Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH INDIVIDU

HAMA DAN PENYAKIT PENTING TANAMAN


TANAMAN ANGGREK

Disusun oleh :
Nanik Indah Dwi Winawanti

115040201111064

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012

Deskripsi singkat tanaman Anggrek


Kingdom
Divisi
Class
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Plantae
: Magnoliophyta
: Liliopsida
: Orchidales
: Orchidaceae
: Arachnis
: Arachnis sp.

Banyaknya variasi bentuk dan warna bunga anggrek merupakan salah satu keunggulan
dari bunga anggrek. Hal ini sangat mendorong terciptanya varietas-varietas baru yang dapat
dikembangkan dan dibudidayakan secara baik di Indonesia, karena kondisi iklim yang sesuai.
Tanaman anggrek Dendrobium, Phalaenopsis, Oncidium, dan Vanda beserta kerabatnya serta
tanaman anggrek jenis lain merupakan salah satu kelompok tanaman hias yang mempunyai nilai
ekonomi tinggi.
Anggrek dapat dipasarkan dalam bentuk compot (Community Pot), tanaman
individu/tanaman remaja,tanaman dewasa dan bunga potong. Pertanaman anggrek dapat
dilakukan melalui tahapan (1) Protocorm like bodies sampai menjadi plantlet siap keluar dari
botol waktu yang dibutuhkan 1 tahun, (2) Compot plantlet menjadi seedling dalam bentuk
compot diperlukan waktu 6 bulan, (3) compot menjadi seedling dalam bentuk individu
dibutuhkan waktu 6 bulan, (4) seedling individu menjadi tanaman remaja dibutuhkan waktu
6 bulan, dan (5) tanaman remaja menjadi dewasa dan siap berbunga 6 bulan. Analisa usahatani
untuk luasan 1000 m2, besar biaya untuk usaha compot setelah ditambahkan dengan bunga
modal adalah sebesar Rp. 137,9 juta, untuk usaha tanaman individu/remaja sebesar Rp 84,5 juta,
untuk usaha tanaman dewasa sebesar Rp 163,1 juta dan untuk industri bunga potong sebesar Rp
162,8 juta. Pada jenis usaha primer, bila dilihat dari sisi penerimaan, didapatkan produk anggrek
dalam bentuk tanaman dewasa dalah yang terbesar yaitu sekitar Rp 216 juta, kemudian diikuti
oleh compot (Rp 194,4 juta), bunga potong (Rp 180,1 juta) dan tanaman individu/tanaman
remaja (Rp 129,7 juta). R/C ratio yang didapatkan usaha tanaman individu dan remaja lebih
menguntungkan dibandingkan produk lainnya, yang ditunjukkan oleh R/C ratio sebesar 1,53.
R/C ratio sebesar 1,53 artinya setiap Rp 1,- yang dikeluarkan untuk pengusahaan anggrek dalam
bentuk tanaman individu/remaja diperoleh keuntungan sebesar Rp 1,53,-.
2

Selera konsumen terhadap mutu bunga potong anggrek dipengaruhi dan ditentukan oleh
produsen dan trend luar negeri. Pada saat ini anggrek yang dominan disukai masyarakat adalah
jenis Dendrobium (34 %), diikuti oleh Oncidium Golden Shower (26 %), Cattleya (20 %) dan
Vanda (17 %) serta anggrek lainnya (3 %). Pemilihan warna bunga anggrek yang dikonsumsi
banyak dipengaruhi oleh maksud penggunaannya. Pada hari Natal warna bunga yang disukai
didominasi oleh warna putih; pada hari Imlek disukai warna merah, pink dan ungu; untuk
keperluan ulang tahun banyak digunakan warna lembut, seperti putih, pink, ungu, sedangkan
untuk menyatakan belasungkawa umumnya digunakan warna kuning dan ungu.
Berdasarkan habitatnya tanaman anggrek dibagi dalam 2 golongan yaitu epifit dan
terestrial. Anggrek epifit adalah anggrek yang hidup menumpang pada batang pohon atau
sejenisnya, namun tidak merugikan tanaman yang ditumpanginya dan membutuhkan naungan.
Anggrek terestrial adalah anggrek yang hidup dan tumbuh di atas permukaan tanah dan
membutuhkan cahaya matahari langsung. Secara alami anggrek (Famili Orchidaceae) hidup
epifit pada pohon dan ranting-ranting tanaman lain, namun dalam pertumbuhannya anggrek
dapat ditumbuhkan dalam pot yang diisi media tertentu. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan tanaman, seperti faktor lingkungan, antara lain sinar matahari,
kelembaban dan temperatur serta pemeliharaan seperti : pemupukan, penyiraman serta
pengendalian OPT.
Pada umumnya anggrek-anggrek yang dibudidayakan memerlukan temperatur 28 + 2 C
dengan temperatur minimum 15 C. Anggrek tanah pada umumnya lebih tahan panas dari pada
anggrek pot. Tetapi temperatur yang tinggi dapat menyebabkan dehidrasi yang dapat
menghambat pertumbuhan tanaman. Kelembaban nisbi (RH) yang diperlukan untuk anggrek
berkisar antara 6085%. Fungsi kelembaban yang tinggi bagi tanaman antara lain untuk
menghindari penguapan yang terlalu tinggi. Pada malam hari kelembaban dijaga agar tidak
terlalu tinggi, karena dapat mengakibatkan busuk akar pada tunas-tunas muda. Oleh karena itu
diusahakan agar media dalam pot jangan terlampau basah. Sedangkan kelembaban yang sangat
rendah pada siang hari dapat diatasi dengan cara pemberian semprotan kabut (mist) di sekitar
tempat pertanaman dengan bantuan sprayer.

Berdasarakan pola pertumbuhannya, tanaman anggrek dibedakan menjadi dua tipe yaitu,
simpodial dan monopodial. Anggrek tipe simpodial adalah anggrek yang tidak memiliki batang
utama, bunga ke luar dari ujung batang dan berbunga kembali dari anak tanaman yang tumbuh.
Kecuali pada anggrek jenis Dendrobium sp. yang dapat mengeluarkan tangkai bunga baru di sisisisi batangnya. Contoh dari anggrek tipe simpodial antara lain : Dendrobium sp., Cattleya sp.,
Oncidium sp.,dan Cymbidium sp. Anggrek tipe simpodial pada umumnya bersifat epifit.
Anggrek tipe monopodial adalah anggrek yang dicirikan oleh titik tumbuh yang terdapat di ujung
batang, pertumbuhannnya lurus ke atas pada satu batang. Bunga ke luar dari sisi batang di antara
dua ketiak daun. Contoh anggrek tipe monopodial antara lain : Vanda sp., Arachnis sp.,
Renanthera sp., Phalaenopsis sp., dan Aranthera sp.
Program pengembangan tanaman anggrek adalah (1) penyediaan varietas unggulan
spesifik lokasi dibarengi dengan perbanyakan benih secara mericlonal untuk mendapatkan
tanaman seragam, (2) penerapan SOP berbasis GAP, (3) Pengembangan kawasan sentra produksi
berbasis pasar dan potensi daerah, (4) peningkatan kualitas SDM, (5) pengembangan
kelembagaan on farm dan off farm dalam pola koperasi, korporasi manajemen dan konsorsium,
(6) pengembangan jejaring dan jaringan kerja di dalam dan luar negeri, (7) Pengembangan
sistem informasi, (8) Penataan data base dan penyusunan profil tanaman anggrek, (9) Promosi
peluang usaha agribisnis anggrek.
Dalam upaya menarik investasi dan pengembangan anggrek, dibutuhkan berbagai
dukungan kebijakan, antara lain: kemudahan perijinan termasuk CITES, keringanan pajak,
kemudahan cargo dan transportasi udara, penyediaan pendingin di bandara, kemudahan ekspor,
pembebasan bea masuk untuk alat dan bahan-bahan kimia yang digunakan untuk pengembangan
agribisnis anggrek dan membangun sistem kemitraan.

A. Deskripsi singkat tentang hama / pathogen


HAMA
1. Kutu putih (Dialeurodes citri)
Deskripsi singkat: Kutunya kecil dan berwarna
kelabu kemerahan. Terdapat pada titik tumbuh,
diketiak daun dan pada akar gantung. Biasanya kutu
ini melindungi dirinya dengan bahan halus seperti
kapas berwarna putih. Hidupnya bersymbiosis
dengan semut.

Bioekolgi: Seluruh tubuh tertutup oleh lilin termasuk tonjolan pendek yang terdapat pada
tubuhnya. Kutu berwarna coklat kemerahan, panjang 2 mm, dan memproduksi embun madu
sehingga menarik bagi semut untuk berkumpul. Kutu memperbanyak diri melalui atau tanpa
perkawinan (partenogenesis). Perkembangan satu generasi memerlukan waktu selama 36 hari.
Klasifikasi:
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Upafamili:
Genus:
Spesies:

Animalia
Arthropoda
Insecta
Siphonaptera
Pulicidae
Pulicinae
Pulex
Dialeurodes citri

Gejala Serangan:
Pada Dendrobium sp., kutu menyerang ujung akar, bagian daun sebelah bawah dan
batang. Bagian tanaman terserang akan berwarna kuning dan akhirnya mati karena hama ini
mengisap cairan sel. Pada Phalaenopsis sp., kutu menyerang ketiak daun di sekitar titik
tumbuhnya, sehingga menyebabkan tanaman mati.

Kisaran inang:
Hama ini tersebar luas dan merupakan hama penting pada tanaman buah-buahan dan
tanaman hias. Contoh tanaman buah-buahan adalah tanaman jambu dan tanaman hias adalah
tanaman melati. Selain itu juga dapat menyerang Salak, kelapa, jati, kopi, bambu, asam, dadap,
durian, jeruk, lamtoro, berbagai tanaman hias seperti gerbera, hibiscus, drasena, helikonia, palm,
sikas, alpinia.
Pengendalian :
Bersihkan daun dengan kapas/tissue dan air sabun, buang pelepah daun yang sudah mati. Karena
hama ini mempunyai kulit seperti lilin maka insektisida-langsung akan kurang ampuh, lebih baik
menggunakan insektisida-sistemik.

2. Tungau Merah (Tennuipalvus orchidarum Parf)

Deskripsi singkat: Serangga ini sangat kecil (0,20,3 mm) berwarna kemerahan jumlahnya banyak,
menghisap cairan dan klorofil daun.

Bioekolgi: Tungau dapat dijumpai pada daun, pelepah daun dan bagian-bagian tersembunyi
lainnya. Telur tungau berwarna merah, bulat dan diletakkan membujur pada permukaan atas
daun.
Klasifikasi:
Kingdom

:Animalia

Filum

:Arthropoda

Kelas

:Arachnida

Sub-Kelas

:Acari,

Ordo

:Acariformes

Sub-Ordo

: Prostigmata,

Famili

: Tetranychidae

Genus

:Euritetranychus

Spesies

:Euritetranychus sp.

Gejala Serangan:
Tungau sangat cepat berkembang biak dan dalam waktu singkat dapat menyebabkan
kerusakan secara mendadak. Bagian tanaman yang diserang antara lain tangkai daun dan bunga.
7

Tangkai yang diserang akan berwarna seperti perunggu. Pada permukaan atas daun terdapat
titik/bercak berwarna kuning atau coklat, kemudian meluas dan seluruh daun menjadi kuning.
Pada permukaan bawah berwarna putih perak dan bagian atas berwarna kuning semu. Pada
tingkat serangan lanjut daun akan berbercak coklat dan berubah menjadi hitam kemudian gugur.
Pada daun Phalaenopsis sp. mula-mula berwarna putih keperakan kemudian menjadi kuning.
Hama ini dapat berjangkit baik pada musim hujan maupun musim kemarau, namun umumnya
serangan meningkat pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan serangan berkurang
karena terbawa air. Kerusakan dapat terjadi mulai dari pembibitan.
Kisaran inang:
Jenis-jenis yang dapat diserang hama ini adalah Phalaenopsis sp., Dendrobium sp.,
Orchidium sp., Vanda sp. dan Granatophyllium sp., kapas, kacang-kacangan, jeruk, dan gulma
terutama golongan dikotil.
Pengendalian :
Daun digosok dengan kapas dan air sabun atau alkohol 70%; apabila serangan sudah
parah, harus disemprot dengan insektisida (Kelthane). Dengan meningkatkan kelembaban
merupakan salah satu pencegahan dari serangan hama ini.

3. Kumbang Gajah ((Orchidophillus atterimus)


Deskripsi singkat: kumbang gajah adalah hama
anggrek yang paling susah dikendalikan. Tusukan
kumbang gajah ini selain menghisap nutrisi juga
bisa menimbulkan infeksi sekunder yaitu jalan
masuknya

cendawan.

Kemampuannya

untuk

bersembunyi di seludang daun dan lipatan anggrek


menjadikan kutu gajah sulit dikendalikan.

Bioekolgi: Kumbang berwarna hitam kotor/tidak mengkilap dengan ukuran bervariasi 3,5-7 mm
termasuk moncong. Kumbang bertelur pada daun atau lubang pada batang tanaman. Larva
menggerek ke jaringan batang atau masuk ke pucuk/kuncup dan tangkai sampai menjadi pupa.
Fase larva (ulat), pupa (kepompong) sampai dewasa (kumbang) berlangsung dalam pseudobulb.
Larva yang baru menetas menggerek pseudobulb, makan dan tinggal di dalam pseudobulb
tersebut. Pupa terbungkus oleh sisa makanan dan terletak di rongga bekas gerekan di dalam
pseudobulb.

Klasifikasi:
Kingdom

:Animalia

Filum

:Arthropoda

Kelas

:Insecta

Ordo

: Coleoptera

Famili

: Curculionidae

Genus

: Acythpeus

Spesies

: Orchidophillus atterimus

Gejala Serangan:
Kumbang bertelur pada daun atau lubang batang tanaman. Kerusakan terjadi karena
larvanya menggerek daun dan memakan jaringan di bagian dalam batang sehingga
mengakibatkan aliran air dan hara dari akar terputus serta daun-daun menjadi kuning dan layu.
Kerusakan pada daun menyebabkan daun berlubang-lubang. Larva juga menggerek batang umbi,
pucuk dan batang untuk membentuk kepompong, sedangkan kumbang dewasa memakan
epdermis/permukaan daun muda, jaringan/tangkai bunga dan pucuk/kuntum sehingga dapat
mengakibatkan kematian bagian tanaman yang dirusak. Serangan pada titik tumbuh dapat
mematikan tanaman. Pada pembibitan Phalaenopsis sp. dapat terserang berat hama ini. Seangan
kumbang gajah dapat terjadi sepanjang tahun, tetapi paling banyak terjadi pada musim hujan,
terutama pada awal musim hujan tiba.
9

Kisaran inang:
Jenis anggrek yang diserang adalah anggrek epifit antara lain Arachnis sp., Cattleya sp.,
Coelogyne sp., Cypripedium sp., Dendrobium sp., Cymbidium sp., Paphiopedilum sp.,
Phalaenopsis sp., Renanthera sp., dan Vanda sp.
Pengendalian:
Kumbang atau kepompong dikumpulkan dengan tangan lalu dibakar. Penggunaan
insektisida yang terdaftar dan diizinkan antara lain berbahan aktif karbofuran, profenofos. Media
tanam untuk menyemai diberi pupuk yang telah dicampur insektisida sistemik butiran.
4. Kutu Perisai (Parlatoria proteus Curt.)
Deskripsi singkat: kutu perisai menempel pada
daun yang akan membuat daun menjadi kuning lalu
kecoklatan sampai akhirnya kering dan mati.

Bioekolgi: Kutu mempunyai perisai berwarna coklat merah berukuran + 1,5 mm, kutu dewasa
berwarna gelap berbentuk bulat, pipih, melekat pada bagian tanaman terserang. Telurnya
diletakkan di bawah perisai/tempurung, sehingga tidak terlihat dari atas. Larva tidak bertungkai,
berbentuk bulat. Kutu dewasa betina tidak bersayap sedangkan yang jantan bersayap.

Klasifikasi:
10

Kingdom

:Animalia

Filum

:Arthropoda

Kelas

:Insecta

Ordo

: Hemiptera

Famili

: Diaspididae

Gejala Serangan:
Tanaman yang terserang berwarna kuning merana, kadang-kadang daun berguguran.
Kisaran inang:
Kutu ini tersebar luas dan terutama dijumpai pada tanaman anggrek Dendrobium sp.,
Renanthera sp., Vanda sp. dan jenis-jenis anggrek tanah, dan palem.
5. Kumbang Penggerek (Omobaris calanthes Mshl)
Deskripsi singkat: Serangan berat kumbang ini
menyebabkan tanaman terlihat merana dan dapat
mematikan tanaman anggrek secara keseluruhan.

Bioekolgi: larva kumbang ini menggerek masuk ke jaringan akar/umbi, pucuk dan tangkai bunga
sehingga dinding gerekan menjadi hitam. Sedangkan kumbang dapat dijumpai di bagian tengah
tanaman di antara daun bawah. Pertumbuhan larva dapat mencapai panjang 5 mm. Larvanya
yang menetas dari telur dapat merusak daun anggrek.

Klasifikasi:
11

Kingdom

:Animalia

Filum

:Arthropoda

Kelas

:Insecta

Ordo

: Colepotera

Famili

: Curculionidae

Gejala Serangan:
Serangga membuat sejumlah lubang, seringkali berbaris di daun dan juga tunas utama
yang masih terlipat yang kemudian dapat patah dan mati. Pada tahap awal seringkali merusak
akar tanaman dan pada saat bunga masih kuncup. Serangan menyebabkan tanaman terlihat
merana dan dapat mematikan tanaman anggrek secara keseluruhan.
Kisaran inang:
Jenis anggrek yang diserang terutama adalah anggrek tanah terutama jenis Calanthe sp.
dan Phajus sp.
6. Thrips Anggrek (Dichromothrips = Eugniothrips) atau (smithi = Zimm)
Deskripsi singkat: Tanaman yang terserang akan
menjadi seperti kertas yang kusut dan pertumbuhan
daun serta bunga tersebut akan menjadi tidak baik.

Bioekolgi: Hama ini sangat kecil, dan berwarna abu-abu, ada juga yang berwarna kecoklatan.
Panjangnya kira-kira 1-1 mm. Trips mempunyai tiga pasang kaki, dan berbadan ramping.

Klasifikasi:
12

Kingdom

:Animalia

Filum

:Arthropoda

Kelas

:Insecta

Ordo

: Thysanoptera

Sub Ordo

: Terebrantia

Gejala Serangan:
Serangan hama ini mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat, bunga berguguran,
daun berubah bentuk dan berwarna keperakan. Pada musim kemarau serangan thrips dapat
mengakibatkan penurunan produksi bunga.
Kisaran inang:
Thrips anggrek dari P. Jawa ditemukan pula di Taiwan. Thrips mengakibatkan kerusakan
serius pada pembibitan anggrek Arachnis sp., Cattleya sp., Dendrobium sp., Renanthera sp., dan
Vanda sp.
Pengendalian : secara periodik dan teratur pot anggrek disemprot dengan insektisida kimia
(Akothion, Supracide dll).
Pengendalian : secara periodik dan teratur pot anggrek disemprot dengan insektisida kimia
(Akothion, Supracide dll).
7. Semut

13

Deskripsi singkat: Semut suka berbondongbondong datang, saat tanaman anggrek sedang
bertunas atau mulai mengeluarkan kuncup bunga.
Semut akan menggigit tunas muda maupun
kuncup bunga. Sehingga melukai bagian tersebut.

Bioekolgi: Semut akan menggigit tunas muda maupun kuncup bunga. Sehingga melukai
bagian tersebut. Cairan sel yang keluar dari luka tersebut sebagai makanan semut. Dengan
demikian tanaman anggrek tersebut akan kekurangan cairan sel. Juga luka yang timbul
memberikan peluang jamur dan bakteri masuk. Yang akan menyebabkan busuk tunas. Semut
juga merusak sistem perakaran, dengan menggigit ujung-ujung akar. Kebiasaan semut
membawa kutu putih, juga merusak tanaman.

Klasifikasi:
Kingdom

:Animalia

Filum

:Arthropoda

Kelas

:Insecta

Ordo

: Hymenoptera

Famili

: Formicidae

Gejala Serangan:
Semut dapat merusak akar dan tunas muda yang disebabkan oleh cendawan.
Kisaran inang:
Jenis-jenis yang dapat diserang hama ini adalah Phalaenopsis sp., Dendrobium sp.,
Orchidium sp., Vanda sp. dan Granatophyllium sp., kapas, kacang-kacangan, jeruk, semut juga
merupakan hama penting pada tanaman buah-buahan dan tanaman hias.
14

Pengendalian : pot direndam dalam air, basmi hama (scale, aphid atau kutu putih) yang
mengeluarkan cairan manis tersebut dengan insektisida dan ciptakan lingkungan bersih di sekitar
lokasi tanaman.

8. Kumbang Penggerek Akar (Diaxenes phalaenopsidis Fish)


Deskripsi singkat: Larva menggerek akar sehingga
akar mengering dan dapat mengakibatkan kematian.

Bioekolgi: Telur berwarna hijau terang dengan panjang 2,4 mm dan diletakkan di bawah kutikula
akar. Larva berwarna kuning dan membentuk pupa dalam suatu kokon yang berserabut/berserat
padat. Kumbang dapat hidup sampai 3 bulan dan daur hidup mencapai 50-60 hari. Pada siang
hari kumbang ini bersembunyi dan pada malam hari memakan daun bagian atas dan
meninggalkan potongan/bekas gerekan yang tidak beraturan di permukaan.

Klasifikasi:
Kingdom

:Animalia

Filum

:Arthropoda

Kelas

:Insecta
15

Ordo

: Colepotera

Famili

: Cerambycidae

Gejala Serangan:
Larva menggerek akar sehingga akar mengering dan dapat mengakibatkan kematian.
Larva juga menyerang bunga. Kerusakan yang diakibatkan oleh hama ini akan sangat berat jika
tidak segera dikendalikan.

Kisaran inang:
Larva maupun kumbang ini dapat menyerang tanaman anggrek Renanthera sp., Vanda
sp., Dendrobium sdp., Oncidium sp. dan lebih khusus anggrek Phalaenopsis sp.
9. Siput Setengah Telanjang (Slug) (Parmarion pupillaris)
Deskripsi singkat: Siput menyukai kelembaban,
Siput memakan daun dan membuat lubang-lubang
tidak beraturan pada daun.

Bioekolgi: Siput tidak memiliki cangkok, berukuran panjang 5 cm, berwarna coklat kekuningan
atau coklat keabuan. Rumah pada punggungnya kerdil dan sedikit menonjol. Siput tidak beruas,
badannya lunak, bisa mengeluarkan lendir, berkembang biak secara hermaprodit namun sering
juga terlihat mereka mengadakan perkawinan dengan sesama. Siput menyukai kelembaban. Telur
diletakkan pada tempat-tempat yang lembab. Siput biasanya pada waktu siang hari bersembunyi
di tempat yang teduh dan aktif mencari makan pada malam hari. Alat untuk makan berbentuk
seperti lidah yang kasar seperti parut yang disebut radula.

Klasifikasi:
16

Phyllum : Mollusca
Gejala Serangan:
Siput memakan daun dan membuat lubang-lubang tidak beraturan. Seringkali ditandai
dengan adanya bekas lendir sedikit mengkilat dan kotoran. Akar dan tunas anakan juga diserang.
Seringkali merusak pesemaian atau tanaman yang baru saja tumbuh. Siput juga makan bahan
organik yang telah membusuk atauun tanaman yang masih hidup.
Kisaran inang:
Bersifat polifag, selain menyerang anggrek juga pada kol, sawi, tomat, kentang,
tembakau, karet dan ubi jalar.
Pengendalian : dalam jumlah sedikit cukup diambil/dibunuh; bila jumlah banyak perlu memakai
insektisida.

10. Bekicot (Achatina fulica)


Deskripsi singkat: Bekicot ini akan bersembunyi
di bawah pot, di balik daun atau di dalam media
tanaman anggrek. Yang paling sering terserang
adalah jenis phalaeonopsis atau jenis anggrek
berdaun

tebal

(sukulen)

dan

tanaman

yang

terserang, daunnya akan berlubang-lubang sehingga


merusak penampilan anggrek tersebut.
Bioekolgi: Bekicot mempunyai cangkok (rumah), dengan ukuran panjang + 10-13 cm. Pada
waktu siang hari bekicot ini sering istirahat pada batang pepaya, pisang dan dinding rumah. Pada
waktu malam hari mencari makanan. Siang hari mencari tempat perlindungan di lubang tanah,
kaleng atau bambu. Bila diganggu mereka akan menarik kepalanya ke dalam rumahnya. Kadangkadang dapat mengeluarkan suara. Pada waktu musim kemarau yang panjang dan udara panas,
kepala dan seluruh badan dimasukkan dalam rumah dan lubangnya ditutup dengan suatu lapisan
membran yang tebal hingga ia dapat bertahan hidup selama musim kemarau + 6 bulan. Bila
17

musim hujan tiba dalam beberapa jam mereka dapat segera mengakhiri masa istirahatnya dan
mulai mencari makanan. Bekicot yang baru saja menetas bisa tahan tidak makan selama 1 bulan.
Bekicot yang besar bisa tahan terendam air tawar selama 12 jam, tetapi kalau air mengandung
garam bekicot akan mati dengan pelan-pelan. Telurnya berwarna kuning dengan diameter + 5
mm, biasanya terdapat dalam kelompok telur yang jumlahnya 100-500 butir gumpalan telur yang
diameternya bisa sampai + 5 cm. Biasanya terletak di bawah batu, tanaman atau dalam tanah
gembur. Telur ini akan menetas dalam 10-14 hari.

Klasifikasi:
Phyllum : Mollusca
Gejala Serangan:
Bekicot banyak merusak seluruh bagian tanaman dengan memakan daun dan bagian
tanaman lain. Selain itu juga makan tanaman yang telah mati.
Kisaran inang:
Bekicot selain merusak tanaman anggrek, juga tanaman bunga bakung, bunga dahlia,
pepaya, tomat.

11. Kepik Anggrek (Mertila malayensis Dist.)

18

Deskripsi singkat: kepik menghisap cairan daun


tanaman anggrek, sehingga menyebabkan bintik
putih/kuning.

Bioekolgi: Kepik berwarna merah kehitaman. Telur diletakkan di daun, dan nimfa yang baru
menetas berwarna merah mirip dengan tungau. Serangga biasanya hidup berkelompok, jika
diganggu maka akan melarikan diri dengan cepat. Di Salatiga siklus hidup sekitar 4 minggu, dan
serangga dewasa dapat hidup selama 2 bulan.

Klasifikasi:
Kingdom

:Animalia

Filum

:Arthropoda

Kelas

:Insecta

Ordo

: Hemiptera

Gejala Serangan:
Serangan kepik menimbulkan gejala bintik-bintik putih kuning pada permukaan atas dan
bawah daun anggrek. Kadang-kadang titik-titik tersebut sangat rapat sehingga merupakan bercak
putih. Tanaman yang terserang lama-lama menjadi gundul.
Kisaran inang:
Kepik ini memiliki daerah penyebaran meliputi wilayah Asia Selatan dan Timur. Kepik
dapat ditemukan pada anggrek Phalaenopsis sp., Bulbophyllum sp., Renanthera sp., Vanda sp.

12. Kutu Daun Anggrek (Cerataphis oxhidiarum)


19

Deskripsi singkat: Kutu daun ini berwarna coklat


gelap sampai hitam, daun yang terserang berubah
menjadi kuning, kemudian coklat, akhirnya mati.

Bioekolgi: Spesies kutu daun ini berwarna coklat gelap sampai hitam. Pada waktu masih muda,
serangga berwarna hijau. Penyebaran meliputi di daerah tropis.

Klasifikasi:
Kingdom

:Animalia

Filum

:Arthropoda

Kelas

:Insecta

Ordo

: Homoptera

Famili

: Aphidoidea

Gejala Serangan:
Kutu daun menempel pada daun, dan menyebabkan daun yang terserang berubah menjadi
kuning, kemudian coklat, akhirnya mati.
Kisaran inang:
Kutu ini tersebar luas dan terutama dijumpai pada tanaman anggrek Dendrobium sp.,
Renanthera sp., Vanda sp. dan jenis-jenis anggrek tanah.
13. (Chliaria othona)
20

Deskripsi singkat:
Ulat ini merusak bagian dari tanaman mulai dari
daun sampai bunga

Bioekolgi: Ulat berbentuk pipih. Larva yang baru menetas dari telur masuk ke dalam pucuk
sampai bunga. Stadia pupa terjadi di daun dan umbi-umbian dalam lapisan anyaman dan pupa
berbalut lapisan sutera.

Klasifikasi:
Kingdom
Kelas
Ordo
Famili

: Animalia
: Insecta
: Lepidoptera
: Lycaenidae

Gejala Serangan:
Ulat memakan bunga atau pucuk anggrek. Setelah menetas dari telur segera masuk dan merusak
ke dalam pucuk sampai ke bunga.
Kisaran inang:
Ulat ini menyerang jenis-jenis anggrek Dendrobium sp., Phalaenopsis sp., Arundina sp., Phajus
sp.

21

PATHOGEN
1. Penyakit Busuk Hitam (Phytopthora spp.)
Deskripsi singkat: Pada Vanda, mula-mula pada
pangkal daun terjadi bercak hitam kecoklatan tidak
teratur, dengan cepat meluas ke seluruh permukaan
daun

dan

umumnya

pada

daun-daun

penyakit

timbul

sekitarnya.
di

daerah

Pada
pucuk

tanaman. Pada bagian ini daun-daun berwarna


hitam coklat kebasah-basahan dan mudah sekali
gugur. Kadang-kadang penyakit juga timbul pada
batang dan daerah perakaran.
Epidemiologi: Cendawan membentuk sporangium, mudah terlepas, bulat telur atau jorong,
pangkalnya membulat, mempunyai tangkai pendek dan hialin. Spora Phytophthora dapat
dipencarkan oleh angin, dan percikan air. Akar rimpang dapat dapat terinfeksi karena patogen
yang terbawa oleh pisau yang dipakai untuk memotong (memisahkan tanaman). Penyakit juga
berkembang oleh kelembaban yang tinggi, karena air membantu pembentukan, pemencaran, dan
perkecambahan spora.
Gejala Serangan:
Infeksinya tampak dengan adanya noda-noda hitam yang menjalar dari bagian tengah
tanaman hingga ke daun. Dalam waktu relatif singkat seluruh daun sudah berjatuhan. Cendawan
ini menyerang pucuk tanaman dan titik tumbuh. Bagian pangkal pucuk daun terlihat basah dan
bila ditarik mudah terlepas. Bila menyerang titik tumbuh, pertumbuhan akan terhenti.
Penyebaran penyakit ini sangat cepat bila keadaan lingkungan lembab.
Pada Cattleya penyakit dapat timbul pada daun, umbi semu, akar rimpang dan kuncup
bunga. Penyakit ini juga dapat timbul pada pesemaian sebagai penyakit busuk rebah. Pada daun
terjadi bercak besar, berwarna ungu tua, coklat keunguan, atau hitam. Bercak dikelilingi halo
kekuningan. Dari daun penyakit berkembang ke umbi semu, akar rimpang, bahkan mungkin ke
seluruh tanaman. Jika penyakit mula-mula timbul pada umbi semu, maka umbi ini akan menjadi
22

hitam ungu, dan semua yang terletak di atasnya akan layu. Seringkali daun menjadi rapuh
dengan goyangan sedikit saja daun akan terlepas sedikit di atas umbi semu. Infeksi yang terjadi
pada permukaan tanah dapat menyebabkan busuk kaki.
Kisaran inang:
Penyakit ini terutama dijumpai pada anggrek Cattleya sp., Phalaenopsis sp., Dendrobium
sp., Epidendrum sp. dan Oncidium sp.

2. Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides)


Deskripsi singkat: Cendawan ini bersifat parasit
lemah, yang hanya dapat mengadakan infeksi pada
tanaman yang keadaannya lemah, terutama melalui
luka-luka, termasuk luka karena terbakar matahari.
Terjadinya penyakit juga dibantu oleh pemberian
pupuk nitrogen yang terlalu banyak.

Epidemiologi: C. gloeosporioides berbentuk aservulus pada bagian yang mati (nekrosis) yang
berbatas tegas, biasanya berseta, kadang-kadang berseta sangat jarang atau tidak sama sekali.
Aservulus berbentuk bulat, memanjang atau tidak teratur, garis tengahnya dapat mencapai 500
m. Seta mempunyai panjang yang bervariasi, jarang lebih dari 200 m, dengan lebar 4-8
m, bersekat 1-4, berwarna coklat, pangkalnya agak membengkak, mengecil ke ujung, pada
ujungnya kadang-kadang berbentuk konidium. Konidium berbentuk tabung, ujungnya tumpul,
pangkalnya sempit terpancung, hialin, tidak bersekat, berinti 1,9-24 x 3,6 m. Konidiofor
berbentuk tabung, tidak bersekat, hialin atau coklat pucat.
C. gloeosporioides tersebar luas, sebagai parasit lemah pada bermacam-macam tumbuhan inang,
bahkan ada yang hanya hidup sebagai saprofit. Cendawan dapat mempertahankan diri dengan
hidup secara saprofitis pada bermacam-macam sisa tanaman sakit. Pada cuaca menguntungkan
jamur membentuk konidium. Karena terbentuk dalam massa yang lekat, konidium dipencarkan
oleh percikan air, dan mungkin oleh serangga. Pembentukan konidium dibentuk oleh cuaca yang
23

lembab, sedang pemencaran konidium dibantu oleh percikan air hujan maupun siraman.

Gejala Serangan:
Pada daun atau umbi semu mula-mula timbul bercak bulat, mengendap, berwarna kuning
atau hijau muda. Akhirnya bercak menjadi coklat dan mempunyai bintik-bintik hitam yang
terdiri dari tubuh buah (aservulus) cendawan. Pada umumnya bintik-bintik ini teratur pada
lingkaran-lingkaran yang terpusat. Dalam keadaan yang lembab tubuh buah mengeluarkan massa
spora (konidium) yang berwarna merah jambu atau jingga. Daun yang terserang akan gugur
akhirnya umbi akan gundul. Pada bunga, penyakit menyebabkan terjadinya bercak-bercak coklat
kecil yang dapat membesar dan bersatu sehingga dapat meliputi seluruh bunga. Cendawan dapat
mempertahankan diri dengan hidup secara saprofitik pada sisa tanaman sakit. Pada cuaca
menguntungkan (lembab), cendawan membentuk konidium yang apabila terbentuk dalam massa
yang lekat, konidium dipencarkan oleh percikan air hujan/air siraman, mungkin juga oleh
serangga.
Kisaran inang:
Penyakit ini dijumpai pada anggrek jenis Dendrobium sp., Arachnis sp., Ascocendo sp.,
Phalaenopsis sp., Vanda sp. dan Oncidium sp.
PENGENDALIAN:
Penyakit antraknosa dapat di kendalikan dengan cara antara lain yaitu seperti: Mengusahakan
agar tanaman anggrek berada dalam kondisi yang baik dan di lakukan pemupukan tanaman
dengan dosis yang seimbang sesuai. Mengurangi kelembaban tanaman dan Tidak menyiram
tanaman sehingga tanaman menjadi basah, dapat membantu mengurangi penyebaran penyakit
antraknosa.

24

3. Layu (Sklerotium rolfsii Sacc.)


Deskripsi singkat: S. rolfsii terutama berkembang
dalam cuaca yang lembab. Cendawan dapat
menginfeksi tanaman anggrek melalui luka ataupun
tidak, bila melalui luka infeksi akan berlangsung
lebih cepat. Di Indonesia Oncidium sp. dan
Phalaenopsis sp. sangat rentan terhadap S. rolfsii,
Cattleya sp. agak tahan, sedangkan Dendrobium sp.
sangat tahan.
Epidemiologi: S. rolfsii adalah cendawan yang kosmopolit, dapat menyerang bermacam-macam
tumbuhan, terutama yang masih muda. Cendawan itu mempunyai miselium yang terdiri dari
benang-benang berwarna putih, tersusun seperti bulu atau kipas. Cendawan tidak membentuk
spora. Untuk pemencaran dan mempertahankan diri cendawan membentuk sejumlah sklerotium
yang semula berwarna putih kelak menjadi coklat dengan garis tengah kurang lebih 1 mm. Butirbutir ini mudah sekali terlepas dan terangkut oleh air. Sklerotium mempunyai kulit yang kuat
sehingga tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan. Di dalam tanah sklerotium dapat bertahan
selama 6-7 tahun. Dalam cuaca yang kering sklerotium akan mengeriput, tetapi justru akan
berkecambah dengan cepat jika kembali berada dalam lingkungan yang lembab.
Gejala Serangan:
Tanaman yang terserang menguning dan layu. Infeksi terjadi pada bagian-bagian yang
dekat dengan tanah. Bagian ini membusuk, dan pada permukaannya terdapat miselium cendawan
berwarna putih, teratur seperti bulu. Miselium ini membentuk sklerotium, yang semula berwarna
putih, kelak berkembang menjadi butir-butir berwarna coklat yang mirip dengan biji sawi. Pada
Phalaenopsis penyakit menyebabkan busuk akar dan pangkal daun. Jaringan menjadi berwarna
kuning krem, berair, yang segera berubah menjadi coklat lunak karena adanya bakteri dan
cendawan tanah.
Sklerotium bentuknya hampir bulat dengan pangkal yang agak datar, mempunyai kulit
luar, kulit dalam dan teras. Di daerah tropis S. rolfsii tidak membentuk spora. Cendawan dapat
bertahan lama dengan hidup secara saprofitik, dan dalam bentuk sklerotium yang tahan terhadap
keadaan yang kurang baik. S. rolfsii umumnya terdapat dalam tanah. Cendawan terutama
25

terpencar bersama-sama dengan tanah atau bahan organik pembawanya. Sklerotium dapat
terpencar karena terbawa oleh air yang mengalir.
Kisaran inang:
Selain menyerang anggrek, penyakit ini diketahui menyerang pada tanaman pertanian
lainnya. Pada anggrek terutama menyerang jenis-jenis terestrial, seperti Vanda sp., Arachnis sp.
dan sebagainya.
4. Layu (Fusarium oxysporum)
Deskripsi singkat: Patogen menginfeksi tanaman
melalui akar atau masuk melalui luka pada akar
rimpang.

Epidemiologi: Patogen dapat bertahan secara alami di dalam media tumbuh dan pada akar-akar
tanaman sakit. Apabila terdapat tanaman peka, melalui akar yang luka dapat segera menimbukan
infeksi. Penyakit ini mudah menular melalui benih, dan alat pertanian yang dipakai.
Gejala Serangan:
Patogen menginfeksi tanaman melalui akar atau masuk melalui luka pada akar rimpang
yang baru saja dipotong, menyebabkan batang dan daun berkerut. Bagian atas tanah tampak
merana seperti kekurangan air, menguning, dengan daun-daun yang keriput, umbi semu menjadi
kurus, kadang-kadang agak terpilin. Perakaran busuk, pembusukan pada akar dapat meluas ke
atas, sampai ke pangkal batang. Jika akar rimpang dipotong akan tampak bahwa epidermis dan
hipodermis berwarna ungu, sedang phloem dan xylem berwarna ungu merah jambu muda.
Akhirnya seluruh akar rimpang menjadi berwarna ungu.

26

Kisaran inang:
Penyakit layu Fusarium dapat dijumpai pada anggrek jenis Cattleya sp., Dendrobium sp.
dan Oncidium sp. Selain itu juga menyerang kubis, caisin, petsai, cabai, pepaya, krisan, kelapa
sawit, lada, kentang, pisang dan jahe.

5. Bercak Daun (Cercospora spp.)


Deskripsi singkat: Penyakit timbul hanya apabila
keadaan lingkungan lembab. Mula-mula pada sisi
bawah daun yang masih muda timbul bercak kecil
berwarna coklat.

Epidemiologi: Konidium cendawan ini berbentuk gada panjang bersekat 3-12. Konidiofor
pendek, bersekat 1-3, cendawan dapat terbawa oleh benih dan bertahan pada sisa-sisa tanaman
sakit selama satu musim. Cuaca yang panas dan basah membantu perkembangan penyakit.
Penyakit dapat timbul pada tanaman muda, meskipun cenderung lebih banyak pada tanaman tua.
Gejala Serangan:
Penyakit timbul hanya apabila keadaan lingkungan lembab. Mula-mula pada sisi bawah
daun yang masih muda timbul bercak kecil berwarna coklat. Bercak-bercak dapat berkembang
melebar dan memanjang, dan dapat bersatu membentuk bercak yang besar. Pada pusat bercak
yang berwarna coklat keputihan, cendawan membentuk kumpulan-kumpulan konidiofor dengan
konidium, yang bila dilihat dengan kaca pembesar (loupe) tampak seperti bintik-bintik hitam
kelabu. Pusat bercak akhirnya mengering dan dapat menjadi berlubang. Gejala ini lebih banyak
terdapat pada daun-daun tua.
Kisaran inang:
Semua jenis anggrek terserang oleh penyakit ini, terutama yang ditanam di tempat
terbuka, seperti Vanda sp., Arachnis sp., Aranda sp., Aeridachnis sp. dan sebagainya.
27

6. Busuk Lunak (Erwinia spp.)


Deskripsi singkat:

Bakteri ini menimbulkan

pembusukan pada jaringan yang lunak dan pada


jaringan yang bekas digigit serangga.

Epidemiologi: el bakteri berbentuk batang, tidak mempunyai kapsul, dan tidak berspora. Bakteri
bergerak dengan menggunakan flagela yang terdapat di sekeliling sel bakteri. Bakteri patogen
mudah terbawa oleh serangga, air, media tumbuh dan sisa tanaman yang terinfeksi, serta alat-alat
pertanian. Suhu optimal untuk perkembangan bakteri adalah 27 C. Pada kondisi suhu rendah
dan kelembaban rendah bakteri terhambat pertumbuhannya.
Gejala Serangan:
Penyakit ini menyerang tanaman anakan dalam kompot. Daun-daun anakan terlihat berair
dan warna daun berubah kecoklatan. Pada pseudobulb atau bagian lunak lainnya terjadi
pembusukan disertai bau yang tidak enak. Bakteri ini menimbulkan pembusukan pada jaringan
yang lunak dan pada jaringan yang bekas digigit serangga.
Kisaran inang:
Penyakit ini dapat menyerang semua jenis anggrek bahkan tanaman lain yang lunak jaringannya.

7. Virus Mosaik Tembakau Strain Orchid (Tobacco Mosaic Virus-Orchid = TMV-O)

28

Deskripsi singkat: Virus ini dikenal juga dengan


nama

virus

bercak

bercincin

odontoglossum

(odontoglossum ringspot virus = ORSV). Pada


anggrek Cattleya sp., serangannya berupa mosaik
pada sepal dan petal. Bagian tepi bagian bunga ini
biasanya bergelombang

Epidemiologi: Partikel virus berbentuk batang berukuran 18 x 300 nm. TMV-O mudah
ditularkan secara mekanik melalui ekstrak bagian tanaman sakit, tetapi tidak menular melalui
serangga vektor ataupun biji.
Gejala Serangan:
Pada beberapa jenis anggrek seperti Cattleya sp., gejala infeksi virus ini bervariasi, yaitu
berupa garis-garis klorotik, bercak-bercak klorotik sampai nekrotik atau bercak-bercak berbentuk
cincin. Pada Oncidium sp. bercak-bercak nekrotik berwarna hitam tampak nyata pada permukaan
bawah daun. Di lapang persentase tanaman anggrek Oncidium sp. terinfeksi virus ini dapat
mencapai 100 %. Gejala pada bunga, misalnya pada anggrek Cattleya sp., berupa mosaik pada
sepal dan petal. Bagian tepi bagian bunga ini biasanya bergelombang.
Kisaran inang:
Jenis-jenis anggrek lain yang dapat terserang virus ini mencakup Dendrobium sp.,
Epidendrum sp., Vanda sp., Cattleya sp., Oncidium sp. Cymbidium sp. dan Phalaenopsis sp.

8. Virus Mosaik Cymbidium (Cymbidium mosaic virus= CyMV)

29

Deskripsi singkat: Bunga yang terserang biasanya


berukuran

lebih

kecil

dan

mudah

rontok

dibandingkan dengan bunga tanaman sehat.

Epidemiologi: Partikel CyMV berbentuk filamen memanjang berukuran 13 x 475 nm. Virus ini
menular secara mekanik melalui cairan atau ekstrak bagian tanaman sakit, tetapi tidak menular
melalui biji ataupun serangga vektor.
Gejala Serangan:
Pada Cymbidium sp. gejala mosaik akan tampak lebih jelas pada daun-daun muda
berupa garis-garis klorotik memanjang searah serat daun. Bunga pada tanaman Cattleya sp. yang
terinfeksi biasanya memperlihatkan gejala bercak-bercak coklat nekrosis pada petal dan
sepalnya. Bunga biasanya berukuran lebih kecil dan mudah rontok dibandingkan dengan bunga
tanaman sehat.
Kisaran inang:
Virus ini dijumpai pada 8 genera, yaitu Aranthera sp., Calanthe sp., Cattleya
sp.,Cymbidium sp., Gromatophyllum sp., Phalaenopsis sp., Oncidium sp., dan Vanda sp.

30

PENGENDALIAN UNTUK HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN ANGGREK


Musuh alami pada tanaman anggrek:
Dalam

pengendalian

hama

pada

anggrek

Phalaenopsis

adalah

menggunakan

predator/musuh alaminya, yaitu Amblyseilus sp. dan cendawan musuh alami kebanyakan hama
adalah, seperti Beauveria bassiana. Cendawan tersebut dilaporkan efektif mengendalikan tungau
yang menyerang tanaman anggrek. Cendawan B. bassiana mudah diperoleh di sekitar
pertanaman, cara isolasinya mudah, biaya pengembangannya murah, dan ramah lingkungan.
Aplikasi B. bassiana memerlukan kondisi mikroklimat yang lembap. Kondisi tersebut sesuai
dengan yang dibutuhkan tanaman anggrek Phalaenopsis.
Rekomendasi Pengendalian OPT Anggrek secara Umum :
1. Fisik
Media tumbuh disucihamakan dengan uap air panas agar tanaman bebas dari OPT yang
dapat ditularkan melalui media tumbuh. Untuk menghindari penularan virus, usaha sanitasi harus
dilakukan meliputi sterilisasi alat-alat potong. Setelah dicuci bersih alat-alat potong dipanaskan
dalam oven pada suhu 149oC selama 1 jam.
2. Mekanis
Pengendalian secara mekanis dilakukan bilamana serangga hama dijumpai dalam jumlah
terbatas. Misalnya pada pagi dan sore hari kumbang gajah dapat dijepit dengan jari tangan dan
dimatikan. Demikian pula kutu tempurung pada daun anggrek dapat didorong dengan kuku,
tetapi harus dilakukan secara hati-hati lalu dimatikan. Pengendalian secara mekanis juga
dilakukan pada bagian tanaman yang menunjukkan gejala serangan penyakit, yaitu dengan
memotong dan memusnahkan bagian tanaman yang terserang.
3. Kultur Teknis
Pemeliharaan tanaman yang baik dapat meningkatkan kesehatan tanaman, sehingga tanaman
dapat tumbuh lebih subur. Penyiraman, pemupukan dan penambahan atau penggantian media

31

tumbuh dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Secara tidak langsung pemeliharaan yang
berkelanjutan dapat memantau keadaan tanaman dari serangan OPT secara dini.
Penyiraman dilakukan apabila diperlukan dan dilakukan pagi hari sehingga siang harinya sudah
cukup kering. Pelihara tanaman dari serangan atau kehadiran serangga yang dapat menjadi
pembawa atau pemindah penyakit. Udara dalam pertanaman sebaiknya dijaga agar tidak terlalu
lembab, sehingga penyakit tidak mudah berkembang.
Tanaman yang baru atau diketahui menderita penyakit diisolasi selama 2-3 bulan, sampai
diketahui bahwa tanaman tersebut betul-betul sehat. Tanaman yang akan dibudidayakan
sebaiknya juga berasal dari induk yang telah diketahui bebas penyakit.
4. Kimiawi
Untuk pengendalian OPT anggrek dapat dipilih jenis pestisida yang tepat sesuai dengan
organisme pengganggu tumbuhan yang akan dikendalikan. Formulasi pestisida dapat berupa
cairan (emulsi), tepung (dust) pasta ataupun granula. Konsentrasi dan dosis penggunaan biasanya
dicantumkan pada tiap kemasan. Sebagai pencegahan, pot atau wadah lainnya, alat-alat seperti
pisau dan gunting stek, sebaiknya setiap kali memakai alat-alat tersebut, disucihamakan dengan
formalin 2 % atau desinfektan lainnya.
5. Hayati
Dilakukan dengan menggunakan :

Predator tungau : Phytoseiulus persimilis Athias Heniot dan Typhodiromus sp.


(Phytoseiidae)

Predator kutu daun : Kumbang Koksi (Coccinelidae), lalat Syrpidae, dan laba-laba
Lycosa sp.

Predator kutu putih : Scymnus apiciflavus.

Parasitoid Thrips : Famili Eulophidae

Parasitoid kutu daun : Aphidius sp. dan Encarsia sp.

32

Parasitoid pengorok daun Gonophora xanthomela : Achrysocharis promecothecae


(Eulophidae).

Pemanfaatan agens antagonis Trichoderma sp., Gliocladium sp. dan Pseudomonas


fluorescens untuk penyakit layu Fusarium sp. dan Ralstonia solanacearum.

PENGENDALIAN PENYAKIT PADA ANGGREK (BAKTERI DAN JAMUR) :


1. Bakteri tidak dapat dikendalikan secara langsung. Tindakan budidaya dan higienis
terutama terhadap Erwinia sp.
2. Menegah penularan melalui air. Jarak tanam jangan terlalu rapat . Penyiraman harus hatihati sehingga daun tetap kering.
3. Mencegah terjadinya pelukaan pada daun , karena akan menjadi tempat masuknya
inokulum.
4. Tanaman yang bergejala harus dipindahkan ke tempat lain.
5. Jika gejala belum meluas, daun yang sakit dapat dipotong.
6. Keadaan stres seperti , perubahan suhu dan cahaya matahari, atau kebanyakan pupuk N,
harus dicegah.
7. Mencuci tangan , desinfeksi tempat kerja., meja, alat-alat dan air, harus disterilkan.
8. Senyawa tembaga oksida , kristal tembaga oksi krorida (COC) mempunyai efek
penghalang mekanik pada permukaan tanaman. 2 ppm, chloride dioxide dapat dicampur
dengan air siraman.
9. Asam benzoat juga dapat digunakan sebagai desinfektan dengan cara dituangkan ke
tanaman.
PENGENDALIAN PENYAKIT YANG DISEBABKAN VIRUS:
1. Benih sehat (asal biji atau meriklon) perlu sistem sertifikasi dan metode deteksi
yang Handal.
2. Varietas resisten (kalau ada) (alami atau hasil rekayasa genetik).
33

3. Isolasi tanaman sakit.


4. Proteksi silang.
5. Karantina.
6. Pencegahan penularan melalui Pot bekas, media tanam bekas, gunting/pisau pangkas,
rokok, dll.

34

DAFTAR PUSTAKA
Osman, Fiyanti, Indah Prasasti (1989) Anggrek Dendrobium, Jakarta Penebar Swadaya IKAPI
219 hal.
Tim Red. Trubus (1997) Jakarta. Anggrek Potong Penebar Swadaya 34 hal.
Agribisnis Tanaman Hias, F.Rahardi, Sri Wahyuni, Eko M. Nurcahyo, Penerbar Swadaya 1993
Budidaya Tanaman Anggrek Departemen Pertanian 1987, 63 hal.
Merawat Anggrek , Sutarni M. Soeryowinoto, Penerbit Yayasan Kanisius, 87 hal.
hama-dan-penyakit-anggrek-pengendalian_23.html

35

LAMPIRAN

36

37