Anda di halaman 1dari 30

Kedudukan dan tanggung jawab franchisee dalam perjanjian

waralaba di outlet kebab Turki baba Rafi cabang Surakarta


Oleh :
Vita Ryandini Putri
NIM : E.1104223

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori
1. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian
a.

Pengertian Perjanjian
Perjanjian dalam Pasal 1313 KUH Perdata : Perjanjian adalah suatu
perbuatan, di mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu
orang atau lebih. Rumusan tersebut selain tidak lengkap juga sangat luas.
Tidak lengkap karena hanya menyebutkan persetujuan sepihak saja. Sangat
luas karena dengan dipergunakannya perkataan perbuatan tercakup juga
perwakilan

sukarela dan

perbuatan

melawan

hukum (R.Setiawan,

1979:49).

Pengertian perjanjian dalam Pasal 1313 KUH Perdata memiliki


kelemahan-kelemahan yaitu sebagai berikut :
1) Hanya Menyangkut Sepihak Saja
Hal ini dapat diketahui dari rumusan kata kerja mengikatkan diri,
sifatnya hanya datang dari satu pihak saja, tidak dari kedua belah pihak.
Seharusnya rumusan itu ialah saling mengikatkan diri, jadi ada
konsensus antara dua pihak.
2) Kata Perbuatan Mencakup Juga tanpa konsensus
Dalam pengertian perbuatan termasuk juga tindakan penyelenggaraan
kepentingan

(zaakwaarneming),

tindakan

melawan

hukum

(onrechtmatige daad) yang tidak mengandung suatu konsensus.


Seharusnya dipakai istilah persetujuan.
3) Pengertian perjanjian terlalu luas
Pengertian perjanjian dalam pasal tersebut terlalu luas, karena
mencakup juga perjanjian kawin.
4) Tanpa menyebut tujuan
Dalam rumusan pasal itu tidak disebutkan tujuan mengadakan
perjanjian, sehingga pihak-pihak mengikatkan diri itu tidak jelas untuk
apa (Abdulkadir Muhammad, 2000:224-225).

Sehubungan dengan itu perlu kiranya diadakan perbaikan mengenai


definisi tersebut, yaitu menjadi: Perjanjian adalah suatu perbuatan hukum,
di mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan
dirinya terhadap satu orang atau lebih (R.Setiawan, 1979:49).

Selain pengertian perjanjian di atas, para sarjana yang lain juga


memberikan pengertian perjanjian sebagai berikut :
1) R. Subekti
Perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji kepada
seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk
melaksanakan sesuatu hal (R. Subekti, 1984:1).
2) Abdulkadir Muhammad
Perjanjian adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih
saling mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal mengenai harta
kekayaan (Abdulkadir Muhammad, 2000:225).

Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa di dalam


perjanjian terdapat beberapa unsur yaitu:
1) Ada pihak-pihak
Pihak disini adalah para pihak paling sedikit ada dua pihak yang
membuat suatu perjanjian sebagai pendukung hak dan kewajiban.

2) Ada perbuatan hukum


Para pihak haruslah mempunyai wewenang melakukan perbuatan
hukum dan perjanjian tersebut menimbulkan akibat hukum yang
dikehendaki para pihak.
3) Ada persetujuan antar pihak-pihak
Persetujuan disini adalah konsensus/kesepakatan di antara para
pihak.
4) Adanya prestasi
Prestasi merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh pihakpihak sesuai dengan syarat-syarat perjanjian.

b.

Fungsi Perjanjian
Fungsi dari perjanjian adalah fungsi yuridis perjanjian dan fungsi
ekonomis. Fungsi yuridis perjanjian adalah dapat memberikan kepastian
hukum bagi para pihak sedangkan fungsi ekonomis adalah menggerakan
(hak milik) sumber daya dari nilai penggunaan yang lebih rendah menjadi
nilai yang lebih tinggi.

c.

Syarat Sahnya Perjanjian


Syarat sahnya perjanjian dapat dikaji berdasarkan hukum perjanjian
yang terdapat dalam Pasal 1320 KUH Perdata, yaitu :
1) Adanya kesepakatan kedua belah pihak
Kesepakatan diatur dalam Pasal 1320 ayat (1) KUH Perdata,
yaitu sepakat mereka yang mengikatkan dirinya. Kesepakatan adalah
persesuaian pernyataan kehendak antara satu orang atau lebih dengan
pihak lainnya. Yang sesuai itu adalah pernyataannya, karena kehendak
itu tidak dapat dilihat/diketahui orang lain (Sudikno Mertokusumo,
1987:7).

2) Kecakapan Bertindak

Kecakapan bertindak diatur dalam Pasal 1320 ayat (2) KUH


Perdata yaitu kecakapan untuk membuat suatu perikatan. Kecakapan
bertindak adalah kecakapan atau kemampuan untuk melakukan
perbuatan hukum. Perbuatan hukum adalah perbuatan yang akan
menimbulkan akibat hukum. Orang-orang yang akan mengadakan
perjanjian haruslah orang-orang yang cakap dan mempunyai wewenang
untuk melakukan perbuatan hukum adalah orang yang sudah dewasa.
Menurut KUHPerdata ukuran dewasa adalah telah berumur 21 tahun
atau sudah kawin, sedangkan dalam Undang-Undang Perkawinan
Nomor 1 tahun 1974 dikatakan dewasa bila telah berumur 18 tahun.
Orang yang tidak berwenang untuk melakukan perbuatan hukum:
a)

anak di bawah umur,

b) orang yang ditaruh di bawah pengampuan, dan


c) istri (Pasal 1330 KUH Perdata).

Akan tetapi, dalam perkembangannya istri dapat melakukan


perbuatan hukum, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 31 UU Nomor
1 Tahun 1974 jo SEMA No. 3 Tahun 1963 (Salim H.S., 2004:24).
3) Adanya hal tertentu
Objek perjanjian diatur dalam Pasal 1320 ayat (3) KUH Perdata
yaitu suatu hal tertentu. Di dalam berbagai literatur disebutkan bahwa
yang menjadi objek perjanjian adalah prestasi (pokok perjanjian).
Prestasi adalah apa yang menjadi kewajiban debitur dan apa yang
menjadi hak kreditur (Sudikno Mertokusumo, 1987:36).

4) Adanya sebab yang halal


Sebab yang halal diatur dalam Pasal 1320 ayat (4) KUH Perdata
yaitu suatu sebab yang halal. Pasal 1320 ayat (4) KUH Perdata
tersebut tidak menjelaskan pengertian suatu sebab yang halal. Suatu
sebab adalah terlarang apabila bertentangan dengan undang-undang,
kesusilaan, dan ketertiban umum (Sudikno Mertokusumo, 1987:36).

Syarat subyektif dalam perjanjian berkaitan dengan kesepakatan


para pihak dalam perjanjian dan kecakapan para pihak yang
membuatnya. Sedangkan untuk syarat obyektif berhubungan dengan
suatu hal tertentu yang dimaksud disini berkenaan dengan obyek
perjanjian, selain itu tentang adanya suatu sebab yang halal, yang mana
ketentuannya terdapat dalam pasal 1337 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata.

d.

Asas-Asas Umum Perjanjian


Beberapa asas dari perjanjian sebagaimana yang diatur dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata adalah sebagai berikut :
1) Hukum Perjanjian Bersifat Hukum Mengatur
Artinya bahwa hukum tersebut berlaku sepanjang para pihak
tidak mengaturnya lain, kecuali undang-undang menentukan lain.
2) Asas Kebebasan Berkontrak
Artinya para pihak bebas membuat perjanjian dan mengatur
sendiri isi perjanjian tersebut, sepanjang memenuhi ketentuan sebagai
berikut:
a)

memenuhi syarat sebagai suatu perjanjian;

b) tidak dilarang oleh undang-undang;


c) sesuai dengan kebiasaan yang berlaku; dan
d) sepanjang perjanjian tersebut dilaksanakan dengan itikad baik.
Asas kebebasan berkontrak memuat unsur-unsur meliputi :
a)

kebebasan tiap orang untuk memutuskan apakah ia akan membuat


perjanjian atau tidak membuat perjanjian

b) kebebasan tiap orang untuk memilih dengan siapa ia akan membuat


suatu perjanjian
c) kebebasan para pihak untuk menentukan bentuk perjanjian
d) kebebasan para pihak untuk menentukan isi perjanjian

e) kebebasan para pihak untuk menentukan cara pembuatan


perjanjian. (Syahmin AK, 2006 : 154 )
3) Asas Pacta Sunt Servanda atau Asas Kepatian Hukum
Bahwa suatu perjanjian yang dibuat secara sah mempunyai
ikatan hukum yang penuh. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata kita
juga menganut prinsip ini dengan melukiskan bahwa suatu perjanjian
berlaku seperti undang-undang bagi para pihak (Pasal 1338 ayat (1)
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).
4) Asas Konsensual
Bahwa suatu perjanjian sudah sah dan mengikat ketika tercapai
kata sepakat, tentunya selama syarat-syarat sahnya perjanjian lainnya
sudah dipenuhi.
5) Asas Obligator
Maksudnya adalah setelah sahnya suatu perjanjian, maka
perjanjian tersebut sudah mengikat, tetapi baru sebatas menimbulkan
hak dan kewajiban di antara para pihak (Munir Fuady, 1999:29-31).
6) Asas Personalia (Asas Kepribadian)
Asas ini diatur dan dapat kita temukan dalam ketentuan Pasal
1315 KUH Perdata, yang berbunyi: pada umumnya tak seorang
pun dapat mengikatkan diri atas nama sendiri atau meminta
ditetapkannya suatu janji selain untuk dirinya sendiri. Dari
rumusan tersebut dapat kita ketahui bahwa pada dasarnya suatu
perjanjian yang dibuat oleh seseorang dalam kapasitasnya sebagai
individu, subyek hukum pribadi, hanya akan berlaku dan
mengikat untuk dirinya sendiri (Kartini Muljadi dan Gunawan
Widjaja, 2004:14).
7) Asas Etikat Baik
Bahwa dalam pelaksanaan perjanjian harus dilaksanakan dengan
etikat baik oleh para pihak berkaitan dengan substansi perjanjian. Asas
etikat baik pengaturannya dapat temui dalam ayat (3) Kitab UndangUndang Hukum Perdata pasal 1338, yang berbunyi : Perjanjian harus
dilaksanakan dengan etikat baik .

e.

Unsur-Unsur Perjanjian
Tiga macam unsur dalam perjanjian, yaitu:
1) Unsur Esensialia
Unsur yang mewakili ketentuan-ketentuan berupa prestasiprestasi yang wajib dilakukan oleh salah satu atau lebih pihak, yang
mencerminkan sifat dari perjanjian tersebut, yang membedakan secara
prinsip dari jenis perjanjian lainnya. Unsur ini umumnya dipergunakan
dalam memberikan rumusan, definisi suatu perjanjian. Misalnya
perjanjian jual beli.
2) Unsur Naturalia
Unsur yang pasti ada dalam suatu perjanjian tertentu, setelah
unsur esensialianya diketahui secara pasti. Misalnya dalam perjanjian
yang mengandung unsur esensialia jual beli, pasti akan terdapat unsur
naturalia berupa kewajiban dari penjual untuk menanggung kebendaan
yang dijual dari cacat tersembunyi.
3) Unsur Aksidentalia
Unsur pelengkap dalam suatu perjanjian, yang merupakan
ketentuan-ketentuan yang dapat diatur secara menyimpang oleh para
pihak, sesuai dengan kehendak para pihak, yang merupakan persyaratan
khusus yang ditentukan secara bersama-sama oleh para pihak. Maka
unsur ini pada hakekatnya bukan merupakan suatu bentuk prestasi yang
harus dilaksanakan atau dipenuhi oleh para pihak. Misalnya dalam jual
beli yaitu ketentuan mengenai tempat dan saat penyerahan kebendaan
yang dijual/dibeli (Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, 2004:85-90).

f.

Akibat Perjanjian Yang Sah


Perjanjian Hanya Berlaku di Antara Para Pihak yang Membuatnya.
Pasal 1340 ayat (1) KUH Perdata menyatakan bahwa perjanjian-perjanjian
yang dibuat hanya berlaku di antara para pihak yang membuatnya. Dalam
Pasal 1338 ayat (2) KUH Perdata menentukan bahwa: Perjanjianperjanjian itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua

belah pihak, atau karena alasan-alasan yang yang oleh undang-undang


dinyatakan cukup untuk itu. Pelaksanaan perjanjian dengan etikat baik,
Pasal 1338 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan
bahwa : Perjanjian harus dilaksanakan dengan etikat baik .

Dengan ketentuan tersebut jelas bahwa apa yang sudah disepakati


oleh para pihak tidak boleh diubah oleh siapa pun juga, kecuali jika hal
tersebut memang dikehendaki secara bersama oleh para pihak, ataupun
ditentukan demikian oleh undang-undang berdasarkan suatu perbuatan
hukum atau peristiwa hukum atau keadaan hukum tertentu dan pelaksanaan
dari suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan etikat baik oleh para pihak
(Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, 2004:165-166).

g.

Pelaksanaan Perjanjian
Pelaksanaan perjanjian adalah perbuatan merealisasikan atau
memenuhi hak dan kewajiban yang telah diperjanjikan oleh pihak-pihak,
sehingga tercapai tujuan mereka. Masing-masing pihak melaksanakan
perjanjian dengan sempurna sesuai dengan apa yang telah disetujui untuk
dilakukan. Pelaksanaan perjanjian berupa:
1) Pembayaran Sejumlah Uang
Pihak yang melakukan pembayaran adalah debitur, atau orang
lain atas nama debitur, berdasarkan surat kuasa khusus. Dalam dunia
perusahaan moderen, pembayaran melalui kuasa merupakan hal yang
lumrah. Alat pembayaran yang digunakan pada umumnya adalah mata
uang. Pembayaran dapat juga dilakukan dengan surat berharga,
misalnya cek, wesel.
2) Penyerahan Benda
Dalam setiap perjanjian yang mengandung tujuan memindahkan
penguasaan dan atau hak milik perlu dilakukan penyerahan bendanya
(lavering, transfer).
3) Pelayanan Jasa

Pelayanan

jasa

adalah

memberikan

pelayanan

dengan

melakukan perbuatan tertentu baik dengan menggunakan tenaga fisik


belaka maupun dengan keahlian atau alat tertentu, baik dengan upah
ataupun tanpa upah. Apabila dengan upah, kecuali jika diperjanjian
lain. Pelayanan jasa itu misalnya pekerjaan servis, reparasi, konveksi,
pengangkutan barang, salon kecantikan, pembuatan mebel, pekerjaan
buruh, jasa konsultan (Abdulkadir Muhammad, 2000:236-239).

Menilik macamnya hal yang dijanjiakan untuk dilaksanakan,


perjanjian-perjanjian itu dibagi dalam tiga macam, yaitu :
1. perjanjian untuk memberikan atau menyerahkan suatu barang
2. perjanjian untuk berbuat sesuatu
3. perjanjian untuk tidak berbuat sesuatu
hal yang harus dilaksanakan itu dinamakan : prestasi. (R.
Subekti, 2002 : 36)

h.

Perjanjian Standart (Perjanjian Baku)


Kontrak standart (standard contract) merupakan perjanjian yang
telah ditentukan dan telah dituangkan dalam bentuk formulir. Kontrak ini
telah ditentukan secara sepihak oleh salah satu pihak, terutama pihak
ekonomi kuat terhadap pihak ekonomi lemah. Ciri-ciri perjanjian baku
adalah :
1) Isinya ditentukan sepihak oleh pihak yang posisi (ekonominya) kuat;
2) Masyarakat (debitor) sama sekali tidak ikut bersama-sama menentukan
isi perjanjian;
3) Terdorong oleh kebutuhannya, debitor terpaksa menerima perjanjian itu;
4) Dipersiapkan secara massal dan kolektif. (Mariam Darus Badrulzaman,
1980: 11, dari buku Salim HS, Abdullah dan Wiwiek Wahyuningsih,
2007: 70-71)

i.

Struktur Dan Anatomi Perjanjian


Salah satu unsur yang paling penting dalam merancang kontrak dan
perlu diperhatikan oleh perancang kontrak yaitu struktur dan anatomi dari

pada kontrak yang akan dibuat atau dirancang. Untuk mengkaji struktur dan
anatomi kontrak baik yang berdimensi nasional maupun internasional, harus
dilihat pada substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak.

Berdasarkan

hasil analisis terhadap berbagai kontrak yang

berdimensi nasional, maka dapat memilah struktur kontrak menjadi 12 (dua


belas) hal pokok, yaitu meliputi : judul perjanjian, pembukaan kontrak,
komparisi, resital (konsideran atau pertimbangan atau latar belakang),
definisi, pengaturan hak dan kewajiban, domisili, keadaan memaksa (force
majeure), kelalaian dan pengakhiran kontrak, pola penyelesaian sengketa,
penutup, dan tanda tangan.

j.

Prestasi
Prestasi adalah sesuatu yang wajib dipenuhi oleh debitur dalam
setiap perikatan. Menurut ketentuan Pasal 1234 KUH Perdata ada tiga
kemungkinan wujud prestasi, yaitu:
1) Memberikan sesuatu, adalah menyerahkan kekuasaan nyata atas suatu
benda dari debitur kepada kreditur.
2) Berbuat sesuatu, adalah debitur wajib melakukan perbuatan tertentu
yang telah ditetapkan dalam perikatan.
3) Tidak berbuat sesuatu, adalah debitur tidak melakukan perbuatan yang
telah ditetapkan dalam perikatan (Abdulkadir Muhammad, 2000:201202).

k.

Wanprestasi
1) Pengertian
Wanprestasi artinya tidak memenuhi sesuatu yang diwajibkan seperti
yang telah ditetapkan dalam perikatan. Dua kemungkinan alasan, yaitu:
a)

Karena kesalahan debitur, baik disengaja tidak dipenuhi kewajiban


maupun karena kelalaian.

b) Karena keadaan memaksa (overmacht, force majeure), jadi di luar


kemampuan

debitur.

Debitur

tidak

bersalah

(Abdulkadir

Muhammad, 2000:203).
2) Wujud Wanprestasi
a)

Debitur Sama Sekali Tidak Berprestasi


Hal itu bisa disebabkan karena debitur memang tidak mau
berprestasi atau bisa juga disebabkan, karena memang kreditur
objektif tidak mungkin berprestasi lagi atau secara subjektif tidak
ada gunanya lagi untuk berprestasi. Pada peristiwa yang pertama
memang kreditur tidak bisa lagi berprestasi, sekalipun ia mau.

b) Debitur Keliru Berprestasi


Disini debitur memang dalam pikirannya telah memberikan
prestasinya, tetapi dalam kenyataannya, yang diterima kreditur lain
daripada yang diperjanjikan.
c) Debitur Terlambat Berprestasi
Disini debitur berprestasi, objek prestasinya betul, tetapi
tidak sebagaimana yang diperjanjikan. Sebagaimana sudah
disebutkan di atas, debitur kita golongkan dalam kelompok
terlambat berprestasi kalau objek prestasinya masih berguna bagi
kreditur. Orang yang terlambat berprestasi dikatakan dalam
keadaan lalai (Abdulkadir Muhammad, 2000:122-133).
3) Akibat-akibat Hukum dari Wanprestasi
Ada empat akibat adanya wanprestasi, yaitu:
a)

perikatan tetap ada, kreditur masih dapat menuntut kepada debitur


pelaksanaan prestasi, apabila ia terlambat memenuhi prestasi. Di
samping itu, kreditur berhak untuk menuntut ganti rugi akibat
keterlambatan melaksanakan prestasinya. Hal ini disebabkan
kreditur akan mendapat keuntungan apabila debitur melaksanakan
prestasi tepat pada waktunya.

b) debitur harus membayar ganti rugi kepada kreditur (Pasal 1243


Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).

c) beban risiko beralih untuk kerugian debitur, jika halangan itu


timbul setelah debitur wanprestasi, kecuali bila ada kesengajaan
atau kesalahan besar dari pihak kreditur. Oleh karena itu debitor
tidak dibenarkan untuk berpegang pada keadaan memaksa.
d) jika perikatan lahir dari perjanjian timbal balik, kreditor dapat
membebaskan diri dari kewajibannya memberikan kontra prestasi
dengan menggunakan Pasal 1266 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata (Salim H.S., 2002:116-117).

2. Tinjauan Umum tentang Perjanjian Waralaba


a.

Pengertian Perjanjian Waralaba


Menurut

Peraturan

Menteri

Perdagangan

RI

No.31/M-

DAG/PER/8/2008 tentang Penyelenggaran Waralaba. Perjanjian waralaba


adalah

perjanjian

secara

tertulis

antara

pemberi

waralaba dengan penerima waralaba.

Perjanjian waralaba merupakan kumpulan persyaratan, ketentuan


dan komitment yang dibuat dan dikehendaki oleh franchisor bagi para
franchisee-nya. Didalam perjanjian waralaba tercantum ketentuan berkaitan
dengan hak dan kewajiban franchisee dan franchisor, misalnya hak teritorial
yang dimiliki franchisee, persyaratan lokasi, ketentuan pelatihan, biayabiaya yang harus dibayarkan oleh franchisee kepada franchisor, ketentuan
berkaitan dengan lama perjanjian waralaba dan perpanjangannya dan
ketetentuan lain yang mengatur hubungan antara franchisee dengan
franchisor.
Menurut Blacks law dictionary, franchise Agreement atau perjanjian
waralaba diartikan sebagai :
Generally, an agreement between a supplier of a product or service
or an owner of a desired trademark or copyright (franchisor), and a
reseller (franchisee) under which the franchisee agrees to sell the
franchisor product or service or to business under the franchisors
name. (Terjemahan dari penulis : Pada umumnya suatu perjanjian

diantara seorang distributor dari sebuah produk atau jasa atau


pemilik merek dagang atau hak cipta (franchisor). Dan penjual
(franchisee) yang mana franchisee setuju untuk menjual produk dan
jasa franchisor atau berbisnis di bawah nama franchisor). (Gunawan
Widjaja, 2004 :16).
Menurut Peter Mahmud, pengertian

franchise secara yuridis

adalah : Suatu kontrak yang memberikan hak kepada pihak lain untuk
menggunakan nama dan prosedur yang dimiliki oleh yang mempunyai hak
tersebut. (Salim H.S, 2004 :165)

Menurut Salim H.S, pengertian franchise adalah suatu perjanjian


yang dibuat antara franchisor dan franchisee, dengan ketentuan pihak
franchisor memberikan lisensi kepada franchisee untuk menggunakan
merek barang atau jasa dalam jangka waktu tertentu dan pembayaran
sejumlah royalti tertentu kepada franchisor.
Menurut

International

Franchise

Association,

memberikan

definisi franchise, sebagai berikiut :


A franchise operation is a contractual relationship between the
franchisor and franchisee in which the franchisor offer or is
obligated to maintain a continuing interest in the bussines of the
franchisee in such areas, such as, know how and training, where in
the franchisee operates under a common trade name, format an or
procedure owned or controlled by the franchisor, and in which the
franchise has or will make a substantial capital invesment in is
business from his own resources. ( Terjemahan penulis : suatu
franchise adalah sebuah hubungan kontraktual antara franchisor dan
franchisee yang mana franchisor menawarkan atau berkewajiban
untuk mempertahankan ketertarikan yang berkelanjutan di bisnis
franchise di beberapa daerah seperti mengetahui know how dan
pelatihan dimana franchisee mengoperasikan di bawah suatu nama
dagang bersama format dan atau prosedur di kendalikan oleh
franchisor dan yang mana franchisee mempunyai atau akan
membuat suatu modal investasi besar di bisnis ini dari sumber
sendiri. (Martin Mendelsohn,1986:6, diambil dari Suharnoko, 2004
:83)

Dari pengertian tersebut di atas terlihat bahwa dalam setiap bisnis


model franchise sekurang-kurangnya memuat unsur-unsur sebagai berikut :
1) Adanya minimal 2 (dua) pihak, yaitu pihak franchisor dan pihak
franchisee. Pihak franchisor sebagai pihak pihak yang memberikan
franchise, sementara pihak franchisee merupakan pihak yang diberikan
atau menerima franchise tersebut.
2) Adanya penawaran paket usaha dari franchisor.
3) Adanya kerjasama pengelolaan unit usaha antara pihak franchisor
dengan pihak franchisee
4) Dipunyainya unit usaha tertentu (outlet) oleh pihak franchise yang akan
memanfaatkan paket usaha miliknya pihak franchisor.
5) Sering kali terdapat kontrak tertulis antara pihak franchisor dengan
pihak franchisee. ( Munir Fuady, 2005 : 340 )

b.

Sejarah Lahirnya Perjanjian Waralaba


Lembaga franchise pertama kali dikenal di Amerika Serikat, yaitu
kurang lebih satu abad yang lalu ketika perusahaan bir memberikan lisensi
kepada perusahaan-perusahaan kecil untuk mendistribusikan bir produksi
pabrik yang bersangkutan serta, distribusi penjualan mobil dan bensin.
Franchise pada waktu itu dilakukan pada tingkat distributor. Zaman
franchise modern baru dimulai pada akhir tahun 1940-an dan awal tahun
tahun 1950-an. Hal ini terlihat dari perkembangannya Mc Donalds (1955),
Carvel Ice Cream (1945),Jhon Robert Power (1955),Kentucky fried Chicken
(1952), dan lain-lain (dalam Ridhwan khaerandy, 1992: 87). Sejak tahun
1972 sampai dengan tahun1988, usaha franchise mengalami peningkatan
yang sangat besar di Amerika Serikat, hal ini tampak dari banyaknya usaha
franchise yang berkembang di Negara tersebut. Jumlah unit usaha franchise
yang berkembang di Amerika Serikat sebanyak 368.458 unit usaha. Di
Negara lain juga telah berkembang unit usaha franchise, seperti di Australia
sebanyak 10.303 unit usaha, Kanada sebanyak 45.000 unit usaha, Jepang
sebanyak 102.397 unit usaha, dan inggris sebanyak 16.600 unit usaha

(institut pendidikan dan pembinaan manajemen, 1992: 1-3). (Salim HS,


2004 :166-167)

c.

Ruang Lingkup Perjanjian Waralaba


Dilihat dari ruang lingkup dan konsepnya, sebenarnya perjanjian
franchise berada diantara kontrak lisensi dan distributor. Adanya pemberian
izin oleh pemegang hak milik Intelektual atau know-how lainnya kepada
pihak lain untuk menggunakan merek ataupun prosedur tertentu merupakan
unsur perjanjian lisensi. Sedangkan di lain pihak juga ada quality control
dari franchisor terhadap produk-produk pemegang lisensi yang harus sama
dengan produk-produk lisensor, seakan-akan pemegang

franchise

merupakan distributor franchisor. Sebagaimana dalam perjanjian lisensi


pada perjanjian franchise pemegang franchise wajib membayar sejumlah
royalty untuk penggunaan merek dagang dan proses pembuatan produk
yang besarnya ditetapkan berdasarkan perjanjian. Royalty kadang-kadang
bukan di tetapkan dari persentase keuntungan melainkan dari beberapa unit.
Dalam hal demikian pihak franchisor tidak peduli apakah pemegang
franchise untung atau tidak. Disamping harus membayar royalty, pihak
pemegang

franchise juga seringkali harus memenuhi kewajiban yang

ditetapkan oleh

franchisor untuk mendesain perusahaannya dedemikian

rupa sehingga mirip dengan desain perusahaan franchisor. Begitu pula


dengan manajemennya, tidak jarang franchisor juga memberikan asistensi
dalam manajement. (Salim HS, 2004 :166)

d.

Sifat Perjanjian Waralaba


Sifat dari perjanjian waralaba (agreement franchise), yaitu sebagai
berikut :
1) Suatu perjanjian yang dikuatkan oleh hukum (legal agreement).
2) Memberi kemungkinan franchisor tetap mempunyai hak atas nama
dagang dan atau merek dagang, format atau pola usaha, dan hal-hal
khusus yang dikembangkannya untuk suksesnya usaha tersebut.

3) Memberi kemungkinan franchisor mengendalikan system usaha yang


dilisensikannya.
4) Hak, kewajiban, dan tugas masing-masing pihak dapat diterima oleh
franchisee (Salim H.S, 2004 :171)

e.

Subyek Dan Obyek Perjanjian Waralaba


Subyek hukum dalam perjanjian franchise, yaitu :
1) Franchisor, adalah perusahaan yang memberikan lisensi, baik berupa
paten, merek perdagangan, merek jasa, maupun lainnya kepada
franchisee
2) Franchisee, adalah perusahaan yang menerima lisensi dari franchisor

Obyek dalam perjanjian franchise adalah lisensi. Lisensi adalah


izin yang diberikan oleh franchisor kepada franchisee. Ada dua kriteria
lisensi sebagaima dikemukakan oleh Dieter Plaff, yaitu :
1) Tujuan ekonomi, adalah apa yang hendak dicapai oleh lisensi itu.
2) Acuan hukum (yuridis), yaitu instrumen hukum yang digunakan untuk
mencapai tujuan tersebut. ( Salim H.S, 2004 : 177 )

f.

Dasar Hukum Pengaturan


Walaupun bisnis franchise telah berkembang di Indonesia, namun
peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hal itu secara khusus
belum ada. Peraturan peraturan perundang-undangan yang mempunyai
hubungan dengan franchise adalah sebagai berikut :
1) Pasal 1338 dan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, menganut
sistem terbuka, maksudnya setiap orang atau badan hukum diberikan
kebebasan untuk menentukan kontrak, baik yang sudah di kenal di
dalam kitab undang-undang hukum perdata. Disamping itu yang
menjadi dasar hukum dalam pengembangan franchise di Indonesia
adalah Pasal 1320 Kitab undang-undang hukum perdata, mengatur

tentang syarat sahnya perjanjian, yaitu adanya kesepakatan kedua belah


pihak, cakap untuk melakukan perbuatan hukum, adanya obyek tertentu
dan adanya kausa yang halal.
2) Peraturan Menteri Perdagangan RI No.31/M-DAG/PER/8/2008 tentang
Penyelenggaran Waralaba
3) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 42 Tahun 2007
Tentang Waralaba

g.

Jenis Waralaba
1) Waralaba Luar Negeri, cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih
jelas, merek sudah diterima diberbagai dunia, dan dirasakan lebih
bergengsi.
2) Waralaba Dalam Negeri, juga menjadi salah satu pilihan investasi untuk
orang-orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki
pengetahuan cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang
disediakan oleh pemilik waralaba (www.wikipedia.org.com, di akses
pada 22 Desember 2008, pukul 14.45 ).

h.

Kategori Penggolongan Waralaba


Menurut Federal Trace Commision Amerika ( FTC ), terdapat tiga
penggolongan waralaba, yaitu :
1) Product Franchising ( Waralaba Distribusi Produk )
Waralaba dengan mendistribusikan barang-barang yang diproduksi oleh
franchisor atau dibawah kewenangannya dan franchisee menggunakan
merek dagang franchisor. Franchisee membayar kepada perusahaan
untuk mendapatkan hak menjual barang-barang bermerek dagang baik
dengan cara membeli sejumlah produk atau dengan membayar biaya
untuk mendapatkan hak dalam menjual barang-barang tersebut.
2) Manufacturing Franchises ( Waralaba Proses Produksi )
Industri ini sering diasosiasikan dengan industri minuman ringan.
Setiap pabrik pembotolan lokal atau regional merupakan franchisee

yang yang diberi lisensi oleh perusahaan induk. Contoh : coca cola,
pepsi, dan lain-lain. Menjual bahan dasar minuman dan produk-produk
yang berhubungan dengan minuman ringan dan mensuplai pada
pembotol-pembotol lokal mereka, yang kemudian mengolah bahan
dasar minuman dengan berbagai bahan lain terutama air soda lalu
membotolkan atau mengalengkan minuman tersebut untuk kemudian di
distribusikan pada para pedagang eceran.
3) Business Format Franchising ( Waralaba Format Bisnis )
Franchisor melisensikan kepada orang perorangan ( lebih lanjut kepada
badan usaha lain ) untuk membuka toko eceran, toko, atau jaringan
untuk menjual kepada masyarakat berbagai produk dan jasa di bawah
franchisor.

nama

Metode-metode

pengoperasian

franchisee

mendapatkan pengontrolan ketat oleh franchisor. Franchisor seringkali


memberikan bantuan berharga pada franchisee untuk mengoperasikan
bisnis dibawah pengaturan / dari Undang-Undang pengungkapan
federal. Franchisee diharuskan membayar royalty/ biaya terus menerus.
4) Business Opportunity Ventures
Untuk dapat diatur oleh FTC, maka usaha-usaha tersebut harus
memenuhi tiga (3) kriteria yang telah ditentukan pemerintah :
a)

Franchisee diharuskan menjual barang atau jasa yang disediakan


oleh franchisor, afiliasinya atau supplier yang ditentukan oleh
franchisor.

b) Franchisor terlibat dalam penyediaan outlet-outlet eceran atau


akuntansinya.
c) Franchisee harus membayar franchisor biaya atau prestasi lain
sebagai timbal balik dari hak yang diperoleh dalam bisnis franchise
ini.

Stuart D. Brown menyatakan bahwa waralaba format bisnis


terbagi lagi menjadi tiga (3) jenis yaitu :
1) Franchise pekerjaan

Franchisee yang menjalankan usaha franchise pekerjaan sebenarnya


membeli dukungan untuk usahanya sendiri.
2) Franchise usaha
Franchise ini termasuk franchise yang dapat dikatakan berkembang
dengan pesat. Bentukntya berupa toko eceran yang menyediakan barang
atau jasa atau restoran fast food.
3) Franchise investasi
Ciri utama yang membedakan jenis franchise ini dari dua jenis lainnya
adalah besarnya usaha, khususnya besarnya investasi yang dibutuhkan
yang bisa mencapai milyaran rupiah. ( Johannes Ibrahim dan Lindawaty
Sewu, 2004 : 127-130 )

i.

Bentuk Dan Substansi Perjanjian Franchise


Bentuk hukum (legal stand point) dari franchise ini dalam praktik
dilakukan dalam suatu kondisi yang dituangkan dalam perjanjian
atau kontrak (term of contract). Maka ruang lingkup hukumnya
termasuk dalam lapangan hukum kontrak (contract law). ( Suyud
Margono dan Amir Angkasa, 2002 : 68 )
Dari sudut muatan yang terkandung dalam suatu perjanjian franchise
yang umumnya terdiri dari pasal-pasal, jika dilakukan suatu identifikasi
terhadap pokok-pokok materi yang terpenting di dalam perjanjian tersebut
maka minimal terdapat klausula-klausula utama, sebagai berikut :
1) Obyek Yang Di-franchise-kan
Obyek yang di-franchise-kan biasanya dikemukakan di awal
perjanjian franchise. Obyek yang di-franchise-kan harus menjelaskan
secara cermat mengenai bisnis barang atau jasa apa yang termasuk
dalam franchise.
2) Tempat Berbisnis
Tempat berbisnis dan penampilan yang baik dan membawa ciri
franchisor dibutuhkan dalam usaha franchise. Franchisor biasanya
turut menentukan dan atau memberikan persetujuan kepada franchisee

mengenai tempat yang akan dipakai dalam menjalankan bisnis


franchise.
3) Wilayah Franchise
Bagian ini meliputi pemberian wilayah oleh franchisor kepada
franchisee, dimana dalam pertimbangan pemberian wilayah ini harus di
dasarkan pada strategi pemasaran. Pemberian wilayah ini didasarkan
agar pemberian suatu wilayah tertentu dapat menjamin tidak ada
persaingan usaha sejenis baik yang dilakukan oleh sesama franchisee
ataupun oleh franchisor sendiri.
4) Sewa Guna
Sewa guna ini dilakukan apabila lokasi usaha franchise didapat
dengan suatu sewa. Jangka waktu sewa ini paling tidak harus sama
dengan jangka waktu berlakunya perjanjian franchise.
5) Pelatihan dan Bantuan Teknik dari Franchisor
Pelatihan dan bantuan teknik merupakan hal yang penting,
karena suatu bisnis dengan pola franchise mengandalkan kualitas
produk baik barang atau jasa dan kualitas pelayanan yang baik dalam
menjalankan bisnisnya.
6) Standat Operational
Standart operational yang diterapkan dalam franchise biasanya
tertuang dalam buku petunjuk operasional / operation manuals.
Petunjuk tersebut mengandung metode, dalam bentuk tertulis yang
lengkap untuk menjalankan bisnis franchise.

7) Pertimbangan-Pertimbangan Keuangan
Pertimbangan-pertimbangan keuangan merupakan hal yang
paling sensitif dalam perjanjian franchise. Besarnya uang yang harus
dibayarkan oleh franchisee kepada franchisor pada hakekatnya
merupakan pengganti atas pemberian hak-haknya dari franchisor
kepada franchisee. Terdapat beberapa jenis pembayaran yang menjadi

kewajiban dari franchisee kepada franchisor, yaitu initial fee,


continuing fee, royalti serta biaya lain yang disepakati yang berguna
didalam memelihara kelanjutan hubungan franchise.
8) Klausula-Klausula Kerahasiaan
Perjanjian
para pihak

franchise selalu memuat klausula yang melarang

(franchisor maupun franchisee) untuk memberitahukan

rahasia dagang kepada pihak ke-tiga yang tidak mempunyai


kepentingan dengan bisnis. Klausula kerahasiaan ini amat penting
dalam suatu perjanjian franchise. Karena bila rahasia dagang diketahi
oleh pihak lain maka akan menimbulkan kompetitor / pesaing baru
dalam bidang bisnis barang / jasa yang sama.
9) Klausula-Klausula yang Membatasi Persaingan
Klausula ini penting dicantumkan untuk menjaga agar bisnis
franchisor dapat berjalan dengan lancar dalam arti menjaga agar tidak
menimbulkan persaingan baru dengan mantan franchisee dalam bidang
bisnis barang / jasa walaupun kerjasama dengan franchisee tertentu
telah berakhir.
10) Pertanggungan Jawab
Pertanggungan jawab merupakan hal yang penting, karena
memuat mengenai sampai sejauh mana tanggung jawab yang dipikul
baik oleh franchisor maupun franchisee. Pertanggungan jawab para
pihak harus dirumuskan secara jelas dan terperinci agar masing-masing
pihak mngetahui dengan tepat hal apa saja yang menjadi hal apa saja
yang merupakan tanggung jawabnya.
11) Pengiklanan Dan Strategi Pemasaran
Pengiklanan merupakan bagian yang penting dari strategi
pemasaran, oleh karena itu dalam suatu perjanjian franchise untuk
kebijaksanaan pengiklanan ini biasanya ditetapkan secara terpusat oleh
franchisor.
12) Penetapan Harga Dan Pembelian-Pembelian

Penetapan harga dalam bisnis franchise ini sangat penting


apakah kewenagan penetapan harga berada di tangan franchisor
sepenuhnya atau franchisee mempunyai andil pula dalam penentuan
harga. Sedangkan pembelian-pembelian disini berhubungan dengan
masalah bahan baku ataupun peralatan lain yang dipergunakan untuk
menjual barang atau jasa dalam bisnis franchise. Sering kali franchisor
mensyaratkan bahwa pembelian bahan baku untuk membeli pada pihak
franchisor atau pihak yang telah ditunjuk franchisor.
13) Status Badan Usaha Atau Perusahaan
Status perusahaan ini berkaitan erat dengan pertanggung
jawaban baik dari pihak franchisor maupun franchisee. Hingga saat ini
perusahaan indonesia yang hendak melibatkan diri dalam perjanjian
franchise tidak disyaratkan status badan usaha atau perusahaannya. Hal
ini

harus

diperhatikan

karena

memberikan

dampak

terhadap

perancangan perjanjian franchise.


14) Hak Untuk Menggunakan Nama dan Merek Dagang
Dalam kerjasama franchise tidak terlepas dari merek dagang
atau logo, serta desain dari perusahaan yang bersangkutan. Merek
dagang, logo, desain perusahaan itu merupak identitas dan ciri khas dari
franchise itu.
15) Masa Berlaku Dan Kemungkinan Pembaharuan Dan Perpanjangan
Perjanjian
Kesuksesan bisnis franchise bukan merupakan hal yang mudah
didapat melainkan membutuhkan waktu untuk mencapainya. Waktu
yang dapat diketegorikan ideal untuk sebuah perjanjian franchise
adalah 5-10 tahun. Jangka waktu perjanjian tersebut biasanya dapat
diperpanjang kembali.
16) Pengakhiran Perjanjian
Pengakhiran perjanjian belum mempunyai peraturan yang jelas
secara tersendiri, tergantung kesepakatan para pihak dalam perjanjian

franchise yang mereka buat mengenai ketentuan pengakhiran


perjanjian.
17) Penafsiran Terhadap Perjanjian
Para pihak dapat menyepakati masalah penafsiran ini terutama
apabila dalam bisnis franchise terlibat dua pihak yang berlainan bangsa.
Hal ini menyangkut persoalan bahasa yang nantinya akan di
terjemahkan oleh pihak franchisee atas persetujuan franchisor.
18) Pilihan Hukum Dan Pilihan Forum
Semua perjanjian harus benar-benar memperhatikan penetapan
hukum mana yang akan diterapkan dalam perjanjian serta tempat
hukum

mana

yang dipilih

untuk

menyelesaikan

perselisihan-

perselisihan yang timbul. Pilihan hukum dalam prakteknya seringkali


ditetapkan oleh franchisor. kedudukan franchisee dalam hal pilihan
hukum seringkali dalam posisi yang lebih lemah, kerena pihak
franchisor yang biasa menetapkan pilihan hukum yang dipilih
sedangkan franchisee hanya menyetujui saja. (Johannes Ibrahim dan
Lindawaty Sewu, 2004 : 135-146)

Martin Mendelsen menyatakan bahwa :


....prinsip-prisip fundamental harus tetap ada sebagaimana
halnya dalam semua transaksi franchise. Sekali lagi, penting
untuk menekankan bahwa dalam menyusun pengaturan tersebut
ciri-ciri fundamental, karakteristik serta syarat-syarat suatu
transaksi franchise harus tetap dijaga. Sekali keutuhan konsep
dan sistem yang telah di franchise-kan di rusak maka masa
depan pengembangan franchise penuh resiko. (Johannes
Ibrahim dan Lindawaty Sewu, 2004: 135)
Pada prinsipnya ketentuan dalam sebuah perjanjian franchise
dapat di negosiasikan agar menguntungkan para pihak yang terlibat.

j.

Karakteristik Perjanjian Waralaba


1) Harus ada suatu perjanjian

(kontrak) tertulis yang mewakili

kepentingan yang seimbang antara franchisor dengan franchisee. Isi

kontrak pada dasarnya dapat dinegosiasi. Isi kontrak hendaknya


didasarkan pada kesepakatan kedua belah pihak.
2) Franchisor harus memberikan pelatihan dalam segala aspek bisnis yang
akan dimasukinya. Juga memelihara kelangsungan franchise dengan
memberikan dukungan dalam berbagai aspek, (misalnya periklanan,
supervisi dan sebagainya)
3) Franchise diperbolehkan beroperasi (dalam kendali franchisor)
beroperasi dengan nama/merek dagang, format dan atau prosedur, serta
segala nama (reputasi) baik yang dimiliki franchisor.
4) Franchisee harus mengadakan investasi yang berasal dari sumber
dananya sendiri atau dengan dukungan sumber dana lain (misalnya
kredit perbankan). Pada outlet (tempat penjualan) yang dikelola
franchisee, tidak ada investasi langsung dari franchisor, yang lazim
adalah pengadaan peralatan dengan fasilitas leasing atau barang
dagangan secara cicilan oleh franchisor atau pengadaan gedung oleh
franchisor yang disewakan kepada franchisee. Jadi jelas tidak ada
penyertaan modal dari franchisor ke dalam unit usaha yang dikelola
franchisee.
5) Franchisee berhak secara penuh mengelola bisnisnya sendiri
6) Franchisee membayar fee atau royalti kepada franchisor atas hak yang
didapatnya dan atas bantuan yang terus-menerus diberikan oleh
franchisor.
7) Franchisee berhak memperoleh daerah pemasaran tertentu dimana ia
adalah satu-satunya pihak yang berhak memasarkan barang atau jasa
yang dihasilkannya.
8) Transaksi yang terjadi antara franchisor dengan franchisee bukan
merupakan transaksi yang terjadi antara cabang dari perusahaan induk
yang sama, atau antara individu dengan perusahaan yang dikontrolnya.
( Richard Burton Simatupang, 1996 : 67 )

Jadi secara sederhana karakteristik usaha franchise tidak lain adalah


penggunaan merek dagang dan identitas suatu perusahaan /
usahawan oleh perusahaan / usahawan lainnya, yang disertai
pendampingan dan minitoring yang berkelanjutan dari franchisor
dan kewajiban pembayaran fee / jasa oleh franchisee yang disertai
dengan ketaatan terhadap ketentuan-ketentuan dalam perjanjian
franchise yang telah disepekati. (Hasanuddin Rahman, 2003 : 43)
k.

Tertib Hukum Waralaba


1) Suatu franchise harus didaftarkan
2) Suatu franchise haruslah memegang teguh pada prinsip keterbukaan
informasi.
3) Diperlukan suatu asosiasi franchise yang tangguh.
4) Perlu suatu kode etik terhadap franchise
5) Perlu guidelines oleh pemerintah terhadap klausula-klausula yang baku
terhadap perjanjian franchise. ( Munir Fuady, 2005 : 349 )

l.

Jangka Waktu Berlakunya Perjanjian Waralaba


Walaupun para pihak diberikan kebebasan untuk menentukan jangka waktu
berakhirnya kontrak franchise (waralaba), namun pemerintah melalui
Menteri Perindustrian dan perdagangan telah menetapkan jangka waktu
perjanjian waralaba sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun. Jangka waktu itu
dapat diperpanjang. ( Salim H.S, 2004 : 178 )

m. Berakhirnya Perjanjian Waralaba


Berakhirnya perjanjian waralaba juga dapat berakhir pula karena adanya
default dari salah satu pihak yang mengadakan perjanjian. Ada beberapa
hal yang dijadikan untuk mengakhiri perjanjian waralaba, yaitu:
1) Franchisee dalam keadaan tidak mampu membayar
2) Membuat suatu tugas untuk keuntungan para kreditor
3) Oleh hakim dinyatakan bangkrut
4) Oleh suatu permohonan kepailitan yang dimintakan oleh franchisee

5) Hak milik franchisee diambil oleh seorang sheriff dan tidak


dipulihkan ( Syahmin AK, 2006: 213-214)

3. Tinjauan Umum tentang Bisnis Waralaba di Indonesia


Bisnis waralaba saat ini hampir mencapai 270 usaha waralaba asing dan
sekitar 32 waralaba lokal di Indonesia. Waralaba asing Lebih banyak karena
pengusaha luar negeri memiliki pengalaman lebih lama dalam bisnis waralaba
dengan berbagai keunikan dari usahanya. Di Indonesia, waralaba mulai
berkembang pada 1950-an dengan munculnya dealer kendaraan bermotor
melalui pembelian lisensi atau menjadi agen tunggal pemilik merek.

Di pentas waralaba lokal, kita bisa menderet sejumlah pemain yang telah
mampu mengembangan waralabanya hingga pada posisi yang cukup mapan. Hal
ini terjadi di beberapa sektor usaha, khususnya bisnis salon, restoran, dan ritel
umum. Di bisnis resto, rumah makan dan kafe, sebagai contoh, terdapat
beberapa pewaralaba lokal yang cukup berkibar. Sebut saja nama-nama seperti
California Fried Chicken, Bebek Bali, Papa Ron's, Mister Baso, Country Donuts,
Es Teller 77, Hot Cwie Mie Malang, dan Bakmi Japos. Belum lagi ada RM
Ayam Bakar Wong Solo, Rumah Makan Sederhana, dan Natrabu sedangkan di
sektor pendidikan, ada waralaba lokal, seperti CEL, ILP, LP3EN, LP3I, dan
Primagama. Lalu, di bidang ritel, ada Alfamart, Indomaret, Oulet Mitra
Indogrosir, dan sebagainya. Kemudian, yang sekarang tak kalah gencar adalah
waralaba salon, spa, serta pusat kebugaran & kecantikan. Nama waralaba yang
tercatat di sektor ini, Salon Johnny Andrean, Klub Ade Rai, Lifespa Fitness,
Lutuye Salon, My Salon, Ristra House & Ristra Center, Rudy Hadisuwarno
Exclusive Salon, Salon Rudy, Taman sari spa, dan masih banyak lagi. Salah satu
keandalan dari waralaba lokal terutama, misalnya dalam waralaba resto yaitu
California Fried Chickens sebagai contoh. Keunggulan CFC, ia termasuk
pemain resto di Indonesia yang paling awal mengembangkan pola waralaba. Tak
mengherankan, dari sisi brand awareness, CFC kini sudah amat dikenal. "Tak
sedikit orang yang mempersepsikan CFC sebagai waralaba asing seperti KFC,

McDonald's atau Wendy's," kata Hermawan Kartajaya dalam suatu forum


seminar pemasaran. Padahal, CFC dikembangkan pemain lokal, Grup PSP
(Putra Surya Perkasa). Kini gerai yang dimiliki CFC tak kurang dari 128,
sebanyak 41 gerai di antaranya dimiliki para investor alias franchisee
(terwaralaba). Selain RM Wong Solo dan CFC, masih terdapat sejumlah nama
lain yang juga berkembang besat di bisnis resto dengan program waralaba yang
amat diminati investor. Deret saja nama Papa Ron's dari PT Setiamandiri
Mitratatama Tbk. yang saat ini punya 30 gerai. Juga, Izzy Pizza, Daily Bread
Bakery (24 gerai), RM Natrabu, RM Sederhana, dan Country Donuts. Jangan
lupa pula, Mister Baso juga termasuk waralaba lokal yang perkembangannya tak
bisa diremehkan. Mister Baso yang ada di tiga jenis konter - food court, gerai
mal, dan ruko - punya 30 gerai, 22 di antaranya dimilili para terwaralaba.
(www.franchise.com, di akses pada 22 Desember 2008, pukul 14.45 )

Pengembangan waralaba lokal masih sering masih terkendala kultural.


Para pengusaha cenderung lebih percaya kekerabatan ataupun ikatan primordial
ketimbang sistem. Menyerahkan rahasia sukses ke pihak lain dianggap hal yang
tak masuk akal. Banyak pengusaha yang tidak suka dan terbiasa dengan sesuatu
yang tertulis dan baku. Selain itu, tak sedikit pengusaha yang berpendapat, buat
apa ekspansi ke pasar luar negeri kalau di pasar dalam negeri masih belum
sepenuhnya digarap. Di sinilah perlu kejelian serta visi jangka panjang yang
cerdas agar bisa menghasilkan potret perusahaan waralaba yang sukses go
international. ( www.ramli31.blogspot.com, di akses pada 22 Desember 2008,
pukul 14.45).

2. Tinjauan Umum tentang Kedudukan dan Tanggung Jawab Franshisee


Pengertian franchisee atau penerima waralaba, adalah badan usaha atau
perorangan yang diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan
Hak atas Kekayaan Intelektual atau penemuan atau ciri khas yang dimiliki
pemberi waralaba. Waralaba adalah suatu pengaturan bisnis dimana sebuah
perusahaan (franchisor) memberi hak pada pihak independen (franchisee) atau

dapat dikatakan sebagai agen tunggal dari pihak perusahaan franchisor untuk
menjual produk atau jasa perusahaan tersebut dengan peraturan yang ditetapkan
oleh franchisor. Franchisee menggunakan nama, goodwill, produk dan jasa,
prosedur pemasaran, keahlian, sistem prosedur operasional, dan fasilitas
penunjang dari perusahaan franchisor. ( www.franchisekey.com ,di akses pada
22 Desember 2008, pukul 14.45 )

Sebagaimana telah diketahui bahwa antara pihak franchisor dengan


pihak franchisee di jembatani oleh suatu kontrak yang disebut franchise
Agreement. Tidak ada hubungan lain selain dari itu. Karena itu pula setiap
tindakan yang dilakukan oleh masing-masing pihak terhadap pihak ke tiga akan
dipertanggung jawabkan sendiri oleh masing-masing pihak tersebut. Biasanya
prinsip-prinsip tanggung jawab masing-masing ini ditentukan dengan tegas dalm
perjanjian franchise tersebut. Tetapi disamping prinsip hukum yang umum
tentang tanggung jawab masing-masing tersebut , dalam hal tertentu terasa tidak
adil jika hal tersebut diterapka secara konsekuen. Sehingga kemudian
berkembang teori-teori hukum (di Indonesia masih merupakan hukum yang di
cita-citakan (ius constituendum)) yang membebankan juga pertanggung jawaban
kepada pihak franchisor atas tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pihak
franchisor terhadap pihak ketiga.

Jadi dalam hal ini pihak franchisee beralih kedudukan, dari semula
seperti tanggung jawab distributor ke tanggung jawab yang berlaku bagi seorang
agen. Adapun yang merupakan justifikasi yuridis terhadap ditariknya tanggung
jawab seorang franchisee menjadi tanggung jawab seorang franchisor atas
tindakan yang dilakukan oleh pihak franchisee adalah :

a) Justifikasi interen

Dalam hal ini jika terdapat pengaruh atau campur tangan yang cukup
besar dari pihak franchisor terhadap jalannya bisnis franchise yang
sebenarnya dikelola oleh pihak franchisee.
b) Justifikasi eksteren
Dalam hal ini terdapat kesan di dalam masyarakat sedemikian rupa
sehingga seolah-olah tindakan tersebut dilakukan oleh atau atas nama pihak
franchisor. ( Munir Fuady, 1997 : 144-145 )

B. Kerangka Pemikiran
Indonesia merupakan Negara yang berdasarkan hukum. Hukum dibuat
untuk mengatur kehidupan dan melindungi warga masyarakat, agar menciptakan
kesejahteraan dan keadilan bagi warga masyarakat itu sendiri. Demikian pula dalam
kehidupan bisnis yang dilakukan oleh masyarakat tidak lepas dari suatu peraturan
hukum, tergantung bisnis apa yang mereka jalankan. Perkembangan dari bisnis
waralaba di Indonesia sangat pesat, mulai dari pengusaha sampai masyarakat awam
yang ingin mencoba berbisnis tertarik dengan bisnis tersebut. Waralaba belum ada
Undang-Undang yang secara khusus mengaturnya. Tapi secara garis besar peraturan
mengenai waralaba terdapat pada PP No. 42 tahun 2007 serta untuk sistem
penyelenggaran usaha waralaba diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan RI
No.31/M-DAG/PER/8/2008 tentang Penyelenggaran Waralaba

Bisnis waralaba ini dituangkan dalam suatu perjanjian tertulis antara para
pihak yang akan bekerjasama. Aspek dari perjanjian waralaba ini sangat penting dan
perlu dibuat secara teliti. Dari isu yang berkembang bahwa dengan bentuk perjanjian
baku dalam perjanjian waralaba ini membuat pihak dari pemilik bisnis posisinya
lebih kuat di bandingkan dengan penerima waralaba (franchisee) yang sifatnya take
it or leave it. Selain itu terdapat isu bahwa dalam pelaksanaan perjanjian waralaba
dalam praktek jalannya bisnis waralaba dengan posisi tawar franchisee yang lemah
maka menimbulkan stigma bahwa dalam menjalankan usahanya cenderung tidak
mandiri dengan kata lain semuanya franchisor yang menghendel. Serta terakhir
mengenai isu hambatan dalam jalannya usaha yang mana kegagalan dari usaha

waralaba yang di jalankan oleh franchisee, sepenuhnya kesalahan dari franchisee


sendiri. Dari isu-isu yang berkembang penulis tertarik untuk mengetahui seberapa
benar isu-isu tersebut dengan melihat dari pihak franchisee-nya. Meliputi kedudukan
dan tanggung jawab, pelaksanaan bisnis, dan hambatan-hambatan serta cara
mengatasinya.

Berikut ini penyajian ilustrasi kerangka pemikiran dalam bentuk bagan


sebagai berikut :
PERATURAN PEMERINTAH
NO.42 TAHUN 2007
TENTANG WARALABA
PT.BABA RAFI INDONESIA
(FRANCHISOR)
Berpusat di
SURABAYA

Bapak Ali Riza


(FRANCHISEE)
Ke-130 Cabang
SURAKARTA

Perjanjian Waralaba
( FRANCHISE AGREEMENT )

Pelaksanaan Perjanjian Pihak


Franchisee Cabang Surakarta

Kedudukan dan Tanggung Jawab


Franchisee
dalam Perjanjian Waralaba

Hambatan-hambatan yang timbul dalam


Pelaksanaan Perjanjian Waralaba
dan Cara Mengatasinya

Gambar 2. Struktur Kerangka Pemikiran