Anda di halaman 1dari 5

Analisa Separator Holderbank vs Lafarge

Oleh

Indra Budhi Kurniawan


Manager of Utility Opertion

Salah satu unit perlatan yang sangat menentukan dalam proses produksi semen adalah separator.
Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa separator berperan sebesar 5-15 % produksi semen,
terutama cement mill yang menggunakan tube mill. Maksudnya adalah, jika terjadi kegagalan fungsi
separator maka potensi kehilangan produksi semen sebesar 5-15% (gambar 1). Cukup besar
jumlahnya dan cukup signifikan untuk mempengaruhi produksi. Oleh karena itu, menganalisa unjuk
kerja separator sangat diperlukan untuk menentukan apakah sebuah separator sudah dalam kondisi
optimum atau memerlukan perbaikan.

5-15%

(Gambar 1)
Umumnya, selama ini kita di pabrik menggunakan analisa unjuk kerja berdasarkan pada panduan
yang dikeluarkan oleh Holderbank. Pada panduan analisa kinerja yang dikeluarkan oleh Holderbank,
kita akan dibantu analisanya melalui penyusunan tromp curve (gambar 2). Tromp curve disusun
berdasarkan hasil analisa produk semen di separator dengan menggunakan sebuah alat pencacah
ukuran partikel semen atau particle size distrubution. Adapun partikel semen yang dianalisa berasal
dari feed separator, reject separator dan product separator.

(Gambar 2)
Dari bacaan tromp curve yang kita susun, kita dapat menganalisa besaran sepereti berikut:
1. Cut size/point (d50), besaran yang menggambarkan ukuran partikel semen yang memiliki
sebaran 50% berada di produk separator dan 50% lainnya ada di reject separator (gambar
3). Dengan kata lain, ukuran partikel semen tersebut mempunyai kesempatan yang
seimbang untuk berada di produk maupun reject separator. Idealnya cut size partikel semen
memiliki ukuran 45 mikron. Jika cut size lebih kecil dari 45 mikron bisa digambarkan bahwa
reject separator relatif halus sedangkan jika lebih besar dari 45 mikron maka reject partikel
relatif kasar.

(Gambar 3)
2. Sharpness of separation adalah besaran yang menggambarkan nisbah perbandingan antara
ukuran partikel yang memiliki residu partikel kasar 25% dengan ukuran partikel yang
memiliki 75% residu partikel kasar di produk separator (gambar 4). Separator yang ideal
memiliki nisbah sharpness sama dengan 1. Namun, untuk pengoperasian standar, sharpness
diharapkan pada kisaran 2. Jika lebih dari 2 maka berarti proses pemisahan tidak efektif dan

cenderung membutuhkan speed motor yang tinggi karena beda ukuran partikel yang
dipisahkan terlalu sempit. Jika kurang dari 2 maka pemisahan tidak berlangsung dengan baik
karena produk halus akan lebih banyak terbawa di reject separator.

(Gambar 4)
3. Efek bypass. Secara ideal, tromp curve disebelah kanan cut size memiliki garis absis yang
menyinggung ordinatnya pada titik 0. Namun, pada kenyataannya jarang sekali kita
menjumpai tromp curve yang ideal, sehingga kurva tromp curve tidak menyinggung di garis
ordinatnya (gambar 5). Titik terendah dari tromp curve terhadap ordinatnya inilah yang
disebut dengan bypass. Arti fisik bypass sendiri adalah besarnya residu dari titik terendah
tromp curve semua ukuran partikel semen yang masuk kedalam separator yang kemudian
tidak mengelami proses pemisahan. Bypass ini langsung bergabung dengan reject. Standar
bypass untuk reject adalah 10%.

(Gambar 5)
4. Circulating load, besaran yang menggambarkan berapa kali suatu partikel melalui separator.
Jika circulating load tinggi menunjukkan bahwa suatu partikel berkali-kali melalui separator,
begitu pula sebaliknya. Circualting load yang ideal adalah 1,5-2. Circulating load dapat
dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Dimana simbol pada rumus tersebut dapat dilihat (gambar 6) berikut:

(Gambar 6)
Selain menggunakan panduan yang diterbitkan oleh holderbank, Lafarge juga mengeluarkan
panduan untuk menganalisa kinerja separator. Adapun secara umum perbedaan dari kedua panduan
tersebut adalah sebagai berikut :

Jika dilihat dari tabel perbedaan tersebut, sebenarnya secara umum tidak begitu signifikan. Arti fisik
dari besaran tersebut juga tidak jauh berbeda. Ada dua istilah besaran yang tidak biasa dipakai di
panduan holderbank, yaitu imperfection dan acuity limit. Acuity limit adalah besaran yang
menggambarkan proses ketajaman pemisahan separator hampir sama dengan sharpness of
separation, sedangkan imperfection adalah besaran yang menggambarkan sebaran ukuran partikel
seperti cut size.
Hanya saja, jika menggunakan panduan yang dikeluarkan oleh Lafarge, beberapa bentuk grafik dari
beberapa besaran dapat disajikan menjadi satu seperti misalnya imperfection dan circulation load
(gambar 7).

(Gambar 7)
Dengan pembuatan grafik tersebut maka kita dapat menganalisa pengaruh circulating load terhadap
pola sebaran partikelnya.
Secara umum, panduan yang dikeluarkan oleh Holderbank yang selama ini dilakukan di pabrik tidak
memiliki perbedaan yang signifikan jika dibandingkan dengan panduan yang dikeluarkan oleh
Lafarge. Panduan yang dikeluarkan Holderbank selama ini cukup representatif digunakan untuk
mengetahui unjuk kerja suatu separator di pabrik.

Anda mungkin juga menyukai