Anda di halaman 1dari 7

KONSEP, TRANMISI DAN PERUBAHAN BUDAYA BELAJAR

A. KONSEP BUDAYA BELAJAR


Secara konseptual perlu dipahami apa dan bagai mana budaya belajar, baik dilihat
dari batasan atau pengertian, sifat, wujud, sampai kebidang-bidangnya. Dari paparan para
Ahli, terdapat beberapa cara pandang mengenai budaya belajar, yaitu : 1) budaya belajar
dipandang sebagai system pengetahuan menyiratkan. 2) budaya belajar berfungsi sebagai
“pola bagi kehidupan manusia” yang menjadikan pola tersebut berfungsi sebagai
blueprint atau pedoman hidup yang dianut secara bersama sebagai sebuah pedoman. 3)
budaya belajar digunakan juga untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan
dan pengalaman. 4) budaya belajar juga di pandang sebagai proses adaptasi manusia
dengan lingkungannya baik berupa lingkungan fisik maupun lingkungan social.

1. Pengertian budaya belajar


konsep budaya belajar bersumber dari konsep budaya, tegasnya kebudayaan
diartikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang
digunakan untuk memahami dan menginterprestasikan pengalaman lingkunagnnya serta
menjadi kerangka landasan bagi menciptakan dan mendorong terwujudnya kelakuan.
Berdasarkan konsep tersebut, maka budaya belajar juga dipandang sebagai model-
model pengetahuan manusia mengenai belajar yang digunakan oleh individu atau
kelompok social untuk menafsirkan benda, tindakan dan emosi dalam lingkungannya.
Cara pandang budaya belajar sebagai pengetahuan menyiratkan, bahwa budaya belajar
dapat berfungsi sebagai “pola bagi kelakuan manusia” yang menjadikan pola tersebut
berfungsi sebagai blueprint atau pedoman hidup yang dianut secara bersamaan.. udaya
belajar dapat juga dipandang sebagai adaptasi manusia dengan lingkungannya, baik
lingkungan berupa lingkungan fisik maupun lingkungan social. Adaptasi adalah upaya
menyesuaikan dalam arti ganda, yakni manusia belajar menyesuaikan kehidupan dengan
lingkungnya ; atau sebaliknya manusia juga belajar agar lingkungan yang dihadapi dapat
sesuai dengan keinginan dan tujuan. Kenyataan lain menunjukan, bahwa lingkungan
dengan segala sumberdaya memiliki keterbatsan-keterbatsan, namun pada pihak lain
kebutuhan manusia dalam rangka memenuhi syarat dasar hidupnya setiap saat senantiasa
mengalami peningkatan. Implikasinya pada setiap pembelajaran baik individu maupun
kelompok akan memiliki pilihan strategi yang satu sama lain salaing berbeda. Individu
atau kelompok pembelajar dengan pengetahuan belajarnya akan melihat permasalahan
adanya keterbatasan tersebut dengan cara merespon secara aktif. Permasalahan yang
berlangsung dilingkungannya itu akan berusahan untuk diatasi dengan pembelajaran.
Kemampuan budaya belajar individu atau kelompok social keadaftipanya ditunjukan
untuk memecahkan berbagai persoalan yang timbul dilingkungannya.

1. Sifat-sifat budaya belajar


a. Budaya belajar dimilki bersama
sifat budaya belajar yang melekat dalam kebudayaan diciptakan oleh kelompok
manusia secara bersama. Kerana terlahir dari potensi yang dimilki manusia, maka budaya
belajar kelompok itu merupakan suatu karya yang dimilki bersama. Bermacam-macam
jenis kebudayaan tergantung dari pengkategorianya. Seorang individu akan menjadi
pendukung budaya belajar yang bersumber dari latar belakang etnis, sekaligus menjadi
pendukung budaya belajar masyarakat yang didiaminya.
a. Budaya belajar cenderung bertahan dan berubah
Karena dimiliki bersama, maka kebudayaan cenderung akan dipertahankan
bersama (masyarakat tertutup / statis).namun disisi yang lain karena hasil kesepakatan
untuk diciptakan dan dimiliki bersama, maka kebudayaan juga akan dirubah manakala
terdapat kesepakatan untuk melakukannya secara bersamaan (masyarakat terbuka /
dinamis). Sifat bertahan dan berubah saling berjelintangan tergantung dari kesepakatan
dan kebutuhan masyarakat yang bersangkutan. Dalam kenyataannya tidak ada suatu
kebudayaan masyarakat dunia yang selamanya bertahan atau tutup atau selamanya
terbuka atau berubah.
Umumnya budaya belajar capat atau lambat mengalami perubahan selain
pertahanan, namun yang harus dicatat adalah adanya perbedaan pada level individu atau
kelompok sosial dalam lamanya bertahan atau cepatnya berubah. Pada batas-batas
tertentu jenis budaya akan mencerminkan dalam sifat budaya belajar yang cenderung
terbuka ataupun sebaliknya yaitu cenderung tertutup. Sifat budaya belajar terwujud dalam
bentuk terbuka atau tertutup dipengaruhi oleh materi pembelajaran apa yang dipandang
penting. Materi belajar yang tidak relevan dan dibutuhkan memungkinkan akan tidak
mengembangkan budaya belajar terbuka demikian sebaliknya.
a. Fungsi budaya belajar untuk pemenuhan kebutuhan manusia
Kebudayaan diciptakan bersama dan dikembangkan bersama karena dipercayai
akan berdaya guna untuk keperluan dan memenuhi kebutuhan hidupnya, baik secara
individu maupun kolektif. Demikian dengan budaya belajar yang diciptakan dan
dikembangkan oleh manusia dengan maksud sebagai sarana bagi pencapaian tujuan
hidupnya. Yakni memenuhi kebutuhan hidup pada hari dan masa yang akan datang. Ada
tiga dasar kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia bengan budaya belajarnya,
yakni :
a. syarat dasar alamiah yakni syarat pemenuhan kebutuhan biologis
b. syarat kejiwaan atau psikologis yakni syarat kebutuhan untuk sehat secara
kejiwaan
c. kebutuhan dasar sosial yakni kebutuhan untuk berhubungan dan
berkomunikasi dengan sesama manusia.
d. Budaya belajar diperoleh melalui proses belajar
Budaya belajar bukanlah sesuatu yang diturunkan secara genetik yang bersifat
herediter, melainkan dihasilkan melalui proses belajar oleh individu kelompok sosial
dilingkunganya. budaya belajar adalah produk ciptaan manusia yang bersifat khas yang
dibentuk melalui lingkungan budaya.
Faktor yang menentukan dalam mempelajari kebudayaan belajar adalah lewat
komunikasi dengan simbol bahasa. Bagaimanpun sederhanannya suatu kebudayaan
masyarakat, individu atau kelompok sosial pendukungnya masih bisa berkomunikasi
dengan bahasa ciptaannya. Semakin maju suatu budaya belajar, maka struktur
komunikasi berbahasa memperlihatkan kompleksitasnya. Dalam budaya belajar, peranan
bahsa menjadi alat yang kehadirannya sangat diperlukan dalam pewarisa budaya.

1. Perwujudan budaya belajar


Wujud budaya belajar dalam kehidupan dapat dilihat pada dua kategori bentuk.
Pertama, perwujudan budaya belajar yang bersifat abstrak dan kedua perwujudan budaya
yang bersifat kongkrit.
Perwujudan budaya yang bersifat abstrak adalah konsekuensi dari cara pandang
budaya belajar sebagai sistem pengetahuan yang diyakini oleh individu atau kelompok
sesial sebagai pedoman dalam belajar. Perwujudan budaya belajar yang abstark berada
dalam sistem gagasan atau ide yang bersifat abstrak akan tetapi beroperasi.
Perwujudan budaya belajar yang diperlihatkan secara konkrit berupa (a) dalam
prilaku belajar. (b) dalam ungkapan bahasa dalam belajar; dan (c) hasil belajar berupa
material.
Budaya belajar dalam bentuk prilaku tampak dalam interaksi sosial. Perilaku
belajar individu atau kelompok yang berlatar belakang status sosial tertentu
mencerminkan pola budaya belajarnya.Perwujudan perilaku belajar individu atau
kelompok sosial dapat juga dilihat dari kondisi resmi dan tidak resmi juga. Perbedaan
dalam kondisi mencerminkan adanya nilai, norma dan aturan yang berbeda.
Bahasa adalah salah satu perwujudan budaya belajar secara kongkrit pada
individu atau kelompok sosial. Kekurangan dalam menggunakan bahasa sedikit banyak
akan menghambat percepatan dalam merealisasikan dan mengembangkan budaya belajar.
Penguasaan bahasa ilmu pengetahuan dari berbagai bangsa lain memungkinkan
akan memperkuat dan mengembangkan budaya belajar seseorang atau kelompok sosial.
Hasil belajar berupa material menjadikan perwujudan konkret dari sistem budaya belajar
individu atau kelompok sosial. Hasil belajar tidak saja berbentuk benda melainkan
keterampilan yang mengarahkan pada keterampilan hidup (life skill).

1. Substansi budaya belajar


Sebagaimana kebudayaan, maka budaya belajar juga memiliki substansi yang
senatiasa melekat pada kehidupan masyarakat. Substansi budaya belajar dikategorikan
dalam tiga bagian penting, yakni : a) sistem pengetahuan budaya belajar; b) sistem nilai
budaya belajar dan sistem etos budaya belajar dan ; c) sistem pandangan hidup mengenai
budaya belajar.
Sistem pengetahuan budaya belajar yang dimilki manusia merupakan hasil
akumulasi perolehan pembelajaran sepanjang hidupnya dilingkungannya, baik dalam
lingkungan sosial maupun lingkungan alam. Pengetahuan budaya belajar melalui
lingkungan tersebut sebagai bentuk penyesuaian diri dengan kenyataan-kenyataan hidup.
Manusia dangan pengetahuannya belajar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan
tetap bisa hidup dalam kondisi apapun.
Ada tiga cara manusia mendapatkan pengetahuan belajarnya yang diperoleh dari
penyesuaian diri dengan lingkungannya, yakni : a) melalui serangkaian pengalaman
hidupnya tentang kehidupan yang dirasakan, baik pengalaman dalam lingkungan alam
ataupun sosial. Pengalam individu atau kelompok sosial menjadi pedoman dalam
pengetahauan pembelajaran yang penting. b) melalui berbagai pengajaran yang
diperolehnya baik melalui pembelajaran dirumah, masyarakat maupun pendidikan di
sekolah. c) pengetahuan juga diperoleh melalui petunjuk-petunjuk yang bersifat simbolik
yang sering juga disebut sebagai komunikasi simbolik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya kepentingan nilai belajar adalah
pengalaman dan orientasi budaya dimasa depan. Nilai budaya belajar juga akan berkaitan
dengan jenis materi belajar apa yang dipandang penting oleh suatu masyarakat. Dengan
demikian dapatlah disimpulkan, sebagaimana sistem pengetahuan budaya belajar, maka
dalam nilai budaya belajar juga mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut
mengikuti pola perubahan sosial budayanya.pandangan hidup budaya belajar terbentuk
atas dasar sistem pengetahuan, nilai dan etos budaya belajar yang dianut oleh masyarakat
setempat. Sistem pengetahuan belajar yang diperoleh dari lingkungan masyarakat
dioperasikan dalam bentuk sistem berfikir mengenai pengkategorian.

1. Bidang Materi budaya belajar


Mengingat budaya belajar berlangsung dalam kehidupan, maka yang menjadi
garapan atau materi pembelajaran adalah seluruh bidang kehidupan manusia. Para ahli
budaya sepakat untuk menerapkan bidang-bidang kehidupan manusia yang senantiasa
dibutuhkan dalam kehidupan di masyarakat yakni :
1. Materi belajar sistem kepercayaan dan religi
Lima komponen yang dimasukan dalam materi belajar sistem kepercayaan dan
religi, yakni:
a. Emosi Keagamaan
b. Sistem keyakinan
c. Sistem ritus/ritual dan upacara keagamaan
d. Pelaksanaan ritus/ritual menggunakan tempat yang khusus
e. Ummat beragama

2. Materi belajar sistem Organisasi Sosial


Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa hidup secara kelompok. Sikap hidup
untuk berkelompok bukan karena insting semata melainkan atas dasar kebutuhan
bersama. Mereka memandang hidup berkelompok jauh lebih menguntungkan
dibandingkan hidup menyendiri. Terdapat dua submateri yang dijadikan bahan mengenai
kehidupan sosial berikut organisasinya, yakni a) organisasi simbiotik, yakni organisasi
yang semata-mata terbentuk atas tingkah laku fifik yang bersifat otomatis dan organisasi
sosial, yang berbentuk atas dasar komunikasi dengan menggunakan sistem lambang.
Materi organisasi sosial mempunyai dua aspek penting untuk diajarkan yakni
asfek fungsi dan aspek stuktur.berkenaan dengan fungsi suatu organisasi dalam
kehidupan dilakukan dengan bermacam materi berikut dengan tingkat kesulitan.dalam
pencapain ketertiban diperlakukan sejumlah syarat yang harus di penuhi,diantaranya: (a)
memiliki aturan yang baku dan aturan tersebut diterima oleh semua anggota kelompok;
(b)adanya kekuasaan yang dapat memaksakan individu untuk mematuhi aturan yang ada;
(c)adanya koordinasi antarlapisan masyarakat (lapisan bawah,menegah dan lapisan atas);
(d) antara lapisan masyarakat itu berkerja di berbagai bidang kehidupan dapat terjalin
dengan harmoni dan saling memberi kepuasan antarpihak;(e)dari keseluruhan bidang
harus membentuk mekanisme atau pola yang dijadikan pedoman dalam bertingkah laku.
3. Materi belajar sistem mata pencaharian hidup
Materi pembelajaran mengenai sistem mata pencaharian hidup adalah materi yang
paling mendapat tekanan dari masyarakat manapun. Setiap kelompok masyarakat
memilki sistem ekonomi yang bersumber dari lingkungannya. Pembelajaran sistem mata
pencaharian hidup atau ekonomi berlangsung oleh seluruh anggota masyarakat, baik
anak-anak maupun oang dewasa. Perbedaannya terletak pada kompleksitas materi dan
cara-cara belajar.
Dalam pengkajian perekonomian setidaknya memerlukan tiga aspek, yakni : a)
ekonomi sektor produksi; b) ekonomi sektor distribusi dan c) ekonomi sektor konsumsi.
Dalam kaitan dengan materi pembelajaran bidang ekonomi perlu memperhatikan jenis
mata pencaharian yang dijadikan bidang kehidupannya.
4. Materi belajar sistem peralatan dan teknologi
Materi sitem peralatan dan teknologi adalah salah satu unsur kehidupan manusia
yang berperan untuk mengembangkan suatu masyarakat. Teknologi dipandang sebagai
ilmu tentang sejumlah teknik yang diciptakan masyarakat untuk mempermudah dan
meningkatkan kualitas kehidupan suatu masyarakat. Pada prinsipnya teknologi ditemukan
manusia karena terdesaknya kebutuhan dalam pekerjaanya. Sebagaiman diketahui bahwa
manusia itu sangatlah terbatas energi dan kemampuan fisiknya, karean itu mesti ada
sesuatu yang bisa membangtu memudahkan, memperlancar dan meningkatkan jumlah
pekerjaan. Bilamana teknologi dasar sudah ditemukan, maka masyarakat berusaha untuk
menemukan teknologi yang lebih manju lagi. Dengan teknologi secara perlahan tetapi
pasti telah mendorong budaya belajar yang baru, karena pembelajaran menjadi lebih
dengan bantuan teknologi.
5. Materi belajar sistem bahasa
salah satu materi budaya belajar yang bersifat khas adalah bahasa. Bahasa
dipandang menjadi pangkal terwujudnya suatu kebudayaan. Materi pengetahuan belajar
dilakukan dengan menggunakan simbol bahasa ternyata banyak keuntungan karena
bersifat efektif dan efisien dalam menyampaikan makna.
Bahasa tidak hanya diartikan sekedar suara (bahasa lisan), melainkan juga dengan
tulisan (bahasa tulisan). Bahkan bahasa gerak (bahasa isyarat). Setiap masyarakat atau
kelompok masyarakat memilki bahasa tersendiri yang didalamnya mengandung
pengetahuan budaya yang dipelajari antar generasi.
6. Materi belajar sistem kesenian
setiap masyarakat menciptakan dan mengembangkan berbagai jenis kesenian.
Kesenian adalah unsur budaya yang berusia tua. Sebagai materi pembelajaran, kesenian
secara langsung maupun tidak langsung dijalankan budaya belajar. Melihat citranya yang
indah memungkinkan individu atau kelompok sosial mempelajari kesenian setempat
ataupun kelompok lain secara khusus.

A. TRANSMISI BUDAYA BELAJAR


Pewariasan budaya belajar dapat disamakan dengan istilah “Transmisi
kebudayaan”. Yakni suatu usaha untuk menyampaikan sejumlah pengetahuan atau
pengalaman untuk dijadikan sebagai pegangan dalam meneruskan estafet kebudayaan.
Dalam hal ini tidak ada suatu masyarakat yang tidak melakukan usaha pewarisan budaya.
Usaha pewarisan ini bukan sekedar menyampaikan atau memberikan suatu yang material,
melainkan yang terpenting adalah menyampaikan nilai-nilai yang dianggap terbaik yang
telah menjadi pedoman yang baku dalam masyarakat.
1. Kepribadian dan budaya belajar
Pembahasan kepribadian pada umumnya membicarakan aspek internal individu,
sementara budaya belajar berkaitan dengan aspek eksternal individu
a. Kepribadian yang selaras
Kepribadian yang selaras di sini adalah kepribadian yang sesuia dengan nilai dan
norma yang berkembang dimasyarakat yang bersangkutan. Seorang individu yang selaras
adalah individu yang menjadikan pendukung kebudayaan yang besangkutan secara penuh
karena jenis kepribadian yang dimilkinya itu terbentuk karena pengaruh kebudayaan
dimana ia tinggal.
a. Kepribadian yang menyimpang
Kepribadian sesorang tidak selalu tumbuh sebagaimana yang diinginkan oleh
orang tuanya atau masyarakat bersangkutan. Orang tua dan masyarakat hanyalah
menyediakan sarana bagi perkembangan kepribadian. Suatu perkembangan tidak bisa
memaksa individu untuk menjadi hitam semua atau putih semua. Kepribadian adalah
sesuatu yang bersifat kejiwaan dan perkembangan mempunyai dinamika tersendiri.
Adanya kenyataan bahwa kepribadian itu tidaklah senantiasa sama dalam suatu
masyarakat, dapat kita perluas dengan menunjukan gejala banyaknya orang yang memilki
kelainan jiwa. Penyakit ini disinyalir disebabkan oleh adanya tekanan-tekanan sosial-
budaya yang amat besar mempengaruhi kepribadian individu-individu besangkutan.
1. Sarana pewarisan budaya belajar
Pewariasan budaya belajar dapat disamakan dengan istilah “Transmisi
kebudayaan”. Yakni suatu usaha untuk menyampaikan sejumlah pengetahuan atau
pengalaman untuk dijadikan sebagai pegangan dalam meneruskan estafet kebudayaan.
Usaha pewarisan ini bukan sekedar menyampaikan atau memberikan suatu yang material,
melainkan yang terpenting adalah menyampaikan nilai-nilai yang dianggap terbaik yang
telah menjadi pedoman yang baku dalam masyarakat.
Tanpa mempertahankan usaha pewarisan maka masyarakat akan punah dan
dilupakan. Usaha pewarisan budaya dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan cara
melibatkan berbagai institusi sosial yang ada, baik pada lingkungan keluarga, masyarakat,
lembaga pendidikan sekolah dan juga media masa sebagai penyalur informasi.
a. Lingkungan Pendidikan Keluarga
Dalam lingkungan keluarga memungkinkan seorang individu atau kelompok
melakukan suatu identifikasi dilingkungannya, dan secara perlahan-lahan
diinternalisasikan dalam kehidupannya. Proses identifikasi dalam keluarga menjadikan
seseorang dapat mengenal keseluruhan anggota keluarganya, baik saudara dekat maupun
saudara jauh.
Para orang tua atau kelompok yang sudah mapan dalam tansmisi kebudayaan
berfungsi sebagai nara sumber aktifmelalui tindakan yang bersifat responsif dan
senantiasa mendorong, menjelaskan berbagai kenyataan yang ada dilingkungan beserta
perubahan-perubahan yang berlangsung disekitarnya. Upaya merespon, mendorong dan
menjelaskan itu didasarkan atas pengalaman, pengetahuan, yang berlaku dilingkungannya
sehingga cara-cara melaksanakan pembelajaran itu senantiasa disesuaikan dengan
perwujudan kebudayaannya. Atau dengan kata lain cara-cara budaya belajar itu tidak lain
sebagai hasil adaptasi dirinya dengan kebudayaan yang dianutnya.
Keluarga mempunyai peranan penting karena dalam keluarga itulah suatu
generasi dilahirkan dan dibesarkan. Mereka mendapat pelajaran pertama kali di
lingkungan keluarga, apalagi bagi masyarakat yang belum mengenal dan menciptakan
lingkungan pendidikan formal.
A.
a. lingkungan pendidikan masyarakat
masyarakat sebagai kelompok manusia yang terbesar yang mempunyai kebiasaan,
tradisi, sikap dan perasaan untuk hidup bersama. Pada prinsipnya suatau masyarakat
terwujud apabila di antara kelompok individu-individu tersebut telah lama melakukan
kerja sama serta hidup bersama setelah menetap. Sistem pewarisan budaya lewat
lingkungan masyarakat berlangsung dalam berbagai pranata sosial, diantaranya
pemilahan hak milik, perkawinan, religi, sitem hukum, sestem kekerabatan dan sistem
edukasi.
A.
a. lingkungan pendidikan sekolah
sekolah adalah sarana yang diciptakan oleh masyarakat yang berfungsi untuk
melaksanakan pembelajaran. Pembelajaran tidak hanya menyampaikan pengetahuan saja
yang berupa latihan untuk kecerdasan, melainkan menghaluskan moral dan menjadikan
akhlak yang baik. Sekolah dalam masyarakat dikategorikan sebagai pendidikan formal.
Pendidikan di sekoah dalam kerangka pewarisan budaya jelas sekali arahnya. Para
pendidik yang bertugas sebagai guru melakukan penyampaian pengetahuan dan interaksi
moral itu berdasarkan rancangan atau program yang disesuaikan dengan sistem
pengetahuan dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Dan proses pewarisan budaya
disekolah dilakukan secara bertahap, terencana dan terus-menerus.
A.
a. lingkungan pendidikan media masa
media masa adalah suatu bagian dalam masyarakat yang bertugas
menyebarluaskan berita, opini, pengetahuan, dan sebagainya. Sifat media masa adalah
mencari bahan pemberitaan yang aktual (hangat), menarik perhatian, dan menyangkut
kepentingan bersama. Media masa sebagai media kontrol bagi terjadinya berbagai
penyimpangan dari nilai dan norma dan aturan yang berlaku di masyarakat.
Salah satu fungsi media masa yakni sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat.
Banyak informasi yang diberitakan dan memuatnya berbagai pendapat-pendapat
mengenai berbagai masalah dilingkungan masyarakat sacara langsung tidak langsung
akan memperluas wawasan para pembacanya.

A. PROSES PERUBAHAN BUDAYA BELAJAR


Individu atau kelompok sosial akan berkesuaian dengan motivasi untuk
mengadakan pembaharuan dalam budaya belajarnya bilamana didukung oleh faktor-
faktor sebagai berikut : a) adanya kesadaran dari para individu akan adanya kelemahan
pola budaya belajar yang selama ini dianunya; b) adanya mutu dan keahlian para individu
yang bersangkutan dalam mendorong terjadinya penemuan budaya belajar yang baru; c)
adanya sistem perangsang dalam masyarakat yang mendorong adanya mutu budaya
belajar dalam bentuk penghargaan khalayak mengenai temuannya, dan d) adanya suasana
krisis yang berlangsung dalam masyarakat bersangkutan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan, temasuk perubahan
dalam budaya belajar.
1. Faktor waktu dalam perubahan budaya belajar
Perubahan budaya belajar yang disebabkan oleh faktor waktu disebut juga perubahan
budaya belajar yang alamiah. Perubahan budaya belajar dalam konteks ini berjalan
sejalan dengan perkembangan individu atau kelompok sosial, misalnya perubahan budaya
belajar anak-anak, memudian budaya belajar usia remaja, budaya belajar manusia
dewasa.
1. Faktor kontak budaya dalam perubahan budaya belajar
Kontak budaya merupakan perubahan budaya belajar yang tidak alamiah. Kontak budaya
dalam perubahan budaya berlangsung dalam proses peniruan, atau pengambilan suatu
unsur budaya luar untuk kehidupan dijadikan kepentingan pemenuhan kebutuhan bagi
suatu masyarakat.
1. Faktor kecepatan dalam perubahan budaya belajar
Kecepatan perubahan budaya menjadi prinsip dasar dalam perubahan budaya belajar.
Kenyataanya setiap individu atau kelompok sosial memilki tingkat perubahan budaya
sebagai sesuatu yang tidak bisa dipungkiri.
1. Akulturasi budaya belajar
Akulturasi timbul sebagai akibat adanya kontak langsung dan terus-menerus antara
kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda, sehingga
menimbulkan adanya suatu perubahan kebudayaan yang asli dari kedua masyarakat
bersangkutan.
Akulturasi budaya belajar dapat terwujud melalui kontak budaya yang bentuknya
bermacam-macam antara lain : pertama, kontak budaya belajar bisa terjadi antara seluruh
anggota masyarakat atau sebagian saja, bahkan individu-individu dari dua masyarakat.
Kedua, kontak budaya belajar berjalan melalui perdamaian diantara kedua kelompok
masyarakat yang bersahabat, maupun melalui cara permusuhan antar kelompok. Ketiga,
kontak budaya belajar timbul diantara masyarakat yang mempunyai kekuasaan, baik
dalam politik maupun ekonomi.
1. Asimilasi budaya belajar
Asimilasi budaya pada dasarnya proses saling mempelari pola budaya belajar antar
individu dan kelompok sehingga dapat mengembangkan budaya belajar masing-masing.
Karrean berkaitan dengan perubahan, maka awalnya melakukan identifikasi pola budaya
belajar diantara yang sedang berasimilasi untuk kemudian dilanjutkan bersama-sama
dalam bentuk perumusan dan tindakan budaya belajar secara konkrit.
Proses asimilasi budaya belajar dapat berjalan dengan cepat ataupun lambat bergantung
kepada beberapa faktor, yakni a) adanya toleransi yang memadai antara dua individu atau
kelompok masyarakat yang memilki perbedaan-perbedaan. b) adanya faktor ekonomi
yang menjadi kemungkinan akan memperlancar atau memperlambat jalannya asimilasi
budaya belajar. c) adanya faktor kesan yang baik atau rasa simpatik pada saat
mengadakan kontak budaya belajar pada awalnya. d) adanya faktor perkawinan campuran
menjadi faktor yang kuat untuk terwujudnya suatu asimilasi budaya belajar.
1. Inovasi budaya belajar
Individu atau masyarakat akan berkesesuaian derngan motivasi untuk mengadakan
pembaharuan dalam budaya belajarnya bilamana didukung oleh faktor-faktor berikut : a)
adanya kesadaran dari para individu akan adanya kelemahan pola budaya belajar yang
selama ini dianutnya. b) adanya mutu dan keahlian para individu yang bersangkutan
dalam mendorong terjadinya penemuan budaya belajar yang baru. c) adanya sistem
perangsang dalam masyarakat yangt mendorong adanya mutu budaya belajar dalam
bentuk penghargaan khalayak menenai temuannya. Dan d) adanya suasana krisis yang
berlangsung dalam masyarakat bersangkutan.
Suatu perubahan budaya belajar akan diterima suatu masyarakat apabila memenuhi
syarat-syarat : pertama, masyarakat bersangkutan harus merasa butuh dengan perubahan
budaya belajar yang diawali adanya kesadaran bersama bahwa budaya belajar yang saat
ini berlangsung sudah tidak cocok lagi digunakan dalam kehidupan. Kedua, perubahan
budaya belajar yang ditemukan harus dapat dipahami dan dikuasai oleh anggota
masyarakat lainnya. Ketiga, penemuan budaya belajar harus bissa diajarkan pada
masyarakat. Keempat, penemuan budaya belajar harus menggambarkan keuntungan
masyarakat pada masa yang akan datang. Kelima, perubahan tersebut harus tidak
merusak prestise pribadi atau pribadi atau golongan.
1. Difusi budaya belajar
Difusi budaya belajar dipandang sebagai proses penyebaran dari satu budaya belajar
individu ke individu yang lainnya atau inta-masyarakat atau dari masyarakat ke
masyarakat lainya atau difusi inter-masyarakat. Proses peniruan budaya belajar disebut
imitasi. Proses imitasi budaya belajar tidak selalu dipandang negatif, karena pada
prisipnya individu atau kelompok sosial itu tengah melakukan identifikasi budaya belajar
baru. gejala peniruan ini berbentuk trial and error artinya mencoba-coba, bisa benar atau
juga salah. Kalau kebetulan benar, maka budaya belajar baru akan terus digunakan dalam
kehidupan mereka dan digunakan untuk mengganti budaya belajar sebelumnya.
1. Dampak perubahan budaya belajar
Dampak perubahan budaya belajar dalam kehidupan dapatlah kita amati dalam kejadian
sehari-hari dilingkungan kita. Kita ketahui bersama bahwa pembangunana nasional yang
sedang dilaksanakan ini pada dasarnya adalah proses perubahan dari luar. Perubahan
melalui pembangunan berkonsekuensi pada perubahan pada pola duni belajarnya. setiap
individu atau kelompok masyarakat mengiterprestasikan sulinya kehidupan dan semakin
ketatnya persaingan yang menjadi individu atau kelompok sosial mengubah pola budaya
belajar dalam kehidupannya.
Respon perubahan budaya belajar pada suatu masyarakat dengan tingkat kebudayaannya
memilki cara yang berbeda dalam menanggapi perubahan. Cara tersebut didasarkan pada
perbedaan dalam latar belakang karakter budaya masing-masing berikut dengan ciri
khasnya. Sebagai mana dipahami, latar belakang budaya yang diartikan sebagai model
pengetahuan, pada dasarnya difungsikan untuk meng-interprestasikan pengalaman dan
lingkungan nya serta yang mendorong terwujudnya suatu kelakuan.
Penetrasi budaya belajar adalah penyebab budaya belajar individu atau kelompok sosial
dapat berubah yang disebakan oleh kontak dengan dunia luar. Penetrasi budaya adalah
proses penerimaan suatu unsur kebudayaan dari luar. Unsur yang datang dari luar secara
perlahan ikut menyertai atau membonceng dalam suatu saluran yang dianggap sebagai
saluran umum, kemudian secara perlahan unsur tersebut masuk dan mengubah budaya
belajar atau sebagian budaya belajar yang hidup dalam suatu masyarakat.