Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kusta atau Morbus Hansen adalah penyakit menular, menahun yang
disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. M. leprae secara primer
menyerang saraf tepi dan secara sekunder menyerang kulit serta organ-organ lain.
Indonesia sebagai penyumbang kusta nomor tiga di dunia dengan angka insidensi
pada tahun 2010 masih lebih dari 7,22 per 10.000 penduduk. Manifestasi
klinisnya sangat bervariasi, mulai dari lesi tunggal sampai dengan timbulnya
kerusakan pada saraf, tulang, mata, dan organ vital lainnya. Pada sebagian besar
kasus diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis, pemeriksaan
bakteriologis dan histopatologis. Menurut WHO tipe kusta dibagi dua berdasarkan
jumlah lesi dan pemeriksaan Bakteri Tahan Asam (BTA) yaitu tipe PB (Pausi
Basiler) dan MB (Multi Basiler) (Amirudin, Hakim & Darwis 2003, h.12;
Kemenkes 2011, h. 55).
Kusta merupakan penyakit yang ditakuti karena dapat menimbulkan kerusakan
permanen dan deformitas sehingga menimbulkan masalah sosial maupun
ekonomi. Deformitas dan kecacatan akibat dari penyakit kusta sekitar 25% dan
penderita yang mengalami impairment dapat berkembang menjadi deformitas dan
kecacatan (Atul dkk. 2000; Werdiningsih 2003, vol.15, h.149).
Menurut WHO (1980) batasan istilah dalam kecacatan kusta yaitu impairment
(adanya abnormalitas struktur dan atau fungsi yang bersifat anatomis maupun
fisiologis), disability (keterbatasan dan ketidakmampuan untuk melakukan fungsi

normalnya), dan handicap (kemunduran pada seorang individu akibat impairment


atau disability yang berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya).
Terjadinya cacat tergantung dari fungsi serta saraf mana yang rusak. Diduga
kecacatan akibat penyakit kusta dapat terjadi lewat dua proses. Pertama melalui
infiltrasi langsung M. leprae ke susunan saraf tepi dan organ dan yang kedua
melalui reaksi kusta. Sebagian besar melalui proses infiltrasi langsung, yaitu M.
leprae masuk melaui kulit tubuh yang tidak intak. Setelah itu basil akan menuju
sel target yaitu Sel Schwann. Sel ini berfungsi sebagai demielinisasi dan fungsi
fagositosisnya sedikit. Kemampuan hidup M. leprae ini tergantung imunitas
seluler tubuh. Pada kusta tipe Lepromatosa lepromatosa (MB) mempunyai
imunitas seluler yang rendah mengakibatkan makrofag pada sel Schwann gagal
memfagositosis sehingga basil aktif bermutiplikasi dan menyebabkan kerusakan
jaringan dan gangguan regenerasi sel saraf. Pada tipe kusta Tuberkuloid
tuberkuloid (PB) mempunyai imunitas seluler yang tinggi sehingga makrofag
berhasil memfagositosis basil. Setelah itu makrofag menjadi sel epiteloid yang
tidak aktif dan dapat bersatu membentuk sel datia Langhans (Amirudin, Hakim &
Darwis 2003, h. 13; Wisnu dan Gudadi 2003, h.85 ).
Walaupun program pengobatan Multi Drug Therapy (MDT) telah sukses di
banyak penjuru dunia, akan tetapi masalah kecacatan akibat kusta masih tetap
tinggi. Pada beberapa daerah sebagian penderita mengalami impairment saat
teridentifikasi dan memulai MDT. Hanya sebagian kecil yang mengalami
impairment saat pengobatan berlangsung (Werdiningsih 2003, vol.15, h.149).
WHO mengklasifikasikan kecacatan kusta menjadi tiga tingkat (0, 1, 2)
berdasarkan evaluasi sensorik dan motorik pada tangan, kaki dan mata. Dengan
klasifikasi ini diharapkan bisa merencanakan program yang sesuai, sebagai

indikator untuk melakukan program eliminasi dan untuk mencegah kecacatan


pada tiap individu (Depkes RI 2006, h. 96).
Tingginya kecacatan merupakan tolak ukur yang relevan dalam penanganan
kusta. Apabila angka kecacatan masih tinggi, penemuan kasus secara aktif harus
dilakukan dan diperlukan edukasi pada masyarakat untuk mendapatkan
pengobatan sedini mungkin sebelum terjadi kecacatan. Di Indonesia pada kurun
waktu 2002-2010 terjadi kecenderungan peningkatan proporsi cacat tingkat 2.
Proporsi cacat tingkat 2 pada tahun 2010 sebesar 10,71%. Angka ini di atas target
indikator program, yaitu sebesar 5% (Kemenkes RI 2011, h. 73 ; WHO 2011).
Dari uraian data di atas menunjukkan ada peningkatan jumlah penderita kusta
dan angka kecacatan tiap tahunnya. Kabupaten Lamongan menduduki peringkat
tiga terbesar di Jawa Timur dengan 718 kasus pada tahun 2010. Jumlah kasus
terbanyak pada tahun 2010-2011 terdapat di Kecamatan Brondong. Berdasarkan
data ini penulis merasa perlu melakukan penelitian di Puskesmas Brondong,
Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan sebagai evaluasi untuk menekan
angka kejadian dan morbiditas akibat kusta, salah satunya dengan meninjau
hubungan tipe kusta dengan tingkat kecacatan pada penderita kusta (Dinkes
Lamongan 2010, 2011)
1.2 Rumusan Masalah
Apakah terdapat hubungan tipe kusta dengan tingkat kecacatan pada penderita
kusta di Puskesmas Brondong, Kabupaten Lamongan periode 1 Januari 2010 31
Desember 2011?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan tipe kusta dengan tingkat kecacatan pada
penderita kusta di Puskesmas Brondong, Kabupaten Lamongan.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui angka kejadian kasus baru penderita kusta di
Puskesmas Brondong, Kabupaten Lamongan periode 1 Januari 2010
31 Desember 2011.
2. Untuk mengetahui angka kecacatan penderita kusta tipe PB di
Puskesmas Brondong, Kabupaten Lamongan periode 1 Januari 2010
31 Desember 2011.
3. Untuk mengetahui angka kecacatan penderita kusta tipe MB di
Puskesmas Brondong, Kabupaten Lamongan periode 1 Januari 2010
31 Desember 2011.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Klinis
1. Dapat memberi pengetahuan kepada kepada praktisi kesehatan sehingga
dapat mendeteksi dan menangani penderita kusta dengan benar.
2. Dapat mengurangi angka kejadian kusta.
3. Dapat memperbaiki rencana kesehatan dalam menekan angka kejadian
dan kecacatan pada penderita kusta.
1.4.2 Manfaaat Akademis
1. Menambah wawasan dan khasanah ilmu pengetahuan kedokteran.
2. Sebagai tambahan pustaka dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi di bidang pemberantasan penyakit kusta.
3. Sebagai dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya yang berkaitan
dengan hubungan antara tipe kusta dan tingkat kecacatan pada penderita
kusta.
1.4.3 Manfaat Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi bagi masyarakat,
sehingga dapat membantu penderita dan masyarakat dalam mengenal secara
dini terjadinya kecacatan untuk segera memperoleh penanganan medis.