Anda di halaman 1dari 17

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

Uji Impak

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Banyak industri yang menggunakan logam sebagai bahan baku untuk
membuat produknya, seperti industri yang membuat kapal, industri ini harus
tahu sifat dari material yang akan dijadikan sebagai bahan pembuat kapal. Hal
yang paling dipertimbangkan adalah apakah material tersebut bersifat getas
atau tidak. Bila material yang bersifat getas dijadikan sebagai bahan pembuat
kapal, maka pada suhu tertentu jika kapal tersebut terkena pembebanan secara
tiba-tiba, maka kapal tersebut akan patah atau rusak dan begitu pun pada
benda atau produk yang lainnya. Perubahan suhu mempengaruhi sifat
material, dari meterial ulet menjadi getas atau sebaliknya, oleh sebab itu maka
dilakukan pengujian impack, dengan tujuan mengetahui harga impack material
yang berhubungan dengan ketangguhan material dalam temperatur yang
berbeda-beda.
1.2 Tujuan
a. Mahasiswa mampu menentukan energi dan harga impak bahan.
b. Mahasiswa mampu membedakan material ulet dan material getas dari
hasil uji impak.

1.3 Manfaat
Manfaat praktikum ini adalah untuk mengetahui sifat mekanik dari material
yang tepat dalam sebuah perancangan dan untuk mengetahui hal-hal yang
mempengaruhi harga impak dari sebuah material serta mengetahui sifat
ketangguhan suatu material, sehingga dapat menggunakan material yang tepat
dalam merancang sebuah komponen atau produk.

Kelompok 7

43

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

Uji Impak

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Uji Impak


Uji impak merupakan

salah satu jenis pengujian yang dilakukan untuk

mengetahui kekuatan dan ketangguhan material terhadap pembebanan yang


diberikan secara tiba-tiba. Spesimen yang digunakan dalam uji impak ini
memiliki ukuran dan bentuk standar, yaitu seperti yang terlihat pada gambar
berikut:

Gambar C.2.1 Spesimen Uji Impak

2.2 Metode Pegujian Impak


Metode pengujian impak terbagi atas :
1. Metode izod
Metode izod ini dilakukan dengan cara meletakkan spesimen dalam
posisi vertikal dan pembebanan dilakukan dari arah depan takikan
seperti yang terlihat pada gambar.

Gambar C.2.2 Skema Standar Pengujian Metode Izod

Kelompok 7

44

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

Uji Impak

2. Metode Charpy
Pembebanan yang dilakukan pada metode charpy ini dilakukan dari
belakang takikan dengan posisi spesimen pada alat uji adalah
horizontal seperti yang terlihat pada gambar.

Gambar C.2.3 Skema Standar Pengujian Metode Charpy

2.3 Penurunan Rumus EI Dan HI


Parameter yang diperoleh dari alat uji impak adalah Energi impak yakni besar
energi yang diserap untuk mematahkan benda kerja (spesimen). Harga impak
adalah energi impak tiap satuan luas penampang di daerah takikan.
Berdasarkan keterangan gambar berikut ini dapat diturunkan rumus untuk
mendapatkan nilai EI, sehingga nilai HI juga dapat dihitung.

-90

h1

L
h2

Gambar C.2.4 Mekanisme Uji Impak

Kelompok 7

45

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

Uji Impak

Turunan Rumus HI berdasarkan gambar diatas adalah:


x

= F . sin ( 90o)
= r . sin (-cos )

=r

h1 = y + x
= r + r . (-cos )
= r (1 cos )

cos

= r. cos

= L + h2

h2

=rL

= r r . cos
= r (1 cos )
Pada uji impak ini berlaku hukum kekelan energi, sehingga:
Em1

= Em2

Ep1 + Ek1 = Ep2 + Ek2 + EI


Mgh1 + mv2
EI

= mgh2 + mv2 + EI
= mgh1 mgh2
= mg (h1 h2)
= mg ( r (1-cos )) (r (1-cos ))
= mgr (cos - cos )

Jadi, berdasarkan turunan rumus diatas, didapatkan persamaan berikut:


= (cos cos )
=

Kelompok 7

46

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

Uji Impak

Ket: HI

= Harga Impak

EI

= Energi Impak

= Sudut yang dibentuk saat Hammer dijatuhkan

= Sudut yang dibentuk saat Hammer telah mematahkan spesimen

= Luas penampang specimen

2.4 Temperatur Transisi


Temperatur transisi adalah temperatur yang menyebabkan perubahan sifat
mekanik pada material. Grafik dari temperature transisi dapat dilihat pada
gambar 2.10.

Gambar C.2.5 Perbandingan Harga Impak Kelompok Material

Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa Harga Impak material FCC dan HCP
tidak terpengaruh oleh temperatur. Begitu juga dengan material yang sangat
keras dang getas, tidak terpengaruh oleh temperatur. Material yang dapat
berubah dari ulet menjadi getas adalah saat terjadi perubahan temperatur
adalah material BCC.

Kelompok 7

47

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

Uji Impak

2.5 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi HI


Adapun yang mempengaruhi Harga Impak suatu material adalah sebagai
berikut:
1. Bentuk takikan
Dalam percobaan uji impak ini, terdapat 4 jenis takikan yang umum
digunakan, yaitu:
a. Takikan-V

Gambar C.2.6 Takikan V

b. Takikan-U

Gambar C.2.7 Takikan U

c. Takikan-I

Gambar C.2.8 Takikan I

d. Takikan-Keyhole

Gambar C.2.9 Takikan Keyhole

Dari keempat jenis takikan diatas, takikan V memiliki HI terkecil, karena


spesimen yang menggunakan takikan ini lebih mudah dipatahkan dari 3
jenis takikan yang lain.

Kelompok 7

48

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

Uji Impak

2. Kecepatan pembebanan
Semakin cepat hammer diayunkan, maka semakin kecil pula energi yang
dibutuhkan untuk mematahkan spesimen, sehingga harga impak juga
semakin kecil.
3. Temperatur
Pengaruh temperatur terhadap harga impak baja dapat dilihat pada gambar
berikut.

Gambar C.2.10 Temperatur dependence of the Charpy V-notch impact energi


(curve A) and percent shear fracture (curve B) for an A283
steel.

Dari grafik di bawah dapat dilihat bahwa material ulet akan berubah
menjadi getas pada temeperatur rendah. Namun untuk beberapa jenis
material, memiliki rentangan temperatur untuk berubah dari ulet menjadi
getas.
4. Kadar Karbon
Kadar karbon mempengaruhi Harga Impak material karena semakin keras
material, maka semakin getas pula material tersebut, sehingga Harga
Impaknya akan semakin kecil. Berikut ini bagan perbandingan Harga
Impak Material untuk Komposisi karbon yang berbeda pada berbagai
temperatur.

Kelompok 7

49

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

Uji Impak

Gambar C.2.11 Pengaruh kadar karbon terhadap Energi Impak Material

2.6 Klasifikasi Pembebanan


Pembagian pembebanan terbagi atas :
a. Pembebanan Statis
Pengujian dengan pembebanan statis adalah pengujian yang dilakukan
dengan memberikan beban yang konstan setiap perubahan waktu
kepada suatu material. Jadi, berapapun lamanya pengujian, jumlah
beban yang diberikan pada material itu adalah sama. Contoh : uji tarik,
uji keras, uji tekan, uji puntir, dan uji lentur.
b. Pembebanan Dinamis
Pengujian dengan pembebanan dinamis adalah pengujian yang
dilakukan dengan memberikan beban yang berbeda setiap perubahan
waktu kepada suatu material. Jadi, setiap perubahan waktu yang
terjadi, beban yang diberikan kepada material haruslah berbeda.
Contoh : Uji lelah.
c. Pembebanan Impak
Pengujian dengan pembebanan impak adalah pengujian yang
dilakukan dengan memberikan beban secara tibatiba atau beban kejut

Kelompok 7

50

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

Uji Impak

kepada suatu material. Jadi waktu yang dibutuhkan untuk pembebanan


ini sangat sedikit sekali. Contoh : uji impak.

Gambar C.2.12 Pengujian Berdasarkan Pembebanan

Bentuk patahan yang mungkin terjadi ada 2 jenis patahan yaitu patah getas dan
patah ulet. Adapun ciri-ciri dari masing-masing patahan ini adalah sebagai
berikut:
1. Patah Getas:
- Energi impak kecil
- Temperatur rendah
- Bekas patahan datar dan mengkilap
- Terjadi pada batas butir
2.

Patah Ulet:
- Energi impak besar
- Temperatur Tinggi
- Bekas patahan berserabut
- Terjadi pada butir

Gambar C.2.13 Bentuk Patahan Baja A36 pada berbagai temperatur

Kelompok 7

51

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

Uji Impak

BAB III
METODOLOGI
3.1

Peralatan
Adapun peralatan yang digunakan dalam uji impak ini adalah sebagai
berikut:
1. Alat uji impak ( Charpy Testing Machine )
2. Spesimen

3.2

Skema Alat

Gambar 3.1 Skema Alat Uji Impak

Kelompok 7

52

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

3.3

Uji Impak

Prosedur Pengujian
1. Pengukuran harga impak dilakukan atas batang uji.
2. Spesimen dengan ukuran-ukuran standar yang telah diberi takikan
(notch).
3. Pengujian impak dilakukan menurut metode charpy.
4. Lakukan pengujian untuk temperatur spesimen yang berbeda

Kelompok 7

53

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

Uji Impak

BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil Percobaan
Tabel .1 Data uji metode charpy
Temperatur
penyiapan
spesimen

Material

Aluminium
Baja

Spesimen
Lebar (w)
9,8
10
12
11,5

T1
T2
T1
T2

Tebal (t)
6,3
8,66
7,6
9,6

Sudut
setelah uji
()
134o
130o
134o
114o

4.2 Perhitungan
EI = m.g.r(cos cos )
A = l.h
HI =

Baja
a. Suhu kamar
EI

= m.g.r (cos cos )


= 26,63 kg 9,81 m/s2 0,634 m ( cos 79 cos 141 )
= 165,56 J ( 0,96 )
= 160,25 J

HI

=
=

160,25 J
7,6 103

103

= 1,75 106 joule/m2


b. Nitrogen Cair
EI

= m.g.r(cos cos )
= 26,62 kg 9,81 m/s2 0,634 m ( cos 66 cos 141 )
= 165,56 J ( 1,18 )

Kelompok 7

54

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

Uji Impak

= 196 J
HI

196 J
11,5 103 9,6 103

= 1,77 106 joule/m2

Alumunium
a. Suhu kamar
EI

= m.g.r(cos cos )
= 26,63 kg 9,81 m/s2 0,634 m ( cos 136,5 cos 141 )
= 165,56 J ( 0,051)
= 8,443 J

HI

=
=

8,443 J
9,8 103 6,3 103

= 0,13 106 joule/m2

b. Nitrogen Cair
EI

= m.g.r(cos cos )
= 26,63 kg 9,81 m/s2 0,634 m ( cos 126 cos 141 )
= 165,56 J ( 0,189 )
= 31,3 J

HI

10

103

31,3 J
8,66 103

= 0,36 106 joule/m2

Kelompok 7

55

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

Uji Impak

4.3 Tabel Hasil Perhitungan


Rekapitulasi hasil perhitungan yang telah dilakukan diatas dapat dilihat pada
tabel D.4.2 dibawah ini.
Tabel 4.2 Rekapitulasi Hasil Perhitungan
Temperatur
penyiapan
spesimen
T1
Aluminium
T2
T1
Baja
T2
Material

Spesimen
Lebar
Tebal
(w)
(t)
9,8
6,3
10
8,66
12
7,6
11,5
9,6

Sudut
setelah
uji ()
8,44 o
31,3 o
79o
66o

Energi
impak
(EI)
8,44
31,3
160,2
196

Harga
impak
(HI)
0,13 106
0,36 106
1,75 106
6
1,72 10

4.4 GRAFIK
20
18

17.5

17.2

16
14
12
BAJA

10

ALUMINIUM

8
6
3.6

4
2

1.3

0
T.KAMAR

T.NITROGEN

4.5 Analisa
Percobaan uji impak dilakukan untuk mengetahui kemampuan material
untuk menahan pembebanan yang diberikan secara tiba-tiba. Percobaan kali
ini menggunakan 2 spesimen, yaitu baja dan alumunium dengan takikan I.
Penggunaan kedua material ini bermaksud agar praktikan mampu
membandingkan pengaruh sifat mekanik terhadap HI. Berdasarkan teori,

Kelompok 7

56

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

Uji Impak

material BCC bersifat lebih getas daripada material FCC. Material dengan
sel satuan BCC yang digunakan dalam percobaan ini adalah baja, dan
material FCC yang digunakan adalah alumunium. Faktor lain yang
mempengaruhi HI sebuah material adalah temperatur spesimen. Untuk
mengetahui keterkaitan suhu terhadap HI material, maka untuk setiap
spesimen digunakan 2 variasi temperatur, yaitu:
1. Suhu kamar
2. Nitrogen
HI yang didapat dari hasil percobaan untuk setiap temperatur tidak sesuai
dengan teori yang ada. Material baja memiliki HI terkecil pada kondisi suhu
kamar yang memiliki suhu tertinggi, hal ini tidak sesuai dengan teori, yaitu
material akan bersifat getas pada suhu rendah, namun untuk HI terbesar juga
tidak sesuai dengan teori, seharusnya HI terbesar pada temperatur tinggi,
karena pada temperatur tinggi material bersifat ulet. Untuk material
alumunium, HI terbesar yang didapatkan pada temperatur terendah yaitu
pada saat diberi nitrogen cair, namun HI terkecil alumunium berada pada
suhu Nitrogen.
Bentuk patahan yang terjadi pada baja seharusnya adalah patah getas pada
temperatur rendah namun bekas patahannya masih terlihat berserabut, dan
berubah menjadi patah ulet pada temperatur tinggi. Namun pada spesimen
alumunium, patahan yang terjadi adalah patah ulet, hal ini sesuai dengan
teori, bahwa temperatur pada material FCC tidak terlalu berpengaruh pada
HI.
Ketidak sesuaian data hasil praktikum dan yang seharusnya berdasarkan
teori adalah sebagai berikut:
1.

Perubahan suhu
Saat melakukan pengukuran atau meletakkan spesimen pada alat uji,
terjadi transformasi atau perpindahan kalor antara spesimen dan tubuh
manusia. Hal ini mengakibatkan temperatur yang terukur sebelumnya
berubah, sehingga mempengaruhi perhitungan.

Kelompok 7

57

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

Uji Impak

2. Kesalahan pembacaan skala


Kesalahan dapat terjadi saat skala atau jarum penunjuk alat uji belum
dikalibrasi dengan baik oleh pengukur, sehingga data yang didapat
menjadi tidak akurat.
3. Posisi spesimen
Kesalahan lain yang mungkin terjadi adalah pada saat meletakkan
spesimen, posisi takikan tidak berada tepat pada posisi jatuhnya hammer,
sehingga gaya yang bekerja untuk mematahkan spesimen menjadi
berubah.
4. Bentuk takikan
Bentuk

takikan

yang tidak sempurna atau tidak standar akan

mempengaruhi hasil yang didapatkan.

Kelompok 7

58

Laporan Akhir Praktikum Material Teknik Mesin 2014/2015

Uji Impak

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
Setelah menlaksanakan praktikum uji impak ini, maka dapat diambil,
beberapa buah kesimpulan, yaitu:
1. Percobaan uji impak dapat dilakukan dengan 2 ,metode yaitu metode
izod dan metode charpy. Selanjutnya dari data yang didapat dilakukan
perhitungan HI dengan menggunakan rumus berikut
=

. . (cos cos )
=

2. Nilai HI dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu temperatur, kecepatan


pembebanan, kadar karbon dan bentuk takikan.
3. Logam dengan nilai HI yang kecil menghasilkan patah getas, dengan
ciri patahan datar dan mengkilat, sedangkan material dengan HI yang
besar akan terjadi patah ulet yang berserabut.
5.2

Saran
Untuk mendapatkan hasil percobaan yang baik, terdapat beberapa saran,
yaitu:
1. Sebaiknya kurangi kontak langsung dengan specimen uji untuk
mencegah terjadinya perpindahan kalor, sehingga hasil pengujian
dapat lebih akurat.
2. Kalibrasi alat dengan baik, dan baca skala pada alat dengan teliti
3. Pahami materi yang berkaitan dengan uji impak sehingga tidak
mengalami kesulitan yang berarti saat melaksanakan praktikum.

Kelompok 7

59