Anda di halaman 1dari 9

Makalah Teknologi Perbenihan 1

Tugas 5 : Permasalahan pada proses pengujian benih kacang tanah

Kelompok 8
Anggota Kelompok :
-

Felia Shella Meidina


Jessica Amanda Claudia
Daud Supardi
Asytri desliyanti R R
Yuda Pebriana

150510130043
150510130098
150510130111
150510130116
150510130128

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
serta karunia-Nya kepada kami semua sehingga kami berhasil menyelesaikan Tugas
Teknologi Perbenihan 1 dari dosen yang terhormat Ibu Dr. Wieny HR,Dra.,MS. ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul Dormansi Pada Benih Tanaman
Kelapa Sawit.
Tugas yang berjudul Permasalahan pada proses pengujian benih kacang tanah
yang dimana makalah ini menjelaskan tentang hal-hal apa saja yang menjadi
permasalahan pada proses pengujian benih serta solusi yang tepat. Makalah ini disusun
oleh penyusun berdasarkan jurnal seseorang yang telah meneiliti hal ini sebelumnya.
Kami menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan tugas ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah
SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Bandung, 30 Oktober 2014

Penyusun,

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kacang tanah (Arachis hypogaea) merupakan salah satu tanaman pangan utama
selain beras. Kacang tanah memiliki peran strategis dalam kontribusi pangan nasional
sebagai sumber protein dan minyak nabati. Produksi kacang tanah Indonesia pada tahun
2012 sebesar 712.874 ton (angka sementara). Hasil produksi tersebut menunjukkan
peningkatan sebesar 21.585 ton dari produksi tahun 2011 sebesar 691.289 ton (BPS,
2012). Semakin meningkatnya produksi kacang diperkirakan karena adanya
penambahan luas areal panen sebesar 2075 hektar(BPS, 2012).
Penigkatan luas panen harus didukung dengan pemenuhan ketersediaan benih
berkualitas yaitu benih memenuhi standar mutu. Mutu benih meliputi mutu
fisikditunjukkan dengan adanya benih murni (masih utuh dan atau pecah hampir masih
lebih dari 50%), benih tanaman lain dan kotoran benih. Mutu genetik ditunjukkan
dengan adanya campuran varietas lain atau tidak. Mutu fisiologik ditunjukkan dengan
nilai kadar air dan daya tumbuh (sesuai dengan standar benih bermutu). Mutu patologik
ditunjukkan dengan kesehatan benih.
Permasalahan dalam pengujian benih kacang tanah di laboratorium adalah
dormansi benih, yang mana hal ini akan berpengaruh pada proses produksi benih. Ilyas
(2007) menyatakan kacang tanah memiliki masa dormansi. Perlakuan penyimpanan
benih setelah panen pada kisaran suhu ruang 19 25oC belum dapat mematahkan
dormansi benih kacang tanah varietas Gajah, Kidang, Pelanduk, Zebra, Macan, dan
Panter, terbukti dengan nilai daya berkecambah yang masih rendah. Untuk varietas
Simpai dan Trenggiling, after-ripening selama 3 minggu mampu mematahkan dormansi
benih, dan untuk varietas Banteng dengan after-ripening 4 minggu. Peristiwa dormansi
menimbulkan beberapa kerugian seperti pertumbuhan yang tidak serempak dan
mengganggu ketepatan ketersediaan benih saat musim tanam.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja permasalahan pada proses pengujian perkecambahan pada kacang tanah?
2. Bagaimana solusinya?
1.3 Tujuan
1. Menambah wawasan untuk mengetahui permasalahan pada proses pengujian benih
kacang tanah.
2. Memberikan solusi yang tepat.
3. Memenuhi tugas dari dosen matakuliah Teknologi Perbenihan 1.

BAB II

ISI DAN PEMBAHASAN


2.1 Masalah
A. Benih kacang tanah memiliki masa dormansi
Permasalahan dalam pengujian benih kacang tanah di laboratorium adalah dormansi
benih, yang mana hal ini akan berpengaruh pada proses produksi benih. Ilyas (2007)
menyatakan kacang tanah memiliki masa dormansi. Perlakuan penyimpanan benih
setelah panen pada kisaran suhu ruang 19 25oC belum dapat mematahkan dormansi
benih kacang tanah. Peristiwa dormansi menimbulkan beberapa kerugian seperti
pertumbuhan yang tidak serempak dan mengganggu ketepatan ketersediaan benih saat
musim tanam.
B. Penyimpanan benih kacang tanah di gudang dapat mengakibatkan patogen A. niger
Mengganggu.
Gibson (1953), ditemukan. A. niger menyebabkan penyakit yang paling serius
dari kacang tanah yaitu busuk mahkota. Demikian pula Jain & Neema (1952)
melaporkan bahwa A. niger menghasilkan spot coklat melingkar pada kotiledon dan
daerah ini berubah warna dengan cepat membusuk dan menyebar ke batang hipokotil.
Kondisi yang dapat mempengaruhi perkembangan cendawan gudang adalah
kadar air berkeseimbangan dengan RH >65%, suhu

lingkungan umumnya suhu

optimum sekitar 300 - 32 0C, lama penyimpanan, penyimpanan singkat serangan tidak
masalah sedangkan penyimpanan lama akan menjadi masalah besar. Kerugian-kerugian
yang ditimbulkan serangan cendawan gudang penurunan daya berkecambah, perubahan
warna bagian/seluruh bagian benih terutama pada embrio, peningkatan panas karena
respirasi, perubahan komposisi biokimia, terbentuknya toksin, dan penurunan berat
(Anonim,2010).

2.2 Solusi

1. Metode perendaman benih dengan larutan KNO3 0,2% selama 48 jam memberikan
efektivitas yang sama dengan metode rekomendasi ISTA (International Seed Testing
Association) dan lebih praktis dalam pelaksanaan, dengan batasan nilaiuji daya
tumbuh lebih dari 80% dan jumlah benih dorman kurang dari 5%.
2. Varietas Lokal Tuban dan Bison memberikan respon baik hanya pada perlakuan P1
(perendaman dengan larutan KNO3 0,2% selama 48 jam), P2 (perendaman dengan
air kelapa selama 48 jam) dan P3 (pemanasan dalam oven bersuhu 40oC selama 7
hari), sedangkan varietas Kelinci memberikan respon baik pada semua perlakuan.
3. Tidak menyimpan terlalu lama benih kacang tanah pada gudang karena akan
menyebabkan cendawan ini berkembang biak secara terus menerus dan dapat
menyebar ke benih kacang tanah lainnya.

KETERANGAN :

P0 : benih tanpa perlakuan (kontrol)


P1 : benih direndam KNO3 0,2% selama 2x24 jam pada suhu 25-30oC. Suatu
percobaan menunjukkan bahwa KNO3 dapat merangsang perkecambahan, terutama
dalam gelap. Ransangan yang diperoleh dengan KNO3 bergantung konsentrasinya.
Seperti halnya dengan cahaya KNO3 menunjukkan interaksi dengan suhu dalam
stimulasi perkecambahan. Larutan KNO3 tersebut berinteraksi dengan suhu dalam
menstimulir perkecambahan benih. Efek KNO3 yang ditimbulkan ditentukan oleh
besar kecil konsentrasinya
P2 : benih direndam air kelapa selama 2x24 jam pada suhu 25-30oC. Air kelapa
merupakan salah satu sumber alami hormone tumbuh yang dapat digunakan untuk
memacu pembelahan sel dan merangsang pertumbuhan tanaman. Endosperm cair
buah kelapa yang belum matang mengandung senyawa yang memacu sitokinesis.
Air kelapa mengandung zeatin yang termasuk kelompok sitokinin. Sitokinin adalah
ZPT yang berperan penting dalam pembelahan sel.
P3 : benih dioven kering pada suhu 40oC selama 7x24 jam (rekomendasi ISTA)
P4 : benih dioven kering pada suhu 40oC selama 7x24 jam, dilanjutkan dengan
direndam KNO3 0,2% selama 2x24 jam pada suhu 25-30oC
P5 : benih dioven kering pada suhu 40oC selama 7x24 jam, dilanjutkan dengan
direndam air kelapa selama 2x24 jam pada suhu 25-30oC
Berdasarkan hasil tabel diatas dinyatakan bahwa varietas bison berhasil di
patahkan dormansinya dengan diberikannya 5 perlakuan. Meskipun tumbuh semua pada
P4 dan P5 varietas bison ini kurang baik dalam pertumbuhannya. Hal ini dikarenakan
benih yang telah berkecambah setelah masa dormansi hasilnya akan kurang baik.

BAB III

KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Benih kacang tanah memiliki masa dormansi permasalahan dalam pengujian
benih kacang tanah di laboratorium adalah dormansi benih, yang mana hal ini akan
berpengaruh pada proses produksi benih. Ilyas (2007) menyatakan kacang tanah
memiliki masa dormansi. Penyimpanan benih kacang tanah di gudang dapat
mengakibatkan patogen A. niger Mengganggu. Gibson (1953), ditemukan. A. niger
menyebabkan penyakit yang paling serius dari kacang tanah yaitu busuk mahkota.
Demikian pula Jain & Neema (1952) melaporkan bahwa A. niger menghasilkan spot
coklat melingkar pada kotiledon dan daerah ini berubah warna dengan cepat membusuk
dan menyebar ke batang hipokotil.
Solusi yang tepat, metode perendaman benih dengan larutan KNO3 0,2% selama
48 jam memberikan efektivitas yang sama dengan metode rekomendasi ISTA
(International Seed Testing Association) dan lebih praktis dalam pelaksanaan, dengan
batasan nilaiuji daya tumbuh lebih dari 80% dan jumlah benih dorman kurang dari 5%.
Varietas Lokal Tuban dan Bison memberikan respon baik hanya pada perlakuan P1
(perendaman dengan larutan KNO3 0,2% selama 48 jam), P2 (perendaman dengan air
kelapa selama 48 jam) dan P3 (pemanasan dalam oven bersuhu 40oC selama 7 hari),
sedangkan varietas Kelinci memberikan respon baik pada semua perlakuan. Tidak
menyimpan terlalu lama benih kacang tanah pada gudang karena akan menyebabkan
cendawan ini berkembang biak secara terus menerus dan dapat menyebar ke benih
kacang tanah lainnya.

Daftar Pustaka

http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=190917&val=6473&title=PERLAKUAN%20PEMATAHAN%20DORMANSI
%20TERHADAP%20DAYA%20TUMBUH%20BENIH%203%20VARIETAS
%20%20KACANG%20TANAH%20(Arachis%20hypogaea)

(diakses

hari

tanggal 30 Oktober 2014)


http://sagita.ph08.student.ipb.ac.id/ (diakses hari jumat tanggal 30 Oktober 2014)

jumat