Anda di halaman 1dari 31

REFERAT

Appendisitis

Pembimbing :
Dr.Relly Sofiar, SpB

Oleh:
Beatrice Marietta
406138016

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TARUMANAGARA
JAKARTA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

LATAR BELAKANG
Apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada apendiks vermiformis, dan

merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Apendiks disebut juga umbai cacing.
Istilah usus buntu yang selama ini dikenal dan digunakan di masyarakat kurang tepat, karena
yang merupakan usus buntu sebenarnya adalah sekum. Sampai saat ini belum diketahui
secara pasti apa fungsi apendiks sebenarnya. Namun demikian, organ ini sering sekali
menimbulkan masalah kesehatan.
Apendiks merupakan organ yang berbentuk tabung panjang dan sempit. Panjangnya
kira-kira 10cm (kisaran 3-15cm) dan berpangkal di sekum. Apendiks menghasilkan lendir 12ml per hari. Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya dialirkan
ke sekum. Adanya hambatan dalam pengaliran tersebut, tampaknya merupakan salah satu
penyebab timbulnya appendisits. Di dalam apendiks juga terdapat immunoglobulin sekretoal
yang merupakan zat pelindung efektif terhadap infeksi (berperan dalam sistem imun). Dan
immunoglobulin yang banyak terdapat di dalam apendiks adalah IgA. Namun demikian,
adanya pengangkatan terhadap apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh. Ini
dikarenakan jumlah jaringan limfe yang terdapat pada apendiks kecil sekali bila
dibandingkan dengan yang ada pada saluran cerna lain.2
Apendisitis dapat mengenai semua umur, baik laki-laki maupun perempuan. Namun lebih
sering menyerang laki-laki berusia 10-30 tahun.

Identitas pasien
Nama

: Tn. M

Jenis kelamin : laki-laki


Umur

: 32 tahun

Riwayat anamnesa
Keluhan utama : Nyeri perut kuadran kanan bawah
Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang dengan mengeluh nyeri perut kuadran kanan bawah sejak 4 hari lalu sebelum
masuk rumah sakit.Nyeri pertama dirasakan pada ulu hati kemudian berpindah ke perut

kanan bawah lalu nyeri dirasakan di seluruh bagian perut.Nyeri dirasakan mendadak dan
terus menerus dan tidak menjalar. Nyeri bertambah berat jika bergerak. Pasien mengeluh
tidak nafsu makan,mual,muntah.Pasien mengalami demam sejak 2 hari SMRS.Demam
dirasakan terus menerus sepanjang hari.Pasien mengaku tidak BAB selama 1 hari sejak
SMRS,flatus (-).BAK lancar,tidak sakit ,darah (-) .
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit paru,ginjal,kencing manis,darah tinggi disangkal
Pemeriksaan fisik
Status general
Kesadaran umum

: compos mentis

Keadaan umum

:Tampak sakit sedang

TD

: 110/70 mmhg

: 80x /menit

RR

: 20x/menit

Suhu

: 38. oC

Keadaan regional

Kulit

: warna sawo matang, ikterus (-), sianosis (-)

Kepala

: bentuk bulat, tidak teraba benjolan, rambut hitam,terdistribusi merata,


tidak mudah dicabut

Mata

: bentuk normal, konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), palpebra


superior et inferior tidak edema, pupil bulat isokor diameter 3 mm,
refleks cahaya +/+

Telinga

Hidung

: bentuk normal, liang telinga lapang, sekret -/-

Mulut

: deviasi septum (-), sekret - / -, mukosa hiperemis (-), massa (-)


: bentuk simetris, bibir tidak kering, perioral sianosis ( - ), lidah tidak
kotor, arkus faring simetris, faring hiperemis ( - ), tonsil T1-T tenang.

Leher

: trakea di tengah, tiroid dan kelenjar getah bening tidak teraba


membesar

Pulmo
Inspeks

: Simetris dalam statis dan dinamis

Palpasi

: Stem fremitus kanan dan kiri sama kuat

Perkusi

: Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi : Vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/Kesimpulan

: Pulmo dalam batas normal, tidak ditemukan adanya kelainan .

Cor
Inspeksi

: Pulsasi ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Pulsasi ictus cordis teraba di ICS V


midclavicula line sinistra

Perkusi

: Redup
Batas atas : ICS III parasternal line sinistra
Batas kanan : ICS V sternal line dextra
Batas kiri : 2 jari medial ICS V midclavicula line sinistra

Auskultasi

: BJ I&II normal, reguler, murmur (-), gallop (-)

Kesimpulan

: Cor dalam batas normal

Ektremitas

: Akral hangat , CRT< 2

Status lokalis et regio abdomen


Inspeksi

: tampak perut datar,bowel movement (-), bowel countur (-) tidak


tampak scar

Auskultasi

: Bising usus +

Perkusi

:timpani

Palpasi

:supel,massa(-)
Nyeri tekan pada titik Mc burney (+),nyeri lepas (+)
Rovsing sign (+)
Psoas Sign (-),Obturator sign (+)
Defans muskular (+) di kuadran kanan bawah

Rectal toucher

: I: Tonus sphingter ani baik


Palpasi: Ampula ani tidak kolaps
Mukosa licin,nyeri tekan arah jam 9-12
Fases (-) darah (-)

Diagnosis

:Appendisitis akut

DD

: gastroenteritis
Divertikel Meckel

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium darah
Hb

: 14.5 g/dl

Ht

: 42 g/dl

Leukosit

: 23.300/ul (leukositosis)

Trombosit

: 253.000

USG
Appendikogram

Penatalaksanaan medikasi
Infus RL 30 tpm
Ceftriaxone 1 gr IV
Ranitidin 50 mg IV

Penatalaksanaan operasi
Appendektomi

Prognosis
Ad vitam

: dubia et bonam

Ad fungtionam

: dubia et bonam

Ad sanationam

: Bonam

Resume
Pasien datang dengan keluhan nyeri perut kuadran kanan bawah sejak 4 hari lalu sebelum
masuk rumah sakit.Nyeri pertama dirasakan pada ulu hati kemudian berpindah ke perut
kanan bawah lalu nyeri dirasakan di seluruh bagian perut.Nyeri dirasakan mendadak dan
terus menerus dan tidak menjalar. Nyeri bertambah berat jika bergerak. Pasien mengeluh
tidak nafsu makan,mual,muntah.Pasien mengalami demam sejak 2 hari SMRS.Demam
dirasakan terus menerus sepanjang hari.Pasien mengaku tidak BAB selama 1 hari sejak
SMR,flatus (-).BAK lancar,tidak saki,darah (-).

Pemeriksaan fisik

Status lokalis
Inspeksi

: tampak perut datar,bowel movement (-), bowel countur (-) tidak


tampak scar

Auskultasi

: Bising usus +

Perkusi

:timpani

Palpasi

:supel,massa(-)
Nyeri tekan pada titik Mc burney (+),nyeri lepas (+)
Rovsing sign (+)
Psoas Sign (-),Obturator sign (+)
Defans muskular (+) di kuadran kanan bawah

RT
: I: Tonus sphingter ani baik
Palpasi: Ampula ani tidak kolaps
Mukosa licin,nyeri tekan arah jam 9-12
Fases (-) darah (-)

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium darah :
-Leukositosis :23.300g/dl
USG
Apendikogram

BAB II
PEMBAHASAN PENYAKIT
A.

Anatomi
Ekstensi mirip cacing sekum dan, untuk alasan ini, telah disebut usus buntu berbentuk

ulat. Panjang rata-rata usus buntu adalah 8-10 cm (berkisar 2-20 cm). Usus buntu muncul
selama bulan kelima kehamilan, dan beberapa folikel limfoid yang tersebar di mukosa
tersebut. Folikel tersebut bertambah jumlahnya ketika individu berusia 8-20 tahun. Sebuah
usus buntu yang normal terlihat di bawah ini.

Usus buntu terkandung dalam peritoneum visceral yang membentuk serosa, dan
lapisan bagian luarnya adalah longitudinal dan berasal dari taenia coli; lebih dalam, lapisan
otot interior melingkar. Di bawah lapisan ini terletak lapisan submukosa, yang mengandung
jaringan limfoepitelial. Mukosa terdiri dari epitel kolumnar dengan beberapa elemen kelenjar
dan sel-sel neuroendokrin argentaffin.
Taenia coli berkumpul di daerah posteromedial dari sekum, yang merupakan situs dari
basis appendix. Lampiran berjalan menjadi lembaran serosal peritoneum yang disebut
mesoappendix, di mana program arteri apendikular, yang berasal dari arteri ileokolika.
Kadang-kadang, arteri apendikular aksesori (berasal dari arteri cecal posterior) dapat
ditemukan.
pembuluh darah appendix
Pembuluh darah usus buntu harus diatasi untuk menghindari perdarahan intraoperatif.
Arteri apendiks terkandung dalam lipatan mesenterika yang muncul dari perpanjangan
peritoneum dari ileum terminal ke aspek medial sekum dan usus buntu; itu adalah cabang
terminal dari arteri ileokolika dan berjalan berdekatan dengan dinding apendiks. Drainase
vena melalui vena ileokolika dan vena kolik kanan ke vena portal; drainase limfatik terjadi
melalui node ileokolika sepanjang perjalanan mesenterika arteri superior ke kelenjar celiac
dan cisterna chyli.
Lokasi appendix
Apendix tidak memiliki posisi tetap. Ini berasal 1,7-2,5 cm di bawah ileum terminal,
baik di lokasi dorsomedial (paling umum) dari fundus cecal, langsung di samping lubang
ileum, atau sebagai pembuka berbentuk corong (2-3% dari pasien). Apendiks memiliki lokasi
retroperitoneal di 65% dari pasien dan dapat turun ke fossa iliaka di 31%. Bahkan, banyak
orang mungkin memiliki lampiran yang terletak di ruang retroperitoneal; di panggul; atau di
belakang terminal ileum, sekum, kolon asendens. Dengan demikian, perjalanan usus buntu,
posisi ujungnya, dan perbedaan dalam posisi appendix jauh berubah temuan klinis, akuntansi
untuk tanda-tanda dan gejala usus buntu spesifik

B.

FISIOLOGI

Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya dicurahkan kedalam
lumen dan selanjutnya mengalir kedalam sekum. Hambatan aliran lendir di muara apendiks
tampaknya berperan pada pathogenesis apendisitis.
Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang
terdapat disepanjang saluran cerna termasuk apendiks, ialah IgA. Immunoglobulin itu sangat
efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak
mempengaruhi system imun tubuh karena jumlah jaringan limfe disini kecil sekali jika
dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh.
EPIDEMIOLOGI
Insiden apendisitis akut di Negara maju lebih tinggi daripada di Negara berkembang. Namun
dalam tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiannya turun secara bermakna. Hal ini diduga
disebabkan oleh oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari.
Apendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang dari satu tahun
jarang dilaporkan. Insiden tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu menurun.
Insiden pada lelaki dan perempuan umumnya sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun,
insiden lelaki lebih tinggi.
1. D.

ETIOLOGI

Apendisitis akut merupakan infeksi bacteria. Berbagai hal berperan sebagai factor
pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan factor yang diajukan sebagai factor
pencetus disamping hyperplasia jaringan limf, fekalit (feses keras), tumor apendiks, dan

cacing askariasis dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat
menimbulkan apendisitis ialah erosi mukosaapendiks karena parasit seperti E. hystolitica.
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan
pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan menaikkan tekanan
intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya
pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini akan mempermudah timbulnya
apendisitis akut.
1.

PATOFISIOLOGI

Obstruksi
Obstruksi lumen adalah penyebab utama pada Appendicitis acuta. Fecalith merupakan
penyebab umum obstruksi Appendix, yaitu sekitar 20% pada anak dengan
Appendicitis akut dan 30-40% pada anak dengan perforasi Appendix. Penyebab yang
lebih jarang adalah hiperplasia jaringan limfoid di sub mukosa Appendix, barium
yang mengering pada pemeriksaan sinar X, biji-bijian, gallstone, cacing usus terutama
Oxyuris vermicularis. Reaksi jaringan limfatik, baik lokal maupun generalisata, dapat
disebabkan oleh infeksi Yersinia, Salmonella, dan Shigella; atau akibat invasi parasit
seperti Entamoeba, Strongyloides, Enterobius vermicularis, Schistosoma, atau
Ascaris. Hal tersebut terjadi karena perubahan pada kelenjar yang mensekresi mukus.
Frekuensi obstruksi meningkat sejalan dengan keparahan proses inflamasi. Fecalith
ditemukan pada 40% kasus Appendicitis acuta sederhana, sekitar 65% pada kasus
Appendicitis gangrenosa tanpa perforasi, dan 90% pada kasus Appendicitis acuta
gangrenosa dengan perforasi. 1,2,6,7)

2.
3. Gambar 3.1. Appendicitis (dengan fecalith) 8)

Obstruksi lumen akibat adanya sumbatan pada bagian proksimal dan sekresi normal
mukosa Appendix segera menyebabkan distensi. Kapasitas lumen pada Appendix
normal 0,1 mL. Sekresi sekitar 0,5 mL pada distal sumbatan meningkatkan tekanan
intraluminal sekitar 60 cmH2O. Distensi merangsang akhiran serabut saraf aferen
nyeri visceral, mengakibatkan nyeri yang samar-samar, nyeri difus pada perut tengah
atau di bawah epigastrium. 2)
Distensi berlanjut tidak hanya dari sekresi mukosa, tetapi juga dari pertumbuhan
bakteri yang cepat di Appendix. Sejalan dengan peningkatan tekanan organ melebihi
tekanan vena, aliran kapiler dan vena terhambat menyebabkan kongesti vaskular.
Akan tetapi aliran arteriol tidak terhambat. Distensi biasanya menimbulkan refleks
mual, muntah, dan nyeri yang lebih nyata. Proses inflamasi segera melibatkan serosa
Appendix dan peritoneum parietal pada regio ini, mengakibatkan perpindahan nyeri
yang khas ke RLQ. 2,6,7 )
Mukosa gastrointestinal termasuk Appendix, sangat rentan terhadap kekurangan
suplai darah. Dengan bertambahnya distensi yang melampaui tekanan arteriol, daerah
dengan suplai darah yang paling sedikit akan mengalami kerusakan paling parah.
Dengan adanya distensi, invasi bakteri, gangguan vaskuler, infark jaringan, terjadi
perforasi biasanya pada salah satu daerah infark di batas antemesenterik. 1,2,6,7)
Di awal proses peradangan Appendix, pasien akan mengalami gejala gangguan
gastrointestinal ringan seperti berkurangnya nafsu makan, perubahan kebiasaan BAB,
dan kesalahan pencernaan. Anoreksia berperan penting pada diagnosis Appendicitis,
khususnya pada anak-anak.6
Distensi Appendix menyebabkan perangsangan serabut saraf visceral yang
dipersepsikan sebagai nyeri di daerah periumbilical. Nyeri awal ini bersifat nyeri
tumpul di dermatom Th 10. Distensi yang semakin bertambah menyebabkan mual dan
muntah dalam beberapa jam setelah timbul nyeri perut. Jika mual muntah timbul
mendahului nyeri perut, dapat dipikirkan diagnosis lain.6
Appendix

yang mengalami

obstruksi

merupakan

tempat

yang

baik

bagi

perkembangbiakan bakteri. Seiring dengan peningkatan tekanan intraluminal, terjadi


gangguan aliran limfatik sehingga terjadi oedem yang lebih hebat. Hal-hal tersebut
semakin meningkatan tekanan intraluminal Appendix. Akhirnya, peningkatan tekanan
ini menyebabkan gangguan aliran sistem vaskularisasi Appendix yang menyebabkan
iskhemia jaringan intraluminal Appendix, infark, dan gangren. Setelah itu, bakteri
melakukan invasi ke dinding Appendix; diikuti demam, takikardia, dan leukositosis

akibat pelepasan mediator inflamasi karena iskhemia jaringan. Ketika eksudat


inflamasi yang berasal dari dinding Appendix berhubungan dengan peritoneum
parietale, serabut saraf somatik akan teraktivasi dan nyeri akan dirasakan lokal pada
lokasi Appendix, khususnya di titik Mc Burneys. Jarang terjadi nyeri somatik pada
kuadran kanan bawah tanpa didahului nyeri visceral sebelumnya. Pada Appendix
yang berlokasi di retrocaecal atau di pelvis, nyeri somatik biasanya tertunda karena
eksudat inflamasi tidak mengenai peritoneum parietale sebelum terjadi perforasi
Appendix dan penyebaran infeksi. Nyeri pada Appendix yang berlokasi di retrocaecal
dapat timbul di punggung atau pinggang. Appendix yang berlokasi di pelvis, yang
terletak dekat ureter atau pembuluh darah testis dapat menyebabkan peningkatan
frekuensi BAK, nyeri pada testis, atau keduanya. Inflamasi ureter atau Vesica urinaria
akibat penyebaran infeksi Appendicitis dapat menyebabkan nyeri saat berkemih, atau
nyeri seperti terjadi retensi urine.
Perforasi Appendix akan menyebabkan terjadinya abscess lokal atau peritonitis difus.
Proses ini tergantung pada kecepatan progresivitas ke arah perforasi dan kemampuan
tubuh pasien berespon terhadap perforasi tersebut. Tanda perforasi Appendix
mencakup peningkatan suhu melebihi 38.6oC, leukositosis > 14.000, dan gejala
peritonitis pada pemeriksaan fisik. Pasien dapat tidak bergejala sebelum terjadi
perforasi, dan gejala dapat menetap hingga > 48 jam tanpa perforasi. Peritonitis difus
lebih sering dijumpai pada bayi karena bayi tidak memiliki jaringan lemak omentum,
sehingga tidak ada jaringan yang melokalisir penyebaran infeksi akibat perforasi.
Perforasi yang terjadi pada anak yang lebih tua atau remaja, lebih memungkinkan
untuk terjadi abscess. Abscess tersebut dapat diketahui dari adanya massa pada
palpasi abdomen pada saat pemeriksaan fisik. Lally Kp et all,2004

Bakteriologi
Flora pada Appendix yang meradang berbeda dengan flora Appendix normal. Sekitar
60% cairan aspirasi yang didapatkan dari Appendicitis didapatkan bakteri jenis anaerob,
dibandingkan yang didapatkan dari 25% cairan aspirasi Appendix yang normal. Diduga
lumen merupakan sumber organisme yang menginvasi mukosa ketika pertahanan mukosa
terganggu oleh peningkatan tekanan lumen dan iskemik dinding lumen. Flora normal Colon
memainkan peranan penting pada perubahan Appendicitis acuta ke Appendicitis gangrenosa
dan Appendicitis perforata.

Appendicitis merupakan infeksi polimikroba, dengan beberapa kasus didapatkan lebih


dari 14 jenis bakteri yang berbeda dikultur pada pasien yang mengalami perforasi.

2)

Flora

normal pada Appendix sama dengan bakteri pada Colon normal. Flora pada Appendix akan
tetap konstan seumur hidup kecuali Porphyomonas gingivalis. Bakteri ini hanya terlihat pada
orang dewasa. Bakteri yang umumnya terdapat di Appendix, Appendicitis acuta dan
Appendicitis perforasi adalah Eschericia coli dan Bacteriodes fragilis. Namun berbagai
variasi dan bakteri fakultatif dan anaerob dan Mycobacteria dapat ditemukan. 1,2,7)
Tabel 1. Organisme yang ditemukan pada Appendicitis acuta 2)

F.

Bakteri Aerob dan Fakultatif

Bakteri Anaerob

Batang Gram (-)

Batang Gram (-)

Eschericia coli

Bacteroides fragilis

Pseudomonas aeruginosa

Bacteroides sp.

Klebsiella sp.

Fusobacterium sp.

Coccus Gr (+)

Batang Gram (-)

Streptococcus anginosus

Clostridium sp.

Streptococcus sp.

Coccus Gram (+)

Enteococcus sp.

Peptostreptococcus sp.

GAMBARAN KLINIS

Gejala awal yang khas, yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri samar (nyeri
tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus. Keluhan ini biasanya
disertai dengan rasa mual muntah, dan pada umumnya nafsu makan menurun. Kemudian
dalam beberapa jam, nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, ke titik Mc Burney. Di titik
ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri somatik setempat.
Namun terkadang, tidak dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi terdapat
konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan ini dianggap

berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Terkadang apendisitis juga


disertai dengan demam derajat rendah sekitar 37,5 -38,5 derajat celcius.2,3,4
Selain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat dari
apendisitis. Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendiks ketika meradang. Berikut
gejala yang timbul tersebut.2,4
1. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum (terlindung
oleh sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada
tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada
saat melakukan gerakan seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan mengedan. Nyeri ini
timbul karena adanya kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal.
2. Bila apendiks terletak di rongga pelvis

Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan timbul gejala dan

rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristalsis meningkat, pengosongan rektum


akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang (diare).

Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih, dapat terjadi

peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangannya dindingnya.


Gejala apendisitis terkadang tidak jelas dan tidak khas, sehingga sulit dilakukan diagnosis,
dan akibatnya apendisitis tidak ditangani tepat pada waktunya, sehingga biasanya baru
diketahui setelah terjadi perforasi. Berikut beberapa keadaan dimana gejala apendisitis tidak
jelas dan tidak khas.2,3
Gambaran klinis apendisitis akut
-

Tanda awal nyeri mulai di epigastrium atau region umbilikalis disertai mual

dan anoreksia
-

Nyeri pindah ke kanan bawah menunjukkan tanda rangsangan peritoneum local

dititik McBurney

Nyeri tekan

Nyeri lepas

Defans muskuler

Nyeri rangsangan peritoneum tidak langsung

Nyeri kanan bawah pada tekanan kiri (rovsing sign)

Nyeri kanan bawah bila tekanan di sebelah kiri dilepaskan (Blumberg sign)

Nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak, seperti bernafas dalam, berjalan, batuk,

mengedan

G. PEMERIKSAAN
Demam biasanya ringan, dengan suhu sekitar 37,5-38,50C. bila suhu lebih tinggi, mungkin
sudah terjadi perforasi. Bisa terdapat perbedaan suhu aksiler dan rectal sampai 10C. pada
inspeksi perut tidak didapatkan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita
dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau
abses periapendikuler.
Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada region iliakan dekstra, bisa disertai nyeri
lepas. Defans muskuler menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale. Nyeri tekan
perut kanan bawah ini merupakan kunci diagnosis. Pada penekanan perut kiri bawah akan
dirasakan nyeri diperut kanan bawah yang disebut tanda Rovsing. Pada apendisitis retrosekal
atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri.
Karena terjadi pergeseran sekum ke kraniolatodorsal oleh uterus, keluhan nyeri pada
apendisitis sewaktu hamil trisemester II dan III akan bergeser ke kanan sampai ke pinggang
kanan. Tanda pada kehamilan trisemester I tidak berbeda pada orang dengan tidak hamil
Karena itu perlu dibedakan apakah keluhan nyeri berasal dari uterus atau dari apendiks. Bila
penderita miring ke kiri, nyeri akan berpindah sesuai dengan pergeseran uterus, terbukti
proses bukan berasal dari apendiks.
Peristaltic usus sering normal; peristaltic dapat hilang akibat ileus paralitik pada peritonitis
generalisata akibat apendisitis perforate.
Pemeriksaan colok dubur menyebabkan nyeri bila daerah infeksi bisa dicapai dengan jari
telunjuk, misalnya pada apendisitis pelvika.
Pada apendisitis pelvika tanda perut sering mmeragukan maka kunci diagnosis adalah nyeri
terbatas sewaktu dilakukan coloh dubur. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan
pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks. Uji psoas dilakukan
dengan rangsangan otot psoas lewat hiperekstensi sendi panggul kanan, kemudian paha kanan
ditahan. Bila apendiks yang meradang menempel di m.psoas mayor, tindakan tersebut akan
menyebabkan nyeri. Uji obturator digunakan untuk melihat apakah apendiks yang meradang
kontak dengan m.obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil. Gerakan fleksi
dan endotorsi endi panggul pada posisi terlentang akan menimbulkan nyeri pada apendiksitis
pelvika.

(Owen TD et al,2007)
Secara klinis, dikenal beberapa manuver diagnostik: 10

Rovsings sign
Jika LLQ ditekan, maka terasa nyeri di RLQ. Hal ini menggambarkan iritasi peritoneum.
Sering positif pada Appendicitis namun tidak spesifik.

Psoas sign

Pasien berbaring pada sisi kiri, tangan kanan pemeriksa memegang lutut pasien dan
tangan kiri menstabilkan panggulnya. Kemudian tungkai kanan pasien digerakkan dalam
arah anteroposterior. Nyeri pada manuver ini menggambarkan kekakuan musculus psoas
kanan akibat refleks atau iritasi langsung yang berasal dari peradangan Appendix.
Manuver ini tidak bermanfaat bila telah terjadi rigiditas abdomen.

Gambar 5. Dasar anatomis terjadinya Psoas sign 10

Obturator sign
Pasien terlentang, tangan kanan pemeriksa berpegangan pada telapak kaki kanan pasien
sedangkan tangan kiri di sendi lututnya. Kemudian pemeriksa memposisikan sendi lutut
pasien dalam posisi fleksi dan articulatio coxae dalam posisi endorotasi kemudian
eksorotasi. Tes ini positif jika pasien merasa nyeri di hipogastrium saat eksorotasi. Nyeri
pada manuver ini menunjukkan adanya perforasi Appendix, abscess lokal, iritasi M.
Obturatorius oleh Appendicitis letak retrocaecal, atau adanya hernia obturatoria.

Gambar 6. Cara melakukan Obturator sign10)

Gambar 7. Dasar anatomis Obturator sign10)

Blumbergs sign (nyeri lepas kontralateral)


Pemeriksa menekan di LLQ kemudian melepaskannya. Manuver ini dikatakan positif bila
pada saat dilepaskan, pasien merasakan nyeri di RLQ.

Wahls sign
Manuver ini dikatakan positif bila pasien merasakan nyeri pada saat dilakukan perkusi di
RLQ, dan terdapat penurunan peristaltik di segitiga Scherren pada auskultasi.

Baldwins test
Manuver ini dikatakan positif bila pasien merasakan nyeri di flank saat tungkai kanannya
ditekuk.

Defence musculare
Defence musculare bersifat lokal sesuai letak Appendix.

Nyeri pada daerah cavum Douglasi


Nyeri pada daerah cavum Douglasi terjadi bila sudah ada abscess di cavum Douglasi atau
Appendicitis letak pelvis.

Nyeri pada pemeriksaan rectal toucher pada saat penekanan di sisi lateral

Dunphys sign (nyeri ketika batuk)

Kocher sign nyeri yang pada awalnya pada daerah epigastrium atau sekitar
pusat,kemudian berpindah ke kuadran kanan bawah

(Hardin DM,2011)

Pemeriksaan penunjang
Studi secara konsisten menunjukkan bahwa 80-85% orang dewasa dengan radang usus buntu
memiliki sel darah putih (WBC) count lebih besar dari 10.500 sel / uL. Neutrofilia lebih besar

dari 75% terjadi pada 78% pasien. Kurang dari 4% pasien dengan apendisitis memiliki WBC
count kurang dari 10.500 sel / uL dan neutrofilia kurang dari 75%.

Dueholm et al lanjut digambarkan hubungan antara jumlah WBC dan kemungkinan


apendisitis dengan menghitung rasio kemungkinan untuk interval yang ditetapkan dari jumlah
WBC. (Medscape)
Urinalisis mungkin berguna dalam membedakan apendisitis dari kondisi saluran kemih.
Piuria ringan dapat terjadi pada pasien dengan usus buntu karena hubungan usus buntu
dengan ureter yang tepat. Piuria parah adalah temuan lebih umum pada infeksi saluran kemih
(ISK). Proteinuria dan hematuria menunjukkan penyakit genitourinaria atau gangguan
hemocoagulative.

Satu studi dari 500 pasien dengan apendisitis akut mengungkapkan bahwa sekitar sepertiga
melaporkan gejala kencing, disuria paling sering atau sakit sayap kanan. [37] Satu dari 7
pasien memiliki piuria lebih besar dari 10 leukosit per lapangan daya tinggi (hpf), dan 1 di 6
pasien memiliki lebih dari 3 sel darah merah (sel darah merah) per hpf. Dengan demikian,
diagnosis usus buntu tidak boleh diberhentikan karena adanya gejala urologi atau urinalisis
abnormal.
a penelitian retrospektif dari 662 pasien yang lebih muda dari usia 18 tahun yang datang ke
gawat darurat dengan nyeri perut, ultrasonografi / MRI dilakukan pada 397 pasien dan CT
scan digunakan dalam 265. Pada ultrasonografi kelompok / MRI, ultrasound positif untuk
usus buntu di 19.7 % pasien, dan MRI mengidentifikasi tambahan 62 kasus, dimana 7
(11,3%) yang rumit. Pada kelompok CT, 55.4% pasien positif untuk usus buntu, yang 19,4%
dipersulit.
ultrasonografi graded memiliki sensitivitas 66% dan spesifisitas 95%.

Transverse dinilai kompresi transabdominal USG dari lampiran akut meradang. Perhatikan
penampilan targetlike karena dinding menebal dan sekitarnya lokulasi pengumpulan cairan.
(medscape)
Apendikogram
Appendikografi
DEFINISI

Appendikografi : Teknik pemeriksaan radiologi untuk memvisualisasikan appediks dengan


menggunakan
kontras
media
positif
barium
sulfat
.
Dapat dilakukan :

Secara oral
Ecara anal

PERSIAPAN PASIEN

48 jam sebelum pemeriksaan dianjurkan makan makanan lunak tidak berserat. Misal
: bubur kecap
12 jam atau 24 jam sebelum pem pasien diberikan 2/3 Dulcolac untuk diminum
Pagi hari pasien deberi dulkolac supositoria melalui anus atau dilavement
4 jam sebelem pemeriksaan pasien harus puasa hingga emeriksaan berlangsung
Pasien dianjurkan menghindari banyak bicara dan merokok

PERSIAPAN ALAT

Pesawat sinar-X yg dilengkapi fluoroskopi & dilengkapi alat bantu kompresi yg


berfungsi untuk memperluas permukaan organ yg ada didaerah ileosaekal /
memodifikasi posisi pasien supine mjd prone
Kaset + film

PERSIAPAN BAHAN

Bahan kontras barium sulfat dengan perbandingan 1 : 4 sampai 1 : 8

3.2.

Teknik

PA/AP

Pemeriksaan
PROJECTION

Posisi Pasien : Pasien pada posisi pone atau supine, dengan bantal di kepala.
Posisi Objek :

MSP berada di tengah-tengah meja pemeriksaan


Pastikan tidak ada rotasi

Central Ray :

CR tegak lurus terhadap kaset


CR setingi iliac crest
SID minimal 100 cm

Struktur yang tampak :

Colon bagian transversum harus diutamaka terisi barium.pada posisi PA dan terisi
udara pada posisi AP dengan teknik double contrast.
Seluruh luas usus harus nampak termasuk flexure olic kiri.

RPO

(Right

Posterior

Oblique)

Posisi Pasien : 35 to 45o menuju right dan left porterior oblique (RPO atau LPO), dengan
bantal
pada
bantal
Posisi Objek :

Letakan bantal di atas kepala.


Flexikan siku dan letakan di depan tubuh pasien
Luruskan MSP dengan meja pemeriksaan dengan abdominal margins kiri dan kanan
sama jauhnya dari garis tengah meja pemeriksaan

CENRAL RAY :

CRtegak lurus terhadap IR


Sudutkan CR dengan titik pusat setinggi iliac crest dan sekitar 2,5 cm lateral menuju
garis midsaggital plane (MSP).
SID minimal 100 cm

STRUKTUR YANG TAMPAK

LPO colic flexura hepatic kanan dan ascending & recto sigmoid portions harus
tampak terbuka tanpa superimposition yang significant. RPO- colicflexure kiri dan
descending portions harus terlihat terbuka tanpa superimposition yang significant.

DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding dari Appendicitis acuta pada dasarnya adalah diagnosis dari akut
abdomen. Hal ini karena manifestasi klinik yang tidak spesifik untuk suatu penyakit tetapi
spesifik untuk suatu gangguan fisiologi atau gangguan fungsi. Jadi pada dasarnya gambaran
klinis yang identik dapat diperoleh dari berbagai proses akut di dalam atau di sekitar cavum
peritoneum yang mengakibatkan perubahan yang sama seperti Appendicitis acuta. 2,6)
Ada beberapa keadaan yang merupakan kontraindikasi operasi, namun pada umumnya
proses-proses penyakit yang diagnosisnya sering dikacaukan oleh Appendicitis sebagian
besar juga merupakan masalah pembedahan atau tidak akan menjadi lebih buruk dengan
pembedahan. 2,6)
Diagnosis banding Appendicitis tergantung dari 3 faktor utama: lokasi anatomi dari
inflamasi Appendix, tingkatan dari proses dari yang simple sampai yang perforasi, serta umur
dan jenis kelamin pasien. 2,6)
1. Gastroenteritis akut
Penyakit ini sangat umum pada anak-anak tapi biasanya mudah dibedakan dengan
Appendicitis. Gastroentritis karena virus merupakan salah satu infeksi akut self limited
dari berbagai macam sebab, yang ditandai dengan adanya diare, mual, dan muntah. Nyeri
hiperperistaltik abdomen mendahului terjadinya diare. Hasil pemeriksaan laboratorium
biasanya normal.

2. Penyakit urogenital pada laki-laki.


Penyakit urogenital pada laki-laki harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding
Appendicitis, termasuk diantaranya torsio testis, epididimitis akut, karena nyeri epigastrik
dapat muncul sebagai gejala lokal pada awal penyakit ini, Vesikulitis seminalis dapat juga
menyerupai Appendicitis namun dapat dibedakan dengan adanya pembesaran dan nyeri
Vesikula seminalis pada waktu pemeriksaan Rectal toucher.
3. Diverticulitis Meckel
Divertikulum Meckel adalah salah satu kelainan bawaan yang paling umum. Hal ini
terjadi ketika hubungan antara usus dan tali pusat tidak sepenuhnya menutup selama
perkembangan janin.Hal ini menghasilkan outpouching kecil dari usus kecil, yang
dikenal sebagai divertikulum Meckel. Dalam kebanyakan kasus, divertikula Meckel

tidak menimbulkan masalah. Dalam sejumlah kecil pasien namun, divertikula ini dapat
menjadi terinfeksi (divertikulitis)menyebabkan obstruksi usus, atau menyebabkan
perdarahan dari usus. Gejala yang paling umum dari divertikulitis Meckel adalah
pendarahan tanpa rasa sakit dari dubur. Tinja bisa mengandung darah segar atau
mungkin terlihat hitam dan lengket. Diverticulitis, atau infeksi,dari divertikulum Meckel
sering keliru untuk usus buntu

4. Intususseption
Sangat berlawanan dengan Diverticulitis Meckel, sangat penting untuk membedakan
Intususseption dari Appendicitis acuta karena terapinya sangat berbeda. Umur pasien
sangat penting, Appendicitis sangat jarang dibawah umur 2 tahun, sedangkan
Intususseption idiopatik hampir semuanya terjadi di bawah umur 2 tahun. Pasien biasanya
mengeluarkan tinja yang berdarah dan berlendir. Massa berbentuk sosis dapat teraba di
RLQ. Terapi yang dipilih pada intususseption bila tidak ada tanda-tanda peritonitis adalah
barium enema, sedangkan terapi pemberian barium enema pada pasien Appendicitis acuta
sangat berbahaya.

5. Perforasi ulkus peptikum


Gejala perforasi ulkus peptikum menyerupai Appendicitis jika cairan gastroduodenal
mengalir ke bawah di daerah caecal. Jika perforasi secara spontan menutup, gejala nyeri
abdomen bagian atas menjadi minimal.
6. Infeksi saluran kencing
Pyelonephritis acuta, terutama yang terletak di sisi kanan dapat menyerupai
Appendicitis acuta letak retroileal. Rasa dingin, nyeri costo vertebra kanan, dan terutama
pemeriksaan urine biasanya cukup untuk membedakan keduanya.
7. Batu Urethra
Bila calculus tersangkut dekat Appendix dapat dikelirukan dengan Appendicitis
retrocaecal. Nyeri alih ke daerah labia, scrotum atau penis, hematuria, dan atau tanpa
demam atau leukositosis mendukung adanya batu. Pyelografi dapat memperkuat
diagnosis.
8. Kelainankelainan ginekologi

Umumnya kesalahan diagnosis Appendicitis acuta tertinggi pada wanita dewasa muda
disebabkan oleh kelainankelainan ginekologi. Angka rata-rata Appendectomy yang
dilakukan pada Appendix normal yang pernah dilaporkan adalah 32%45% pada wanita
usia 1545 tahun. Penyakitpenyakit organ reproduksi pada wanita sering dikelirukan
sebagai Appendicitis, dengan urutan yang tersering adalah PID, kista atau tumor ovarium,
endometriosis dan ruptur kehamilan ektopik. Laparoskopi mempunyai peranan penting
dalam menentukan diagnosis.

Pelvic Inflammatory Disease (PID)

Infeksi ini biasanya bilateral tapi bila yang terkena adalah tuba sebelah kanan dapat
menyerupai Appendicitis. Mual dan muntah hampir selalu terjadi pada pasien
Appendicitis. Pada pasien PID hanya sekitar separuhnya.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pasien Appendicitis acuta yaitu
1. Pemasangan infus dan pemberian kristaloid untuk pasien dengan gejala klinis
dehidrasi atau septikemia.
2. Puasakan pasien, jangan berikan apapun per oral
3. Pemberian obat-obatan analgetika harus dengan konsultasi ahli bedah.
4. Pemberian antibiotika i.v. pada pasien yang menjalani laparotomi.
5. Pertimbangkan kemungkinan kehamilan ektopik pada wanita usia subur dan
didapatkan beta-hCG positif secara kualitatif.
Bila dilakukan pembedahan, terapi pada pembedahan meliputi; antibiotika profilaksis
harus diberikan sebelum operasi dimulai pada kasus akut, digunakan single dose dipilih
antibiotika yang bisa melawan bakteri anaerob.

Teknik operasi Appendectomy :


a. Open Appendectomy
1. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik.
2. Dibuat sayatan kulit:
Horizontal

Oblique

3. Dibuat sayatan otot, ada dua cara:


a. Pararectal/ Paramedian
Sayatan/ incisi pada vaginae tendinae M. rectus abdominis lalu otot disisihkan ke
medial. Fascia diklem sampai saat penutupan vagina M. rectus abdominis karena
fascianya ada 2 agar tidak tertinggal pada waktu penjahitan. Bila yang terjahit
hanya satu lapis fascia saja, dapat terjadi hernia cicatricalis.

sayatan
M.rectus abd.

M.rectus abd.
2 lapis

ditarik ke medial

b. Mc Burney/ Wechselschnitt/ muscle splitting


Sayatan berubah-ubah sesuai serabut otot.
1) Incisi apponeurosis M. Obliquus abdominis externus dari lateral atas ke
medial bawah.

Keterangan gambar:

Satu incisi kulit yang rapi dibuat dengan perut mata pisau. Incisi kedua
mengenai jaringan subkutan sampai ke fascia M. Obliquus abdominis
externus.
2) Splitting M. Obliquus abdominis internus dari medial atas ke lateral bawah.

Keterangan gambar:
Dari tepi sarung rektus, fascia tipis M. obliquus internus diincisi searah
dengan seratnya ke arah lateral.
3) Splitting M. transversus abdominis arah horizontal.

Keterangan gambar:
Pada saat menarik M. obliquus internus hendaklah berhati-hati agar tak terjadi
trauma jaringan. Dapat ditambahkan, bahwa N. iliohipogastricus dan
pembuluh yang memperdarahinya terletak di sebelah lateral di antara M.
obliquus externus dan internus. Tarikan yang terlalu keras akan merobek
pembuluh dan membahayakan saraf.
4. Peritoneum dibuka.

Keterangan gambar:
Kasa Laparatomi dipasang pada semua jaringan subkutan yang terpapar. Peritoneum
sering nampak meradang, menggambarkan proses yang ada di bawahnya. Secuil
peritoneum angkat dengan pinset. Yang nampak di sini ialah pinset jaringan De
Bakey. Asisten juga mengangkat dengan cara yang sama pada sisi di sebelah dokter
bedah. Dokter bedah melepaskan pinset, memasang lagi sampai dia yakin bahwa
hanya peritoneum yang diangkat.

5. Caecum dicari kemudian dikeluarkan kemudian taenia libera ditelusuri untuk mencari
Appendix. Setelah Appendix ditemukan, Appendix diklem dengan klem Babcock
dengan arah selalu ke atas (untuk mencegah kontaminasi ke jaringan sekitarnya).
Appendix dibebaskan dari mesoappendix dengan cara:
Mesoappenddix ditembus dengan sonde kocher dan pada kedua sisinya, diklem,
kemudian dipotong di antara 2 ikatan.

Keterangan gambar:
Appendix dengan hati-hati diangkat agar mesenteriumnya teregang. Klem Babcock
melingkari appenddix dan satu klem dimasukkan lewat mesenterium seperti pada
gambar. Cara lainnya ialah dengan mengklem ujung bebas mesenterium di bawah
ujung appenddix. Appendix tak boleh terlalu banyak diraba dan dipegang agar tidak
menyebarkan kontaminasi.

6. Appendix di klem pada basis (supaya terbentuk alur sehingga ikatan jadi lebih kuat
karena mukosa terputus sambil membuang fecalith ke arah Caecum). Klem
dipindahkan sedikit ke distal, lalu bekas klem yang pertama diikat dengan benang
yang diabsorbsi (supaya bisa lepas sehingga tidak terbentuk rongga dan bila terbentuk
pus akan masuk ke dalam Caecum).

7. Appendix dipotong di antara ikatan dan klem, puntung diberi betadine.

8. Perawatan puntung Appendix dapat dilakukan dengan cara:


a. Dibuat jahitan tabak sak pada Caecum, puntung Appendix diinversikan ke dalam
Caecum. Tabak sak dapat ditambah dengan jahitan Z.
b. Puntung dijahit saja dengan benang yang tidak diabsorbsi. Resiko kontaminasi
dan adhesi.
c. Bila prosedur a+b tidak dapat dilaksanakan, misalnya bila puntung rapuh, dapat
dilakukan penjahitan 2 lapis seperti pada perforasi usus.

9. Bila no.7 tidak dapat dilakukan, maka Appendix dipotong dulu, baru dilepaskan dan
mesenteriolumnya (retrograde).
10. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis.

b. Laparoscopic Appendectomy
Laparoscopy dapat dipakai sebagai sarana diagnosis dan terapeutik untuk pasien
dengan nyeri akut abdomen dan suspek Appendicitis acuta. Laparoscopy sangat berguna
untuk pemeriksaan wanita dengan keluhan abdomen bagian bawah. Dengan menggunakan
laparoscope akan mudah membedakan penyakit akut ginekologi dari Appendicitis acuta.
Ellis H et al,2001

Gambar 3.10. Posisi operasi Laparoscopic Appendectomy 1)

BAB III
KESIMPULAN
Appendicitis adalah peradangan pada Appendix vermicularis. Appendix merupakan
derivat bagian dari midgut, yang lokasi anatomisnya dapat berbeda tiap individu.
Appendicitis merupakan kasus bedah akut abdomen yang paling sering ditemukan. Faktorfaktor yang menjadi etiologi dan predisposisi

terjadinya Appendicitis meliputi faktor

obstruksi, bakteriologi, dan diet. Obstruksi lumen adalah penyebab utama pada Appendicitis
acuta.
Gejala klinis Appendicitis meliputi nyeri perut, anorexia, mual, muntah, nyeri berpindah, dan
gejala sisa klasik berupa nyeri periumbilikal kemudian anorexia/mual/muntah kemudian nyeri
berpindah ke RLQ kemudian demam yang tidak terlalu tinggi. Tanda klinis yang dapat dijumpai dan
manuver diagnostik pada kasus Appendicitis adalah Rovsings sign, Psoas sign, Obturator sign,
Blumbergs sign, Wahls sign, Baldwin test, Dunphys sign, Defence musculare, nyeri pada daerah
cavum Douglas bila ada abscess di rongga abdomen atau Appendix letak pelvis, nyeri pada
pemeriksaan rectal toucher.
Pemeriksaan penunjang dalam diagnosis Appendicitis adalah pemeriksaan laboratorium, Skor
Alvarado, ultrasonografi, dan radiologi. Diagnosis banding Appendicitis antara lain; Adenitis
Mesenterica Acuta, Gastroenteritis akut, penyakit urogenital pada laki-laki, Diverticulitis Meckel,
Intususseption, Chrons enteritis, perforasi ulkus peptikum, Epiploic appendagitis, infeksi saluran
kencing, batu urethra, peritonitis primer, Purpura HenochSchonlein, Yersiniosis, serta kelainan
kelainan ginekologi.
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh Appendicitis adalah perforasi, peritonitis, Appendicular
infiltrat, Appendicular abscess, shock Septic, mesenterial pyemia dengan Abscess hepar, dan
perdarahan GIT. Penatalaksanaan pasien Appendicitis acuta meliputi; pemberian kristaloid untuk
pasien dengan gejala klinis dehidrasi atau septikemia, puasakan pasien, analgetika harus dengan
konsultasi ahli bedah, pemberian antibiotika i.v. pada pasien yang menjalani laparotomi.
Appendicular infiltrat merupakan komplikasi dari Appendicitis acuta. Appendicular infiltrat
adalah proses radang Appendix yang penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum dan usus-usus
dan peritoneum disekitarnya sehingga membentuk massa (Appendiceal mass) yang lebih sering
dijumpai pada pasien berumur 5 tahun atau lebih karena daya tahan tubuh telah berkembang
dengan baik dan omentum telah cukup panjang dan tebal untuk membungkus proses radang.

Etiologi dan patofisiologi Appendicular infiltrat diawali oleh adanya Appendicitis acuta.
Dimulai dari acute focal Appendicitis acute suppurative Appendicitis gangrenous
Appendicitis (tahap pertama dari Appendicitis yang mengalami komplikasi) dapat terjadi 3
kemungkinan:
o

perforated Appendicitis, terjadi penyebaran kontaminasi didalam ruang atau rongga


peritoneum akan menimbulkan peritonitis generalisata.

terjadi Appendicular infiltrat jika pertahanan tubuh baik (massa lama kelamaan akan
mengecil dan menghilang)

Appendicitis kronis, merupakan serangan ulang Appendicitis yang telah sembuh.

Appendicular infiltrat dapat didiagnosis dengan didasari anamnesis adanya riwayat


Appendicitis acuta, pemeriksaan fisik berupa teraba massa yang nyeri tekan di RLQ.
Diagnosis Appendicular infiltrat dapat didiagnosis banding dengan kelainan ginekolog seperti
KET, adneksitis ataupun torsi kista ovarium.
Terapi Appendicular infiltrat yang terbaik adalah terapi non-operatif (konservatif) yang
diikuti dengan Appendectomy elektif (6-8 minggu kemudian), tetapi apabila massa tetap dan
nyeri perut pasien bertambah berarti sudah terjadi abses dan massa harus segera dibuka dan
dilakukan drainase.