Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN LAINNYA

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN


ARSITEKTUR PERBANKAN DI INDONESIA
Dosen Pengampu :

Disusun oleh:
Risya Dwika Sari

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011
KATA PENGANTAR
1

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wataala, karena berkat rahmatNya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Perkembangan Perbankan Dan
Arsitektur Perbankan di Indonesia. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya.
Makalah ini penulis susun dengan tujuan agar dapat menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan bagi kami maupun mahasiswa yang lain yang akan membaca atau mempelajari
makalah ini.
Makalah ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini
memberikan informasi bagi masayarakat, mahasiswa/mahasiswi dan bermanfaat untuk
pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Tangerang, April 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman

Judul........

..i
Kata Pengantar..........ii
Daftar Isi.......iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............1
B. Rumusan Masalah........1
BAB II PEMBAHASAN
A. ..2
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan....17
B. Saran..........17
Daftar Pustaka..iv

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebelum pasar barang dan jasa modern dalam konteks seperti yang banyak dipahami
orang saat ini terbentuk, kegiatan transaksi barang dan jasa dilaksanankan dengan cara-cara yang
jauh lebih sederhana. Transaksi barang dan jasa dilaksanakan melalui pertemuan langsung antara
pihak yang mengalami surplus barang atau jasa tertentu dengan pihak yang mengalami
kekurangan barang atau jasa tersebut. Cara transaksi barang dan jasa modern diawali dan
ditandai dengan adanya perantara dalam kegiatannya. Di samping adanya perantara, awal
kegiatan ekonomi modern juga ditandai dengan adanya penggunaan uang. Pada awal
diperkenalkannya uang sebagai alat untuk melakuakan kegiatan ekonomi, pertukaran antara
pihak yang memiliki dan membutuhakannya. Kehadiran pihak perantara, baik dalam pengertian
lembaga maupun pengertian fisik, menjadi sesuatu yang sangat penting dalam perekonomian.
Perantara ini selanjutnya lebih dikenal dengan istilah lembaga keuangan.
Pertumbuahn jumlah bank swasta yang sangat cepat mulai tahun 1980-an ternayata
membawa

perekonomianIndonesia

ke

suatu

tahapan

baru

dalam

perkembangannya.

Perkembangan yang pesat tersebut tampaknya tidak diikuti oleh perkembangan penerapan
prinsip kehati-hatian yang seimbang, bahkan istilah tersebut terdengar masih asing sebagai
bagian para banker apalagi masyarakat awam pada waktu ini. Bank for Internasioanal Sattlement
(BIS) telah lama praktik-praktik perbankan yang dianggap dapat menciptakan dunia perbankan
yang efisiensi dan efektif dalam perannya financial intermediary. Menyadari adanya prinsipprinsip yang telah dirumuskan dalam BIS dan perlunya merancang ulang sector perbankan di
Indonesia dalam jangka panjang, otoritas moneter berusaha untuk membuat Arsitektur Perbankan
Indonesia (API). Adanya API, berarti Bank Indonesia serta bertahap berkeinginan untuk
menerapkan praktik-praktik terbaik internasioanal yang tercakup dalam 25 Prinsip Pokok Basel
untuk pengawasan perbankan yang efektif. Sehingga dalam jangka waktu lima tahun ke depan
diharapkan Indonesia telah sejajar dengan Negara-negara lain yang lebih dahulu menerapakan
prinsip-prinsip tersebut.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaiaman sejarah perkembangan perbankan di Dunia?
2. Apa saja bentuk lembaga keungan?
4

3. Apa saja klasifikasi uang?


4. Apa saja syarat dan peran uang?
5. Bagimana peran bank dan lembaga keuangan bukan bank?
6. Bagimana perkembangan perbankan di Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Perbankan di Indonesia.
1. Sejarah perkembangan perbankan
Peraktek perbankan sebenarnya sudah ada sejak zaman Babilonia, Yunani dan
Romawi. Praktik-praktik perbankan saat itu sangat membantu lalu lintas perdagangan.
Pada awal peraktik perbankan pada saat itu terbatas pada tukar-menukar uang. Lamakelamaan praktik tersebut berkembang menjadi usaha menerima tabungan, menitipkan
ataupun meminjamkan uang dengan memungut bunga pinjaman.
Pada zaman Babilonia praktek perbankan didominasi dengan transaksi
peminjaman emas dan perak pada pedagang yang membutuhkan, dengan tingkat bunga
20% per bulan dan bank tersebut adalah Temples of Babylon. Praktik perbankan Yunani
yang berkembang antara lain adalah menerima simpanan dari masyarakat dan
menyalurkan pada kalangan bisnis. Pihak bank mendapat penghasilan dari menarik biaya
dari jasa penyimpan uang masyarakat dan mulai bermunculan bank-bank swasta.
Sedangkan pada masa Romawi praktik perbankan meliputi: praktik tukar-menukar uang,
menerima deposito, memberi kredit dan melakukan transfer dana.
Era perbankan modern dimulai pada abad-16 di Inggris, Belanda, dan Belgia.
Pada awalnya para tukang emas bersedia menerima uang logam (emas dan perak) untuk
disimpan dengan tanda bukti surat deposito yang disebut Goldsmiths Note. Dalam
perkembangannya Goldsmiths Note ini di gunakan sebagai alat pembayaran. Ini awal
munculnya uang kertas. Pada awal era perbankan modern, pengeturan kredit dibagi
menjadi tiga yaitu pinjaman penjualan (hasil panen dan membantu produsen), wesel
(pengiriman uang ke luar negeri) dan pinjaman laut (ditujukan untuk pembuat kapal).
Dalam perkembangannya muncul berbagi masalah antara lain pengaturan sistem
keuangan yang berkaitan dengan mekanisme penentuan volume uang yang beredar dalam
perekonomian. Untuk menghadapi permasalahan ini maka muncul beberapa paham
antara lain paham merkantilisme dan paham liberalism ekonomi. Permasalahan inilah
yang kemudian mendorong munculnya regulasi-regulasi perbankan karena memang
praktik perbankan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap volume uang.
2. Bentuk lembaga keuangan
6

Menurut Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.792 tahun


1990 tentang Lembaga Keuangan, lembaga keuangan diberikan batasan sebagai semua
badan yang kegiatannya di bidang keuangan, melakukan penghimpunan dan penyaluran
dana kepada masyarakat terutama guna membiayai investasi perusahaan. Secara umum
lembaga keuangan dikelompokan dalam dua bentuk yaitu bank dan bukan bank. Berikut
ini merupakan perbedaan kedua lembaga tersebut:
Lembaga Keuangan
Kegiatan

Penghimpun
Dana

Penyaluran
Dana

Bank

Bukan Bank

Secara langsung berupa


simpanan dana
masyarakat (tabungan,
giro, deposito)

Hanya secara tidak langsung


dari masyarakat (terutama
melalui kertas berharga, dan
bisa juga dari penyertaan,
pinjaman/kredit dari
lembaga lain)

Secara tidak langsung


dari masyarakat (kertas
berharga, penyertaan,
pinjaman/kredit dari
lembaga lain

Untuk tujuan modal


kerja, investasi, konsumsi

Terutama untuk tujuan


investasi

Kepada badan usaha dan


individu

Terutama kepada badan


usaha

Untuk jangka pendek.


Menengah dan panjang

Terutama untuk jangka


menengah dan panjang.

3. Klasifikasi uang
Pengertian uang dapat diklasifikasikan dalam dua golongan utama, yaitu:
a. Uang dalam pengertian sempit
Uang dalam pengertian sempit adalah bentuk uang yang dianggap memiliki likuiditas
paling tinggi.alam pengertian sempit Uang dalam penghitunga teoritis sering kali
diberi notasi M1. Uang yang dimasukkan dalam pengertian ini adalah
7

Uang kartal adalah uang resmi atau alat pembayaran yang sah yang
dikeluarkan oleh bank sentral atau Bank Indonesia berupa uang kertas dan
uang logam yang biasa digunakan masyarakat untuk kegiatan ekonomi seharihari.
Uang giral adalah simpanan dana masyarakat pada lembaga keuangan bank
berupa rekening giro.
b. Uang dalam pengertian luas
Uang dalam pengertian luas bisa diartikan dalam dua kelompok, yaitu:
Diberi notasi M2
Biasanya terdiri dari narrow money ditambah dengan rekening tabungan
(saving deposit) dan rekening deposito berjangka (time deposit)
Diberi notasi M3
Terdiri dari M2 ditambah dengan seluruh simpanan dana masyarakat kepada
lembaga keuangan bukan bank.
4. Syarat uang dan Peran Uang
a. Dapat diterima secara umum. Bila uang tidak diterima dan diketahui secara umum
maka tidak mungkin digunakan sebagai alat pertukaran.
b. Memiliki nilai yang stabil. Bila uang tidak memiliki nilai yang stabil, orang tidak
akan menaruh kepercayaan. Akan tetapi, dalam kenyataannya nilai uang slalu
mengalami perubahan. Meskipun demikian perlu dijaga agar perubahan tersebut tidak
besar.
c. Jumlah yang beredar harus mencukupi kebutuhan. Kekuarangan suplai uang akan
membahakan kegiatan perekonomian. Oleh kerena itu, otoritas moneter perlu
mementau perkembangan perekonomian sehingga elastisitas ketersediaan dana tetap
terjaga.
d. Mudah dibawa untuk urusan setiap hari dan justru tidak menjadi hambatan untuk
melaksanakn transaksi.
e. Tahan lama, dalam proses transaksi bisnis uang berpindah-pindah tangan maka harus
dijamin agar nilai fisiknya mampu bertahan.
Dalam perekonomian, uang memiliki beberapa peran sebagi berikut:
a. Alat tukar menukar. Sebagai alat untuk mempertemukan antara penjual dan pembeli.
8

b. Alat pengukur nilai. Digunakan sebagai alat yang dapat menunjukan nilai barang dan
jasa yang diperjual belikan, besarnya kekayaan seseorang.
c. Standar pembayaran masa depan yaitu digunakan sebagi pencicil utang.
d. Alat penimbun kekayaan atau daya beli. Karena uang dapat digunakan sebagai alat
penimbun kekayaan akibatnya akan mempengaruhi pemegangan uang oleh seseorang.
Orang mempercayai uang sebagi salah satu alat penimbun kekayaan karena
keyakinan bahwa bila uang dihunakan pada masa kini akan memiliki nilai masa kini
dan bila digunakan pada masa depan akan memiliki nilai pada masa depan.
5. Fungsi bank
a. Agen of trust (kepercayaan). Kepercayaan baik dalam hal menghimpun dana maupun
penyalur dana.
c. Agen of development (mobilisasi dana untuk pembanguann ekonomi). Kegiatan
perekonomian masyarakat di sektor moneter dan di sektor rill tidak dapat dipisahkan.
d. Agent of services (mobilisasi dana untuk pembanguann ekonomi). Di samping
melakukan kegiatan penghimpun dan penyalur dana, bank juga memberikan jasa
perbankan yang lain kepada masyarakat. Jasa tersebut antara lain berupa jasa
pengiriman uang, penitipan barang berharga, pemberian jaminan bank dan
penyelesaian tagihan.
6. Peran Bank Dan Lembaga Keuangan Bukan Bank
a. Pengalihan asset.
Bank dan lembaga keuangan bukan bank akan memberikan pinjaman kepada pihak
yang membutuhkan dana dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati.
b. Transaksi
Bank dan lembaga keuangan bukan bank memberikan berbagai kemudahan kepada
pelaku ekonomi untuk melakukan transaksi barang dan jasa. Produk-produk yang
dikeluarkan oleh bank dan lembaga keuangan bukan bank (giro, tabungan, deposito,
saham dan sebaginya) merupakan pengganti uang dan dapat digunakan sebagi alat
pembayaran.
c. Likuiditas

Produk-produk yang dikeluarkan oleh bank masing-masing memiliki tingkat


likuiditas yang berbeda-beda. Untuk kepentingan likuiditas para pemilik dana dapat
menempatkan dananya sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan.
d. Efisiensi
Bank dan lembaga keuangan bukan bank dapat menurunkan biaya transaksi dengan
jangkauan pelayanan.
7. Perkembangan perbankan di Indonesia
Kondisi dunia perbankan di Indonesiatelah mengalami banyak perubahan. Perubahan ini
selain disebabkan perkembangan internal dunia perbankan juga tidak terlebas dari
pengaruh perkembangan di luar dunia perbankan. Perkembangan faktor-faktor internal
dan eksternal perbankan tersebut menyebabkan kondisi perbankan di Indonesia secara
umum dapat dikelompokan dalam empat periode. Keempat periode itu adalah:
a. Kondisi sebelum Deregulasi
Perbankan pada masa ini sangat dipengaruhi oleh berbagai kepentingan ekonomi dan
politik dari penguasa, yang dalam hal ini adalah pemerintah. Berikut ini merupakan
fungsi utama perbankan pada masa penjajahan adalah:
1) Memobilisasikan dana dari investor untuk membiayai kebutuhan dana investasi
dan modal kerja perusahaan-perusahaan besar milik kolonial.
2) Memberikan jasa-jasa keuangan kepada perusahaan-perusahaan besar milik
kolonial, seperti giro, garansi bank, pemindahan dana dan lain-lain.
3) Membatu pemindahan dana jasa modal dari wilayah kolonial ke negara penjajah.
4) Sebagai tempat sementara dari dana hasil pemungutan pajak, baik pajak dari
perusahaan-perusahan maupun dari masyarakat pribumi, untuk kemudian dikirim
ke negara penjajah.
5) Mengadminitrasikan anggaran pemerintah untuk membiayai kegiatan pemerintah
kolonial.
Berikut ini merupakan fungsi utama perbankan pada masa setelah kemerdekaan
sampai dengan sebelum adanya deregulasi adalah:
1) Memobilisasikan dana dari investor untuk membiayai kebutuhan dana investasi
dan modal kerja perusahaan-perusahaan besar milik pemerintah dan swasta.
10

2) Memberikan jasa-jasa keuangan kepada perusahaan-perusahaan besar.


3) Mengadminitrasikan anggaran pemerintah untuk membiayai kegiatan pemerintah.
4) Meyalurkan dana anggaran untuk membiayai program dan proyek pada sektorsektor yang ingin dikembangkan pemerintah.
Dan yang selanjutnya adalah keadaan perbankan saat ini, yaitu:
1) Tidak adanya peraturan perundangan yang mengatur secara jelas tentang
perbankan di Indonesia
Hingga akhir tahun 1960-an peraturan menegenai perbankan hanya Undangundang Nomor 13 Tahun 1968. Undanng-undang tersebut tidak mengatur sejara
jelas mengenai perbankan namun, lebih cenderung memperlihatkan campur
tangan pemerintah dalam perbankan di Indonesia.
2) Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) pada bank-bank tertentu.
KLBI diberikan terutama untuk bank-bank pemerintah ini disalurkan untuk
mendanai pemberian kredit kepada debitur dan dalam hal ini bunga yang harus
dibayar oleh bank penerima KLBI relatif rendah.
3) Bank banyak menanggung program-prorogram pemerintah.
Terutam bank-bank pemerintah memperoleh berbagai macam fasilitas khusus,
bank tersebut juga harus menjalankan kegiatan perbankan yang berkaitan dengan
program atau proyek pemerintah.
4) Intrumen pasar uang yang terbatas.
Banyak bank yang menyalurkan dana atau mencari tambahan dana pada saat
kekurangan dan tidak dengan cara-cara tradisional yaitu melakukan kredit dan
simpanan masyarakat. Bank Indonesia belum secara aktif mendiskontokan
berbagai macam surat berharga jangka pendek dan pasar uang pada waktu itu juga
belum mengenal SBI, sehingga instrument pasar uang menjadi terbatas.
5) Jumlah bank swasta yang relatif sedikit.
Dari waktu ke waktu masa itu perkembangan jumlah bank swasta tidak
mengalami kenaikan. Bank-bank swasta yang ada umumnya bank-bank kecil.
Bank-bank milik pemerintah yang berupa BUMN mendominasi kegiatan
perbankan di Indonesia.
6) Sulitnya pendirian bank baru
11

Dominasi bank pemerintah yang sangat kuat dengan segala fasilitas dan
kemudahannya menyebabkan sulit sekali bagi bank swasta baru untuk masuk
dalam persaingan apalagi untuk berkembang menjadi bank yang besar.
7) Persaingan antarbank yang tidak ketat
Kemudahan-kemudahan sebuah bank banyak diterima oleh bank-bank pemerintah
pada masa itu. Kemudahan yang didapatkan dari tahap menghimpun dana sampai
dengan penyaluran dana. Hal tersebut membuat posisi bank pemerintah relatif
sangat kuat dibandingkan bank-bank swasta, sehingga iklim persaingan sama
sekali tidak muncul.

Adanya kebijakan bahwa tingkat bunga simpanan dan

pinjaman secara sepihak ditentukan oleh bank sentral semakin menyebabkan tidak
adanya iklim persaingan.
8) Posisi tawar-menawar bank relatif lebih kuat daripada nasabah
Bank seolah-olah tidak merasa membutuhkan nasabah, nasabahlah yang
membutuhkan bank. Bank tidak terlalu mememrlukan dana dari masyarakat
Karena telah memperoleh dana dengan mudah dari pemerintah dan BUMN.
9) Prosedur berhubungan dengan bank yang rumit
Karena bank merasa tidak terlalu membutuhkan nasabah, maka bank juga merasa
tidak perlu memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada nasabahnya.
Pelayanan yang diberikan cenderung rumit seperti birokrasi pemerintah dan
sebagi efek sampingannya adalah tingkat efisiensi pengelolaan dana yang rendah..
10) Bank bukan merupakan alternatif utama bagi masyarakat luas untuk menyimpan
dan meminjam dana.
Prosedur berhubungan dengan bank yang rumit dan lemahnya posisi tawarmenawar nasabah menyebabkan masyarakat kuarang tertarik untuk berhubungan
dengan baik. Masyarakat kecil lebih banyak berhubungan dengan pegadaian dan
rentenir.
11) Mobilisasi dana lewat perbankan yang sangat rendah
b. Kondisi sesudah Deregulasi
Tingkat inflasi yang tinggi serta kondisi ekonomi makro secara umum yang tidak
bagus terjadi bersamaan dengan kondisi perbankan yang tidak dapat memobilisasikan
dana dengan baik. Untuk mengatasi situsi tersebut tidak menguntungkan ini cara yang
12

ditempuh pemerintah pada waktu adalah dengan melakukan serangkaian kebijakan


berupa deregulasi di sector rill dan sektor moneter. Kebijakan deregulasi yang telah
dilakukan dan terkait dengan perbankan antara lain adalah:
1) Paket 1 Juni 1983 yang berisi tentang:
a) Penghapusan pagu kredit dan pembatasan aktiva lain sebagai instrument
pengendali Jumlah Uang Beredar (JUB)
b) Pengurangan KLBI kecuali untuk sektor-sektor tertetu.
c) Pemberian kebebasan bank untuk menetapkan suku bunga simpanan dan
pinjaman kecuali untuk sector-sektor tertentu.
2) Bank Indonesia sejak 1984 mengeluarkan SBI
3) Bank Indonesia sejak 1985 mengeluarkan ketentuan perdagangan SBPU dan
fasilitas diskonto oleh BI.
4) Paket 27 Oktober 1988 yang berisi tentang:
a) Pengerahan dana masyarakat, yang meliputi:
Kemudahan pembukaan kantor bank.
Kejelasan aturan pendirian bank swasta.
Bank dan lembaga keuangan bukan bank bisa menerbitkan sertifikat
deposito tanpa memerlukan izin.
Semua bank dapat memberikan layanan Tabanas dan tabungan lainnya.
b) Efisiensi lembaga keungan , yang meliputi:
BUMN dan BUMD bukan bank dapat menempatkan sampai dengan
50% dananya pada bank nasional mana pun.
Batas maksimum pemberian kredit (BMPK) bagi bank dan lembaga
keuangan bukan bank.
c) Pengendalian kebijakan moneter, yang meliputi:
Likuiditas wajib minimum perbankan dan lembaga keungan bukan
bank diturunkan dari 15% menjadi 2% dari jumlah dana pihak ketiga.
SBI dan SBPU yang semula berjangka waktu 7 hari sekarang ditambah
dengan berjangka waktu sampai dengan 6 bulan.
Batas maksimum pinjaman antarbank ditiadakan.
d) Pengembangan pasar modal, yang meliputi:
13

Bunga depisito berjangka dan sertifikat deposito dikenakan pajak


penghasilan sebesar 15% agar dunia perbankan mendapatkan
perlakuan yang sama dengan pasar modal.
Penangguhan pengenaan pajak penghasilan terhadap bunga tabungan.
Perluasan modal bank dan lembaga keungan bukan bank dapat
dilakukan dengan penjualan saham baru melalui pasar modal di
samping peningkatan penyertaan oleh pemegang saham.
5) Paket 20 Desember 1988 yang berisi tentang:
a) Aturan penyelenggaraan baru efek oleh swasta.
b) Alternatif sumber pembiayaan berupa sewa guna usaha, anjak piutang,
modal ventura, perdagangan surat berharga, kartu kredit dan pembiayaan
konsumen.
c) Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank dapat melakukan kegiatan
perdagangan surat berharga, kartu kredit anjak piutang dan pembiayaan
konsumen.
d) Kesempatan pendirian perusahaan asuransi kerugian, asuransi jiwa,
reasuransi, broker asuransi, adjuster asuranis dan aktuaria.
6) Paket 25 Maret 1989 yang berisi tentang:
a) Penyempurnaan paket sebelumnya.
b) Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank dapat memiliki net open
position maksimum sebesar 25% dari modal sendiri.
7) Paket 29 Januari 1990 yang berisi tentang penyempurnaan program
perkreditan kepada usaha kecil agar dilakukan secara luas oleh semua bank.
8) Paket 28 Februari 1991 yang berisi tentang penyempurnaan paket sebelumnya
menuju penyelenggaraan lembaga keungan dengan prinsip kehati-hatian,
sehinggadapat tetep mempertahankan keoercayaan masyarakat terhadap
lembaga keuangan.
9) UU Nomer 7 Tahun 1992 tentang perbankan.
10) Paket 29 Mei 1993 yang berisi tentang penyempurnaan aturan kesehatan bank
meliputi:
a) Rasio kecukupan modal
14

b) Batas maksimum pemberian kredit (BMPK)


c) Kredit Usaha Kecil (KUK)
d) Pembentukan cadangan piutang
e) Rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga.
Ciri-ciri perbankan pada masa setelah diregulasi adalah:
1) Peraturan yang memberikan kepastian hokum.
2) Jumlah bank swasta bertambah banyak.
3) Tingkat persaingan bank yang semakin kuat, karena:
a) Pemberia KLBI untuk kesulitan nonlikuiditas semakin dikurangi.
b) Bank lebih leluasa menentukan sektor-sektor yang ingin dikembangan.
c) BUMN bebas menyalurkan 50% penempatan dana ke semua bank nasional.
d) Bunga bebas ditentukan oleh masing-masing bank.
4) Sertifikat Bank Indonesia dan Surat Berharga Pasar Modal. Merupakan salah satu
sumber alternatif penghimpun dana dan penyalura dana. Hal tersebut
menyebabkan kegiatan perbankan lebih luwes terhadap perubahan situasi.
5) Kepercayaan masyarakat terhadap bank yang meningkat.
6) Mobilisasi dana melalui sektor perbankan yang semakin besar.
c. Kondisi saat krisis ekonomi mulai akhir tahun 1990-an
1) Tingkat kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri terhadap perbankan di
Indonesia menurun drastis.
2) Sebagian besar bank dalam keadaan tidak sehat.
Peraturan kesehatan bank sulit sekali untuk diterapkan dalam kondisi krisis
ekonomi ini, sebab apabila aturan diterapkan apa adanya maka sebagian besar
bank sudah tidak lagi layak untuk meneruskan kegiatan usahanya.pelanggaran
yang paling menonjol adalah tidak terpenuhinya rasio kecukupan modal dan batas
maksimum pemberian kredit.
3) Adanya spread negatif.
Kepercayaan masyarakat sangat rendah terhadap perbankan serta kebijakan uang
ketat oleh otoritas moneter melalui pernaikan suku bunga Sertifikat Bank
Indonesia (SBI) menyebabkan perbankan tidak mempunyai alternative lain umtuk
15

menghimpun dan menyalurkan dana. Konsekuensi dari kebijakan spread negative


ini adalah bank harus menanggung rugi dalam kegiatan usaha penghimpunan dan
penyaluran dananya
4) Munculnya penggunaan peraturan perundangan yang baru.
Peraturan dan perundangan baru yang ditetapkan setelah adanya krisis ekonomi
ini antara lain adalah:
a) Undang-undang Nomer 3 Tahun 2004 tentang Perubahaan atas Undangundang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia.
b) Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia.
c) Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undangundang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
d) Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/33/KEP/DIR tanggal 12 Mei 1999
tentang Bank Umum.
e) Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/34/KEP/DIR tanggal 12 Mei 1999
tentang Bank Umum Berdasarkan prinsip Syariah.
f) Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/35/KEP/DIR tanggal 12 Mei 1999
tentang Bank Perkreditan Rakyat.
g) Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/36/KEP/DIR tanggal 12 Mei 1999
tentang Bank Perkreditan Rakyat prinsip Syariah.
h) Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/37/KEP/DIR tanggal 12 Mei 1999
tentang Bank Persyaratan dan Tata Cara Pembukaan Kantor Cabang, Kator
Cabang Pembantu, dan Kantor Perwakilan dari Bank Yang Berkedudukan di
Luar Negeri.
i) Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/50/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999
tentang Persyaratan dan Tata Cara Pembelian Saham Bank Umum.
j) Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/51/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999
tentang Persyaratan dab Tata Cara Merger, Konsolidasi dan Akusisi Bank
Umum.
k) Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/52/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999
tentang Persyaratan dab Tata Cara Merger, Konsolidasi dan Akusisi Bank
Perkreditan Rakyat.
16

l) Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/53/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999


tentang Tata Cara Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank
Umum.
m) Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/53/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999
tentang Tata Cara Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank
Perkreditan Rakyat.
5) Jumlah bank menurun.
Kondisi sektor rill yang sanngat lemah, proporsi kredit bermasalah yang semakin
besar, dan likuditas yang semakin rendah menyebabkan bank makin lama makin
sulit untuk meneruskan usaha.
d. Kondisi terakhir
Tiga hal penting menandai kondisi terakhir sector perbankan di Indonesia. Ketiga hal
tersebut adalah:
1) Selesainya penyusutan Arsitektur Pernbankan Indonesia (API). Munculnya API
ini dipicu oleh adanya krisis perbankan dan krisis ekonomi yang terjadi di
Indonesia mulai tahun 1997.
2) Serangkaian rencana dan komitmen pemerintah, DPR dan Bank Indonesia untuk
membentuk atau menyusun:
a) Lembaga penjamin simpanan
b) Lembaga pengawas perbankan yang idependen
c) Otoritas jasa keuangan
3) Kinerja perbankan yang lebih menunjukan kondisi masa peralihan atau awal masa
pemulihan dari krisis ekonomi kea rah kondisi perbankan yang lebih sesuai
dengan praktik-praktik perbankan yang lebih baik. Praktik perbankan yang lebih
baik ini antara lain mengarah kepada:
a) Manajemen pengelolaan risiko yang lebih baik.
b) Struktur perbankan nasonal yang lebih baik.
c) Penerapan prinsip kehati-hatian yang konsisten.
4) Penyaluran dana masyarakat kearah yang lebih mencerminkan bank sebagai
perantara keuangan dengan tetap berlandaskan prinsip kehati-hatian.

17