Anda di halaman 1dari 13

FAKTOR ABIOTIK

Makalah
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Ekologi

Dosen

: Lora Purnamasari, S.Pd. M.Si

Disusun Oleh :

Bunga Pertiwi

1211060036

Indri Andriyani

1211060071

Nurma Yunita

1211060070

Kelas / Semester : Biologi C /5 (Lima)

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
RADEN INTAN LAMPUNG
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya, sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah
EKOLOGI Faktor Abiotik
Kami menyadari bahwa keterbatasan pengetahuan dan pemahaman kami
menjadikan keterbatasan kami pula untuk memberikan penjabaran yang lebih
men-dalam tentang masalah ini, kiranya mohon dimaklumi apabila masih terdapat
banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan makalah ini.oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan
demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal hinggai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita. Aamiin.

Bandar Lampung, Oktober 2014

Penulis

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................ii


DAFTAR ISI .............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..............................................................................................1
1.2 Tujuan ...........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Komponen Abiotik.......................................................................2
2.2 Faktor-faktor Abiotik ....................................................................................2
BAB III PENUTUP
3.1

Kesimpulan ................................................................................................8

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................9

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Lingkungan adalah salah satu faktor penting dalam interaksi makhluk


hidup dalam system ekologi. Lingkungannya adalah sistem kompleks yang
dapat berpengaruh terhadap perkembangan makhluk hidup dan merupakan
ruang tiga dimensi, dimana makhluk hidupnya sendiri merupakan salah satu
bagiannya. Lingkungannya bersifat dinamis berubah setiap saat bagiannya.
Perubahan yang terjadi dari faktor lingkungan akan mempengaruhi makhluk
hidup terhadap faktor tersebut yang akan berbeda-beda menurut skala ruang
dan waktu, serta kondisi makhluk hidup.
Lingkungan adalah suatu system yangkompleks yang terdiri dari sejumlah
faktor lingkungan yang dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok yaitu
lingkungan abiotik seperti tanah/lahan, cahaya matahari , suhu udara, air,
nutrient, hara dan mineral dan lingkungan biotik yaitu makhluk hidup di
sekitarnya.

1.2 Tujuan Makalah

Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk


1. Mengetahui pengertian komponen Abiotik
2.

memberikan penjelasan tentang faktor lingkungan abiotik.

BAB II
PEMBAHAHASAN

2.1 Pengertian Komponen Abiotik


Komponen abiotik adalah komponen fisik dan kimia yang terdiri atas
tanah, air, udara, sinar matahari, dan lain sebagainya yang berupa medium
atau substrat untuk berlangsungnya kehidupan.

2.2 Faktor-faktor Abiotik


a) Suhu
Suhu lingkungan merupakan faktor yang penting dalam distribusi
organisme karena efeknya terhadap proses-proses biologis. Sel sel
mungkin pecah jika air yang dikandung membeku ( pada suhu di bawah
00 C) dan protein-protein kebanyakan organismse terdenaturasi pada suhu
diatas 450 C. Selain itu hanya sedikit organisme yang dapat
mempertahankan metabolisme aktif pada suhu yang amat rendah atau amat
tinggi. Meskipun demikian terdapat adaptasi-daptasi luar biasa yang
memungkinkan beb erapa organisme. Kebanyakan organisme berfungsi
paling baik dalam kisaran spesifik suhu lingkungan. Suhu dilur kisaran itu
dapat memaksa sebagin hewan menghabiskan energy untuk meregulasi
suhu internal.

b) Air
Variasi drastis dalam ketersediaan air diantara habitat-habitat yang
berbeda merupakan sebuah faktor penting lain dalam distribusi spesises.
Spesies yang hidup dipesisir atau di lahan basah dapat terdesikasi
(mengering) sewaktu pasang surut. Organisme darat menghadapi ancaman
desikasi yang terus menerus , dan distribusi spesies darat mencerminkan
kemampuan memperoleh dan mengonservasi air. Organisme gurun,

misalnya menunjukan berbagai adaptasi untuk memperoleh mengonservasi


air dilingkungan kering.

c) Salinitas
Kadar garam air di lingkungan memengaruhi keseimbangan air organisme
melalui osmosis. Kebanyakan organisme akuatik hidup terbatas dihabitat
berair tawar atau berair asin karena memiliki kemampuanterbatas untuk
berosmoregulasi.

Walaupun

banyak

organisme

darat

dapat

mengekskresikan garam berlebih dari kelenjar khusus atau dalam feses,


datarn garam atau habitat berkadar garam tinggi lain umumnya hanya
dihuni segelintir spesies tumbuhan atau hewan.

d) Sinar Matahari
Sinar matahari yang diserap oleh organism-organisme fotosintetik
menyediakan energy yang menjadi pendorong kebanyakan ekosistem , dan
sinar matahari yang terlalu sedikit dapat membatasi distribusi spesies
fotosintetik, di hutan, naungan oleh dedaunan di pucuk pohon menjadikan
kompetisi memperebutkan sinar sangat ketat, terutama untuk semaian yang
tumbuh di lantai hutan.

Dalam lingkungan akuatik, setiap meter

kedalaman air secara selektif menyerap sekitar 45% sinar merah dan
sekitar 2% sinar biru yang melalui air.

Akibatnya, sebagian besar

fotosintesis pada lingkungan akuatik terjadi relative di dekat permukaan.


Terlalu banyak sinar juga dapat membatasi kesintasan organism. Atmosfer
lebih tipis di tempat yang lebih tinggi, sehingga menyerap lebih sedikit
radiasi ultraviolet, sehingga sinar matahari lebih mungkin merusak DNA
dan protein di lingkungan alpin. Di ekosistem lain misalnya gurun, kadar
sinar yang tinggi dapat meningkatkan cekaman suhu jika hewan tidak
mampu menghindari cahaya atau mendinginkan diri melalui evaporasi.

e) Bebatuan dan Tanah


pH , komposisi mineral, dan struktur fisik bebatuan dan tanah membatasi
distribusi tumbuhan, dan berarti juga distribusi hewan pemakan tumbuhan
3

. hal-hal tersebut turut berperan menciptakan ketidaksergaman di


ekosistem darat. pH tanah dan air dapat membatasi distribusi organism
secara langsung, melalui kondisi asam atau basa ekstrim, atau secara tidak
langsung melalui keterlarutan nutrient dan toksin. Di anak sungai dan
sungai komposisi substrat (permukaan dasar ) dapat mempebgaruhi kimia
air. Kimia air sendiri mempengaruhi organisme yang menetap di perairan
tersebut. Dalam lingkungan peraiaran tawar dan laut, struktur subtrat
menentukan organism yang melekat atau meliang di substrat.

Pengertian Tanah
Tanah adalah suatu benda alami yang terdapat di permukaan kulit

bumi yang tersusun dari bahan mineral sebagai hasil pelapukan


bebatuan dan bahan organik sebagai hasil pelapukan sisa-sisa tanaman
dan hewan, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memiliki sifat
tertentu sebagai akibat pengaruh iklim, jasad hidup yang bertindak
terhadap bahan induk. Semua makhluk di bumi ini sangat tergantung
pada tanah.

Tekstur Tanah

Menurut Hanafiah (2007), berdasarkan kelas teksturnya maka tanah


digolongkan menjadi:
1) `Tanah bertekstur kasar atau tanah berpasir, berarti tanah yang
mengandung minimal 70% pasir bertekstur pasir atau pasir
berlempung.
2) Tanah bertekstur halus atau kasar berliat, berarti tanah yang
mengandung minimal 37,5% liat atau bertekstur liat, liat berdebu
atau liat berpasir.
3) Tanah bertekstur sedang atau tanah berlempung, terdiri dari:
a. Tanah bertekstur sedang tetapi agak kasar meliputi tanah yang
bertekstur lempung berpasir (sandy loam) atau lempung
berpasir halus.

b. Tanah bertekstur sedang meliputi yang bertekstur berlempung


berpasir sangat halus, lempung (loam), lempung berdebu (silty
loam) atau debu (silt).
c. Tanah bertekstur sedang tetapi agak halus mencakup lempung
liat (clay loam), lempung liat berpasir (sandy clay loam), atau
lempung liat berdebu (sandy silt loam).

Sifat Fisika Tanah


Ukuran relatif partikel tanah dinyatakan dalam istilah tekstur,

yang mengacu pada kehalusan atau kekasaran tanah. Lebih khasnya,


tekstur adalah perbandingan relatif pasir, debu, dan tanah liat. Laju
dan berapa jauh berbagai reaksi fisika dan kimia penting dalam
pertumbuhan tanaman diatur oleh tekstur karena tekstur ini
menentukan jumlah permukaan tempat terjadinya reaksi.
Pada umumnya warna tanah mempunyai hubungan dengan oksida-besi
yang terhidratasi relatif tidak stabil dalam keadaan lembab, maka
warna merah biasanya menunjukkan drainase dan aerasi yang baik.
Tanah merah sekali biasanya terdapat di permukaan yang cembung
(convex) terletak di atas batuan permeabel. Meskipun demikian, ada
pula tanah-tanah merah yang berasal dari bahan induknya
. Konsistensi tanah dibedakan menjadi tiga yaitu tanah basah,
tanah lembab dan tanah kering. Tanah basah yaitu tanah yang
kandungan airnya di atas kapasitas lapang, tanah lembab yaitu tanah
yang kandungan airnya mendekati kapasitas lapang dan tanah kering
yaitu tanah yang dalam keadaan kering angin. Tekstur tanah adalah
kehalusan atau kekasaran bahan tanah pada perabaan berkenaan
dengan perbandingan berat antar fraksi tanah. Jadi, tekstur adalah
ungkapan agihan besar zarah tanah atau proporsi nisbi fraksi tanah.
Dalam hal fraksi lempung merajai dibandingkan dengan fraksi debu
dan pasir, tanah dikatakan bertekstur halus atau lempungan. Oleh
karena tanah bertekstur halus sering bersifat berat diolah karena sangat

sulit dan lekat sewaktu basah dan keras sewaktu kering, tanah yang
dirajai fraksi lempung juga disebut bertekstur berat.
Sifat fisik tanah digunakan antara lain untuk menghitung
kebutuhan air irigasi, menunjang perencanaan konservasi tanah dan
air, dan menduga tingkat bahaya pencemaran tanah tanah dan air.
Beragamnya sifat tanah baik menurut ruang maupun waktu menuntut
adanya perencanaan pertanian yang bersifat spesifik lokasi yang
disesuaikan dengan agroekosistem setempat, khususnya sifat tanahnya.
Dalam konteks ini maka hasil analisis fisika tanah sangat diperlukan
dalam rangka perencanaan pembangunan pertanian yang efisien dan
efektif. Analisis fisika tanah yang dapat dilaksanakan saat ini meliputi
analisis berat isi, ruang pori total, kadar air pada berbagai tegangan
(pF), tekstur, permeabilitas, nilai Atterberg, dan kandungan air
optimum untuk pengolahan tanah, indeks stabilitas agregat, laju
perkolasi dancoefficient of linear extensibility (COLE).

Sifat Kimia Tanah


Beberapa sifat kimia tanah antara lain :
1. Derajat keasaman tanah (ph)
2. C-organik
Kandungan bahan organic dalam tanah merupakan salah satu
factor dalam menentukan keberhasilan dalam ekosistem tanah.
3. N-total
Nitrogen merupakan unsure hara makro esensial, menyusun
sekitar 1,5% bobot tanaman dan berfungsi terutama dalam
pembentukan protein.
4. P-bray
Unsure fosfor dari tanah berasal dari bahan organi, pupuk
buatan dan mineral-mineral dalam tanah.
5. Kalium
Merupakan unsure hara yang di serap tanaman dalam bentuk
ion K+.

6. Ntrium
Berperan penting dalam menentukan karakteristik tanah dan
pertumbuhan tanaman terutama di daerah kering dan agak
kering yang berdekatan dengan pantai.
7. Kalsium
8. Magnesium
Magnesium merupakan unsure pembentuk klorofil.

Sifat Biologi Tanah


Biologi tanah adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa

biologi yang terjadi dalam tanah, menyangkut kehidupan biota tanah


dan peranannya dalam penguraian serta menjaga kesuburan tanah
Beberapa sifat biologis tanah
1. Mikroorganisme Tanah
Jumlah total mikroorganisme yang terdapat dalam tanah digunakan
sebagai indeks kesuburan tanah. Tanah yang subur mengandung
sejumlah mikroorganisme yang tingggi. Suplai makanan di tambah
temperatur yang sesuai serta ketersediaan dapat mendukung
perkembangan mikroorganisme pada tanah tersebut
Fungsi Tanah
Dua fungsi tanah yang utama yaitu :
1. Sebagai sumber unsur hara bagi tumbuhan
2. Sebagai matriks tempat akar tumbuhan berjangkar dan air tanah
tersimpan
Kedua fungsi tersebut dapat menurun atau hilang, hilang atau
menurunnya fungsi tanah ini yang biasa disebut kerusakan tanah atau
degradasi tanah. Hilangnya fungsi tanah sebagai sumber unsur hara
bagi tumbuhan dapat terus menerus diperbaharui dengan pemupukan.
Tetapi hilangnya fungsi tanah sebagai tempat berjangkarnya perakaran
dan menyimpan air tanah tidak mudah diperbaharui karena diperlukan
waktu yang lama untuk pembentukan tanah.
7

Beberapa fungsi Tanah sebagai media tumbuh, yaitu :


1. Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran
2. Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsur
hara)
3. Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh:
hormon, vitamin, dan asam-asam organik; antibiotik dan toksin anti
hama; enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara)
4. Sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena
terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan
primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak
negatif karena merupakan hama & penyakit tanaman.

f) Iklim
Iklim memegang peranan penting bagi persebaran flora dan fauna disetiap
daerah, di dalam iklim terdapat factor kelembapan, suhu udara, dan angin.
Kelembapan dan suhu udara

sangat penting bagi pertumbuhan fisik

tumbuhan, sedangkan angin dapat mempengaruhi proses penyerbukan.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

Hanafiah, Kemas Ali. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada

Hardjowigeno, Sarwono. 2003. Ilmu Tanah. CV. Jakarta : Akademika Pressindo


Rafii ,Suryatna.1994.Ilmu Tanah .Bandung : Angkasa Bandung

Campbell,A Neil.2008.Biologi.Jakarta:Erlangga

Indriyato.2006.Ekologi Hutan.Jakarta:Bumi Aksara

10