Anda di halaman 1dari 17

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB I

PENDAHULUAN
DEFINIS ................................................................................................ 2
ANATOMI ............................................................................................. 3
URETER ................................................................................................. 4
URETHRA ......................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN
FISIOLOGI URETER ........................................................................... 5
ETIOLOGI ............................................................................................ 5
PATOFIDIOLOGI ................................................................................. 6
DIAGNOSTIK ....................................................................................... 6
PENATALAKSANAAN............6
KOMPLIKASI...............................7
BAB III KONSEP KEPERAWATAN
KONSEP ,PENGKAJIAN ..................................................................... 8
DIAGNOSA ......................................................................................... 9
INTERVENSI ....................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ....... 17

BAB I
PENDAHULUAN
DEFINISI
Trauma ureter ialah trauma yang disebabkan oleh rudapaksa tajam maupun tumpul dari luar
ataupun iatrogenik terutama pada pembedahan rektum, uterus, pembuluh darah panggul, atau
tindakan endoskopik. (Sjamsuhidajat Win De Jong.R.1997).
Lokasi ureter berada jauh di dalam rongga abdomen dan dilindungi oleh tulang dan otot,
sehingga cidera ureter karena trauma tidak umum terjadi. Cidera pada ureter kebanyakan terjadi
karena pembedahan. Perforasi dapat terjadi karena insersi intraureteral kateter atau instrumen medis
lainnya. Luka tusuk dan tembak juga dapat juga membuat ureter mengalami trauma. Dan meskipun
tidak umum, tumbukan atau decelerasi tiba-tiba seperti pada kecelakaan mobil dapat merusak
struktur ureter. Tindakan kateterisasi ureter yang menembus dinding ureter atau pemasukan zat asam
atau alkali yang terlalu keras dapat juga menimbulkan trauma ureter.
Trauma ini kadang tidak ditemukan sebelum manifestasi klinik muncul. Hematuria dapat
terjadi, tapi indikasi umum adalah nyeri pinggang atau manifestasi ekstravasasi urine. Saat urine
merembes masuk ke jaringan, nyeri dapat terjadi pada abdomen bagian bawah dan pinggang. Jika
ekstravasasi berlanjut, mungkin terjadi sepsis, ileus paralitik, adanya massa intraperitoneal yang
dapat diraba, dan adanya urine pada luka terbuka. Pembedahan merupakan tindakan utama untuk
memperbaiki kerusakan, mungkin dengan membuat anastomosis. Kadang-kadang prosedur radikal
seperti uterostomy cutaneus, transureterotomy, dan reimplantasi mungkin dilakukan.
Sebagian besar trauma ureter terjadi selama pembedahan organ panggul atau perut, seperti
histerektomi, reseksi kolon atau uteroskopi. Seringkali terjadi kebocoran air kemih dari luka yang
terbentuk atau berkurangnya produksi air kemih. Penyebab Lain trauma ureter Adalah luka
tembus, biasanya karena luka tembak. Jarang terjadi trauma ureter akibat pukulan maupun luka
tumpul. Jika trauma ureter terjadi akibat pembedahan, maka dilakukan pembedahan lainnya untuk
memperbaiki ureter. Ureter bisa disambungkan kembali ke tempat asalnya atau di bagian kandung
kemih yang lainnya. Pada trauma yang tidak terlalu berat, dipasang kateter ke dalam ureter dan
dibiarkan selama 2-6 minggu sehingga tidak perlu dilakukan pembedahan.

Pengobatan terbaik untuk trauma ureter akibat luka tembak atau luka tusuk adalah pembedahan.

ANATOMI

1) Ginjal
Kelenjar yang terlerak dibagian belakang kavum abdominalis, dibelakang peritonium pada
kedua sisi vertebra lumbalis III, terletak langsung pada dingding abdomen. Bentuknya seperti
biji kacang, jumlahnya dua kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari pada ginjal kanan dan
pada umumnya laki-laki lebih panjang dari perempuan.

2) Ureter
Terdiri dari dua saluran pipa masing-masing bersambung dari ginjal kekandung
penampang 25-30 cm, dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak pada rongga
abdomen dan sebagian terletak pada rongga pelvis.
a) Dinding luar jaringan ikat (Jaringan Fibrosa)
b) Lapisan tengah lapisan polos
c) Lapisan sebelah dalam mukosa.

3) Vesika urinaria
Kadung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak dibelakang
simfisis pubis didalam rongga panggul. Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang
dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikus medius.
Bagian-bagian dari vesika urinaria terdiri dari:
a) Fundus
Yaitu bagian yang menghadap kearah belakang dan bawah, bagian ini terpisah dari rektum
oleh spatium retrovesikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent, vesika seminalis dan
prostat.
b) Korpus
Yaitu bagian antara verteks dan fundus, bagian yang runcing kearah muka dan
berhubungan dengan ligamentum umbilikalis. Dinding kandung kemih terdiri dari :
a) Lapisan sebelah luar (Peritonium)
b) Tunika muskalaris (lapisan otot)
c) Tunika sub mukosa
d) Lapisan mukosa (lapisan bagian dalam)
4) Uretra
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi
menyalurkan air kemih keluar. Pada laki-laki uretra berjalan berkelok- kelok melalui tengahtengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagian
penis panjangnya 20 cm.
Uretra pada laki-laki terdiri dari:
a) Uretra prostatia

b) Uretra membranosa

c) Uretra kavernosa.

Lapisan uretra laki-laki terdiri dari: Lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan lapisan
sub mukosa. Uretra pada wanita terletak pada bagian simfasis pubis berjalan miring sedikit
kearah atas panjangnya 3-4 cm.
Lapisan uretra pada wanita terdiri dari:
a) Tunika muskularis (sebelah luar)
b) Lapisan spongsia merupakan pleksus dari vena-vena
c) Lapisan mukosa.

BAB II
PEMBAHASAN

FISIOLOGI URETER
Ureter memiliki membran mukosa yang dilapisi oleh epitel koloid dan dinding muskular
yang tebal .
Urine didorong melewati ureter dengan gelombang perilstaltik yang dapat terjadi sekitar 14 kali permenit; urine memasuki kandung kemih dalam serangkaian semburan kecil. Pintu
masuk yang miring melalui dinding kandung kemih menjamin bahwa ujung bagian bawah
tertutup selama miksi dengan kontraksi kandung kemih, sehingga mencegah reluks urine
kembali keureter dan mencegah penyebaran infeksi dari kandung kemih keatas.
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik tiap lima menit sekali
untuk mendorong air kemih. Gerakan peristaltik mendorong urine melalui ureter yang di
ekskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis
masuk kedalam kandung kemih. Ureter berjalan hampir vertikel kebawah sepanjang fasia
muskulus psoas dan dilapisi oleh peritonium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter
meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf, dan pembuluh limfe sensorik.
ETIOLOGI
Menurut Sjamsuhidajat Wim De Jong.R. 1997. penyebab trauma ureter adalah:
a. Rudapaksa tajam atau tumpul

b. Iatrogenik

c. Tindakan endoscopik

Kausa lain :
1. Eksternal trauma :
- Penetrasi (Luka tusuk, tembak)
Op. Rongga pelvis (terligasi/ terpotong)
2. Internal trauma :
Ureteral catheterization
Intra ureteral manipulation
Endourologi : RPG

Ureteroskop

Stenting ureter

PATOFISIOLOGI
Pada cedera ureter akibat Rudapaksa tajam biasanya ditemukan hematuria mikrosikopik
pada cedera ureter bilateral terdapat peningkatan kadar ureum dan kreatinin darah.
Pada umumnya tanda dan gejala klinik tidak perlu sfesifik. Hematuria menunjukan cedera
pada saluran kemih. Bila terjadi ekstravasasi urine dapat timbul urinom, fistel uretro-kutan
melalui luka atau tanda rangsang peritonium dan menyebabkan peritonitis. Hematuria terjadi
akibat robeknya pembuluh darah disekitar ureter. Bila cedera ureter disebabkan oleh
Rudapaksa tumpul, gejalanya sering kurang jelas sehingga diagnosa sering tertunda. Pada
cedera bilateral ditemukan anuria
MANIFESTASI KLINIK
Pada umumnya tanda dan gejala trauma ureter tidak spesifik, hematuria
menunjukan adanya ceera pada saluran kemih, terjadi anuria bila cedera ureter bilateral. Pada
rudapaksa tumpul gejala sering kurang jelas sehingga menunda diagnosa.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Tes fungsi ginjal menjadi abnormal bila traumanya bilateral.

Urografi ekskresi memperlihatkan obstruksi parsial atau lengkap.

Urografi retgrorad menentukan sifat dan letak trauma.

PENATALAKSANAN
Pada setiap rudapaksa tajam harus diakukan tindakan eksplorasi untuk menilai ada
tidaknya cerdera ureter serta cedra ikutan lain. Yang paling penting adalah melakukan
penyuliran urine yang ekstravasasi dan menghilangkan obstruksi.
Rekonstruksi ureter tergantung pada jenis, bentuk, luas serta letak cedera. Prinsip
rekonstruksi ureter adalah debrideman, patulasi, isolasi anatomosis bila disertai cedra
usus. Untuk cedera ureter bagian atas dapat dilakukan uretro-ureterostomi, nefrostomi, uretrokutaneostomi, autotransplantasi dan nefrektomi bila rekrontruksi tidak memungkinkan. Pada
cedera ureter bagian tengah dapat dilakukan uretro- ureterostomi atau transuretroureterostomi.

Alternatif rekrontuksi ureter distal adalah uretro-ureterostomi, uretroneosistomi,


misalnya melalui tabung yang dibuat dari dinding kandung kemih yang disebut Boari Flap.
Sumber: Sjamsuhidajat De Jong.R. 1997

Terapi trauma ureter :


1.

Deligasi

2.

Stent ureter

3.

Reimplantasi ureter

4.

Transureteroureteroskopi

5.

Autotransplantsi

6.

Ureterolisis

7.

Diversi ureter

Komplikasi

Fistula ureter

Infeksi retroperitonial

Obstruksi ureter karena stenosis

Peritonitis bila urine keluar kedalam kavum peritoneal

Sumber: Schrock, MD Theodore. R (1995).

BAB III
PROSES KEPERAWATAN
KONSEP KEPERAWATAN
Proses keperawatan adalah dimana suatu konsep diterapkan dalam praktik keperawatan.
Hal ini disebut sebagai suatu pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu, teknik dan
keterampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasien baik sebagai
individu, keluarga maupun masyarakat. (Nursalam, 2001 )didalam proses keperawatan ada 5
tahap yaitu : Pengkajian, Diagnosa keperawatan, Intervensi, Implementasi dan Evaluasi.

Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keprawatan dan merupakan suatu proses yang
sitemamtis dalam

pengumpulan data

dari

beberapa sumber,

untuk mengevaluasi dan

mengidentifikasi status kesehatan klien. (Nursalam, 2001)


Data dasar
a. Identitas klien
b. Riwayat kesehatan klien
1). Riwayat kesehatan masa lalu
2). Riwayat kesehatan sekarang meliputi alsan masuk rumah sakit
c. Pemeriksaan fisik
1). Aktivitas istirahat
Tanda: Kelemahan
Gejala: Kesulitan ambulasi
2). Sirkulasi
Tanda: Takikardia, hiprtensi dan pucat
Gejala:
3). Eliminasi
Tanda: Penurunan pengeluaran urine, diare
Gejala: Hematuria, anuria, perubahan pola berkemih
4). Nyeri dan kenyamanan
Tanda: Mual muntah nyeri tekan abdomen, anoreksia

Gejala: distensi abdomen, penurunan/tidak adanya bising usus


5). Keamanan
Gejala: Penggunaan alkohol
Demam menggigil
6). Penyuluhan pembelajaran
Gejala: Penyakit gijal, pernah trauma sebelumnya, riwayat penyakit usus halus
bedah abdomen sebelumnya

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia dari
individu atau kelompok dimana seorang perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan
memberikan

intervensi

secara

meringankan/menurukan

untuk

tepat

untuk

mempertahankan

mempertahankan

status

status

kesehatan

keshatan

klien,
klien,

mringankan/menurunkan masalah kesehatan klien, mencegah penyakit atau merubah status


kesehatan. (Carpenito, 2000)
Adapun tujuan membuat diagnosa keperawatan adalah mengidentifikasi adanya masalah
aktual berdasarkan respon klien terhadap masalah atau penyakit, faktor- faktor penyebab serta
kemampuan klien mencegah atau menghilangkan masalah. (Gaffar, 1997)

Menurut teori diagnosa keperawatan Doenges (1999) adalah sebagai berikiut:


1.

Kerusakan intergitas kulit/jaringan b.d invasi struktur tubuh, gangguan sirkulasi;


edema drainase

2.

Citra diri rendah b.d hilangnya kontrol urine

3.

Nyeri akut b.d kanker atau taruma jaringan

4.

Resiko tinggi infeksi b.d pertahanan primeir tidak adekuat; insisi

5.

Perubahan eliminasi urine b.d bedah diversi, trauma jaringan , edema pasca operasi.

6.

Resiko tinggi terhadap disfunsi seksual b.d perubahan struktur tubuh, kecendrungan/
masalah psikologis tentang respon terhadap oarng terdekat, penghentian pola respon
seksual contok kesulitan ereksi.

7.

Kurang

pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan

pengobatan b.d

kurang mengingat setelah interprestasi informasi. Tidak mengenal informasi

INTERVENSI
a. Kerusakan intergitas kulit/jaringan b.d invasi struktur tubuh, gangguan sirkulasi;
edema drainase
Tujuan: Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda infeksi
Kriteria: Menunjukan prilaku atau teknik meningkatakan penyembuhan kerusakan kulit.
Mandiri
1). Obsevasi luka , catat karakteristik drainase
Rasional :
Perdarahn pasca oprasi paling sering terjadi selama 48 jam pertama, dimana infeksi dapat
terjadi kapan saja. Tergantung pada tipe penutupan luka (misal penyembuhan pertama atau
kedua), penyembuhan sempurna memerlukan waktu 6-8 bulan. (Doenges. 1999, hal 491)
2). Ganti balutan sesuai kebutuhan, gunakan tehnik aseptik
Rasional :
Sejumlah besar drainase serosa menuntut pergantian dengan sering menurunkan iritasi
kulit dan potensial infeksi.(Doenges. 1999, hal 491)
3). Dorong posisi miring dengan kepala tinggi. Hindari duduk lama.
Rasional :
Meningkatkan drainase dari luka, duduk lama meningkatkan tekanan parineal,
menurunkan sirkulasi keluka, dan dapat memperlambat penyembuhan.
Kolaborasi
4). Irigasi luka sesuai indikasi, gunakaan cairan garam faal, larutan hidrogen peroksida atau
larutan antibiotik.
Rasional :
Diberikan untik mengobati inflmasi atau infeksi pra operasi atau kontaminasi
intrapersonal. .(Doenges. 1999, hal 491)
5).Berikan rendam duduk
Rasional :
Meningkatkan kebersihan dan memudahkan penyembuhan khususnya setelah tampon
diangkat.(Doenges. 1999, hal 491)

10

b. Citra diri rendah b.d hilangnya kontrol urine.


Tujuan: Menunjukan mulai menerima dan menyentuh stoma dan berpartisipasi dalam
perawatan diri
Kriteria:
Mulai menyatakan perasaan tentang penyakit mulai menerima situasi secara konstruktif

Mandiri
1). Kaji ulang alasan bedah dan harapan akan datang.
Rasional : Pasien menerima keadaan dirinya dengan lebih mudah. (Doenges. 1999, hal 662)

2).Yakinkan apakah konseling dilakukan atau perlu pada diversi urinaria diskuksikan pada
saat pertama.
Rasional : Memberikan informasi tentang tingkat pengetahuan pasien/ orang terdekat tentang
situasi individu dan proses penerimaan. (Doenges. 1999, hal 662)

3). Jawab semua pertanyaan trauma ureter


Rasional : Memberikan informasi tambahan pada pasien untuk dipertimbangkan. (Doenges.
1999, hal 662)

4).Dorong pasien/orang terdekat untuk menyatakan perasaan. Akui kenormalan perasaan marah
depresi dan kedukaan.
Rasional : Membentu pasien/orang terdekat menyadari bahwa perasaan yang dialami tidak biasa
dan bahwa perasaan biasalah pada mereka tidak perlu/membantu. (Doenges.1999, hal 662)

5). Perhatikan prilaku menarik diri, peningkatan ketergantungan. Rasional


Dugaan masalah pada penyesuaian yang memelukan evaluasi lanjut dan terapi lebih
ekstensif dapat menunjukan respon kedukaan terhadap kehilangan bagian /fungsi tubuh.
(Doenges. 1999, hal 662)

11

c. Nyeri akut b.d kanker atau taruma jaringan


Tujuan:
Menyatakan/menunjukan hilangnya nyeri
Kriteria: Menunjukan kemampuan untuk membantu dalam tindakan kenyamanan umum dan
mapu untuk tidur /istirahat dengan tepat
Mandiri
1). Kaji nyeri perhatikan lokasi, karakteristik, intensitas (skala 0-10)
Rasional : Membantu evaluasi derajat ketidaknyamanan dan keefektifan analgetik atau
menyatakan komplikasi. Contoh karena nyeri abdomen pada hari ketiga atau keempat berlanjut
atau meningkatnya nyeri dapat menunjukan perlambatan nyeri. (Doenges,1999. hal 663)
2). Auskultasi bising usus dan pasase platus
Rasional : Mengindikasikan kembalinya fungsi usus. Gangguan dalam kembalinya bising usus
dalam 72 jam mengindikasikan adanya komlikasi contoh: Peritonitis, hipokalemia, obstruksi
mekanik (Doenges,1999. hal 663).
3). Perhatikan karakteristik urine
Rasional : Penurunan aliran menunjukan retensi urine dengan peningkatan pada saluran
perkemihan atas atau kebocoran pada rongga peritonial. Urine keruh mungkin normal (adanya
mukus) atau mungjkin adanya infeksi. (Doenges,1999. hal 663)
4).Dorong penggunaan teknik relaksasi
Rasional : Membantu pasien untuk istirahat lebih efektif dan memfokuskan kembali perhatian
dan

meningkatkan

kemampuan

koping.

Menurunkan

nyeri

dan

ketidaknyamanan.

(Doenges,1999. hal 663)


5). Bantu dalam latihan rentang gerak dan dorong ambulasi dengan mudah. Rasional
Menurunkan kekakuan otot/ sendi mengembalikan organ untuk posisi normal dan meningkatkan
kembali pasase usus dan perasaan sehat umum. (Doenges,1999. hal 663)
6). Selidiki dan laporkan kekakuan otot abdomen, melindungi daerah yangb sakit dan nyeri
lepas.
Rasional Menurunkan imflamasi peritonial memerluka interfensi medik cepat. (Doenges,1999.
hal 663)
Kolaborasi
7). Berikan obat sesuai indikasi
Rasional Menghilangkan nyeri, meningkatkan kenyamanan dan meningkatkan istirahat. ADP
dapat lebih menguntung dari pada analgesik intermiten, khususnya setelah reaksi radikal.
(Doenges,1999. hal 663)

12

8).Beri rendam duduk bila diindikasikan


Rasional
Menghilangkan ketidaknyamanan lokal, menurunkan edema, dan meningkatan penyembuhan
lukaperineal sehubungan denga prosedur radiakal. (Doenges,1999. hal 663)
9). Pertahankan patensi selang lambung. Rasional
Dekompesasi lambung/usus

mencegah distensi abdomen bila fungsi usus terganggu.

(Doenges,1999. hal 663)

d. Resiko tinggi infeksi b.d pertahanan primeir tidak adekuat; insisi


Tujuan:
Meningkatkan waktu penyembuhan dengan tepat, bebas dari drainase purulen atau eritema dan
tidak demam
Kriteria: Menyatakan pemahaman faktor resiko
Menunjukan perubahan pola tidur untuk menurunkan resiko
Mandiri
1). Perhatikan kemerahan disekitar stoma
Rasional :
Kemerahan paling umu disebabkan oleh jamur, kebocoran urine atau alergi pada produk yang
dipakai juga dapat menyebabkan kemerahan di area iriasi. (Doenges. 1999, hal 666)
2). Inspeksi garis insisi sekitar stoma. Obsevasi dan catat drainase luka tanda inflamasi insisis,
indikator sitemik sepsis.
Rasional :
Memberikan laporan dasar, komplikasi dapat meliputi terhanbatnya anatomosisi usus halus/besar
atau saluran uretra. Dengan kebocoran isi usus kedala abdomen atau urine kedalam rongga
peritonial. (Doenges. 1999, hal 666)
3). Ganti balutan sesuai indikasi
Rasional:
Drain basah bertindak sebagai sumbu untuk luka dan memeberikan media untuk pertumbuhan
bakterial. (Doenges. 1999, hal 666)
4). Kaji area lipatan kulit dan di lipatan paha, perinium bawah lengan dan payudara.
Rasional
Penggunaan dan jebakan lipatan kulit yang lembab merupakan area dan memberikan
media yang meningkatkan infeksi monolia. (Doenges. 1999, hal 666)

13

5). Awasi tanda-tanda vital


Rasional :
Peningkatan suhu menunjukan komplikasi insisi. (Doenges. 1999, hal 666) Kolaborasi
6). Gunakan kantong anti refluks bila ada
Rasional :
Mencegah aliran balik urine kedalam stoma, menurunkan resiko infeksi. (Doenges. 1999, hal
666)
7). Ambil spesimen eksudat, sputum, darah, sesuai indikasi
Rasional :
Mengidentifikasi

sumber

infeksi/tindakan

paling

efektif,

urine

terinfeksi

menyebabkan polinefritis. (Doenges. 1999, hal 666)

e. Perubahan eliminasi urine b.d bedah diversi, trauma jaringan , edema pasca oprasi.
Tujuan:
Menunjukan aliran urine terus menerus dengan haluaran urine adekuat
Mandiri
1). Kaji adanya kateter uretral, beri label kanan dan kiridan observasi aliran
urine tiap saluran.
Rasional :Mempertahankan patensi ureter membentu penyembuhan anastomosis dengan
mempertahankan bebas urine. (Doenges. 1999, hal 667)
2). Catat keluaran urine, selidiki perhentian/penurunan aliran urine tiba-tiba.
Rasional : Penurunan aliran urine tiba-tiba dapat mengindikasikan obstruksi/

disfungsi.

Contoh hambatan oleh edema atau mukus. Atau dehidrasi. (Doenges. 1999, hal 667)
3). Observasi dan catat warna urine, perhatikan hematuria atau perdarahan lain dari stoma.
Rasional :Urine dapat agak kemerahmudaan, yang seharusnya jernih sampai 2-3 hari.
Penggarukan atau pencucian stomadapat menyebabkan rembesan sementar sehubungan dengan
sifat jaringan vaskular atau perdarah sekitar dasar stoma memerlukan evaluasi/intervensi medik.
(Doenges. 1999, hal 667)
4). Posisi

selang

dan

drainase

kantong

sehingga

memungkinkan tidak terhambatnya

aliran urine. Awasi lindungi letak selang.


Rasional :Hambatan aliran memungkinkan terbentuknay tekanan dalam saluran perkeihan,
membuat kebocoran anastomosis dan kerusakan parenkim ginjal. (Doenges. 1999, hal 667)
5). Dorong peningkatn cairan dan pertahankan pemasukan adekuat.
Rasional :Mempertahankan hidrasi dan ailran urine baik. (Doenges. 1999, hal 667)

14

6). Awasi tanda-tanda vital, kaji nadi feripr, turgor kulit, pengisian kapiler dan mukosa mulut.
Rasional :
Indikator keseimbangancairan, menunjukan tingkat hidrasi dan keefektifan terapi penggantian
cairan. (Doenges. 1999, hal 667)
7). Berikan cairan iv sesuai indikasi
Rasional :
Membantu mempertahankan hidrasi/sirkulasi volume adekuat dan aliran urine. (Doenges.
1999, hal 667)
8). Awasi elektrolit, GDA, kalsium. Rasional Gangguan fungsi ginjal pada pasien dengan
saluran usus meningkatkan resiko beratnya masalah elektrolit atau asam basa, masalah asidosis
hiperkloremik. Peningkatan kadar kalsium meningkatkan resiko pembentukan kristal/batu
memperngaruhi aliran urine dan integritas jaringan. (Doenges. 1999, hal 667)

f. Resiko tinggi terhadap disfunsi seksual b.d perubahan struktur tubuh,kecendrungan/


masalah psikologis tentang respon terhadap oarng terdekat, penghentian pola respon
seksual contok kesulitan ereksi.
Tujuan:
Menunjukan aliran urine terus menerus dengan haluaran urine adekuat
Mandiri
1) Kaji ulang anatomi fisiologi seksual pasien dan orang terdekat dalam hubungnanya
dengan situasi.
Rasional :
Pemahaman

fisiologi

normal

membantu

pasien/orang

terdekat

memahami kerusakan

saraf dan perlu menggali metode kepuasan pilihan. (Doenges. 1999, hal 668)
2). Tekankan kesdaranakan faktor yang dapat mengalihkan perhatian.
Rasional : Meningkatkan resolusi masalah yang dapat diatasi. (Doenges. 1999, hal 668)
3). Berikan informasi keluarga berencana dengan tepat.
Rasional : Kebingungan tentang impotensi dan sterilitas dapat terjadi yang dapat menimbulkan
ketidakmungkinan hamil. (Doenges. 1999, hal 668)
Kolaborasi
4). Atur pertemuan dengan pengunjung ostomi bila diperlukan
Rasional
Saling berbagi tentang bagaimana masalah ini telah diatasi oeh orang lain dapat membantui dan
menurunkan masalah terisolasi. (Doenges. 1999, hal 668)

15

5). Rujuk kekonseling/terapiutik sesuai indikasi.


Bila masalah menetap lebih lama dari beberapa bulan setelah pembedahan, ahli relatif lebih
diperlukan untuk membantu komunikasi antara pasien dan orang terekat. (Doenges. 1999, hal
668)

g.

Kurang pengetahuan tentang kondisi/prognosis, dan kebutuhan pengobatan b.d

kurang trpajan/mengingat setelah interprestasi informasi. Tidak mengenal informasi


Tujuan:
Klien mengerti tentang penyakit yang dialaminya.
Kriteria: Menyatakan pemahaman tentang kondisi penyakit.
Melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelskan alasan tindakan.
Mandiri
1). Kaji ulang pengetahuan klien tentang proses penyakit
2). Memasukan sumber-sumber tertulis/gambar
Rasional : Memberikan refrensi pasca pulang untuk mendukung upaya pasien untuk mandiri
pada perawatan diri. (Doenges, 1999. hal 669)
3). Berikan kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan perasaan dan masalah tentang
rencana pengobatan
Rasional : Untuk mendeteksi insyarat indikatif kemungkinan ketidak patuhan dan membantu
pengembangan peneriman rencana terapiutik.. (Doenges, 1999. hal 669)
4). Instruksikan

pasien

untuk

program

latihan

progresif

latiha

kegel

dan

menghentikan/memulai aliran urine.


Rasional : Memperbaiki tonus otot pelvik dan spingter eksternal untuk meningkatkan kontinen
bila pasien berkemih melalui penis. (Doenges, 1999. hal 669)
5). Dorong nutrisi optimal
Rasional :
Meningkatkan penyembuhan luka, meningkatkan penggunaan energi untuk membantu
memperbaiki jaringan. Anoreksia dapat terjadi dalam waktu beberapa bulan pasca operasi
membutuhkan kesadaran upaya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. (Doenges, 1999. hal 669)
6). Dorong aktivitas reguler dan program latihan
Rasional : Imobilisasi tidak aktivmeningkatkan statis urine dan perpindahan kalsium dari
tulang, potensial resiko pembentukan batu, obstuksi urine dan infeksi. (Doenges, 1999. hal 669)

16

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Linda Jual. (1995). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan (terjemahan). PT
EGC. Jakarta.
Doenges, et al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.
Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume I (terjemahan).
PT EGC. Jakarta.
Evelyn C. Pears. 2011. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak Buku 2. Salemba Medika: Jakarta
Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan).Yayasan Ikatan
Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah dari Brunner & Suddarth, Edisi
8. EGC: Jakarta
Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.
https://www.scribd.com/document/direct/176848964?extension=doc&ft=1417587600&lt=14175912
10&user_id=17907087&uahk=/WTAOi74Yi7SjoLOjeJb9+pqMiQ diakses tanggal 3 Desember
2014

17