Anda di halaman 1dari 30

BAB I

DESKRIPSI PENYAKIT
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) pertama
diteliti secara medis pada tahun 1981. Retrovirus yaitu Human
Immunodeficiency Virus tipe 1 (HIV-1) adalah penyebab yang
paling utama pada penyakit AIDS. Retrovirus yang kedua yaitu
HIV-2 juga merupakan penyebab AIDS. Penyakit ini awalnya
terjadi pada orang homoseksual yang mengalami penuruan
sistem imun. AIDS banyak ditularkan melalui hubungan seksual
yang terkontaminasi melalui darah (DiPiro et al., 2005).
A. ETIOLOGI
Infeksi HIV didefinisikan sebagai individu dengan infeksi
HIV sesuai dengan fase klinik (termasuk 4 fase klinik yang
dikenal sebagai sebagai AIDS) yang dikuatkan oleh kriteria
laboratorium (Sukandar dkk., 2008).
HIV adalah anggota dari lentivirinae subfamili retrovirus
yang terdiri dari 6 phylogenetic lineages sebagai subtipe A
sampai F. HIV-1 juga dapat diklasifikasikan berdasarkan
philogeny, yaitu M (main), N (new), dan O (outlier) (DiPiro et al.,
2005).
B. PATOFISIOLOGI
Infeksi HIV terjadi melalui 3 cara, yaitu seksual,
parenteral, dan perinatal. Infeksi melalui organ seksual karena
HIV terdapat pada sperma dan sekret serviks, dan paparan
melalui cairan tubuh yang mengandung virus. Transmisi
parenteral dapat terjadi melalui jarum suntik, donor darah atau
transplantasi organ. Infeksi secara perinatal atau transmisi
vertikal, umumnya disebabkan karena orang tua yang terinfeksi.
Infeksi terjadi selama atau mendekati kelahiran, sehingga
perawatan ibu sangatlah penting (DiPiro et al., 2005).
1

C. PATOGENESIS

Gambar 1. Siklus Hidup HIV (DiPiro et al., 2005)


D. KLASIFIKASI INFEKSI HIV
Tabel 1. Klasifikasi HIV berdasarkan Gambaran Klinik
(Sukandar dkk., 2008)
Fase klinik 1.
Tanpa gejala, limfadenopati (gangguan kelenjar/pembuluh
limfe) menetap dan menyeluruh.
Fase klinik 2.
Penurunan BB (< 10%) tanpa sebab. Infeksi saluran
pernafasan atas (sinusitis, tonsillitis, otitis media, faringitis)
berulang. Herpes zoster, infeksi sudut bibir, ulkus mulut
berulang, popular pruritic eruptions, seborrhoeic dermatitis,
infeksi jamur pada kuku.
Fase klinik 3.
Penurunan BB (< 10%) tanpa sebab). Diare kronik tanpa sebab
sampai > 1 bulan. Demam menetap (Intermiten atau tetap > 1
2

bulan). Kandidiasis oral menetap. Tuberculosis pulmonal (baru),


plak putih pada mulut, infeksi bakteri berat (misalnya
pneumonia, empyema (nanah di rongga tubuh terutama di
daerah pleura, abses pada otot skelet, infeksi sendi atau
tulang), meningitis, bakteremia, gangguan inflamasi berat pada
pelvik, acute necrotizing ulcerative stomatitis, gingivitis atau
periodonitis anemia yang penyebabnya tidak diketahui (<8
gr/dl), netropenia (< 0.5 x 103/l) dan atau trombositopenia kronik
(< 50 x 109/l).
Fase klinik 4.
Gejala menjadi kurus (HIV wasting syndrome), Pneumocystis
pneumonia (pneumonia karena Pneumocystis carinii),
pneumonia bakteri berulang, infeksi herpes simplex kronik
(orolabial, genital atau anorektal > 1 bulan). Oesophageal
candidiasis (for candidiasis of trachea, bronchi or lungs), TBC
ekstrapulmonal, Kaposi sarcoma. Gytomegalovirus infection
(retinitis atau di organ lain), Toksoplasma di SSP, HIV
encephalopathy, Extrapulmonary cryptococcosis termasuk
meningitis, Disseminated non-tuberculous mycobacteria
infection, progressive multifocal leukoencephalopathy, chronic
cryptosporidiosis, chronic isosporiasis, disseminated mycosis
(coccidiomycosis or histoplasmosis) septisemia berulang
(termasuk non-typhoidal Salmonella). Lymphoma (cerebral or B
cell non-Hodgkin), invasive cervical carcinoma, atypical
disseminated leishmaniasis, symptomatic HIV-associated
nephropathy or HIV-associated cardiomyopathy.
Fase klinik berguna untuk menilai kondisi awal (diagnosa
pertama infeksi HIV) atau tahap lanjut, untuk memonitor terapi,
untuk menetapkan dimulainya terapi anti retroviral (ARV) dan
intervensi lain pada terapi HIV.

E. DIAGNOSIS
Ketika seseorang terinfeksi HIV-1, maka harus
dipastikan dengan metode laboratorium. Metode yang umun
adalah Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA), yang
akan mendeteksi antibodi HIV-1. ELISA bersifat sensitif (>99%)
3

dan spesifik (>99%). Namun dapat pula terjadi hasil positif


palsu dan negatif palsu. Positif palsu terjadi pada penderita
hepatitis B, influenza, atau vaksin rabies, pasien yang
menerima transfusi darah, penyakit hati, dan gagal ginjal.
Negatif palsu mungkin terjadi karena pasien baru terifeksi pada
saat melakukan tes (DiPiro et al., 2005).
Tes beban virus menghitung viremia dengan mengukur
jumlah virus RNA. Beberapa cara yang bisa digunakan yaitu
Reverse Transkriptase-Coupled Polymerase Chain Reaction
(RT-PCR, branched DNA (bDNA), dan Transcription-Mediated
Amplification. Setiap pengujian mempunyai batas teredah
sensitivitas masing-masing dan hasilnya dapat bervariasi dari
satu cara ke cara lain, sehingga direkomendasikan untuk
menggunakan cara yang sama pada satu pasien. Beban virus
dapat digunakan sevagai faktor prognosa untuk memonitor
perkembangan penyakit dan efek terapi. Jumlah limfosit CD4
dalam darah adalah tanda pengganti perkembangan penyakit.
Kadar CD4 normal berkisar antara 500-1600 sel/mikroliter atau
40-70% dari seluruh limfosit (Sukandar dkk., 2008).

BAB II
TERAPI FARMAKOLOGI
A. STANDAR TERAPI
Standar terapi pada penderita HIV AIDS antara lain (Sukandar
dkk., 2008) :
Sasaran terapi adalah mencapai efek penekanan
maksimum replikasi HIV. Sasaran sekunder adalah
peningkatan limfosit CD4 dan perbaikan kualitas hidup.
Sasaran akhir adalah penurunan mortilitas dan morbiditas.
Pendekatan umum terapi infeksi HIV.
Pengukuran periodik, teratur tingkat RNA HIV di plasma
dan hitung CD4 untuk menentukan kemajuan terapi dan
untuk mengawali atau memodifikasi regimen terapi.
Penentuan terapi harus secara individual berdasarkan CD4
dan beban virus.
Penggunaan kombinasi ARV poten untuk menekan
replikasi HIV sampai dibawah tingkat sensitivitas penetapan
virus HIV membatasi kemampuan memilih variant HIV yang
resisten terhadap ARV, yaitu faktor utama yang membatasi
kemampuan ARV menghambat replikasi virus dan
menhambat perbaikan.
Setiap ARV digunakan dalam kombinasi harus selalu
digunakan sesuai dengan regimen dosis.
Setiap orang yang terinfeksi HIV, bahkan dengan beban
virus di bawah batas yang dapat terdeteksi, harus
dipertimbangkan dapat menularkan dan harus diberi
konsultasi untuk menghindari perilaku seks dan
penggunaan obat yang berkaitan dengan penularan HIV
dan infeksi pathogen lain.
Terapi direkomendasikan pada seluruh penderita HIV dapat
dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rekomendasi Untuk Memulai Terapi Dengan


Antiretroviral (ARV) Pada Remaja Dan Dewasa
Berdasarkan Fase Klinik Dan Tanda Imunologi
(Sukandar dkk., 2008)
Fase klinik
WHO
1
2
3

Test CD4 tidak


tersedia
Tidak diterapi
Tidak diterapib
Terapi

Terapi

Test CD4 tersedia


Terapi bila CD4 < 200
sel/mm3a
Pertimbangkan terapi
bila
CD4
<
350
sel/mm3acd dan terapi
bila CD4 turun < 200
sel/mm3e
Terapi
tanpa
memperhitungkan nilai
CD4

Keterangan :
a = Nilai hitung CD4 yang disarankan untuk membantu
menetapkan kebutuhan terapi segera seperti TB pulmonal
dan infeksi bakteri berat yang mungkin terjadi pada tiap
tingkat CD4
b = Total limfosit 1200/mm dapat menggantikan hitung CD4 bila
nilai CD4 tidak ada atau infeksi HIV ringan. Ini tidak
berguna pada pasien tanpa gejala.
c = Pemberian terapi ARV direkomendasikan untuk perempuan
hamil dengan fase klinik 3 dan nilai CD4 < 350 sel/mm3
d = Pemberian ARV direkomendasikan untuk seluruh pasien
HIV dengan nilai CD4 < 350 sel/mm3 dan TBC pulmonal
atau infeksi bakteri berat.
e = Tepatnya nilai CD4 > 200/mm3 pada infeksi HIV belum
ditetapkan.

B. TERAPI FARMAKOLOGI
Terapi dengan kombinasi ARV menghambat replikasi
virus adalah strategi yang sukses pada terapi HIV. Ada tiga
golongan obat ARV, yaitu (Sukandar dkk., 2008) :
1. Reverse Transcriptase Inhibitor (RTI)
a. Analog nukleosida (NRTI)
Analog nukleotida (NtARTI
b. Non nukleosida (NNRTI)
2. HIV Protease Inhibitor (PI)
3. Fusion Inhibitor
Bila terjadi kegagalan terapi yang dapat disebabkan
oleh resistensi atau pasien tidak dapat mentoleransi reaksi obat
yang tidak diinginkan maka terapi harus ditukar. Interaksi yang
bermakna dapat terjadi dengan beberapa obat ARV.
Tabel 3 Rekomendasi Regimen Lini Pertama Terapi Dan
Perubahan Terapi Ke Lini Kedua Infeksi HIV Pada
Orang Dewasa (Sukandar dkk., 2008)
Regimen lini pertama
Standar

Alternatif

AZT
atau
d4T + 3TC +
NVP
atau
EFV
TDF + 3TC
+ NVP atau
EFV
ABC + 3TC
+ NVP atau
EFV
AZT
atau
d4T + 3TC +
TDF
atau
ABC

Regimen lini kedua


RTI
PI
ddI + ABC atau
PI/r
TDF + ABC atau
TDF + 3 TC ( AZT)
ddI + ABC atau
ddI + 3 TC ( AZT)
ddI + 3 TC ( AZT)
atau
TDF + 3 TC ( AZT)
EFV atau NVP ddI

Keterangan :
3TC : lamivudine, ABC : abacavir, AZT : zidovudine (dikenal
juga dengan ZDV), d4T : stavudine, ddI : didanosine, NFV :
nelfinavir, NNRTI : non-nucleoside reverse transcriptase
inhibitor, NRTI : nucleoside reverse transcriptase inhibitor, NVP:
nevirapine, PI : protease inhibitor, /r : ritonavir dosis rendah,
TDF : tenofovir disoproxil fumarate.
1. Golongan Reverse-transcriptase inhibitors (RTI)
a. Analog nukleosida (NRTI)
Contoh obat:
a) Analog thymin : zidovudin (ZDV/AZT) dan stavudin
(d4T)
b) Analog cytosine : lamivudin (3TC) dan zalcitabin
(ddC)
c) Analog adenine : didanosine (ddl)
d) Analog guanine : abacavir (ABC)
Mekanisme kerja:
Analog nukleosida adalah prodrugs yang di dalam sel
diubah menjadi trifosfat inaktif, yang bekerja sebagai
substrat saingan untuk enzin viral RT. Dengan demikian
RT dihambat, pembentukan DNA virus diblokir dan
replikasinya dihentikan. Obat hanya berkhasiat di selsel yang baru dihinggapi infeksi dan tidak ampuh
menghentikan produksi virus dalam sel-sel di mana
DNA viral sudah terbentuk (Sukandar dkk., 2008).
i.

Zidovudin (ZDV, AZT, Retrovir)


Bentuk sediaan : tablet 300 mg dan kapsul
100 mg, sirup 10 mg/ml, suntikan IV 10 mg/ml
Dosis 300 mg lewat oral tiap 12 jam dengan
atau tanpa makan.
Sediaan kombinasi Duviral mengandung ZDV
300 mg/3TC 150 mg/tab.
Dosis : Duviral 1 tablet peroral tiap 12 jam

Efek samping : mual/muntah, sakit kepala,


kembung, anemia, neutropenia, mialgia,
miopati, artralgia, peningkatan transaminase.
Pemberian bersama makanan mengurangi
mual.
Perhatian : monitor hematokrit, leukosit, tes
fungsi hati (Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat
Kesehatan Depkes RI, 2006).

ii. Didanosin (ddI, Videx)


Bentuk sediaan : tablet salut enterik yang
dapat diberikan sebagai dosis tunggal
Dosis : >60kg, 400 mg per oral sekali sehari
Dosis: <60kg, 250 mg per oral sekali sehari
Efek samping : diare, neuropati perifer,
pankreatitis, enzim transaminase dan neuropati
perifer.
Perhatian : Obat diberikan tidak bersama
makanan, monitor fungsi hati, amilase/lipase,
hati-hati pemberian bersama dengan obat yang
menyebabkan
pankreatitis
(Ditjen
Bina
Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Depkes RI,
2006).
iii. Stavudin (d4T, Zerit)
Bentuk sediaan : kapsul 15, 20, 30, 40 mg,
larutan 1 mg/ml
Dosis : >60kg, 40 mg per oral tiap 12 jam
dengan/tanpa makanan.
Dosis : <60kg, 30 mg per oral tiap 12 jam
Efek samping : neuropati perifer, peningkatan
enzim transaminase, laktat asidosis, gejala
saluran cerna, dan lipoatrophy.
Perhatian : Tidak aman digunakan dengan
didanosin (Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat
Kesehatan Depkes RI, 2006)..

iv. Lamivudin (3TC, Hiviral)


Bentuk sediaan : tablet 150mg /300mg(HIV),
100mg (hepatitis B)
Dosis : 150 mg peroral tiap 12 jam atau 300
mg peroral sekali sehari <50kg: 2mg/kg peroral
tiap 12 jam dengan/ tanpa makanan. Obat ini
merupakan obat yang sangat dapat ditoleransi,
tapi mudah terjadi resistensi.
Obat ini dapat digunakan untuk hepatitis B
(Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan
Depkes RI, 2006)..
v. Abacavir (ABC, Ziagen)
Bentuk sediaan : tablet 300 mg
Dosis : 300 mg tiap 12 jam dengan / tanpa
makanan, atau 600 mg sekali sehari.
Efek samping : mual, muntah, diare, nyeri
perut, dan reaksi hipersensitivitas (5%)
Perhatian : perhatikan tanda-tanda alergi:
demam, mual atau lelah, dengan atau tanpa
ruam. Jangan pernah diulangi jika terjadi alergi
karena
bisa
timbul
shok
anafilaksis.
Informasikan
secara
rinci
mengenai
kemungkinan dan tanda alergi dan lakukan
monitoring
ketat
terhadap
reaksi
hipersensitivitas (Ditjen Bina Kefarmasian Dan
Alat Kesehatan Depkes RI, 2006)..
vi. Tenofovir DF (Viread)
Bentuk sediaan : tablet 245 mg
Dosis: 245 mg lewat oral sekali sehari dengan
atau tanpa makanan.
Efek samping : Fanconis syndrome dengan
disertai renal toksisitas.
Obat ini dapat digunakan untuk hepatitis B.
Kurangi dosis
ketika digunakan dengan
tenofovir (Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat
Kesehatan Depkes RI, 2006).
10

b. Non nukleosida (NNRTI)


NNRTI
merupakan
kelas
obat
yang
menghambat aktivitas enzim reverse transcriptase
dengan cara berikatan ditempat yang dekat dengan
tempat aktif enzim dan menginduksi perubahan
konformasi pada situs akif ini. Semua senyawa NNRTI
dimetabolisme oleh sitokrom P450 sehingga cendrung
untuk berinteraksi dengan obat lain.
i. Efavirenz (EFV, Sustiva, Stocrin)
Bentuk sediaan : kapsul 50, 100, 200, 600 mg
Dosis:
600 mg peroral sekali sehari
dengan/tanpa makanan
Efek samping : susunan saraf pusat (SSP):
mimpi buruk , susah konsentrasi, pusing,
insomnia, ruam. Gejala SSP biasanya
terjadi,tapi akan membaik dalam 7-14 hari; T1/2
40-55 jam; CYP 3A inducer.
Perhatian : Jangan diberikan pada wanita
hamil karena menimbulkan teratogenik (Ditjen
Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Depkes
RI, 2006).
ii.

Nevirapine (NVP, Viramune)


Bentuk sediaan : tablet 200 mg
Dosis : 200 mg peroral sekali sehari 14 hari,
lalu 200 mg dengan/tanpa makanan
Efek samping : ruam yang berat, demam,
gangguan
saluran
cerna,
peningkatan
transaminase
Perhatian : Pemberian 200 mg dosis tunggal
untuk
2 minggu pertama mengurangi
kemungkinan alergi; periksa fungsi hati tiap 2
minggu untuk 2 bulan pertama, selanjutnya
tiap bulan untuk 3 bulan berikutnya (Ditjen Bina
11

Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Depkes RI,


2006).
2. Golongan HIV Protease Inhibitor (PI)
i. Nelfinavir
Bentuk sediaan : tablet 250 mg.
Dosis : tiap 12 jam 1250 mg (5 tablet) dimakan
bersama makanan atau sesudah makan.
Metabolisme melalui jalur P 450 3A4.
Efek samping : diare sering timbul setelah dosis
awal, dalam bentuk intermiten dan biasanya tidak
disertai dengan keluhan yang lain. Diare tersebut
memberikan
respon
yang
baik
terhadap
loperamide, bisa dicoba dengan kalsium carbonate
(Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan
Depkes RI, 2006).
ii. Saquinavir
(SQV-HGC,
Invirase;
SQV-SGC,
Fortovase FTV)
Bentuk sediaan : soft-gel kapsul (Fortovase) 200
mg, Hard-gel kapsul (Invirase) 200 mg.
Dosis : FTV 1200 mg peroral tiap 8 jam dengan
makanan atau FTV 1000 mg / RTV 100 tiap 12 jam.
Efek samping: pada saluran pencernaan, nyeri
abdominal, ruam (Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat
Kesehatan Depkes RI, 2006).
3. Fusion Inhibitor
Enfuvirtide
Indikasi : infeksi HIV dalam kombinasi dengan lainnya
obat antiretroviral untuk infeksi tahan atau untuk toleran
terhadap rejimen antiretroviral pasien.
Peringatan : hepatitis B atau C (resiko lebih besar
mungkin dari hati efek samping); gangguan hepatik;
12

kehamilan Hipersensitivitas Reaksi termasuk ruam,


mual, muntah demam, menggigil, kerasnya, rendah
tekanan
darah,
gangguan
pernapasan,
glomerulonefritis. Kontra-indikasi menyusui.
Efek samping : pankreatitis, refluks gastro-esofagus
penyakit,
anoreksia,
berat
badan
menurun;
hipertrigliseridemia, neuropati perifer, asthenia, tremor,
gelisah, mimpi buruk, mudah marah, Infeksi gangguan
konsentrasi, vertigo, pneumonia, sinusitis, penyakit
seperti influenza, diabetes melitus, hematuria; batu
ginjal, limfadenopati, mialgia, konjungtivitis; kulit kering,
jerawat.
Dosis : Dengan injeksi subkutan, dewasa dan remaja
lebih dari 16 tahun, 90 mg dua kali sehari; anak 6-15
tahun, 2 mg / kg dua kali sehari (maks. 90 mg dua kali
sehari) Fuzeonc (Roche) A Injeksi, bubuk untuk
pemulihan, enfuvirtide 108 mg (= enfuvirtide 90 mg / mL
ketika dilarutkan dengan 1.1 mL Air untuk Injeksi).

C. INTERAKSI OBAT
1. Interaksi Obat yang Mempengaruhi ADME
a. Interaksi pada proses absorpsi
Interaksi dalam absorbsi di saluran cerna dapat
disebabkan karena :
i. Interaksi
langsung
yaitu
terjadi
reaksi/pembentukan senyawa kompleks antar
senyawa obat yang mengakibatkan salah satu
obat
mengalami
penurunan
kecepatan
absorpsi. Contoh: interaksi tetrasiklin dengan
ion Ca2+, Mg2+, Al2+ dalam antasid yang
menyebabkan jumlah absorpsi keduanya turun.

13

ii.

Perubahan pH
Interaksi dapat terjadi akibat perubahan harga
pH oleh obat pertama, sehingga menaikkan
atau menurukan absorpsi obat kedua.
Contoh: pemberian antasid bersama penisilin G
dapat meningkatkan jumlah absorpsi penisilin G
iii. Motilitas saluran cerna
Pemberian
obat-obat
yang
dapat
mempengaruhi motilitas saluan cerna dapat
mempegaruhi absorpsi obat lain yang diminum
bersamaan.
Contoh:
antikolinergik
yang
diberikan
bersamaan
dengan
parasetamol
dapat
memperlambat parasetamol.
b. Interaksi pada proses distribusi
Di dalam darah senyawa obat berinteraksi dengan
protein plasma. Seyawa yang asam akan berikatan
dengan albumin dan yang basa akan berikatan
dengan 1-glikoprotein. Jika 2 obat atau lebih
diberikan maka dalam darah akan bersaing untuk
berikatan dengan protein plasma,sehingga proses
distribusi terganggu (terjadi peingkatan salah satu
distribusi obat kejaringan).
Contoh:
pemberian
klorpropamid
dengan
fenilbutazon,
akan
meningkatkan
distribusi
klorpropamid.
c. Interaksi pada proses metabolisme
i. Hambatan metabolisme
Pemberian suatu obat bersamaan dengan obat
lain yang enzim pemetabolismenya sama dapat
terjadi gangguan metabolisme yang dapat
menaikkan kadar salah satu obat dalam
14

ii.

plasma, sehingga meningkatkan efeknya atau


toksisitasnya.
Cotoh: pemberian S-warfarin bersamaan
dengan fenilbutazon dapat menyebabkan
mengkitnya kadar Swarfarin dan terjadi
pendarahan.
Inductor enzim
Pemberian suatu obat bersamaan dengan obat
lain yang enzim pemetabolismenya sama dapat
terjadi gangguan metabolisme yang dapat
menurunkan kadar obat dalam plasma,
sehingga
menurunkan
efeknya
atau
toksisitasnya.
Contoh: pemberian estradiol bersamaan
denagn rifampisin akan menyebabkan kadar
estradiol menurun dan efektifitas kontrasepsi
oral estradiol menurun.

d. Interaksi pada proses eliminasi


i. Gangguan ekskresi ginjal akibat kerusakan
ginjal oleh obat
Jika suatu obat yang ekskresinya melalui ginjal
diberikan bersamaan obat-obat yang dapat
merusak ginjal, maka akan terjadi akumulasi
obat tersebut yang dapat menimbulkan efek
toksik.
Contoh: digoksin diberikan bersamaan dengan
obat
yang
dapat
merusak
ginjal
(aminoglikosida, siklosporin) mengakibatkan
kadar digoksin naik sehingga timbul efek toksik.
ii. Kompetisi untuk sekresi aktif di tubulus ginjal
Jika di tubulus ginjal terjadi kompetisi antara
obat dan metabolit obat untuk sistem trasport

15

aktif yangsama dapat menyebabkan hambatan


sekresi.
Contoh: jika penisilin diberikan bersamaan
probenesid maka akan menyebabkan klirens
penisilin turun, sehingga kerja penisilin lebih
panjang.
iii. Perubahan pH urin
Bila terjadi perubahan pH urin maka akan
menyebabkan perubahan klirens ginjal. Jika
harga pH urin naik akan meningkatkan
eliminasi obat-obat yang bersifat asam lemah,
sedangkan jika harga pH turun akan
meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat
basa lemah.
Contoh: pemberian pseudoefedrin (obat basa
lemah) diberikan bersamaan ammonium klorida
maka
akan
meningkatkan
ekskersi
pseudoefedrin. Terjadi ammonium klorida akan
mengasamkan
urin
sehingga
terjadi
peningkatan
ionisasi
pseudorfedrin
dan
eliminasi dari pseudoefedrin juga meningkat.
2. Interaksi Obat-Obat AntiHIV
a. Abacavir
Tabel 4. Interaksi Abacavir dengan Obat Lain
(BNF 58, 2009)
Metadon
Fenobarbital
Phenytoin
Rifampisin
Tipranavir

Abacavir dapat menurunkan konsentrasi plasma metadon


Konsentrasi plasma abacavir diturunkan oleh fenobarbital
Phenytoin menurunkan konsentrasi plasma abacavir
Rifampisin menurunkan konsentrasi plasma abacavir
Tipranavir menurunkan konsentrasi plasma abacavir

16

b. Didanosin
Penggunaan bersama obat yang diketahui
yang menyebabkan neuropati perifer atau
pancreatitis meningkatkan resiko toksisitas Videx
(didanosin) tidak boleh diberikan bersama antibiotik
yang mengandung tetrasikin.
Tabel 5 Interaksi Abacavir dengan Obat Lain
(BNF 58, 2009)
Allopurinol
Ganciclovir
Hidroksikarbamid

Kuinolon

Ribavirin
Stavudin
Tenofovir

Tipranavir

Konsentrasi plasma didanosin ditingkatkan oleh


allopurinol
Konsentrasi plasma didanosin ditingkatkan oleh
ganciclovir
Meningkatkan resiko terjadinya toksisitas saat
digunakan bersama hidroksikarbamid. Hindari
penggunaan bersamaan.
Kation magnesium dan alumunium pada dapar
yang terdapat dalam tablet didanosin dapat
menurunkan absorpsi gastrointestinal quinolon
dengan
pembentukan
khelat.
Hindari
penggunaan kedua obat ini secara bersamaan.
Meningkatkan resiko terjadinya efek samping
saat didanosin diberikan bersama ribavirin
Meningkatkan resiko terjadinya efek samping
saat didanosin diberikan bersama stavudin
Konsentrasi plasma didanosin ditingkatkan oleh
tenofovir (meningkatkan resiko toksisitas).
Hindari penggunaan bersamaan.
Konsentrasi plasma didanosin diturunkan oleh
tipranavir

c. Lamivudin
Lamivudin
serupa
dengan
FTC
(emtricitabine), tidak ada manfaat bila kedua obat
ini dipakai bersama. Tingkat lamivudin dalam darah
mungkin
meningkat
jika
dipakai
dengan
kotrimoksazol.
17

Konsentrasi lamivudin akan meningkat bila


digunakan bersama trimetoprim (BNF 58, 2009).
d. Zidovudin (3- Azido-3-Deoksitimidin, Azt)
Interaksi yang potensial antara ARV
dengan obat lain berdasarkan pustaka yaitu
zidovudin dengan flukonazol, zidovudin dengan
kotrimoksasol, dan zidovudin dengan rifampisin dan
bisa juga zidovudin + lamivudin + nevirapin.
Penggunaan zidovudin bersama trimetropin
dan sulfametoksazol dapat meningkatkan kadar
serum zidovudin karena terjadi penurunan bersihan
ginjal. Zidovudin dengan klaritromisin dapat
menaikkan atau menurunkan kadar serum
zidovudin.
Tabel 6 Interaksi Zidovudin dengan Obat Lain
(BNF 58, 2009)
Obat
nefrotoksik
dan
myelosuppresive
Atovaquone
Klaritromisin
Flukonazol
Gansiklovir
Metadon
NSAIDs
Fenitoin
Probenecid

Pyrimethamine
Ribavirin
Stavudin

Meningkatkan resiko toksisitas

Metabolisme
zidovudin
dihambat
oleh
atovaquone (meningkatkan kadar plasma)
Menurunkan absorpsi zidovudin
Meningkatkan konsentrasi plasma zidovudin
Penggunaan bersamaan menimbulkan efek
myelosupresi
Meningkatkan konsentrasi plasma zidovudin
Meningkatkan resiko toksisitas hematologi
Zidovudin
dapat
meningkatkan
atau
menurunkan kadar plasma fenitoin.
Menurunkan
ekskresi
zidovudin
(meningkatkan kadar plasma dan resiko
toksisitas)
Meningkatkan efek antifolat
Meningkatkan resiko anemia.
Zidovudin dapat menghambat efek stavudin

18

Tipranavir
Valproat

Menurunkan konsentrasi plasma zidovudin


Meningkatkan konsentrasi plasma zidovudin
(meningkatkan resiko toksisitas)

e. Stavudin
Terjadi peningkatan efek bila dikombinasi dengan :
- Hidroksi urea, pankreatitis dan hepatotoksik
- Zalcitabine, peningkatan neuropati perifer.
- Pengurangan efek terjadi bila :
- Zidovudin, mengurangi foforilase intraseluler
- Doxorubisin, mengurangi fosforilasi intraseluler,
bisa digunakan dengan perhatian
- Ribavirin, mengurangi fosforilasi intraseluler,
bisa digunakan dengan perhatian.
Tabel 7 Interaksi Stavudin dengan Obat Lain
(BNF 58, 2009)
Didanosin

Meningkatkan resiko efek samping bila


stavudin diberikan bersama didanosin
Efek
stavudin
dapat
dihambat
oleh
doksorubisin
Meningkatkan resiko toksisitas saat stavudin
diberikan bersama hidroksi karbamid. Hindari
penggunaan bersamaan.
Efek stavudin dapat dihambat oleh ribavirin.
Efek stavudin dapat dihambat oleh zivudin

Doksorubisin
Hidroksikarbamid

Ribavirin
Zidovudin

f.

Tenofovir
Tabel 8 Interaksi Tenofovir dengan Obat Lain
(BNF 58, 2009)

Atazanavir
Cidofovir
Didanosin
Lopinavir

Tenofovir menurunkan kadar plasma atazanavir,


kadar plasma tenofovir meningkat
Meningkatkan kadar plasma tenofovir dan cidofovir
Tenofovir meningkatkan kadar plasma didanosin
Meningkatkan konsentrasi plasma tenofovir

19

g. Nevirapin
Terjadi dengan obat TBC rifampisin,
rifabutin, yang kadar plasmanya diturunkan.
Begitupula efektipitas pil antihamil dapat dikurangi.
Neviravin adalah indicator lemah yang termasuk
keluarga
CYP
3A,
artinya
ada
kemungkinan interaksi dengan Indinavir dan
Sakuinavir serta obat-obat lain yang dimetabolisme
melalui CYP 3A.
h. Interaksi Obat-Makanan
Beberapa obat antiretroviral (ARV), mempunyai
aturan makan, dan harus diminum bersama dengan makan,
atau dengan perut kosong. Aturan makan ini ditentukan
karena faktor yang mempengaruhi penyerapan obat
tersebut dalam perut. Ada dua faktor utama yang
mempengaruhi penyerapan dan oleh karena itu
membutuhkan aturan makan.
Faktor pertama yang mempengaruhi penyerapan
beberapa obat adalah tingkat lemak dalam makanan.
Keberadaan lemak dapat meningkatkan penyerapan
beberapa obat, misalnya nelfinavir, saquinavir atau
lopinavir. Oleh karena ini, obat tersebut sebaiknya diminum
bersama dengan makan supaya lemak dari makanan dapat
meningkatkan penyerapan. Hal ini meningkatkan jumlah
obat yang masuk ke aliran darah. Lemak juga
meningkatkan penyerapan efavirenz dengan akibat efek
samping dapat meningkat; oleh karena itu, diusulkan
efavirenz diminum dengan perut kosong atau dengan
makanan rendah lemak.
Faktor kedua yang mempengaruhi penyerapan
beberapa obat adalah tingkat asam/basa dalam perut, yang
diukur dengan pH. Beberapa obat diserap lebih baik bila
20

lingkungan perut lebih asam (pH rendah) dan yang lain


diserap lebih baik dengan lingkungan perut lebih basa (pH
tinggi). Tingkat pH turun (menjadi lebih asam) waktu
makan; jadi obat yang membutuhkan pH rendah sebaiknya
dipakai dengan makan. Hal ini berlaku untuk beberapa
protease inhibitor, misalnya atazanavir.
a. Sakuinavir : Diberikan bersama dengan makanan atau
sampai dengan dua jam setelah makan lengkap
b. Ritonavir : Per oral bersama dengan makanan.
c. Indinavir : Dimakan dalam keadaan perut kosong,
ditambah dengan hidrasi (sedikitnya 1,5 L air per hari).
d. Nelfinavir : Per oral bersama dengan makanan
e. Amprenavir : Diberikan bersama atau tanpa makanan,
tapi tidak boleh bersama dengan makanan.
f. Lopinavir : Diberikan bersamaan dengan makanan
g. Atazanavir : Diberikan bersama dengan makanan.

21

BAB III
TERAPI NON FARMAKOLOGI
Tindakan pencegahan yang dapat menurunkan resiko
penularan infeksi HIV antara lain :
Memberikan pendidikan dan pengetahuan mengenai
patofisiologi dan penyebaran infeksi HIV.
Jangan melakukan kontak seksual dengan homoseksual.
Kurangi jumlah pasangan seksual dan memakai kondom
Tidak memakai alat suntik secara bersama-sama
Memberikan alat suntik dengan pembersih atau mengganti
alat suntik (sekali pakai)
Menghindari aktivitas seksual yang beresiko (anal)
Orang normal dengan pasangan yang beresiko sebaiknya
menggunakan teknik seks yang aman
Wanita dengan HIV : memakai kontrasepsi untuk
mencegah kehamilan dan tidak memberikan ASI.

22

BAB IV
PERHATIAN KHUSUS
A. HIV DISERTAI TB PARU
Tuberkulosis (TB) penyakit infeksi yang disebabkan
oleh Mycobacterium tuberculosis yang mampu menginfeksi
secara laten ataupun prograsif. HIV adalah faktor risiko yang
paling penting pada TB aktif, terutama pada umur sekitar 25-44
tahun (Sukandar dkk., 2008).

Gambar 2 Pengobatan HIV dengan TB (Iceman, 2000)

B. HIV DISERTAI MENINGITIS


Meningitis adalah multifaktorial pada pasien dengan
HIV atau AIDS. Selain patogen tertentu, proses autoimun dan
HIV itu sendiri telah terlibat dalam pengembangan meningitis
terkait HIV. Meningitis aseptic mungkin disebabkan oleh HIV-1
23

itu sendiri. Bentuk awal dari aseptik meningitis, terkait HIV


berkembang dalam beberapa hari sampai minggu setelah
infeksi HIV (Singh, 2011).
Dalam kasus meningitis kriptokokal, awalnya mengobati
pasien dengan amfoterisin B (0,7-1 mg / kg / hari) dengan
flusitosin selama 2 minggu, diikuti dengan flukonazol oral 400
mg setiap hari selama 10 minggu. Dosis tinggi amfoterisin B
dengan flusitosin dan flukonazol dosis tinggi dengan flusitosin
telah dicoba pada pasien dengan meningitis kriptokokus
dengan hasil yang menjanjikan (Singh, 2011).
C. HIV DISERTAI RETINITIS SITOMEGALOVIRUS (CMV)
Retinitis sitomegalovirus (CMV) merupakan infeksi
oportunistik terumum dan paling sering mengakibatkan
kebutaan pada pasien denagn AIDS. Walaupun perjalanan
penyakitnya telah dikenali baik dan banyak penelitian yang
dilakukan mengenai pengobatan penyakit yang umum ini,
bentuk baru dari infeksi CMV yang dijelaskan sebagai
pemulihan imun sekunder terhadap berbagai kombinasi terapi
obat menjadi lebih umum untuk ditemui. CMVR pada banyak
pasien masih merupakan tantangan diagnostik dan teraupetik
(Kanski, 2008).
Gansiklovir, terapi standar tertinggi baku untuk
mengobati CMV, dapat diberikan secara sistemik (sekali atau
dua kali sehari infus intravena), atau lokal (suntikan pada mata).
Valgansiklovir, sebuah prodrug valin ester gansiklovir, yang
mudah diserap, dapat mencapai tingkat dalam darah yang
serupa bila diberi secara oral, dan sama efektif dengan
gansiklovir infus. Unsur anti-CMV lain misalnya foskarnet dan
sidofovir adalah lebih toksik atau mahal, dan tidak lebih efektif
(Heiden et al., 2007).

24

D. HIV DISERTAI TOXOPLASMOSIS


Toxoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh
protozoon (bersel satu) yang disebut Toxoplasma gondii yaitu
suatu parasit intraseluler yang banyak menginfeksi manusia
dan hewan peliharaan (Hiswani, 2009).
Sampai saat ini pengobatan yang terbaik adalah
kombinasi pyrimethamine dengan trisulfapyrimidine. Kombinasi
ke dua obat ini secara sinergis akan menghambat siklus pamino asam benzoat dan siklus asam folat. Dosis yang
dianjurkan untuk pyrimethamine ialah 25 50 mg per hari
selama sebulan dan trisulfapyrimidine dengan dosis 2.000
6.000 mg sehari selama sebulan (Hiswani, 2009).
E. HIV
DISERTAI
PNEUMONIA
PNEUMOKISTIK
(PNEUMOKISTOSIS)
Pneumonia Pneumokistik (Pneumokistosis) adalah
suatu infeksi paru-paru akibat jamur yang bernama
Pneumocystis
carinii.
(Medica,
2011).
Pneumonia
Pneumocystis (PCP) adalah infeksi oportunistik (IO) paling
umum pada orang terinfeksi HIV. Tanpa pengobatan, lebih dari
85% orang dengan HIV pada akhirnya akan mengembangkan
penyakit PCP. PCP menjadi salah satu pembunuh utama Odha.
Walau PCP hampir selalu dapat dicegah dan diobati, penyakit
ini tetap menyebabkan kematian pada kurang lebih 10% kasus
(Spiritia, 2011).
Obat yang sekarang dipakai untuk mengobati PCP
mencakup kotrimoksazol, dapson, pentamidin, dan atovakuon
(Spiritia, 2011).
F. HIV DISERTAI KANDIDIASIS (THRUSH)
Kandidiasis adalah infeksi oportunistik (IO) yang sangat
umum pada orang terinfeksi HIV. Infeksi ini disebabkan oleh
sejenis jamur yang umum, yang disebut kandida. Jamur ini,
semacam ragi, ditemukan di tubuh kebanyakan orang. Sistem
25

kekebalan tubuh yang sehat dapat mengendalikan jamur ini.


Jamur ini biasa menyebabkan penyakit pada mulut,
tenggorokan dan vagina. IO ini dapat terjadi beberapa bulan
atau tahun sebelum IO lain yang lebih berat. Pada mulut,
penyakit ini disebut thrush. Bila infeksi menyebar lebih dalam
pada tenggorokan, penyakit yang timbul disebut esofagitis
(Spiritia, 2011).
Pengobatan dapat lokal atau sistemik. Pengobatan
lokal diberikan pada tempat infeksi. Pengobatan sistemik
mempengaruhi seluruh tubuh. Banyak dokter lebih senang
memakai pengobatan lokal dahulu. Obat lokal menimbulkan
lebih sedikit efek samping dibanding pengobatan sistemik. Juga
risiko kandida menjadi resistan terhadap obat lebih rendah.
Obat yang dipakai untuk memerangi kandida adalah obat
antijamur. Hampir semua namanya diakhiri dengan -azol. Obat
tersebut termasuk klotrimazol, nistatin, flukonazol, dan
itrakonazol (Spiritia, 2011).

26

BAB V
PERAN APOTEKER DALAM
PENANGGULANGAN HIV AIDS
Penggunaan
obat
antiretroviral
menunjukkan
keberhasilan dalam menekan jumlah virus yang ada pada
penderita infeksi HIV/AIDS. Untuk mendapatkan keberhasilan
terapi antiretroviral membutuhkan penanganan secara terpadu,
dimana apoteker sebagai tenaga kesehatan memegang
peranan yang cukup penting untuk keberhasilan pelaksanaan
terapi antiretroviral. Di dalam POKJA HIV/AIDS di rumah sakit,
apoteker berperan dalam (Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat
Kesehatan Depkes RI, 2006) :
a) Pengelolaan persediaan obat antiretroviral dan obat
pendukung lainnya
b) Pemberian informasi obat
c) Konseling obat
d) Pemantauan kepatuhan terapi
A. MONITORING TERAPI
Untuk
mendapatkan
keberhasilan
terapi
antiretroviral harus diikuti dengan kegiatan monitoring
terapi. Monitoring terapi dilakukan secara periodik setelah
mulai pemberian terapi antiretroviral. Monitoring terapi yang
dilakukan meliputi (Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat
Kesehatan Depkes RI, 2006) :
1. Monitoring Kepatuhan
Monitoring kepatuhan dilakukan untuk melihat sampai
sejauh mana pasien patuh menjalani terapi.
2. Monitoring Keberhasilan Terapi
Monitoring ini dilakukan untuk melihat apakah rejimen
obat antiretroviral yang diberikan memberikan respon
pada penekanan jumlah virus dan dapat menaikkan
fungsi kekebalan tubuh. Jika rejimen yang dipilih tidak
memberikan respon pada penekanan jumlah virus perlu

27

dipertimbangkan untuk mengganti dengan rejimen yang


lain.
3. Monitoring Efek Samping Obat
Monitoring efek samping obat dilakukan untuk
memantau apakah timbul efek samping pada
penggunaan obat antiretroviral, baik efek samping yang
bersifat simtomatik maupun gejala toksisitas yang
mungkin terjadi. Efek samping yang terjadi perlu diatasi
dengan pemberian obat-obatan atau penghentian/
penggantian terapi jika timbul toksisitas yang
membahayakan.
B. PELAYANAN INFORMASI OBAT DAN KONSELING
OBAT
Pelayanan Informasi Obat dan Konseling Obat
menjadi tugas utama apoteker dalam menunjang
keberhasilan terapi. Pelayanan Informasi diberikan baik
kepada pasien, keluarga pasien, maupun kepada tenaga
kesehatan yang lain (Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat
Kesehatan Depkes RI, 2006).
C. KONSELING UNTUK MENINGKATKAN ADHERENCE
Bagi apoteker, konseling adherence terkait pada
dua hal, yang pertama adalah menumbuhkembangkan
kemampuan klien untuk menggunakan obatnya sesuai
petunjuk medis dan melakukan pemantauan penggunaan
obat klien, dengan menjaga hubungan terapeutik dan yang
kedua adalah menjaga sediaan obat agar tetap dapat
diakses klien dan tak pernah putus sediaannya
(pengelolaan obat) (Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat
Kesehatan Depkes RI, 2006).

28

DAFTAR PUSTAKA
BNF 58. 2009. British National Formulary. London : BMJ Group
and RPS Publishing 2009.
DiPiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, A.G.,
Posey, L.M. (Eds). 2005. Pharmacotherapy A
Pathophysiological Approach, 6th ed. Stamford :
Appleton & Lange. p.2255-2259.
Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Depkes RI. 2006.
Pedoman Pelayanan Kefarmasian Untuk Orang
Dengan HIV/AIDS (Odha). Jakarta : Depkes RI.
Heiden, D, Ford N, Wilson D, Rodriguez WR, dan Margolis T.
2007. Cytomegalovirus Retinitis: The Neglected
Disease of the AIDS Pandemic. PLoS Med 4(12):
p334.
Hiswani. 2009. Toxoplasmosis Penyakit Zoonosis yang Perlu
diwaspadai oleh Ibu Hamil. Medan: FK USU.
Icem an MD. 2000. A Clinical Guide to Tuberc ulosis.
Philadelphia: Lippincot t W illiams &Wilkins.
Kanski, JJ. 2008. Clinical Ophthalmology: A Systematic
Approach. 5th Edition. Philadelpia: McGraw-Hill.
Medica. 2011. Pneumonia Pneumokistik (Pneumokistosis).
Available at:
http://medicastore.com/penyakit/450/
Pneumonia_Pneumokistik_Pneumokistosis.html
[Diakses tanggal 22 Desember 2011].
Singh

NN. 2011.
Meningitis in HIV. Available at :
http://emedicine.medscape.com/article/1952165overview#aw2aab6b9 [Diakses tanggal 22 Desember
2011].
29

Spiritia.

2011.
Kandidiasis.
Available
http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=516
tanggal 22 Desember 2011].

at
:
[Diakses

Sukandar, E.Y.S, Andrajati R., Sigit J.I., Adnyana I.K., Setiadi


A.P., Kusnandar. 2008. ISO Farmakoterapi. Jakarta :
PT. ISFI Penerbitan. Hal. 702-707

30