Anda di halaman 1dari 32

BAB 9

9.1

PENGENALAN DASAR ROCK CLIMBING

Pendahuluan

Pada dasarnya Rock Climbing adalah bagian dari Mountaineering (kegiatan mendaki
gunung, suatu perjalanan petualangan ke tempat-tempat yang tinggi), hanya di sini kita
menghadapi medan yang khusus. Dengan membedakan daerah atau medan yang dilalui.
Rock Climbing (panjat tebing) adalah teknik melakukan pemanjatan naik dan turun
pada tebing yang memiliki celah, tonjolan maupun tumpuan sesuai dengan tujuan untuk
mencapai puncak atau titik tertentu dari rute jalur pemanjatan yang ditentukan.
Kegiatan rock climbing ini memerlukan penguasaan teknik pemanjatan yang khusus dan
peralatan pendukung yang memadai. Peralatan pendukung diperlukan ketika melakukan
pemanjatan pada tebing-tebing yang sudah tidak mungkin lagi ditempuh tanpa
peralatan (mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi) atau dianggap terlalu berbahaya
apabila ditempuh dengan tidak menggunakan peralatan. Untuk menjadi seorang
pemanjat yang baik,diperlukan beberapa persyaratan yaitu antara lain; sikap mental,
pengetahuan dan ketrampilan, kondisi fisik yang prima dan etika.

9.2

Sejarah Rock Climbing

Rock Climbing awalnya dimulai pada kuartal terakhir abad kesembilan belas di berbagai
belahan Eropa dan Amerika. Climbing Aid atau alat bantu untuk memanjat yaitu
penggunaan peralatan standar memanjat awalnya telah dipakai pada periode 19201960, yaitu dilakukan di pegunungan Alpen dan di Yosemite Valley.
Seiring perkembangannya Rock Climbing, teknik pemanjatan, penggunaan peralatan
dan pertimbangan etika panjat tebing kemudian berkembang dan berevolusi terus
menerus sampai saat ini. Dan juga seiring berkembangnya waktu, dibuatlah sistem
grade (grading system) dengan tujuan untuk dapat memberikan perbandingan dan nilai
tingkat kesulitan memanjat.

9.3

Perlengkapan Rock Climbing

9.3.1

Tali (Rope)

Fungsi utamanya sebagai pengaman apabila pemanjat terjatuh. Pada umumnya


panjang maksimal sebuah tali untuk memanjat adalah 50 meter, yang memungkinkan
seorang leader dan belayer masih dapat saling berkomunikasi. Tali yang digunakan
dalam suatu pemanjatan yaitu:
1.

Tali Serat Alam

Jenis tali ini sudah jarang digunakan karena kekuatan tali ini rendah dan mudah
terburai, tidak memiliki kelenturan sehingga membahayakan bagi pemanjat.

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 107 -

Tali Serat Alam (Natural Rope)

2.

Hawser Laid

Terdiri dari serat-serat sintetis halus yang dipilin menjadi tiga bagian. Kelemahannya
adalah kurang tahan terhadap zat kimia, sulit untuk membuat simpul dengan tali ini,
dan mempunyai kelenturan yang rendah yaitu sekitar 40 %, serta tali jenis ini cukup
berat bebannya.

Tali Hawser-Laid

3.

Core dan Sheat Rope (Kermantel Rope)

Terdiri dari dua bagian, yaitu inti dan jaket dengan kelenturan mencapai 20%. Yang
terkenal adalah buatan Edelrid, Beal dan Mammut. Ukuran tali yang umum dipakai
bergaris tengah 11 mm, panjang 45 m. Untuk pendakian yang ringan, dan atau untuk
menaikkan barang / peralatan, biasanya dipakai yang berdiameter 9mm atau 7mm.
Untuk menghitung kekuatan tali kernmantle dapat dilakukan dengan rumus sebagai
berikut: A2 x 22 kg, dimana = diameter tali (mm)
Tali karnmantel memiliki sifat-sifat :
UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 108 -

1.
2.
3.

Tidak tahan terhadap gesekan dengan tebing, terutama pada tebing laut (cliff).
Apabila dipakai untuk menurunkan barang, sebaiknya bagian tebing yang
bergesekan dengan tali diberi alas (pading). Tabu untuk menginjak tali jenis ini.
Peka (tidak tahan) dengan zat kimia.
Tidak tahan terhadap panas. Bila tali telah dicuci sebaiknya dijemur di tempat
teduh.

Tali Kernmantle dan Struktur Bagiannya

Berdasarkan kelenturannya, Tali Karnmantel terbagi 2 yaitu:


1.

Static, kelenturan 2-5 % pada berat max yang diberikan, kaku, umumnya berwarna
putih atau hijau, dan biasanya digunakan untuk rappelling atau Singel Rope
Technic

2.

Dynamic, kelenturan 5-20% pada berat max yang diberikan, lentur, dan berwarna
mencolok.

Pada umumnya tali-tali tersebut akan berkurang kekuatannya bila dibuat simpul.
Sebagai contoh, simpul delapan (figure of eight) akan mengurangi kekuatan tali sampai
10%. Karena sifat tali yang demikian, maka dibutuhkan perawatan dan perlakuan yang
baik dan benar.
Aturan umum untuk memilih ukuran diameter Tali Karnmantel :
1.

Top Roping dan serbaguna: Gunakan tali tunggal ukuran diameter 11mm

2.

Sport Climbing: Gunakan tali tunggal ukuran diameter 9.1 mm - 10.2mm

Untuk lebih lengkapnya dalam memilih tali kernmantel juga dapat memperhatikan juga
detail tipe tali, yaitu Jumlah dan cara pemakaian tertentu. Ada 3 tipe yang dikenal dan
untuk mengetahui tipe tali dapat dilihat pada ujung tali dan akan terdapat simbol
seperti dibawah ini :
1.

SINGLE artinya tunggal yaitu tali yang cukup satu saja untuk digunakan memanjat.

2.

DOUBLE artinya dobel atau dua tali. Tali dobel ini harus digunakan bersamaan dan
masing-masing tali harus di klip ke dalam kuikdraw yang berbeda.

3.

TWIN artinya kembar, dua tali yang sama persis seperti pada tali dobel hanya saja
pada saat mengklip serupa dengan penggunaan pada tali tunggal. kedua tali tsb di
klip ke dalam satu kuikdraw/ karabiner saja. Anggap kedua tali kembar itu sebagai
tali tunggal saat mengklip

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 109 -

Cara menggulung tali juga perlu diperhatikan agar tidak kusut, sehingga tidak mudah
rusak dan mudah dibuka bila akan digunakan. Ada beberapa cara menggulung tali,
antara lain :
1.
2.
3.

Mountaineers Coil
Skein Coil
Royal Robbin Style

Gambar: Cara-Cara Menggulung Tali

9.3.2

Carabiner

Carabiner atau istilah lainnya; Snapring, Snapling, Cincin Kait, digunakan sebagai
pengaman untuk pemanjatan atifisial. Sebaiknya terbuat dari alumunium alloy yang
ringan tapi mempunyai kekuatan tinggi.
Berdasarkan model pengamanannya, Carabiner dibagi menjadi 2 jenis yaitu:
1.

Non Screw Gate Carabiner

Carabiner yang tidak memiliki kunci berulir, biasanya digunakan pada pemanjatan
artifisial karena tidak perlu repot-repot mengunci. Berdasarkan sistem lock dibagi
menjadi dua jenis yaitu:
a. Auto lock Carabiner
b. Non Auto lock Carabiner
2.

Screw Gate Carabiner

Carabiner dengan kunci berulir, biasa digunakan sebagai pengaman utama dalam suatu
pemanjatan artifisial.
Berdasarkan bentuknya, Carabiner dibagi menjadi 4 jenis yaitu :
UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 110 -

1.
2.
3.
4.

Oval Carabiner: Berbentuk bulat, dalam SRT dapat dipergunakan hamper dalam
berbagai kondisi.
Delta Carabiner: Berbednetuk huruf D, bermanfaat karena memungkinkan
pembagian beban, namun tidak bisauntuk instalasi tertentu.
Heart Carabiner: Berbentuk segitiga sama kaki, baik untuk tambatan reacue karena
memungkinkan banyak tali ditambatkan
A Carabiner: Bentuk, fungsi hampir sama dengan carabiner Heart atau jenis Delta

9.3.3

Sling

Terbuat dari tabular webbing atau dari prusik yang berfungsi sebagai penghubung,
pengaman pada ancor, mengurangi gaya gesek dengan memperpanjang point, dan
mengurangi gerakan yang akan menambah beban. Dalam penggunaannya slink
digabungkan dengan carabiner dengan menggunakan simpul jangkar.

Sling

9.3.4

Harness

Adalah alat pengaman yang terikat pada pinggang pemanjat. Berfungsi menahan beban
tubuh pemanjat ketika terjatuh supaya beban terdistribusi ke tali dan tidak
mematahkan pinggang.
UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 111 -

3 jenis harness, yaitu: seat harness, chest harness dan full body harness.

9.3.5

Helm

Bagian tubuh yang paling lemah adalah kepala, sehingga perlu mengenakan helm untuk
melindungi dari benturan tebing saat pendaki terjatuh atau bila ada batu yang
berjatuhan. Meskipun helm agak mengganggu, tetapi kita akan terhindar dari
kemungkinan terluka atau keadaan fatal.

Helm

9.3.6

Sepatu Tebing

Sebagai pengaman kaki saat melakukan pemanjatan. Konstruksi sepatu terdiri dari 2
macam board-lasted dan slip-lasted. Dari segi kecocokan dengan kaki yaitu terstruktur
dan tidak terstruktur. Model sepatu juga bermacam-macam, antara lain:
1.
2.
3.

Lace-up yang menggunakan tali


Slipper atau slip-on
Zipper yang menggunakan menggunakan ritsleting

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 112 -

Sepatu Panjat

Bagian atas sepatu biasanya terbuat dari kulit tujuannya yaitu untuk kenyamanan
setelah sepatu sering dipakai. Bahan lain yang digunakan dan makin populer untuk
bagian atas sepatu yaitu kulit palsu atau sintetis yang tidak akan terlalu melar
dibandingkan dengan kulit asli.
1.

Sepatu yang lentur dan fleksibel dalam hal ini menggunakan sol yang halus
a.
b.
c.
d.

2.

Setiap pijakan dapat dirasakan oleh pemanjat karena solnya tipis


Untuk medan kering
Menguntungkan pada rekahan kecil, permukaan tebing yang miring (overhang),
pijakan membulta (slob).
Ringan

Sepatu yang solnya kaku


a.
b.
c.
d.

9.3.7

Lebih aman untuk jamming pada rekahan yang lebar dan tajam.
Tidak mudah lelah dan menguntungkan untuk berdiri pada pijakan kecil dan
tajam.
Berat
Untuk medan basah dan kering.
Tabular Webbing

Biasanya digunakan untuk membuat slink. Selain itu sering digunakan sebagai pengganti
harness.

Webbing

9.3.8

Palu Tebing

Pada bagian ekornya berbentuk runcing untuk membersihkan dinding dan mencongkel
atau melepaskan piton. Fungsi utama dari palu tebing adalah untuk memasang anchor.

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 113 -

9.3.9

Bor dan Driver

Bor dan Driver. Driver yang digunakan dalam rock climbing adalah jenis Rubber Hand.
Bor sendiri memiliki 2 bagian peluru dan spit.

9.3.10

Descender

Descender merupakan alat yang digunakan untuk turun pada lintasan, jenis descender
antara lain yaitu:
1.

Figure of Eight

2.

Brake Bar

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 114 -

3.

Capstand
Penggunaan maksimalcsebaiknya pada jalur kurang dari 50m karena semakin
panjang lintasan, semakin besar tegangan pada tali yang menyebabkan alat tidak
bekerja maksimal.

Capstand Tipe Autostop

4.

Rack
Rack dapat digunakan pada lintasan lebih dari 50m, dan lebih stabil, namun untuk
beban terlalu ringan bekerjanya tidak maksimal

5.

Whaletail

Whaletail merupakan peralatan untuk turun yang umumnya digunakan pada kegiatan
penelusuran gua (caving) yang mampu digunakan pada lintasan <100m. Peralatan yang
biasa digunakan caver adalah Spelean Whaletail.

Spelean Whaletail
UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 115 -

Cara Penggunaan Whaletail

6.

Kombinasi peralatan yang berfungsi sebagai Descender

Selain itu juga dapat dilakukan modifikasi terhadap alat sehingga fungsinya sebagai
peralatan descender seperti:
a.

Modifikasi Carabiner: Carabiner yang kita susun sedemikian rupa sehingga


berfungsi semacam brake bar.

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 116 -

b.

Kombinasi Carabiner dengan Italian Hitch

Penggunaan kombinasi peralatan tersebut diatas adalah cara darurat bila


tidak mempunyai alat descender jenis apapun dan sebaiknya menggunakan
carabiner berjenis screw-gate.
9.3.11

Ascender

Ascender merupakan alat digunakan untuk naik. Jenis ascender antara lain:
1.

Hand Ascender
Hand Ascender terbagi 3 macam: Standard Jumar, Jumar, Jumar CMI
5000/Colorado Mountains Industries. Jenis ini mempunyai kekuatan sekitar 5000
pounds dan carabiner dapat langsung disangkutkan pada kerangkanya.

Hand Ascender

2.

Chest Ascender

Chest Ascender
UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 117 -

Contoh Penggunaan / Pemasangan Peralatan

9.3.12

Anchor

Merupakan poin tambatan yang dipakai sebagai penahan beban. Berdasarkan Jenisnya
terdapat dua macam anchor, yaitu:
1. Natural anchor, dapat berupa pohon besar, tonjolan, lubang-lubang ditebing dan
berbagai macam bentukkan-bentukkan di tebing.

2.

Artificial anchor, yaitu anchor buatan yang ditempatkan atau dipasang pada tebing
seperti:
a. Chock
Chock jenis Stopper

Chock jenis Stopper


UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 118 -

Chock jenis Heksentrik

Chock jenis Heksentrik

b. Piton
Piton, ada tiga macam:
Horizontal, untuk celah horizontal.
Vertical, untuk celah vertical.
Angle, untuk lubang.
Cara memasang piton :
Periksa rekahan yang akan dipasang piton.
Pilih piton yang cocok dengan rekahan, lalu ditancapkan dan pukul dengan
hammer.
Dalam pemasangannya harus setengah lebih agar lebih safety sebagai
anchor.
Untuk mengetahui rapuh tidaknya rekahan yang akan kita pasang piton, adalah
dengan memukulkan hammer pada tebing sekitar rekahan. Suara yang nyaring
menunjukkan rekahan tersebut tidak rapuh.
Cara melepas piton adalah dengan menggunakan hammer yang kita pukulkan
pada mata piton searah dengan rekahan sampai pada akhirnya piton dapat
ditarik.
c. Cam / Friend
Pengaman sisip yang bekerja berdasarkan sistem friksi yang ditimbulkan ketika
dikenai beban. Memilki ukuran yang beragam untuk setiap bentukan tebing,
dan gagang nya ada yang lentur ada yang fix.
d. Hanger
Biasanya digunakan untuk tebing yang blank, artinya tebing yang akan dipanjat
sedikit memilki natural anchor. Jenis hanger berdasarkan bentuknya:
Plate,
clown,
Azymetrique,
Twist
Berdasarkan posisi dan urutan mendapat beban, anchor dapat dibedakan menjadi:
1. Main anchor, anchor utama yang secara langsung mendapatkan beban.
2. Back up anchor, berfungsi sebagai anchor cadangan apabila main anchor jebol.
9.3.13

Belay Device

Alat belay dari sudut pandang kepraktisan dalam menghentikan jatuhnya pemanjat
terbagi dalam dua jenis yaitu:
1.

Manual, yaitu alat belay yang digunakan untuk menghentikan jatuhnya climber
dengan menarik dan menekan tali tambang pada posisi tertentu sehingga terjadi
friksi atau tekanan jepit yang menahan tali yang terulur. Belay Device tipe ini
antara lain:

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 119 -

a. Kombinasi Carabiner dengan Italian Hitch

b. Sticht Plate/ Spring Plate

c. Figure Of Eight

d. Tubular

2.

Otomatis, yaitu alat belay yang akan terkunci dengan sendirinya pada saat climber
jatuh atau saat tali tambang terbebani. Fungsi alat ini serupa dengan sabuk
pengaman yang biasa kita pakai saat berkendaraan dimana jika terjadi hentakan
keras sabuk tersebut akan menahan dan menghentikan hentakan badan seperti
Grigri, Trango cinch, dll.

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 120 -

Beban maksimal yang ditanggung oleh beberapa belay device ketika mendapatkan
sentakan:
Type

9.3.14

Breaking Force (kN)

Figure of Eight

1.5

Stitch Plate

2.0

ATCs

2.0

Italian Hitch

3.0

Grigri

9.0

Pulley

Alat yang digunakan untuk membelokan arah gaya suatu beban. Secara umum pulley
terdiri dari Fix Cheek Pulley dan Oscillante Cheek Pulley.
Bentuk bentuk dasar pullay antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.

Fixed
Tandem
Oscillante
Ultragere
Mini Traxion: perpaduan pulley & descender

9.3.15

Skyhook

Merupakan perangkat Rock Climbing yang digunakan untuk istirahat sementara saat
melakukan pemanjatan, terutama saat melakukan pengeboran.

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 121 -

9.3.16

Runner

Runner merupakan sling yang pada kedua ujungnya telah diberi carabiner. Teknik
pemasangan runner:

9.3.17

Stir Up

Stir Up / Tangga tebing adalah terbuat dari bahan yang sama dengan bahan webbing.

9.3.18

Sarung Tangan (Glove)

Sarung tangan digunakan untuk melindungi telapak tangan saat melakukan pemanjatan.

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 122 -

9.3.19

Prusik

Prusik digunakan sebagai pengaman yang umumnya dipasang pada lubang tembus.

9.3.20

Chalk Bag

Chalk Bag adalah tempat bubuk magnesium.

9.3.21

Bubuk Magnesium

Bubuk magnesium, digunakan agar saat melakukan pemanjatan agar tidak licin.
Hal yang perlu diperhatikan sebelum memakai / membaeli alat antara lain rekomendasi
minimum terhadap kekuatan alat yang telah ditetapkan oleh badan sertifikasi
internasioanl (UIAA, CE, dll). Beberapa ketentuan batas minimum kekuatas alat yang
ditetapkan oleh UIAA untuk alat tertentu :
Setiap alat maupun pengaman memiliki breaking load maupun working load tertentu
yang harus diperhatikan oleh setiap climber ketika melakukan pemanjatan.

9.4

Penggunaan dan Perawatan Alat

Untuk menjaga agar alat yang digunakan tetap dapat bekerja maksimal serta
memperpanjang umur alat, maka setiap climber perlu mengetahui prinsip pemilihan
alat dan menjaga alat tersebut baik pada saat pemakaian, penyimpanan maupun
perawatan. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan :

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 123 -

1.

2.

Tali
a.

Sebaiknya dalam membeli tali, belilah tali baru dan jangan pernah beli yang
bekas.

b.

Gunakan tali kernmantel jenis dinamik dan bukan statik untuk melakukan
pemajatan. Tali panjat memanjat harus dinamik artinya tali tersebut lentur
dan meregang (stretch) sehingga dapat menahan impak pada tali dan tubuh
saat climber jatuh. Jika digunakan tali statis maka akan mempercepat
kerusakan tali (hilang sifat statisnya sehingga akan lebih mudah putus tali) dan
menyebabkan resiko cedera yang lebih besar. Tali statik hanya digunakan
untuk rapeling atau mengangkut peralatan dan suplai (hauling) pada aid
climbing.

c.

Pastikan ukuran tali kompatibel dengan belay device yang digunakan sehingga
alat dapat berfungsi maksimal, dan jangan menggunakan tali yang basah
karena Tali yang basah menyebabkan tali tidak enak digunakan baik dipegang
maupun dipakai atau dibawa. Elastisitas tali yang basah akan berkurang
sehingga mudah terjadi friksi. Penelitian menyatakan bahwa tali tersebut akan
berkurang kekuatannya 30% jika basah.

d.

Jangan menginjak tali dan berilah alas saat tali digunakan, hindari kontak
langsung tali dengan benda tajam, tanah atau pasir karena akan membuat
partikel kecil dari pasir masuk kedalam inti tali dan mempercepat
kerusakannya.

e.

Berilah perekat permanen pada setiap ujung tali untuk mencegah banyak nya
gelembung udara masuk ke dalam tali sehingga menyebabkan inti tali regang
dari mantelnya. Selain itu juga beri tanda permanen pada ujung tali (panjang
dan diameter tali).

f.

Segeralah mencuci tali setelah pemanjatan jika dalam keadaan kotor (lumpur
atau pasir). Jangan menggosok tali dengan kuas yang kasar karena akan
merusak mantelnya, sebaiknya gunakan kuas yang sangat lembut jika tali
dalam keadaan sangat kotor, jika tidak maka cukup dengan membilas nya
saja. Selain itu juga dihindari merendm tali dengan alat deterjen karena
bahan kimianya akan merusak tali, gunakanlah cairan pembersih khusus atau
cukup dengan merendam tali dalam air bersih yang sedikit hangat.

g.

Jangan menjemur tali dalam keadaan basa langsung dibawa terik matahari
atau panas yang berlebih.

h.

Selalu menyimpan tali dalam kondisi normal (tidak terlalu kering atau lembab)
dandalam keadaan tidak tersimpul

Sepatu
a.

Pilih sepatu dengan ukuran yang sesuai dengan kaki, seketat mungkin dan
bentuk nya mengerucuk di ujung, pilih jenis kelenturan yang cocok (kulit atau
sintetis).

b.

Jangan memakai sepatu ketika tidak memanjat karena sepatu Panjat Tebing
dibuat untuk climbing dan bukan untuk belaying, spotting atau hiking.

c.

Jangan menyimpan sepatu setelah climbing langsung kedalam ransel karena


sepatu masih dalam keadaan lembab / basah oleh keringat dan merangsang
jamur / bakteri tumbuh yang akan membaut sepatu bau dan benang

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 124 -

jahitannya membusuk / rusak. Sebaiknya biarkan sedikit kering dahulu atau


cukup gantungkan sepatu dibagian luar ranselmu (bisa pake karabiner) agar
sepatu terkena angin dan lebih cepat kering.

3.

9.5

d.

Jagalah sol sepatu tetap bersih. Gunakan sikat


membersiahkan setiap saat dansetelah selesai memanjat.

untuk

keperluan

e.

Untuk sepatu laces (tali), longgarkan tali pengikat sepatu setelah kamu selesai
pemanjatan dan tarik lidah sepatu (bagian sepatu yang menutupi atas kaki)
keluar. Untuk sepatu velcro periksa dan bersihkan velcronya, soalnya kalo
kotor bakal cepet rusak dan velcronya engak lengket banget yang hasilnya
sepatunya enggak akan bisa dipake ngetat dan ngejoss.

f.

Jangan menjemur sepatu yang agak basah, lembab langsung dibawah sinar
matahari. Simpan sepatu ditempat yang terangin-angin, kering namun tidak
terlalu panas. Penyimpanan sepatu ditempat panas membuat perekatnya
menjadi meleleh dan tempelan antar karet juga kulitnya cepet lepas. Jika
sepatu terasa lembab disebabkan keringat, bisa digunakan butiran pengering
(silica gel).

g.

Jika sepatu bau, tuangkan baking soda kedalam sepatumu dan diamkan selama
kurang lebih semalam. Penggunaan kaos kaki tipis juga bisa mengurangi bau
sepatu yang diakibatkan oleh keringat dan lembabnya udara.

h.

Jika sepatu dalam keadaan sangat kotor, cuci menggunakan tangan dan jangan
menggunakan air panas, pemutih atau deterjen. Penggunaan mesin cuci sangat
TIDAK disarankan.

i.

Saat sol bagian bawah sepatu telah tipis segera di resole / tambal ganti karet
baru. jangan menunggu hingga berlubang.

j.

Sepatu yang jarang digunakan akan membuat sol nya menjadi keras untuk itu
segera bersihkan dengan kain dan air hangat kemudian gosok dengan sikat
lembut hingga keliatan karet yang keliatan lebih hitam dan segar. Penggunaan
sikat ini jangan terlalu sering, karena meskipun efektif namun membuat sol
cepat tipis atau gunakan kertas ampelas (sand paper) yang biasa dugunakan
untuk menghaluskan kayu. Dapat juga digunakan penghapus pulpen,
penghapus ini lebih keras dari penghapus pensil. Gosok di bagian depan sol
sepatu dan bersihkan sebersih mungkin debu/ kotoran karet yang ada. Namun
Cara paling gampang adalah denga saling menggosokan kedua sol sepatu yang
kanan dan yang kiri setiap selesai / akan melakukan pemanjatan. Tip yang ini
dipraktekan oleh beberapa pemanjat saat emergensi / dadakan dengan
menggunakan air ludah.

Secara umum perawatan alat yang lain adalah jangan diinjak, dibanting dan
segeralah membersihkan alat setelah pemakaian serta simpan ditempat yang
memiliki suhu normal.

Komponen Dasar Panjat Tebing

Seperti halnya jenis olah raga lain, Panjat Tebing memerlukan tingkat fisik dan mental
yang baik. Satu hal yang mungkin perlu diingat yaitu bahwa dari satu sisi panjat tebing
terlihat sebagai satu olah raga yang bersifat mental, karena untuk menyelesaikan satu
UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 125 -

rute/problem kamu harus membuat strategi penyelesaian masalah (problem solving)


dengan kombinasi tehnik yang baik. Disisi lain karena posisi pemanjat yang
menggantung dan arah gerak/posisi tubuh yang berlawanan dengan daya gravitasi
mereka perlu otot yang enggak lembek, yang ini lebih bersifat fisik.
Komponen dasar ini dapat dikategorikan dalam dua aspek:
1.

Komponen Fisik
a. Kekuatan
Jangan menganggap bahwa kekuatan yang dimaksud disini yaitu sekedar kekuatan
tangan. Pemanjat enggak manjat cuma dengan tanggannya mereka pake kaki, pake
badan dan yang penting lagi mereka juga pake otak bo. Kekuatan ini cakupannya
menyeluruh termasuk kekuatan tangan dan kaki (limp strength) dan kekuatan
tubuh (core strength) yaitu perut, dada, punggung dan pinggang. Kekuatan ini
sangatlah diperlukan ketika kamu mulai beranjak ke tingkat mahir yang biasa
dimulai dengan pemanjatan dengan kesulitan rute 5.11 keatas.
b. Daya Tahan
Daya tahan artinya kemampuan kamu untuk memanjat rute yang panjang tanpa
terlalu banyak berhenti/ istirahat. Tentunya ini sangat mendominasi para pemanjat
multi pitch. Training untuk ini jarang sekali dilakukan pada rute dengan kesulitan
tingkat tinggi karena jika demikian maka akan cenderung ke training kekuatan dan
bukannya daya tahan. Cukup dimulai dengan rute mudah dan terus dilanjutkan ke
rute-rute yang tidak terlalu sulit untuk sekitar 15 menit sampe 45 menit (pemula)
tanpa diselingi istirahat.
c. Kelenturan
Meskipun wanita pada umumnya tidak sekuat pria, biasanya mereka lebih menonjol
dalam bidang ini. Kelenturan bisa sangat menentukan apakah seseorang pemanjat
dapat menyelesaikan satu rute tertentu atau tidak, karena itu janganlah
disepelekan. Selalu lakukan pemanasan kemudian melenturkan tubuh (stretching)
sebelum kamu memanjat. Kombinasi kelenturan dan kekuatan akan menjadikan
alur gerak (fluidity) si pemanjat tampak indah, mudah (padahal sebetulnya sulit)
dan mengesankan.

2.

Komponen Non Fisik


a. Mental dan Sikap
Yang dua ini harus selalu positif. Keadaan mental kamu akan menjelma menjadi
sikap yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu pemanjatan. Alasan-alasan
seperti aku kayaknya enggak bisa, aku udah cape, rutenya bukan tipeku, rutenya
untuk pemanjat yang badannya tinggi/ pendek dll merupakan contoh ketidak
siapan mental. Hadapi semua rute/ problem dengan ucapan Saya akan coba
sebaik mungkin! Kalo kamu jatoh/ gagal coba lagi dan coba lagi, disinilah proses
belajar memanjat tebing menuju kesempurnaan sampai kamu akhirnya berhasil
menyelesaikan rute tsb tanpa jatuh.
b. Tehnik
Tehnik ini jangkauannya umum, bisa termasuk gabungan dari komponen fisik
diatas. Namun kalo kita bicara tehnik biasanya enggak secara langsung
berhubungan dengan otot karena itu saya kategorikan komponen ini ke non fisik.
Tehnik ini didapat dari proses belajar yang enggak sebentar, makanya untuk
belajar tehnik dengan cepat dan baik belajarlah langsung dari pemanjat pro yang
sudah berpengalaman. Mereka biasanya bisa langsung menunjukan kelemahan dan
kekurangan pemanjatan kamu. Kadang untuk belajar tehnik ini kamu harus
melakukan gerakan-gerakan yang sama secara terus menerus sampai tubuh kamu
hafal betul untuk mengeksekusi gerak tsb (biasa disebut engram: daya ingat tubuh
dalam melakukan gerakan/posisi tertentu). Tehnik cakupannya luas termasuk

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 126 -

keseimbangan dan perpindahan berat badan, posisi, pernafasan, gerak dinamik dan
statik dll.

9.6

Prosedur Pemanjatan

Dalam suatu pemanjatan semua yang dilakukan haruslah terencana. Baik persiapan
peralatan, pemasangan alat yang tepat, perhitungan langkah yang cepat, manajement
rope, serta memperhatikan faktor keselamatan.
Proses memanjat merupakan gabungan dari berbagai kegiatan dasar sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Mengamati mengenal medan dan menentukan lintasan yang akan dilalui baik
secara keseluruhan maupun selangkah demi selangkah.
Memikirkan teknik yang akan digunakan secara keseluruhan maupun selangkah
demi selangkah.
Mempersiapkan persiapan yang diperlukan.
Gerak memanjat yang sesuai dengan lintasan dan teknik yang telah di rencanakan.
Penyimpanan energi/ istirahat

Istilah dalam pemanjatan


1.
2.
3.
4.
5.
6.

9.7

Leader
Belayer
Boulder
Travers
Top-rope
Hanging belay

:
:
:
:
:
:

Orang yang pertama memanjat / membuka jalur


Orang yang mengamankan si pemanjat
Latihan ketrampilan/ merambat
Berpindah / kekiri atau kekanan
Memanjat dengan tali yang terpasang
Si pengaman membelay sambil menggantung

Style / Tipe Pemanjatan

Sedikitnya style atau tipe pemanjatan terdiri dari 3 bagian:


1. Artificial Climbing
Adalah pemanjatan yang seluruhnya menggantungkan pada peralatan. Baik itu
peralatan pengaman sisip yang menggunakan rekahan-rekahan maupun peralatan untuk
melubangi tebing yaitu bor.
2. Free Climbing
Dapat diartikan suatu pemanjatan yang on sight, pemanjatan yang benar-benar
menggunakan ketrampilan walaupun tetap menggunakan alat atau pegangan sisip atau
paku tebing, pengaman hanya untuk istirahat dan pengamanan saat pemanjat jatuh
3. Solo Climbing
Adalah teknik pemanjatan yang dilakukan seorang diri tanpa adanya orang kedua
sebagai pengaman.

9.8
1.

Teknik Dasar Pemanjatan


Pegangan
Idealnya, pegangan tangan lebih banyak berfungsi mendukung tumpuan beban di
kaki dan menjaga keseimbangan tubuh dan berfungsi membantu kaki dalam
menopang beban tubuh.
a. Open Grip

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 127 -

Teknik open grip biasa digunakan pada permukaan yang luas bentuk sebuah
genggaman. Apabila permukaan tebing besar untuk sebuah genggaman,
seluruh jari dan telapak tangan teknik ini dapat digunakan.

b.

Pinch Grip
Sesuai namanya, pinch grip adalah teknik pegangan tangan seperti mencubit.
Kekuatan pegangan diperoleh karena tekanan antara ibu jari dengan jari-jari
lainnya secara berlawanan arah mencubit permukaan tebing. Teknik pinch grip
biasa digunakan pada cacat tebing berupa tonjolan.

c.

Crimp Grip
Teknik crimp grip, pada umumnya dilakukan pada permukaan tebing yang
tipis. Teknik ini sangat mengandalkan kekuatan yang besar pada otot-otot jari.

d.

Palming
Dalam teknik palming, bagian telapak tangan yang digunakan sebagai
pegangan. Fungsi tangan pada palming, sebagai penopang dan pendorong
beban tubuh naik ke atas. Teknik ini dapat digunakan pada permukaan tebing
yang slab.

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 128 -

e.

SidePull
Sidepull adalah teknik pegangan dengan cara menarik celah rekahan tebing ke
arah samping kanan atau kiri karena bentuk celah rekahan biasanya
memanjang vertical. Teknik sidepull dapat digunakan misalnya untuk posisi
istirahat selama perintisan jalur dengan cara posisi tangan diluruskan
semaksimal mungkin.

f.

Jamming
Tiga jenis pegangan jamming yaitu :
a. fingers jamming
Digunakan pada crack yang hanya menyisakan celah untuk beberapa ruas
jari. Caranya adalah memasukkan jari-jari ke dalam crack semaksimal
mungkin dengan posisi jempol ke bawah dan telapak tangan menghadap
keluar, lalu putar pergelangan tangan ke arah bawah.

b. Hand Jamming
Apabila crack lebih lebar dan dapat menampung seluruh bagian telapak
tangan, maka teknik ini dapat digunakan. Caranya adalah memasukkan
telapak tangan ke dalam crack dengan posisi jempol diselipkan dibagian
dalam telapak tangan.
UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 129 -

c. Fist Jamming
Kita dapat menggunakan teknik ini untuk crack yang lebih lebar lagi yaitu
dengan cara menjejali crack dengan telapak tangan. Kedua sisi kiri dan
kanan kepalan tangan akan menekan kedua sisi crack sehingga kepalan
tangan mengunci pegangan.

g.

Off-width
Teknik ini digunakan ketika ukuran tangan sudah tidak bisa menjangkau sisi
crack. Crack terlalu lebar untuk dijejali tangan. Cara yang dapat digunakan
untuk adalah dengan memanfaatkan seluruh bagian lengan, mulai dari telapak
tangan hingga punggung dengan menggunakan teknik off-width.

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 130 -

h.

2.

Stemming and Bridging


Digunakan pada crack yang sangat lebar tetapi kedua sisinya masih dijangkau
dengan tangan. Crack untuk teknik ini biasa berbentuk cerobong asap. Crack
semacam ini disebut dengan chimney.

Pijakan
Bentuk pijakan kaki di tebing menyesuaikan dengan bentuk permukaan tebing.
Bentuk permukaan tebing sendiri bervariasi.
a. Smearing
Teknik smearing biasa dipakai pada permukaan tebing slab, yaitu muka tebing
dengan yang kemiringannya kurang dari 90 derajat. Dalam teknik ini, hampir
seluruh beban tubuh bertumpu pada kaki.

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 131 -

3.

b.

Edging
Pada permukaan tebing yang tegak lurus bersudut 90 derajat atau lebih
(overhang). Pijakan kaki lebih optimal menggunakan teknik edging, yaitu
memanfaatkan ujung depan sepatu panjat pada permukaan tebing yang tipis.

c.

Hooking
Kaki tidak hanya berfungsi sebagai pijakan yang menopang tubuh, tetapi
digunakan sebagai pengait yang menahan tubuh saat tubuh dalam posisi
menggantung pada medan overhang atau roof.

Slab dan Overhang


Tebing alam yang yang kita panjat tidak selalu 90 derajat vertikal. Tebing yang
derajat kemiringannya lebih besar dari 90 biasa disebut Slab. Tergantung dari jenis
batu ditebing tersebut, untuk memanjat slab pada umumnya diperlukan banyak
friksi atau kontak dari sebagian besar karet sepatu.
Pada saat memanjat tebing slab posisi badan harus cenderung tegak lurus yang
memungkinkan pusat gravitasi yang jatuh (tekanan berat badan) sepenuhnya
tertumpu pada bagian kaki yang menempel pada tebing. jika memanjat tebing slab
dengan posisi badan yang paralel/ sejajar dengan kemiringan tebing,akan mudah
tergelincir dan jatuh. Posisi yang salah ini sangat populer dikalangan pemula
dikarenakan rasa takut jatuh yang membuat mereka berpikir dengan
memeluk/menempelkan badan ke tebing akan menyelamatkan mereka.
Sedangkan tebing yang kemiringannya lebih kecil dari 90 derajat biasa disebut
Overhang. Untuk memanjat tebing overhang diperlukan kekuatan yang tinggi dan
tehnik memanjat yang baik. Salah satu kekuatan yang penting yaitu core strength
atau kekuatan otot-otot perut, Karena otot perut diperlukan untuk menghubungkan
kekuatan tangan dan kekuatan kaki sehingga badan akan tetap dekat dengan tebing
yang akan membuat mudah mengontrol keseimbangan.

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 132 -

Overhang pada tebing

Hal yang perlu diperhatikan dalam memanjat tebing overhang :


a.

b.

c.

d.
4.

Memanjat dengan cepat. Saat memanjat tebing overhang tangan lebih cepat
lelah. Dengan memanjat cepat dan menggunakan energi yang se-efektif dan
se-efeisien mungkin. Memanjat dengan cepat artinya harus cepat dalam
mengambil keputusan dimana akan menempatkan kaki dan pegangan mana
yang akan dicapai berikutnya.
Pertahankan tiga titik kontak atau Three points of Contact. Rumus ini dikenal
sebagai aturan dasar memanjat tebing untuk para pemula Pada saat
melakukan gerak vertikal usahakan tiga titik tetap menempel yaitu dua kaki
dan satu tangan, atau sebaliknya; dua tangan dan satu kaki.
Pada saat posisi pegangan dan tumpuan kaki sudah bagus dan mendukung
istirahatlah dan goyang-goyangkan tangan dan jari-jari supaya otot-otot lebih
segar untuk mengeksekusi gerak selanjutnya. Untuk pemanjatan rute panjang,
harus pintar-pintar mengambil kesempatan untuk sering beristirahat.
Tetaplah fokus dan bernafas dengan baik.

Ascending
Teknik Ascending yaitu memanjat dengan meniti pada seutas tali yang sudah
tertambat di atasnya. Teknik ascending dilakukan dengan menggunakan alat
ascender. Model ascender yang sering digunakan umumnya jenis jumar. Prinsip
kerja jumar adalah menjepit tali apabila jumar dibebani.selain menggunakan
jumar, ascending dapat dilakukan dengan cara klasik, yaitu menggunakan tali
prussic yang disimpulkan pada fixed rope. Teknik ini disebut prusiking.

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 133 -

5.

Rappeling
Rappelling adalah kebalikan ascending, yaitu teknik memudahkan pemanjat turun
tebing dengan meniti pada tali. Selain rappelling, ada beberapa istilah yang biasa
digunakan untuk turun tebing, seperti abseiling atau ropping down. Teknik
rappelling dilakukan dengan memanfaatkan friksi antara tali dan alat rappelling
(descender). Teknik ini digunakan untuk menuruni tebing.

Prinsip Rappeling adalah sebagai berikut:


a.
b.
c.

Penggunaan gaya berat dan gaya tolak kaki pada tebing sebagai pendorong.
Pengunaan tali rappel sebagai alur lintasan dan tempat bergantung.
Penggunaan salah satu tangan untuk keseimbangan dan satu lagi untuk
mengatur kecepatan turun.

Macam-macam variasi teknik rappling banyak mengalami perkembangan yang


sesuai dengan perkembangan dan peralatan yang diciptakan manusia. Beberapa
cara turun tebing, yaitu :
a.

b.

c.
d.

Body Rappel/Dulfer
Dengan melilitkan tali langsung pada tubuh. Tali rappelling lewat di antara
dua kaki, lalu menyilang diagonal di dada membentuk huruf S dan melewati
bahu.
Sling Rapple
Dengan menggunakan webbing dan carabiner. Webbing dibuat menjadi loop
untuk mengikat kedua paha, lalu dikaitkan pada tali menggunakan carabiner
dan menyilang melewati bahu.
Arm Rapple/Hesti
Menggunakan tali yang dibelitkan pada kedua tangan melewati belakang
badan. Untuk tebing yang tidak terlalu curam.
Break Bar
Teknik ini menggunakan sejumlah karabiner untuk membuat sebuah gaya friksi
yang benar. Selama itu pula mengggunakan figure of eight untuk turun.

Dalam rappeling usahakan selalu posisi badan tegak lurus pada tebing dan jangan
terlalu cepat bergerak. Usahakan kurangi kecepatan, sedikit mungkin benturan
badan pada tebing dan gesekan antara tubuh dengan tali lintasan.
Hal yang perlu diperhatikan sebelum mulai turun tebing :
a.
b.
c.

Periksa dulu anchor, carabiner pengait alat rappelling terkunci.


Pastikan bahwa tidak ada simpul pada tali yang digunakan.
Sebelum sampai ke tepi tebing hendaknya tali sudah terpasang (siap pakai).

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 134 -

d.
e.
f.
g.
h.
6.

Sebelum
mulai
turun
posisi
tangan
jangan
dalam
keadaan
menahan/mengerem.
Jangan lihat ke atas, mungkin ada batu atau tanah yang terjatuh.
Pastikan bahwa pakaian tidak tersangkut carabiner (posisi tubuh agak menjauh
dari tali).
Lihat kemana hendak turun dan, pastikan tali sampai kebawah.
HAPPY LANDING.!!!!!!!

Belaying
Dalam panjat tebing, tali berfungsi mengamankan pemanjat agar tidak terjatuh.
Sistem mengamankan pemanjat menggunakan teknik belay, dimana seorang
pemanjat diamankan oleh seorang belayer dibawah lintasan tebing. Dalam teknik
belay, tanggung jawab belayer cukup besar dalam mengamankan pemanjat.
Kemungkinan jatuhnya pemanjat dapat terjadi setiap saat. Oleh karena itu,
belayer harus fokus dan siaga dalam kondisi apapun. Sebelum pemanjatan, belayer
harus mengecek semua kesiapan termasuk pemanjat. Apakah harness sudah
terpasang dengan baik? Apakah carabiner sudah terkunci dengan benar? Semua
menjadi tanggung jawab seorang belayer.

Beberapa istilah yang digunakan untuk komunikasi antara pemanjat dan belayer
dalam teknik belay sebagai berikut :
a.
b.
c.

Climber Up, Belay On (pemanjat ke belayer).yaitu, pemanjat sudah siap


melakukan pemanjatan, dan belayer siap mengamankan.
On Belay (pemanjat ke belayer). Yaitu, pemanjat sudah siap melakukan
pemanjatan.
Belay On (belayer ke pemanjat). Yaitu, belayer sudah siap mengamankan.

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 135 -

d.
e.
f.
g.
h.

9.9

Off Belay (pemanjat ke belayer). Yaitu, pemanjat meminta belayer untuk


menghentikan belay.
Belay Off (belayer ke pemanjat). Yaitu, belayer menghentikan belay.
Slack (pemanjat ke belayer). Yaitu, perintah mengulur tali.
Pull (pemanjat ke belayer). Yaitu, perintah menarik tali.
Rock !!! (pemanjat ke belayer). Yaitu, peringatan ada batu yang jatuh. Posisi
belayer merapatkan tubuhnya ke tebing.

Perawatan Peralatan Rock Climbing

Dalam rock climbing, peralatan-peralatan yang digunakan harus benar-benar


diperhatikan. Hal ini di sebabkan peralatan tersebut dapat rusak tanpa terlihat
kerusakannya. Bagi seorang pemanjat tebing (Climber), peralatan tersebut ibarat
nyawa bagi mereka yang memang menyangkut keselamatan mereka sendiri. Bila
peralatan tersebut pada saat digunakan rusak, maka taruhannya adalah nyawa. Dengan
kata lain, keselamatan kita tergantung pada perawatan yang digunakan.
Faktor ketelitian dan kecermatan dalam merawat peralatan tersebut sangat penting.
Sebelum digunakan, kita harus meneliti dulu keadaan peralatan yang akan kita
gunakan. Dan yang lebih penting lagi adalah membersihkan lagi peralatan tersebut
setelah digunakan.
Ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam perawatan peralatan rock climbing
antara lain:
1.

JANGAN MENGINJAK TALI, WEBBING, SLING, DAN PERALATAN LAIN YANG


DIGUNAKAN DALAM ROCK CLIMBING.

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 136 -

2.
3.

4.
5.

Hal ini disebabkan bila kita menginjak alat-alat tersebut akan cepat rusak, dimana
kotoran dan tanah yang melekat pada tali yang terbuat dari nylon tersebut dapat
membusuk, ikatan/anyaman dalam tali akan rusak atau putus.
HINDARI GESEKAN TERHADAP ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN SEMINIMAL MUNGKIN.
Bila terlalu sering terjadi gesekan juga akan merusak tali. Gesekan tersebut dapat
terjadi antara lain gesekan tali dengan tebing, tali dengan alat lain.
JANGAN MENJATUHKAN/MELEMPARKAN ALAT-ALAT YANG TERBUAT DARI LOGAM.
Bila hal ini dilakukan maka alat tersebut dapat rusak. Kita kadang tidak sadar
melempar alat-alat tersebut bila sedang digunakan. Hal ini akan mengakibatkan
bagian dalam dari alat tersebut dapat hancur walaupun bagian luarnya masih utuh.
HINDARI PENGGUNAAN OBAT-OBATAN KIMIA/SABUN DALAM PENCUCIAN ALAT.
Bila tidak terlalu kotor cukup dibersihkan dengan air bersih (khusus untuk alat-alat
non logam). Bila dianggap tidak perlu sebaiknya jangan digunakan.
KHUSUS UNTUK TALI JANGAN SAMPAI MELINTIR BILA KITA MENGGULUNG TALI
SETELAH DIGUNAKAN.
Hal ini disebabkan bila tali melintir setelah digulung akan cepat rusak.
Ikatan/anyaman tali menjadi tidak rapat (tidak teratur) dan tali juga akan rusak
karena selalu dalam keadaan tegang dan usahakan tali dalam keadaan normal bila
tidak digunakan.

Kita harus selalu menjaga alat-alat yang ada apabila kita ingin aman dan selamat dalam
kegiatan rock climbing. Selain hal tersebut di atas haraga alat-alat rock climbing di
Indonesia masih tergolong barang yang mahal. Jadi harus dirawat sebaik mungkin bila
kita tidak ingin kehilangan biaya yang mahal.
PEMELIHARAAN TALI
1.

Hindari ujung tali yang terurai. dengan cara dibakar / ditempelkan dengan pisau
panas.
2. Tali kernmantel yang baru dibeli harus terlebih dahulu dicuci agar sisa-sisa bahan
kimia dari pabrik dapat hilang dan lapisan luar dengan lapisan dalam dapat
menyatu. Setelah dipakai ekspedisi atau latihan, tali harus dicuci, jangan
menggunakan air panas atau sabun.
3. Hindari tali dari air panas atau panas matahari, karena nylon akan meleleh pada
suhu 215-220 C.
4. Hindari terjadinya gesekan secara langsung (friksi).
5. Hindari turun dengan cara meloncat dan menghentak tali, karena hal ini dapat
mengurangi daya tahan tali secara perlahan-lahan.
6. Hindari tali dari zat-zat kimia korosif (asam baterai) agar tidak hancur.
7. Jangan menduduki tali atau menginjaknya, karena tanah atau kotoran lainnya
dapat menyelinap masuk diantara serat-serat tali dan mempercepat kerusakan tali,
terutama untuk kernmantel.
8. Bebaskan tali dari segala macam simpul setelah dipakai.
9. Jangan menggantungkan tali dengan beban berat yang cukup lama, dan juga
jangan dipergunakan untuk menarik mobil dan beban berat lainnya. Sebab tali akan
kehilanangan daya elastisnya, sehingga akan cepat putus bila mendapat hentakan
dengan beban yang berat.
10. Ceklah tali sebelum dipergunakan kembali. Tali kernmantel sering mengalami
kerusakan pada bagian dalamnya, misalnya serat-serat yang putus. Rabalah dan
telusuri tali tiap jengkalnya, jika ada yang putus akan terasa perbedaan besar
diameter tali tersebut.
11. Catatlah riwayat tali tersebut untuk mengetahui perkiraan kekuatannya.
Penggunaan tali dianjurkan (tanpa jatuh) tergantung banyak hal :
1.
2.
3.

Frekuensi pemakaian dan cara penanganannya.


Jenis batuan.
Berdasarkan pintalan tali.

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 137 -

4.

Pengaruh cuaca.

Tali dianjurkan untuk tidak digunakan lagi, jika:


1.
2.
3.
4.
5.

Rusak mekanis (tertimpa batu, terinjak crampon dll).


Mantelnya sudah terurai.
Sudah mengalami beberapa fall.
Sudah dipakai secara terus-menerus lebih dari 5 tahun.
Terkena zat kimia ( bensin, oli, dll ).

UNTUK KALANGAN SENDIRI - SMAGAPALA

- 138 -

Anda mungkin juga menyukai