Anda di halaman 1dari 10

Peran Indonesia dalam G-20

1.Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
G-20 merupakan kelompok kerjasama ekonomi antara negara-negara
maju dan negara-negara berkembang. Nama G-20 mulai diresmikan pada
pertemuan tingkat tinggi di Pittsburgh, AS tahun 2009 tetapi sudah terbentuk
pertama kali pada tahun 1999 sebagai forum bagi para menteri keuangan dan
gubernur bank sentral menyusul krisis finansial di Asia. G-20 menjadi forum
ekonomi utama menggeser peran G-8 yang hanya berisi kerjasama negaranegara maju.
Peran baru G-20 itu mencerminkan munculnya kesadaran negara-negara
maju bahwa krisis keuangan global yang terjadi dua tahun terakhir ini tidak bisa
mereka atasi sendiri tanpa melibatkan negara lain. Negara industri maju juga
tidak bisa menghindari fakta bahwa perekonomian sejumlah negara lain mampu
melesat jauh. Sebut saja kesuksesan yang diraih China, India, dan Brasil. Fakta
itulah yang mendorong kesadaran negara maju perlunya membentuk tatanan
ekonomi baru dunia. Mereka tak ingin dininabobokan oleh dominasi yang
mereka genggam selama ini. Sejumlah komitmen pun disepakati pada KTT G20 di Pittsburgh menuju tatanan ekonomi baru itu. Misalnya, memberikan hak
suara kepada negara-negara berkembang dalam badan-badan internasional
seperti IMF, Bank Dunia, dan bank pembangunan regional. Awal mulanya
kelompok ini adalah G-6 yang dibentuk oleh Perancis, Italia, Jerman Barat,
Inggris, Jepang, dan AS pada tahun 1975 untuk menyelesaikan krisis minyak.
Setahun kemudian Kanada bergabung sehingga G-6 berubah menjadi G-7. Pada
pertemuan di Napoli, Italia. Rusia menggelar pertemuan terpisah dengan para
pemimpin G-7 dan dijuluki Politik 8 (P-8) atau G-7+1 atas undangan Pedana
Menteri Inggris Tony Blair dan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton. Rusia
secara formal bergabung pada tahun 1997, dan membuahkan G-8. Anggota G20 terdiri atas 19 negara, yaitu Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi,
Argentina, Australia, Brasil, China, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang,
Jerman, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Perancis, Rusia, Turki, serta Uni
Eropa.(Kompas tanggal 27 September 2009).
Indonesia sebagai satu-satunya negara ASEAN yang bergabung dalam
komunitas G-20 diharapkan oleh negara-negara ASEAN lainnya untuk bisa
menyampaikan aspirasi yang diberikan untuk selanjutanya disampaikan dalam
pertemuan G-20. Ini membuat peran Indonesia sangat sentral di G-20, selain
untuk mengutamakan kepentingan negara sendiri tetapi juga untuk bisa untuk
mengutamakan kawasan Asia Tenggara yang menjadi kawasan Indonesia.
Indonesia juga berada dalam posisi strategis dalam menentukan arah dan

kebijakan perekonomian global. Selanjutnya Indonesia dengan sebagai negara


dengan ekonomi nomor 16 di dunia akan lebih banyak diajak berdiskusi dan
akan didengar pendapatnya di G-20. Posisi tawar akan menjadi semakin kuat
dibandingkan dengan hanya menjadi tamu dan penonton G-8.
1.2 Perumusan Masalah
Bagaimana peran Indonesia dalam anggota G-20 ?
Apa yang membuat Indonesia menjadi anggota G-20 ?
Hasil yang didapat Indonesia dengan menjadi anggota G-20 ?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui peran Indonesia dalam G-20
2. Mengetahui alasan Indonesia menjadi anggota G-20
3. Mengetahui dampak dari keanggotaan Indonesia dalam G-20
1.4 Kajian Teori
Politik Luar Negeri Indonesia yang bebas dan aktif yang dicetuskan
oleh Mohammad Hatta. Bebas berarti tidak memihak salah satu blok yang ada
di dunia yaitu, blok barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan blok timur
yang dipimpin oleh Uni Soviet. Aktif berarti ikut serta dan aktif melaksanakan
perdamaian dunia yang di impikan oleh seluruh bangsa.
Penerapan politik luar negeri bebas - aktif harus disesuaikan dengan
perubahan lingkungan strategis baik di tingkat global maupun regional yang
sangat mempengaruhi penekanan kebijakan luar negeri Indonesia. Polugri
Indonesia didesain untuk mampu mempertemukan kepentingan nasional
Indonesia dengan lingkungan internasional yang selalu berubah. Tidak dapat
dipungkiri perlunya polugri yang luwes dan flexible untuk menghadapi segala
tantangan dimaksud. Perubahan lingkungan internasional tidak hanya
disebabkan oleh dinamika hubungan antar negara tetapi juga perubahan isu, dan
munculnya aktor baru dalam hubungan internasional yang berupa non-state
actors.
Pencapaian kepentingan nasional Indonesia di dunia internasional tidak
terlepas dari perubahan lingkungan strategis balik dalam tataran global maupun
regional yang memberikan tantangan sekaligus kesempatan bagi proses
pencapaian kepentingan tersebut. Dan dalam rangka menghadapi tatanan dunia
yang semakin berubah dengan cepatnya, semakin disadari perlunya untuk
mengembangkan kelenturan dan keluwesan dalam pelaksanaan kebijakan luar
negeri agar dapat memanfaatkan berbagai tantangan dan peluang yang muncul
dari perubahan lingkungan strategis secara optimal. Sehubungan dengan hal
tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato kuncinya pada

bulan Mei 2005 telah memperkenalkan suatu konsep baru yaitu kebijakan luar
negeri konstruktivis, yang pada intinya dimaksudkan untuk mengembangkan
tiga macam kondisi dalam pelaksanaan kebijakan luar negeri Indonesia yaitu:
(1) pola pikir positif dalam mengelola kerumitan permasalahan luar negeri; (2)
konektivitas yang sehat dalam urusan-urusan internasional; dan (3) identitas
internasional yang solid bagi Indonesia yang didasarkan pada pencapaianpencapaian domestik dan diplomatiknya. Diplomasi Indonesia yang
dilaksanakan oleh Departemen Luar Negeri (Deplu) turut mengaktualisasikan
program dan prioritas Kabinet Indonesia Bersatu yang pada intinya adalah
melakukan diplomasi total untuk ikut mewujudkan Indonesia yang bersatu,
lebih aman damai, adil, demokratis dan sejahtera.
Upaya untuk mencapai kepentingan nasional Indonesia di dunia
Internasional dilaksanakan melalui diplomasi. Dengan total diplomasi
Diplomasi Indonesia yang dilaksanakan oleh Departemen Luar Negeri (Deplu)
turut mengaktualisasikan program dan prioritas Kabinet Indonesia Bersatu yang
pada intinya adalah melakukan diplomasi total untuk ikut mewujudkan
Indonesia yang bersatu, lebih aman dan damai, adil, demokratis dan sejahtera.
Dalam lingkup tugas dan kompetensi utama Deplu sebagai penyelenggara
hubungan luar negeri, Deplu berupaya melibatkan seluruh komponen pemangku
kepentingan untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan
menerapkan agenda utama yang ditetapkan pemerintahan Presiden Soesilo
Bambang
Yudhoyono
dalam
masa
lima
tahun
mendatang.
2. Metodologi penelitian
Metode yang saya gunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif
yaitu berdasarkan buku yang berhubungan dengan G-20, dan dipergunakan
sebagai bahan bacaan yang dibaca oleh penulis. Untuk mengupdate informasi
maka penulis menambahnya yang didapat dari koran-koran yang isinya
mengenai G-20 dan juga internet. Ini adalah data primer atau sering disebut
sebagai teknik kepustakaan.
3. Pembahasan dan hasil penelitian
3.1 Peran Indonesia dalam G-20
Sebagai salah satu negara berkembang yang tergabung dalam G-20
Indonesia mempunyai peranan penting dalam keikusertaannya dalam
menentukan kebijakan global dalam keputusan yang diambil. Sebagai anggota
G-20 dan nantinya memiliki hak suara, Indonesia seharusnya lebih mampu
menyuarakan kepentingan nasional dan regionalnya. Misalnya yang terkait
dengan masalah investasi, utang, kemiskinan, lingkungan, dan pengangguran.
Indonesia sebagai salah satu dari 12 negara tambahan termasuk negara dengan

tingkat pendapatan domestik bruto (PDB) mencapai US$ 468 miliar berada di
posisi terbawah karena hanya sedikit di atas Arab Saudi (US$ 374 miliar),
Argentina (US$ 310 miliar) dan Afrika Selatan (US$ 243 miliar). Jumlah PDB
negara-negara berkembang tersebut jauh di bawah yang dimiliki oleh Eropa
mencapai US$ 15,3 triliun atau Amerika Serikat yang mencapai US$ 14 triliun.
Namun demikian, jomplangnya komposisi kekuatan ekonomi yang dilihat
melalui indikator GDP tersebut idealnya tidak temanifestasikan dalam proses
pengambilan keputusan.
Seperti dalam forum multilateral lainnya, prinsip-prinsip egaliter dalam
pembahasan berbagai hal yang ingin dipecahkan harus menjadi prinsip utama.
Dari sisi komposisi GDP tidak banyak terjadi peningkatan yang signifikan dari
G-8 menjadi G-20, namun dari sisi pengaruh kebijakan, kredibilitas masukanmasukan yang dikeluarkan dalam forum G-20 jelas lebih tinggi derajatnya
karena ikut melibatkan negara-negara berkembang. Beberapa peran strategis
bisa dilakukan oleh Indonesia dalam berbagai kebijakan yang diputus di
Pittsburg tersebut. Di antaranya adalah peran Indonesia sebagai satu-satunya
perwakilan negara ASEAN dan dikenal sebagai negara yang mayoritas
berpenduduk muslim sekaligus menganut system demokrasi menjadikan fungsi
yang diemban Indonesia seyogyanya juga memperjuangkan kepentingan
kawasan ASEAN.
Hal ini akan mengembalikan dominasi Indonesia di kancah diplomasi
ASEAN yang selama ini terkesan krisis kepemimpinan, karena tidak adanya
negara kuat yang mengambil posisi strategis untuk memikirkan nasib kawasan.
Meskipun, tentunya Indonesia juga memiliki kepentingan-kepentingan sendiri
dan terkadang berhadapan dengan kepentingan global yang mendesak untuk
diselesaikan dalam forum multilateral tersebut. Indonesia bisa mendesak
kebijakan pengurangan utang yang menumpuk yang selama ini dialami
Indonesia, dimana kebijakan tersebut disebabkan oleh kesalahan negara
pendonor.
Selama dalam periode pemerintahan Orde Baru, negara-negara maju
banyak menawarkan utangnya ke Indonesia yang kemudian pelaksanaan tidak
banyak dimanfaatkan oleh rakyat banyak. Kalau pun dimanfaatkan proses
pemanfaatannya tidak berjalan optimal. Selama ini negara-negara donor tutup
mata dan melihat bahwa kondisi tersebut sepenuhnya mutlak kesalahan
Indonesia sebagai debitor.
Padahal, idealnya, negara-negara donor juga bertanggung jawab atas
misplacement ataupun mengawasi proses pengucuran utang tersebut. Sama
halnya dengan perbankan yang meminjamkan kreditnya ke debitor yang tidak
layak, maka bank bersangkutan idealnya juga ikut disemprit oleh otoritas yang
mengawasi perbankan. Yang jelas formalisasi G-20 sebagai wadah forum

multilateral merupakan langkah maju peran Indonesia dalam mewarnai tatanan


baru internasional.
Indonesia adalah satu-satunya negara ASEAN yang menjadi anggota
dalam forum G-20 yang saat ini diandalkan dunia untuk menjadi lembaga yang
mencari solusi masalah finansial dan keuangan global. Dan negara ASEAN
lainnya pun mengapresiasi sikap Indonesia dalam forum tingkat global G-20
karena tidak hanya memperjuangkan pandangan negara-negara berkembang
namun juga memastikan partisipasi aktif negara-negara Asia Tenggara dalam
forum G-20. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di Hua Hin, Thailand
mengatakan
apresiasi
tersebut
yang
disampaikan
oleh
kepala
negara/pemerintahan ASEAN dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-15
ASEAN di Hua Hin.
ASEAN mengharapkan Indonesia agar terus mendorong upaya
restrukturisasi dalam lembaga keuangan dunia agar menganut sistem voting
yang lebih mencerminkan tatanan dunia saat ini serta memastikan negaranegara berkembang memiliki akses dana untuk pembangunan. "Mereka
mengharapkan seperti yang selama ini sudah kita lakukan," ujarnya Marty.
Selain itu, Marty mengatakan, ASEAN juga meminta Indonesia untuk berperan
aktif dalam G-20 guna memastikan dihindarinya gejala proteksionisme dalam
perdagangan dunia. "Di sini Indonesia memainkan peran yang cukup unik
karena Indonesia bukan saja anggota ASEAN tetapi juga satu-satunya anggota
ASEAN yang juga menjadi anggota G-20," tutur Marty. Ia menjelaskan peran
Indonesia dalam G-20 dan ASEAN bisa saling melengkapi karena peran kuat
Indonesia di ASEAN sebenarnya dapat memberi pijakan dan fondasi yang
berpengaruh di forum G-20 dan demikian pula sebaliknya. "Itu memang dalam
diplomasi bagaimana kita mengembangkan secara serempak kemampuan ini,
jadi kita menggunakan ASEAN di G-20 dan sebaliknya G-20 di ASEAN.
Pemerintah, menurut Menlu, saat ini memprioritaskan peningkatan peran
Indonesia di dalam forum G-20 sehingga akan segera dilakukan identifikasi
secara cepat dan cerdas untuk mengetahui peran apa yang dapat dimainkan
Indonesia dalam forum G-20. Arena G-20 sekarang ini dipetakan sebagai
lembaga utama di bidang ekonomi keuangan dan bahkan mungkin lebih dari itu.
Jadi dalam beberapa waktu ke depan ini Indonesia harus dengan cepat dan
cerdas mengidentifikasi apa peran yang akan di mainkan, apa yang di miliki,
aset yang dipunyai, agar nantinya bisa memiliki peran yang tidak bisa diabaikan
oleh G-20.
Pemimpin negara ASEAN dalam KTT ke-15 di Hua Hin telah menyepakati
pembentukan kontak grup ASEAN-G-20 yang beranggotakan Indonesia,
Sekretaris Jenderal ASEAN, serta Ketua ASEAN bergilir. Kontak grup tersebut
dimaksudkan untuk mengkoordinasikan posisi ASEAN dalam setiap forum

pertemuan G-20. Selain itu, menteri keuangan sepuluh negara ASEAN juga
diwajibkan untuk bertemu setiap menjelang penyelenggaraan forum G-20 guna
menyatukan suara Asia Tenggara dalam forum global.
Maka jika kita melihat posisi Indonesia dalam G-20 dapat disimpulkan bahwa
Indonesia memegang peranan yang sangat penting dalam pergaulan
internasional. Selain untuk mengejar kepentingan nasional sendiri. Indonesia
diharapkan oleh negara-negara ASEAN lainnya untuk dapat menyampaikan
aspirasi dari negara-negara Asia Tenggara yang telah disepakati sebelumnya. Ini
bisa dilihat dengan pertemuan yang dilakukan oleh sepuluh menteri keuangan
sepuluh negara ASEAN sebelum pertemuan puncak G-20.
Indonesia juga diharapkan oleh ASEAN agar terus mendorong upaya
restrukturisasi dalam lembaga keuangan dunia agar menganut sistem voting
yang lebih mencerminkan tatanan dunia saat ini serta memastikan negaranegara berkembang memiliki akses dana untuk pembangunan.

3.2 Alasan Indonesia menjadi G-20


1. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam. Jika kita melihat
faktor internal dari keanggotaan Indonesia dalam G-20, maka banyak sekali
yang dapat dijadikan sebagai faktor. Pertama, Indonesia adalah negara dengan
Demokrasi terbaik No.3 didunia setelah Amerika Serikat dan India. Kedua,
Indonesia adalah negara dengan populasi muslim moderat terbesar didunia.
Ketiga, mempunyai pemerintahan yang cukup kuat. Keempat, Sumber Daya
Alam yang melimpah dan Sumber Daya Manusia yang banyak dengan populasi
No.4 didunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Kelima, negara yang
menjunjung tinggi pluralisme karena kaya akan budaya seperti etnis, ras,
agama, tetapi disatukan oleh semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Keenam,
perekonomian yang semakin baik pasca reformasi. Indonesia layak menjadi
anggota lembaga itu karena besarnya perekonomian kita memenuhi persyaratan
tersebut. Bahkan, dari 20 anggota G-20, satu di antaranya berupa kelompok
negara yang tergabung dalam Uni Eropa, saat ini Indonesia bukanlah yang
terkecil. Di bawah Indonesia ada Arab Saudi, Afrika Selatan, dan Argentina.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasa dari luar. Faktor eksternal
dari keanggotaan Indonesia dalam G-20. Pertama, jika melihat dari letak
Geografis, Indonesia adalah negara dengan letak yang sangat strategis. Berada

diantara dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia. Dan juga berada
diantara dua samudera, yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Kedua,
keaktifan Indonesia dalam dunia Internasional, ikut serta dalam upaya untuk
menjaga perdamaian dunia. Ini dibuktikan dengan pengiriman tentara Garuda ke
beberapa negara yang terlibat konflik. Ketiga, Indonesia adalah negara yang
bersahabat dengan banyak negara yang tergabung dalam Organisasi
Internasional seperti misalnya dalam OKI, anggota PBB, WTO, dan juga
Indonesia adalah salah satu negara ASEAN.
Dengan faktor-faktor internal dan eksternal diatas, rasanya memang
pantas Indonesia menjadi salah satu anggota G-20. Jika kita melihat faktorfaktor diatas maka boleh dikatakan negara lain menganggap Indonesia sebagai
salah satu pemain penting dalam politik internasional. Dengan fakta-fakta diatas
dan juga potensi yang dimiliki maka tidak sulit bagi Indonesia untuk bisa
berperan aktif dalam pergaulan internasional.
Indonesia juga pernah menjadi anggota tidak tetap Dewan keamanan
PBB Indonesia juga berpeluang memainkan peran positif dalam G-20 dalam
statusnya sebagai negara anggota ASEAN yang berpengaruh di kawasan Asia
Tenggara. Dalam hal ini, keberadaan Indonesia pernah dalam DK-PBB
hendaknya menjadi faktor penguat untuk mendorong ASEAN untuk berbuat
lebih banyak dalam menciptakan perdamaian dan keamanan di kawasan, sesuai
dengan apa yang diharapkan oleh Piagam PBB. MisaInya, Indonesia dapat
memainkan peran lebih substantif dalam mendorong penyelesaian masalah
masalah di kawasan yang menjadi agenda di DK-PBB seperti masalah
Myanmar. Keberadaan dan peran Indonesia di DK-PBB akan terasa bermakna
apabila Indonesia senantiasa bersikap pro-aktif ketimbang sekedar memberikan
reaksi terhadap inisiatif yang diajukan negara negara anggota DK lainnya,
khususnya negara negara anggota tetap. Namun, inisiatif sebagai bentuk sikap
proaktif tentunya harus selalui dilakukan dalam bingkai realisme dan
pragmatisme. Lalu prakarsa tanpa komitmen baik dalam bentuk upaya
berkelanjutan dan investasi resources-akan dilihat sebagai sikap yang kurang
bertanggung jawab.
Faktor-faktor diatas juga digunakan Indonesia untuk memenuhi
kepentingan nasionalnya yaitu salah satu upaya pencapaian kepentingan
nasional di dunia internasional dilaksanakan melalui diplomasi yang
diterjemahkan sebagai politik luar negeri. Pelaksanaan politik luar negeri
Indonesia agar semakin aktif dalam mengamankan kepentingan-kepentingan
nasional Indonesia merupakan tuntutan guna menjawab berbagai masalah dan
tantangan di dalam negeri. Kenyataan bahwa Indonesia merupakan negara
demokratis, memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang
melimpah, negara yang memiliki penduduk beragama Islam terbesar didunia
dan posisi strategis kepulauan Indonesia dapat dijadikan modal yang kuat bagi

Indonesia untuk lebih percaya diri dan berperan aktif di dunia internasional.
Untuk menciptakan bangsa Indonesia yang adil dan sejahtera dengan jalan
pemulihan ekonomi, upaya diplomasi dalam bidang ekonomi harus terus
ditingkatkan secara berkelanjutan antara lain dengan jalan promosi ekspor,
promosi investasi dan pariwisata, memperluas kesempatan kerja di luar negeri,
mengatasi beban hutang negara dan memajukan kerja sama teknis baik secara
bilateral, regional dan multilateral. Diplomasi juga harus difokuskan pada upaya
meyakinkan dunia internasional mengenai iklim TTI (trade, tourism, and
investment) yang kondusif di Indonesia.
3.3

Hasil yang didapat Indonesia dari keanggotaan G-20

Dengan posisi yang sedemikian penting dalam penentuan arah


kebijakan integrasi ekonomi ASEAN, sudah seharusnya Indonesia lebih berhatihati dalam bertindak. Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa
Indonesia tidak akan meninggalkan ASEAN hendaknya diikuti dengan
tindakan nyata. Dengan posisi tawar (bargaining power) yang bagus di ASEAN,
Indonesia seharusnya dapat menjadi pelopor dan penggerak utama untuk
penguatan kerja sama ekonomi ASEAN. ASEAN sendiri memiliki peran
politik, keamanan, dan budaya yang sangat penting bagi Indonesia sehingga
sangat disayangkan jika kerja sama ekonomi yang menjadi salah satu landasan
pembentukan Masyarakat ASEAN (ASEAN Community) tidak berjalan secara
maksimal. Indonesia saat ini ibarat berada di dua tempat sekaligus sehingga
memungkinkan bagi kita untuk mengatur dan mengontrol dengan tepat posisi
serta pergerakan ASEAN dalam skema kerja sama ASEAN-G20. Dengan
keuntungan ini, seharusnya Indonesia bisa mengambil inisiatif utama untuk
perubahan
dan
perbaikan
mekanisme
kerja
AFTA
saat
ini.
Cukup lama Indonesia hanya dalam periferi perekonomian global. Keberadaan
kita nyaris tak terdengar. Karena itu, elevasi peran G-20 ini menjadikan
Indonesia akan selalu dalam radar pelaku ekonomi global. Keadaan semacam
itu amat penting karena tanpa harus berpromosi ke sana kemari, keberadaan kita
serta-merta diakui dunia.
Saat Goldman Sachs, sebuah bank investasi berskala global dari AS,
menerbitkan studi berjudul Dreaming with the BRIC, ternyata studi itu berhasil
menempatkan keempat negara tersebut dalam radar investor global sehingga
akhirnya investasi dari segala penjuru ramai memasuki pasar keempat negara
itu.
Dengan peneguhan peran G-20 itu, selain memberi perhatian kepada
target pasar dan investasi tradisional, para pengusaha di seluruh dunia akan
mencari tempat-tempat baru yang eksposurnya masih terbatas. Dalam kaitan ini
Indonesia amat diuntungkan karena dari negara yang semula memiliki eksposur
terbatas tiba-tiba melejit sebagai kekuatan ekonomi yang patut diperhitungkan.

Atas perkembangan itu, merupakan hal menarik mengikuti berita terakhir di


bidang investasi di mana Chrysler, perusahaan mobil ketiga terbesar dari AS
yang saat ini dimiliki Fiat, baru saja memutuskan mendirikan keagenan resmi
bagi pasar di Indonesia. Keputusan itu menyusul dua perusahaan AS
sebelumnya, General Motor dan Ford. Keputusan itu memang tidak sesignifikan
investasi baru dengan membangun pabrik di Indonesia, tetapi dengan keputusan
itu, babak baru telah dimulai bagi perusahaan otomotif AS di pasar Indonesia.
4. Kesimpulan
Indonesia sebagai negara yang sangat strategis wilayahnya sangat
berperan dalam kegiatan G-20. Sebagai salah satu negara yang mempunyai
pertumbuhan ekonomi tercepat dalam beberapa tahun terakhir, diharapkan
mampu mengoptimalkan sebagai negara kelompok G-20 untuk bisa
mendapatkan kepentingan nasional. Selain untuk mengejar kepentingan
nasional dalam negeri, Indonesia juga berperan untuk mengakomodasi saran
dan masukan dari negara-negara ASEAN karena memang Indonesia adalah
satu-satunya negara ASEAN yang tergabung dalam G-20. Dengan begitu
Indonesia juga bisa mendapat posisi tawar yang tinggi dari negara ASEAN
lainnya.
Kemudian alasan negara lain mengajak Indonesia bergabung adalah
karena faktor internal dan faktot eksternal. Dengan menjadi anggota G-20
adalah Indonesia mendapat posisi tawar yang tinggi dalam forum internasional.
Indonesia sering diperhitungkan dalam berbagai kegiatan-kegiatan
internasional.

POSISI PERDAGANGAN INTERNASIONAL INDONESIA


PADA KELOMPOK G20
DI
SUSUN
OLEH :

NAMA : DHEDY
NIM : 1202023

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE )


AMKOP MAKASSAR