Anda di halaman 1dari 7

Bendungan Bili-bili merupakan bendungan terbesar di Sulawesi Selatan yang terletak di

Kabupaten Gowa, sekitar 30 kilometer ke arah Timur Kota Makasar Bendungan ini diresmikan
pada tahun 1989. Benduangn dengan waduk 40.428 ha ini dibangun dengan dana pinjmanan luar
negeri sebesar Rp. 780 miliar kerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (
JICA). Bendungan Bili-bili menjadi sumber air baku bagi Perusahaan daerah Aliran Minum (
PDAM) Gowa dan Makassar bermanfaat sebagai pengendali banjir Sungai Jeneberang dari debit
2.200 meter kibek per detik menjadi 1.200 meter kibek per detik. Bendungan ini juga berfungsi
sebagai PLTA dengan kapasitas 16,3 Meter. Namun, bila hujan, lumpur ekslongsor di kaki
Gunung Bawakaraeng mengalir masuk ke waduk Bili-bili hingga air baku menjadi keruh. Jika
tingkat tidak mampu lagi dijernihkan istalasi Penjernihan Air (IPA) PDAM Gowa dan Makasar.

Informasi Infrastruktur
Propinsi
:
Sulawesi Selatan
Sektor
:
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air
Tahun Mulai
:
1988
Tahun Selesai
:
1995
Tipe
:
Urugan batu dengan inti tanah
Tinggi Diatas Dasar Sungai
:
56 m
Tinggi Diatas Galian
:
73 m
Panjang Puncak
:
1808 m
Lebar Puncak
:
10 m
Volume Tubuh Bendungan
:
5290000 m
Biaya
:

Konsultan
:
CTI Engineering Co. Ltd, PT. Indah Karya, PT. Exza International
Kontraktor
:
Hazana, PT. Brantas Abipraya
Manfaat
:
Irigasi
Lokasi
:

Bendungan Bilibili adalah bendungan terbesar di Sulawesi Selatan, yang terletak di Kabupaten
Gowa, sekitar 30 kimlometer ke arah timur Kota Makassar. Bendungan ini diresmikan Presiden
Megawati Soekarnoputri tahun 1999.
Bendungan dengan waduk 40.428 hektare ini dibangun dengan dana pinjaman luar negeri
sebesar Rp 780 miliar kerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA).
Bendungan Bilibili menjadi sumber air baku bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Gowa
dan Makassar.
Namun, bila musim hujan, lumpur eks longsor di kaki Gunung Bawakaraeng mengalir masuk ke
waduk Bilibili hingga air baku menjdi keruh. Jika tingkat kekeruhan tidak mampu lagi
dijernihkan Instalasi Penjernihan Air (IPA) PDAM Gowa dan Makassar, maka sebagian warga
Makassar dan Sungguminasa Gowa tidak bisa mendapatkan air bersih dari PDAM.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Peranan Bendungan Bili-Bili


Daerah hulu yang menjadi kunci utama dalam menjaga kelstarian air memang perlu
mendapat perhatian khusus baik dari pemerintah maupun masyarakat. Kerena kerusakankerusakan yang terjadi di daerah hulu akan di rasakan oleh daerah hilir. seperti kerusakan hutan
kekurangan air di musim kemarau akan terjadi dan kelebihan air (banjir) akan di rasakan pada
musim hujan.
Tentu saja ini merupakan masalah yang serius mengingat kelestarian alam merupakan
prioritas utama dalam zaman modern ini. Untuk kota Makassar khususnya ruang terbuka hijau
sudah sangat jarang dijumpai karena perkembangan kota yang tidak memperhatikan dampak
yang akan terjadi dimasa mendatang. Banjir, kekeringan, gersang dan berpolusi menjadi ciri khas
kota Makassar padahal perkembangan kota yang ideal tidak selamanya menonjolkan banyak
gedung

melainkan

bagaimana

menyeimbangkan

tingkat

kesesuaian

lahan

terhadap

perkembangan kota.
Inisiatif untuk mengendalikan sedimen gunung Bawakareng dan pengaturan sungai
Jenneberang mulai dilakukan akibat longsong yang terjadi di gunung Bawakaraeng dan badai
besar sungai Jenneberang terjadi pada tahun 2004 dan 2005. Pembuatan reservoad atau
penampungan air yang mulai dibicarakan pada fase I pada tahun 1978 merupakan rencana yang
pelaksaannya pada tahun 1995-2001 yang sekarang dikenal dengan Bendungan Bili-Bili.
Adapun peranan bendungan Bili-Bili Kelurahan Bili-Bili Kecamatan Parangloe
Kabupaten Gowa antara lain :

Memperbaiki kondisi yang disebabkan oleh banjir yang terjadi di Makassar dan sekitarnya
dengan melaksanakan perbaikan sungai, perbaikan sistem drainase dan pengaturan aliran debit
banjir dengan membangun bendungan.

Pengembangan sumber daya air dengan menampung air sungai untuk memenuhi kebutuhan
air baku, irigasi dan tenaga listrik.
Berikut kapasitas bendungan Bili-Bili Kelurahan Bili-Bili Kecamatan Parangloe
Kabupaten Gowa antara lain :

Kapasitas total

375.000.000 m3

Kapasitas efektif

346.000.000 m3

Kapasitas banjir

41.000.000 m3

Alokasi air irigasi

27.000.000 m3

Kapasitas air beku

35.000.000 m3

Kapasitas Sedimen

29.000.000 m3

Tenaga listrik

20 Mw

Irigasi

2,444 Ha

Dengan adanya bendungan Bili-Bili banjir di Kota Makassar dan sekitarnya bisa
dikurangi serta kebutuhan air minum bisa terpenuhi. Serta energi potensial bendungan bisa
membentuk energi listrik yang juga merupakan kebutuhan masyarakat. Bendungan yang bisa
dikategorikan multi fungsi ini sangat berpengaruh untuk perkembangan Kota Makassar dan
sekitarnya. Dan tentunya pemeliharaan bendungan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab
pemerintah Kabupaten Gowa melainkan tanggung jawab bersama untuk daerah disekitarnya
seperti Kota Makassar.

PLTA Bili-Bili
3.2 Masalah Bendungan Bili-Bili
Keberadaan suatu bendungan memang sangat membantu prasarana atau infrastruktur
dalam suatu daerah tau kawasan. Maka perlu difikirkan bagaimana kemungkinan masalah
apabila di buat suatu benudungan dengan harapan bahwa akan menyelesaikan banyak masalah
dan meminimalkan kemungkinan masalah baru yang akan muncul. Untuk mewujudkan hal
tersebut tentunya di harapkan adanya proyeksi tentang apa yang akan terjadi kedepan.
Bencana alam merupakan salah satu faktor utama terjadinya masalah di bendungan BiliBili seperti longsor yang menyebabkan sedimen dari gunung Bawakaraeng mendominasi aliran
sungai Jenneberang. Akibatnya terjadi pendangkalan pada bendungan tersebut dan menyebabkan
air menjadi keruh. Tentu saja ini merupakan masalah yang serius apabila selalu terjadi secara
berkelanjutan dimana daya tampung atau kapasitas bendungan untuk menampung air menjadi
berkurang bahkan bisa saja terjadi banjir besar-besaran di kota Makassar dan sekitarnya.
Dalam pemeliharaan bendungan berbagai cara dilakukan untuk memperpanjang usia
bendungan. Mengingat masalah yang di hadapi merupakan kekuatan alam maka tak jarang
usaha yang dilakukan hilang dalam sekejab meski hanya bisa befungsi sementara waktu,
contonya antara lain jembatan, penahan sedimen dan sebagainya.

Sangat disayangkan jika pemerintah tidak serius dalam menangani masalah bendungan
Bili-Bili begitu pula partisipasi masyarakat sangat di harapkan paling tidak menjaga daerah hulu
atau tidak melakukan pembabakan hutan yang menyebabkan volume air meluap dan
menyebabkan peningkatan unsure sedimen dalam aliran sungai Jenneberang pada saat musim
hujan terjadi.

Kondisi aliran sungai Jeneberang

kondisi Bendungan Bili-Bili

3.3 Posisi Bendungan Bili-Bili Ditinjau dari Aspek Geologi


Posisi bendungan merupakan faktor yang paling penting diperhatikan dalam
pembuatanya dari segi apapun mengingat pengendalian atau pengaturan air tidak bisa di ucapkan
saja melainkan harus ditindak lanjuti karena arah aliran air selamnya akan pada posisi yang sama
yakni dari daerah yang tinggi ke daerah yang rendah.
Usia suatu bendungan juga ditentunkan oleh bagaimana penempatan posisi bendungan
terhadap keadaan alam. Untuk itu perlu ada pertimbangan matang dan berkelanjutan untuk

kemungkinan yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Perlu pula diketahui potensi yang di
hasilakan bendungan terhadap suatu wilayah agar posisi yang ditetapkan tidak salah.
Dari aspek geologi posisi bendungan Bili-Bili memang bisa di kategorikan bermasalah
karena terjadi banyak daerak patahan yang mengancam terjadinya bencana alam. Dengan
proyeksi yang tidak pasti tentang kapan dan seberapa besar kemungkinan itu bisa terjadi
memang bisa menjadikan posisi bendungan aman-aman saja. Tetapi peristiwa longsor gunung
Bawakaraeng hingga satu bukit bisa hilang menjadikan bendungan Bili-Bili dalam masalah yang
serius dimulai dari penadangkalan dan kekeruhan.

Posisi Bendungan Bili-Bili dari beberapa sisi

Anda mungkin juga menyukai