Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I

DIAGRAM TERNER
SISTEM ZAT CAIR TIGA KOMPONEN

Oleh :
Dwinda Safitri
1308105038
VIB

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

DIAGRAM TERNER SISTEM ZAT CAIR TIGA KOMPENEN


Dwinda Safitri
(1308105038)
Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana, Bukit Jimbaran
2014
ABSTRAK
Praktikum ini melakukan percobaan mengenai Diagram Terner Sistem Zat Cair Tiga
Komponen antara campuran CCl4, Aquades dan Asam asetat glasial dengan variasi volume 1:9, 3:7,
5:5, 7:3, dan 9:1. Percobaan ini bertujuan untuk membuat kurva kelarutan suatu cairan yang terdapat
dalam campuran cairan tertentu. Percobaan ini meliputi penentuan persentase fraksi mol suatu cairan
dengan metode titrasi. Hasil perhitungan menunjukkan fraksi mol yang didapat dari masing-masing
zat pada percobaan pertama yaitu pada fraksi mol CCl4 0,36%; 17,92%; 15,68%; 52,99%;54,24%.
Pada aquades 58,49%; 28,87%; 27,81%; 8,12%; 41,47%. Dan pada asam asetat glasial diperoleh
fraksi molnya 41,15%; 53,21%; 56,51%; 38,89%; 4,29%.
Kata kunci : Diagram Terner, fraksi mol, titrasi,
PENDAHULUAN
Kelarutan suatu zat adalah suatu
konsentrasi maksimum yang dicapai suatu zat
dalam suatu larutan. Partikel-partikel zat
terlarut baik berupa molekul maupun berupa
ion selalu berada dalam keadaan terhidrasi
(terikat oleh molekul-molekul pelarut air).
Makin banyak partikel zat terlarut makin
banyak pula molekul air yang diperlukan untuk
menghindari partikel zat terlarut itu. Setiap
pelarut memiliki batas maksimum dalam
melarutkan zat. Untuk larutan yang terdiri dari
dua jenis larutan elektrolit maka dapat
membentuk endapan (dalam keadaan jenuh).
Berdasarkan hukum fasa Gibbs,
jumlah terkecil variabel bebas yang diperlukan
untuk menyatakan keadaan suatu sistem
dengan tepat pada kesetimbangan diungkapkan
sebagai :
V = C P + 2
dimana,
F = jumlah derajat kebebasan
C = jumlah komponen
P = jumlah fasa
kesetimbangan dipengaruhi oleh suhu,
tekanan dan komposisi sistem. Jumlah derajat
kebebasan untuk sistem tiga komponen pada
suhu dan tekanan tetap dapat dinyatakan
sebagai :
F = 3 P
Jika dalam sistem hanya terdapat satu
fasa, maka F = 2, berarti untuk menyatakan
keadaan sistem dengan tepat perlu ditentukan
konsentrasi dari dua komponennya. Sedangkan

bila dalam sistem terdapat dua fasa dalam


kesetimbangan, maka F = 1, berarti hanya satu
komponen
yang
harus
ditentukan
konsentrasinya dan konsentrasi komponen
yang lain sudah tertentu berdasarkan diagram
fasa untuk sistem tersebut. Oleh karena sistem
tiga kompoen pada suhu dan tekanan tetap
mempunyai jumlah derajat kebebasan paling
banyak dua, maka diagram fasa sistem ini
dapat digambarkan dalam satu bidang datar
berupa suatu segitiga sama sisi yang disebut
diagram terner.
Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga
komponen tergantung pada daya saling larut
antar zat cair tersebut dan suhu percobaan.
Misalnya ada tiga zat cair A, B dan C. A dan B
saling larut sebagian. Penambahan zat C
kedalam campuran A dan B akan memperbesar
atau memperkecil daya saling larut A dan B.
Pada percobaan ini hanya akan ditinjau sistem
yang memperbesar daya saling larut A dan B.
Dalam hal ini A dan C serta B dan C saling
larut sempurna. Kelarutan cairan C dalam
berbagai komposisi campuran A dan B pada
suhu tetap dapat digambarkan pada suatu
diagram terner. Prinsip menggambarkan
komposisi dalam diagram terner dapat dilihat
pada gambar (1) dan (2) di bawah ini Untuk
campuran yang terdiri atas tiga komponen,
komposisi (perbandingan masing-masing
komponen) dapat digambarkan di dalam suatu
diagram segitiga sama sisi yang disebut
dengan Diagram Terner. Komposisi dapat
dinyatakan dalam fraksi massa (untuk cairan)
atau fraksi mol (untuk gas). Diagram tiga sudut
atau diagram segitiga berbentuk segitiga sama

sisi dimana setiap sudutnya ditempati


komponen zat. Sisi-sisinya itu terbagi dalam
ukuran yang menyatakan bagian 100% zat
yang berada pada setiap sudutnya. Untuk
menentukan letak titik dalam diagram segitiga
yang menggambarkan jumlah kadar dari
masing-masing komponen dilakukan sebagai
berikut :

Gambar 1.1
Titik A, B dan C menyatakan kompoenen
murni. Titik-titik pada sisi Ab, BC dan Ac
menyatakan fraksi dari dua
komponen,
sedangkan titik didalam segitiga menyatakan
fraksi dari tiga komponen. Titik P menyatakan
suatu campuran dengan fraksi dari A, B dan C
masing-masing sebanyak x, y dan z.

MATERI DAN METODE


Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam
praktikum ini adalah air (aquades), asam
asetat, CCl4.
Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum
ini adalah labu bertutup 100 ml, labu
Erlenmeyer 250 ml, buret, neraca Westphal,
thermometer (10-100oC).
Cara Kerja
Kedalam labu Erlenmeyer yang bersih,
kering dan bertutup, dibuat 5 macam campuran
cairan A dan C yang saling larut. Dengan
komposisi sebagai berikut :
Labu
CCl4
Asam
asetat
glasisal
1
1 ml
9 ml
2
3 ml
7 ml
3
5 ml
5 ml
4
7 ml
3 ml
5
9 ml
1 ml

Tahap 1.
Semua pengukuran dilakukan dengan
buret. Untuk setiap labu, ditimbang dengan
kondisi kosong terlebih dahulu. Kemudian
ditambahkan cairan A (CCl4) dan ditimbang
lagi, kemudian ditambahkan dengan cairan C
(asam asetat glasial) dan ditimbang lagi.
Dengan demikian, massa cairan A dan C
diketahui untuk setiap labu.
Tahap 2.
Setiap campuran dalam labu 1 sampai
dengan 5 dititrasi dengan zat B (Aquades)
sampai tepat timbul kekeruhan dan volume
jumlah zat B yang digunakan dicatat. Titrasi
dilakukan dengan perlahan-lahan. Setiap labu
ditimbang sekali lagi untuk menentukan massa
cairan B dalam setiap labu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan percobaan
mengenai kelarutan sistem zat cair tiga
komponen melalui diagram terner. Praktikum
ini bertujuan untuk membuat kurva kelarutan
suatu cairan yang terdapat dalam campuran
dua cairan tertentu. Tiga cairan digunakan
pada praktikum kali ini dengan melakukan dua
macam percobaan. Cairan yang digunakan
pada praktikum kali ini adalah aquades atau
air, CCl4 dan asam asetat glasial.
Percobaan pertama campuran cairan
CCl4 dan cairan asam asetat glasial yang
dititrasi dengan Aquades menggunakan lima
kali pengulangan dengan lima erlenmeyer.
Masing-masing erlenmeyer diperoleh massa
hasil penimbangan 127,62 g; 127,27 g; 124,98
g; 128,02 g; 126,62 g. Larutan CCl4
dimasukkan ke dalam Erlenmeyer lalu
direaksikan dengan Asam asetat glacial dengan
perbandingan volume CCl4 : asam asetat
glasial sebesar 1 : 9, 3 ; 7, 5 : 5, 7 : 3, 9 : 1.
Kemudian campuran tersebut dititrasi dengan
aquades yang menimbulkan warna larutan
menjadi putih keruh saat di titrasi dengan
aquades pada volume tiap tabung 3,7 mL, 1,2
mL, 0,82 mL, 0,42 mL, 0,32 mL. melalui
proses perhitungan didapatkan fraksi mol pada
masing-masing larutan adalah, pada CCl4
0,36%; 17,92%; 15,68%; 52,99%;54,24%.
Pada aquades 58,49%; 28,87%; 27,81%;
8,12%; 41,47%. Dan pada asam asetat glasial
diperoleh fraksi molnya 41,15%; 53,21%;
56,51%; 38,89%; 4,29%.
Komposisi
campuran tiga cairan ini dapat divisualisasikan
dengan diagram terner sebagai berikut :

KESIMPULAN

Pada
percobaan,
cairan
yang
digunakan adalah Asam Asetat glasial - air
(aquadest) - CCl4. Metode titrasi ini dapat
memisahkan campuran yang terdiri dari dua
cairan yang saling melarut sempurna yaitu
CCl4 dan asam asetat glasial dititrasi dengan
zat yang tidak larut dengan campuran tersebut
yaitu air.
Hasil pengamatan dari percobaan dapat
dilihat pada tabel (terdapat pada lampiran)
yaitu perbandingan volume antara air dengan
asam asetat menghasilkan volume titrasi yang
berbeda-beda. Semakin banyak volume CCl4
yang dimasukkan kedalam Erlenmeyer maka
semakin sedikit volume titran (aquades) yang
diperlukan untuk mentitrasi campuran CCl4
dengan asam asetat glasial agar menjadi keruh.
Sedangkan semakin banyak volume asam
asetat glasial yang dimasukkan ke dalam
Erlenmeyer maka semakin banyak volume
titran (aquades) yang diperlukan untuk
mentitrasi campuran air dengan asam asetat
glasial menjadi keruh. Hal ini disebabkan
karena adanya perbedaan polaritas atau
kepolaran dari masing-masing zat yang
digunakan. Air bersifat polar, asam asetat
bersifat semi polar, dan CCl4 bersifat non
polar.

1. Pada percobaan, diperoleh fraksi mol CCl4


0,36%; 17,92%; 15,68%; 52,99%;54,24%.
Pada aquades 58,49%; 28,87%; 27,81%;
8,12%; 41,47%. Dan pada asam asetat
glasial diperoleh fraksi molnya 41,15%;
53,21%; 56,51%; 38,89%; 4,29%.
2. Semakin banyak asam asetat glasial yang
dicampurkan dengan CCl4 maka semakin
banyak pula aquadest yang dibutuhkan
untuk mencapai titik ekivalen. Jadi asam
asetat glasial dapat menaikan kelarutan
CCl4 dalam air.
3. Kelarutan CCl4 lebih mudah larut pada
campuran aquades dan asam asetat glasial
daripada aquades yang larut pada
campuran CCl4 dan asam asetat glasial.
DAFTAR PUSTAKA
Dogra.2008.Kimia Fisik Dan Soal-Soal.
Bandung:Erlangga.
Mulyani,Sri.2004.Kimia
Fisik
I.Jakarta:
Universitas Pendidikan Indonesia
P.W.Atkins. 1999. Kimia Fisika. Jakarta:
Erlangga
Sukardjo.1997.Kimia
Fisika.Jogyakarta:
Bineka Cipta
Tim Lab. Kimia Fisika.2014.Penuntun
Praktikum Kimia Fisika
I.Badung:Universitas Udayana.

LAMPIRAN

DATA PENGAMATAN
Dik : Zat A = CCl4
Zat B = Aquadest
Zat C = Asam asetat glasial
Percobaan I ( Zat A + Zat C dititrasi dengan Zat B )
Perbandingan volume zat A : zat C
Erlenmeyer 1 = 1 : 9
Erlenmeyer 2 = 3 : 7
Erlenmeyer 3 = 5 : 5
Erlenmeyer 4 = 7 : 3
Erlenmeyer 5 = 9 : 1
Perbandingan
A : C (mL)

Massa
MassaErlemeyer MassaErlemeyer
Volume
Erlemeyer
+ zat A (gram)
+ zat A + zat C titrasi zat B
kosong(gram)
(gram)
(mL)

1:9

127,62

127,82

136,80

3,7

Massa
setelah
titrasi
(gram)
140,63

3:7

127,67

133,09

139,36

1,2

140,38

5:5

124,98

130,14

137,38

0,82

138,45

7:3

128,02

138,67

141,72

0,42

141,91

9:1

126,62

134,8

135,05

0,32

135,78

Perhitungan
Campuran A dan C
Untuk perbandingan 1 : 9
MA

MB

MC

Dengan cara yang sama maka akan didapatkan massa masing masing zat :
Perbandingan

MA ( gram)

MB (gram)

MC (gram)

1: 9

0,2

3,83

8,98

3:7

5,42

1,02

6,27

5:5

5,16

1,07

7,24

7:3

10,65

0,19

3,05

9:1

8,18

0,73

0,25

A:C

Perhitungan mol :
Dik : Mr Air
Mr CCl4
Mr Asam asetat glasial

= 18 gram mol
= 154 gram mol
= 60 gram mol

nA

= 0,0013 mol

nB

= 0,2128 mol

nc

= 0,1497 mol

Dengan cara yang sama maka akan didapatkan jumlah mol masing masing zat :
Perbandingan

nA ( mol)

nB (mol)

nC (mol)

n A + nB + n C

1: 9

0,0013

0,2128

0,1497

0,3638

3:7

0,0352

0,0567

0,1045

0,1964

5:5

0,0335

0,0594

0,1207

0,2136

7:3

0,0692

0,0106

0,0508

0,1306

9:1

0,0531

0,0406

0,0042

0,0979

A:C

FRAKSI MOL
XA

= 0,36%

XB

= 58,49%

XC

= 41,15%

Dengan cara yang sama maka akan didapatkan fraksi mol masing masing zat :
Perbandingan

XA ( %)

XB (%)

XC (%)

1: 9

0,36

58,49

41,15

3:7

17,92

28,87

53,21

5:5

15,68

27,81

56,51

7:3

52,99

8,12

38,89

9:1

54,24

41,47

4,29

A:C

GAMBAR DIAGRAM TERNER