Anda di halaman 1dari 23

PEMETAAN ANGKA HARAPAN HIDUP KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2012

HIDUP KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2012 Oleh : Adhitya Bima Hardianto 130722616069 PROGRAM STUDI

Oleh :

Adhitya Bima Hardianto

130722616069

PROGRAM STUDI GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

November 2014

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pembangunan di segala bidang telah dilakukan oleh pemerintah secara terus menerus

sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Adapun pelaksanaan

program-program pembangunan tersebut disesuaikan dengan potensi yang ada di masing-

masing daerah. Salah satu indikator yang digunakan untuk melakukan pelaksanaan

pembangunan tersebut adalah indikator kesehatan.

Kesehatan adalah hak dasar manusia dan merupakan salah satu aspek kualitas

sumberdaya manusia yang penting. Sumber Daya Manusia (SDM) yang sehat secara fisik

diharapkan menjadi manusia yang berkualitas sehingga dapat ikut berperan aktif dalam

pembangunan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Indikator status kesehatan dapat dilihat dari usia harapan hidupnya ,mengingat kesehatan

dapat mempengaruhi usia harapan hidup. Sedangkan angka harapan hidup pada suatu usia

tertentu adalah rata-rata tahun hidup yang dijalani oleh seseorang yang telah mencapai

usia tersebut,pada suatu tahun tertentu dan dalam situasi mortalitas yang berlaku di

lingkungan masyarakat.

Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi pada

umunya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup suatu negara. Sehingga dapat

dikatakan bahwa angka harapan hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja

pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk dan meningkatkan derajat

kesehatan.

Walaupun demikian angka harapan hidup tersebut masih terdapat ketimpangan,terutama

diderah yang pendududknya bertaraf ekonomi rendah dan pendidikan rendah. Hal

tersebut berpengaruh terhadap angka harapan hidup didaerah,setiap daerah memiliki

tingkat harapan hidup yang berbeda-beda.

1.2

Tujuan

1. Mengetahui tingkat angka harapan hidup di tiap kabupaten atau kota yang ada di

Provinsi Jawa Timur

2. Mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi tingkat angka harapan hidup

1.3

dikabupaten atau kota kota di Provinsi Jawa Timur.

Definisi Operasi Angka harapan hidup adalah angka atau umur perkiraan rata-rata lamanya hidup sejak lahir yang akan dicapai oleh penduduk dalam suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu. Peta choropleth adalah sebuah peta tematik di mana daerah yang berbayang atau bermotif sebanding dengan pengukuran variable statistic yang ditampilkan pada peta,seperti populasi kepadatan . Peta Choropleth diciptakan pertama kali oleh oleh Baron Pierre Charles Dupin pada tahun 1826, peta diperkenalkan 1938 oleh John Kirtland Wright untuk menyelesaikan permasalahan dalam pemetaan penduduk. Peta choropleth memberikan cara mudah untuk memvisualisasikan bagaimana pengukuran bervariasi di area geografis atau menunjukkan tingkat variabilitas di suatu daerah. Jenis khusus dari peta choropleth adalah peta prisma adalah peta tiga dimensi, di mana ketinggian wilayah di peta adalah proporsional terhadap nilai variabel statistik untuk wilayah itu.

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Pengertian Peta

BAB II

Peta merupakan gambaran atau lukisan seluruh atau sebagian gambaran dari permukaan bumi yang digambarkan pada bidang datar yang diperkecil dengan menggunakan skala tertentu dan dijelaskan dalam bentuk simbol dan dibuat mengikuti ukuran sama luas, sama bentuk, sama jarak, dan sama arah. Secara umum Peta didefinisikan sebagai gambaran dari unsur-unsur alam maupun buatan manusia yang berada diatas maupun dibawah permukaan bumi yang digambarkan pada suatu bidang datar dengan skala tertentu (PP Nomor 10 Tahun 2000). Menurut Imran (2009), Peta merupakan kalibrasi dari bidang permukaan bumi 3 dimensi menjadi sebuah gambaran utuh yang lebih sederhana ke dalam selembar kertas media yang datar dengan penyesuaian baik ukuran maupun bentuknya disertai pula dengan

informasi dan detail-detailnya. Dengan kalimat sederhana, pengertian peta merupakan pengecilan dari permukaan bumi atau benda angkasa yang digambarkan pada bidang datar dengan menggunakan ukuran, simbol, dan sistem generalisasi (penyederhanaan). Peta mengandung arti komunikasi, artinya merupakan suatu signal atau saluran antara pengirim pesan (pembuat peta) dengan penerima pesan (pembaca peta). Dengan demikian peta digunakan untuk mengirim pesan yang berupa informasi tentang realita dalam wujud berupa gambar. Agar pesan (gambar) tersebut dapat dimengerti maka harus ada bahasa yang sama antara pembuat peta dan pembaca peta. PEMETAAN Pemetaan adalah pengelompokan suatu kumpulan wilayah yang berkaitan dengan

beberapa letak geografis wilayah yang meliputi dataran tinggi, pegunungan, sumberdaya, dan potensi penduduk yang berpengaruh terhadap social kultural yang memiliki ciri khas khusus dalam penggunaan skala yang tepat. (Soekidjo, 1994 dalam anonym,2012) Proses pemetaan Proses pemetaan yaitu tahapan yang harus dilakukandengan perancangan sebuah peta. Menurut Intan Pernanasari (2007) dalam anonym 2012, mengemukakan bahwa: ada 3 tahap proses dalam pemetaan yang harus dilakukan:

a. Tahap pengumpulan data

Langkah awal dalam proses pemetaan dimulai dari pengumpulan data. Data merupakan suatu bahan yang diperlukan dalam proses pemetaan. Keberadaan data sangat penting artinya, dengan data seseorang dapat melakukan analisis evaluasi tentang suatu data wilayah tertentu. Data yang dipetakan dapat berupa data primer atau data sekunder. Data yang dapat dipetakan adalah data yang bersifat spasial, artinya data tersebut terdistribusi atau tersebar secara keruangan pada suatu wilayah tertentu. Pada tahap ini data yang telah dikumpulkan kemudian dikelompokkan dahulu menurut jenisnya seperti kelompok data kualitatif atau data kuantitatif. Pengenalan sifat data sangat penting untuk simbolisasi atau penentuan dan pemilihan bentuk simbol, sehingga simbol tersebut akan mudah dibaca dan

dimengerti. Setelah data dikelompokkan dalam tabeltabel, sebelum diolah ditentukan dulu jenis simbol yang akan digunakan. Untuk data kuantitatif dapat menggunakan simbol batang, lingkaran, arsir bertingkat dan sebagainya, melakukan perhitungan-perhitungan untuk memperoleh bentuk simbol yang sesuai.

lingkaran, arsir bertingkat dan sebagainya, melakukan perhitungan-perhitungan untuk memperoleh bentuk simbol yang sesuai.

b. Tahap penyajian data

Langkah pemetaan kedua berupa panyajian data. Tahap ini merupakan upaya melukiskan atau menggambarkan data dalam bentuk simbol, supaya data tersebut

menarik, mudah dibaca dan dimengerti oleh pengguna (users). Penyajian data pada sebuah peta harus dirancang secara baik dan benar supaya tujuan pemetaan dapat

tercapai.

c. Tahap pengumpulan data

Tahap penggunaan peta merupakan tahap penting karena menentukan keberhasilan pembuatan suatu peta. Peta yang dirancang dengan baik akan dapat digunakan/dibaca dengan mudah. Peta merupakan alat untuk melakukan komunikasi, sehingga pada peta harus terjalin interaksi antar pembuat peta (map maker) dengan pengguna peta (map users). Pembuat peta harus dapat merancang peta sedemikian rupa sehingga peta mudah dibaca, diinterpretasi dan dianalisis oleh pengguna peta. Pengguna harus dapat membaca peta dan memperoleh gambaran informasi sebenarnya dilapangan (real world).

PETA Peta adalah gambaran konvensional dari relief bumi yang diperkecil dengan menggunakan skala tertentu, sekaligus dilengkapi dengan tulisan, mata angin, legenda, dan simbol-simbol lainnya sebagai pendukung. Peta pertama kali telah digunakan oleh bangsa Babylonia sekitar tahun 2300 SM. Ketika itu peta digunakan oleh pemerintah untuk kegunaan pajak tanah. Kartografi adalah ilmu khusus yang mempelajari tentang seluk-beluk perpetaan. Orang yang menguasai teknik pembuatan peta atau menguasai ilmu perpetaan disebut kartograf atau kartografer. Di Indonesia badan khusus yang berwenang membuat dan mengeluarkan sumber peta nasional adalah BAKOSURTANAL (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional). (Hendri, 2011) 2.1 Fungsi peta Peta tidak hanya diperlukan dalam bidang geografi, tetapi juga dibutuhkan di bidang- bidang lain. Segala kegiatan yang terkait dengan lokasi atau keruangan membutuhkan peta. Petugas Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah tidak dapat membuat jalan tanpa ada petanya terlebih dahulu. Perusahaan-perusahaan perkebunan besar yang akan

membuka lokasi perkebunan harus melihat peta sebelum memulai pekerjaan. Pelayar- pelayar yang mengarungi laut luas akan tersesat tanpa peta. (Puji,2014) Secara umum, fungsi peta dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Penunjuk jalan bagi orang-orang yang bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah

dikunjunginya.

2. Menunjukkan letak satu tempat di permukaan bumi dalam hubungannya dengan

tempat lain (letak relatif).

3. Memperlihatkan ukuran, karena dari peta dapat diukur jarak, luas, ataupun arah

sebenarnya di permukaan bumi.

4. Memperlihatkan bentuk seperti bentuk pulau, negara, benua, pola aliran sungai dan

sebagainya.

5. Membantu para peneliti sebelum melakukan survei untuk mengetahui kondisi daerah

yang akan diteliti.

6.

Alat untuk menjelaskan rencana-rencana yang diajukan, dan lain-lain.

2.2

Macam-macam peta

a. Ditinjau dari jenisnya Ditinjau dari jenisnya, peta dibedakan menjadi dua, yaitu peta foto dan peta garis. Peta Foto ialah peta yang dihasilkan dari mozaik foto udara atau ortofoto yang dilengkapi garis

kontur, nama, dan legenda. Peta Garis ialah peta yang menyajikan detail alam dan buatan manusia dalam bentuk titik, garis, dan luas

b. Ditinjau dari informasinya :

Peta Umum/Peta Ikhtisar adalah peta yang menggambarkan segala sesuatu yang ada dalam suatu daerah. Di dalam peta umum terdapat antara lain sungai, sawah, tempat pemukiman, jalur jalan raya, jalur jalan kereta api, dan sebagainya.titik, garis, dan luas b. Ditinjau dari informasinya : Peta Khusus/Peta Tematik adalah peta yang menggambarkan

Peta Khusus/Peta Tematik adalah peta yang menggambarkan kenampakan- kenampakan tertentu di permukaan bumi saja. Contoh peta tematik antara lain : peta kepadatan penduduk, peta kriminalitas, peta irigasi, peta transportasi, peta tanah dan lain-jalur jalan raya, jalur jalan kereta api, dan sebagainya. lain. (Hendri,2011) c. Komponen Peta 1. Judul

lain. (Hendri,2011)

c. Komponen Peta

1. Judul peta.

Peta harus diberi judul yang mencerminkan isi dan jenis peta yang akan ditunjukkan.

Judul peta biasanya diletakkan di bagian tengah atas peta.

Penunjuk arah atau mata angin digunakan sebagai petunjuk arah atau orientasi peta. Tanda ini biasanya diletakkan di sebelah kiri atas atau di tempat kosong agar tidak mengganggu induk petanya.

3. Garis kerangka dan garis tepi peta.

Pada setiap peta umumnya disajikan garis-garis kerangka dan garis tepi peta. Garis kerangka merupakan garis-garis yang terdapat pada muka peta. Garis tepi peta merupakan garis yang membatasi wilayah yang dipetakan, pada umumnya dibuat rangkap dua, kolom tengahnya digunakan untuk penulisan koordinat dan waktu pada wilayah peta tersebut. Penyajian garis kerangka dan garis tepi peta biasanya dalam bentuk garis gratikul dan atau garis grid.

Penggunaan garis gratikul biasanya untuk peta skala kecil dan peta skala besar biasanya menggunakan garis grid. Perpotongan dua garis gratikul merupakan pernyataan posisi lintang dan bujur suatu titik di permukaan bumi.

4. Sumber data dan tahun pembuatan peta.

Sumber data diperlukan untuk mengetahui sumber peta tersebut diperoleh dan tahun pembuatan peta berguna untuk mengetahui waktu pembuatan peta, terutama pada peta- peta yang menggambarkan keadaan wilayah yang cepat berubah.

5. Inset.

Inset ialah gambar peta yang berada di luar peta pokok tetapi masih berada dalam garis tepi dengan ukuran yang lebih kecil. Inset berfungsi sebagai petunjuk lokasi suatu daerah terhadap daerah sekitarnya yang lebih luas.

6. Skala Peta

Skala peta adalah perbandingan antara jarak pada peta dengan jarak horizontal sebenarnya di lapangan. Berdasarkan jenisnya dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

1. Skala angka atau numeris, yaitu skala yang dinyatakan dalam bentuk bilangan bulat

atau pecahan. Contoh: 1: 25.000 berarti 1 cm jarak peta = 25.000 cm (250m) jarak yang

sebenarnya di lapangan.

2. Skala grafis. Contoh: berarti tiap bagian sepanjang blok garis mewakili 1 km jarak

sebenarnya.

7. Legenda

Legenda adalah kolom keterangan yang berisi tentang simbol-simbol pada peta yang digunakan agar lebih mudah dipahami pembaca. Pada umumnya diletakkan di sudut kiri bawah peta.

8.

Simbol Peta

Simbol peta merupakan tanda-tanda khusus yang umum digunakan untuk mewakili

keadaan sebenarnya. Simbol peta dibagi menjadi 4 bagian, yaitu :

Simbol titik, dapat dibedakan atas 3 yaitu :

a. Simbol piktoral (simbol gambar), yaitu simbol yang berupa gambar seperti keadaan

sebenarnya.

b. Simbol geometrik, yaitu simbol yang berupa bangun matematika.

c. Simbol huruf, yaitu simbol yang dibuat dalam bentuk huruf yang diambil huruf

pertama atau kedua dengan nama unsur yang digambarkan.

d. Simbol Garis. Simbol pada peta yang menggunakan garis untuk menunjukkan suatu

objek di permukaan bumi. Garis juga digunakan untuk menunjukkan perbedaan tingkat kualitas, yang dikenal dengan isolines. Berikut ini macam-macam isolines:

1. Kontur yaitu garis yang menunjukkan ketinggian yang sama.

2. Isohyet yaitu garis dengan jumlah curah hujan sama.

3. Isobar yaitu garis dengan tekanan udara sama

4. Isogon yaitu garis dengan deklinasi magnet yang sama.

5. Isoterm yaitu garis dengan angka suhu sama.

6. Isopleth yaitu garis yang menunjukkan angka kuantitas yang bersamaan.

Simbol Wilayah. Simbol dalam peta yang digunakan untuk menunjukkan objek di permukaan bumi dalam bentuk area atau luasan tertentu. Simbol ini umumnya

melambangkan unsur-unsur permukaan bumi seperti permukiman, areal pertanian, perkebunan, dan lain sebagainya.

9. Warna Peta

Warna dalam peta mencirikan keadaan objek tertentu, misalnya warna biru untuk lautan/perairan, hijau untuk dataran rendah, kuning untuk dataran tinggi, cokelat untuk pegunungan yang tinggi, merah untuk bentangan alam hasil budi daya manusia, dan putih

untuk pegunungan yang ditutupi oleh salju. Dalam penggunaan warna adakalanya menggunakan warna secara gradual. Artinya, warnanya sama tetapi tua-mudanya berbeda. Warna tersebut menunjukkan adanya perbedaan kedalaman ataupun ketinggian.

Simbol Warna. Biru: simbol perairan , misalnya sungai, danau, dan laut. Hijau:

simbol vegetasi, dataran rendah, dan hutan. Cokelat: simbol untuk kontur, daerah

Kuning: simbol untuk daerah kering, daerah dataran tinggi. Merah: simbol

pegunungan

untuk daerah yang panas dan unsur peta yang penting lainnya, misalnya jalan,kota.

Hitam: simbol untuk penamaan objek pada peta, misalnya judul peta, nama kota, gunung

laut,

dan

semua

unsur-unsur

geografi.

Simbol

warna biasanya digunakan untuk

mempertegas informasi

suatu

daerah,

umumnya

digunakan

pada

peta berwarna.

(Anonim,2012).

10. Legenda

Adalah keterangan dari simbol-simbol peta yang digunakan agar lebih mudah dipahami

pembaca.

11. Lettering

Adalah semua tulisan dan angka-angka yang tertera dalam suatu peta.

12. Proyeksi peta.

2.1.2 Klasifikasi Peta

Klasifikasi peta dikelompokan dalam 3 golongan, yaitu sebagai berikut:

a) Penggolongan peta menurut isi

1. Peta umum atau peta dasar adalah peta yang menyajikan informas permukaan bumi

secara umum, baik kenampakan alami misalnya sungai, gunung, laut, danau, maupun

kenampakan buatan misalnya jalan raya, rel kereta api dan pemukiman

2. Peta tematik adalah peta yang menyajikan informasi tentang fenomena atau kondisi

tertentu yang terjadi di permukaan bumi

b)

Penggolongan peta menurut skala

1.

Peta kadaster/teknik adalah peta yang mempunyai skala 1: 100 sampai 1: 5.000

2.

Peta skala besar adalah peta yang mempunyai skala lebih dari 1:75.000

3.

Peta skala sedang adalah peta yang mempunyai skala antara 1: 75.000 sampai 1:1.000

4.

Peta skala keci adalah peta yang mempunyai skala lebih kecil dari 1:1.000.000

c)

Penggolongan peta menurut penggunaannya

Meliputi peta pendidikan, peta ilmu pengetahuan, informasi umum, turis, navigasi,

aplikasi teknik dan perencanaan.

ArcGIS ArcGIS merupakan software GIS yang dibuat oleh ESRI (Environmental System Research Institute) yang berpusat di Redlands, California, USA. Software ini sangat populer di kalangan pengguna GIS, dan merupakan salah satu software GIS yang paling banyak digunakan diseluruh dunia. Saat ini, ArcGIS telah dirilis hingga versi 10.1 ArcGIS membutuhkan spesifikasi perangkat keras (hardware) yang cukup tinggi, dengan

Operating System (OS) Microsoft Windows XP keatas. ArcGIS dikembangkan oleh ESRI (Environmental Systems Research Institut) sebuah perusahaan yang memfokuskan diri pada solusi pemetaan digital terintegrasi (Awaludin, 2010). Menurut Prahasta (2011), ArcGIS merupakan perangkat lunak yang terbilang besar. Perangkat lunak ini menyediakan kerangka kerja yang bersifat scalable (bisa di perluas sesuai kebutuhan) untuk mengimplementasikan suatu rancangan aplikasi SIG, baik bagi pengguna tunggal (single user) maupun bagi lebih dari satu pengguna yang berbasiskan desktop, menggunakan server, memanfaatkan layanan web, atau bahkan yang bersifat mobile untuk memenuhi kebutuhan pengukuran di lapangan. ArcGIS adalah produk sistem software yang merupakan kumpulan (terintegrasi) dari produk-produk software lainnya dengan tujuan untuk membangun sistem SIG yang lengkap. Dengan ArcGIS kita memanfaatkan fungsi desktop maupun jaringan. Dengan ArcGIS kita bisa memakai fungsi pada level ArcView, ArcEditor, ArcInfo, dengan fasilitas ArcMap, ArcCatalog, dan ArcToolbox. ArcGIS yang merupakan sebuah software pengolah data spasial memiliki berbagai keunggulan yang dapat dimanfaatkan oleh kalangan pengolah data spasial. Termasuk dalam hal ini ArcGIS dapat digunakan untuk berbagai aplikasi kajian daerah pesisir dan laut. Aplikasi dan analisa SIG yang dapat dilakukan oleh ArcGIS antara lain; pemetaan, analisa geografi, editing, manajemen data, kompilasi, visualisasi data, dan geoprocessing. Selain itu, dengan menggunakan ArcGIS kita dapat melakukan pengolahan data spasial dalam aplikasinya di berbagai bidang.

PETA TEMATIK

Adalah cara pemindahan lintang/bujur pada lengkung permukaan bumi ke bidang datar.Agar peta dapat berfungsi dengan baik, tiga persyaratan pokok berikut harus di penuhi dalam memilih jenis proyeksi (barkosurtanal).

Peta tematik juga disebut sebagai peta statistik ataupun peta khusus, yaitu peta dengan obyek khusus. Tujuan utamanya adalah untuk secara spesifik mengkomunikasikan konsep dan data. Contoh peta tematik yang biasa digunakan dalam perencanaan termasuk peta kadastral (batas pemilikan), peta zona (yaitu peta rancangan legal penggunaan lahan), peta tata guna lahan, peta kepadatan penduduk, peta kelerengan, peta geologi, peta curah hujan dan peta produktivitas pertanian (Anonim, 1992).

Pemilihan sumber data disesuaikan dengan maksud dan tujuan pembuatan peta serta keadaan medan yang dihadapi. Terdapat beberapa sumber data yang digunakan pada

pemetaan yaitu dengan pengamatan langsung di lapangan, dengan penginderaan jauh atau dari peta yang sudah ada (base map). Secara khusus, peta pengelolaan hutan berisikan tentang kejelasan pemilikan (batas-batas kadastral maupun administratif), wilayah itu sendiri dan hasil inventarisasi yang menunjukkan unit-unit tegakan yang seragam. Karena kegiatan survey lapangan umumnya sangat mahal, maka peta hutan biasanya digambarkan dari potret udara dengan penafsiran. Kegiatan di lapangan hanya diperlukan untuk pembuktian apakan penafsiran sudah betul atau belum dan juga melengkapi rincian di lapangan yang tidak dapat dilihat secara langsung pada potret (Sumaryono, 1995 dalam Dicky,2009). Berikut ini beberapa contoh peta tematik :

a. Peta Diagram

Pada peta diagram, dua atau lebih subyek tematik yang berelasi disajikan dalam bentuk diagram yang proporsional. Diagram yang disajikan dapat dalam bentuk diagram batang, lingkaran, empat persegi panjang, diagram kurva. Masing-masing diagram disajikan pada posisi dari suatu lokasi atau dipusat area. Misal : peta industri.

b. Peta Distribusi

Peta tematik yang menggunakan simbol titik untuk menyajikan suatu data yang spesifik, serta mempunyai kuantitas yang pasti dari sejumlah variabel. Misal : peta sebaran

penduduk.

c. Peta Choropleth

Peta tematik yang menyajikan ringkasan distribusi kuantitatif dengan basis deliminasi area batas administrasi. Misal : peta kepadatan penduduk.

d. Peta Dasymetrik

Peta tematik sejenis choropleth, tetapi biasanya bukan pada batas administrasi, melainkan pada batas dari area yang disurvey.

e. Peta Chorochromatik

Peta tematik yang memperlihatkan distribusi kualitatif dari fenomena spesifik dan relasinya. Misal : peta tanah.

f. Peta Isoline

Peta tematik yang memperlihatkan harga numerik untuk distribusi yang kontinyu, dalam bentuk garis-garis yang terhubung pada suatu harga yang sama. Misal : peta isobar.

g. Peta Alir

Peta tematik yang menyajikan informasi dalam bentuk garis tebal atau warna untuk memperlihatkan arah atau frekuensi pergerakan. Misal : peta frekuensi transportasi.

h. Chart

Peta tematik yang bersifat khusus. Chart merupakan peta yang menyajikan data dan informasi yang berhubungan dengan unsur navigasi atau keselamatan perhubungan. Jenis chart yang dikenal adalah Peta Navigasi Laut (Nautical Chart) dan Peta Navigasi Udara (Aero Nautical Chart). (Irawan, 2013)42%).

Pemetaan

Pemetaan merupakan suatu proses pengukuran, perhitungan dan penggambaran dengan menggunakan cara atau metode tertentu sehingga didapatkan hasil berupa softcopy maupun hardcopy peta yang berbentuk data spasial vector maupun raster. Pemetaan juga dapat diartikan sebagai proses pembuatan peta. Tujuan utama pemetaan adalah untuk menyediakan deskripsi dari suatu fenomena geografis, informasi spasial dan non-spasial, informasi tentang jenis fitur (titik,garis,polygon). Pemetaan angka harapan hidup di provinsi Jawa timur merupakan pemataan yang dimaksudkan untuk memberi gambaran kepada pengguna peta agar mengetahui tingkat angka harapan hidup di tiap kabupaten atau kota yang ada di Provinsi Jawa Timur. Selain itu untuk mengetahui factor-faktor apa sajakah yang berpengaruh terhadap angka harapan hidup tersebut.

Angka harapan hidup

Usia harapan hidup orang Indonesia semakin meningkat seiring dengan meningkatnya taraf hidup dan pelayanan kesehatan. Hal tersebut membawa dampak meningkatnya jumlah populasi lanjut usia (lansia) di Indonesia,menurut WHO tahun 1998 angka harapan hidup orang Indonesia mengalami peningkatan dari 65 tahun pada tahu 1997 menjadi 73 pada tahun 2005 (Wirakusumah,2000).

Lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun keatas. Kelompok ini memeprlukan perhatian khusus mengingat jumlahnya yang semakin meningkat. Manusia dalam proses pertumbuhannya dan perkembangannya berlangsung sepanjang masa hidup sejak bayi hingga dewasa sampai masa tua. Dalam struktur anatomi proses menjadi tua terlihat sebagai kemunduran dalam sel. Proses ini berlangsung secara alami,terus menerus dan berkesinambungan yang selanjutnya akan menyebabkan perubahan anatomi,fisologis dan biokimia pada jaringan tubuh secara keseluruhan. Umur manusia sevagai makhluk hidup terbatas maksimal 120 tahun namun kenyataannya banyak fakator yang menyebabkan manusia tidak dapat mencapai usia tersebut (Depkes RI).

Proses menua merupakan suatu proses normal yang ditandai dengan perubahan secara progresif dalam proses biokimia,sehingga terjadi kelainan atau prubahan struktur dan fungsi jaringan sel dan non sel. Berbagai bentuk perubahan fisik dan psikologis akan terjadi sebagai akibat proses menua. Dibawah ini adalah kelompok usia lanjut yang terbagi mejadi 3 :

1. Kelompok pra usia lanjut 45-49 tahun

2. Kelopok usia lanjut 60-69 tahun

3. Kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi,yaitu lebih dari usia 70 tahun .

Diperkirakan jumlah penduduk lansia didunia akan mencapai puncaknya pada tahun

2040

dengan jumlah 1,3 milyar. Jumlah ini meningkat 233% di banding pertengan tahun

2008

yang mencapai 506 jiwa. Pada tahun 2000 jumlah penduduk lansia mencapai 14,4

juta (7,18%) ,pada tahun 2020 diperkirakan meningkat dua kali lipat berjumlah 28,8 juta

(1,34%). Sesuai data Badan Pusat Statistik tahun 2007 penduduk lansia Indonesia berjumlah 18,96 juta (8, 3.

BAB III

METODE

3.1 Diagram Alur

pengumpulan data angka harapan hidup provinsi jawa timur tahun 2012

data angka harapan hidup provinsi jawa timur tahun 2012 Pembuatan peta Choropleth angka harapan hidup

Pembuatan peta

Choropleth

angka harapan

hidup

pengolahan data dengan software excel dan ArcGis 10.1

hidup pengolahan data dengan software excel dan ArcGis 10.1 analisis 3.2 1. 2. 3. 4. 5.
hidup pengolahan data dengan software excel dan ArcGis 10.1 analisis 3.2 1. 2. 3. 4. 5.

analisis

3.2

1.

2.

3.

4.

5.

Alat dan Bahan

Laptop

Software ArcGis 10.1

Alat tulis

Data angka harapan hidup perkabupaten dan kota provinsi jawa timur tahun 2012

Peta digital provinsi jawa timur

3.3

Dalam pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan menggunakan data yang

berasal dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa timur,sehingga tidak melakukan

pengambilan data secara langsung dilapangan. Sehingga data yang ada merupakan

data yang cukup valid karena mengambil dari BPS.

Teknik Pengambilan Data

3.4 Analisis Dalam pemetaan yang telah dilakukan menggunakan metode kuantitatif ini menggunakan sejumlah data yang berasal dari Badan pusat Statistik provinsi jawa timur. Data yang telah didapat adalah data yang berupa angka harapan hidup per kabupaten tahun 2012. Dari data yang diperoleh dapat diketahui bahwa daerah atau wilayah kabupaten yang memiliki tingkat ekonomi yang baik maka angka harapan

hidupnya juga tinggi. Sehingga antara tingkat ekonomi dengan angaka harapan hidup memiliki hubungan yang saling terkait. Dalam menentukan kelas interval ada beberapa metode yang digunakan, diantaranya

adalah:

1.

Sistem Kelas Teratur

Adapun cara untuk menetukan kelas interval dengan menggunakan system kelas

teratur dapat dilakukan sebagai berikut:

1)

Tentukan banyaknya kelas dengan rumus sturges: K= 1 + 3.3 log n,

2)

sehingga akan ketemu banyaknya kelas. Carilah nilai interval dengan rumus sebagai berikut:

Rum us Sturges i = Range

K

Dimana :

Range = Nilai tertinggi Nilai Terendah 3) Langkah berikutnya adalah memasukkan nilai tersebut dalam formula system kelas teratur sehingga diperoleh hasil nilai interval misalnya dalam ini diperoleh hasil 3.31.

2.

Sistem Kelas Interval Aritmatik (Aritmatik Progression)

1)

Tentukan banyaknya kelas dengan rumus Sturges K= 1+3.3 log n, sehingga

2)

akan ketemu banyaknya kelas. Seri aritmatik adalah seri sejumlah angka dimana setiap angka berasal dari

angka sebelumnya dengan menambahkan nilai konstan. Besarnya kelas interval ditemukan berdasarkan formula berikut:

A + X + 2X + 3X + 4X………+ nX = B Dimana :

A = Nilai terendah

B = Nilai Tertinngi

N = Jumlah kelas interval pada kelas pertama Jumlah dari banykanya kelas, dalam hal ini adalh 7 kelas. Penghitungan kelas interval dilakukan dengan cara menjumlahkan nilai terendah (1.25) dengan nilai hasil perhitungan awal yaitu (0.83). Nilai 0.83 dalam perhitungan cara ini dianggap sebagai niali “Konstanata”. 2) Hitunglah kelas interval dimulai dari nilai terendah dengan menjumlahkan dengan nilai interval (konstanta) pada tabel.

3. Sistem Kelas Interval Geometrik

Berikut ini cara menentukan kelas interval dengan metode geometric:

1)

Tentukan banyaknya kelas dengan rumus sturges: K= 1+ 3.3 log n, sehingga akan ketemu banyaknya kelas.

2)

Pahamilah model penghitungan cara geometric adalah sebagai berikut :

A

-

AX

AX- AX2

AX2

AX3

 

3)

- AX3 - AX4, dst… Carilah nilai X dengan menggunakan rumus:

B

= AXn

Xn = B/A

 

Atau : n log X = log B log A Log X = log B log A

 

n

 

Dalam hal ini :

B

= Batas atas

A

= Batas bawah

N

= jumlah kelas

4)

Hitunglah kelas interval dimulai dari nilai terendah dengan cara sebagai

berikut :

A + AX, A x X2, dst….

4.

Sistem Kelas Interval Kuantil

Cara untuk menentukan kelas interval dengan metode ini dapat dilakukan sebagai

berikut:

1)

Tentukan banyaknya kelas dengan rumus Sturges: K=13,3 log n, sehingga

2)

akan ketemu banyaknya kelas. Hitunglah nilai jarak interval dengan formula:

=

= 57/7 = 8.14 = 8

3)

Ini berarti nilai angka 8, merupakan jarak interval dari no urut terendah

4)

dihitung sebanyak 8 data kebawah/berikutnya sehingga akan diperoleh nilai. Penghitungan di mulai setelah angka terendah/berhenti. Contoh Setelah data di urutkan diketahui nilai terendah 1 nilai jarak interval 8, maka nilai interval dihitung mulai no 1 no 9, sehingga diperoleh interval: 1-9, demikian selangkah selanjutnya. Urutkanlah data dan carilah nilai intervalnya dan masukan dalam tabel.

5.

Sistem Grafik Dispersal

Cara untuk menentukan kelas interval dengan metode ini dapat dilakukan sebagai

berikut:

1)

Carilah titik-titik henti (break point) dengan cara membuat grafik dari data

2)

yang di kerjakan. Masukan nilai jarak interval kedalam tabel berikut ini berdasarkan titik henti.

3)

Setelah menentukan kelas itervalnya langkah selanjutnya adalah membuat grafik dan diberi titik henti.

BAB IV

PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

4.1 Hasil

Dari praktikum penentuan kelas interval dengan menggunakan lima mertode, diperoleh hasil sebagai berikut:

1. Sistem Kelas Teratur

Cara menentukan kelas interval teratur yaitu dengan menggunakan rumus Sturges.

1. Pada cara ini, jumlah kelas (k) hitung terlebih dahulu, selanjutnya interval kelas dihitung dengan rumus Sturges. Sehingga diperoleh :

k = 1 + 3,3 log 57 = 1 + 3,3 (1,755875) = 6,794387 dibulatkan 7 kelas

2. Menentukan Range (R). Range dapat diartikan sebagai jarak antara data terkecil sampai terbesar atau selisih antara data terbesar sampai terkecil. Dari contoh diatas :

Range (R) = Data terbesar data terkecil

= 24.41 1.25

= 23.16

3. Menentukan interval Dari data tersebut diketahui bahwa R= 23,16 dan jumlah kelas = 7, maka untuk menentukan jumlah intervalnya yaitu dengan rumus:

Jumlah Interval = R: jumlah kelas

= 23.16 :7

= 3,308571 dibulatkan 3.31

Sehingga jarak antara batas bawah dengan batas atas adalah 3.31. Kemudian diurutkan dari yang paling kecil sampai yang paling besar, dan mulai dari kelas terkecil ditambah dengan 3.31 , sampai kelas ke tujuh. Berikut adalah hasil perhitungan dengan menggunakan system kelas teratur.

NO

KELAS INTERVAL

HASIL GENALISIR

PENYEBARAN DATA

NILAI TENGAH

1

A+ I (1.25+3,31) = 4.56

1.25

- 4.56

11

2.91

2

Ai2 + I (4.56 + 3,31) = 7.87

4.57

- 7.88

8

6.23

3

Ai3 + I (7.87 + 3,31) = 11.18

7.89

- 11.19

17

9.54

4

Ai4 + i (11.18 + 3,31) = 14.49

11.19

- 14.49

9

12.84

5

Ai5 + I (14.49 + 3,31) = 17.80

14.50

- 17.81

6

16.16

6

Ai6 + I (17.80 + 3,31) = 21.10

17.81

- 21.11

3

19.46

7

Ai7 + I (21.11 + 3,31) = 24.42

21.12- 24.42

3

22.77

   

JUMLAH

57

89.90

2. Sistem Kelas Interval Aritmatik

Pada kelas ini langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menghitung nilai X nya,

dimana pada data tersebut terdapat 7 kelas interval, sehingga niali X di cari dengan

cara sebagai berikut:

1.25 + X + 2X + 3X + 4X + 5X + 6X + 7X

= 24.41

28

X

= 24.41

28

X

= 24.41 1.25

28

X

= 23. 16

X

= 0.83

Sehingga, dengan hasil tersebut dapat dimasukkan rumus kedalam rumus yang ada di

tabel dibawah ini:

NO

KELAS INTERVAL

HASIL

PENYEBARAN

NILAI

GENALISIR

DATA

TENGAH

1

A - X (1.25 + 0.83) = 2.08

1.25

- 2.08

2

1.67

2

A - 2X (2 x 0.83 + 2.08) = 3.74

2.09

- 3.74

4

2.92

3

A - 3X (3 x 0.83 + 3.74) = 6.23

3.75

- 6.23

9

4.99

4

A - 4X (4 x 0.83 + 6.23) = 9.55

6.24

- 9.55

18

7.90

5

A - 5X (5 x 0.83 + 9.55) = 13.70

9.56

- 13.70

10

11.63

6

A - 6X (6 x 0.83 + 13.70) = 18.68

13.71

- 18.68

6

16.20

7

A - 7X (7 x 0.83 + 18.68) = 24.49

18.69

- 24.49

8

21.59

   

JUMLAH

57

66.88

3.

Sistem Kelas Interval Geometrik

Pada kelas interval geometric, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah dengan

menggunakan rumus logaritma, dimana log data terbesar dikurangi log data terkecil

dibagi jumlah kelas. Pada data tersebut didapatkan :

n Log X

= log 24.41 log 1.25

n

= 1.39 0.1

7

= 1.548 dibulatkan menjadi 2

Kemudian dihitung dari kelas terendah dengan cara sebgai berikut:

NO

KELAS INTERVAL

HASIL

PENYEBARAN

NILAI

GENALISIR

DATA

TENGAH

1

A - AX (1.25 x 2) = 2.5

1.25

- 2.5

4

1.88

2

A - AX^2 ( 1.25 x 2^2) = 5

2.6

- 5.0

8

3.80

3

A - AX^3 (1.25 x 2^3) = 10

5.1

- 10.0

21

7.55

4

A - AX^4 (1.25 x 2^4) = 20

10.1

- 20.0

18

15.05

5

A - AX^5 (1.25 x 2^5) = 40

20.1

- 40.0

6

30.05

6

A - AX^6 (1.25 x 2^6) = 80

40.1

- 80

0

60.05

7

A - AX^7 (1.25 x 2^7) = 160

80.1

- 160

0

120.05

     

57

238.43

4.

Sistem Kelas Interval Kuantil

 

Pada system kuantil di kita cukup menggunakan rumus : jumlah data/ jumlah kelas.

Dimana pada data tersebut diketahui bahwa jumlah datanya adalah 57 dan jumlah

intervalnya dalah 7, sehingga diperoleh data: 57/7 = 8.142 dan dibulatkan menjadi 8.

Dalam pencarian kelas interval cukup dengan menjumlahkan data no 1 ditambah 8

sehingga hasilnya Sembilan. Dan ditulis dalam kelas interval yaitu data no 1 sampai no

9 sebagai kelas pertama, dan seterusnya. Sesuai tabel berikut ini:

NO

KELAS INTERVAL

HASIL

PENYEBARAN

NILAI

GENALISIR

DATA

TENGAH

1

No 1 + 8 (No 1 - No 9)

1.25

- 4.00

9

2.63

2

No 10 + 8 (No 10 - No 18)

4.01

- 6.75

9

5.38

3

No 19 + 8 (No 19 - No 27)

6.76- 8.76

9

7.76

4

No 28 + 8 (No 28 - No 36)

8.77

- 10.29

9

9.53

5

No 37 + 8 (No 37 - No 45)

10.30

- 13.87

9

12.09

6

No 46 + 8 (No 46 - No 54)

13.88

- 20.33

9

17.11

7

No 55 + 8 (No 55 - No 58)

20.34- 24.41

3

22.38

     

57

 

5.

Sistem Grafik Dispersal

Pada system kelas dispersal, cara mendapatkan datanya yaitu dengan menggunakan

grafik, dan untuk menentukan kelas interval dengan cara “Break Point” dimana data

yang memiliki tinggi grafik yang hampir sama dijadikan satu kelas. Atau memasukkan

data interval berdasarkan titik henti. Berikut adalah data perhitungannya :

NO

KELAS INTERVAL

KELAS

PENYEBARAN

NILAI

INTERVAL

DATA

TENGAH

1

A - A x 1

1.25

- 6.47

12

3.86

2

A - A x 2

6.48

- 6.75

21

6.62

3

A - A x 3

6.76

- 9.48

4

8.12

4

A - A x 4

9.49

- 11.52

10

10.51

5

A - A x 5

11.53

- 15.04

4

13.29

6

A - A x 6

15.5

- 17.33

4

16.42

7

A - A x 7

17.34

- 24.41

2

19.38

     

57

78.18

4.2 Pembahasan

Angka harapan hidup menunjukkan estimasi panjang atau pendeknya umur dalam

suatu wilayah. Meningkatnya usia harapan hidup dihitung sejak lahir untuk

memberikan gambaran tentang perbaikan tingkat kesehatan dan tingkat ekonomi

masyarakat. Usia harapan hidup dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja

pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya dan

meningkatkan derajat kesehatan. Indikator status kesehatan dapat dilihat dari usia

harapan hidupnya ,mengingat kesehatan dapat mempengaruhi usia harapan hidup.

Sedangkan angka harapan hidup pada suatu usia tertentu adalah rata-rata tahun hidup

yang dijalani oleh seseorang yang telah mencapai usia tersebut,pada suatu tahun

tertentu dan dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakat.

Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi pada

umunya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup suatu negara. Sehingga

dapat dikatakan bahwa angka harapan hidup merupakan alat untuk mengevaluasi

kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk dan meningkatkan

derajat kesehatan.

Walaupun demikian angka harapan hidup tersebut masih terdapat

ketimpangan,terutama diderah yang penduduknya bertaraf ekonomi rendah dan

pendidikan rendah. Hal tersebut berpengaruh terhadap angka harapan hidup didaerah,setiap daerah memiliki tingkat harapan hidup yang berbeda-beda. Hal yang mempengaruhi kelangsungan hidup lebih lama:

Penyebab panjangnya umur manusia, tergantung dari beberapa faktor:

- Pola Makan

- Penyakit bawaan dari lahir/penyakit degeneratif

- Lingkungan Tempat Tinggal

- Strees Atau Tekanan

Pada provinsi Jawa Timur daerah yang memiliki angka harapan hidup tinggi adalah Kabupaten Blitar, Tulungagung ,Trenggalek, Pacitan, Madiun, Surabaya, Gersik,Sidoarjo dan Mojokerto. Hal ini akibat faktor ekonomi yang baik serta gaya hidup yang sehat pada masyarakatnya.

4.2 Kesimpulan Dari hasil yang telah didapat dapat disimpulkan bahwa Kabupaten Blitar, Tulungangung, Trenggalek, Pacitan, Madiun, Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan Mojokerto memiliki angka harapan hidup tertinggi dibanding kabupaten atau kota lain di Jawa Timur.

4.3 Daftar Pustaka Faktor-faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup.Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.2009.pdf (diakses pada 2 Desember 2014)

Lampiran :

Lampiran :
Lampiran :