Anda di halaman 1dari 10

TUGAS MAKALAH

DISUSUN OLEH:
Putri istakhulilah nuraini

21401013040

Lailatul fitriyah

21401013069

Siti Rukmiyati

21401013042

Fajar arafah kampoh

21401013055

KATA PENGANTAR

Dengan Mengucapkan Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala bimbingan
dan kehendaknya kami telah dapat menyelesaikan makalah ini. Meskipun banyak sekali kekurangan
dan ksalahan didalamnya, namun kami berharap bisa memberikan sedikit pengetahuan tentang hal
yang kami tulis ini.
Dalam penulisan makalah ini tidak terlepas dari petunjuk dan bimbingan serta masukan dari
semua pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih kepada Bapak Drs.H. Murtadlo A,
M.Hi, selaku dosen mata kuliah ini yang telah membantu dan dan memberi pengarahan kepada kami
dalam belajar dan mengerjakan tugas. Makalah ini di susun berdasarkan tugas agama islam. Hikmah
Beriman Kepada Rasul Allah merupakan judul yang kami berikan untuk makalah ini. Tujuan
disusunnya makalah ini adalah untuk memahami aspek pendidikan agama islam. Makalah ini berisi
tentang Hikmah Iman kepada Rasul Allah, dimana didalamnya menerangkan bagaimana seharusnya
kita mengimani keberadaan Rasul-Rasul Allah. Maka dengan makalah ini, semoga kita semua akan
menjadi lebih mengetahui dan lebih memperkuat iman kita terhadap keberadaan Rasul-Rasul Allah.
Dan harapan kami generasi muda bangsa mampu menjadi islam yang sesungguhnya, beriman kepada
Allah SWT dan bermanfaat bagi masyarakat.
Kami selaku penyusun telah berusaha sebaik mungkin untuk menyempurnakan makalah ini,
namun tidak mustahil apabila terdapat kekurangan maupun kesalahan. Oleh karena itu, kami mohon
saran dan komentar yang dapat kami jadikan motivasi untuk menyempunakan pedoman dimasa yang
akan datang. Kami mohon maaf apabila ada kekurangan dan kesalahan dalam makalah ini. Tiada
gading yang tak retak, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

Malang, 28 November 2014

Penulis

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang

1.2 Rumusan masalah

1.3 Tujuan

BAB 11 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Iman Kepada Rasul Allah

2.2 Hikmah Beriman Kepada Rasul Allah

2.3 Aktualisai diri dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan

BAB 111 PENUTUP


3.1 Kesimpulan

3.2 Kritik dan Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Iman kepada Rasul-Rasul Allah merupakan suatu kewajiban, karena iman kepada RasulRasul Allah merupakan rukun iman, yaitu yang ke 4. Iman kepada Rasul artinya mempercayai
sepenuh hati atas kedatangan Rasul, mulai dari yang pertama yaitu Nabi Adam as hingga yang
terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW.
Ajaran yang dibawa oleh para Rasul-Rasul Allah merupakan suatu rangkaian yang
memilki satu tujuan yaitu untuk menyampaikan wahyu Allah SWT berupa syariat atau hukum
tertentu yang kemudian disampaikan atau diajarkan kepada umatnya. Oleh karena itu kita sebagai
seorang muslim wajib beriman atu mempercayai kepada para Rasul utusan Allah tersebut.
dengan berpegang hidup pada Allah dan sunah Rasul, maka kita akan hidup bahagia di dunia
maupun di akhirat.
Namun, didalam kehidupan sehari-hari terkadang kita hanya mengetahui tentang
pengertiannya saja itupun hanya terbatas, tanpa megetahui akan pemahamannya lebih dalam dan
penerapannya di dalam kehidupan yang kita jalani atau di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh
karena itu kita wajib mempelajari, memahami dan menerapkannya di dalam kehidupan seharihari, tentu akan jauh lebih bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat kita.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Pengertian iman kepada Rasul Allah
2. Hikmah beriman kepada Rasul Allah
3. Aktualisasi Diri Dalam Meningkatkan Keimanan Dan Ketaqwaan dalam kehidupan seharihari
1.3 Tujuan
Makalah ini ditulis dengan tujuan untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut:
1.Untuk mengetahui pengertian iman kepada Rasul Allah
2. Untuk mengetahui hikmah beriman kepada Rasul Allah
3. Untuk mengetahui aktualisasi diri dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dalam
kehidupan sehari-hari

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian hikmah beriman kepada Rasul Allah
Kata Rasul berasal dari yang artinya utusan. Rasul Allah adalah berarti utusan Allah
swt. Iman kepada Rasul Allah artinya mempercayai bahwa Rasul Allah itu adlah orang yang
diutus oleh Allah untuk menyampaikan ajaran dari Allah yang berupa wahyu kepada umatnya
untuk dijadikan pedoman hidup untuk kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.



Artinya: Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman ketika
Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka itu sendiri, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan
kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu,
mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.(Q.S. Ali Imran: 164)
Bagi setiap muslim wajib mengimani rasul-rasul Allah. Apabila seseorang tidak
mengimani adanya Rasul Allah maka iman seseorang itu tidak sempurna. Para rasul itu manusia
pilihan Allah, berkualitas tinggi serta berakhlak mulia. Dia diberi wahyu oleh Allah untuk
disampaikan kepada umat manusia. Sebagai penuntun jalan yang benar untuk mencapai jalan
kebenaran untuk hidup di dunia maupun di akhirat. Sebagai wujud keimanan kepada para Rasul
adalah mengimani, mengikuti, dan melaksanakan perintahnya serta menjauhi larangannya.
Seorang muslim wajib beriman kepada seluruh Nabi dan Rasul yang telah diutus oleh
Allah SWT, baik yang disebutkan namanya maupun tidak disebutkan namanya. Bagi yang tidak
disebutkan namanya kita wajib beriman secara ijmal saja, sedangkan bagi yang disebutkan
namanya kita wajib beriman secara tafshil. Seorang muslim wajib membenarkan semua Rasul
dengan sifat-sifat, kelebihan dan keistimewaan satu sama lain, tugas dan mukjizat masing-masing
seperti yang dijelaskan oleh Allah swt dan Rasul-Nya didalam Al-quran dan sunah Rasul. Tidak
sah iman seseorang yang menolak walau hanya satu orang Nabi atau Rasul dari seluruh Nabi dan
Rasul-Rasul yang diutus oleh Allah SWT.
Para rasul pada intinya adalah bertugas untuk menyampaikan amanah dari Allah untuk
menegakkan kenaran dan menjauhkan manusia dari kebodohan dan kesesatan. Secara rinci
tentang fungsi para Rasul yaitu sebagai berikut:

a. Menyerukan kepada tiap umat agar menyembah hanya kepada Allah


b. Memberi peringatan yang jelas
c. Menyuruh menyembah kepada Allah agar menjadi taqwa
d. Membawa berita gembira dan peringatan
e. Mengnjurkan manusia agar beriman kepada Allah
f. Membacakan ayat-ayat Allah sebelum diturunkan azabnya
2.2 Hikmah beriman kepada Rasul Allah
Beriman kepada Rasul Allah memilki hikmah yang sangat baik bagi kehidupan kita, baik
dalam kehidupan secara pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Adpun hikmahhikmah beriman dengan kita beriman kepada Rasul Allah, antara lain:
1.) Dengan berman kepada Rasul kita memiliki seorang teladan yang baik. Rasul merupakan suri
tauladan yang baik bagi umat manusia.
2.) Dengan beriman kepada Rasul Allah kita mendapat bimbingan dalam kehidupan, baik dalam
kehidupan umat manusia secara pribadi, dalam keluarga maupun dalam masyarakat luas.
3.) Dengan beriman kepada Rasul Allah kita dapat mengetahui dan mencontoh tentang cara
membentuk masyarakat yang adil, makmur, dan saling menghormati. Semua manusia pasti
mengharapkan kehidupan masyrakat yang adil, makmur, dan saling menghormati, hal ini
telah dicontohkan oleh Rasulullah saw, ketika membina masyarakat yang damai walaupun
berbeda suku dan agama.
4.) Dengan beriman kepada Rasul Allah kita memiliki petunjuk dalam rangka meraih
kebahagiaan, baik ketika di dunia maupun di akhirat kelak. Manusia yang cenderung
mengedepankan kekuatan akalnya maka kehidupan setelah mati tidak mampu menjamahnya
sehingga kedatangan sehingga kedatangan Rasul-Rasul Allah menjelaskan tentang hal
tersebut.
Nilai-nilai yang harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai baerikut:
a. Istiqamah dalam menjalankan syariat islam
b. tabah dan sabar dalam menghadapi musibah
c. selalu optimis dan tidak pernah putus asa
d. selalu melaksanakan ibadah sunah
e. meyakini isi kitab-kitab yang dibawa oleh para Rasul
f. menjadikan Rasul sebagai suri tauladan yang baik
h. toleransi dalam kehidupan beragama, terhadap orang yang berbeda agama dengan kita
3

i. berusaha menjadi seseorang yang memiliki sifat seperti Rasul, yaitu sidik, amanah, taligh, dan
fathanah.
Meneladani sifat-sifat Rasulullah SAW
1. Meneladani sifat Siddiq
Untuk meneladani sifat siddiq, dalam khidupan sehari-hari dapat diusahakan dengan cara
selalu berkata benar, tidak berbohong dalam berbicara dengan siapa pun. Benar dalam hati,
ucapan dan tindakan. Rasulllah saw, selama hidupnya tidak pernah berbohong, baik terhadap
para sahabatnya maupun terhadap musuhnya.
2. Meneladani sifat Amanah
Amanah artinya dapat dipercaya. Apabila kamu dapat dipercaya dalam melakukan sesuatu
sebaiknya dapat dipercaya, sehingga tugas apa pun selalu dikerjakan dengan baik dan benar.
3. Meneladani sifat tablig
Menyampaikan sesuatu yang benar kepada sesama manusia termasuk salah satu upaya untuk
meneladani sifat tablig. Menyampaikan kebenaran dan mencegah kemaksiatan yang
dilakukan orang lain biasanya mengandung resiko. Keberanian melakukan perbuatan ini
merupakan salah satu perbuatan yang mulia. Hal ini pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad
saw, ketika berdakwah. Beliau seringkali disambut dengan sebuah hinaan, bahkan lemparan
batu dan kotoran unta. Ini semua dilakukan semata-mata karena perintah Allah swt.
4. Meneladani sifat fathanah
Fathanah artinya cerdas. Kecerdasan merupakan anugerah Allah yang diberikan kepada
manusia, tetapi tidak merata. Ada yang cerdas dan ada pula yang tidak cerdas. Dalam
meneladani sifat ini dapat dilakukan dengan cara bersungguh-sungguh dalam belajar atau
menuntut ilmu.
2.3 Aktualisasi diri dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dalam kehidupan seharihari
Dalam kehidupannya, manusia tidak akan pernah bisa lepas untuk mencari nilai-nilai
kebenaran yang sebenarnya karena kesehariannya manusia dihadapkan berbagai macam
persoalan yang membutuhkan penyelesaian. Dengan perkembangan iptek yang pesat ini
persoalan hidup menjadi lebih komleks dan manusia pun semakin sulit mengatasi persoalan
hidupnya. Di saat kita tidak bisa menyelesaikan atau mengatasi persoalan hidup sebagai makhluk
yang syarat dengan kelemahan dan kekurangan serta keterbatasan otak kita dalam berfikir jauh
kedepan, pasti lebih memilih lari dari masalah tersebut dan melakukan hal-hal yang
4

menyimpang. Seperti minum-minuman keras, narkoba, dan lain-lain. Dan bahkan tidak sedikit
dari mereka yang melakukan bunuh diri gara-gara tidak bisa mengatasi persoalan kehidupan
yang sedang dihadapinya.
Di sinilah iman dan taqwa itu mengambil perannya sebagai jalan keluar atau solusi untuk
menyelesaikan masalah kehidupan tersebut. ketika seseorang telah bisa memahami dan
menerapkan konsep dari iman dan taqwa kedalam kehidupannya, maka ia dapat menyelesaikan
permasalahan hidupnya. Jadi, iman dan taqwa itu sangat penting bagi manusia, khususnya bagi
kita pemeluk agama islam. Agar selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan menjadikan
hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa. Dengan begitu, konsep iman dan taqwa itu perlu untuk
di pelajari dan dipahami.
Iman atau kepercayaan merupakan dasar utama seseorang dalam memeluk suatu agama
karena dengan keyakinan dapat membuat orang untuk melakukan apa yang diperintahkan dan
apa yang dilarang oleh keyakinannya tersebut atau dengan kata lain iman dapat membentuk
orang jadi bertaqwa. Pada prinsipnya, iman adalah syarat sedangkan taqwa adalah tujuan.
Kedudukan iman sebagai syarat menunjukkan bahwa kewajiban melaksanakan ibadah puasa
hanya dapat disahuti melalui wadah keimanan ini. Oleh karena itu, melalui wadah iman ini
pulalah maka tujuan dari puasa yaitu menuju jenjang taqwa sangat mudah direalisasikan. Iman
dan taqwa merupakan dua sisi mata uang yang sangat sulit untuk dipisahkan dan bahkan keduaduanya saling membutuhkan. Dengan kata lain, jenjang taqwa tidak akan pernah terwujud bila
tidak diawali dengan keimanan. Dan keimanan itu sendiri tidak akan memiliki nilai apapun bila
tidak sampai kederajat ketaqwaan.
Perpaduan antara iman dan taqwa inilah kemuliaan sebagaimana yang telah dijelaskan
dalam Al-quran. Oleh karena itu, Al-quran dengan tegas menyebutkan bahwa manusia yang
paling mulia di sisi Allah adalah orang-orang yang paling taqwa. Predikat kemuliaan ini sangat
ditentukan oleh kualitas taqwa, semakin tinggi tingkat ketaqwaan seseorang, maka semakin
mulia pula kedudukannya pada pandangan Allah. Perpaduan antara iman dan taqwa ini tidak
akan terjadi secara otomatis karena iman memiliki persyaratan untuk menuju nilai
kesempurnaannya. Persyaratan ini dapat dilihat melalui aturan-aturan yang diberlakukan kepada
iman yaitu memadukan keyakinan dengan perbuatan. Tanpa melakukan perpaduan ini maka
iman akan selalu bersifat statis karena berada pada tataran ikrar tidak pada tataran aplikasi.
Adapun yang dimaksud dengan taqwa adalah kemampuan diri menjaga perpaduan ini secara
kontinyu sesuai makna dasar, dari kata taqwa itu sendiri yaitu menjaga. Dengan demikian,
maka sifat taqwa merupakan benteng untuk menjaga aturan-aturan Allah SWT supaya posisi
iman tidak lagi berada dalam kelabilan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Agama islam bukanlah hambatan untuk perkembangan iptek tapi justru agama islam bisa
lebih mengembangkan dan memperbaiki iptek itu. Dan dengan adanya agama islam
permasalahan-permasahan yang muncul seiring dengan perkembangan iptek ini dapat diatasi atau
diselesaikan. Dengan cara tetap menerapkan konsep iman dan taqwa tersebut dalam kehidupan
kita, dengan begiu kemajuan iptek tidak membuat kemerosotan moral pada diri manusia.
Dengan adanya hubungan yang dinamis antara agama dan modernitas, maka diperlukan
upaya untuk menyeimbangkan pemahaman orang terhadap agama dan modernitas. Pemahaman
orang terhadap agama akan melahirkan sikap keimananan dan ketaqwaan (Imtaq), sedang
penguasaan orang terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) di era modernisasi dan
industrialisasi mutlak diperlukan. Dengan demikian sesungguhnya yang diperlukan di era
modern ini tidak lain adalah penguasaan terhadap Imtaq dan Iptek sekaligus. Salah satu usaha
untuk merealisasikan pemahaman Imtaq dan penguasaan Iptek sekaligus adalah melalui jalur
pendidikan. Dalam konteks inilah pendidikan sebagai sebuah sistem harus didesain sedemikian
rupa guna memproduk manusia yang seutuhnya. Yakni manusia yang tidak hanya menguasai
Iptek melainkan juga mampu memahami ajaran agama sekaligus mengimplementasikan dalam
kehidupan sehari-hari.

3.2 Saran
Pada dasarnya dalam kehidupan modern, kita sebagai manusia tidak bisa terlepas dari
iman dan taqwa. Dengan iman dan taqwa, kita dapat mencegah dan menyelamatkan diri dari halhal yang menyesatkan atau dari segala sesuatu yang tidak baik.

DAFTAR PUSTAKA

Sayid sabiq. Aqidah Islam. Bandung. C.V.diponegoro. 1982


Thahir. Jawahirul Kalam. Surabaya. Al-Miftah.2011
Alq-uran Alkarim Mushaf Usman