Anda di halaman 1dari 12

Fenol dapat digunakan sebagai antiseptik seperti yang digunakan Sir Joseph Lister saat

mempraktikkan pembedahan antiseptik. Fenol merupakan komponen utama pada anstiseptik


dagang, triklorofenol atau dikenal sebagai TCP (trichlorophenol). Fenol juga merupakan bagian
komposisi beberapa anestitika oral, misalnya semprotan kloraseptik.
Fenol berfungsi dalam pembuatan obat-obatan (bagian dari produksi aspirin, pembasmi rumput
liar, dan lainnya. Selain itu fenol juga berfungsi dalam sintesis senyawa aromatis yang terdapat
dalam batu bara. Turunan senyawa fenol (fenolat) banyak terjadi secara alami sebagai flavonoid
alkaloid dan senyawa fenolat yang lain. Contoh dari senyawa fenol adalah eugenol yang
merupakan minyak pada cengkeh
Fenol yang terkonsentrasi dapat mengakibatkan pembakaran kimiawi pada kulit yang terbuka.
Fenol :
a. Mengandung gugus OH, terikat pada sp2-hibrida
b. Mempunyai titik didih yang tinggi
c. Mempunyai rumus molekul R-OH, dimana R adalah gugus aril
d. Larut dalam pelarut organik
e. Berupa padatan (kristal) yang tidak berwarna
f. Mempunyai massa molar 94,110C
g. Mempunyai titik didih 181,9oC
h. Mempunyai titik lebur 40,9oC
Penyuntikan fenol juga pernah digunakan pada eksekusi mati. Penyuntikan ini sering digunakan
pada masa Nazi, Perang Dunia II. Suntikan fenol diberikan pada ribuan orang di kamp-kamp
konsentrasi, terutama di Auschwitz-Birkenau. Penyuntikan ini dilakukan oleh dokter ke vena
(intravena) di lengan dan jantung. Penyuntikan ke jantung dapat mengakibatkan kematian
langsung.

PENENTUAN KANDUNGAN TOTAL PHENOL DARI DAUN PEPAYA (Carica


papaya) , DAUN SAMBILOTO (Andrographis paniculata), DAUN KAYU SUSU
(Alstonia scholaris)
I.

ABSTRACT

Done degree determination phenol by using method follinciocalteu from leaf extract papaya leaf,
sambiloto leaf, and pule leaf. measurement is done by using error sour standard (pirogallol).
Standard graph that made has correlation value r=0,99 and the linear line similarity y= 767.4x 42.53. from that similarity us can get degree phenol from sample that is leaf sambiloto as big as 13.3688 ppm, papaya leaf 74.88 ppm, and pule leaf that is 112.4848 ppm.
II.

PENDAHULUAN

Phenol merupakan salah satu komponen kimia tumbuhan yang memiliki manfaat sangat
besar baik bagi tumbuhan itu sendiri maupun bagi manusia. Senyawa phenol memiliki ciri cincin
aromatic dan adanya satu atau dua penyulih hidroksil. Senyawa phenol lebih cenderung larut
dalam air, karena senyawa ini biasanya berikatan dengan gula. Senyawa phenol mencakup
beberapa golongan senyawa bahan alam. Mulai dari flavanoid, phenil propanoid, kuinon
phenolik, lignin, melanin, dan tannin merupakan golongan senyawa phenol.
Pepaya merupakan tumbuhan yang sangat akrab dengan masyarakat. Buahnya yang enak
dan juga daun serta bunganya yang biasa dimanfaatkan sebagai sayur, membuat tumbuhan ini
sangat popular dikalangan masyarakat. Selain itu, dibalik rasanya yang pahit, ternyata daun
papaya dipercaya sebagai salah satu tumbuhan pencegah malaria. Pemanfaatan daun papaya
sebagai antimalaria telah lama dikenal oleh masyarakat. Sebagai insane saintis, tentunya kita
memiliki rasa ingin tahu rahasia apa yang tersembunyi dibalik rasanya yang pahit itu. Secara
biologi klasifikasi dari tumbuhan pepaya yaitu :
Kerajaan
Ordo

:
:

Plantae
Brassicales

Famili

Caricaceae

Genus

Carica

Spesies

Carica Papaya

Berdasaekan hasil skrining fitokimia yang dilakukan oleh ferderika mughuri (2010)
kandungan kimia daun papaya yang utama yaitu alkaloid. Yang mana rasa pahit ini member kita
satu isyarat keberadaannya senyawa alkaloid tersebut. Selain itu berdasarkan informasi dari

sentra informasi iptek, Daun pepaya juga mengandung berbagai macam zat, antara lain : Vitamin A 18250 SI - Vitamin B1 0,15 mg - Vitamin C 140 mg - Kalori 79 kal - Protein 8,0
gram - Lemak 2 gram - Hidrat Arang 11,9 gram - Kalsium 353 mg - Fosfor 63 mg - Besi 0,8 mg
- Air 75,4 gram Kandungan carposide pada daun pepaya berkhasiat sebagai obat cacing.
Daun sambiloto merupakan salah satu tumbuhan obat yang tidak kalah pahitnya
dibanding daun papaya. Sambiloto memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Kerajaan

: Plantae

Ordo

: Lamiales

Famili

: Achanthaceae

Genus

: Andrographis

Spesies

: Andrographis paniculata

Daun sambiloto telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tanaman obat yang
berkhasiat tinggi. Beberapa khasiat dari daun sambiloto yaitu : sebagai obat kencing manis,
tifoid, disentri,influenza, sakit kepala, demam, batuk rejan, darah tinggi, radang mulut, kudis,
luka bakar, digigit ular, kanker, asam urat, tiphus.
Daun dan percabangannya mengandung laktone yang terdiri dari deoksiandrografolid,
andrografolid

(zat

pahit),

neoandrgrafolid,

14-deoksi-11-12-didehidroandrografolid,dan

homoandrografolid, flavoid, alkene, keton, aldehid, mineral (kalium,kalsium, natrium). Asam


kersik, dammar.
Kayu susu yang biasa dikenal sebagai kayu pulai, hingga saat ini pemanfaatanya masih
relative minim. Biasanya kay pulai ini hanya dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Akan tetapi
kualitas kayunya yang kurang begitu bagus biasanya hanya dimanfaatkan sebagai bahan baku
pembuatan maianan anak-anak.
Akan tetapi, kayu pulai yang selama ini hanya dipandang sebelah mata, ternyata juga
memiliki beberapa khasiat dalam pengobatan yaitu sebagai obat Demam, malaria, limfa
membesar, batuk berdahak, diare, disentri, ; Kurang napsu makan, perut kembung, sakit perut,
kolik, anemia, ; Kencing manis (diabetes melitus), wasir, gangguan haid, bisul,; Tekanan darah
tinggi (Hipertensi), rematik akut, borok (ulcer), ; Beri-beri, masa nifas, payudara bengkak karena
ASI.
Kandungan kimia dari kayu pulai yaitu : kulit kayu mengandung alkaloida ditain,
ekitamin (ditamin), ekitenin, ekitamidin, alstonin, ekiserin, ekitin, ekitein, porfirin, dan triterpen

(alfa-amyrin dan lupeol). Daun mengandung pikrinin. Sedangkan bunga pulai mengandung asam
ursolat dan lupeol. Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian : 1. Zat aktif triterpenoid dari kulit
kayu pulai dapat menurunkan kadar glukosa darah kelinci (Setyarini, Fak. Farmasi Unair, 1987).
2. Ekstrak air kulit kayu pulai secara in vivo dapat menekan daya infeksi telur cacing gelang babi
(Ascaris suum) pada dosis 130 mg/ml dan secara invitro menekan perkembang telur berembrio
menjadi larva an pada dosis 65 mg/ml (Thresia Ranti, jurusan Farmasi FMIPA ITB, 1 99 1). 3.
Pemberian infus 10% kulit kayu pulai dengan dosis 0,7; 1,5 dan 39/kg bb kelinci mempunyai
efek hipoglikernik (Sulina, Jurusan Farmasi FMIPA ITB, 1978).
Nama local dari kayu ini yaitu : Lame (Sunda), pule (Jawa), polay (Madura). kayu
gabus,; pulai (Sumatera).hanjalutung (Kalimantan).kaliti, reareangou,; bariangow, rariangow,
wariangow, mariangan, deadeangow,; kita (Minahasa), rite (Ambon), tewer (Banda), Aliag
(Irian),; hange (Ternate). devil's tree, ditta bark tree (Inggris).; Chatian, saitan-ka-jhad,
saptaparna (India, Pakistan).; Co tin pat, phayasattaban (Thailand).
Klasifikasi botani dari kayu pulai yaitu:
Kerajaan

: Plantae

Famili

: Apoeynaccae

Genus

: Alstonia

Spesies

: Alstonia scholaris

Tujuan praktikum ini yaitu untuk mengetahui kandungan total phenol yang ada pada daun
papaya, daun kayu susu, dan daun sambiloto. Yang mana ketiga jenis tumbuhan tersebut
memiliki sumbangsih yang sangat besar dalam dunia pengobatan, maka perlu adanya
pengetahuan lebih lanjut mengenai kandungan kimia terutama kandungan senyawa fenoliknya.

III.

METODE

3.1. WAKTU DAN TEMPAT


3.1.1 Waktu:
Praktikum ini dilakukan pada hari Kamis, 29 April, 6 dan 20 Mei 2010. Jam 10.20 12.50 WIT.
3.1.2 Tempat :
Pelaksanaan praktikum ini yaitu di Laboratorium Jurusan Kimia Universitas Negeri Papua
Manokwari.

3.2. ALAT DAN BAHAN


3.2.1. ALAT
Alat-alat yang digunakan yaitu :
Mortar, gelas piala, tabung reaksi, labu Erlenmeyer, pipet tetes, gelas ukur, Pemanas, corong,
kertas saring, pisau, gunting, spectrometer, kuvet.
3.2.2. BAHAN
Bahan yang digunakan yaitu:
Sampel Segar, asam galat, reagen follin ciocalteu, methanol, larutan Na2CO3, aquades.

3.3. PROSEDUR KERJA


3.1.1 PREPARASI SAMPEL
Tumbuk sampel segar dan timbang 5 g sampel segar kemudian dimaserasi

dengan 250 ml

metanol selama 15 menit, sambil dikocok kemudian saring dengan menggunakan kertas
saring whatman no 1, sehingga diperoleh ekstrak dari sampel.

3.1.2 PEMBUATAN LARUTAN STANDAR ASAM GALAT


Pembuatan larutan induk

asam galat (5 mg/ml)

Timbang 5 g asam galat tambahkan aquadest sampai 500 ml, sehingga diperoleh
konsentrasi 1000 mg/ml.
Dari larutan induk dipipet 5,10,20,30,40,50,60 ml dan diencerkan dengan aquadest sampai
volume 100 ml. sehingga dihasilkan larutan dengan konsentrasi 300, 400, 500, 600, dan 700
mg/L asam galat.
Dari masing-masing konsentrasi diatas dipipet 0,2 ml tambah 15,8 ml aquabidest ditambah 1
ml Reagen Folin Ciocalteu kocok. Diamkan selama 8 menit tambah 3 ml larutan Na2CO3
kocok homogen. Diamkan selama 2 jam pada suhu kamar. Ukur serapan pada panjang
gelombang serapan maksimum 765 nm, lalu buat kurva kalibrasinya hubungan antara
konsentrasi asam galat (mg/L) dengan absorban.

3.1.3 PENGUKURAN ABSORBANSI EKSTRAK SAMPEL


Ditimbang 0,3 gram ekstrak kemudian dilarutkan sampai 10 ml dengan metanol : air (1 :
1).

Dipipet 0,2 ml larutan ekstrak dan tambahkan 15,8 ml aquadest tambahkan 1 ml reagen

Folin Ciocalteu kocok. Diamkan selama 8 menit kemudian tambahkan 3 ml Na2CO3


20 % kedalam campuran, diamkan larutan selama 2 jam pada suhu kamar. Ukur
serapannya dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang serapan maksimum
765 nm yang akan memberikan komplek biru. Kemudian tentukan kadar fenol dalam mg/L.

IV.

HASIL PENGAMATAN

Pengukuran absorbance standar asam galat dan sampel pada panjang gelombang 765 nm.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Konsentrasi (ppm)
50
100
200
300
500
600
Ekstrak daun pepaya
Ekstrak daun sambiloto
Ekstrak daun kayu susu

Absorbance
0.130
0.266
0.308
0.442
0.702
0.845
0.153
0.038
0.202

4.1 KURVA STANDAR ASAM GALAT

4.2 PERHITUNGAN KONSENTRASI PHENOL


Dari persamaan kurva standar diperoleh persamaan :
Y= 767.4x 42.53
Persamaan tersebut yang akan digunakan dalam menentukan konsentrasi dari ekstrak sampel,
dengan menggunakan data absorbance yang telah didapatkan.

4.2.1

Konsentrasi phenol dari ekstrak daun Pepaya

Absoebance = 0.153
Konsentrasi phenol

= 767.4x 42.53
= 767.4 (0.153) 42.53

= 74.88 ppm
4.2.2

Konsentrasi phenol dari ekstrak daun Sambiloto


Absoebance = 0.038
Konsentrasi phenol

= 767.4x 42.53
= 767.4(0.038) 42.53
= -13.3688 ppm

4.2.3

Konsentrasi phenol dari ekstrak daun kayu Susu (pulai)


Absoebance = 0.202
Konsentrasi phenol

= 767.4x 42.53
= 767.4(0.202) 42.53
= 112.4848 ppm

4.3 PEMBAHASAN

Penentuan konsentrasi phenol dari suatu tumbuhan dilakukan dengan menggunakan


metode follincioucalteu. Yang mana pada metode ini digunakan reagen folinciocalteu untuk
dapat menghitung kadar total phenolnya.
Pada penentuan kadar phenol perlu dibuat suatu kurva standar yang meggunakan standar
asam galat. Dari kurva standar yang memberikan hubungan antara konsentrasi asam galat dengan
absorbansinya, maka kita dapat menentukan konsentrasi dari sampel dengan menggunakan
analisis regresi linier.
Asam galat digunakan sebagai larutan standar karena asam galat merupakan salah satu
jenis golongan senyawa phenolik. Yang mana asam galat ini memiliki nama lain pyrogalol.
Contoh dari senyawa phenolik yang termasuk golongan pyrogalol adalah gallocatechins ( EGCG
), tanin , myricetin , alkohol sinapyl berasal lignins.
Dalam pembuatan kurva standar, minimal kita harus menggunakan tiga atau empat data
absorbansi dari larutan standar yang telah diketahui. Nilai R merupakan bilangan yang
menunjukan tingkat keakuratan dan ketelitian dari larutan standar yang kita buat. Apabila nilai R

semakin mendekati 1 maka kurva standar tersebut semakin bagus. R memiliki nilai maksimum 1
tidak pernah lebih dari 1.
Pada percobaan ini, kita memperoleh data absorbansi dan konsentrasi larutan standar
yang digunakan yaitu sebanyak enam data. Dimulai dari 50 ppm, 100, 200, 300, 400, 500 dan
600 ppm. Pada pembuatan kurva standar ini, ketika semua data tersebut kita masukan, ternyata
terdapat sedikit penyelewengan pada konsentrasi 100 ppm akibatnya nilai R menurun menjadi
0.987. untuk mengatasi masalah ini kita modifikasi kurva yang kita dapatkan, yaitu dengan
menghilangkan satu data (data 100 ppm). Dengan hilangnya data 100 ppm ternyata berhasil
memberikan hasil yang lebih baik dan nilai R naik menjadi 0.99. sehingga kurva yang kita
gunakan yaitu yang hanya menggunakan 5 data tanpa mengikutsertakan data 100 ppm.
Dari kurva standar yang dibuat diperoleh persamaan garis linier Y= 767.4x 42.53. dari
persamaan ini kita bias merubah variable x dengan data absorbansi dari masing-masing sampel
sehingga kita bisa mendapatkan data konsentrasi dari masing-masing sampel. Hasil perhitungan
ini yaitu 74.88 ppm untuk ekstrak daun pepaya, kemudian -13.6688 ppm untuk ekstrak daun
sambiloto serta 112,4848 ppm untuk ekstrak daun kayu susu. Pada ekstrak daun pepaya
menunjukan hasil yang negative itu berarti bahwa pada ekstrak daun pepaya tidak mengandung
kadar phenol.
Kandungan total phenol yang terbesar dari ketiga ekstrak tersebut adalah pada daun
sambiloto kemudian pada daun kayu susu serta terakhir daun papaya. Tingginya kadar phenol ini
memungkinkan tumbuhan tersebut dimanfaatkan sebagai antioksidan. Sebagaimana kita ketahui
bahwa senyawa phenolik ketika diserang oleh radikal akan mampu meresonansikan electron
tidak berpasangan tersebut sehingga senyawa phenolik bisa stabil kembali. Karena itulah,
senyawa phenolic tersebut tidak menjadi reaktif dan bisa dimanfaatkan sebagai antioksidan.

V.

PENUTUP

5.1. KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum ini maka dapat disimpulkan bahwa:
Asam galat (pirogallol) digunakan sebagai standard dalam penentuan kadar phenolik, karena asam
galat merupakan salah satu contoh senyawa golongan phenol.
Kurva kalibrasi yang diperoleh memberikan nilai regresi 0,99 dan persamaan garis linearnya
adalah Y= 767.4x 42.53
Pengukuran absorbance dari ekstrak daun papaya, daun sambiloto dan daun kayu susu berturutturut adalah 0,153. 0,038. 0,202. Dari data absorbance itu kita dapat menentukan kadar
phenolnya yaitu 74,88 ppm, -13,3688 ppm, 112,48 ppm.

DAFTAR PUSTAKA
Andayani, regina dkk. 2008. Penentuan Aktivitas Antioksidan, Kadar Fenolat Total Dan Likopen Pada
Buah Tomat (Solanum ycopersicum L).Jurnal sains dan teknologi.
Anonym. 2005. Pepaya. http://www.iptek.net.id/ind/pepaya/ download at : 19 Mei 2010, 07:24
Anonym. 2005. sambiloto. http://www.iptek.net.id/ind/sambiloto/ download at : 19 Mei 2010, 07:30
Anonym. 2005. Kayu Pulai. http://www.iptek.net.id/ind/kayupule/ download at : 19 Mei 2010, 07:45
Harbon J.B. 1987. Metode Fitokimia : Penentuan cara modern menganlisis tumbuhan. Terbitan ke dua.
Terjemahan Kosasih Padmawinata dan iwang soediro. Bandung. ITB Press.
Santoso, Bimo B. 2010. Penuntun Praktikum Kimia Bahan Alam. Jurusan Kimia. Manokwari.

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA BAHAN ALAM

PENENTUAN KANDUNGAN TOTAL PHENOL DARI DAUN PEPAYA (Carica


papaya) , DAUN KAYU SUSU (Alstonia scholaris), DAUN SAMBILOTO
(Andrographis paniculata)

OLEH
MUHAMMAD DAILAMI
200739010