Anda di halaman 1dari 11

Bab I

Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pembangunan berkelanjutan adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan
sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk
memenuhi

kebutuhan

mereka

(World

Commision

on

Environment

and

Development, 1987).1 Untuk mencapai tujuan tersebut, ada sejumlah syarat yang
harus dipenuhi. Pertama, peningkatan potensi produksi dengan pengelolaan yang
ramah lingkungan. Kedua, menjamin terciptanya kesempatan yang merata dan
adil bagi semua orang.
Dengan

dua

syarat

tersebut,

pembangunan

berkelanjutan

adalah

pembangunan ekonomi yang harus berwawasan lingkungan dan sekaligus


mengusahakan

pemerataan

pembangunan

berkelanjutan

yang

adil.

adalah

Dalam

Deklarasi

pembangunan

ekonomi

Johannesburg,
yang

harus

berwawasan lingkungan dan sekaligus mengusahakan pemerataan yang adil.


Deklarasi tersebut juga menyatakan, pembangunan berkelanjutan mempunyai
tiga pilar: ekonomi, lingkungan hidup, dan sosial. 2
Lebih dari 40 tahun Indonesia telah menempatkan pembangunan ekonomi
sebagai indikator keberhasilan pembangunan. Namun laju pertumbuhan ekonomi
itu harus ditebus dengan kerusakan sumber daya alam dan lingkungan yang
hebat. Sumber daya alam atau lingkungan hidup mempunyai peran penting dalam
menunjang pembangunan nasional. Sumber daya Alam masih merupakan modal
utama

pendorong

pertumbuhan

ekonomi.

Masalahnya

untuk

mengejar

pertumbuhan ekonomi, dilakukan eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan


hidup yang berlebihan tanpa menggunakan kaidah konservasi. Akibatnya harus
dibayar mahal dengan terjadinya degradasi sumberdaya alam dan lingkungan
hidup pada beberapa sektor strategis, seperti kehutanan, pertanian, perikanan,
dan pertambangan.
Pembangunan berwawasan lingkungan adalah pembangunan berkelanjutan
yang mengoptimalkan manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia
1

Oekan S. Abdoellah, Workshop Penjajakan dan Pengembangan Kurikulum ESD, (Bandung: Rinika,

2006), hal. 14
2

Ibid

dengan cara menserasikan aktivitas manusia dengan kemampuan sumber daya


alam untuk menopangnya. 3
Pertumbuhan penduduk yang relatif cepat berimplikasi pada ketersediaan
lahan yang cukup untuk menopang tuntutan kesejahteraan hidup. Sementara
lahan yang tersedia bersifat tetap dan tidak bisa bertambah sehingga menambah
beban lingkungan hidup.
Daya dukung alam ternyata semakin tidak seimbang dengan laju tuntutan
pemenuhan kebutuhan hidup penduduk. Atas dasar inilah, eksploitasi sistematis
terhadap lingkungan secara terus menerus dilakukan dengan berbagai cara dan
dalih.
Sementara kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebenarnya
diharapkan dapat memberi kesejahteraan bagi kehidupan umat manusia ternyata
juga harus dibayar amat mahal, oleh karena dampaknya yang negatif terhadap
kelestarian lingkungan. Pertumbuhan industri, sebagai hasil rekayasa ilmu
pengetahuan dan tehnologi dibanyak negara maju terbukti telah membuat erosi
tanah dan pencemaran limbah pada tanah pertanian yang menyebabkan
terjadinya proses penggaraman (solinizasi) atau penggurunan (desertifikasi) pada
lahan produktif.
Kebijakan yang dapat dilakukan adalah kebijakan pembangunan berwawasan
lingkungan yang berkenaan dengan upaya pendayagunaan sumber daya alam
dengan tetap mempertahankan aspek-aspek pemeliharaan dan pelestarian
lingkungan. Pembangunan berwawasan

lingkungan adalah pembangunan

berkelanjutan yang mengoptimalkan manfaat sumber daya alam dan sumber


daya manusia dengan cara menserasikan aktivitas manusia dengan kemampuan
sumber daya alam untuk menopangnya.
Tujuan pembangunan berkelanjutan yang bermutu adalah tercapainya
standar kesejahteraan hidup manusia dunia akhirat yang layak, cukup sandang,
pangan, papan, pendidikan bagi anak-anaknya, kesehatan yang baik, lapangan
kerja yang diperlukan, keamanan dan kebebasan berpolitik, kebebasan dari
ketakutan dan tindak kekerasan, dan kebebasan untuk menggunakan hak-haknya
sebagai warga negara.4 Taraf kesejahteraan ini diusahakan dicapai dengan

http://mklh.tegalkota.go.id, Pembangunan Berwawasan Lingkungan, Soekanto, Buletin, 12 April

2011

menjaga kelestarian lingkungan alam serta tetap tersediannya sumber daya yang
diperlukan.
B. Identifikasi Masalah
1. Apakah pokok-pokok kebijaksanaan pembangunan berkelanjutan berwawasan
lingkungan?
2. Bagaimana pengembangan tata ruang pembangunan berkelanjutan?
3. Bagaimana penerapan PP No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai

Dampak Lingkungan (AMDAL)?

Ibid

Bab II
Landasan Teori
Ada tiga hal penting yang tercakup di sini, yaitu : (1).Pengelolaan sumber
daya alam sesara bijaksana; (2). Pembangunan yang berkesinambungan sepanjang
masa; (3). Peningkatan kualitas hidup. 5 Konsep pembangunan berkelanjutan tiga hal
diatas harus benar benar kita terapkan demi kelangsungan kehidupan umat
manusia.
Sumber daya alam secara umum terdiri atas dua yaitu: (a). Sumber daya
alam yang dapat diperbaharui (renewable resource) seperti: tumbuh-tumbuhan,
kayu, peternakan, perikanan dan lain-lain; dan (b). Sumber daya alam yang tidak
dapat diperbaharui (non-renewable resource), seperti: minyak bumi, batu bara,
emas,

besi,

dan

lain-lain. 6

Maka

perlu

menejemen

pengelolaan

yang

diperbaharui

perlu

berkesinambungan.
Pengelolaan

sumber

daya

alam

yan

tidak

dapat

memperhitungkan hal-hal sebagai berikut: 7


1. Segi keterbatasan jumlah dan kualitas sumber alam;
2. Lokasi sumber alam serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan masyarakat dan
pembangunan daerah;
3. Penggunaan sumber alam yang tidak boros; dan
4. Dampak negatif pengolahan berupa limbah dipecahkan secara bijaksana,
termasuk kemana pembuanganya dan sebagainya.
Selain sifat sumber alam, yaitu dapat diperbaharui atau tidak, faktor-faktor yang
dapat memepengaruhi sumber daya alam yang perlu diperhitungkan adalah: 8
1. Jumlah, kualitas, dan lokasi penduduk;
2. Teknologi yang di apakai;
3. Pola hidup yang mengkomsumsi sumber alam.

Muh Erwin, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan Lingkungan Hidup,

(Bandung: Aditama, 2008), hal. 51


6

Bana, Ilmu Biologi V, (Yogyakarta : Intan Pariwara, 1997), hal. 12

Ibid., hal. 14

Gatot P. Soemartono, Hukum Lingkungan Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 1996), hal. 201

Menurut

Surna

T.

Djajaningrat,

pencapaian

pembangunan

berkelanjutan

mensyaratkan:9
1. Suatu sistem politik yang mampu menjamin partisipasi aktif masyarakat dalam

pengambilan keputusan;
2. Suatu system ekonomi yang mampu menghasilkan surplus serta pengetahuan

teknis berdasarkan kemampuan sendiri dan berlanjut;


3. Suatu sistem internasional yang dapat membantu perkembangan hak-hak

perdagangan dan hubungan yang berlanjut; dan


4. Suatu sistem administrasi yang luwes dan mempunyai kemampuan untuk
memperbaiki diri.

Bana, Op.cit., hal. 15

Bab III
Analisis
A. Pokok-Pokok Kebijaksanaan Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan
Lingkungan
Proses pembangunan berkelanjutan bertumpu pada tiga faktor yaitu sebagai
berikut:10
1. Kondisi sumber daya alam alam, sumber daya alam yang dapat menopang
proses pembangunan secara berkelanjutan perlu memiliki kemampuan agar
dapat berfungsi secara berkesinambungan;
2. Kualitas Lingkungan. Antara lingkungan dan sumber daya alam terdapat
hubungan timbal-balik yang erat. Semakin tinggi kualitas lingkungan maka
akan semakin tinggi pula kualitas sumber daya alam yang mampu menopang
pembangunan berkualitas;
3. Faktor kependudukan adalah unsur yang menjadi modal atau sebaliknya
menjadi unsur yang menimbulkan dinamika dalam proses pembangunan;
4. Pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berimbang haruslah
berorientasi pada kebutuhan pokok hidup manusia, pemerataan sosial,
peningkatan kualitas hidup, serta pembangunan yang berkesinambungan; dan
5. Strategi pembangunan adalah usaha untuk meningkatkan potensi sumber daya
manusia dalam mendayagunakan sumber daya alam dengan segenap peluang
yang ada.
Hal tersebut diatas dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 11
1. Penggunaan teknologi bersih yang berwawasan lingkungan dengan segala
perencanaan yang baik dan layak;
2. Melaksanakan rekayasa ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat guna
dalam menghasilkan barang dan jasa yang unggul, tangguh dan berkualitas
tinggi, yang berdampak positif bagi kelangsungan hidup pembangunan itu
sendiri; dan

10
11

Suma T. Djajadiningrat, Jurnal Hukum Lingkungan, (Jakarta : ICEL, 1994), hal. 6


Muhammad shiroth, dkk. Pembangunan Berwawasan Lingkungan, (Depok: Fakultas Ekonomi

UI.1998), hal 2

3. Adanya pengawasan dan pemantauan terhadap jalannya pembangunan,


sehingga sesuai dengan rencana dan tujuannya.
Selain itu pembangunan harus dilaksanakan sesuai misinya, seperti adanya
rencana pembangunan dan pemantauan, harus dilakukan pengevaluasian serta
pengauditan. Bertujuan untuk memberikan umpan balik yang diperlukan bagi
penyempurnaan

pelaksanaan

maupun

tahap

perencanaan

pembangunan

berikutnya.
B. Pengembangan Tata Ruang Pembangunan Berkelanjutan
Penataan ruang bertujuan untuk mengarahkan struktur dan lokasi beserta
hubungan fungsional secara serasi dan seimbang, dalam pemanfaatan sumber
daya alam dan sumber daya manusia. Dengan demikian, peningkatan kualitas
hidup manusia dan kualitas lingkungan hidup dapat dilaksanakan secara
berlanjut. Keberlanjutan ini dapat terjadi, jika penataan ruang memperhatikan
usaha-usaha:12
1. Perlindungan terhadap proses ekologi dan pendukung kehidupan, misalnya

menjaga tetap berfungsinya daur biogeofisik yang ada di alam;


2. Pelestarian keanekaragaman jenis; dan
3. Pemanfaatan sumber daya alam yang berwawasan lingkungan.

C. Penetapan PP No. 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak


Lingkungan (AMDAL)
Pada penerapannya secara nyata, PP No. 27 Tahun 1999 belum efektif dalam
pelaksanaannya, karena:
1. Pelaksanaan

AMDAL

memepengaruhi

proses

yang

terlambat,

perencanaan

sehingga

tanpa

tidak

menyebabkan

dapat

lagi

penundaan

pelaksanaan program atau proyek dan menaikkan biaya proyek;


2. Kurangnya pengertian pada sementara pihak tentang arti dan peranan AMDAL,

sehingga

AMDAL

dilaksanakan

sekedar

untuk

memenuhi

peraturan

perundang-undangan atau disalah gunakan untuk membenarkan suatu proyek;


3. Belum cukup berkembangnya teknik AMDAL;
4. Kurang keterampilan Komisi AMDAL untuk memeriksa laporan AMDAL; dan
12

Muh Erwin, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan Lingkungan Hidup,

(Bandung: Aditama, 2008), hal. 51

5. Belum adanya pemantauan yang baik untuk mengetahui apakah rekomendasi


AMDAL benar-benar digunakan untuk menyempurnakan perencanaan dan
dilaksanakan dalam implementasi proyek.

Bab IV
Penutup
A. Kesimpulan
Jadi pada dasarnya terdapat dua sisi yang tidak dapat dipisahkan dari
pembangunan, semakin banyak pembangunan tentu akan semakin merubah
ekosistem

dan

tata

ruang

lingkungan

yang

mengakibatkan

timbulnya

ketidakseimbangan lingkungan dan ekosistem. Hal ini bisa kita minimalisir dengan
penegakan hukum bagi yang melakukan pelanggaran pencemaran lingkungan,
khususnya bagi perusahaan dan korporasi yaitu penegakan dan pengawasan
hukum terhadap berlangsungnya CSR (Corporate Social Responsibility) oleh
pemerintah, aparat hukum, LSM, dan peran serta masyarakat.
Terdapat dua sumber daya atau sumber energi d bumi ini yaitu : (a). sumber
daya alam yang terbarukan; dan Sumber daya alam yang tidak dapat
diperbaharui. Oleh karena itu dalam pembangunan yang berkelanjutan kita
diminta bijak dalam memakainya.
B. Saran
Di dalam kebijakan pengelolaan lingkungan hidup, titik tekannya ada di
daerah, untuk itu seyogyanya di dalam program pembangunan nasional/ daerah
merumuskan program pembangunan sumber daya alam dan lingkungan hidup,
yang mencakup :
1. Program Pengembangan dan Peningkatan Akses Informasi Sumber Daya Alam
dan Lingkungan Hidup. Bertujuan memperoleh dan menyebarluaskan informasi
mengenai potensi dan produktivitas SDA dan lingkungan hidup melalui
inventarisasi dan evaluasi serta penguatan sistem informasi;
2. Program Peningkatan Efektivitas Pengelolaan, Konservasi dan Rehabilitasi
Sumber Daya Alam. Bertujuan menjaga keseimbangan pemanfaatan dan
pelestarian SDA dan lingkungan hidup laut, air, udara, atau dengan harapan
tercapainya sasaran berupa terlindunginya kawasan-kawasan konservasi dari
kerusakan akibat pemanfaatan SDA yang tidak terkendali dan eksploitatif;
3. Program Pencegahan dan Pengendalian Kerusakan dan Pencemaran
Lingkungan Hidup. Bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan hidup dalam
9

upaya mencegah kerusakan dan pencemaran

lingkungan serta pemulihan

kualitas lingkungan yang rusak akibat pemanfaatan SDA yang berlebihan;


4. Program Penataan Kelembagaan dan Penegakan Hukum, Pengelolaan
Sumber Daya Alam dan Pelestarian Lingkungan Hidup. Bertujuan untuk
mengembangkan

kelembagaan,

menata

sistem

hukum,

perundangan,

kebijakan, serta terlaksananya upaya penegakan hukum secara adil dan


konsisten; dan
5. Program Peningkatan Peranan Masyarakat dalam Pengelolaan Sumber Daya
Alam dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup. Bertujuan meningkatkan
peranan dan kepedulian semua pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan
SDA dan pelestarian fungsi lingkungan hidup.

10

Daftar Pustaka
1. Abdoellah, Oekan

S.

(2006)

Workshop

Penjajakan

dan

Pengembangan

Sistem

Kebijaksanaan

Kurikulum ESD. Bandung: Rinika.


2. Erwin,

Muh.

(2008)

Hukum

Lingkungan

Dalam

Pembangunan Lingkungan Hidup. Bandung: Aditama.


3. Bana, (1997) Ilmu Biologi V. Yogyakarta: Intan Pariwara.
4. Soemartono, Gatot P. (1996) Hukum Lingkungan Indonesia. Jakarta: Sinar
Grafika.
5. T. Djajadiningrat, Suma (1994) Jurnal Hukum Lingkungan. Jakarta: ICEL.
6. Shiroth, Muhammad, dkk. (1998) Pembangunan Berwawasan Lingkungan.
Depok: Fakultas Ekonomi UI.

Daftar Website
1. http://banink.blogspot.com/2011/10/v-behaviorurldefaultvmlo.html
2. http://mklh.tegalkota.go.id, Pembangunan Berwawasan Lingkungan, Soekanto,
Buletin, 12 April 2011

11