Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM

PEDOSFER

Disusun oleh keompok 3


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Chandra Febrian
Bunga Astria Fajrin
Daliah
Ina Rostiana
Novi alawiah
Rini Anggraeni

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI
2011

A. Pendahuluan
Pada dasarnya, tanah berasal dari batuan atau zat organik lainnya yang
mengalami pelapukan. Berubahnya batuan atau zat organik menjadi butir-butir tanah
dikarenakan oleh beberapa faktor :
1. Pemanasan matahari pada siang hari dan pendinginan pada malam hari.
2. Batuan yang sudah retak, pelapukan dipercepat oleh air.
3. Akar tumbuh-tumbuhan dapat menerobos dan memecah batu-batuan sehingga
hancur.
4. Binatang-binatang kecil seperti cacing tanah, rayap dan sebagainya yang
membuat lubang dan mengeluarkan zat-zat yang dapat menghancurkan batuan.
5. Pemadatan dan tekanan pada sisa-sisa zat organik akan mempercepat
terbentuknya tanah.
Berdasarkan bahan induk dan proses perubahan yang disebabkan oleh tenaga
oksigen, tanah di Indonesia dibedakan menjadi beberapa jenis seperti berikut :
1. Tanah podzolik merah kuning, adalah tanah yang terjadi dari pelapulan batuan
yang mengandung kwarsa pada iklim basah dengan curah hujan 2.500-3.500
mm/tahun. Jika terkena air mudah basah, tanah ini banyak terdapat di
pegunungan.
2. Tanah argonosal adalah tanah yang terjadi dari bahan induk organik seperti
gambut dan rumput rawa pada iklim basah dengan curah hujan lebih dari 2.500
mm/tahun.
3. Tanah oluvial adalah tanah yang berasal dari endapan lumpur yang dibawa
melalui sungai-sungai. Tanah ini bersifat subur sehingga baik untuk pertanian
dan bahyan-bahan makanan.
4. Tanah kapur adalah tanah yang berasal dari batuan kapur yang umumnya
terdapat di daerah pegunungan kapur berumur tua. Tanah ini tidak subur, tetapi
masih dapat ditanami pohon jati.
5. Tanah vulkanis adalah tanah yang berasal dari pelapukan batuan-batuan vulkanis
baik dari lava atau batuan yang telah membeku (effusif) maupun dari abu
vulkanis yang telah membeku (efflata).
6. Tanah pasir adalah tanah yang berasal dari batuan pasir yang telah melapuk.
Tanah ini sangat miskin dan batuan di dalamnya sangat sedikit.

7. Tanah humus (bunga tanah) adalah tanah yang terjadi dari tumbuh-tumbuhan
yang telah membusuk. Tanah ini mengandung humus yang bersifat sangat subur
dan umumnya berwarna hitam.
8. Tanah laterit adalah tanah yang mengandung zat besi dan alumunium, karena tua
sekali, maka tanah ini tidak subur lagi. Tanah ini berwarna merah muda sehingga
disebut tanah merah.
Keadaan tanah yang serasi bisa menjadi habitat tumbuh-tumbuhan, kalau
perbandingan komponen-komponennya sebagai berikut : mineral 45 %, bahan
organic 5 %, air antara 20-30%, dan udara tanah antara 20-30%.
Ikatan senyawa organik yang terdapat dalam tanah cukup banyak macamnya
namun sedikit yang dapat menyebabkan terjadinya kombinasi-kombinasi warna
tanah, antara lain oksida besi dan bahan organis. Adapun asal dari warna- warna itu
adalah :
1. Kuning, berasal dari mineral limonit (2Fe2O33K3O).
2. Cokelat, berasal dari bahan-bahan organis asam yang lapuk sebagian.
3. Putih, berasal dari mineral silica kuarsa (SiO2), kapur (CaCO3), kaolin, bauksit
alumunium, dan silikat, gypsum (CaCO42H2O).
4. Hitam, berasal dari bahan-bahan organis yang telah terurai dengan hebat dan
biasanya ada hubungannya dengan unsur-unsur karbon (C), magnesium (Mg)
serta belerang (S).
5. Merah, berasal dari mineral hemalit (Fe2O3) atau turgit (2Fe2O3H2O).
6. Hijau, berasal dari oksida ferrous.
7. Biru, berasal dari mineral lilianit.
Dilihat dari segi kesuburannya, tanah dibedakan menjadi 4 yaitu :
1. Tanah muda, berciri unsur hara yang terkandung di dalamnya belum banyak
sehingga belum subur.
2. Tanah dewasa, berciri unsur hara yang terkandung di dalamnya sangat banyak
sehingga tanah ini sangat subur.
3. Tanah tua, berciri unsur hara yang terkandung di dalamnya sudah berkurang.
4. Tanah mati, berciri unsur hara yang terkandung di dalamnya sudah sangat sedikit
bahkan hampir habis. Tanah ini sangat tidak subur.

B.

Alat dan Bahan

1. Thermometer

8. Sling meter

2. Luxmeter

9. Cawan petri

3. Altimeter

10. Elektrical Balance

4. Soil Tester

11. Oven

5. Soil Corer

12. Beaker gelas 100 ml

6. Cangkul

13. Hidrogen peroksida

7. Meteran / penggaris panjang

14. Aquades

C. Cara Kerja

1. Pengukuran kandungan tanah


a. Timbang berat cawan petri
b. Masukan tanah yang akan dihitung kandungan air tanahnya ke dalam cawan
petri sebanyak 20 gram
c. Timbang cawan petri beserta tanah
d. Masukan cawan petri yang berisi tanah ke dalam oven pada suhu 90-1000C
selama 24 jam
e. Timbang cawan Petri beserta tanah yang sudah kering
f. Tentukan prosentase kandungan air dalam tanah dengan menggunakan
rumus :
(berat tanah kering + cawan) (berat cawan) x 100 %
(berat tanah basah)
2. Menentukan tekstur tanah
a. Ambil tanah kira-kira 10-20 gram
b. Teteskan sedikit air sehingga membentuk gumpalan (bola)
c. Kemudian tekan bola tanah dengan menggunakan jempol dan jari tengah
d. Jika bentuk tanah yang dihasilkan menyerupai pita tanah tersebut termasuk
tanah liat, sedangkan juka tidak menyerupai pita tanah tersebut termasuk
tanah berpasir
3. Pengukuran suhu tanah
a. Buat galian tanah sedalam 20-25 cm
b. Masukan thermometer ke dalam galian dan tutup dengan tanah
c. Setelah 10 menit baca suhu tanah pada thermometer

4. Pengukuran pH dan kelembapan tanah


a. Bersihkan ujung soil tester menggunakan aquades
b. Benamkanlah ujung soil tester ke dalam tanah
c. Setelah 10 menit baca pH dan kelembapan tanah pada soil tester
5. Pengukuran intensitas cahaya
a. Tekan tombol press pada alat luxmeter utuk menunjukan on
b. Pilih range
c. Buka penutup photosensor dan arahkan photosensor kea rah datangnya
cahaya
d. Baca intensitas cahaya
e. Setelah pengukuran se;esai, photosensor ditutup dan luxmeter dimatikan.
6. Pengukuran ketinggian tempat (altitude)
Perbedaan ketinggian diukur berdasarkan perubahan tekanan yang dilakukan
dengan mengggunakan altimeter. Satuan yang digunakan adalah mbar atau
mmHg.
7. Pengukuran kecepatan angin
a. Tentukan jarum ke angka nol.
b. Letakan alat tersebut pada tripod di daerah angina
c. Setelah 30 detik, tarik stop level yang ada di bawah alat ini.
d. Baca angka yang ditunjukan jarum saat berhenti. Angka ini menunjukan
rata-rata kecepatan angin pada 30 detik yang lalu.
8. Pengukuran kelembapan udara
a.

Rangkai sling meter dan tetesi dengan akuades bagian yang tertutup kain

b.

Putar-putar selama 5-10 menit lakukan sebanyak tiga kali

c.

Baca angka yang di tunjukkan oleh cairan pada tabungnya

9. Pengukuran landungan bahan organik dalam tanah


a. Masukan tanah yang akan diuji masing-masing ke dalam 2 beaker gelas.
b. Pada beaker gelas pertama ditambahkan air sehingga menutupi tanah
c. Pada beaker gelas ke dua ditambahkan hidrogen peroksida yang akan
mengoksidasi bahan organik dalam tanah.
d. Bandingkan perbedaan warna tanah pada kedua beaker gelas tersebut.
D.

Data Pengamatan

Faktor Abiotik Tanah


1
Kandungan air tanah(%)
tekstur tanah

Lokasi I
pengukuran ke2
3
71,31
Tanah Liat

Lokasi Ii
pengukuran ke2
3
74,39
Tanah Liat

pH tanah
Kelembapan tanah
Kelembapan udara
Suhu tanah
Intensitas Cahaya
(Klux)
Ketinggian tempat (dpl)
Kandungan organik

6,8
60
72
25

6,9
75
73
25

92400

82700

6,3
55
73
26

Kandungan air
tanah(%)
tekstur tanah
pH tanah
Kelembapan tanah
Kelembapan udara
Suhu tanah
Intensitas Cahaya
(Klux)
Ketinggian tempat
(dpl)
Kandungan organik

6,9
40
85
24

6,8
80
73
25

7
60
86
24

6,9
60,0
81,3
24,3

34400

46700

62700

47933,3

510

89900

85600

14200

7
75
67
26

63233,3 125000

520

Kandungan organik

Faktor Abiotik
Tanah

40400 71833,3

ada (++++)
Lokasi Iii
pengukuran ke2
3
X
73,03
Tanah Liat
6,9
6,9
6,7
50
50
51,7
79
72
74,7
25
25
25,3

Ketinggian tempat (dpl)

6,9
67,7
72,7
24,7

510

Faktor Abiotik Tanah


Kandungan air tanah(%)
tekstur tanah
pH tanah
Kelembapan tanah
Kelembapan udara
Suhu tanah
Intensitas Cahaya
(Klux)

7
68
73
24

112000 120000

119000,0

ada (++++)

Lokasi V
pengukuran ke2
3
X

Lokasi Vi
pengukuran ke1
2
3
X

68,68
5,4
20
60
24
166
00

7,0
58,3
71,3
25,3

berpasir
4,4
4,4
25
25
71
59
24
24
1540 6310
0
0

72,37
4,7
23,3
63,3
24,0
31700
,0

520

berpasir
4,4
25
71
25
930
8840
0
5,4
20
60
30

4,4
25
59
25
891
0

520

ada (++++)

ada (++++)

Correlations: pH tanah, K.tanah, K.udara, suhu tanah, intensitas cahaya

tanah
K.tanah
K.udara
suhu tanah

520
ada (++++)

ada (++++)
Lokasi Iv
pengukuran ke2
3
73,36
berpasir
7
7
50
50
70
77
25
25

pH tanah
0.974
0.859
-0.248

K.tanah

K.udara

0.826
-0.292

-0.357

suhu

4,7
23,3
63,3
26,7
9016
,7

intensitas c

0.783

0.727

0.410

-0.187

Cell Contents: Pearson correlation

E. Pembahasan
Tanah adalah akumulasi tubuh alam yang menempati sebagian besar
permukaan bumi yang berasal dari bahan organik dan anorganik. Tanah
merupakan lapisan yang menyeliputi bumi antara litosfer (batuan yang
membentuk kerak bumi) dan atmosfer. Tanah menjadi tempat tumbuh-tumbuhan
dan mendukung kehidupan hewan dan manusia.
Pada praktikum ini tentang mengamati lapisan permukaan bumi yaitu
tanah.tanah merupakan factor abiotik yang sangat penting bagi suatu ekosistem.
Pada praktikum ini faktor abiotik tanah yang kami amati meliputi faktor
kandungan air tanah, tekstur tanah, pH tanah, kelembapan tanah, kelembapan
udara, suhu tanah, intensitas cahaya, ketinggian, dan kandungan oraganik tanah.
Pengamatan ini kami mengambil lakukan dengan mengambil sampel tanah dari
3 lapisan tanah. Praktikum ini dilakukan di wilayah Cemerlang yang memiliki
wilayah yang cukup panas, dengan lingkungan pengamatan yang ditumbuhi
banyak pemukiman dan tanaman. Hasil dari praktikum ini dapat dilihat ditabel
pengamatan.
Fakto abiotik yang pertama kami amati yaitu kandungan tanah. Air
merupakan sumber bagi kehidupan makhluk hidup. Tumbuhan sendiri
membutuhkan air dalam tanah untuk pertumbuhan. Kandungan tanah yang kami
amati kami ambil sebuah sample tanah dan membawanya ke laboratoirum untuk
diamati kandungan tanahnya. Setelah dihitung tanah ditempat yang kami amati
memiliki kandungan air yang cukup tinggi yaitu 73,36 %. Kandungan air yang
tinggi ini disebabkan lingkungan pengamatan yang terletak disebelah sungai,
sebelah kolam, dan disana banyak sekali pepohonan. Banyaknya pepohonan
menyebabkan air hujan dapat diserap oleh akar.
Tekstur tanah merupakan faktor kedua yang kami amati. Setelah diberi
sedikit air, dan ditekan tanah tersebut tidak membentuk pita, sehingga tekstur
tanah pada lokasi kami termasuk jenis tanah berpasir. Tanah berpasir ini
terbentuk akibat pelapukan batuan. Tekstur tanah ini akan membantu dalam

penyimpanan air. Semakin dalam tanah yang digali maka air tanah pun akan
semakin banyak.
Faktror abiotik lain yang diamati yaitu pH, kelembapan tanah,
kelembapan udara. pH tanah yang diamati rata-rata 7,0, ini menandakan bahwa
tanah tersebut bersifat normal. pH ini dipengaruhi oleh curah hujan, karena
curah hujan akan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan pencucian tanah,
sedangkan pencucian tanah yang cepat menyebabkan tanah menjadi asam (pH
tanah menjadi rendah). Untuk kelembapan dan udara tanah rata-rata 58,3 dan
73,3. Apabila dilihat kelembapan tanah berbanding lurus dengan pH. Semakin
tinggi kelembapan tanah maka pH tanah juga akan semakin tinggi. Hal ini
berbanding terbalik anatar pH dengan kelembapan udara. Semakin tinggi
kelembapan udara di lingkungan tanah tersebut maka proses reaksi asam akan
semakin menurun, sehingga pH tanah pun menurun.
Suhu tanah yang kami ukur yaitu rata-rata sebesar 25,3 oC. Suhu tanah
ini berbanding lurus dengan intensitas cahaya. Semakin berkurang cahaya yang
datang maka suhu tanahpun akan menurun. Suhu ini pun diepngaruhi oleh
ketinggian semakin tinggi ketinggian tempat maka suhu akan semakin
berkurang. Suhu dan intensitas cahaya sangat berpengaruh terhadapat kehidupan
organisme tanah,seperti cacing yang tidak tahan terhadap suhu dan intensitas
cahaya yang tinggi.
Hasil hasil uji laboratorium mengenai kandungan organik tanah dengan
menggunakan hydrogen peroksida (H2O2) sample tanah yang diambil tanah
tersebut mengandung banyak organik dan termasuk kedalam tanah subur.
Terbukti dengan penggunaan hidrogen peroksida di dalam larutan tanahnya
terdapat warna putih pada bagian larutan tanah tersebut. Jika dibandingkan
dengan lokasi lain, lokasi yang kelompok kami lakukan memiliki bahan organik
yang sangat melimpah. Hal ini terbukti dengan adanya busa dan perbandingan
warna yang lebih putih dibandingkan dengan yang lain. Organik yang banyak
pada lokasi tersebut, dikarenakan lokasi tersebut dekat dengan perasawahan,
kolam, dan banyak tanaman yang tumbuh. Tumbuhan yang tumbuh lebat
menandakan lokasi tersebut memiliki tanah yang cukup bahan organik.
Selain itu terdapat saling keterkaitan antara factor abiotik yang diamati
seperti yang terdapat pada tabel korelasi. Antara kelembaban tanah dengan pH

tanah terdapat hubungan yang sangat erat yaitu menunjukan angka 0,97. Hal ini
menunjukan bahwa kelembaban tanah sangat berpengaruh terhadap pH tanah
begitu juga sebaliknya. Selain dengan kelembaban udara pH tanah juga
berkorelasi positif dengan kelembaban udara yaitu dengan niali korelasi 0,854
dan intensitas cahaya dengan nilai korelasi 0,753. Sementara dengan suhu tanah
pH tanah berkorelasi negative itu menandakan hubungan yang sangat jauh.
Kelembaban tanah berkorelasi positif dengan kelembaban udara dan
intensitas cahaya, sementara dengan suhu tanah kelembaban hubungannya
sangat jauh yang ditandai dengan niali korelasi negative.
Kelembaban udara dengan suhu tanah berkorelasi negative sedangkan
dengan intensitas cahaya kelembaban udara memiliki keterhubungannya yang
jauh.
Suhu tanah berkorelasi negative terhadap intensitas cahaya, hal ini
menunjukan bahwa suhu tanah tidak dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari
yang jatuh di daerah tersebut.

F.

Kesimpulan

Banyaknya pepohonan dapat menyebabkan air hujan dapat diserap oleh akar,
sehingga air tanah dapat tertampung.

Perubahan pH tanah dipengaruhi oleh curah hujan, karena curah hujan dapat
berpengaruh pada erosi dan pencucian tanah. Pencucian tanah yang cepat
menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menjadi rendah).

Kelembapan tanah berbanding lurus dengan pH. Semakin tinggi kelembapan


tanah maka pH tanah juga akan semakin tinggi.

Suhu tanah ini berbanding lurus dengan intensitas cahaya. Semakin berkurang
cahaya yang datang maka suhu tanahpun akan menurun.

Kandungan organik tanah dapat diamati dengan menggunakan hydrogen


peroksida, dengan terlihat adanya bus dan berwarna keputihan.

G.
Daftar Pustaka
Campbell et all. 2004. Biologi Jilid 3 Edisi Kelima. Jakarata: Erlangga.
Kimball, John W et all. 2004. Biologi Jilid 3 Edisi Kelima. Jakarata: Erlangga.

. 2010. Tersedia online : www.wikipedia.org/wiki/Tanah. 05-12-2011.


14:28
. 2010. Tersedia online : http://www.bangkoyoy.com/2010/10/penentuanfaktor-abiotik-lingkungan.html. 05- 12-2011. 14.30