Anda di halaman 1dari 18

STATUS PERIODONSIA

DISKUSI KASUS SIMPLE DAN NIGHTGUARD

RIFAN DALIAN
NPM: 160112130015

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2014

STATUS PERIODONSIA
DISKUSI KASUS SIMPLE DAN NIGHT GUARD

STATUS PASIEN
Nama Pasien : Gian N. Alamsyah
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Jl. Ujungberung
Agama : Islam

Menikah/ Belum : Belum menikah


Tgl. Pemeriksaan : 14 Juli 2014
Umur : 23 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki

Mahasiswa : Rifan Dalian


NPM : 160112130015

Keluhan Utama :
Pasien laki-laki berusia 23 tahun datang mengeluhkan gigi pada bagian rahang bawah depan
terasa aus dan terkadang terasa ngilu ketika meminum minuman dingin. Berdasarkan
keterangan keluarganya, pasien sering mengerotkan gigi saat tetidur.

PENGAMATAN PERIODONTIK
1.

Riwayat perawatan gigi yang lalu


a. Tanggal terakhir: 23 Juli 2013
b. Jenis perawatan terakhir : penambalan
c. Frekwensi perawatan rutin : -

2.

Alasan hilangnya gigi


a. Berlubang (karies) : b. Trauma : c. Gangguan / tidak erupsi : gigi 1.8, 2.8, 3.8, 4.8
d. Terlepas sendiri (karena goyang) : e. Alasan tidak diganti : -

3.

Pengetahuan tentang penyakit periodontal yang diderita


a. Permulaan terasa ada kelainan : 10 tahun lalu
b. Daerah yang terganggu : gigi depan RB
c. Derajat keparahan kelainan dihubungkan dengam

Jenis makanan tertentu : -

Siklus menstruasi : -

Frek dan teknik menyikat gigi : -

d. Keluhan pada

4.

Gusi (sensitif, membengkak) : bengkak anterior RB

Perdarahan gusi (spontan / trauma) : -

ANUG/ Kelainan mukosa : -

Kebiasaan buruk (oral) : mengerotkan gigi

Impaksi makanan (regio) : regio anterior RB

Perawatan periodontal yang lalu


a. Tanggal terakhir : 2 bulan yang lalu
b. Jenis perawatan : scaling
c. Dirawat oleh ahli/ bukan : dokter

5.

Pemeliharaan oral hygiene :


a. Frek menyikat gigi perhari : 2 x 1 hari
b. Jenis sikat gigi yang dipakai : bulu sikat lembut, sikat rata, gagang lurus

Metode : Vertikal

Pasta gigi : berfluoride

c. Alat bantu yang lain : dental floss

6.

Riwayat pemeriksaan medis


a. Tanggal terakhir : belum pernah
b. Jenis perawatan : belum pernah
c. Dirawat oleh ahli/ bukan : belum pernah

7.

Evaluasi kelainan / kondisi sistemik dan pengetahuan tentang kesehatan gigi

Pasien tidak memiliki kelainan sistemik dan pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut
dinilai baik

8.

Pemeriksaan Ekstra Oral dan Intra Oral


a. Keadaan ekstraoral :

Muka : simetris

Mata : sklera: non-ikterik; pupil: isokhor; konjungtiva: non-anemis

Leher : t.a.k

Bibir : t.a.k

TMJ: kliking kiri

b. Keadaan intra oral :

9.

Mukosa : t.a.k

Gingiva :
-

Bentuk : oedem a.r. anterior RB

Warna : merah a.r. anterior RB

Konsistensi : lunak a.r. anterior RB

Pitting test : negatif a.r. attached gingiva RA dan RB

Stippling : positif a.r. RA dan RB

Permukaan : licin a.r. anterior RB

Resesi : tidak ada

Interdental papil : membulat a.r. anterior RB

Stillmans cleft : tidak ada

Mc.Calls festoon : tidak ada

Frenulum : normal

Eksudat sulkus : negatif

Perkusi : positif di gigi 3.1

Mobility : -

Oklusi
a. Kontak prematur : b. Faset permukaan

Atrisi : gigi 2.3, 3.3, 3.2, 3.1, 4.1, 4.2

Abrasi : -

Erosi : -

c. Geligi tidak beraturan : anterior RA dan RB

10.

Gambaran Radiografik
a. Bentuk resorbi tulang alveolar :

Vertikal : -

Horizontal : gigi 4.3 sampai gigi 4.6, gigi 3.1 sampai 3.2, gigi 3.5 sampai 3.6

Kawah : -

b. Luas resorpsi : Luas


c. Banyaknya resorpsi :
Hebat : Sedang : Sedikit : +
d. Keterlibatan daerah furkasi : e. Perbandingan abnormal mahkota dengan akar : f. Karies : g. Kelainan periapikal : h. Lain-lain : i. Prognosis menyeluruh : baik (good)

11.

Evaluasi Oral Hygiene :


a. Nilai plak : baik (15,10 %)
b. Kalkulus : supragingival sedikit

12.

Model Studi : Rahang atas dan rahang bawah

13.

Evaluasi pra perawatan :


a. Diagnosis : Gingivitis marginalis kronis lokalisata a.r anterior RB + Bruxism
b. Etiologi : Plak, kalkulus, crowding anterior, karies, oral habit
c. Sikap pasien : Kooperatif
d. Prognosa : good

14.

Tahapan Perawatan Gigi (menyeluruh) :


a. Fase pendahuluan : b. Fase Initial :

OHI dan Home care instruction

Plak score, scaling RA dan RB

Kontrol perawatan 1 minggu

Kontrol perawatan 1 bulan

Pro penambalan gigi 3.7, 4.7

Pro perawatan orthodontik

Pro pembuatan night guard

c. Fase bedah : d. Fase restoratif : e. Fase pemeliharaan :

Recall kunjungan (6 bulan)

Evaluasi jaringan lunak

Evaluasi plak dan kalkulus

f. Rujukan (keluar bidang kedokteran gigi) : -

Pembimbing Diskusi,

Dr. Ira Komara, drg., Sp. Perio (K)

NILAI PLAK

Kunjungan
Tanggal Periksa
Persentase

:I
: 14 Juli 2014
: 17/112 = 15,10 %

Kunjungan
Tanggal Periksa
Persentase

: III
: 14 Oktober 2014
: 8/112 = 7,14 %

Kunjungan
Tanggal Periksa
Persentase

: IV
: 7 November 2014
: 7/112 = 6,25 %

CATATAN KEADAAN INTRA ORAL


NILAI PROBING
Kunjungan I (14 Juli 2014)
Maxilla
Gigi
18 17 16 15 14 13 12 11 21 22 23 24 25
212 211 112 211 112 111 111 111 112 212 222 212
Facial

26
211

27
112

Palatal

111 111 111 111 212 211 112 211 112 211 212 222

212

212

Mobility
Resesi
BOP

Mandibula
Gigi
48 47 46 45 44 43 42 41 31 32 33 34 35 36 37
223 322 222 222 333 323 323 323 333 221 112 211 211 112
Facial
321 111 112 211 222 212 212 321 122 222 212 212 212 212
Lingual
Mobility
Resesi
BOP

Kunjungan IV (7 November 2014)


Maxilla
Gigi
18 17 16 15 14 13 12 11 21 22 23 24 25
212 211 112 211 112 111 111 111 112 211 212 212
Facial

26
211

27
112

Palatal

111 111 111 111 212 211 111 211 111 211 112 212

211

111

Mobility
Resesi
BOP

Mandibula
Gigi
48 47 46 45 44 43 42 41 31 32 33 34 35 36 37
222 222 222 222 322 222 322 312 322 221 112 211 211 112
Facial
321 111 112 211 111 212 212 221 122 222 212 212 212 212
Lingual
Mobility
Resesi
BOP

28

38

28

38

Bruxism dan Nightguard (Occlusal Splint)

Aktivitas parafungsional merupakan suatu keadaan aktifnya otot-otot secara fisiologis


sehingga menghasilkan kebiasaan-kebiasaan tanpa tujuan fungsional dan biasanya berpotensi
menyebabkan kerusakan. Contoh kebiasaan parafungsional adalah bruxism (grinding dan
clenching), menghisap ibu jari, dan posisi rahang yang tidak benar.
Bruxism merupakan salah satu aktivitas parafungsional oklusal, yaitu pergerakan
oromandibular secara involunter berupa tooth grinding atau clenching yang terjadi pada saat
tidur (sleep bruxism) atau tidak (awake bruxism). Hal ini ditandai dengan :
1. Terjadinya kerusakan jaringan keras gigi (tooth wear) berupa atrisi, abfraksi, dan pit
oklusal, sehingga menyebabkan hipersensitivitas pada gigi (dapat berlanjut hingga
terjadinya kelainan pulpa)
2. Kerusakan jaringan periodontal, kegoyangan gigi, terbentuknya bony ridges, iritasi pada
mukosa bukal, dan adanya penampakan scalloped tongue
3. Perubahan dimensi vertikal oklusi
4. Nyeri pada otot-otot sistem pengunyahan, hipertrofi otot masseter dua sisi (pada bruxers
kronis), hingga terjadinya sakit kepala / temporal headache (terutama saat bangun tidur)
5. Kelainan pada sendi Temporomandibula (TMJ), seperti pembukaan mulut terbatas,
kliking, krepitasi, dan locking pada rahang.
6. Dapat merusak protesa cekat ataupun restorasi lainnya di dalam mulut.
Adapun beberapa etiologi atau faktor penyebab terjadinya bruxism adalah stres
emosional atau psikologis, ketidakharmonisan oklusi (adanya gigi hilang yang tidak diganti
atau restorasi berlebih / overhang atau jenis restorasi keramik / porselen), dan adanya
kelainan pada sendi TMJ.

Nightguard (Occlusal Splint) didefinisikan sebagai suatu splint akrilik, baik pada
rahang atas atau bawah, yang membantu kondilus rahang untuk mencapai posisi paling
anterior superior dalam fossanya (keadaan relasi sentrik), sehingga otot-otot masseter berada
dalam keadaan relaksasi. Alat ini juga dinamakan splint relasi sentrik dan orthotik.
Nightguard berfungsi dalam menanggulangi pola aktivitas otot yang abnormal, melindungi
gigi dari kerusakan, melindungi otot-otot pengunyahan, serta dapat memperbaiki
ketidakharmonisan oklusi.

Fungsi
1. Menanggulangi pola aktivitas otot abnormal
2. Melindungi gigi dari atrisi
3. Melindungi otot
4. Memperbaiki ketidakharmonisan oklusi

Etiologi
1. Faktor psikologis (stres, emosional)
2. Faktor lokal (missing teeth, tambalan overhang)
3. Faktor sistemik (epilepsi)
4. Kelainan TMJ

Tahapan Pekerjaan Night Guard


1. Diskusi
2. Pengukuran dimensi vertikal
DV = PRP (Physiologic Rest Position ) FWS (Free Way Space)
3. Pembuatan pola lilin

Pembuatan pola lilin RA (desain Michigan Splint) :


(1) Pola lilin meliputi distal M2 kiri sampai M2 kanan
(2) Ketebalan lilin 1-2 mm (tidak melebihi free way space)
(3) Perluasan fasial sampai 1/3 insisal dan bukal 1/3 oklusal ke arah apikal
(4) Perluasan sayap palatal sampai rugae palatine kedua (untuk rahang atas)
(5) Permukaan oklusal gigi M berbentuk flat (dataran datar dan halus) dan pada
permukaan gigi P,C,I sesuai kontur gigi
4. Uji coba pola lilin
(1) Adaptasi
(2) Free way space 2-3 mm
(3) Oklusi, semua gigi RB harus berkontak dengan night guard
5. Pemolesan
(1) Mengurangi daerah prematur kontak dengan batu arkansas
(2) Mengkilap dan licin
6. Insersi
(1) Adaptasi
Semua bagian/permukaan night guard mengenai permukaan insisal/oklusal gigi
(merata)
(2) Stabilisasi
Apabila night guard ditekan satu sisi dengan instrumen berujung tumpul, bagian
sebelahnya tidak mengungkit
(3) Retensi
Apabila ditarik dengan tekanan ringan, night guard tidak lepas pada saat posisi sentrik
dan eksentrik
(4) Oklusi

DV sebelum dan sesudah memakai night guard, tidak melebihi free way space, dan
tidak terdapat prematur kontak.
(5) Tidak boleh ada interference saat digerakkan ke lateral kiri dan kanan, anterior dan
posterior.
7. Kontrol 1 minggu
(1) Tahap insersi
(2) OHI (plak skor)
(3) Pemeriksaan jaringan sekitar
(4) Keluhan jika berkurang, penggunaan night guard dikurangi intensitasnya
8. Kontrol 1 bulan

Pertimbangan Penempatan Alat


Pertimbangan

RA

RB

Jumlah gigi yang atrisi

1 gigi

5 gigi

Oral hygiene

Baik

Sedang

Ada/tidaknya crowding

Ada (sedang)

Ada (berat)

Ada/tidaknya mising teeth

Tidak ada

Tidak ada

Bentuk lengkung normal

Tidak normal

Tidak normal

DESAIN NIGHTGUARD

Michigan RA

Pembimbing Diskusi,

Dr. Ira Komara, drg. Sp.Perio (K).

TAHAPAN PEKERJAAN PEMBUATAN NIGHTGUARD RAHANG ATAS


(MICHIGAN)

No.

Tanggal

Pekerjaan / Tahap

Diskusi Kasus Simple

Diskusi Kasus Nightguard

Pola Lilin

Uji Coba Pola Lilin

Pemolesan

Insersi

Kontrol 1 Minggu

Kontrol 1 Bulan

Nama Mahasiswa: Rifan Dalian


NPM: 160112130015

Paraf

Gingivitis dan Periodontitis

Jaringan periodontal adalah jaringan yang mengelilingi gigi dan berfungsi sebagai
penyangga gigi, terdiri dari gingiva, sementum, ligamen periodontal dan tulang alveolar.
Sebelu memahami kerusakan jaringan periodontal, sebaiknya dimulai dengan gingival yang
sehat dan tulang pendukung yang normal. Gingiva yang sehat dapat menyesuaikan diri
dengan keadaan gigi. Permulaan terjadinya kerusakan biasanya timbul pada saat plak bacteria
terbentuk pada mahkota gigi, meluas disekitarnya dan menerobos sulkus gingiva yang
nantinya akan merusak gingiva disekitarnya. Plak menghasilkan sejumlah zat yang secara
langsung atau tidak langsung terlibat dalam perkembangan penyakit periodontal. Peradangan
pada gingiva dan perkembangannya pada bagian tepi permukaan gigi terjadi ketika koloni
mikroorganisme berkembang.
Penyakit periodontal dibagi atas dua golongan yaitu gingivitis dan periodontitis.
Bentuk penyakit periodontal yang paling sering dijumpai adalah proses inflamasi dan
mempengaruhi jaringan lunak yang mengelilingi gigi tanpa adanya kerusakan tulang,
keadaan ini dikenal dengan gingivitis. Apabila penyakit gingiva tidak ditanggulangi sedini
mungkin maka proses penyakit akan terus berkembang mempengaruhi tulang alveolar,
ligamen periodontal atau sementum, keadaan ini disebut dengan periodontitis

Gingivitis
Gingivitis adalah inflamasi (peradangan) pada gusi. Gingivitis biasanya disebabkan
oleh buruknya kebersihan mulut sehingga terbentuk plak atau karang gigi di bagian gigi yang
berbatasan dengan tepi gusi. Plak dan karang gigi mengandung banyak bakteri yang akan
menyebabkan infeksi pada gusi. Bila kebersihan mulut tidak diperbaiki, gingivitis akan
bertambah parah dan berkembang menjadi periodontitis. Gingivitis biasanya disebabkan oleh
buruknya kebersihan mulut sehingga terbentuk plak atau karang gigi di bagian gigi yang

berbatasan dengan tepi gusi. Plak dan karang gigi mengandung banyak bakteri yang akan
menyebabkan infeksi pada gusi. Bila kebersihan mulut tidak diperbaiki, gingivitis akan
bertambah parah dan berkembang menjadi periodontitis.
Perawatan gingivitis dilakukan dengan cara mengendalikan plak yaitu menghilangkan
penyebabnya dengan skeling disertai pemeliharaan kebersihan mulut dan pemberian obat
kumur jika diperlukan.

Periodontitis
a. Periodontitis Kronis
Periodontitis kronis

adalah

suatu

bentuk penyakit

periodontal yang

mengakibatkan peradangan dalam jaringan pendukung gigi, kehilangan perlekatan


dan tulang yang progresif dan ditandai oleh pembentukan kantung dan/ atau resesi
gingiva. Ini adalah bentuk periodontitis paling umum, yang lazimnya pada orang
dewasa, namun dapat terjadi pada semua usia. Kehilangan perlekatan biasanya terjadi
secara perlahan, tetapi periode perkembangan yang cepat juga dapat terjadi.
Berdasarkan keparahannya diklasifikasikan menjadi 3 kategori, yaitu
periodontitis kronis ringan yaitu kehilangan perlekatan gusinya tidak lebih dari 2 mm,
periodontitis kronis sedang, yaitu kehilangan perlekatan gusinya 3-4 mm,
periodontitis kronis berat yaitu kehilangan perlekatan gusinya lebih atau sama dengan
5 mm.
Perawatan yang dilakukan secara lokal dengan menghilangkan plak dan
kalkulus secara mekanik melalui skeling, root planning, penggerindaan gigi lawan
bila ada kontak premature, kuretase, serta instruksi pemeliharaan kebersihan mulut.

b. Periodontitis Agresif
Periodontitis Agresif merupakan kelainan jaringan periodontal yang lanjut dan
cepat, yang terjadi pada usia pubertas dan dewasa muda sehat, diklasifikasikan
menjadi 2 jenis yaitu periodontitis agresif lokalisata dan periodontitis agresif
generalisata.
Terapi periodontitis agresif dapat berupa terapi bedah, non-bedah, atau
kombinasi keduanya yang disertai dengan antimikroba. Sejak penelitian menyatakan
bahwa bakteri A. Actinomycetemcomitans berperan penting sebagai etiologi
periodontitis agresif. Dengan kombinasi menggunakan pemakaian antimikroba ini
bertujuan untuk menghilangkan kelainan, mengurangi keganasan, mencegah
komplikasi, dan rekurensi penyakit.
Terapi non bedah dengan tindakan skeling dan penghalusan akar saja tidak
dapat mengeliminir bakteri A. Actinomycetemcomitans secara menyeluruh dari poket
periodontal. Terapi berupa aplikasi topical povidon-iodin pada poket periodontoal
penderita periodontitis agresif dan dkombinasi dengan pemberian tetrasiklin secara
sistemik terbukti cukup efektif pada terapi periodontitis agresif. Setelah pemberian
tetrasiklin sebanyak 4 x 250 mg/hari selama 2 minggu, ternyata dapat mengurangi
bakteri A. Actinomycetemcomitans secara signifikan.
Perawatan bedah resektif termasuk penambahan material bonegraft dan
membran periodontal, memperlihatkan hasil yang memuaskan terutama pada kelainan
dengan poket > 7mm. terapi periodontitis dengan perawatan bedah modifikasi
Wildman flap dan pengambilan jaringan granulasi, serta plak kontrol yang teratur.
Setelah pembedahan tidak digunakan pack periodontal tetapi penderita dianjurkan
untuk kumur-kumur menggunakann khlorheksidin 0,2%

2 x perhari selama 2

minggu. Pemberian tetrasiklin perolar dilakukan setelah tindakan bedah dengan dosis

4 x 250 mg/hari selama 2 minggu. Hasilnya menunjukan bertambahnya perlekatan


jaringan secara klinis dan pertumbuhan tulang baru pada daerah kerusakan tulang
angular. Kombinasi bonegraft dengan pemberian tetrasiklin 4 x 250 mg/hari selama
10 hari memberikan hasil pertumbuhan tulang pada daerah furkasi setelah 1 tahun
perawatan. Keberhasilan perawatan periodontitis agresif tanpa pemberian antibiotik
juga banyak dilaporkan pada perawatan 20 penderita periodontitis agresif, berupa
tindakan skelling dan penghalusan akar serta bedah flap dan anjuran pemeliharaan
kebersihan mulut secara professional tanpa pemberian antibiotic. Setelah 6-12 tahun,
tidak dijumpai adanya poket periodontal dengan kedalaman 7 mm atau lebih dan
penurunan kedalaman poket 4-6 mm dari 237 area menjadi 46 area.