Anda di halaman 1dari 2

Binatang, bahan-bahan kimia, dan makanan.

Binatang percobaan yang digunakan adalah Tikus Crlj: CD-1 (ICR) jantan yang berumur
5 minggu. Semua tikus ditempatkan di kandang plastik (3 atau 4 tikus/kandang) dengan akses
bebas untuk minum air dan makanan dasar berupa CRF-1 (Khamir Oriental, Tokyo, Jepang).
Tikus-tikus tersebut ditempatkan di bawah kondisi yang dikontrol dengan kelembaban udara
(5010%), cahaya (12/12-h cahaya/siklus gelap) dan suhu (232oC). Setelah karantina tujuh hari,
mereka diacak berdasarkan berat badan ke dalam kelompok percobaan dan kontrol.
Bahan kimia yang digunakan adalah ABAQ dengan kemurnian >99% (ditentukan
menggunakan HPLC) dan DSS dengan BM 36.000-50.000 (Cat No. 160110) dibeli di MP
Biochemical, LLC (Aurora, OH, USA).

Prosedur
Evaluasi aktivitas inisiasi tumor. Jumlah dari 38 tikus ICR jantan dibagi menjadi lima
kelompok percobaan dan kontrol pelarut. Kelompok 1 sampai 3 diberi perlakuan dengan
intragastrik tunggal, penginjeksian ABAQ pada dosis 100 atau 200 mg/kg berat badan. Satu
minggu pertama setelah perlakuan ABAQ, binatang dari kelompok 1 dan kelompok 2 (masingmasing n=15) diberi 2% (b/v) DSS pada air minum selama 7 hari, selanjutnya tidak diberi
perlakuan selama 14 minggu. Kelompok 3 dan 4 (masing-masing n=5) diberi ABAQ (200 mg/kg
berat badan) tersendiri dan 2% DSS tersendiri secara berturut-turut. Kelompok 5 (n=8) diberi
pelarut (salin fisiologis) tersendiri dan disediakan sebagai kelompok kontrol yang tidak diberi
perlakuan. Semua binatang dibuat tidak bisa bernafas dengan asphyxiation CO2 pada minggu ke
16. Usus besar disiram dengan salin, dipotong, dan diukur panjangnya (dari cabang ileocecal
sampai ujung dubur), dipotong melintang sepanjang sumbu utama dan dicuci dengan salin.
Setelah memeriksa usus besar secara makroskopis, jaringannya dipotong dan direndam pada
larutan penyangga formalin 10% selama 24 jam. Pemeriksaan histologis ditunjukkan oleh bagian
melekatnya parafin mengikuti pewarnaan hematoxylin dan eosin (H&E). Keberadaan atau
ketiadaan borok pada mukosa, dysplasia dan neoplasma kolonik diperiksa berdasarkan laporan
sebelumnya [9]. Pemeriksaan histopatologis juga ditunjukkan untuk organ lain.
Imunohistokimia dari minichromosome maintenance protein 2 (MCM2), -catenin
dan kematian sel 4 (PDCD4) yang terprogram. Kita menggunakan bagian dimana terdapat
parafin yang melekat pada usus besar tikus di seluruh kelompok untuk analisis imunohistokimia.

Parafin yang digunakan menggunakan lilin parafin. Antibodi primer yang digunakan ada 3: (1)
antibodi monoklonal kelinci anti-MCM2 (D7611 XP dengan pengenceran 1:400); (2) antibodi
poliklonal kelinci anti--catenin (#9661 dengan pengenceran 1:200), dan (3) antibodi poliklonal
kelinci anti-PCDC4 (ab51495 dengan pengenceran 1:500). Dalam kasus ini, kontrol negatif dan
positif dijalankan secara bersama. Sebagai langkah terakhir, bagian ini disinari dengan
hematoxylin Mayers. Imunoreaktivitas untuk antibodi untuk melawan MCM2, PDCD4, dan catenin diperkirakan pada luka (dyplasia tingkat tinggi) yang dikembangkan di kelompok 1
sampai 3 menggunakan mikroskop. Intensitas dan lokalisasi dari imunoreaktivitas melawan
antibodi-antibodi primer ditentukan oleh seorang patolologis yang tidak mengetahui kelompok
perlakuan.