Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.
Anatomi dan Fisiologi Organ Kelamin Wanita
1.1.1. Ovarium
- Lokasi dan pelekatan
Ovarium terletak pada dinding samping rongga pelvis posterior
dalam sebuah ceruk dangkal yaitu fosa ovarian dan ditahan dalam
posisi tersebut oleh mesenterium pelvis (lipatan peritoneum antara
-

peritoneum viseral dan peritoneum pariental).


Struktur
Ovarium dilapisi epitelium germinal(permukaan). Jaringan ikat
ovarium disebut stroma dan tersusun dari:
1. Medula
Ovarium adalah area terdalam. Medula mengandung pembuluh
darah dan limfatik, serabut saraf, sel-sel otot polos, dan sel-sel
jaringan ikat.
2. Korteks
Lapisan stroma luar yang rapat. Korteks mengandung folikel

ovarian yaitu unit fungsional pada ovarium.


1.1.2. Oogenesis
2. Oogenesis prenatal
Oogonium berproliferasi selama kehidupan janin dan merupakan asal
dari 6 sampai 7 juta oosit primer.
a. Setiap oosit primer diselubungi oleh satu lapisan tunggal sel-sel
folikular yang disebut folikel primordial.
b. Oosit primer akan tetap berada pada tahap profase I meiosis selama
kehidupan janin dan setelah lahir sampai pubertas.
c. Jumlah folikel primordial dapat berkurang seiring usia karena
atresia (regresi dan degenerasi folikel).
3. Oogenesis postnatal
a. Saat lahir jumlah folikel primordial dalam ovarium berkurang
menjadi 2 juta.
b. Pada usia 7 tahun, 300.000 oosit primer bertahan; saat pubertas
50.000

sampai

100.000

folikel

mampu

bertahan

untuk

menyediakan oosit pada ovulasi mendatang.


c. Kebalikan dengan laki-laki, yang terus menerus memproduksi
spermatogonia dan spermatosit primer, perempuan dilahirkan

dengan semua oosit primer yang pernah mereka miliki. Dari


kumpulan oosit yang sudah berkurang hanya 350 sampai 400 (satu
setiap bulan) akan terovulasi selama tahhun-tahun reproduktif.
4. Oogenesis post pubertal
Saat pubertas dibawah pengaruh gonadtropin hipofisis dan GnRH
hipotalamik, siklus perkembangan folikel primordial dimulai. Setiap
bulan, sejumlah folikel primer terbentuk dari beberapa folikel
primordial dan salah satu diantaranya akan mengalami maturitas dan
ovulasi.
1.1.3. Tuba Uterin (tuba fallopi atau oviduk)
Fungsi: menerima dan mentranspor oosit ke uterus setelah ovulasi.
1.1.4. Uterus
Uterus adalah organ tunggal muskular dan berongga. Oosit yang telah
dibuahi akan tertanam dalam lapisan endometrium uterus dan dipenuhi
kebutuhan nutrisinya untuk tumbuh dan berkembang sampai lahir.
1.1.5. Vagina
Vagina adalah tuba fibromuskular yang dapat berdistensi. Organ ini
merupakan jalan lahir bayi dan arah menstrual, fungsinya adalah sebagai
organ kopulasi perempuan.

1.2. Siklus pada Wanita


1.2.1. Siklus Menstruasi
Siklus menstruasi menandakan fluktuasi irama hormon hipotalamus,
hipofisis, dan ovarium serta perubahan morfologis yang dihasilkan pada
ovarium dan endometrium uterus.
a. Menstruasi (meris) adalah pendarahan bulanan yang terjadi jika bagian
endometrium uterus luruh dan dikeluarkan melalui vagina.
b. Rentang siklus menstruasi biasanya berkisar selama 28 hari, walaupun
sangat beragam. Siklus terpendek 18 hari atau terpanjang 40 hari
masih dianggap normal.
c. Siklus menstruasi berhubungan dengan siklus ovarium dan siklus
endometrium (uterus).
1.2.2. Siklus Ovarium
a. Di awal siklus (hari 1 fase folikular), FSH dan LH disekresi dari
hipofisis anterior sesuai dengan sinyal dari sekresi pulsatil GnRH
hipotalamus.
b. Kelompok folikel primer, 20 sampai 25, (disertai reseptor FSH pada
sel-sel granulosanya dan reseptor LH pada sel-sel tekanya) mulai
mensekresi estrogen, tumbuh, dan membentuk antrum. Folikel primer
kemudian berubah menjadi folikel sekunder.
c. Awalnya peningkatan kadar estrogen plasma menghambat FSH
cenderung melalui umpan balik negatif. Penurunan FSH cenderung
menghambat perkembangan folikel selanjutnya kecuali pada folikel
utama yang terpilih untuk ovulasi. Produksi estrogen terus meningkat.
d. Jika konsentrasi estrogen darah terus meningkat selama fase
midfolikular hal ini akan mengakibatkan efek stimulatori umpan balik
positif pada hipofisis dan meningkatkan produksi LH.
e. Puncak estrogen adalah kadar estrogen darah yang tinggi yang
dipertahankan selama 50 jam. Puncak ini menyebabkan LH juga
mencapai puncak tertinggi atau puncak LH.
f. Puncak LH mengakibatkan efek berikut pada folikel utama:
a. Oosit menyelesaikan pembelahan meiosis pertama selanjutnya
menjadi oosit sekunder dan badan polar pertama. Meiosis akan
berlanjut jika oosit dibuahi.
b. Sintesis enzim dan prostaglanain yang penting untuk ruptur
folikel.

c. Ovulasi atau pelepasan oosit dan sel-sel yang berkaitan


dengannya ke dalam rongga tubuh agar dapat ditarik tuba
uterin, berlangsung dalam 24 sampai 38 jam setelah puncak
LH. Hal ini terjadi 13 sampai 15 hari sebelum awitan
menstruasi (awal siklus selanjutnya).
g. Peningkatan kadar progesteron dan estrogen

dalam

darah

menyebabkan efek umpan balik negatif yang kuat pada FSH dan LH.
Tanpa LH untuk mempertahankannya, korpus luteum mengalami
kemunduran dan kadar estrogen dan progesteron menurun dengan
tajam.
h. Karena adanya penurunan kadar estrogen dan progesteron darah, efek
umpan balik negatif terhadap kelenjar hipofisis anterior berkurang.
FSH dan LH kembali menigkat untuk memulai siklus baru.
1.2.3. Siklus Endometrium
Terjadi dalam rangka mempersiapkan endometrium uterus untuk
memberi nutrisi dan mempertahankan ovum jika sudah dibuahi.
a. Fase Menstruasi
Merupakan periode perdarahan selama 4 sampai 5 hari. Di bawah
pengaruh estrogen dari folikel yang berkembang dalam ovarium
dan endometrium diperbaiki melalui pembelahan sel dalam lapisan
basal saat menstruasi masih berlangsung..
b. Fase Proliferatif
Berlangsung sampai terjadi ovulasi.
1. Endometrium yang berproliferasi dari lapisan basal kembali
menjadi tebal dan tervaskularisasi dengan baik. Estrogen juga
menyebabkan pertumbuhan reseptor progesteron pada sel-sel
endometrial.
2. Kelenjar tubular tumbuh dalam lapisan superfisial. Sel-sel
kelenjar

berproliferasi

dengan

cepat,

tetapi

tidak

mengakumulasi banyak sekresi.


3. Arteriol spiral menonjol di antara kelenjar-kelenjar untuk
mensuplai sel-sel endometrial dan grandular.
c. Fase Sekretori (Progestasi)
Progesteron merangsang kelanjutan pertumbuhan
superfisial.

lapisan

1.

Kelenjar membesar dan mensekresi nutrien (glikogen dan


lemak) untuk mempertahankan perkembangan embrio jika

2.
3.

sudah terjadi pembuahan.


Arteriol
spiral
menjadi

terkonvulsi

(berlipat-lipat).

Endometrium siap untuk implantasi.


Jika pembuahan tidak terjadi, endometrium beregresi.
a. Korpus luteum berdegenerasi, kadar progesteron dan
estrogen berkurang.
b. Arteriol spiral, sekarang

tidak

didukung

hormon,

berkonstriksi dan berdilatasi secara intermiten. Konstriksi


ini mengurangi aliran darah dan menyebabkan iskemia
serta kematian (nekrosis) jaringan dan kelenjar di
sekitarnya.
c. Saat arteriol berdilatasi, darah keluar dari area yang telah
terdisintegrasi
d. Fragmen jaringan endometrium, sekresi kelenjar grandular,
mukus, dan sedikit darah akan terlepas ke dalam rongga
uterus.
e. Perdarahan (mens) berlangsung selama 4 sampai 5 hari dan
siklus akan dimulai kembali.
1.3. Sistem Hormon Wanita
Siklus hormon wanita, seperti pada pria, terdiri dari 3 hirarki
hormon yang berbeda, sebagai berikut :
a. Hormon yang dikeluarkan hipotalamus, hormon pelepas hormon
pelutein (LHRH). LHRH merangsang sekresi FSH maupun LH.
b. Hormon hipofisis anterior, hormon perangsang folikel (FSH) dan
hormon pelutein (LH), keduanya disekresi sebagai respons terhadap
hormon yang dikeluarkan dari hipotalamus. FSH dan LH akan
merangsang pertumbuhan dari folikel yang baru untuk memulai siklus
ovarium yang baru. LH bersama dengan estrogen menstimulasi ovulasi
dan pertumbuhan progesteron, LH juga menyebabkan terjadinya
ovulasi dan sekresi lebih lanjut oleh korpus luteum. FSH merangsang
pertumbuhan dan perkembangan folikel primer, perkembangan
ovarium dan mengurangi sekresi estrogen.
c. Hormon-hormon ovarium, estrogen dan progesteron, yang disekresi
oleh ovarium sebagai respons terhadap kedua hormon dari kelenjar

hipofisis anterior. Estrogen berfungsi untuk menimbulkan proliferasi


sel dan pertumbuhan jaringan organ-organ kelamin dan jaringan lain
yang berkaitan dengan reproduksi, menentukan ciri pertumbuhan
kelamin sekunder, merangsang perbaikan dinding uterus dan
menghambat FSH serta memicu LH. Progesteron yang berfungsi
mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh darah
untuk mempersiapkan datangnya embrio, menghambat pembentukan
FSH dan LH, akibatnya korpus luteum mengecil dan menghilang.
1.4. Siklus Estrus pada Mencit
Pada beberapa jenis ternak yang hidup di daerah berikilim subtropis,
siklus birahi (astrus) hanya terjadi selama musim kawin dan periode bukan
musim kawin ternak betina dalam keadaan enastrus (tidak birahi). Pada
sejumlah mamalia, proses reproduksi terjadi selama satu periode terbatas
dalam setahun, seperti pada sebagian besar hewan menyusui.
Estrus adalah keadaan fisiologi hewan betina yang siap menerima
perkawinan dengan jantan. Siklus birahi dibagi dua fase luteal dan fase
folikel. Pada fase luteal dicirikan oleh aktifnya korpus luteum yang
mensekresikan progesterone pada level yang tinggis edangkan LH dan FSH
rendah. Pada fase folikel diawali pada saat corpus luteumlisis, kadar
progesteron

menurun

dan

pertumbuhan

folikel

mulai

aktif

dan,

mensekresikan secara bertahap estrogen sesuai dengan perkembangan


populasi folikel. Peningkatan estrogen akan menimbulkan terjadinya
tingkah laku birahi dan control umpan balik positif terhadap hipotalamus
dan hipofisia yang berdampak meningkatkan pulsaliti LH dan kadar FSH
sampai terjadi evolusi.
Masa kehamilan mencit antara 17-22 hari, rata-rata 21 hari. Mencit
termasuk hewan polioestrus, siklusnya berlangsung setiap 4-5 hari sekali,
lamanya birahi antara 9-20 jam, estrus terjadi 20-40 jam setelah partus.
Penyapihan dapat menginduksi estrus dalam 2-4 hari.
Pada setiap siklus yang terjadi pada tubuh mencit terjadi perubahanperubahan perilaku yang dipengaruhi oleh hormon

1.

Fase Estrus
Pada fase estrus yang dalam bahasa latin disebut oestrus yang
berarti kegilaan atau gairah, hipotalamus terstimulasi untuk
melepaskan

gonadotropin-releasing

hormone

(GRH).

Estrogen

menyebabkan pola perilaku kawin pada mencit, gonadotropin


menstimulasi

pertumbuhan

folikel

yang

dipengaruhi

follicle

stimulating hormone (FSH) sehingga terjadi ovulasi. Kandungan FSH


ini lebih rendah jika dibandingkan dengan kandungan luteinizing
hormone (LH) maka jika terjadi coitus dapat dipastikan mencit akan
mengalami kehamilan
Pada saat estrus biasanya mencit terlihat tidak tenang dan lebih
aktif, dengan kata lain mencit berada dalam keadaan mencari
perhatian kepada mencit jantan. Fase estrus merupakan periode ketika
betina reseptif terhadap jantan dan akan melakukan perkawinan,
mencit jantan akan mendekati mencit betina dan akan terjadi kopulasi.
Tahap estrus pada mencit terjadi dua tahap yaitu tahap estrus
awal dimana folikel sudah matang, sel-sel epitel sudah tidak berinti,
dan ukuran uterus pada tahap ini adalah ukuran uterus maksimal,
tahap ini terjadi selama 12 jam. Lalu tahap estrus akhir dimana terjadi
ovulasi yang hanya berlangsung selama 18 jam.
2.

Fase Metestrus
Pada tahap metestrus birahi pada mencit mulai berhenti,
aktivitasnya mulai tenang, dan mencit betina sudah tidak reseptif pada
jantan. Ukuran uterus pada tahap ini adalah ukuran yang paling kecil
karena uterus menciut. Pada ovarium korpus luteum dibentuk secara
aktif, terdapat sel-sel leukosit yang berfungsi untuk menghancurkan
dan memakan sel telur tersebut. Fase ini terjadi selama 6 jam. Pada
tahap ini hormon yang terkandung paling banyak adalah hormon
progesteron yang dihasilkan oleh korpus leteum.

3.

Fase Diestrus
Tahap selanjutnya adalah tahap diestrus, tahap ini terjadi
selama 2-2,5 hari. Pada tahap ini terbentuk folikel-folikel primer yang

belum tumbuh dan beberapa yang mengalami pertumbuhan awal.


Hormon yang terkandung dalam ovarium adalah estrogen meski
kandungannya sangat sedikit. Fase ini disebut pula fase istirahat
karena mencit betina sama sekali tidak tertarik pada mencit jantan.
Pada hapusan vagina akan terlihat banyak sel epitel berinti dan sel
leukosit.
4.

Fase Proestrus
Pada fase proestrus ovarium terjadi pertumbuhan folikel
dengan cepat menjadi folikel pertumbuhan tua atau disebut juga
dengan folikel de Graaf. Pada tahap ini hormon estrogen sudah mulai
banyak dan hormon FSH dan LH siap terbentuk. Pada hapusan
vaginanya akan terlihat sel-sel epitel yang sudah tidak berinti (sel
cornified) dan tidak ada lagi leukosit. Sel cornified ini terbentuk
akibat adanya pembelahan sel epitel berinti secara mitosis dengan
sangat cepat sehingga inti pada sel yang baru belum terbentuk
sempurna bahkan belum terbentuk inti dan sel-sel baru ini berada di
atas sel epitel yang membelah, sel-sel baru ini disebut juga sel
cornified (sel yang menanduk). Perilaku mencit betina pada tahap ini
sudah mulai gelisah namun keinginan untuk kopulasi belum terlalu
besar. Fase ini terjadi selama 12 jam. Setelah fase ini berakhir fase
selanjutnya adalah fase estrus dan begitu selanjutnya fase akan
berulang.

1.5. Perbedaan Siklus Menstruasi dan Siklus Estrus


Siklus reproduksi pada makhluk hidup ada dua macam, siklus estrus
dan siklus menstruasi. Siklus estrus terjadi pada mamalia non primata
sedangkan siklus menstruasi terjadi pada hewan primata dan pada manusia.
Perbedaan antara siklus estrus dan siklus menstruasi :
1. Perubahan perilaku, pada siklus estrus terlihat adanya perubahan
perilaku pada setiap tahapannya namun pada siklus menstruasi
perubahan perilaku tidak terlalu terlihat.

2. External Bleeding, atau disebut juga dengan pendarahan keluar. Pada


siklus menstruasi pendarahan keluar terjadi akibat adanya arteri spiral
yang mengalami konstriksi bersamaan dengan luruhnya endometrium
bagian

(pars)

fungsionalis.

Pars

basalis

tidak

meluruh

dan

permukaannya yang berbatasan pars fungsionalis akan diperbaiki pada


fase reparasi, sehingga pars fungsionalis beserta arteri spiral akan utuh
kembali. Pada fase estrus tidak terjadi pendarahan keluar karena tidak
adanya arteri spiral, jadi yang terjadi adalah adanya perombakan
endometrium dan sel-sel yang sudah tidak dibutuhkan akan dimakan
oleh sel-sel darah putih pada tubuhnya sendiri. Peluruhan sel
endometrium ini disebabkan karena adanya pengurangan jumlah
hormon progesteron yang dihasilkan oleh korpus leteum.
3. Waktu kawin, pada hewan yang mengalami siklus estrus perkawinan
hanya terjadi pada fase estrus saja sedangkan pada primata dan manusia
yang mengalami siklus menstruasi perkawinan dapat terjadi kapan saja.
Pendarahan keluar atau dapat pula disebut dengan external bleeding
dapat terjadi pada hewan non primata, namun volume darah yang
dikeluarkan hanya sedikit tidak sebanyak pada primata dan manusia.
Namun darah yang keluar ini seringkali disalahartikan sebagai
menstruasi padahal faktor-faktor yang mempengaruhi hal ini berbeda
dengan yang terjadi pada mamalia oleh karena itu pendarahan pada
hewan mamlia ini disebut pula pseudomenstruasi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi adalah titer estrogen yang bersifat anabolik bukan
dikarenakan adanya penurunan jumlah progesteron. Sejalan dengan
pertumbuhan folikel yang sangat cepat, terjadi pengeluaran sel-sel
darah yang menembus dinding pembuluh darah atau disebut juga
diapedesis, sedangkan pada siklus menstruasi pendarahan keluar
dikarenakan adanya peluruhan dari dinding endometrium.
4. Keadaan Lapisan Uterus jika Kehamilan Tidak Terjadi. Dua jenis
siklus yang berbeda ditemukan pada mamalia betina. Manusia dan

banyak primata lain mampunyai siklus menstrtuasi (menstrual cycle),


sementara mamalia lain mempunya siklus estrus (estrous cycle). Pada
kedua kasus ini ovulasi terjadi pada suatu waktu dalam siklus ini setelah
endometrium mulai menebal dan teraliri banyak darah, karena
menyiapkan uterus untuk kemungkinan implantsi embrio. Satu
perbedaan antara kedua siklus itu melibatkan nasib kedua lapisan uterus
jika kehamilan tidak terjadi. Pada siklus menstruasi endometrium akan
meluruh dari uterus melalui serviks dan vagina dalam pendarahan yang
disebut sebagai menstruasi. Pada siklus estrus endometrium diserap
kembali oleh uterus, dan tidak terjadi pendarahan yang banyak.