Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR

DISUSUN OLEH :
SINGGIH SATRIO WIBOWO
11.301010.049

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
2014

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbilalamin, terlebih dahulu saya memanjatkan puji syukur ke hadirat
Allah SWT, tuhan seru sekalian alam, pencipta langit dan bumi, atas rahmat dan karunia-NYA
yang telah Melimpahkan rahmad dan hidayahnyalah, sehingga makalah ini dapat diselesaikan
tepat pada waktunya. Karena makalah ini digunakan untuk bahan melaksanakan diskusi.
Penulispun banyak mendapatkan bimbingan serta pengarahan yang sangat berati dalam
menyusun laporan ini baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Dari pengumpulan data
sampai makalah ini selesai dibuat, oleh karena itulah, pada kesempatan ini saya ingin
menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itulah kritik
dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan laporan ini. Dan
semoga laporan ini dapat berguna bagi pembaca.

Tarakan, Oktober 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Segala sesuatu sekarang memerlukan pangetahuan atau sering kita sebut ilmu
pengetahuan. Salah satunya pengetahuan yang kita pelajari sekarang adalah pengetahuan Sumber
Daya Air. Pelajaran ini sangat penting karena pengetahuan ini penting untuk kita dalam hal
pembuatan pembangunan dibidang pengairan dan didalam bidang lainnya. Pengembangan
Sumber Daya Air ( Water Resources ) memerlukan adanya konsepsi. Perencanaan, perancangan,
konstruksi dan operasi fasilitas-fasilitas untuk pengendalian dan pemanfaatan air pada dasarnya
hal-hal tersebut merupakan tugas para insinyur sipil, tetapi jasa-jaha para ahli dibidang lain juga
dibutuhkan.

BAB II
PEMBAHASAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR

Yang dimaksud dengan sumber daya air adalah air, sumber air, dan daya air yang terkandung
di dalamnya. Sumber daya air merupakan sumber daya alam karunia Allah SWT, yang sangat
diperlukan oleh manusia sepanjang masa dan menjadi bagian dari kebutuhan dasar manusia
yang sangat penting. Semua kegiatan kehidupan manusia
dari pangan hingga industri memerlukan air dengan kuantitas yang cukup dan kualitas yang
sesuai dengan kebutuhannya. Air tidak hanya diperlukan sebagai kebutuhan pokok untuk
kehidupan tetapi juga dipergunakan sebagai komoditi ekonomi (Isnugroho, 2005: 88).
Sumber daya air yang terdiri atas air, sumber air, dan daya air memberikan manfaat untuk
mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat di segala bidang baik sosial, ekonomi, budaya,
politik maupun ketahanan nasional.
Dalam UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya air (untuk selanjutnya nanti akan disebut
dengan UU No.7 Tahun 2004) juga sudah ditegaskan bahwa pada hakekatnya air tersebut
mempunyaI fungsi sosial, ekonomi dan lingkungan.
a. Fungsi sosial yang dimaksud dalam UU No.7 tahun 2004 ini adalah pemanfaatan
sumber daya air untuk kepentingan umum (minum, memasak, mencuci, mandi, dan
pertanian);
b. fungsi lingkungan adalahpemanfaatan sumber daya air menjadi bagian dari
ekosistem sekaligus sebagai tempat kelangsungan flora dan fauna;
c. fungsi ekonomi adalah pemanfaatan sumber daya air untuk menunjang kegiatan
usaha (pasal 4 dan penjelasannya).
1. Wawasan Pengembangan Sumber Daya Air
Pengembangan sumber daya air adalah merupakan upaya pendayagunaan sumber-sumber air
secara terpadu dengan upaya pengelolaan, pengendalian dan pelestariannya.
Wawasan pengembangan sumber daya air adalah cara pandang atau cara memahami daripada
upaya pendayagunaan sumber-sumber air secara terpadu melalui kegiatan pengelolaan,
pengendalian, dan pelestariannya.
Peningkatan kebutuhan akan air telah menimbulkan eksploitasi sumber daya air secara
berlebihan sehingga mengakibatkan penurunan daya dukung lingkungan sumber daya air

yang pada gilirannya menurunkan kemampuan pasokan air. Gejala degradasi fungsi
lingkungan sumber daya air ditandai dengan fluktuasi debit air di musim hujan dan kemarau
yang semakin tajam, pencemaran air, berkurangnya kapasitas waduk dan lainnya.
Disamping tantangan fisik tersebut, pengelolaan sumber daya air juga mengalami
tantangan dalam penanganannya seperti tidak tercukupinya dana operasi dan pemeliharaan,
lemahnya kordinasi antar instansi terkait dan masih kurangnya akuntabilitas, transparansi
serta partisipasi para pihak (stakeholders) yang mencerminkan good governance dalam
pengelolaan sumber daya air.
Sementara itu seiring dengan semangat reformasi disektor publik seperti good governance,
akuntabilitas publik, otonomi daerah dan pemberdayaan keuangan daerah sebagaimana telah
diamanatkan oleh TAP TAP MPR dan UU no.32/2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU
no. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, pada awal
milenium ketiga ini telah terjadi pula pergeseran paradigma pengelolaan sumber daya air,
yang dulunya pengelolaan secara sektoral berubah menjadi pengelolaan secara holistik,
komprehensif dan terpadu.
Pengelolaan kebutuhan atau alokasi air tidak saja untuk pertanian, domestik, perkotaan,
industri dan kebutuhan lainnya tetapi air juga sebagai komoditas ekonomi yang memiliki
fungsi sosial yang berwawasan lingkungan. Pengembangan organisasi pengelola air
diharapkan dapat menuju ke desentralisasi dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam
pengelolaan dan pembiayaan sumber daya air.

PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR


1. Permasalahan Dalam pengelolaan Sumber Daya Air
Permasalahan umum dalam pengelolaan sumber daya air pada dasarnya terdiri atas 3 aspek
yaitu terlalu banyak air, kekurangan air dan pencemaran air. Banjir sering terjadi di banyak
daerah di Indonesia antara lain di kota besar seperti Jakarta, Medan, Semarang maupun di
pedesaan dengan kerugian yang dialami mencapai milyaran bahkan sampai trilyunan rupiah.
Untuk mengatasi bahaya banjir dan kerugian yang diakibatkannya terdapat upaya struktural
dan non struktural. Upaya struktural meliputi normalisasi sungai, pembuatan tanggul,
sudetan, waduk pengendali banjir, daerah retensi banjir dan perbaikan lahan (reboisasi,
terassering); sedangkan upaya non struktural adalah zonasi banjir, pengaturan pada dataran
banjir, peramalan banjir dan peringatan dini, dan pemasangan peil banjir.

Potensi air permukaan yang dimiliki oleh Indonesia diperkirakan sebesar 1.789.000 juta
m3/tahun yang berasal dari seluruh pulau pulau di indonesia seperti Papua sekitar 401.000
juta m3/tahun, Kalimantan 557.000 juta m3/tahun, dan Jawa 118.000 juta m3/tahun
(Direktorat Jenderal Pengairan, 1995). Hal ini belum termasuk potensi sumber air tanah yang
jumlahnya tidak sedikit. Secara umum alokasi kebutuhan air dikelompokkan dalam 3 kategori
kebutuhan, yaitu kebutuhan air domestik, pertanian dan industri. Ketersediaan air untuk Pulau
jawa dan Bali sudah berada dalam kondisi kritis. Kondisi ini sangat mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi dan memicu kerusakan lingkungan air. Konflik antar Kabupaten dan
antar penduduk dengan pengusaha berkaitan dengan keterbatasan volume air mulai mencuat
kepermukaan akhir akhir ini.
Terjadinya pencemaran air disebabkan oleh tingginya beban pencemaran yang masuk ke
dalam sumber air. Berdasarkan data yang tercatat, pada tahun 2015, beban pencemaran
meningkat, apabila tidak dilakukan upaya pengendalian pencemaran yang memadai
(PUSAIR, 1990).
Sampai saat ini air tanah masih merupakan sumber air minum yang sangat penting bagi
penduduk Indonesia baik di perkotaan maupun di perdesaan. Hanya 28% (37 juta jiwa) dari
total penduduk yang dapat dilayani PDAM yaitu 26.7 juta penduduk perkotaan dan 10.3 juta
penduduk pedesaan, sedangkan sisanya sebagian besar menggunakan air sumur (PERPAMSI,
2000).
Terbatasnya sarana pengolahan limbah penduduk (domestik) serta tingginya penggunaan
tangki septik pada daerah permukiman, telah mencemari air tanah dangkal.
2. Kondisi Daerah Pengaliran Sungai
Dalam kerangka kegiatan penyusunan kebijakan pendayagunaan sumber daya air dan
konservasi daerah aliran sungai telah disusun prioritas satu sampai tiga daerah aliran sungai
kritis untuk masuk dalam program konservasi. Penyusunan prioritas didasarkan pada nilai
indeks pemanfaatan air, koefisien variasi ketersediaan air yang menggambarkan ketersediaan
air sebagai fungsi waktu. Perubahan tata guna lahan yang tidak terkendali mengakibatkan
kerusakan daerah aliran sungai yang teridentifikasi dari semakin besarnya perbandingan
antara debit maksimum dan debit minimum.
3. Kerusakan Lingkungan Morfologi Sungai
Hasil identifikasi lapangan menunjukkan bahwa 90% morfologi ruas sungai yang mengalir
disekitar sentra-sentra pengembangan wilayah di Pulau Jawa dan Sumatera berada dalam

kondisi rusak amat sangat berat. Penyebab utama kerusakan morfologi sungai adalah kegiatan
penambangan material dasar sungai yang tidak terkendali.
PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR
Pendayagunaan sumber daya air adalah upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan,
pengembangan dan pengusahaan sumber daya air secara optimal, berhasil guna dan berdaya
guna. Upaya ini ditujukan untuk memanfaatkan sumber daya air secara berkelanjutan dengan
mengutamakan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil.
Pendayagunaan sumber daya air dilakukan dengan mengutamakan fungsi sosial untuk
mewujudkan keadilan dengan memperhatikan prinsip pemanfaat membayar jasa pelayanan
pengelolaan sumber daya air dan melibatkan peran serta masyarakat.
1. Penatagunaan Sumber Daya Air.
Penatagunaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 ayat (1) ditujukan
untuk menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air .Zona ini
digunakan sebagi acuan untuk : penyusunan atau peeubahan RTRW atau perubahan RTRW,
rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. Penetapan
zona pemanfaatan sumber daya air dilakukan dengan :
a. Mengalokasikan zona untuk fuungsi lindung dan budi daya;
b. Menggunakan dasar hasil penelitian dan pengukuran secara teknis hidrologis;
c. Memperhatikan ruang sumber air yang dibatasi oleh garis sempadan sumber air;
d. Memperhatikan kepentingan bebagai jenis pemanfaatan;
e. Melibatkan peran masyarakat sekitar dan pihak lain yang berkepentingan; dan
f. Memperhatikan fungsi kawasan.
Penetapan peruntukan air pada sumber air pada setiap wilayah sungai dilakukan dengan
memperhatikan :
a. Daya dukung sumber air;
b. Jumlah dan penyebaran penduduk serta proyeksi pertumbuhannya;
c. Perhitungan dan proyeksi kebutuhan sumber daya air;

1. Pemanfaatan Air
Pemanfaatan air harus kita bedakan antara Penyadapan, atau Pengambilan air kedalam
satu system, dan Konsumsi, yaitu air yang diuapkan atau digabungkan dengan suatu produk dan
tidak dapat digunakan lagi bagi pemanfaatan lainya. Air yang mengalir pada suatu sungai tidak
selalu siap untuk digunakan oleh setiap orang atau kelompok yang menginginkannya. Hak untuk
memanfaatkan air mempunyai nilai yang sangat besar, terutama pada daerah-daerah dimana air
merupakan barang yang langkah. Seperti halnya benda-benda lain yang beharga, hak atas air juga
yang dilindungi oleh undang-undang. Masalah mutu air dijumpai dalam perencanaan proyekproyek penyediaan air irigasi serta dalam pembuangan air limbah,
Sungai-sungai yang tercemar menimbulkan masalah bagi ikan dan satwa liar, tidak sesuai
untuk rekreasi dan sering kali keruh dan kadang kadang berbau. Pengujian kimiawi serta
bakteriologis biasa dilaksanakan untuk menetapkan jumlah serta sipat-sipat kotoran didalam air.
Ahli-ahli ilmu hayat harus menilai pengaruh kotoran kotoran ini terhadap tumbuh-tumbuhan dan
manusia pemakai air yang besangkutan dan menetapkan standar mutu yang diijinkan.
2. Berbagai Aspek Dalam Sumber Daya Air
a. Aspek Ekonomi Dalam Teknik Sumber Daya Air
Tidak banyak keahlian dibutuhkan untuk mendesain suatu bangunan untuk berbagai
tujuan apabila dana yang tersedia tidak mencukupi untuk pembangunan tersebut. Kemampuan
khusus dari ahli teknik yang bersangkutan akan tercermin dalam peranan proyek-proyek yang
dapat memenuhi tujuan yang dimaksudkan dengan biaya yang sepadan dengan keuntungan yang
dihasilkan. Suatu analisis ekonomi untuk menentukan rencana yang baik dari beberapa pilihan
pada umumnya dibutuhkan dalam merencanakan proyek. Biasanya harus dibutuhkan biaya
proyek yang bersangkutan cukup rendah dibandingkan terhadap keuntungan-keuntungan yang
diharapkan, demi terjaminnya infestasi yang diperlukan. Besarnya presipitasi serta aliran sungai
berubah dari tahun ketahun, pada umumnya pembangunan tidak ekonomis untuk merencanakan
proyek bagi pengaman banjir terbesar yang mungkin terjadi atau untuk memastikan tersedianya
air untuk musim kemarau ysang paling sering yang bisa dibayangkan bisa terjadi. Sebaliknya
rencana proyek diukur dengan skala probalitas, sehingga probalitas gagalnya proyek yang
bersangkutan untuk memenuhi tujuannya akan kecil, tetapi tetap positif.
b.

Aspek Sosial Dalam Teknik Sumber Daya Air

Hampir semua proyek untuk pengolahan air direncanakan dan dibiayayai oleh badan
pemerintah tertentu, dinas penyediaan air atau pembuangan limbah kotor, dinas jalan raya negara
bagian, proyek irigasi pengendalian banjir dari pemerintah pusat atau oleh badan hukum umum.
Banyak proyek semacam ini menjadi isyu politik yang controversial dan diperdebatkan secara
berkepanjangan oleh orang-orang yang hanya mempunyai pengetahuan terbatas tentang aspekaspek teknik dasar dari permasalahan nya. Hal ini adalah menjadi tanggung jawab yang jelas dari

seorang insinyur yang memiliki fakta-fakta yang lebih lengkap tentang proyek semacam ini untuk
dengan tegas berdiri di atas kepentingan umum, agar keputusan akhir tidak didasarkan pada
alasan-alasan politis dan emosional.
Insiyur yang bersangkutan harus menganalisis fakta-fakta yang ada dan penyajian uraian
yang jelas dengan istilah-istilah yang sederhana dan harus menghindari terjadinya suatu proyek
yang di biayai Negara atau masyarakat, Seorang insinyur harus berpegang dengan seksama pada
kode etik kelompok propesionol yang mewakili propesi teknik sipil di negaranya. Kelalaian untuk
bersikap demikian akan menimbulkan prasangka terhadap permasalahanya serta terhadap seluruh
propesi di depan umum.
3. Perencanaan Proyek Sumber Daya air
Perencanaan adalah suatu langkah penting dalam pengembangan proyek sumber daya air.
Perencanaan suatu proyek pada umumnya bersangkutan pada suatu insentif politis atau
pengakuan suatu proyek. Hal ini diikuti oleh gagasan tentang alternative pemecahan
permasalahan yang layak secara teknis yang akan memenuhi kebutuhan yang bersangkutan.
Usul-usul alternatif harus di tinjau berdasarkan study ekonomi yang menganalisis manfaat
dan biaya masing-masing proyek tersebut dalam menetapkan kelayakan ekonominya. Penilaian
dampak sosial dan lingkungan juga merupakan suatu langkah penting dalam perencanaan.
Akhirnya, kelayakan pinansial serta kepraktisan politis masuk pula dalam rantai permasalahan
serta memainkan perencanaan yang penting dalam pemilihan alternatif-alternatif.
4 Sejarah Teknik Sumber Daya Air
Proyek pengelolaan air yang pertama ada di dunia telah hilang dalam kabut prasejarah.
Pentingnya air bagi kehidupan umat manusia membenarkan pengadaian bahwa manusia purba
telah memiliki gagasan untuk mengalihkan aliran sungai dari alur buatan dengan maksud untuk
mengalirkan air ketempat-tempat tertentu di mana di butuhkan untuk tanaman atau manusia.
Pekerjaan drainasi dan irigasi skala besar yang paling awal mempunyai pertalian dengan menes,
pembangunan drainasi mesir yang pertama,kira-kira tahun 200 S.M. pekerjaan-pekerjaan ini
kemudian di usul berbagai proyek mediterania dan timur dekat, meliputi bendungan-bendungan,
saluran-saluran, talang air dan system pembuangan limbah,. Talang air (aqueducts) yang
panjangnya sekitar 381 mil dibangun untuk mengalirkan air ke dalam kota roma, suatu proyek
irigasi di propinsi Szehuan di Cina yang di buat pada kira-kira 250 S.M,masih di gunakan hingga
sekarang, bahkan di dunia baru (Benua Amerika) proyek-proyek yang berlinkup besar telah ada
sebelum datangnya kulit putih. Reruntuhan proyek irigasi yang rumit dan luas yang di bangun
pada tahun 1100 oleh bangsa Indian Hohokam menunjukan ekonomi irigasi yang telah maju.
Usaha pertama dalam pengetahuan teknik yang terorganisasi adalah pembentukan Ecole
des Ponts et Chaussees di Paris pada tahun 1760. Walaupun demikian, hingga tahun 1850, desain
teknis terutama didasarkan pada aturan-aturan kasar yang dikembangkan dari pengalaman dan
diwarnai dengan faktor-faktor keamanan yang ditentukan secara bebas. Sejak saat itu,
pemanfaatan teori telah meningkat dengan cepat, sehingga dewasa ini sejumlah besar perhitungan
yang teliti telah menjadi bagian dari sebagian besar desain proyek. Walaupun demikian , tidaklah

dapat dianggap bahwa aturan-aturan kasar telah separuhnya dihapuskan dalam praktek teknik
karena masih banyak segi pengetahuan teknik yang belum dipahami dengan sempurna, sehingga
pemecahan masalah secara teoritis tidaklah layak. Suatu jarak yang cukup besar tampak terjadi
antara riset dan penerapan. Jawaban atas berbagai masalah profesiolnal terdapat dalam catatancatatan laboratorium atau bahkan dalam makalah-makalah yang diterbitkan, tetapi hal-hal
tersebut belum banyak digunakan oleh para insinyur pratisi.
5 Masa Depan Teknik Sumber Daya Air
Orang awam, yang tidak terbiasa dengan massalah-masalah teknik, sering
memandang kegiatan-kegiatan yang besar dibidang pengamanan banjir, Irigasi dan langkahlangkah lain dalam teknik sumber daya air dengan pemikiran bahwa kemungkinan diperlukan
pekerjaan lebih lanjut pastilah sudah dapat diabaikan. Sebenarnya peradapan modern jauh lebih
tergantung pada air daripada peradapan dahulu kala. Pengetahuan kedokteran modern bersama
dengan teknik penyehatan modern telah menurunkan kematian dan menaikan harapan hidup,
sehingga jumlah penduduk dunia meningkat dengan pesat. Standar modern tentang kebersihan
pribadi membutuhkan air yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang digunakan seabad
yang lalu.
Para insinyur sumber daya air dimasa depan akan sangat terlibat dengan teknologi
serta gagasan-gagasan baru. Reklsamasi air limbah, modifikasi cuaca, pengelolaan lahan untuk
memperbaiki produksi air, serta teknik-teknik baru untuk penyimpanan air disemua bidang
pemanfatan air merupakan topik-topik yang semakin menarik dan semakin dalam diteliti.
Bertumbuhnya penduduk dunia akan mengubah pola-pola ekologis ditinjau dari berbagai
segi, dan karenanya perencanaan pengelolaan air harus meliputi penilaian cara-cara untuk
menekan akibat-akibat ekologis yang tidak diinginkan. Perhatian terhadap pelestarian lingkungan
hidup akan menjadi semakin penting dalam perencanaan pengelolaan air dimasa yang akan
datang. Pertentangan antara pelestarian ekosistem kita dengan pencapaian Kebutuhan
masyrakat didalam pengelolaan air pastilah menuju kepada pendekatan-pendekatan baru dalam
pengelolaan air dan mungkin juga definisi baru dari perkataan Kebutuhan. Tidaklah akan
cukup bila dimasa depan permasalahan air ditangani secara sederhana dengan meniru metodemetode yang telah dilaksanakan diwaktu yang lalu.