Anda di halaman 1dari 5

Prevalensi infeksi sanat variabel, ada daerah yang non endemik dan ada pula daerah

daerah dengan derajat endemi yang tinggi seperti di Irian Jaya dan Pulau Buru dengan
derajat infeksi yang dapat mencapai 70%. Prevalensi infeksi dapar berubah ubah dari masa
ke masa dan pada umumnya ada tendensi menurun dengan adannya kemajuan dalam
pembangunan yang menyebabkan perubahan lingkungan. Untuk dapat memahami
epidimologi filariasis, perlu diperhatikan faktor faktor seperti hospes, hospes reservoar,
vektor dan keadaan lingkungan yang sesuai untuk menunjang kelangsungan hidup masing
masing.

Hospes
Manusia yang mengandung parasit selalu dapat menjadi sumber infeksi bagi orang
lain yang rentan ( suseptibel). Biasannya pendatang baru ke daerah endemi (transmigran)
lebih rentan terhadap infeksi filariasis dan lebih menderita daripada penduduk asli. Pada
umumnya laki laki lebih banyak yang terkena infeksi, karena lebih banyak kesempatan
mendapat infeksi (exposure) . juga gejala penyakit lebih nyata pada laki laki, karena
pekerjaan fisik yang lebih berat.
Hospes reservoar
Banyak B.malayi yang dapat hidup pada hewan merupakan sumber infeksi untuk
manusia. Yang sering ditemukan mengandung infeksi adalah kucing dan kera terutama jenis
Presbytis, meskipun hewan lain mungkin juga terkena infeksi.
Vektor
Banyak spesies nyamuk telah ditemukan sebagai vektor filariasis tergantung pad
ajenis cacing filariannya.
W. bancrofti yang di daerah pedesaan ( rural) dapat ditularkan oleh bermacam
spesies nyamuk. Di Irian Jaya W.brancofti ditularkan terutama oleh An.farauti yang dapat
menggunakan bekas jejak kaki binatang (hoofprint) untuk tempat perindukannya. Selain itu
ditemukan juga sebagai vektor ; An.koliensis, An.punctulatus, Cx.annulirostris dan Ae.kochi,
W.brancofti di daerah pantai di NTT. Juga nyamuk culex , Aedes pernah ditemukan sebagai
vektor.
B.malayani yang periodik ditularkan oleh An.barbirostris yang memakai sawah
sebagai tempat perindukannya, seperti di daerah Sulawesi.
B.timori, spesies baru yang ditemukan di Indonesia sejak 1965 hingga sekarang
hanya ditemukan di daerah NTT dan Timor Timur, ditularkan oleha An.barbirostris yang
berkembang biak di daerah sawah, baik di dekat pantai maupun di daerah pedalaman.
Faktor lingkungan

Faktor lingkungan yang dapat menunjang kelangsungan hidup hospes, hospes


reservoar dan vektor merupakan hal yang sangat penting untuk epidimologi filariasis yang
ada di suatu daerah endemi dapat diduga jenisnya dengan melihat keadaan lingkungan.
Untuk mencegah filariasis, hingga sekarang hanya dilakukan dengan menghindari
gigitan nyamuk. Untuk mendapat infeksi diperlukan gigitan nyamuk yang banyak sekali.
Untuk pemberantasan, pengobatan masal dengan DEC selalu menurunkan angka
filariasis dengan jelas. Pencegahan dengan obat obatan masih dalam taraf penelitian.
Occult filariasis
(tropical pulmonary eosinophilia)
Distribusi geografik
Penyakit ini dilaporkan dari Indonesia, Singapura, Vietnam, Muangthai, Afrika dan Curacao.
Patologi dan gejala klinis
Occult filariasis adalah penyakit filariasis limfatik, yang disebabkan oleh penghancuran
mikrofilaria dalam jumlah yang berlebihan oleh sistem kekebalan penderita. Mikrofilaria
dihancurkan oleh zat anti dalam tubuh hospes akibat hipersensitivitas terhadap antigen
mikrofilaria. Gejala penyakit ini berupa hiperenosinafilia, peningkatan kadar serum IgE,
kelainan klinis yang menahun dengan pembengkakan kelenjar limfe dan gejala asam
bronkial.
Hipereosinofilia merupakan salah satu gejala utama dan gejala ini seringkali merupakan
petunjuk ke arah etiologi penyakit tersebut. Jumlah leukosit biasannya ikut meningkat akibat
meningkatnya jumlah sel eosinofial dalam darah. Yang paling sering terkena dalah kelenjar
limfe inguial. Kadang kadang pula dapat terkena kelenjar limfe leher, lipat siku atau
kelenjar linfe di tempat lain. Mungkin pula terdapat pembesaran kelenjar limfe diseluruh
tubuh, menyerupai penyakit hodgkin. Bila paru terkena maka gejala klinis dapat berupa batuk
dan sesak nafas, terutama pada waktu malam dengan dahak yang kental dan mukopurulen.
Foto roentgen biasannya memperlihatkan garis garis yang berlebihan pada kedua hilus dan
bercak bercak halus terutama di lapangan di bawah paru. Gejala lain berupa demam
subfebril, pembesaran limpa dan hati. Mikrofilaria tidak dijumpai di darah, tetapi mikrofilaria
atau sisa sisannya dapat ditemukan di jaringan kelenjar limfa, paru, limpa dan hati. Pada
jaringan tersebut terdapat benjolan benjolan kecil berwarna kuning kelabu dengan
penampang 1-2 mm, terdiri dari infiltrasi sel eosinofil dan dikenal dengan nama benda
Meyers Kouwenaar. Di dalam benda benda inilah dapat ditemukan sisa sisa mikrofilia.
Diagnosis
Diagnosi dibuat berdasarkan gejala klinis, hipereosinofilia, peningkatan kadar IgE yang
tinggi, peningkatan zat anti terhadap mikrofilia dan dambaran roentgen paru.

Konfirmasi diagnostic tersebut adalah dengan menemukan benda Meyers Kouwenaar pada
sediaan biopsi , atau dengan melihat perbaikan gejala setelah pengobatan dengan DEC.
Loa loa
(Cacing Loa, cacing mata)
Sejarah
Untuk pertama kali Mongin pada tahun 1770 mengeluarkan cacing dewasa Loa loa dari mata
seorang wanita Negro di Santo Domingo, Hindia Barat.
Hospes dan nama penyakit
Parasit ini hanya ditemukan pada manusia. Penyakitnya disebut loasiasis atau Calabar
swellung (fegitive swelling) . loaiasis terutama terdapat di Afrika Barat, Afrika Tengah dan
Suadan.
Distribusi geografik
Parasit ini tersebar di daerah khatulistiwa di hutan yang berhujan (rain forest) dan sekitarnya;
ditemukan di Afrika bagian Barat dari Sierra Leone sampai Angola, lembah sungai kongo,
republik kongo sendiri, Kamerun dan Nigeria bagian selatan.
Morfologi dan daun hidup
Cacing dewasa hidup dalam jaringan subkutan, yang betina berukuran 50-70 mm x 0,5 mm
dan yang jantan 30-34 mm x 0,35 0,43 mm. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang
beredar dalam pembuluh darah pada siang hari (diurna). Pada malam hari mikrofilaria berada
dalam pembuluh darah paru paru.
Mikrofilaria mempunyai sarung berukuran 250-300 mikron x 6- 8,5 mikron, dapat ditemukan
dalam urin, dahak dan kadang kadang ditemukan dalam cairan sumsum tulang belakang.
Parasit ini ditularkan oleh lalat Chrysops. Mikrofilaria yang beredar dalam darah diisap oleh
lalat dan setelah kurang lebih 10 hari di dalam badan serangga, mikrofilaria tumbuh menjadi
larva infektif dan siap ditularkan kepada hospes lainnya. Cacing dewasa tumbuh dalam badan
manusia dalam wakti 1 sampai 4 tahun kemudian berkopulasi dan cacing dewasa betina
mengeluarkan mikrofilaria.
Patologi dan gejala klinis
Cacing yang mengembara dalam jaringan subkutan dan mikrofilaria yang beredar dalam
darah seringkali tidak menimbulkan gejala. Cacing dewasa dapat ditemukan di seluruh tubuh
dan seringkali menimbulkan gangguan di konjungtiva mata dan pangkal hidung dengan
menimbulkan iritasi pada mata, mata sendat, sakit, pelupuk mata menjadi bengkak sehingga
mengganggu pengelihatan. Secara psikis, pasien menderita. Pada saat saat tertentu
penderita menjadi hipersensitiv terhadap zat sekresi yang dikeluarkan oleh cacing dewasa dan

menyebabkan reaksi radang bersifat temporer. Kelainan yang khas ini dikenal dengan
Calabar swelling dan fugitative swelling. Pembengkakan jaringan yang tidak sakit dan
nonpitting ini dapat menjadi sebesar telur ayam. Lebih sering terdapat di tangan atau lengan
dan sekitarnya. Timbulnya secara hipersensitifitas hospes terhadap parasit. Masalah utama
adalah bila cacing masuk ke otak dan menyebabkan ensefalitis. Cacing dewasa dapat pula
ditemukan dalam cairan serebrospinal pada orang yang menderita meningoensefalitis.
Diagnosis
Diagnosis dibuat dengan menemikan mikrofilaria dalam darah yang diambil pada waktu
siang hari atau menemukan cacing dewasa di konjungtiva mata maupun dalam jaringan
subkutan.
Pengobatan
Selama lebih dari 40 tahun dietilkarbomasin (DEC) merupakan obat pilihan, diberikan
dengan dosis 2 mg / kg/BB/ hari, 3 kali /hari selama 14 hari. DEC membunug mikrofilaria
dan cacing dewasa, juga dipakai untuk profilaksis akan tetapi efek sampingnya berat. Saat ini
ivermektin merupakan obat pilihan untuk loaisis.
Cacing dewasa di dalam mata harus dikeluarkan dengan pembedahan yang dilakukan oleh
seorang yang ahli.
Prognosis
Progbosis biasannya baik bila cacing dewasa dapat dikeluarkan dari mata atau bila
pengobatan berhasil dengan baik.
Epidemologi
Daerah endemi adalah daerah lalay Chrysops silaceae dan Chrysips dimidiata yang
mempunyai tempat perindukan di hutan yang berhujan dengan kelembapan tinggi. Lalat
lalat ini meyerang manusia yang sering masuk hutan maka penyakitnya lebih banyak
ditemukan pada pria dewasa.
Pencegahan dapat dilakukan dengan menh=ghindari gigitan lalat atau dengan pemberian obat
sebulan selama 3 hari berturut turut.
Onchocerca volvulus
(Filaria volvulus)
ONeiil meneliti mikrofilaria parasit ini di dalam kulit seseorang penderita di Afrika Barat
pada tahun 1875. Kemudian seorang dokter jerman menemukan cacing dalam benjolan kulit
dari orang negro di Ghana, Afrika Barat, lalu dinamakan sebagai Filaria volvolus oleh
Leuckard 1893. Tahun 1915 Robles menemukan cacing Onchocerca di Guatamela dan oleh

Brumpt diidentifikasi sebagai cacing Onchocerca caecutiens, tetapi kemudian dinamakan


cacing Oncocerca volvulus.
Hospes dan nama penyakit
Parasit ini ditemukan pada manusia. Penyakitnya disebut onkosirkosis, onkosirkosis, river
blindness, blinding filariasis.
Distribusi geografik
Parasit ini banyak ditemukan di penduduk Afrika, dari pantai Barat Sierra Leona menyebar
ke Republik Kongo, Angola, Sudan sampai Afrika Timur. Di Amerika Tengah terbatas di
dataran tinggi sepanjang sungai tempat perindukan lalat Simulium . Amerika selatan terdapat
di dataran tinggi Guaetamala, Mexico dan bagian timur Venezuela.
Morfologi dan daur hidup
Cacing dewasa hidup dalam jaringan ikat; melingkar satu dengan lainnya seperti benang
kusut dalam benjolan (tumor). Cacing betina berukuran 33,5 50 cm x 270 400 mikron dan
cacing jantan 19- 42 mm x 130 x 210 mikron. Bentuknya seperti kawat berwarna putih