Anda di halaman 1dari 3

Otitis media supuratif kronik adalah peradangan mukosa telinga tengah disertai

keluarnya cairan dari telinga melalui perforasi membran timpani (gendang telinga
berlubang). Masyarakat mengenal OMSK sebagai penyakit congek, kopok, toher atau
curek. Cairan yang keluar dari telinga dapat terus menerus atau hilang timbul. Kejadian
OMSK dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain suku bangsa, jenis kelamin, tingkat
sosioekonomi, keadaan gizi, dan kekerapan mengalami infeksi saluran pernapasan
atas (ISPA/ batuk pilek).
ISPA yang tidak tertanggulangi dengan baik dapat menyebabkan peradangan di telinga
tengah (otitis media). Pada keadaan peradangan tidak teratasi sacara tuntas, daya
tahan yang lemah, atau keganasan kuman yang tinggi (virulensi kuman), peradangan
telinga tengah dapat berlanjut manjadi OMSK.
OMSK terdiri atas OMSK tipe aman dan tipe bahaya. Kedua tipe ini dapat bersifat
aktif(keluar cairan) atau tidak aktif (kering). Penatalaksanaan OMSK dapat berupa
pengobatan atau operasi. Tujuan operasi pada OMSK tipe bahaya terutama untuk
mencegah komplikasi.
Gejala OMSK adalah keluar cairan dari telinga yang berulang, lebih dari 2 bulan, cairan
kental, dan berbau. Komplikasi yang dapat disebabkan oleh OMSK adalah komplikasi
ketulian, kelumpuhan saraf wajah, serta penyebaran infeksi ke otak (7,5%) hingga
kematian yang disebabkan oleh OMSK tipe bahaya (33%). Gejala-gejala komplikasi
infeksi otak yang disebabkan oleh OMSK antara lain sakit kepala hebat, demam, mual,
muntah, dan penurunan kesadaran.
Ketulian akibat OMSK disebabkan oleh gendang telinga yang berlubang, cairan atau
nanah yang terdapat di telinga tengah, serta tulang pendengaran yang rusak/ erosi.
Selain itu ketulian akibat OMSK dapat terjadi karena zat yang diproduksi oleh kuman
OMSK masuk ke telinga dalam. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan
pendengaran dan pusing berputar.

Gambar 1. Gendang telinga normal/ utuh

Gambar 2. Gendang telinga berlubang

Untuk mengurangi angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) akibat
OMSK diperlukan usaha-usaha penanggulangan OMSK baik secara promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif. Dalam mengupayakan usaha tersebut diperlukan kerjasama
yang terpadu dari baik masyarakat itu sendiri, Lembaga Swadaya Masyarakat dan
Pemerintah dalam hal ini institusi kesehatan.
Masyarakat melalui para kader perlu dilibatkan secara aktif dan inovatif terutama pada
tingkat promotif. Lini kesehatan terdepan misalnya Puskesmas, Balai Kesehatan, dll
memiliki peran yang besar baik di tingkat promotif, kuratif serta deteksi dini timbulnya
komplikasi akibat OMSK.
Di lain pihak jumlah spesialis THT di Indonesia berjumlah 700 orang. Dibandingkan
dengan jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah lebih kurang 214,1 juta jiwa, tentu
jumlah tersebut masih sangat kurang. Menurut WHO dari 606 spesialis THT di
Indonesia tercatat 30 orang (5%) yang dikategorikan sebagai Otologist. Angka tersebut
jauh berbeda dengan angka di Bangladesh (13,5%), India (28,5%), dan Thailand
(25,5%).
Selain itu jumlah rumah sakit yang memiliki fasilitas operasi telinga juga masih sangat
terbatas. Oleh sebab itu diperlukan usaha agar masyarakat dapat melakukan usahausaha pencegahan OMSK yang berdampak pada ketulian bekerjasama dengan para
kader kesehatan, institusi kesehatan, dan lembaga-lembaga terkait.

Agar usaha penanggulangan penyakit OMSK dan komplikasinya dapat mencapai


sasaran yaitu menurunnya morbiditas dan mortalitas akibat penyakit OMSK, maka
diperlukan pengetahuan, pengenalan, dan pencegahan penyakit OMSK oleh
masyarakat bersama-sama kader dan tenaga kesehatan. Selain itu diperlukan
peningkatan pengetahuan dan ketrampilan bagi tenaga kesehatan di lini terdepan untuk
mendiagnosis OMSK dan komplikasi yang ditimbulkan.
ANALISIS SITUASI
EPIDEMIOLOGI
Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan penyakit infeksi telinga yang memiliki
prevalensi tinggi dan menjadi masalah kesehatan di masyarakat. Di negara
berkembang dan negara maju prevalensi OMSK berkisar antara 1-46%, dengan
prevalensi tertinggi terjadi pada populasi di Eskimo (12-46%), sedangkan prevalensi
terendah terdapat pada populasi di Amerika dan Inggris kurang dari 1%. Di Indonesia
menurut Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran, Depkes tahun 19931996 prevalensi OMSK adalah 3,1% populasi. Usia terbanyak penderita infeksi telinga
tengah adalah usia 7-18 tahun, dan penyakit telinga tengah terbanyak adalah OMSK.