Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM PERTANIAN BERLANJUT

IDENTIFIKASI GULMA

Disusun Oleh :
1.

Dian khoiratun R.S

125040201111273

2.

Dwi Novia Sari

125040201111279

3.

Dwi Ismachatul Choiriyah

125040201111280

4.

Amalia Pratiwi K

125040201111281

5.

Lea Agita Tarigan

125040201111293

6.

Abdul Aziz

125040201111301

7.

Marta Rizki Oktavia

125040201111246

8.

Hazarul Ismali

125040201111306

9.

Achmad Nurul Yaqin

125040202111005

10. Ali Yazid Muchsin

125040207111040

11. Christian Daniel S

105040200111142
Kelas : AA

Asisten : Rizky Rully

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN
MALANG
2014

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tumbuhan dibagi menjadi dua yaitu, tumbuhan yang menguntungkan
dan tumbuhan yang merugikan. Tumbuhan yang menguntungkan yaitu
tumbuhan yang dibudidayakan oleh manusia atau sengaja untuk ditanam
karena mempunyai nilai ekonomis yang menjanjikan. Sedangkan tumbuhan
yang merugikan adalah tumbuhan yang tidak dikehendaki keberadaannya.
Dalam kegiatan budidaya atau dalam ilmu pertanian, tumbuhan tersebut sering
disebut dengan gulma (weed). Pengertian gulma yang lain adalah tumbuhan
yang belum diketahui manfaatnya secara pasti sehingga kebanyakan orang
juga menganggap bahwa gulma mempunyai nilai negatif yang lebih besar
daripada nilai ekonomisnya. Sehingga gulma tersebut harus dimusnahkan,
agar tidak menimbulkan kerugian, dan yang nantinya dapat mengganggu
kegiatan pertanian. Baik secara teknis, produksi, maupun secara ekonomis.
Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh di suatu tempat dalam waktu
tertentu tidak dikehendaki oleh manusia. Gulma tidak dikehendaki karena
bersaing dengan tanaman yang dibudidayakan dan dibutuhkan biaya
pengendalian yang cukup besar yaitu sekitar 25-30% dari biaya produksi
(Soerjani et al. 1996). Persaingan tersebut dalam hal kebutuhan unsur hara, air,
cahaya dan ruang tumbuh sehingga dapat: 1) Menurunkan hasil, 2)
Menurunkan kualitas hasil, 3) Menurunkan nilai dan produktivitas tanah, 4)
Meningkatkan biaya pengerjaan tanah, 5) Meningkatkan biaya penyiangan, 6)
Meningkatkan kebutuhan tenaga kerja, dan 7) Menjadi inang bagi hama dan
penyakit.
Dalam kurun waktu yang panjang, kerugian akibat gulma dapat lebih
besar daripada kerugian akibat hama atau penyakit. Oleh karena itu, untuk
menangani masalah gulma, maka perlu dilakukan identifikasi gulma yang
dimaksudkan untuk membantu para petani dalam usaha menentukan program
pengendalian gulma secara terarah sehingga produksi dapat ditingkatkan
sebagaimana yang diharapkan. Adapun pengendalian gulma dapat dilakukan
dengan berbagai cara, diantaranya dengan cara preventif (pencegahan), secara

fisik, pengendalian gulma dengan sistem budidaya, secara biologis, secara


kimiawi dan secara terpadu.
Dalam penekanan populasi gulma yang terdapat pada suatu areal lahan
budidaya dapat dilakukan dengan tepat diawali dengan melakukan identifikasi
terhadap jenis gulma yang terdapat pada areal tersebut. Identifikasi adalah
usaha yang dilakukan untuk mengenali ataupun mengetahui informasi
mengenai suatu materi yang sedang diamati dimana materi yang dimaksud
adalah gulma. Jenis gulma yang tumbuh biasanya sesuai dengan kondisi lahan
budidaya. Misalnya pada perkebunan yang baru diolah, maka gulma yang
dijumpai kebanyakan adalah gulma semusim, sedang pada perkebunan yang
telah lama ditanami, gulma yang banyak terdapat adalah dari jenis tahunan.
Keadaan suhu yang relatif tinggi, cahaya matahari yang melimpah, dan curah
hujan yang cukup untuk daerah tropik juga mendorong gulma untuk tumbuh
subur. Akibatnya gulma menjadi masalah dalam budidaya tanaman pangan,
perkebunan, hortikultura, perairan dan lahan non pertanian lainnya. Melalui
faktor-faktor tersebut, upaya yang dilakukan dalam menekan popuasi gulma
pada suatu areal dapat dilakukan dengan baik dan benar. Dan dengan
mengidentifikasi guma dapat memberi solusi penanganan yang tepat tanpa
mengalami kerugian. Kerugian dapat dihindari dengan mengenali terlebih
dahulu gulma yang akan diberantas.
1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Untuk mengetahui spesies gulma yang tumbuh mengganggu dan
bersaing dengan tanaman budidaya.
2. Mengetahui komposisi jenis atau spesies gulma, dan dominasi pada suatu
vegetasi.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Gulma
Gulma adalah tumbuhan pengganggu yang nilai negatif apabila tumbuh
an tersebut merugikan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung
dan sebaliknya tumbuhan dikatakan memiliki nilaipositif apabila mempunyai
daya guna manusia. menurut (Mangoensoekarjo, 1983).
Gulma merupakan tumbuhtumbuhan yang tumbuh pada tempat yang tid
ak diinginkan sehinggamenimbulkan

kerugian

bagi

kehidupan

manusia.

Kerugian yang ditimbulkan antara lain pengaruhpersaingan (kompetisi)


mengurangi ketersediaan unsur hara tanaman mendorong efek alelopati
(Nasution,1986).
Gulma didefinisikan sebagai tumbuhan yang tumbuh pada tempat yang
tidak diingikan oleh manusia. Dengan demikian apa saja yang termasuk
tanaman budidaya ,dapat dipandang sebagai gulmaapabilah tumbuh pada
tempat yang tidak diingkan.Tumbuhan yang lebih lazim sebagai gulma
biasanyacendrung mempunyai sifat-sifat atau ciri khas tertentu yang
memungkinkanya untuk mudah tersebarluas dan mampuh menimbulkan
kerugian dan ganmgguan (Anderson, 1977).
Gulma yatiu tumbuhan liar yang dapat berkembang biak secara vegetati
f maupun generatif dan biji yang dihasilkan secara vegetatif maupun generatif
adalah dengan hizoma,stolon,dll. Pembiakan melaluispora umumnya dilakukan
oleh bangsa pakisan sedangkan pembiakan biji dilakukan oleh bangsa gulma
semusim atau tahunan (Sukman dan Yakub,1995).
Gulma merupakan pesaing alami yang kuat bagi tanamanbudidaya dika
renakan mampumemproduksi biji dalam jumlah yang banyak sehingga
kerapatannya tinggi, perkecambahannya cepat,pertumbuhan awal cepatdan
daur hidup lama (Ashton dan Monaco, 1991).

2.2 Klasifikasi Gulma

Ada beberapa cara untuk mengklasifikasikan gulma agar memudahkan


dalam upaya pengendalainnya. Klasifikasi berdasarkan atas sifat atau karakter
gulma secara umum.
2.2.1 Klasifikasi berdasarkan daur hidupnya atau umur:
a) Gulma semusim (annual weed)
Gulma ini berkembang biak secara generatif melalui biji, hanya dapat
hidup selama satu daur yang biasanya kurang dari satu tahun, contoh
Ageratum conyzoides (babandotan).
b) Gulma tahunan (perenial weed)
Gulma tahunan berkembang biak secara generatif melalui biji, dan secara
vegetatif elalui rimpang, stolon dan setek batang. Gulma ini hidup lebih
dari satu tahun atau hidup sepanjang tahun dan berbuah berulangkali.
Untuk gulma yang membentuk rimpang atau umbi dapat hidup sepanjang
tahun, contoh Imperata cylindrica (alang-alang).
(Nasution,1986)
2.2.2 Klasifikasi berdasarkan habitat:
a) Gulma fakultatif, tumbuh di habitat yang belum ada campur tangan
manusia. Gulma ini tumbuh pada lahan yang belum dikelola untuk
budidaya tanaman, seperti padang alang-alang.
b) Gulma obligat, tumbuh di habitat yang sudah ada campur tangan manusia.
Gulma ini biasanya tumbuh menyertai tanaman budidaya, seperti sawah,
ladang dan perkebunan.
(Nasution,1986)
2.2.3 Klasifikasi berdasarkan kerugian yang ditimbulkan:
a) Gulma lunak (soft weed).
Gulma lunak yaitu jenis gulma yang tidak begitu berbahaya bagi tanaman
yang dibudidayakan, namun dalam keadaan populasi tinggi harus
dikendalikan, contoh Ageratum conyzoides.
b) Gulma keras atau gulma berbahaya (noxius weed)

Gulma berbahaya adalah jenis gulma yang berpotensi allelopati, contoh (I.
cylindrica), Mikania micrantha (sembung rambat), Chromolaena odorata
(kirinyuh), Cyperus rotundus (teki berumbi).
(Nasution,1986)
2.2.4 Klasifikasi berdasarkan kesamaan relatif dalam sifat bersaing dan responnya
terhadap herbisida:
a) Gulma golongan rumput (grasses).
Gulma golongan rumput sebagian besar termasuk dalam famili Gramineae
atau Poaceae, dengan ciri-ciri umum adalah: Berbatang bulat memanjang,
dengan ruas-ruas batang berongga atau padat. Daun berbentuk pita,
bertulang daun sejajar, lidah-lidah daun berbulu, permukaan daun ada
yang berbulu kasar atau halus. Buah berbentuk butiran tersusun dalam
bentuk malai. Berakar serabut, berstolon atau membentuk rimpang, contoh
I. cylindrica, Digitaria ciliaris, Eleusine indica
b) Gulma golongan berdaun lebar (broad leaved).
Gulma golongan berdaun lebar sebagian besar temasuk tumbuhan
berkeping dua (Dicotyledoneae) dari berbagai famili. Ciri-ciri umum:
Batang tubuh tegak dengan percabangannya, ada pula yang tumbuh
merambat. Daun tunggal maupun majemuk, helaian daun bulat/bulat telur
Bertulang daun melengkung atau menjari dan tepi daun rata, bergerigi atau
bergelombang. Duduk daun berhadapan atau berselang-seling. Bunga
tunggal atau majemuk tersusun dalam suatu karangan bunga. Contoh
Borreria alata, Ageratum conyzoides, Synedrella nodiflora
c) Gulma golongan teki (sedges).
Famili Cyperaceae mempunyai ciri-ciri umum: Daun berbentuk pipih atau
berlekuk segi tiga, memanjang yang tumbuh langsung dari pangkal batang.
Permukaan daun biasanya licin tidak berbulu atau ada yang berbulu agak
kasar, tangkai bunga berbentuk seperti lidi, muncul dari tengah-tengah
pangkal batang dan ujungnya tersusun karangan bunga. Perakaran
biasanya membentuk stolon dan bercabang dimana setiap cabang
membentuk umbi, contoh Cyperus rotundus dan Cyperus kyllingia
d)

Gulma golongan pakis-pakisan (fern) contoh Cyclosorus aridus (pakis


kadal).

(Mangoensoekarjo, 1983)
2.3 Peran dan Fungsi Gulma Pada Lahan Budidaya
Selain pengaruh yang merugikan, gulma juga mempunyai pengaruh
yang menguntungkan pada lahan pertanian, yaitu:
a. Pengaruh yang menguntungkan terhadap tanah
Adanya gulma juga mempunyai peranan penting dalam menyeimbangkan
perbandingan unsur hara yang ada di dalam tanah. Jenis gulma yang
mempunyai perakaran yang dalam mampu memompa unsur hara dari
lapisan tanah yang dalam ke permukaan sehingga dapat dimanfaatkan oleh
tanaman budidaya yang umumnya mempunyai perakaran dangkal. Adanya
gulma juga dapat menciptakan lingkungan mikro yang menguntungkan
bagi jasad renik tanah. Pengaruh yang paling menguntungkan secara nyata
dari gulma khususnya di daerah dengan curah hujan yang tinggi adalah
perlindungan terhadap tanah dari bahaya erosi terutama di daerah-daerah
dengan kemiringan lereng yang tinggi.
b. Pengaruhnya terhadap populasi jasad pengganggu tanaman budidaya
Beberapa jenis hama dan patogen penyebab penyakit pada tanaman
budidaya lebih menyukai hidup pada gulma dan akan menyerang tanaman
budidaya jika gulmanya tidak ada. Gulma juga memberikan habitat yang
menguntungkan bagi musuh alami hama tanaman budidaya sehingga
pengendalian gulma secara total tidaklah dianjurkan.
c. Pengaruh yang menguntungkan bagi ekosistem pertanian
Pada ekosistem pertanian semua organisme yang ada termasuk petani dan
hewan peliharaannya serta bahan-bahan anorganik berada dalam keadaan
saling berinteraksi terus-menerus. Pengaruh gangguan yang cukup serius
terhadap ekosistem ini, misalnya dengan mengendalikan seluruh gulma
yang ada dan penggunaan herbisida yang berlebihan akan menyebabkan
keseimbangan alami ekosistem tersebut terganggu.
d. Pengaruh yang menguntungkan bagi pertanian secara umum
Komunitas gulma yang terjadi akibat penggunaan herbisida yang ekstensif
selama bertahun-tahun adalah miskin akan jumlah jenis tetapi kaya dalam
jumlah individu dari setiap jenisnya. Dengan semakin meningkatnya daya
toleransi dari jenis ini terhadap suatu herbisida dan banyaknya individu per

m2, maka tingkat kompetisisi yang sangat tinggi akan terjadi lagi pada
tanaman budidayanya (Mangoensoekarjo, 1983).
Sebagai satu pengaruh yang merugikan dengan adanya gulma pada
lahan pertanian adalah menimbulkan persaingan/kompetisi dengan tanaman
budidaya. Persaingan atau kompetisi merupakan suatu proses perebutan/
persaingan sumber daya lingkungan yang terdapat dalam keadaan terbatas/
kurang yang disebabkan oleh kebutuhan serentak dari individu-individu
tanaman yang dapat mengakibatkan penurunan tingkat pertumbuhan dan
kapasitas reproduksi tanaman budidaya. Ada beberapa bentuk persaingan yang
terjadi antara gulma dengan tanaman budidaya seperti persaingan sinar
matahari, unsur hara, dan air
a. Persaingan sinar matahari
Sinar matahari merupakan unsur penting yang menunjang terjadinya
proses fotosintesis pada tanaman. Adanya gulma pada lahan pertanian
akan menimbulkan persaingan untuk mendapatkan sinar matahari terutama
dari pengaruh kanopi/tajuk tanaman atau gulma yang saling menaungi.
Akibatnya tanaman budidaya tidak dapat memperoleh intensitas sinar
matahari yang optimal untuk mendukung proses fotosintesisnya sehingga
laju fotosintesisnya akan kurang optimal pula. Kurang optimalnya
fotosintesis tanaman budidaya tersebut tentunya akan berpengaruh pula
pada laju pertumbuhantanamannya.
b. Persaingan unsur hara
Unsur hara yang tersedia dalam jumlah cukup pada tanah sangat
diperlukan untuk menunjang pertumbuhan tanaman budidaya terutama
unsur hara makro seperti unsur Nitrogen, Phospor, dan Kalium. Adanya
gulma pada lahan pertanian apalagi pada lahan yang miskin unsur hara
akan menimbulkan persaingan unsur hara dengan tanaman budidaya.
Akibatnya pertumbuhan tanaman dapat terganggu karena ketersediaan
unsur hara kurang/terbatas untuk mendukung pertumbuhan tanamannnya.
c. Persaingan air
Air juga merupakan salah satu unsur penting untuk mendukung proses
fotosintesis tanaman. Selain itu air juga diperlukan tanaman untuk pelarit
dalam sel tanaman dan sebagai media pengangkutan unsur hara dari dalam
tanah ke tanaman. Persaingan air antara gulma dengan tanaman budidaya

yang mengakibatkan defisiensi/kekurangan air yang terus-menerus


menyebabkan terhambatnya atau terhentinya pertumbuhan tanaman
budidaya serta menyebabkan perubahan-perubahan dalam tanaman yang
tidak dapat balik (irreversible).
(Mangoensoekarjo, 1983)

III.

BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat


Kegiatan praktikum awal tanam di laksanakan pada tanggal 21
September 2014, identifikasi gulma dilakukan pada tanggal 24 September
2014. Dilakukan pengamatan setiap 1 minggu sekali. Kegiatan ini bertempat di
Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya di Desa Ngijo,
Kecamatan Kepuharjo, Malang.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat yang digunakan:
1. alat tulis

: untuk mencatat hasil pengamatan

2. kamera

: untuk dokumentasi hasil pengamatan

3. polybag

: tempat penanaman

4. gembor

: alat untuk menyiram tanaman

3.2.2 Bahan yang digunakan

1. benih jagung, kacang tanah : indikator pengamatan


2. tanah

: media penanaman

3. kompos

: media penanaman

3.3

Cara kerja
a.

Mengamati tanaman yang dicurigai


sebagai gulma yang ada disekitar
tanaman jagung atau kacang tanah,
Mendokumentasi gulma tersebut,
Mengidentifikasi gulma tersebut

b.
c.

dengan

menggunakan

buku

identifikasi,
Memberi keterangan pada gambar

d.

dan

membuat

tersebut.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
1. Rumput Teki (Cyperus Rotundus)

klasifikasi

gulma

a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Division : Magnoliophyta
Class
: Liliopsida
Ordo
: Poales
Family
: Cyperaceae
Genus
: Cyperus
Species : Cyperus rotundus
b. Morfologi
Pada akar rimpangnya yang sudah tua terdapat banyak tunas yang
menjadi umbi berwarna coklat atau hitam. Rasanya sepat kepahitpahitan dan baunya wangi. Umbi-umbi ini biasanya mengumpul
berupa rumpun. pada batang rumput teki ini memiliki ketinggian
mencapai 10 sampai 75 cm. Daun berbentuk pita, berwarna mengkilat
dan terdiri dari 4-10 helai, terdapat pada pangkal batang membentuk
rozel akar, dengan pelepah daun tertutup tanah. Bunga berwarna hijau
kecoklatan, terletak di ujung tangkai dengan tiga tunas kepala benang
sari berwarna kuning jernih, membentuk bunga-bunga berbulir,
mengelompok menjadi satu berupa payung. Buahnya berbentuk
kerucut besar pada pangkalnya, kadang-kadang melekuk berwarna
coklat, dengan panjang 1,5 - 4,5 cm dengan diameter 5 - 10 mm.
Bijinya berbentuk kecil bulat, dan memiliki sayap seperti bulu yang
digunakan untuk proses penyerbukan.
c. Siklus hidup
Rumput teki (Cyperus Rotundus) pada umumnya berumur lebih dari 2
tahun. Umumnya berkembang biak secara vegetative, namun ada
beberapa spesies yang berkembang biak secara vegetative dan
generative. Organ perkembangbiakan vegetative berupa akar, rimpang,
umbi, dan stolon. Pemotongan organ-organ tersebut biasanya terjadi
pada saat pengolahan tanah.
d. Peran pada lahan budidaya
Pada bidang pertanian, peran rumput teki (Cyperus Rotundus) adalah
gulma yang dapat menurunkan kuantitas hasil tanaman. Rumput teki
(Cyperus Rotundus) juga menyebabkan kesulitan dalam praktek
budidaya,

seperti

dalam

pengolahan

tanah,

penyiangan,

dan

pemanenan yang menyebabkan peningkatan biaya produksi. Pada

saluran irigasi menghambat aliran air sehingga pemberian air ke sawah


terhambat. Gulma tersebut juga dapat menjadi inang bagi hama atau
patogen

penyakit. Rumput

teki

(Cyperus

Rotundus)

dapat

menimbulkan alelopati pada tanaman yang menyebabkan penurunan


pertumbuhan tanaman.
2. Rumput lampuyangan, suket balungan (Panicum repens)

a. Klasifikasi
Kingdom
: Plantae
Division
: Magnoliophyta
Class
: Liliopsida
Ordo
: Poales
Family
: Poaceae
Genus
: Panicum
Spesies
: Panicum repens L.
b. Morfologi
Rumput lampuyangan (Panicum repens) memiliki akar rimpang 12-40
cm dan menjalar di bawah permukaan tanah dengan tebal hingga 20
mm, berwarna putih dan berdaging. Rumput ini memiliki daun
berukuran 4-30 cm x 3-9 mm berbentuk garis dengan ujung yang
runcing dan kaki lebar. Bungan majemuk berupa malai agak jarang
sepanjang 8-22 cm.
c. Siklus hidup
Rumput lampuyangan termasuk kedalam siklus hidup selama lebih
dari dua tahun. Kebanyakan tumbuhan ini membentuk biji banyak
untuk penyebaran dan dapat pula menyebar secara vegetatif. Gulma
perennial merayap, menyebar dengan akar yang merayap, stolon
(bagian merayap di atas tanah) dan Rizhoma (bagian merayap didalam
tanah).
d. Peran dalam lahan budidaya

Rumput lampuyangan (Panicum repens) merupakan gulma lahan


kering daerah, di lereng dan tanaman bendungan.

3. Rumput kenop, wudelan (Cyperus kyllingia)

a. Klasifikasi
Kingdom
Division
Class
Ordo
Family
Genus
Spesies
b. Morfologi
Rumput kenop,

: Plantae
: Magnoliophyta
: Liliopsida
: Cyperales
: Cyperaceae
: Cyperus
: Cyperus kyllingia Endl.
wudelan (Cyperus kyllingia) mempunyai batang

tumpul berbentuk segitiga dan tajam dengan tinggi 10-80 cm. daun
tanaman berisi 4-5 helai pada pangkal batang dengan pelepah daun
tertutup tanah, berbentuk garis, bagian atas berwarna hijau mengkilat,
panjang daun berkisar 10-60 cm, lebar daun 2-6 mm, keseluruhan
bulir anak daun berkumpul menjadi panjang. Daun pembalut 3-4, tepi
daun kasar dan tidak rata dengan jari-jari paying 6-9. Bunga berisi 1040 dengan panjang berkisar 3 mm, benang sari 3 dan tangkai putik
bercabang 3. Akar rumput ini adalah akar serabut yang dilindaungi 3
daun pelindung.
c. Siklus hidup

Rumput kenop, wudelan (Cyperus kyllingia) termasuk parennial siklus


hidupnya atau tumbuhan tahunan. Tumbuhan ini bisa hidup lebih dari
dua tahun atau tidak ada batasnya.
d. Peran dalam lahan budidaya
Rumput kenop, wudelan (Cyperus kyllingia) pada lahan budidaya
merupakan gulma yang sangat merugikan.
4. Patikan kebo, gelang susu (Euphorbia hirta)

a. Klasifikasi
Kingdom
: Plantae
Division
: Magnoliophyta
Class
: Magnoliopsida
Ordo
: Euphorbiale
Family
: Euphorbiaceae
Genus
: Euphorbia
Spesies
: Euphorbia hirta L.
b. Morfologi
Patikan kebo (Euphorbia hirta) mempunyai batang lunak dan bergetah
putih. Warna batangnya adalah hijau kecoklatan. Daunnya berbentuk
jorong meruncing sampai tumpul, tepinya bergerigi dan berbulu
dipermukaan atas dan bawah. Panjang helaian daun mencapai 50 mm
dan lebarnya 25 mm, pertulangan menyirip, letak daun yang satu
dengan yang lain berhadap-hadapan. Daunnya berwarna hijau atau
hijau keunguan. Tumbuhan ini mampu hidup selama 1 tahun dan
berkembang biak melalui biji.
c. Siklus hidup
Patikan kebo (Euphorbia hirta) merupakan tumbuhan yang tidak lama
hidupnya, tumbuhan ini tumbuh tegak dan merupakan suatu
kosmopolit dari daerah tropis dan banyak terdapat di dataran rendah

serta pada tanah yang tidak terlalu lembab dan biasanya berumput.
Dan termasuk annual siklus hidupnya atau tumbuhan semusim.
d. Peran dalam lahan budidaya
Patikan kebo (Euphorbia hirta) merupakan tumbuhan gulma yang
sangat merugikan bagi lahan yang terdapat tanaman budidaya.
5. Bayam (Amaranthus tricolor)

a. Klasifikasi
Kingdom
: Plantae
Division
: Spermatophyta
Class
: Dicotyledoneae
Ordo
: Amaranthales
Family
: Amaranthaceae
Genus
: Amaranthus
Spesies
: Amaranthus tricolor
b. Morfologi
Bayam (Amaranthus tricolor) merupakan tumbuhan herba setahun,
tegak atau agak condong, tinggi 0,4-1 m, dan bercabang. Batang
tumbuhan ini lemah dan berair. Daun bertangkai, berbentuk bulat telur,
lemas, panjang 5-8 cm, ujung tumpul, pangkal runcing, serta warnanya
hijau, merah, atau hijau keputihan. Bunga dalam tukal yang rapat,
bagian bawah duduk diketiak, bagian atas berkumpul menjadi
karangan bunga di ujung tangkai dan ketiak percabangan. Bunganya
berbentuk bulir.
c. Siklus hidup
Bayam (Amaranthus tricolor) tersebar di daerah tropis dan subtropis.
Tumbuhan ini dapat tumbuh sepanjang tahun dan ditemukan pada
ketinggian 5-2000 mdpl, tumbuh didaerah panas dan dingin, tetapi
lebih tumbuh subur di daerah dataran rendah pada lahan terbuka dan

udaranya agak panas. Dan termasuk annual siklus hidupnya atau


tumbuhan semusim.
d. Peran dalam lahan budidaya
Bayam (Amaranthus tricolor) merupakan tumbuhan gulma yang
sangat merugikan bagi lahan yang terdapat tanaman budidaya.
4.2 Pembahasan
Gulma adalah tumbuhan yang tumbuh pada tempat yang tidak
dikehendaki manusia. Berarti tumbuhan tersebut merugikan baik secara
langsung maupun tidak langsung atau bahkan kadang-kadang juga belum
diketahui kerugian atau kegunaannya (Tjitrosoedirdjo, 1984).
Berdasarkan data hasil pengamatan di lapang menunjukkan bahwa
gulma yang paling banyak tumbuh disekitar tanaman polykultur antara jagung
dan kacang tanah adalah rumput teki. Hampir setiap minggu dan disemua
polybag rumput teki ini bisa tumbuh. Menurut siklus hidupnya rumput teki
termasuk kedalam gulma perennial (tahunan) dan sesuai dengan karakteristik
yang ada pada gulma tahunan. Gulma tahunan (perennial) tumbuhan golongan
ini menyelesaikan daur hidupnya selama lebih dari dua tahun. Kebanyakan
tumbuhan ini membentuk biji banyak untuk penyebaran dan dapat pula
menyebar secara vegetative. Karena beda cara penyebarannya, maka tumbuhan
ini di bagi perennial sederhana dan perennial merayap. Gulma dengan
perennial sederhana, hanya menyebar dengan biji, meskipun dapat menyebar
secara vegetative bila tumbuhan ini terpotong, akar lunak dan tumbuh meluas.
Gulma perennial merayap menyebar dengan akar yang merayap, stolon (bagian
merayap diatas tanah) dan rhizome (bagian merayap di dalam tanah) (Sudarmo,
1991).
Pada gulma Rumput lampuyangan, suket balungan (Panicum repens)
ini hanya ditemmukan pada polybag 2 pada pada perlakuan 4. Sedangkan pada
perlakuan 1 hingga 3 tidak ditemukan. Gulma ini termasuk kedalam gulma
tahunan. Tumbuhan ini menyelesaikan daur hidupnya selama lebih dari dua
tahun. Kebanyakan tumbuhan ini membentuk biji banyak untuk penyebaran
dan dapat pula menyebar secara vegetatif. Gulma perennial merayap, menyebar
dengan akar yang merayap, stolon (bagian merayap di atas tanah) dan Rizhoma
(bagian merayap didalam tanah).

Rumput kenop, wudelan (Cyperus kyllingia) ditemukan pada perlakuan


3 dan 4. Gulma ini termasuk gulma semusim, Gulma ini berkembang biak
secara generatif melalui biji, hanya dapat hidup selama satu daur yang biasanya
kurang dari satu tahun.
Tumbuhan patikan kerbau (Euphorbia hirta) ditemukan pada perlakuan
3 dan 4. Gulma ini mampu bertahan hidup selama 1 tahun dan berkembang
biak melalui biji. Patikan kerbau mempunyai warna dominan kecoklatan dan
bergetah Patikan kerbau hidupnya merambat (merayap) di tanah. Bayam
(Amaranthus tricolor) ditemukan di semua perlakuan. Termasuk annual siklus
hidupnya atau tumbuhan semusim.
Dari semua perlakuan yang ada di lahan. Gulma yang banyak
ditemuakan adalah rumput teki dan bayam. Karena kedua tanaman ini ada di
semua perlakuan. Hal ini perlu dilakukan pengendalian jika gulma tersebut
merugikan dan menyebabkan pengaruh negatif atau kompetisi bagi
pertumbuhan tanaman. Sehingga tanaman tidak dapat tumbuh optimal.

V.

KESIMPULAN

Gulma adalah tumbuhan pengganggu yang nilai negatif apabila tumbuh


an tersebut merugikan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung
dan sebaliknya tumbuhan dikatakan memiliki nilai positif apabila mempunyai
daya guna manusia. Gulma mempunyai pengaruh positif dan negatif bagi
tanaman. Pada lahan budidaya yang kami amati ditemukan gulma antara lain:
rumput teki, rumput lampuyangan, rumput kenop, bayam, dan patikan kebo.
Dari semua perlakuan yang ada di lahan. Gulma yang banyak ditemuakan
adalah rumput teki dan bayam. Karena kedua tanaman ini ada di semua
perlakuan. Hal ini perlu dilakukan pengendalian jika gulma tersebut merugikan
dan menyebabkan pengaruh negatif atau kompetisi bagi pertumbuhan tanaman.
Sehingga tanaman tidak dapat tumbuh optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, W. P. 1977. Weed Science Principles. New York : West Publishing Co


Ashton, F. M. dan F. J. Monaco. 1991. Weed Science: Principle and Practice John
Willey and Sons. Inc N. Y. pp. 419
Mangoensoekarjo S, Balai Penelitian Perkebunan, Medan. 1983. Gulma dan Cara
Pengendalian Pada Budidaya Perkebunan. Jakarta. Direktorat Jenderal
Perkebunan, Departemen Pertanian
Nasution, U.1986. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera
Utara dan Aceh. Pusaat dan Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Tanjung Morawa (P4TM), Tanjung Morawa
Soerjani, M., M. Soendaru dan C. Anwar. 1996. Present Status of Weed Problems
and Their Control in Indonesia. Biotrop. Special Publication. No.24
Sudarmo, S., 1991. Pestisida. Yogyakarta : Penerbit Kanisius
Sukman, Y. dan Yakup. 1995. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Jakarta : Raja
Grafindo Persada
Tjitrosoedirdjo, S., H. Utomo, dan J. Wiroatmodjo., 1984. Pengelolaan Gulma di
Perkebunan. PT Gramedia, Jakarta

Anda mungkin juga menyukai