Anda di halaman 1dari 9

Fiksi adalah sebuah Prosa naratif yang bersifat imajiner, meskipun imajiner sebuah karya fiksi

tetaplah masuk akal dan mengandung kebenaran yang dapat mendramatisasikan hubunganhubungan antar manusia.[1]
Kebenaran dalam sebuah dunia fiksi adalah keyakinan yang sesuai dengan pandangan pengarang
terhadap masalah hidup dan kehidupan. Kebenaran dalam karya fiksi tidak harus sejalan dengan
kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari segi hukum, moral, agama,
logika, dan sebagainya.[1] Sesuatu yang tidak mungkin terjadi bahkan dapat terjadi di dunia nyata
dan benar di dunia fiksi.[1] Misalnya seorang perempuan yang membunuh seorang laki-laki yang
memperkosanya tetapi ia dinyatakan bebas dan tidak bersalah atas kasus menghilangkannya
nyawa seseorang-menurut hukum dunia nyata ia harus tetap di hukum. [1] Sebuah karya sastra
haruslah memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik.[1]
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur
inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara
faktual akan dijumpai jika membaca sebuah karya sastra.[1] Unsur ekstrinsik ialah unsur yang
membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri, tetapi mempengaruhi bangunan atau sistem
organisme karya sastra.[1]

Daftar isi

1 Jenis karya fiksi


o 1.1 Novel
o

1.2 Cerpen

2 Genre Fiksi

3 Sejarah Perkembangan Karya Fiksi di Indonesia

4 Unsur Intrinsik
o

4.1 Tema

4.2 Tokoh dan Penokohan

4.3 Plot

4.3.1 Kaidah Plot

4.4 Latar

4.1.1 Tingkatan tema

4.4.1 Fungsi Latar

4.5 Sudut Pandang

4.6 Amanat

5 Unsur Ekstrinsik

6 Referensi

Jenis karya fiksi


Novel
Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang yang tertulis dan naratif . Umumnya sebuah novel
bercerita tentang tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan
menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut.[2] Kata novel berasal dari bahasa
Italia, novella yang berarti sebuah kisah, sepotong berita dan novel memiliki cerita yang lebih
kompleks dari cerpen.[1]

Ciri-ciri Novel :

Ciri sebuah novel adalah tidak dibaca sekali duduk, plot diarahkan pada insiden atau peristiwa
jamak,watak tokoh dikembangkan secara penuh, dimensi ruang dan waktu yang lebih meluas,
cerita lebih luas dan mencapai keutuhan secara inklusi.[3]

Cerpen
Cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktf yang cenderung padat dan langsung pada
tujuannya. Cerpen sangatlah mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema bahasa,
dan insight secara luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang.[2]

Ciri-ciri Cerpen :

Ciri sebuah cerpen dapat dibaca sekali duduk, Plot diarahkan hanya pada sebuah insiden atau
peristiwa tunggal, watak tokoh tidak dikembangkan secara penuh apabila tokoh itu baik maka
hanya kebaikan saja yang diceritakan sedangkan sifat lainya tidak, dimensi ruang dan waktu
terbatas,cerita lebih padat,memusat, dan mendalam, mencapai keutuhan secara eksklusi (terpisah
atau khusus).[3]

Genre Fiksi
Meskipun sebuah karya tergolong imajiner tetapi ia memiliki golongan yang disebut Fiksi Non
Fiksi (Nonfiction Fiction) Sebuah bentuk karya fiksi yang dasar ceritanya merupakan sebuah
fakta.[1]
Yang termaksud kedalam Fksi Non fiksi adalah :

Historical fiction, adalah fiksi yang dasar penulisannya merupakan sejarah. Novel ini
terikat oleh fakta-fakta sejarah, tetapi fiksi ini memberikan ruang gerak untuk
fiksionalitas, misalnya dengan memberitakan pikiran dan peraaan tokoh lewat

percakapan. Sebagai contoh karya fiksi adalah Bendera Hitam dari kurasan dan Tentara
Islam di Tanah Galia karya Darji Zaidan.[1]

Science fiction, adalah fiksi yang dasar penulisannya fakta ilmu pengetahuan.[1] Sebagai
contoh novel ini adalah 1984, karya George Orwell. [1]

Biographical fiction, adalah fiksi yang dasar penuliannya fiksi biografis. Karya biografis
juga memberikan ruang bagi fiksionalitas, misalnya yang berupa sikap yang diberikan
oleh penulis, di samping juga munculnya bentuk-bentuk dialog.[1] Sebagai contoh karya
biografis adalah Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams dan
Kuantar Kau ke Gerbang dan Tahta untuk Rakyat.[1]

Unsur Intrinsik
Tema
Tema adalah gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di
dalam teks sebagai struktur sematis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaanperbedaan.[2] Tema sebuah karya sastra selalu berkaitan dengan makna kehidupan.[2] Dalam
karyanya itulah pengarang menawarkan makna tertentu kehidupan, mengajak pembaca untuk
melihat, merasakan, dan menghayati makna kehidupan tersebut dengan cara memandang
permasalahan itu sebagaiman ia memandangnya.[2] Tema dibagi menjadi dua macam yakni :Tema
mayor dan Tema Minor
Tema Mayor adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar umum karya itu.[4] Sedangkan
Tema Minor adalah tema yang tidak menonjol dan hanya berupa tema tambahan semata.[4]

Tingkatan tema
1. Tema tingkat fisik, manusia sebagai molekul.[4] Tema karya sastra pada tingkat ini lebih
banyak menyaran dan atau ditunjukkan oleh banyaknya aktivitas fisik daripada kejiwaan.
[4]
Contoh karya fiksi : Around the World in Eighty Days.[2]
2. Tema tingkat organik, manusia sebagai protoplasma.[4] Tema karya sastra ini lebih banyak
menyankut dan atau mempersoalkan masalah seksualitas.[4] Contoh karya fiksi: Jalan Tak
Ada Ujung.[2]
3. Tema tingkat sosial, manusia sebagai makhluk sosial.[4] Kehidupan bermasyarakat, yang
merupakan tempat aksi-interaksinya manusia dengan sesama dan dengan lingkungan
alam, mengandung banyak permasalahan, konflik, dan lain-lain yang menjadi objek
pencarian tema.[4] Contoh karya fiksi : Para Priyayi.[2]

4. Tema tingkat egoik, manusia sebagai individu.[4] Di samping sebagai makhluk sosial,
manusia sekaligus juga sebagai makhluk individu yang senantiasa menurut pengakuan
atas hak individualitasnya.[4] Dalam kedudukannya sebagai makhluk individu, manusia
pun mempunyai banyak permasalahan dan konflik.[4] Contoh karya fiksi : Jalan Tak Ada
Ujung.[2]
5. Tema tingkat divine, manusia sebagai makhluk tingkat tinggi, yang belum tentu setiap
manusia mengalami dan atau mencapainya.[4] Masalah yang menonjol dalam tema tingkat
ini adalah masalah hubungan manusia dengan Sang Pencipta.[4] Contoh karya fiksi :
Robohnya Surau Kami.[2]

Tokoh dan Penokohan


Ilustrasi tokoh
Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. [5] Karya sastra dari segi peranan atau tingkat pentingnya
dibagi menjadi dua, yakni tokoh utama dan tokoh tambahan.[5]
Tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting.[5] dalam pengambil peranan dalam karya sastra.[5]
Sedangkan, tokoh tambahan ialah tokoh yang tidak selalu diceritakan dan terkadang juga tidak
terlalu penting , namun beberapanya ada yang memiliki hubungan dengan tokoh utama.[5]
Berdasarkan perwatakan tokoh cerita dibagi menjadi dua, yakni Tokoh datar dan Tokoh bulat.[5]
Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalnya baik saja atau buruk saja.
[5]
Jadi, seorang tokoh yang jahat akan dari awal cerita akan menjadi jahat sampai akhir cerita.[5]
Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan
kelemagannya. Jadi, ada perkembangan yang menjadi pada tokoh ini.[5]
Di lihat dari fungsi penampilan tokoh tokoh ada tokoh protagonis dan tokoh antagonis.[5]
Protagonis ialah tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra Karen sifat-sifatnya. [5]
Antagonis ialah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. [5]
Penokohan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh.[5] Ada beberapa cara menampilkan
tokoh, seperti cara analitik (menampilkan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang.[5] Jadi
pengarang meguraikan ciri-ciri tokoh secara langsung) Dan cara yang kedua adalah cara
dramatik (menampilkan ciri tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan,
perbuatan, dan komentar atau penilaian tokoh dalam sebuah cerita.[5]

Plot

Struktur Alur sebuah karya fiksi


Plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara
sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan peristiwa yang lain.[6] Sebuah
karya fiksi, harus lah memiliki sebuah sifat Plot yang misterius atau suspense, yang
menampilkan kejadian-kejadian yang mengandung konflik yang mampu menarik atau bahkan
mencekam pembaca sehingga mendorong pembaca untuk menyelesaikan sebuah novel yang
sedang dibacanya.[6]
Sebuah Plot harus memiliki :

Peristiwa

Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari satu keadaan ke keadaan yang lain. [7] Peristiwa
sendiri dbedakan menjadi tiga jenis :
1. Peristiwa Fungsional, adalah peristiwa-peristiwa yang menentukan dan atau
mempengaruhi perkembangan plot.[7]
2. Peristiwa Kaitan, adalah peristiwa-peristiwa yang berfungsi mengaikatkan peristiwaperistiwa penting dalam pengurutan penyajian cerita.[7]
3. Peristiwa Acuan, adalah peristiwa yang tidak secara langsung berpengaruh dan atau
berhubungan dengan perkembangan plot, melainkan mengacu pada unsur-unsur lain,
misalnya berhubungan dengan masalah perwatakan atau suasana yang melingkupi batin
seorang tokoh.[7]

Konflik

Konflik adalah kejadian yang tergolong penting , merupakan sebuah unsur yang sangat
diperlukan dalam pengembangkan plot.[7] Dan konflik dapat terjadi di antara:
1. orang dengan orang lain.[7] Contohnya perkelahian, perbedaan pendapat, persaingan, dll.[7]
2. orang dengan lingkungan.[7] Dapat berupa manusia berhadapan dengan kekuatan alam,

seperti gunung meletus,gempa bumi, badai, banjir, dll.[7] Dapat juga antara manusia
dengan masyakat di sekitarnya, atau bahkan dengan takdirnya.[7]
3. Orang dengan dirinya sendiri.[7]

4. Dapat berupa konflik batin, pergulatan dalam diri seseorang, bisa secara fisik, mental,

emosi, ataupun moral.[7] Misalnya, ketika seseorang dihadapkan pada dua pilihan atau
ketidakmampuan seseorang melakukan sesuatu karena kondisinya.[7]

Klimaks

Klimaks adalah saat sebuah konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat itu
merupakan sebuah yang tidak dapat dihindari.[6]

Kaidah Plot
1. Plausibilitas, menyarankan kepada hal-hal yang dapat dipercaya sesuai dengan logika
cerita kepada pembaca atau harus adanya kausalitas yang benar.[8] Ciri- ciri : tokoh-tokoh
dan dunianya dapat diimajinasikan,jika memilki kebenaran maka kebenaran hanya untuk
dirinya sendiri, adanya deus ex machine,yakni penggunaan cara-cara yang tampak
dipaksakan sehingga kurang masuk akal.[8]
2. Suspense, menyaran pada adanya perasaan semacam kurang pasti terhadap peristiwaperistiwa yang akan terjadi, khususnya yang menimpa tokoh yang menimpa tokoh yang
diberi rasa simpati oleh pembaca.[8] Sehingga, mendorong, menggelitik, dan memotivasi
pembaca utuk setia mengikuti cerita hingga akhir.[8]
3. Surprise,adalah kejutan, sesuatu yang dikisahkan atau kejadian-kejadian yang
ditampilkan menyimpang atau bahkan bertentangan dengan nilai nilai yang ada dengan
harapan pembaca memperlambat atau mempercepat klimaks.[8]
4. Kesatupaduan, seluruh aspek cerita berhubungan membentuk satu kesatuan yang utuh
dan padu, khususnya peristiwa-peristiwa fungsional, kaitan, dan acuan, yang
mengandung konflik.[8]

Latar
Ilustrasi Latar.
Latar adalah landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan
sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.[9]
Unsur-unsur latar dapat dibedakan menjadi tiga yakni : Latar Tempat, Latar Waktu, dan Latar
Sosial.[7]

Latar Tempat adalah latar yang mengacu pada tempat atau lokasi terjadinya peristiwa
yang diceritakan dalam karya fiksi.[7] Misalnya perkotaan, pedesaan, di desa, di kota, di
penjara, di rumah, dan sebagainya.[7]
Latar Waktu adalah latar yang mengacu pada waktu kapan terjadinya peristiwa yang
diceritakan dalam karya fiksi.[7] Dapat berupa jam, hari, tanggal, bulan, tahun, peristiwa
sejarah, bahkan zaman tertentu yang melatar belakanginya. [7]

Latar Sosial adalah latar yang mengacu pada kondisi sosial masyarakat yang diceritakan
dalam karya fiksi.[7] Seperti latar sosial bawah/rendah, latar sosial menengah, latar sosial
tinggi, dan sebagainya.[7]

Fungsi Latar

Latar sebagai Metafora

Penggunaan istilah metafora menyaran pada suatu perbandingan yang mungkin berupa sifat
keadaan, suasana ataupun sesuatu yang lain.[10] Secara prinsip, metafora merupakan cara
memandang sesuatu yang lain.[10] Fungsi pertama Metafora adalah menyampaikan pengertian,
dan pemahaman.[10] Metafora berkaitan erat dengan pengalaman hidup manusia baik bersifat fisik
maupun budaya, dan tentu saja antara budaya bangsa yang satu dengan yang lai pastilah bereda,
sehingga bentuk pengungkapannya akan berbeda meskipun memiliki pengertian yang sama.[10]

Latar sebagai Atmosfer

Atmosfer dalam cerita merupakan sebuah udara yang dihirup oleh pembaca ketika memasuki
dunia rekaan atau dunia fiksi. Ia merupakan sebuah deskripsi tentang kondisi dan suasana yang
dapat ditanggkap dan diimajinasikan oleh pembaca.[11] Atmosfer itu sendiri dapat ditimbulkan
dengan pendeskripsian secar detil, irama tindakan, tingkat kejelasan dan pengungkapan berbagai
peristiwa, kualitas dialog, dan bahasa yang digunakan.[11] Misalnya, deskripsi latar yang berupa
jalan beraspal yang licin, sibuk, penuh kendaraan ke sana ke mari, suara bising mesin dan
klakson, ditambah pengapnya udara bau bensin, adalah mencerminkan suasana kehidupan
perkotaan.[1]

Latar sebagai Pengedepanan

Pengedepanan elemen latar dalam fiksi dapat berupa penonjolan waktu dan dapat pula berupa
penonjolan tempat saja.[11] Dalam banyak fiksi, waktu terjadinya peristiwa atau action tertentu
adalah sangat penting, misalnya desa geger tahun Oktober 1965.[11] Karya-karya fiksi yang
mengedepankan latar ruang atau tempat biasanya diklasifikasikan sebagai contoh-contoh fiksi
yang mengangkat warna lokal atau regionalisme.[11] Pengarang-pengarang yang berasal dari etnik
tertentu sering berupaya mengamati dan menampilkan sejumlah efek sebuah latar tempat
(geografis) tertentu yang sangat bermakna, baik latar yang bersifat fisik netral maupun yang
spiritual terhadap tokoh.[11]

Sudut Pandang
Sudut Pandang merupakan cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai
sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita
dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.[9]
Sudut Pandang dibedakan menjadi dua jenis, yakni :

Sudut pandang orang pertama

Sebuah cerita disampaikan oleh seorang tokoh dalam cerita maka cerita disampaikan oleh
aku/saya.[7]
1. jika si tokoh tersebut adalah tokoh utama, maka sudut pandangnya adalah orang pertama
protagonis.[7]
2. jika si tokoh tersebut adalah bukan tokoh utama, maka sudut pandangnya adalah orang
pertama pengamat (observer).[7]

Sudut pandang orang ketiga

Cerita disampaikan bukan oleh tokoh yang ada dalam cerita, tetapi oleh penulis yang berada di
luar cerita. Tokoh cerita disebut sebagai dia/ia.[7]
1. jika narator cerita menyampaikan pemikiran tokoh, maka sudut pandang cerita adalah
third person omniscient/all knowing narrator (orang ketiga yang tahu segalanya).[7]
2. jika narator hanya menceritakan/memberikan informasi sebatas yang bisa dilihat atau
didengar (tidak mengungkapkan pemikiran), maka sudut pandang cerita adalah third
person dramatic narrator.[7]

Amanat
Amanat atau moral ialah pemecahan yang diberikan pengarang terhadap persoalan di dalam
sebuah karya sastra.[2] Amanat dibedakan menjadi makna niatan dan makna muatan.[2] Makna
niatan ialah makna yang diniatkan oleh pengarang bagi karya yang ditulisnya.[2] Makna muatan
ialah makna yang termuat dalam karya sastra tsb.[2]

Bentuk penyampaian moral

Langsung, yakni seorang pengarang menyampaikan pesan moral secara eksplisit dan seorang
pembaca dapat dengan mudah memahami apa yang dimaksudkan pengarang.[1] Tetapi, hal ini
hanyalah berlaku bagi pembaca pasif bukan pembaca aktif/kritis.[1] Karena seorang pembaca
yang aktif/kritis mungkin akan menolak sebuah pesan moral yang dianggap benar oleh
pengarang.[1]
Tidak Langsung, seorang pengarang akan menyampaikan pesan mora secara inplisit, terpadu
secara keherensif dengan unsur-unsur cerita yang lain maka adanya kemungkinan perbedaan
penafsiran antar pembaca sangatlah mungkin.[1] Tetapi karya yang seperti inilah yang
menyebabkan karya sastra tidak dianggap ketinggalan, melewati batas waktu, dan kebangsaan.[1]
Contoh : Hamlet.[1]

Unsur Ekstrinsik
Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh otonom, tetapi selalu pasti berhubungan secara
ekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra,
kebudayaan lingkungan pembaca sastra, serta kejiwaan mereka. Dengan demikian, dapat

dinyatakan bahwa unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu
sendiri, tetapi mempengaruhi bangunan atau system organisme karya sastra.[1] Unsur-unsur yang
dimaksud antara lain adalah keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap,
keyakinan, dan pandangan hidup yang kesemuanya itu akan mempengaruhi karya yang
ditulisnya, unsur berikutnya adalah psikologi, baik yang berupa psikologi pengarang seperti
ekonomi,politik, dan social juga akan mempengaruhi karya sastra.[1] Pandangan hidup suatu
bangsa, berbagai karya seni yang lain, dan sebagainya.[1]