Anda di halaman 1dari 2

Caecilia Jessica Unarso

G84120008
Kelompok 3 (Jahe)
Rabu, 10 September 2014
Preparasi Sampel
Teknik preparasi sampel adalah bagian dari proses analisis yang sangat penting. Teknik
preparasi sampel adalah proses yang harus dilakukan untuk menyiapkan sampel sehingga
siap untuk dianalisis menggunakan instrumentasi yang sesuai. Secara umum proses analisis
minimal mempunyai 5 langkah, yaitu sampling (pengambilan sampel), preservasi sampel
(penyimpanan sampel), preparasi sampel (penyiapan sampel), analisis (pengukuran),
interpretasi data (analisis data), dan pembuatan laporan analisis. Kesalahan pada salah satu
tahap pada proses analisis akan menyebabkan terjadinya kesalahan hasil analisis. Akibatnya
akan dihasilkan data hasil analisis yang tidak valid (Supriyanto 2012).
Teknik preparasi sampel dilakukan dengan tujuan khusus untuk memisahkan analit dari
matriks sampel yang sangat komplek, memekatkan analit sehingga diperoleh analit dengan
konsentrasi yang lebih tinggi dari semula, dan mengubah analit menjadi senyawa lain yang
dapat dianalisis dengan instrumentasi yang tersedia. Proses yang terakhir ini disebut
derivatisasi. Pengubahan senyawa menjadi senyawa lain dimaksudkan untuk:
1. Meningkatkan
sensitivitas
pengukuran,
misalnya
pengukuran
secara
spektrofotometri ion besi secara spektrofotometri tentu menghasilkan hasil yang
lebih sensitif jika ion besi diubah menjadi ion Fe(II) dan direaksikan dengan orto
fenantroline atau jika ion besi (III) direaksikan dengan ion tiosianat. Hal ini
disebabkan reaksi antara ion besi dengan pengomplek tersebut akan menghasilkan
senyawa komplek baru yang berwarna.
2. Menghasilkan senyawa yang lebih volatil, misalnya asam lemak yang berantai
panjang tentunya lebih sulit dianalisis dengan kromatografi gas (GC) karena titik
didihnya relatif tinggi. Untuk menurunkan titik didihnya maka asam lemak tersebut
direaksikan dengan alkohol (metano atau etanol) sehingga terbentuk metil ester atau
etil ester yang titik didihnya lebih rendah.
3. Menghasilkan senyawa yang lebih termo stabil, misalnya analisis senyawa dengan
GC memungkinkan terjadinya degradasi senyawa oleh pemanasan di injection port.
Oleh karena itu analit harus direaksikan dengan senyawa lain sehingga terbentuk
senyawa baru yang termo stabil.
Selain itu teknik preparasi sampel dapat dilakukan dengan melarutkan analit ke dalam
pelarut yang sesuai, misalnya analit berupa senyawa organik yang terlarut dalam air dapat
dipindahkan ke dalam pelarut organik dengan teknik ekstraksi. Dengan teknik ini, maka
analit dapat dipisahkan dari matrik yang komplek, dapat dipekatkan dan dilarutkan dalam
pelarut yang sesuai (Supriyanto 2012).
Menurut Harvey (2008), sampel padat biasanya membutuhkan beberapa proses sebelum
analisis, tidak seperti zat gas dan cair yang secara umum hanya membutuhkan sedikit

preparasi sampel. Ada dua alasan untuk ini. Pertama, variasi sampling adalah fungsi dari
jumlah partikel yang diambil sebagai sampel, bukan kombinasi massanya. Untuk populasi
yang sangat heterogen dan memiliki partikel yang besar, sampel nyata yang diambil bisa
jadi terlalu besar pula untuk dianalisis. Kedua, dalam sebagian besar teknik analisis,
khususnya analisis kuantitatif, biasanya dibutuhkan analit dalam bentuk larutan. Sampel
padat atau analit yang berada dalam sampel yang padat harus dijadikan larutan terlebih
dahulu.
Selanjutnya teknik preparasi sampel dapat juga digunakan untuk meningkatkan selektivitas
pengukuran. Misalnya analisis senyawa yang mempunyai isomer optik/ senyawa kiral.
Senyawa kiral (R dan S atau D dan L) dapat dipisahkan dengan menggunakan kolom kiral
yang berbasis siklodektrin atau molecular imprinting polymer (MIP) (Supriyanto 2012).

Daftar pustaka
Harvey D. 2008. Modern Analytical Chemistry. New York (USA): The McGraw-Hill
Companies
Supriyanto G. 2012. Teknik preparasi sampel (bagian 1) [terhubung berkala] http://gandenfst.web.unair.ac.id/artikel_detail-67282-Ilmiah-Teknik%20preparasi%20sampel
20%(bagian%201).html (9 September 2014)