (bermuara di V. jugularis interna).

2.

V. thyroidea medialis (bermuara di V. jugularis interna).

3.

V. thyroidea inferior (bermuara di V. anonyma kiri).

Aliran limfe terdiri dari 2 jalinan:


1.

Jalinan kelenjar getah bening intraglandularis

2.

Jalinan kelenjar getah bening extraglandularis

Kedua jalinan ini akan mengeluarkan isinya ke limfonoduli pretracheal lalu menuju ke kelenjar limfe yang
dalam sekitar V. jugularis. Dari sekitar V. jugularis ini diteruskan ke limfonoduli mediastinum superiorn
Persarafan kelenjar tiroid
1. Ganglion simpatis (dari truncus sympaticus)
2. Parasimpatis, yaitu N. laryngea superior

cervicalis media dan inferior

dan N. laryngea recurrens (cabang N.vagus)

N. laryngea superior dan inferior sering cedera waktu operasi, akibatnya pita suara terganggu (stridor/serak).
Secara histologi, parenkim kelenjar ini terdiri atas
1. Folikel-folikel dengan epithetlium
simplex kuboideum yang mengelilingi suatu massa koloid. Sel
epitel tersebut akan berkembang menjadi bentuk kolumner katika folikel
lebih aktif (seperti perkembangan
otot yang terus dilatih).
2. Cellula perifolliculares (sel C) yang terletak di

antara beberapa folikel yang berjauhan.

Sintesis dan Sekresi Hormon Tiroid:


1. Iodide Trapping, yaitu pejeratan iodium oleh

pompa Na+/K+ ATPase.

2. Yodium
masuk ke dalam koloid dan mengalami oksidasi. Kelenjar
tiroid merupakan satu-satunya
jaringan yang dapat mengoksidasi I hingga
mencapai status valensi yang lebih tinggi. Tahap ini melibatkan
enzim
peroksidase.
3. Iodinasi tirosin, dimana yodium yang
teroksidasi akan bereaksi dengan residu tirosil dalam tiroglobulin
di
dalam reaksi yang mungkin pula melibatkan enzim tiroperoksidase
(tipe enzim peroksidase).
4. Perangkaian iodotironil, yaitu perangkaian dua molekul
DIT (diiodotirosin) menjadi T4 (tiroksin,
tetraiodotirosin) atau
perangkaian MIT (monoiodotirosin) dan DIT menjadi T3 (triiodotirosin).
reaksi ini
diperkirakan juga dipengaruhi oleh enzim tiroperoksidase.

5. Hidrolisis yang dibantu oleh TSH (Thyroid-Stimulating Hormone)


senyawa inaktif (MIT dan DIT) akan tetap
berada dalam sel folikel.
6. Tiroksin dan triiodotirosin
TSH.

tetapi dihambat oleh I, sehingga

keluar dari sel folikel dan masuk ke dalam darah. Proses ini dibantu oleh

7. MIT dan DIT yang tertinggal dalam sel folikel akan mengalami deiodinasi, dimana tirosin
dipisahkan lagi dari I. Enzim deiodinase sangat berperan dalam
proses ini.
8. Tirosin

akan dibentuk menjadi tiroglobulin oleh retikulum endoplasma dan kompleks

akan

golgi.

Pengangkutan Tiroksin dan Triiodotirosin ke Jaringa


Setelah dikeluarkan ke dalam darah, hormon tiroid yang sangat lipofilik secara cepat berikatan dengan beberapa
protein plasma. Kurang dari 1% T3 dan kurang dari 0,1% T4 tetap berada dalam bentuk tidak terikat (bebas).
Keadaan ini memang luar biasa mengingat bahwa hanya hormon bebas dari keseluruhan hormon tiroid memiliki
akses ke sel sasaran dan mampu menimbulkan suatu efek.
Terdapat 3 protein plasma yang penting dalam pengikatan hormon tiroid:
1. TBG
(Thyroxine-Binding Globulin) yang secara selektif mengikat 55% T4 dan 65% T3 yang
dalam darah.
2. Albumin yang secara nonselektif
dari T3.
3. TBPA

ada di

mengikat banyak hormone lipofilik, termasuk 10% dari T4 dan 35%

(Thyroxine-Binding Prealbumin) yang mengikat sisa 35% T4.

Di dalam darah, sekitar 90% hormon tiroid dalam bentuk T4, walaupun T3 memiliki aktivitas biolorgis sekitar
empat kali lebih poten daripada T4. Namun, sebagian besar T4 yang disekresikan kemudian dirubah menjadi T3,
atau diaktifkan, melalui proses pengeluaran satu yodium di hati dan ginjal. Sekitar 80% T3 dalam darah berasal
dari sekresi T4 yang mengalami proses pengeluaran yodium di jaringan perifer. Dengan demikian, T3 adalah
bentuk hormon tiroid yang secara biologis aktif di tingkat sel.
Fungsi Fisiologis Hormon Tiroid:
1. Meningkatkan
inti
sel.
2. Meningkatkan
meningkat.

transkripsi gen

ketika hormon tiroid (kebanyakan T3) berikatan dengan reseptornya di

jumlah dan aktivitas mitokondria sehingga pembentukkan ATP (adenosin trifosfat)

3. Meningkatkan

transfor aktif ion

melalui membran sel.

4. Meningkatkan

pertumbuhan dan perkembangan otak, terutama pada masa janin.