Anda di halaman 1dari 10

JENIS-JENIS RUMPUT LAUT YANG BERPOTENSI SEBAGAI OBAT YANG

TUMBUH PADA BERBAGAI SUBSTRAT DI PANTAI RANCABABAKAN


NUSAKAMBANGAN CILACAP 1)
Drs. A Ilalqisny Insan, MS2) dan Dra. Dwi Sunu Widyartini, M.Si3)
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

ABSTRAK
Pengembangan upaya menggali potensi laut sangat menarik perhatian, bukan saja terhadap
pembudidayaannya tetapi juga terhadap kelestarian sediaan alaminya. Salah satu diantarannya adalah
rumput laut, yang merupakan sumber bahan pangan dan sumber bahan obat obatan maupun industri.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis jenis rumput laut yang berpotensi sebagai obat pada
berbagai subtrat di pantai Rancababakan Nusakambangan Cilacap , yang dilakukan pada Januari
Maret 2008. Pantai Rancababakan terletak di bagian barat Pulau Nusakambangan Kabupaten Cilacap.
Pantai Rancababakan merupakan teluk kecil yang menghadap ke arah samudra Hindia. Beranekaragam
jenis rumput laut tumbuh pada berbagai substrat dasar Pantai Rancababakan. Rumput laut yang tumbuh
di pantai ini mempunyai nilai ekonomi dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Beberapa
rumput laut berpotensi sebagai obat dan dapat dikembangkan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan
metode survai dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode transek. Garis transek dibuat
sebanyak 8 buah dengan jarak antar garis transek sepanjang 20 m. Pada masing-masing substrat
diambil sebanyak 3 plot secara acak terpilih. Hasil penelitian menunjukkan beranekaragam rumput laut
tumbuh pada berbagai substrat dasar di Pantai Rancababakan Cilacap. Terdapat 26 jenis rumput laut
meliputi 4 jenis dari divisio Chlorophyta, 9 jenis dari divisio Rhodophyta dan 13 jenis dari divisio
Phaeophyta ditemukan di Pantai Rancababakan Cilacap. Sebanyak 23 jenis rumput laut diketahui
memiliki potensi sebagai obat meliputi 2 jenis dari divisio Chlorophyta, 8 jenis dari divisio
Rhodophyta dan 13 jenis dari divisio Phaeophyta. Potensi rumput laut antara lain sebagai antibakteri,
antivirus, antifungi, antitumor, antikanker, obat penurun tekanan darah tinggi, obat cacing, diare,
antikesuburan, gangguan dalam dan gangguan saluran kencing dan gondok serta sumber vitamin dan
iodin.
Kata kunci : rumput laut, potensi obat, Pantai Rancababakan
1

PENDAHULUAN
Pengembangan upaya menggali potensi rumput laut sangat menarik perhatian, bukan
saja terhadap pembudidayaannya tetapi juga terhadap kelestarian sediaan alaminya. Indonesia
sebagai negara kepulauan dengan panjang pantai kurang lebih 81.000 Km, maka wajarlah
apabila kita beranggapan bahwa lautan sebagai salah satu lingkungan alam yang penting bagi
1
2)
3)

Makalah Seminar Nasional PTTI ; 21 23 Oktober 2008 - Cibinong Bogor


Staf Pengajar Fakultas Biologi Unsoed
Staf Pengajar Fakultas Biologi Unsoed

kehidupan masyarakat Indonesia di masa mendatang.. Salah satu diantarannya adalah rumput
laut, yang merupakan sumber bahan pangan bagi penduduk di sekitarnya dan sumber bahan
obat obatan maupun industri.
Tumbuhan yang digunakan sebagai obat selama ini kebanyakan dari tumbuhan darat,
sedangkan tumbuhan yang berasal dari laut seperti rumput laut belum banyak mendapat
perhatian.

Indonesia memiliki wilayah perairan yang sangat luas tentunya memiliki

keanekaragaman jenis yang tinggi yang kemungkinan berpotensi sebagai obat. Rasyid A.
(2004) beberapa jenis rumput laut di Indonesia dapat digunakan sebagai obat, akan tetapi saat
ini mengalami kendala karena penelitian mengenai eksplorasi dan pengolahannya belum
berkembang, maka pemanfaatannya sampai saat ini sangat terbatas.
Rumput laut merupakan tumbuhan berklorofil yang hidup dengan melekatkan diri pada
substrat perairan menggunakan holdfast sehingga rumput laut tidak mudah berpindah oleh
gerakan air. Rumput laut banyak tumbuh di daerah pasang surut yang perairannya jernih dan
menempati substrat tertentu yang sesuai dengan kehidupannya (Kadi, 2005).
Sulistyowati (2003) dan Kadi (2004) menyatakan bahwa jenis substrat merupakan
faktor yang sangat berpengaruh terhadap keanekaragaman rumput laut di perairan pantai
Indonesia. Selain jenis substrat, banyak faktor fisik lain yang mempengaruhi keanekaragaman
rumput laut seperti suhu, cahaya matahari, gerakan air dan faktor kimia seperti salinitas, derajat
keasaman (pH), dan zat hara serta faktor biologi 2seperti pemangsaan oleh ikan herbivora dan
kompetisi antar jenis rumput laut (Graham & Wilcox, 2000)
Menurut Handayani (2006), beberapa jenis rumput laut dapat dimanfaatkan sebagai
bahan baku beberapa industri seperti industri makanan, tekstil, keramik, kosmetik, pupuk dan
fotografi. Gumay et al., (2002) dan Kadi (2004) menyatakan beberapa rumput laut yang
bernilai ekonomis berasal dari marga Gracilaria, Gelidium, Hypnea, Eucheuma, Turbinaria,
Sargassum, Laurencia, Ulva, Enteromorpha, Caulerpa, Chaetomorpha, Dictyota, Halimeda,
Velonia, Galaxaura, Chondrus, Ecklonia, Gelidiopsis, dan Rhodymenia. Beberapa rumput laut
juga dapat digunakan sebagai obat. Potensi rumput laut sebagai obat sangat penting untuk
dikembangkan mengingat kebutuhan akan obat semakin meningkat dengan adanya
pertambahan penduduk dan banyak macam penyakit seperti kanker, penyakit hipertensi,
penyakit tumor dan penyakit akibat pencemaran limbah kimia maupun biologis. Saat ini
2

masyarakat lebih cenderung memilih obat yang bersifat alami karena efek samping yang relatif
sedikit bahkan tidak ada sama sekali.
Mengingat akan kekayaan alam yang terkandung di lautan, khususnya di pantai maka
sebagai langkah awal penggalian sumber hayati laut diteliti jenis-jenis rumput laut yang
berpotensi sebagai tanaman obat yang terdapat di daerah pasang surut

Rancababakan

Nusakambangan Cilacap . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis - jenis rumput laut
yang ada di pantai Rancababakan Nusakambangan Cilacap yang berpotensi sebagai tanaman
obat.
MATERI DAN METODE PENELITIAN
Penelitian telah dilakukan pada bulan Januari Maret 2008. Pengambilan sampel
dilakukan dengan membuat garis transek tegak lurus garis pantai saat surut terendah. Garis
transek dibuat 8 buah dengan jarak antar garis transek 20 m. Pada masing-masing substrat
(pasir, karang dan campuran) diambil sebanyak 3 plot berukuran 1x1 m 2 secara acak terpilih.
Rumput laut yang ada dalam plot diambil dimasukkan ke dalam kantung plastik, diberi label
dan dipisahkan menurut jenisnya. Dicatat keberadaan jenis-jenis rumput laut pada setiap plot.
Pengamatan substrat dilakukan dengan cara mengamati secara visual substrat yang terdapat di
lokasi tersebut. Pengamatan faktor pendukung seperti suhu, salinitas, derajat keasaman,
kedalaman genangan air laut saat surut terendah dan kadar nitrat dan posphat.
Jenis rumput laut yang didapatkan dideterminasi dengan pustaka acuan Taylor (1960); Lobban
& Wayne (1981); Dawes (1981); Luning (1990); Atmadja et al., (1996) dan Graham & Wilcox
(2000) dan dianalisis secara deskriptif ciri-ciri morfologinya. Potensi rumput laut sebagai obat
ditentukan dengan pustaka acuan Lobban & Wayne (1981); Soegiharto et al., (1978); Atmadja
et al., (1996); Atmadja (1990); McClintock and Baker (2001); Romimohtarto dan Juwana
(2001) dan Kadi (2004).
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Jenis Rumput Laut
Pantai Rancababakan merupakan daerah berupa teluk kecil yang menghadap ke arah
laut lepas, terletak di bagian barat Pulau Nusakambangan Kabupaten Cilacap, memiliki tiga
macam substrat dasar meliputi substrat pasir, karang dan campuran yang banyak ditumbuhi
oleh tumbuhan laut seperti rumput laut. Berdasarkan hasil pengamatan morfologi talus
3

diperoleh jeni-jenis rumput laut yang tumbuh pada berbagai substrat di Pantai Rancababakan
berjumlah 26 jenis meliputi 4 jenis dari divisi Chlorophyta yaitu Chaetomorpha crassa (Ag)
Kuetzing, Valoniopsis pachynema Martens, Ulva rigida C. Agardh dan Analipus sp. Rumput
laut dari divisi Rhodophyta ditemukan sebanyak 9 jenis rumput laut yaitu Gelidium rigidum
(Vahl) Grev, Gracilaria foliiferae (Forsskal) Boergesen, Gracilaria lichenoides GMEL,
Gracilaria eucheumoides Harvey, Gracilaria damaecornis J. G Agardh, Acanthophora
spicifera (Vahl) Boergesen, Acanthophora muscoides (L) Bory, Eucheuma serra J. Agardh,
Rhodymenia palmata (L) Greville sedangkan dari divisi Phaeophyta ditemukan sebanyak 13
jenis rumput laut yaitu Padina australis Hauck, Turbinaria conoides (J. Agardh) Kuetzing,
Turbinaria murayan Barton, S. crassifolium J.G Agardh, S. duplicatum J.G Agardh, S. vulgare
J.G Agardh, S. hystrix J.G Agardh, S. polycystum C.A Agardh, S. cinereum J.G Agardh, S.
plagyophyllum (Martens) J.G Agardh, S. polyceratium Montagne, S. fluitans Borgesen,
Dictyopteris sp.
Jumlah jenis rumput laut yang tumbuh pada substrat pasir lebih sedikit jika dibanding
banyaknya jenis rumput laut yang tumbuh pada substrat karang dan campuran. Tidak stabilnya
substrat pasir menyebabkan rumput laut mudah terlepas dari substrat sehingga hanya rumput
laut yang mampu melekat dengan kuat saja yang dapat tumbuh pada substrat pasir seperti U.
rigida dan P. australis. Kedua jenis rumput laut tersebut memiliki talus berupa lembaran tipis
yang membantu melekat lebih kuat pada substrat pasir. Menurut Kadi (2005) substrat pasir di
perairan pantai Indonesia tidak banyak ditumbuhi oleh jenis rumput laut. Beberapa marga
Padina, Ulva dan Gracilaria diketahui tumbuh pada substrat pasir dengan kedalaman air laut
10-30 cm, salinitas 32-35 o/oo dan suhu antara 27,25 0C-29,75 0C.
Substrat karang Pantai Rancababakan ditumbuhi oleh 24 jenis rumput laut meliputi 4
jenis dari divisi Chlorophyta, 8 jenis dari divisi Rhodophyta dan 12 jenis dari divisi
Phaeophyta. Ulva rigida merupakan rumput laut yang paling banyak ditemukan. R. palmata,
T. murayan dan G. damaecornis merupakan rumput laut yang jarang ditemukan pada substrat
karang. Menurut Taylor (1960), G. damaecornis banyak ditemukan pada substrat karang
karena memiliki holdfast keras yang cocok untuk melekat pada karang dibanding substrat yang
lain. Rumput laut G. eucheumoides dan S. polyceratium tidak ditemukan pada substrat karang
Pantai Rancababakan.
Sebanyak 24 jenis rumput laut tumbuh pada substrat campuran, meliputi 4 jenis dari
divisi Chlorophyta, 8 jenis dari divisi Rhodophyta dan 12 jenis dari divisi Phaeophyta.
4

Turbinaria conoides merupakan rumput laut yang paling sering ditemukan pada substrat
campuran. G. lichenoides, G. eucheumoides dan Rhodymenia palmata merupakan rumput laut
yang jarang ditemukan
2. Potensi Rumput Laut Sebagai Obat
Berdasarkan hasil studi pustaka tentang potensi rumput laut sebagai obat diketahui 23
jenis rumput laut berpotensi sebagai obat meliputi 2 jenis (9 %) dari divisi Chlorophyta, 8 jenis
(35 %) dari divisi Rhodophyta dan 13 jenis (56 %) dari divisi Phaeophyta.

Rumput laut dari divisi Rhodophyta, marga Gracilaria diketahui kaya akan antilipemik
yang digunakan sebagai obat penyakit gangguan dalam. Laurenccia

dapat digunakan untuk

antivirus, antibakteri dan antijamur. Gelidella dapat digunakan untuk penyakit gangguan
dalam, antibakteri dan antijamur. Di Jepang marga dari Gelidium digunakan sebagai pendingin
dan scrofula (penyakit kelenjar pencernaan) adalah Gelidiella acerosa.
Acanthophora berkhasiat untuk antimikroba dan anti kesuburan. Menurut Atmadja W (1990)
pada tahun 1986 Wahidul pernah melakukan penelitian mengekstrak Acanthophora spicifera,
dari hasil ekstrak tersebut dapat diisolasi senyawa kimia yaitu sterol, kolesterol, asam lemak,
stearik, palmitat, behamik (C22), asam arakhidik (C2O) dan methyl palmitat. Rumput laut ini
juga mempunyai daya aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus dan Candida
albicans dan memiliki aktivitas anti kesuburan terhadap binatang.
Rhodymenia dapat digunakan sebagai antifermivuge (obat cacing). Di kawasan Asia Timur
spesies Rhodymenia pelmata digunakan sebagai obat cacing. Beberapa spesies dari marga
Eucheuma di Filipina digunakan sebagai bahan obat batuk.
Rumput laut yang berpotensi sebagai obat dari divisi Chlorophyta yang diperoleh adalah
dari marga Ulva, Enteromorpha, Cladophora dan Caulerpa . Marga dari Ulva diketahui
mempunyai aktivitas antibakteri dan dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Ulva dapat
digunakan untuk pengobatan cacingan misalnya Ulva lactuca digunakan untuk menyembuhkan
5

penyakit kelenjar. Di Cina digunakan untuk menyembuhkan penyakit panas (Hope et al.
1979).
Enteromorpha diketahui mempunyai aktivitas antibakteri. Caulerpa dapat digunakan sebagai
antijamur. Caulerpa racemosa diketahui bersifat racun terhadap beberapa organisme laut.
Hasil dari ekstrak Caulerpa dapat diisolasi senyawa kimia seperti caulerpicin, caulerpin dan
sterol. Caulerpicin menimbulkan rasa pedas dan memyebabkah efek anesthesia yang ringan
bila ditempelkan pada mulut, sehingga aktivitas neurotropik ini mempunyai nilai klinis.
Caulerpicin juga dapat diisolasi dari Caulerpa racemosa.
Acanthophora berkhasiat untuk antimikroba dan anti kesuburan. Menurut Atmadja (1990) pada
tahun 1986 Wahidul pernah melakukan penelitian mengekstrak Acanthophora spicifera, dari
hasil ekstrak tersebut dapat diisolasi senyawa kimia yaitu sterol, kolesterol, asam lemak,
stearik, palmitat, behamik (C22), asam arakhidik (C2O) 3
dan methyl palmitat. Rumput laut ini juga mempunyai daya aktivitas antimikroba terhadap
Staphylococcus aureus dan Candida albicans dan memiliki aktivitas anti kesuburan terhadap
binatang.
Rhodymenia dapat digunakan sebagai antifermivuge (obat cacing). Di kawasan Asia Timur
spesies Rhodymenia indica digunakan sebagai obat cacing. Beberapa spesies dari marga
Eucheuma di Filipina digunakan sebagai bahan obat batuk.
Rumput laut dari divisi Phaeophyta yang diperoleh dari ke dua pantai tersebut yang
berpotensi sebagai obat diantaranya marga Padina, Dictyota dan Sargassum. Padina dan
Dictyota diketahui mempunyai aktivitas antibakteri, sedangkan aktivitas antitumor dimiliki
oleh Dictyopteris. Marga dari Sargassum diketahui mempunyai aktivitas antibakteri, antitumor,
menurunkan tekanan darah tinggi dan gangguan kelenjar gondok (Atmadja et al. 1990).
Substansi dari S. duplicatum adalah efektif dalam meningkatkan efektivitas serum lipolitik.
Substansi hypoglyemic mampu menurunkan gula darah sebesar 17%, dan dalam jumlah
prosentase tertentu menunjukkan aktivitas antilipemic (Hope et al. 1979).
Rumput laut berpotensi obat yang tumbuh pada substrat pasir diketahui sebanyak 18
jenis (30 %), 21 jenis (34 %) tumbuh pada substrat karang dan 22 jenis (36 %) tumbuh pada
substrat campuran di Pantai Rancababakan, Cilacap.

Jenis-jenis rumput laut yang berpotensi sebagai obat di Pantai Rancababakan Cilacap
(Lampiran 1) meliputi rumput laut jenis C. crassa, U. rigida, Gelidium rigidum, G. foliiferae,
G. lichenoides, G. eucheumoides, Acanthophora spicifera, A. muscoides, Eucheuma serra, R.
palmata P. australis, T. conoides, T. murayan, S. crassifolium, S. duplicatum, S. vulgare, S.
hystrix, S. polycystum, S. cinereum, S. plagyophyllum, S. polyceratium, S. fluitans dan
Dictyopteris sp.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut
:
1.

Rumput laut yang berpotensi sebagai obat di Pantai Rancababakan sebanyak 23 jenis
yang meliputi 2 jenis dari divisi Chlorophyta, 8 jenis dari divisi Rhodophyta dan 13 jenis
dari Phaeophyta.

2.

Potensi rumput laut antara lain sebagai antibakteri, antivirus, antifungi, antitumor,
antikanker, obat penurun tekanan darah tinggi, obat cacing, diare, antikesuburan, gangguan
dalam dan gangguan saluran kencing dan gondok serta sumber vitamin dan iodin.

B. Saran
Diperlukan penelitian lebih lanjut tentang kandungan rumput laut yang berpotensi obat
dan

pengembangan dalam budidaya rumput laut yang tumbuh di Pantai Rancababakan

Kabupaten Cilacap.

DAFTAR REFERENSI
Atmadja, W.S. 1990. Rumput Laut Sebagai Obat. Jurnal Oseana, 17: 1-8
_______, W.S., A. Kadi, Soelistijo & R. Satari. 1996. Pengenalan Jenis-jenis Rumput Laut Indonesia.
Puslitbang Oseanologi LIPI, Jakarta.
Dawes, C.J. 1981. Marine Botany. John Wiley & Sons, New York.
Graham, L. E and L. W Wilcox. 2000. Algae. Prentice Hall Inc., USA.
Gumay, M.H., Suhartono dan R. Aryawati. 2002. Distribusi dan Kelimpahan Rumput Laut di Pulau
Karimunjawa Jawa Tengah. Jurnal Aseafo, 2: 1-7
Handayani, T. 2006. Protein pada Rumput Laut. Jurnal Oseana, 4: 23-40
Kadi, A,. 2004. Rumput Laut di Beberapa Perairan Pantai Indonesia. Jurnal Oseana, 4: 25-36
_______, A. 2005. Beberapa Catatan Kehadiran Marga Sargassum di Perairan Indonesia. Jurnal
Oseana, 4: 19-29
Lobban, C. S & M. J. Wayne. 1981. The Biology of Seaweed. Blackwell Scientific Publication. New
York.
Luning, K. 1990. Seaweeds: Their Environment, Biogeography and Ecophysiology . John Wiley &
Sons, New York.
Meena, B., R.A Ezhilan, R. Rajesh, A. S Hussain, B. Ganesan and R. Anadan. 2008. Antihepatotoxic
Potential of Sargassum polycystum (Phaeophyceae) on Antioxidan Defense Status In D
galactosamine Inducer Hepatitis In Rat. African Journal of Biochemistry Research 2 ; 051-055
McClintock, J. B and B. J Baker. 2001. Marine Chemical Ecology. CRC Press, USA
Romimohtarto, K dan S. Juwana. 2001. Biologi Laut: Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Penerbit
Djambatan, Jakarta.
Rasjid A, 2004. Berbagai Manfaat Algae. Oseana XXIX (3) ; 9 15.
Sulistyowati, H. 2003. Struktur Komunitas Seaweed (Rumput Laut) di Pantai Pasir Putih Kabupaten
Situbondo. Jurnal Ilmu Dasar 1: 58-61
Taylor, W. R. 1960. Marine Algae of Tropical and Subtropical Coast of the Americas. The University of
Michigan Press, USA.

Lampiran 1: Jenis-jenis rumput laut dan potensinya sebagai obat yang tumbuh pada
berbagai substrat dasar di Pantai Rancababakan, Cilacap
No

Jenis Rumput Laut

1
2
3

Chaetomorpha crassa (Ag) Kuetzing


Ulva rigida C. Agardh
Gelidium rigidum (Vahl) Grev

4
5

Gracilaria foliifera (Forsskal)


Boergesen
Gracilaria lichenoides (L) GMEL

Gracilaria eucheumoides Harvey

13
14

Acanthopora spicifera (Vahl)


Boergessen
Acantophora muscoides (L) Bory
Eucheuma serra J. Agardh
Rhodymenia palmata (L) Greville
Padina australis Hauck
Turbinaria conoides (J. Agardh)
Kuetzing
Turbinaria murayan Barton
Sargassum crassifolium J.G Agardh

15

Sargassum duplicatum J.G Agardh

16

Sargassum vulgare J.G Agardh

17

Sargassum hystrix J.G Agardh

18

Sargassum polycystum C.A Agardh

8
9
10
11
12

19

Sargassum cinereum J.G Agardh

20
21

Sargassum plagyophyllum (Martens)


J.G Agardh
Sargassum polyceratium Montagne

22

Sargassum fluitans Borgesen

23

Dictyopteris sp.

Potensi Obat

Substrat

Anti-kesuburan, antibakteri
Antibakteri, penurun tekanan darah tinggi
Gangguan dalam, antitumor, antivirus,
antifungi, antimikroba
Gangguan dalam, antitumor, antivirus,
antimikroba
Gangguan dalam, antitumor, antivirus,
antimikroba
Penyakit kandung kencing, anti gondok,
obat sakit perut

P, K, C
P, K, C

Antibakteri, antifungi, anti-kesuburan

P, K, C

Antibakteri
Antitumor
Antivermifuge
Antibakteri, antitumor

K, C
P, K, C
P, K, C
P, K, C

Antitumor

P, K, C

Antitumor
Antibakteri, antimikroba, gangguan
kelenjar gondok, tekanan darah tinggi
Antibakteri, antimikroba, gangguan
kelenjar gondok, tekanan darah tinggi
Antibakteri, antimikroba, gangguan
kelenjar gondok, tekanan darah tinggi
Antibakteri, antimikroba, gangguan
kelenjar gondok, tekanan darah tinggi
Antibakteri, antimikroba, gangguan
kelenjar gondok, tekanan darah tinggi,
gangguan kantung kemih
Antibakteri, antimikroba, gangguan
kelenjar gondok, tekanan darah tinggi
Antibakteri, antimikroba, gangguan
kelenjar gondok, tekanan darah tinggi
Antibakteri, antimikroba, gangguan
kelenjar gondok, tekanan darah tinggi
Antibakteri, antimikroba, gangguan
kelenjar gondok, tekanan darah tinggi
Antitumor, antibakteri

P, K, C

P, K, C
K, C
P, K, C
P, C

P, K, C
P, K, C
P, K, C
P, K, C
P, K, C
P, K, C
P, K, C
C
K, C
P, K

Keterangan :
P: pasir, K: karang, C: campuran

Potensi rumput laut sebagai obat berdasarkan pustaka acuan Lobban & Wayne (1981); Soegiharto et al., (1978);
Atmadja (1990); Atmadja et al., (1996); McClintock and Baker (2001); Romimohtarto dan Juwana (2001) , Kadi
(2004) dan Meena, B., R.A ., et al 2008..

Lampiran 2 : Data faktor lingkungan (kimia dan fisika) di Pantai Rancababakan Cilacap.
No

Parameter pendukung 1. Pasir

Suhu

Salinitas

Derajat keasaman (pH)

Kedalaman
genangan
air saat surut terendah

5
6

2. Karang

3. Campuran

28 0C

29 0C

29,5 0C

34,5 0/00

34,5 0/00

35 0/00

10 - 30 cm

0 10 cm

10 25 cm

Kadar nitrat

0, 7064 mg/l

0, 4495 mg/l

0, 4843 mg/l

Kadar posphat

0, 2763 mg/l

0, 3458 mg/l

1,3924 mg/l

10