Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT semesta alam, yang
telah memberikan kita kesehatan sehingga kita dapat melaksanakan aktifitas-aktifitas
dengan segala manfaat yang ada, yang telah memberikan kita kecerdasan dalam
berfikir, sehingga dengan kecerdasan itu kita dapat memberikan karya-karya terbaik kita
untuk agama, bangsa dan tanah air. Shalawat serta salam tak lupa juga kita haturkan
kepada junjungan kita Nabi Muhamad SAW beserta keluarganya, sahabat, dan orangorang yang selalu istiqomah.
Dengan selesainya makalah yang penulis buat, saya mengucapkan terima kasih kepada
dosen pembimbing R. A. Ambar Sari P. S. Pd. yang telah membantu dalam
penyelesaian makalah ini dan kepada seluruh orang-orang yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini hingga makalah ini dapat dibaca seluruh kalangan masyarakat.
Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR ISI
Kata pengantar1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......2
B. Permasalahan3
C. Tujuan3
BAB II PEMBAHASAN
A. Penulisan kata serapan.4
A.1. Kaidah Penyesuaian Ejaan Kata Serapan..5-8
A.2. Kaidah Penyesuaian Akhrian Asing8-9
B. Pengguanaan Tanda Baca...10
B.1. Tanda Titik.. 9-11
B.2. Tanda Koma.11-14
B.3.Tanda Hubung ..14-15
B.4. Tanda Titik Dua...15
B.5. Tanda Titik Koma15
B.6. Tanda Pisah..16
B.7. Tanda Seru16
B.8. Tanda Petik...16
B.9. Tanda Petik Tunggal...16
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan17
BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Sering kali kita mendengar orang-orang Indonesia yang menggunakan bahasa yang
tidak baku dalam kegiatan-kegiatan resmi atau menggunakan kata serapan yang salah,
bahkan dalam penulisanpun masih terjadi kesalahan penggunaan tanda baca, sehingga
mengakibatkan kesalahan makna, padahal Pemerintah Indonesia telah membuat
aturan-aturan resmi tentang tata bahasa baik itu kata serapan maupun penggunaan
tanda baca. Pelajaran Bahasa Indonesia sebenarnya sudah diajarkan sejak dari
Sekolah Dasar (SD) sampai ke perguruan tinggi. Tapi kesalahan ini masih sering terjadi,
bahkan berulang-ulang kali. Ketidak fahaman terhadap tata bahasa Indonesialah yang

mengakibatkan orang-orang sering melanggar aturan resmi yang telah dibuat


pemerintah tentang tata bahasa Indonesia. Yang mengkhawatirkan ialah ketika aturan
ini terlalu sering diacuhkan oleh masyarakat Indonesia, karena salah satu dampak
negatifnya ialah hal ini akan dianggap lazim oleh masyarakat Indonesia terlebih lagi
oleh anak-cucu yang akan menjadi penerus negeri ini, karena akan mempersulit
masyarakat dalam berkomunikasi.
Maka dari itu dalam makalah ini, penulis akan memaparkan bagaimana tata bahasa
yang benar tentang kata serapan dan tanda-tanda baca, sehingga kita memahami dan
dapat menerapkan aturan berbahasa yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari
terlebih dalam acara-acara resmi. Karena Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia telah membuat keputusan Nomor 0543a/U/1987, tanggal 9
September 1987, dicermatkan pada Rapat Kerja ke-30 Panitia Kerja Sama Kebahasaan
di Tugu, tanggal 16-20 Desember 1990 dan diterima pada Sidang Ke-30 Majelis Bahasa
Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia di Bandar Seri Begawan, tanggal 4-6 Maret
1991, tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indoensia yang Disempurnakan. Berarti
adanya keseriusan dari pihak Pemerintah tentang Ejaan dan Tata Bahasa Indonesia
dan harus kita terapkan.
B. PERMASALAHAN
Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah tentang enulisan kata serapan dan
penggunaan tanda baca ini ialah:
a. Apa yang dimaksud dengan kata serapan dan tanda baca.
b. Apasaja kegunaan dari kata serapan dan tanda-tanda baca.
c. Apasaja jenis-jenis dari kata serapan dan tanda baca.
d. Apasaja contoh-contoh penggunaan dari kata serapan dan tanda baca.
C. TUJUAN
Makalah ini disusun agar kita semua lebih memahami tentang tata bahasa Indonesia
dengan baik dan benar. Sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar
dalam setiap komunikasi, kita akan dipermudah dengan adanya satu bahasa yang baku
dan dapat dimengerti oleh setiap golongan masyarakat Indonesia serta mempermudah
dalam mencari referensi, karena segala hal tentang kata serapan dan penggunaan
tanda baca telah terangkum dalam satu makalah ini.
Dan ini juga akan dipersentasikan dikelas dalam mata kuliah Bahasa Indonesia. Serta
penyusun mengharapkan dengan makalah ini dapat menyadarkan kepada seluruh
masyarakat Indonesia tentang bagaimana pentingnya penggunaan tata bahasa yang
benar, sehingga selanjutnya Pemerintah Indonesia dapat menerapkan keputusan
Menteri pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0543a/U/1987, tanggal
9 September 1987, tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indoensia yang
Disempurnakan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Penulisan Kata Serapan
Kata serapan adalah kata-kata yang berasal dari bahasa asing atau bahasa daerah,
lalu digunakan dalam bahasa Indonesia. Dilihat dari tarap penyerapannya ada tiga
macam kata serapan. Yaitu:
1. Kata-kata yang sudah sepenuhnya diserap ke dalam Indonesia . kata-kata ini sudah
lazim dieja secara Indonesia, sehingga sudah tidak dirasakan lagi kehadirannya

sebagai kata serapan. Misalnya kata-kata kabar, sirsak, iklan, perlu, hadir, badan,
waktu, kamar, botol, dan ember.
2. Kata-kata yang masih asing, tetapi digunakan dalam konteks bahasa Indonesia.
Ejaan dan pengucapannya masih mengikuti cara asing. Misalnya shuttle cock, knock
out, time out, check in, door to door.
Dalam kelompok ini termasuk kata-kata yang dipertahankan keasingannya karena sifat
keinternasionalannya, seperti istilah-istilah musik andante, moderate, adagio, dan
sebagainya.
3. Kata-kata asing yang untuk kepentingan peristilahan, ucapan dan ejaannya
disesuaikan dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia. Dan hal ini perubahan ejaan itu
dibuat seperlunya saja sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan
dengan bentuk bahasa aslinya. Misalnya aki (accu), komisi (comission), psikologi
(psychology), dan fase (phase).

A.1. Kaidah Penyesuaian Ejaan Kata Serapan


Penyesuaian ejaan unsure serapan dilakukan dengan kaidah sebagai berikut:
1. Aa menjadi a
Paal pal
Octaaf oktaf
2. ae tetap ae, jika tidak bervariasi dengan e
aerobe aerob
aerodynamics aerodinamika
3. ae menjadi e jika bervariasi dengan e
haemoglobin hemoglobin
haematite hematif
4. ai tetap ai
trailer trailer
caisson kaison
5. au tetap au
audiogram audiogram
hydraulic hidralik
6. c di muka a, u, o dan konsonan menjadi k
cubic kubik
crystal kristal
7. c di muka e, i, dan y menjadi s
central sentral
cent sen
5
8. cc di muka o, u, dan konsonan menjadi k

Accommodation akomodasi
acclamation aklamasi
9. cc di muka e dan i menjadi ks
Accent aksen
Vaccine vaksin
10. ch dan cch di muka, a, o, dan konsonan menjadi k
Saccharin sakarin
11. ch yang lafalnya s atau sy, menjadi s
echelon eselon
machine mesin
12. ch, yang lafalnya c menjadi c
china cina
check cek
13. c (Sansekerta) menjadi s
Cabda sabda
Castra sastra
14. e dan ee menjadi e
System system
Apotheek apotek
15. ea tetap ea
idealist idealis
16. ei tetap ei
eicisane eikosan
einsteinium einsteinium
6
17. eo tetap eo
Stereo stereo
geometry geometri
18. eu tetap eu
Neutron neutron
eugenol eugenol
19. f tetap f
Factor faktor
Fossil fosil
20. gh menjadi g
sorghum sorgum
21. pada awal suku kata di muka vocal, tetap i
Ion ion
22. ie jika lafalnya i menjadi i
politiek politik
riem rim
23. ie tetap ie jika lafalnya bukan i
Patient pasien
carrier karier
24. kh (Arab) tetap kh
Akhir akhir
Tarikh tarikh
25. ng tetap ng

Congress kongres
Contingent kontingen
7
26. oo (Belanda) menjadi o
komfoor komfor
provoost provos
27. oo (Inggris) menjadi u
Cartoon kartun
proof pruf
28. oo (vokal ganda) tetap oo
coordination koordinasi
zoology zoology
A.2. Kaidah Penyesuaian Akhiran Asing
Akhiran-akhiran dari bahasa asing diserap sebagai bagian kata yang utuh. Jadi,. Kata
seperti standardisasi, implementasi, dan objektif diserap secara utuh di samping
diserap juga kata standar, implement, dan objek.
Kaidah Penyesuaian akhiran asing adalah sebagi berikut:
1) -aat menjadi at
Advokaat advokat
2) -age menjadi ase
Percentage persentase
3) -air, -ary menjadi er
Primair, primary primer
4) -ant menjadi an
Informant informan
8
5) -archie, archy menjadi arki
Monarchie monarki
6) -(a)tie, (a)tion, menjadi asi, -si
Publicatie, publication publikasi
7) -eel, -aal, -el menjadi al
Structureel, structural
8) -ein tetap ein
Protein protein
9) -eur, or menjadi ur
Directeur direktur
10) -or tetap or
Dictator dictator
Aturan Penggunaan Tanda Baca itu adalah:
B1. Tanda Titik
a. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
Misalnya:
1) W.S. Rendra
2) Abdul Hadi W.M.

9
b. Tanda titik dipakai pada singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.

Misalnya:
1) Dr. (doctor)
2) Kol. (colonel)
3) Ny. (nyonya)
c. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah umum, yang
ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
1) s.d. (sampai dengan)
2) a.n. (atas nama)
d. Tanda titik digunakan pada angka yang menyatakan jumlah untuk memisahkan
ribuan, jutaan, dan seterusnya.
Misalnya:
1) Tebal buku itu 1.150 halaman.
2) Dono membeli minyak sebanyak 1.000 liter
e. Tanda titik tidak digunakan pada singkatan yang terdiri atas huruf-huruf awal kata
atau suku kata dan pada singkatan yang dieja seperti kata (akronim).
Misalnya:
1) DPR
2) ABRI
10
f. Tanda titik tidak digunakan di belakang singkatan lambing kimia, satuan ukuran,
takaran, timbangan, dan mata uang.
Misalnya:
1) Lambang Cu adalah lambing kuprum
2) Dia mambeli 10 kg emas
g. Tanda titik tidak digunakan di belakang judul yang merupakan kepala karangan,
kepala ilustarasi tabel, dan sebagainy.
Misalnya:
1) Azab dan Sengsara
2) Wanita Indonesia di Pentas Sejarah
h. Tanda titik tidak digunakan di belakang alamt pengirim dan tanggal surat serta di
belakang nama dan alamat penerima surat.
Misalnya:
1) Jalan Harapan III/AB 19
2) Jakarta, 10 Agustus 1998
B.2. Tanda koma
Tanda koma digunakan:
a. di antara unsur-unsur dalam suatu pembilangan.
Contoh:
1) Adik membawa piring, gelas, dan teko.
2) Satu, dua, tiga,empat!
11
b. Untuk memisahkan bagian-bagian kalimat majemuk setara yang dihubungkan
dengan kata penghubung yang menyatakan pertentangan seperti tetapi dan
sedangkan.
Contoh:
1) Saya ingin pergi, tetapi tidak punya uang.

c. Untuk memisahkan anak kalimat dan induk kalimat apabila anak kalimat itu
mendahului induk kalimatnya.
Contoh:
1) Kalau dia datang, saya akan datang
2) Karena sibuk, dia lupa akan janjinya.
d. Di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, yang terdapat pada awal
kalimat, seperti jadi, lagipula, oleh karena itu, akan tetapi, meskipun begitu.
Contoh:
1) Jadi, soalnya tidaklah semudah itu.
2) Oleh karena itu, kita harus hati-hati.
e. Di balakang kata-kata seru, sperti O, ya, wah, aduh, yang terdapat pada awal
kalimat.
Contoh:
1)Wah, bukan main.
2)Aduh, mengapa jadi begitu?

12
f. Untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Contoh:
1) Kata ibu, saya senang sekali
2) saya akan pergi sekarang juga, kata adik kepada ibu.
g. Di muka angka persepuluh, dan di antara rupiah dengan sen.
Contoh:
1) 12,25 cm
2) Rp 125,50
h. Di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya, untuk
membedakannya dari singkatan nama keluarga atau marga.
Contoh:
1) Moh. Bakri, S.H.
2) Ny. Suhartina, S.P.
i. Untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.
Contoh:
1) Guru saya, Pak Ahmad, rajin sekali.
2) Di daerah kami, umpamanya, masih sering terjadi pencurian.

13
j. Di antara: (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal,
dan (d) nama dan tempat wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Contoh:
- Sdr. Munadi, Jalan Pemuda 26, Jakarta Timur
- Dekan Fakulatas Kedokteran, Universitas Indonesia
Jalan Raya Salemba4, Jakarta
- Jakarta, 9 Agustus 1999
- Kuala Lumpur, Malaysia
k. Untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunanya dalam Daftar Pustaka.

Contoh:
- Siregar, Merari, Azab dan Sengsara. Jakarta, Balai Pustaka,1954
l. Di antara nama tempat penerbitan, nama penerbit, dan tahu penerbitan, dalam suatu
Daftar Pustaka.
Contoh:
- Poerwadarminta, W.J.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta, Balai Pustaka,
1976.
B.3. Tanda Hubung
Tanda hubung digunakan:
a. untuk menyambung bagian-bagian bentuk ulang dan kata ulang.
Contoh:
Sia-sia
Baik-baik
14
b. tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (a) se dengan kata berikutnya yang
dimulai dengan huruf capital, (b) ke dengan angka, (c) angka dengan-an, dan (d)
singkatan huruf capital dengan imbuhan kata.
Contoh:
1) Besok akan diadakan lomba menari se-Jawa Tengah.
2) Ke-15 orang itu berasal dari Indonesia
3) Paman mempunyai sepeda tahun 70-an
4) Warga Palembang yang sudah dewasa diwajibkan ber-KTP Palembang.
5) Pemberontakan itu dikenal dengan G-30-S PKI.
B.4. Tanda Titik Dua
c. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian
atau pemerian.
Contoh:
- Fakultas syariah mempunyai tiga jurusan: Perbankan, Muamalah, dan Ekonomi Islam.
B.5. Tanda Titik Koma
Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu
kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Contoh:
- Para pemikir mengatur startegi dan langkah yang harus ditempuh;para pelaksana
mengerjakan tugas sebaik-baiknya;para penyandang dana menyediakan biaya yang
diperlukan.
15
B.6. Tanda Pisah
Digunakan untuk membatasi penyisipan kata atau ungkapan yang memberi penjelasan
khusus terhadap kalimat yang disisipinya.
Contoh:
- Kemerdekaan bangsa itu-saya yakin akan tercapai diperjuangkan oleh bangsa itu
sendiri.
- Bus Kramatjati jurusan Banjar-Jakarta.
B.7. Tanda seru
Digunakan sesudah kalimat, ungkapan, atau pernyataan yang berupa seruan atau
perintah.
Contoh:
- Alangkah besarnya mobil itu!

- Berangkatlah sekarang juga!


- Merdeka!
B.8. Tanda Petik
Digunakan untuk mengapit petikan langsung, judul syair, karangan, istilah yang
mempunyai arti khusus.
Contoh:
- Ia memakai celana cubrai
- Sajak Aku karangan Chairil Anwar
B.9. Tanda Petik Tunggal
Digunakan untuk mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
Contoh:
- Lailatul Qadar malam seribu bulan
16

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Begitu banyak kesalahan yang seringkali kita lakukan tentang penggunaan kata
serapan dan tanda baca baik disengaja maupun tidak disengaja. Maka dengan
dibuatnya makalah ini pennyusun berharap kita dapat mengurangi kesalahan-kesalahan
yang kita lakukan.
Bangsa Indonesia memang banyak sekali mengambil kata-kata asing ataupun kata
daerah Salah satu bentuk perkembangan bahasa Indonesia adalah berupa penyerapan
kata ke dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa-bahasa asing pemberi
pengaruh. Begitu juga dengan penggunaan tanda-tanda baca. Karena dengan salahnya
penggunaan tanda baca, maka akan menimbulkan makna ganda dalam kalimat
tersebut.