Anda di halaman 1dari 18

I.

Judul

: Refleksi Tubuh Hewan


Aktifitas Reflek Pada Tubuh Hewan

II.

Tujuan

: Untuk mengetahui aktivitas reflek yang ada pada tubuh

hewan khususnya katak


III.

Tinjauan Pustaka :
Sistem saraf pusat merupakan sistem yang pertama kali dibentuk
pada saat embriogenesis,serta merupakan sistem yang paling akhir selesai
pembentukan dan perkembangannya. Perkem- bangan otak pada mencit
dimulai dengan pembentukan lempeng neural dan alur neural yang terjadi
pada umur kebuntingan (uk) 7 hari. Pada uk 14 hari otak sudah berbentuk
utuh seperti induknya . kepekaan fetus terhadap teratogen dimulai saat
terbentuknya lapisan keping lembaga (Setiawan,Arum.2013).
Otak merupakan organ tubuh yang sangatpenting yang memiliki fungsi
antara lain untuk mengontrol dan mengkoordinasi semua aktivitas
normal tubuh serta berperan dalam penyimpanan memori. J aringan otak
memiliki sel utama yakni sel saraf (neuron) yang berfungsi untuk
menyampaikan sinyal dari satu sel ke sel lainnya, serta sel-sel glia yang
berfungsi untuk melindungi, mendukung, merawat, serta mempertahankan
homeostasis cairan di sekeliling neuron (Djuwita,Ita.2012).
Jaringan saraf merupakan jaringan komunikasi yang terdiri dari
jaringan sel-sel khusus dan dibedakan menjadi dua,Sel neuron dan sel
Neoroglia.Sel neuron adalah sel saraf yang merupakan suatu unit dasar
dari sistem saraf. Sel ini bertugas melanjutkan informasi dari organ
penerima rangsangan kepusat susunan saraf dan sebaliknya (Frandson, R.
D.2008).

Sel nouron terdiri atas tiga bagian


1. Badan sel yang mengandung nukleus dan nukleolus serta berwarna
kelabu
2. Dendrit merupakan lanjutan plasma yang berfungsi menyampaikan
impuls saraf (informasi) menuju ke badan sel dan
3. Akson, berfungsi meneruskan informasi dari badan sel ke sel lain.

Berdasarkan fungsinya, sel neuron dapat dibedakan menjadi 4 Bagian:


1. Neuron sensorik (nouron aferen) yauitu sel saraf yang bertugas
menyampaikan rangsangan dari reseptor ke pusat susunan saraf.
Neuron memiliki dendrit yang berhubungan dengan reseptor
(penerima rangsangan) dan neurit yang berhubungan dengan sel
saraf lainnya.
2. Neuron Motorik (nouronaferen), yaitu sel saraf yang berfungsi
untuk menyampaikan impuls motorik dari susunan saraf pusat ke
saraf efektor. Dendrit menerima impuls dari akson neoron lain
sedangkan aksonnya berhubungan dengan efektor.
3. Neuron konektor adalah sel saraf yang bertugas menghubungkan
antara neuron yang satu dengan yang lainnya.
4. Neuron ajustor, yaitu sel saraf yang bertugas menghubungkan
neuron sensorik dan neuron motorik yang terdapat di dalam
sumsum tulang belakang atau di otak (Frandson, R. D.2008).
Gerak refleks ialah gerakan pintas ke sumsum tulang belakang.
Ciri refleks adalah respon yang terjadi berlangsung dengan cepat dan tidak
disadari. Sedangkan lengkung refleks adalah lintasan terpendek gerak
refleks.Neuron konektor merupakan penghubaung antara neuron sensorik
dan neuron motorik. Jika neuron konektor berada di otak,maka refleksnya
disebut refleks otak. Jika terletak di susmsum tulang belakang, maka
refleksnya disebut refleks tulang belakang (Suripto. 2002).
Gerakan pupil mata yang menyempit dan melebar karena terkena
rangsangan cahaya merupakan contoh refleks otak. Sedangkan gerak lutut
yang tidak disengaja merupakan gerak sumsum tulang belakang.Jaringan
saraf terdiri dari 3 komponen yang mempunyai struktur dan fungsi yang
berbeda, yaitu sel saraf (neuron) yang mampu menghantarkan impuls, sel
schwann yang merupakan pembungkus kebanyakan akson dari sistem
saraf perifir dan selpenyokong (neuroglia) yang merupakan sel yang
terdapat diantaraneuron dari sistem safaf pusat. Oleh karena itu saraf dari
sistem saraf perifiritu di bangun oleh neuron dan sel schwann, sedangkan

traktus yang terdapat diotak dan susmsum tulang belakang dibentuk oleh
neuron dan neuroglia (Guyton dan Hall. 2007).
Untuk mengetahui perubahan-perubahan listrik didalam saraf,
perlu diketahui dulu sifat-sifatakson. Akson dari kebanyakan hewan
mamalia umumnya relatif kecil, untuk itu didalam percobaan digunakan
akson raksasa yang terdapat pada hewan invertebrat seperti cumi-cumi dan
lain-lain(Dallman, H. D dan E. M Brown.2007).
Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan , diperlukan satu
mikroelektroda yang dapat ditusukkan kedalam akson tanpa menimbulkan
kerusakan pada kason tersebut. Berbagai bangunan yang dapat ditemukan
dalam sistem saraf hewan yaitu otak, serabut saraf,plektus, dan ganglia.
Serabut saraf yaitu kumpulan akson dari sejumlah sel saraf baik sejenis
maupun tidak sejenis. Contoh serabut yang sejenis adalah serabut eferen,
serabut campuran contohnya adalah campuran antara sejumlah akson dari
sel saraf motorik dan sensorik (Abbas, Nilla Djuita dan Putra Santoso.
2009).
Apabila rangsangan dengan kekuatan tertentu diberikan kepada
membran sel saraf, membran akan mengalami perubahan elektrokimia dan
perubahan fisiologis. Perubahan tersebut berkaitan dengan adanya
perubahan

permeabilitas

permiabel

tehadap

Na+

membran
dan

yang

sangat

menyebabkan

kurang

permiabel

terjadinya
terhadap

K+.Depolarisasi yang timbul hanya paba bagian yang dirangsang


dinamakan depolarisasi lokal. Pada bagian tersebut terbentuk arus lokal.
Apabila rangsangan yang diberi cukup kuat, arus lokal yang timbul pada
membran yang terdepolarisasi akan merangsang membran disebelahnya
yang masih dalam keadaan istirahat, sehingga sebagian membran tersebut
akan

ikut

terdepolarisasi.

Peristiwa

ini

menunjukkan

penjalaran

impuls.Depolarisasi adalah nilai potensial aksi yang terjadi akibat adanya


rangsangan (Jhon R,dkk,.2009).
Bagian otak depan terakhir adalah telensefalon, telah mengalami
perubahan sangat besar selama evolusi vertebrata. Pada ikan dan amphibi,

telensefalon lebih dari sekedar suatu penciuman, tapi dapat juga menerima
input dari bulbus olfaktori.
Suatu refleks adalah setiap respon yang terjadi secara otomatis tanpa
disadari. Terdapat dua macam refleks:
1. Refleks sederhana atau refleks dasar, yang menyatu tanpa
dipelajari, misalnya refleks menutup mata bila ada benda yang
menuju ke mata.
2. Refleks yang dipelajari, atau refleks kondisiskan yang dihasilakan
dengan belajar (Jhon R,dkk,.2009).
Rangkaian jalus saraf yang terlibat dalam aktifitas refleks disebut
lengkung refleks, yang terdiri atas lima komponen dasar:

reseptor

saraf eferen

pusat pengintegrasi

saraf eferen

efektor.
Reseptor merupakan impuls yang merupakan perubahan fisik atau

kimia di lingkungan reseptor. Dalam merespon stimulus, reseptor


menghasilkan potensial aksi yang akan diteruskan oleh saraf eferen ke
pusat pengintegrasi refleks dasar, sedangkan otak lebih tinggi memproses
semua informasi dan meneruskannya melalui saraf eferen ke efektor (otot
atau kelenjar) yang melaksanakan respon yang diinginkan. Apabila katak
diberikan rangsangan berupa cubitan, maka secara refleks katak akan
bergerak )Bila cubitan frekuensi kecil dan akan kejang (bila cubitan dalam
frekuensi keras) (Soetrisno. 2010).
Amfibi adalah vertebrata pertama yang mampu hidup di darat dan
juga kelompok yang kemudian menunjang berkembangnya reptil, aves,
dan mamalia, oleh karena itu, amfibi merupakan salah satu kelompok yang
penting untuk dipelajari. Adaptasi dan perubahan struktur amfibi dari
nenek moyangnya yang hidup di air sampai menjadi penghuni daratan,
meliputi perkembangan sirip yang berdaging menjadi kaki primitif yang

digunakan untuk bergerak dari suatu perairan ke tempat lain, paru-paru


sebagai alat untuk bernafas (hartati dan muhiddin 2008).
Katak merupakan hewan percobaan yang jarang digunakan dalam
penelitian-penelitian farmakologik, namun dalam praktikum untuk
mahasiswa di laboratorium, katak memiliki peran yang penting, antara lain
karena harga katak relatif murah dibandingkan dengan hewan-hewan
percobaan lainnya. Meskipun susunan syaraf katak lebih sederhana
dibandingkan dengan mamalia, tetapi prinsip-prinsip dasar susunan syaraf
pusat dapat dipelajari dengan menggunakan katak.Seperti halnya pada
hewan berderajat tinggi, susunan syaraf pusat katak dapat dibagi menjadi
beberapa bagian, yaitu prosensepalon, mesensefalon, rombesefalon, dan
medulla spinalis. Lebih lanjut prosensefalon dapat dibagi lagi menjadi dua,
yaitu telensefalon dan diensefalon. Telensefalon setelah masa embriona
akan berubah menjadi serebrum. Daerah serebrum merubah pangkal dari
saraf otak I (nervus olfaktorius) dan saraf otot II (nervus optikus)
(Soewolo. 2009).
Bagian kulit serebrum (kortek serebri) terdiri atas berpuluh-puluh
area dengan fungsi yang berbeda-beda, antara lain sebagai pusat sensorik,
pusat motorik, pusat asosiasi, pusat kesadaran, pusat penerimaan ransang
penglihatan, pusat pengaturan tingkah laku dan pada hewan yang
berderajat lebih tinggi, juga merupakan pusat reflek bersyarat.Bagian otak
lain berkembang menjadi serebellum, medula oblongata dan medula
spinalis. Serebellum merupakan otak pengendali keseimbangan tubuh
serta gerakan tubuh. Medulla oblongata mengatur pusat syaraf otonom
berupa kendali pernafasan, mengatur system kardiovaskular, fungsi
gastrointerstinal, mengatur gerakan tubuh yang stereotipi, keseimbnagan
dan gerakan mata, serta medulla spinalis yang terletak memanjang
disepanjang tulang belakang memegang kendali refleks tubuh (Soetrisno.
2010).
Katak normal memiliki keseimbangan tubuh yang baik, gerak
spontan, respon berenang dan mengambangnya sangat baik. Sikap badan
katak normal sekitar 60o sudut tubuhnya. Frekuensi nafas katak normal

dari hasil berkisar 88 sampai 150 kali/menit. Secara keseluruhan katak


normal ditinjau dari responnya terhadap rangsangan luar sangat bagus.
Pusat pengaturan frekuensi nafas terletak di medula oblongata dibuktikan
dengan frekuensi nafas katak yang masih stabil. Sedangkan gerak spontan
diatur oleh medulla spinalis (Kastowo, H.2012).
Pada katak normal yang telah di berikan beberapa perlakuan. Katak
dapat merespon dengan baik. Hal ini dikarenakan katak memiliki sistem
saraf yang mana saraf-saraf tersebut dapat menghantarkan stimulus keotak
hingga menimbulkan respon. Respon akan ditanggapi oleh neuron dengan
mengubah potensial yang ada antara permukaan luar dan dalam dari
membran. Sel-sel dengan sifat ini disebut dapat dirangsang (excitable) dan
dapat diganggu (Irritable). Neuron ini segera bereaksi tehadap stimulus ,
dan dimodifikasi potensial listrk dapat terbatas pada tempat yang
menerima stimulus atau dapat disebarkan ke seluruh bagian neuron oleh
membran. Penyebaran ini disebut potensial aksi atau impuls saraf, mampu
melintasi jarak yang jauh impuls saraf menerima informasi keneuron lain,
baik otot maupun kelenjar (Kastowo, H.2012).
Katak
serebrumnya,

desereberasi

yaitu

keadaan

menyebabkan

ini

katak

yang

telah

kemampuan

dihilangkan
dari

katak

berkurang.Katak deserebrasi masih memiliki tingkat kesadaran yang baik


dan menurun kesadarannya ketika sereberumnya dirusak. Kesadaran sudah
hilang pada katak spinalis. Gerakan spontan kurang baik pada katak
deserebrasi dan menghilang pada pengrusakan serebellum dan katak
spinalis. diencephalon berfungsi untuk menyambungsensori ke kortex,
berperan dalam saraf otonom dan sekresi hormon dari pituitary gland
(Guyton dan Hall. 2007).
Katak spinal adalah katak yang hanya memiliki medula oblongata.
Hal ini berhubungan dengan system respirasi, ritmis jantung dan aliran
darah. Gerak spontan pada katak spinal semakin lambat, dan hilangnya
keseimbangan badan dan kemampuan berenang pada katak Pada katak
yang diperlakuan dengan merusak sistem saraf otaknya, maka respon yang
dihasilkan tetap ada namun katak merespon stimulus sangat lama. Hal ini

dikarenakan sistem saraf pada otaknya telah mengalami kerusakan pada


saat penusukan dengan kawat atau jarum pada saat praktikum. Untuk
mendapatkan hasil yang memuaskan, diperlukan satu mikroelektroda yang
dapat ditusukkan kedalam akson tanpa menimbulkan kerusakan pada
akson tersebut
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi refleks spinal antara lain:
1. Ada tidaknya rangsangan atau stimulus
Rangsangan dari luar contohnya adalah derivat dari temperatur,
kelembaban, sinar, tekanan, zat-zat dan sebagainya. Rangsangan
dari dalam yaitu dari makanan, oksigen, air dan lainnya. Beberapa
rangsangan langsung bereaksi pada sel atau jaringan tetapi
kebanyakan hewan-hewan mempunyai kepekaan yang spesial.
Somato sensori pada reflek spinal dimasukkan dalam urat spinal
sampai bagian dorsal. Sensori yang masuk dari kumpulan reseptor
yang berbeda memberikan pengaruh hubungan pada urat spinal
sehingga terjadi reflek spinal.
2. Berfungsinya sumsum tulang belakang
Sumsum tulang belakang mempunyai dua fungsi penting yaitu
untuk mengatur impuls dari dan ke otak dan sebagai pusat reflek,
dengan adanya sumsum tulang belakang pasangan syaraf spinal
dan kranial menghubungkan tiap reseptor dan effektor dalam tubuh
sampai terjadi respon. Apabila sumsum tulang belakang telah rusak
total maka tidak ada lagi efektor yang menunjukkan respon
terhadap stimulus atau rangsang (Guyton dan Hall. 2007).
Pada perusakan seluruh tulang belakang menunjukan respon
penarikan kaki belakang, sedangkan untuk gerakan membalikan tubuh,
penarikan kaki depan dan pencelupan H2SO4 menunjukan respon yang
negatif. Hal ini menunjukan bahwa saraf-saraf yang berhubungan dengan
saraf spinalis rusak semuanya sehingga tidak ada stimulus yang dapat
direspon oleh katak. perusakan pada sumsum tulang belakang ternyata
juga merusak tali-tali spinal sebagai jalur-jalur saraf. Tali-tali spinal terdiri
dari saraf sensori dan motori, oleh karena itu bila saraf tersebut rusak maka

respon terhadap stimulus tidak akan terjadi. perusakan dari sumsum


tulang belakang tidak merusak semua sistem saraf yang menyebabkan
reflek spinal, jadi masih ada respon positifnya, demikian juga untuk
perusakan dan sumsum tulang belakang. Semakin lebar kerusakan
sumsum tulang belakang, responnya akan semakin melemah
(Frandson, R. D.2008).
Katak dewasa bernapas dengan menggunakan tiga organ
pernapasan, yaitu permukaan kulit tubuhnya, permukaan rongga mulut dan
paru-paru. Itulah sebabnya mengapa pada saat asam cuka diletakkan pada
bagian paha dalam, katak tidak memeberikan respon, karena pada kulit di
bagian dalam paha tibak termasuk organ pernapasannya.Katak bernapas
dengan bantuan kulitnya, sehingga asam cuka yang dilekatkan pada kulit
katak menghambat pemerolehan oksigen untuk pernapasan.Reseptor
menerima rangsang yang berupa rangsang mekanis (pijatan) lalu diubah
menjadi potensial aksi, sehingga timbul respon. Demikian juga refleks
kaki ketika dimasukan ke dalam H2SO4. Refleks pada eksterimitas
dipengaruhi oleh sumsum tulang belakang dan bukan dari otak (Wulangi.
S kartolo. 2012).
Sejumlah refleks melibatkan hubungan antara banyak interneuron
dalam sum-sum tulang belakang. Sumsum tulang belakang tidak hanya
berfungsi dalam menyalurkan impuls dari dan ke otak tetapi juga berperan
penting dalam memadukan gerak refleks. Rangsangan Kimia-Asetilkolin,
zat-zat

kimia

tertentu

dapat

merangsang

serabut

saraf

dengan

meningkatkan permeabilitas membran. Zat kimia seperti ini dapat berupa


asam, basa hampir semua larutan garam dengan konsentrasi tinggi dan
yang penting adalah senyawa asetilkolin. Banyak serabut saraf yang bila
dirangsang akan mengekresi asetilkolin pada ujungnya tempat mereka
bersinap dengan neuron lain atau tempat mereka berakhir pada serabut
otot. Kemudian asetilkolin merangsang serabut otot berikutnya dengan
membuka pori dalam membran inti dengan diameter 0,6-0,7 nano meter,
yang cukup besar bagi Natrium untuk melewati dengan mudah.

Rangsangan Mekanis, menghancurkan, menjepit atau menusuk suatu


serabut saraf dapat menyebabkan gelombang masuk natrium yang
mendadak dan karena alasan yang jelas dapat membangkitkna potensial
aksi. Bahkan tekanan ringan pada beberapa ujung saraf khussus dapat
merangsang kejadian ini (Frandson, R. D.2008).
Penyusun saraf Optik adalah akson-akson dari sel ganglion. Setiap
sel reseptor tidak menikmati rangkaian pribadinya sendiri kembali ke
otak.Katak amatlah berguna untuk mendemokrasikan fungsi spinal karena
perode shock spinal (akibat dari operasi pemutusan otak) yang
menghilangkan aktivitas refleks dan membuat katak menjadi lumpuh,
tetapi keadaan ini hanya berlangsung dalam beberapa menit saja.refleks
yang lebih kompleks diselenggarakan melalui pusat-pusat refleks yang
terdapat dalam otak dimana medulla oblongata berisi pusat refleks untuk
mengontrol.refleks adalah suatu respon organ efektor yang bersifat
otomatis atau tanpa sadar terhadap suatu stimulus tertentu.Sistem skeletal
pada Amphibi tersusun atas bagian yang bertulang dan kartilago. Sistem
skeletal ini berfungsi untuk melindungi bagian vital pada Amphibi antara
lain otak dan sistem saraf serta sistem yang mengandung organ vital
lainnya. Sistem skeletal pada amphibi dapat dibedakan menjadi dua bagian
yaitu skeleton soma dan skeleton visceral (Wulangi. S kartolo. 2012).

IV.

Metode Penelitian
4.1 Alat dan Bahan
Alat

Alat bedah

Kaca pengaduk

Statip

Pipet tetes

Kawat atau benag

Adaptor dengan variable

Bahan

Asam cuka

Garam fisiologis

Adaptor dengan variasi voltase

4.2 Cara Kerja

Pengaruh asam cuka


Membunuh katak dengan cara menusuk bagian kepala
Melubangi rahang bawah dan menggantungkan dengan benang atau kawat
statip
Menguliti katak pada bagian tungkainya
Mencuci katak dari lendir dengan membasahi dengan garam fisiologis
Mengambil larutan asam cuka dengan pipet dan membasahi ke dua tungkai
katak
mencatat gejala yang terjadi pada tabel

Pengaruh arus listrik


Menyediakan katak seperti diatas
Menyiapkan adaptor yang telah dialiri listrik dengan voltase 3v, 6v, dan 9v
Menciptakan ujung kabel positif pada masing-masing tungkai katak untuk
perlakuan masing-masing voltase diatas
Mengamati gejala yang terjadi dan mencatat pada tabel
Mengulangi masing-masing perlakuan untuk katak yang telah dirusak satu
ruas dan dua ruas sumsum tulang belakang

V.
KEL

HASIL PENGAMATAN

PERLAKUAN

ARUS

TUNGKAI

KANAN

TANPA PERLAKUAN

PERLAKUAN 1

PERLAKUAN 2

1 (3v)

2 (6v)

3 (9v)

cepat

Lebih

Sangat

Lambat

Agak

Agak

Sangat

Lambat

lambat

cepat

cepat

cepat

cepat

lambat

lambat

Lambat

Sangat

lambat

lambat

LISTRIK

dari kiri
KIRI

KANAN

ASAM CUKA

Agak

Lebih

Lebih

cepat

cepat

lambat

lambat

dari

dari

dari

kanan

kanan

kanan

lambat

Sangat

Agak

Agak

Agak

Agak

Agak

lambat

cepat

cepat

cepat

cepat

cepat

lambat

cepat

lambat

KIRI

cepat

cepat

cepat

Lambat

cepat

cepat

cepat

cepat

cepat

KANAN

cepat

cepat

cepat

Lambat

lambat

lambat

Lebih

Lebih

Lebih

lambat

lambat

lambat

KIRI

Lebih

KANAN

Lebih

Lebih

Lebih

cepat

cepat

cepat

Gerak

cepat

cepat
KIRI

Cepat

cepat

cepat

lambat

lambat

lambat

Agak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

cepat

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

KANAN

Gerak

cepat

cepat
KIRI

KANAN

KIRI

KANAN

KIRI

ARUS

KANAN

Agak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

cepat

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

cepat

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

gerak

Tidak

Tidak

Tidak

Lambat

Lambat

Lambat

Lambat

Lambat

Lambat

gerak

gerak

gerak

Tidak

Tidak

Tidak

Lambat

Lambat

Lambat

Lambat

Lambat

Lambat

gerak

gerak

gerak

cepat

cepat

Makin

Lambat

cepat

Makin

Lambat

cepat

Makin

LISTRIK

cepat
KIRI

Lambat

cepat

Makin
cepat

cepat
Lambat

cepat

Makin
cepat

cepat
Lambat

cepat

Makin
cepat

VI.

Pembahasan
Pada Acara praktium kali ini yakni berjudul refleksi tubuh hewan
aktifitas reflek pada tubuh hewan yang bertujuan untuk Untuk mengetahui
aktivitas reflek yang ada pada tubuh hewan khususnya katak.Sistem saraf
adalah suatu sistem organ yang terdiri dari sel-sel saraf atau neuron. Sistem
saraf terdiri atas sistem saraf pusat yang meliputi otak dan batang spinal, dan
sistem saraf perifer yang meliputi saraf kranial, saraf spinal, dan trunkus
simpatikus. Kedua sistem ini bekerja saling menunjang. Sistem saraf pusat
berguna sebagai pusat koordinasi untuk aktivitas-aktivitas yang harus
dilaksanakan. Sedangkan sistem saraf perifer berfungsi memberikan informasi
kepada sistem saraf pusat tentang adanya stimulus yang menyebabkan otot dan
kelenjar melakukan respon.
Reflek adalah respon yang cepat dan tidak disadari terhadap perubahan
lingkungan interna maupun lingkungan eksterna, terjadi lewat suatu lintasan
reflek yang disebut dengan lengkung reflek. Komponen utama dari lengkung
reflek adalah reseptor yang menerima stimulus, efektor yang merespon
stimulus, neuron sensorik dan motorik yang merupakan lintasan komunikasi
antara reseptor dan efektor. Gerak reflek terjadi sangat cepat dan tanggapan
terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari
otak. Jadi dapat dikatakan gerak reflek terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau
tanpa tersadari terlebih dahulu. Reflek adalah suatu aktifitas jaringan perifer
yang tidak disadari akibat adanya pacuan terhadap reseptor maupun serabut
afferent arcus reflek. Hewan yang dirusak otaknya masih dapat melakukan
kegiatan reflek karena medula spinalisnya masih utuh.
Mekanisme gerak reflek Rangsangan Reseptor Saraf Sensori Sumsum
Tulang Belakang Saraf Penghubung (Asosiasi) saraf Motorik Efektor
(Gordon et al.2010).
Mekanisme gerak refleks pada katak menurut Storer (2011), yaitu:
a.

Adanya reseptor rangsangan dari luar.

b.

Induksi nervous impuls atau badan sel saraf ke tulang belakang.

c.

Adanya sinapsis.

d.

Terjadi penerimaan rangsangan oleh neuron motorik, terjadilah reflek


oleh efektor sebagai respon.
Pada praktikum ini ada dua perlakuan yang dilakukan yaitu ada yang

diberi pengaruh asam cuka dan diberi pengaruh arus listrik. Prosedur kerja yang
dilakukan yaitu pertama-tama membunuh katak dengan cara menusuk bagian
kepala setelah itu menggantung tubuh katak pada statip dengan cara menusuk
rahang

bawah

dan

memasukkan

benang

kelubang

tersebut

dan

menggantungkannya. Kemudian menguliti bagian tungkai katak lalu mencuci


katak dari lendir yang menempel dan mengusahakan tubuh katak dalam

keadaan basah dengan cara dibasahi dengan garam fisiologis.Setelah itu


memberi perlakuan terhadap pengaruh masing-masing, apabila diberi pengaruh
asam cuka kedua tungkainya disiram dengan larutan asam cuka dengan
menggunakan pipet sedangkan untuk memberi perlakuan pengaruh arus listrik
sebelumnya menyiapkan adaptor yang telah dialiri arus listrik 3, 6, dan 9 volt.
Kemudian menciptakan ujung kabel positif pada masing-masing tungkai katak
untuk perlakuan masing-masing voltase tersebut. Setelah semua sudah diberi
perlakuan kemudian mengamati gejala yang terjadi pada tabel yang tersedia.
Kemudian mengulangi masing-masing perlakuan untuk katak yang telah
dirusak satu ruas dan dua ruas sumsum tulang belakang.dalam percobaan
menggunakan larutan garfis larutan garfis untuk menunjukkan kedutan (gerak).
Semakin tinggi konsentrasi larutan, semakin cepat pula respon yang
ditimbulkan.
Dari hasil praktikum kelompok 1,2,3 dan 8 yakni menggunakan Arus
listrik dengan variasi voltase tanpa perlakuan .pada kelompok 1 dan 8 gerak
reflek yang lebih cepat yakni pada tungkai bagian kanan,sedangkan pada
kelompok 2 dan 3 gerak reflek yang lebih cepat yakni pada tungkai bagian
kiri.setelah diberi perlakuan yaitu mematahkan 1 ruas tulang belakangnya
sebagian besar gerak reflek yang terjadi pada bagian kanan maupun yang kiri
pada kelompok 1,2,3 dan 8 mulai melambat namun sewaktu waktu
pererakannya agak cepat namun tidak secepat pada saat sebelum diberi
perlakuan. Sedangkan pada perlakuan 2 dengan melakukan pematahan ruas
tulang belakang 2 kali dimana hasil yang didapatkan sebagian besar lebih
lambat dibangding dengan perlakuan sebelumya. Saat medula spinalis dirusak
atau tulang belakang dipatahkan , tidak ada gerak reflek sama sekali. Hal
tersebut dikarenakan saraf pusat yang mengatur gerak reflek terdapat di medula
spinalis juga. Sehingga setelah di dekapitasi pun saraf otot pada katak masih
menunjukkan gerak reflek walaupun lambat dikarenakan susunan sarafnya tidak
sempurna.
Pada percobaan kedua yakni menggunakan Asam cuka .asam pekat
yang digunakan pada saat praktikum berfungsi untuk memberikan rangsangan
kimiawi sehingga menimbulkan gerak reflek. Hal tersebut terjadi karena
reseptor-reseptor dalam kulit dirangsang dan menimbulkan impuls dalam
neuron aferen. Neuron ini merupakan bagian dari suatu saraf spinal dan
menjulur ke dalam sum-sum tulang belakang, tempat neuron bersinapsis
dengan interneuron. Selanjutnya interneuron meneruskan impuls neuron eferen
dan membawanya kembali melalui saraf spinal ke sekelompok otot ekstensor
dalam kaki. Kontraksi otot-otot ini yang akan menarik kaki dari rangsangan
berupa tekanan atau asam

Pada hasil pengamatan kelompok 4,5,6 dan 7 tanpa perlakuan apapun


pergerakannya sebagian bergerak cepat/agak cepat dan sebagiannya lagi tidak
bergerak. Setelah diberi perlakuan pertama yaitu mematahkan 1 ruas tulang
belakangnya sebagian besar pada tungkai kanan dan kirinya tidak bergerak
namun hanya pada kelompok 7 gerakannya mulai malambat. Sedangkan pada
perlakuan 2 dengan melakukan pematahan ruas tulang belakang 2 kali dimana
hasil yang didapatkan sebagian besar adalah tidak bergerak sama sekali kecuali
pada kelompok 7 dimana katak masih bergerak namun lambat. Saat medula
spinalis dirusak atau tulang belakang dipatahkan , tidak ada gerak reflek sama
sekali. Hal tersebut dikarenakan saraf pusat yang mengatur gerak reflek
terdapat di medula spinalis juga. Sehingga setelah di dekapitasi pun saraf otot
pada katak masih menunjukkan gerak reflek walaupun lambat dikarenakan
susunan sarafnya tidak sempurna.
Sejumlah gerakan refleks yang terjadi melibatkan hubungan antara
banyak interneuron dalam sumsum tulang belakang. Sum-sum tulang belakang
tidak hanya berfungsi dalam menyalurkan impuls dari dan ke otak tetapi juga
berperan dalam memadukan gerak refleks.Respon-respon yang dilakukan
kodok dalam percobaan ini merupakan respon yang melibatkan sejumlah otot
yang bekerja secara terpadu. Seekor kodok yang mempunyai otak yang akan
melakukan respon tersebut dua atau tiga kali bahkan berulang kali. Hal ini
membuktikan bahwa koordinasi sel-sel saraf saling berhubungan dan
berkesinambungan satu dengan lainnya yang membentuk suatu organisasi
fungsional sistem saraf. Dibuktikan juga bahwa sum-sum tulang belakang
sangat berperan penting dalam gerakan refleks suatu vertebrata.
Menurut Gordon et al, (2010), refleks spinal pada katak dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Kondisi sumsum tulang belakang dimana pengrusakan sumsum tulang
belakang dalam tingkat yang parah dapat menghilangkan reflek spinal
b. Larutan kimia seperti H2SO4 yang dapat menimbulkan refleks spinal
tertentu.
c. Obat-obatan keras yang dapat menurunkan kontrol otak terhadap
pergerakan sehingga gerakan dikendalikan oleh sumsum tulang
belakang sebagai refleks spinal.
Reflek merupakan sebagian kecil dari perilaku hewan tingkat tinggi,
tetapi memegang peranan penting dalam perilaku hewan tingkat tinggi. Refleks
biasanya menghasilkan respon jika bagian distal sumsum tulang belakang
memiliki bagian yang lengkap dan mengisolasi ke bagian pusat yang lebih
tinggi. Tetapi kekuatan dan jangka waktu menunjukan keadaan sifat involuntari
yang

meningkat

bersama

dengan

waktu

(Storer.2011)

VII.

Penutup
Kesipulan

Pada percobaan dengan mengunakan Adaptor degan variasi voltase


dapat diketahui bahwa masih Ada gerakan sebelum diberi
perlakuan.sedangkan setelah diberi perlakuan dengan mematahkan
tulang belakang 1 dan 2 kali dapat diketahui bahwa gerakannya
melambat. Hal tersebut dikarenakan saraf pusat yang mengatur
gerak reflek terdapat di medula spinalis juga. Sehingga setelah di
dekapitasi pun saraf otot pada katak masih menunjukkan gerak
reflek walaupun lambat dikarenakan susunan sarafnya tidak
sempurna.

Pada percobaan kedua dengan pemberian Asam cuka pekat Ada


gerakan

sebelum

diberi perlakuan.sedangkan

setelah

diberi

perlakuan dengan mematahkan tulang belakang 1 dan 2 kali dapat


diketahui bahwa tidak terdapat gerakan. Hal tersebut dikarenakan
saraf pusat yang mengatur gerak reflek terdapat di medula spinalis
juga. Sehingga setelah di dekapitasi pun saraf otot pada katak masih
menunjukkan gerak reflek walaupun lambat dikarenakan susunan
sarafnya tidak sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Nilla Djuita dan Putra Santoso. 2009. Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan.
Padang :Universitas Andalas.
Dallman, H. D dan E. M Brown.2007. Buku Teks Histologi Veteriner I. Jakarta : UI
Press.
Djuwita,Ita.2012. Pertumbuhan dan Sekresi Protein Hasil Kultur Primer Sel-Sel
Serebrum Anak Tikus.Jurnal Veteriner .Iuni 2012 Vol. 13 No. 2: 125-135
ISSN: 1411- 8327
Frandson, R. D.2008. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta:UGM Press.
Gordon, M. S.2010. Animal Physiology. New York:Mc Millan Publishing Co. Ltd.
Guyton dan Hall. 2007. Fisiologi Kedokteran. Jakarta :Penerbit EGC.
Hartati dan Muhiddin.2008. Eksplorasi Jenis-Jenis Katak Beracun Endemik
Sulawesi Selatan (Eksploration of Endemic Toxic Frog Variety in South
Sulawesi).Bionature Vol 8 (1): Hlm 1-9, April 2008ISSN: 1411-4720
Jhon R,dkk,.2009.Fisika Tubuh Manisia.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Kastowo, H.2012. Zoologi Umum. Jakarta :Penerbit EGC.
Setiawan,Arum.2013. Pertumbuhan dan Perkembangan Otak Fetus Mencit Setelah
Induksi Ochratoxin A Selama Periode Organogenesis .jurnal biologi
papua Volume 5, Nomor 1 April 201ISSN: 2086-3314
Soetrisno. 2010. Diktat Fisiologi Ternak. Purwokerto: Fakultas Peternakan Unsoed.
Soewolo. 2009. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional.
Storer, T. I, W.F. Walker dan R.D. Barnes.2011. Zoologi Umum. Jakarta:Erlangga.
Suripto. 2002. Fisiologi Hewan.Bandung:ITB.
Wulangi. S kartolo. 2012 .Prinsip-prinsip fisiologi Hewan. Bandung: DepDikBud