Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI BIOENERGI

BIOETANOL

Oleh:

Oleh:
Dimas Urip Sugiarto
NIM A1H012020

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebutuhan energi dari bahan bakar minyak bumi (BBM) di berbagai negara di
dunia dalam tahun terakhir ini mengalami peningkatan. Tidak hanya pada negara negara maju, tetapi juga di negara berkembang seperti Indonesia. Untuk
mengantisipasi krisis bahan bakar minyak bumi (BBM) pada masa yang akan datang.
Saat ini telah dikembangkan pemanfaatan etanol sebagai sumber energi terbarukan,
contohnya untuk pembuatan bioetanol dan gasohol.
Bioetanol adalah cairan biokimia dari hasil proses fermentasi gula dari
karbohidrat dengan menggunakan bantuan mikroorganisme. Bioetanol merupakan
etanol yang berasal dari sumber hayati, misalnya tebu: nira sorgum, ubi kayu, garut,
ubi jalar, jagung, jerami, bonggol jagung dan kayu. Bahan baku pembuatan bioetanol
terdiri dari bahan - bahan yang mengandung karbohidrat, glukosa dan selulosa.
Bioetanol sering ditulis dengan rumus EtOH. Rumus molekul etanol adalah
C2H5OH atau rumus empiris C2H6O atau rumus bangunnya CH3-CH2-OH. bioetanol
merupakan bagian dari kelompok metil (CH3-) yang terangkai pada kelompok
metilen (-CH2-) dan terangkai dengan kelompok hidroksil (-OH). Secara umum
akronim dari (Bio)Etanol adalah EtOH (Ethyl-(OH))
Bioetanol telah digunakan manusia sejak zaman prasejarah sebagai bahan
pemabuk dalam minuman beralkohol. Residu yang ditemukan pada peninggalan

keramik yang berumur 9000 tahun dari China bagian utara menunjukkan bahwa
minuman beralkohol telah digunakan oleh manusia prasejarah dari masa Neolitik.
Campuran dari bioetanol yang mendekati kemurnian untuk pertama kali
ditemukan oleh Kimiawan Muslim yang mengembangkan proses distilasi pada masa
Kalifah Abbasid dengan peneliti yang terkenal waktu itu adalah Jabir ibn Hayyan
(Geber), Al-Kindi (Alkindus) dan al-Razi (Rhazes). Catatan yang disusun oleh Jabir
ibn Hayyan (721-815) menyebutkan bahwa uap dari wine yang mendidih mudah
terbakar. Al-Kindi (801-873) dengan tegas menjelaskan tentang proses distilasi wine.
Sedangkan bioetanol absolut didapatkan pada tahun 1796 oleh Johann Tobias Lowitz,
dengan menggunakan distilasi saringan arang.
Antoine Lavoisier menggambarkan bahwa bioetanol adalah senyawa yang
terbentuk dari karbon, hidrogen dan oksigen. Pada tahun 1808 Nicolas-Thodore de
Saussure dapat menentukan rumus kimia etanol. Lima puluh tahun kemudian (1858),
Archibald Scott Couper menerbitkan rumus bangun etanol. Dengan demikian etanol
adalah salah satu senyawa kimia yang pertama kali ditemukan rumus bangunnya.
Etanol pertama kali dibuat secara sintetis pada tahu 1829 di Inggris oleh Henry
Hennel dan S.G.Serullas di Perancis. Michael Faraday membuat etanol dengan
menggunakan hidrasi katalis asam pada etilen pada tahun 1982 yang digunakan pada
proses produksi etanol sintetis hingga saat ini.
Pada tahun 1840 etanol menjadi bahan bakar lampu di Amerika Serikat, pada
tahun 1880-an Henry Ford membuat mobil quadrycycle dan sejak tahun 1908 mobil
Ford model T telah dapat menggunakan bioetanol sebagai bahan bakarnya. Namun

pada tahun 1920-an bahan bakar dari petroleum yang harganya lebih murah telah
menjadi dominan menyebabkan etanol kurang mendapatkan perhatian. Akhir-akhir
ini, dengan meningkatnya harga minyak bumi, bioetanol kembali mendapatkan
perhatian dan telah menjadi alternatif energi yang terus dikembangkan.

B. Tujuan

1. Memahami pengertian bioetanol.


2. Mengetahui proses pembuatan bioetanol.
3. Mengetahui alat-alat yang digunakan pada pembuatan bioetanol.
4. Mengetahui manfaat bioetanol dalam kehidupan sehari-hari.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Alkohol atau etanol adalah bahan kimia yang banyak digunakan dalam industri
baik sebagai pelarut atau solven dan juga sebagai bahan baku industri kimia yang lain
seperti pembuatan etil asetat. Hampir semua industri memerlukan etanol: farmasi,
industri minuman/makanan, bidang kdokteran, industri kimia dan lain-lain. Pada dua
dasa warsa belakang ini, juga banyak dipakai sebagai bahan bakar yang disebut
gasohol yaitu campuran bensin dan ethanol dengan komposisi 10% etanol dan 90%
bensin. Salah satu program pemerintah dalam pemakaian bioethanol sebagai
campuran bensin (disebut bahan bakar gasohol) dalam bidang transportasi akan
meningkatkan pemakain bioethanol di Indonesia.
Konsumsi BBM (bensin) untuk transportasi sekitar 17,17 kilo liter, sementara
itu produksi ethanol baru sekitar 1% dari konsumsi bensin nasional sedangkan target
pemerintah dalam pemakaian bioethanol sebesar 5% (Sumber: Dept. Energi dan
sumber daya mineral, 2006). Disamping itu pemerintah merencanakan pemakain
bioethanol sebagai sumber bahan baker untuk pembangkit listrik PLN (Sumber:
Tempo 13 Februari 2008). Yang telah cukup lama menggunakan gasohol secara
nasional negara Brazil, di negara asia yang telah mempersiapakan adalah Thailand.
Produksi bioethanol di dunia hanya disuplai oleh beberapa negara : Brazil,
Amerika Serikat, India, Cina, Australia, Cuba, Thailand. Saat ini Brazil merupakan
negara yang telah sukses dalam pengembangan bioethanol dimana industri bioethanol
menyumbang 3% GBP, menyerap lapangan kerja sebanyak 4 juta orang dan berhasil

mengembangkan mobil berbahan bakar ethanol dengan industri automotif terkenal


Fiat, Peugeot, VW, GM, Renault, Ford. Penggunaan bioethanol sebagai bahan bakar
automotif di

Brazil tidak hanya memberikan benefit

dalam mengurangi

ketergantungan pada bensin/BBM dari minyak fosil tapi juga memberikan


keuntungan : membuka lapangan pekerjaan bagi petani, memanfaatkan lahan
pertanian menjadi lebih produktif disamping mengurangi efek samping pencemaran
lingkungan dan global warming (sumber: Oswaldo Lucon et al., Bioethanol The Way
Forward, 2006) . Ethanol yang dipakai untuk bahan bakar atau campuran bahan bakar
memerlukan konsentrasi yang tinggi (mendekati 100%). Untuk industri farmasi atau
untuk keperluan sterilisasi di bidang kedokteran, alkohol atau ethanol yang dipakai
tidak perlu konsentrasi yang tinggi (tidak perlu mendekati 100%), akan tetapi
konsentrasi yang dibutuhkan kurang lebih sekitar 70-80% saja dengan impuritas air.
Etanol untuk keperluan ini dikategorikan sebagai alkohol food grade, untuk itu mulai
bahan baku, bahan pembantu dan juga pengencer bahan baku (yang berupa air) serta
bahan aditive yang dipakai haruslah yang food grade, baik pada saat fermentasi
(proses pembuatan ethanol) maupun pada saat distilasi (proses pemurnian ethanol).

III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

1. Alat destilasi

7. Refraktometer

2. Pendingin (kondensor)

8. Tetes tebu

3. Termometer

9. Fermipan

4. Drum

10. Urea

5. Pengaduk

11. NPK

6. Alkoholmeter

12. Air

B. Prosedur Kerja

1. Mendengarkan dan mencatat penjelasan dari asisten.


2. Menyiapkan alat dan bahan.
3. Mengukur etanol hasil fermentasi sebanyak 1000 mL dan diukur kadar
brix serta pH-nya.
4. Melakukan proses destilasi.
5. Mengukur etanol hasil destilasi.
6. Menghitung rendemen destilasi etanol.
7. Mencatat hasil pada lembar kerja.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Kadar brix awal : 8.8%


Kadar bioetanol : 30%
Kadar brix akhir : 9%
Kadar bioetanol : 30%
Percobaan

Vol. awal

Vol. akhir

Waktu

Sebelum didestilasi

1000 mL

53 mL

3 jam

Sesudah didestilasi

1000 mL

53 mL

(180menit)

Rendemen

pH
3.9

53 mL
3.45

Menghitung nilai rendemen :


Vol akhir/Vol awal x 100%
= 53/1000 x 100%
= 5.3%

B. Pembahasan

Bioetanol adalah cairan biokimia dari hasil proses fermentasi gula dari
karbohidrat dengan menggunakan bantuan mikroorganisme. Bioetanol merupakan
etanol yang berasal dari sumber hayati, misalnya tebu: nira sorgum, ubi kayu, garut,

ubi jalar, jagung, jerami, bonggol jagung dan kayu. Bahan baku pembuatan bioetanol
terdiri dari bahan - bahan yang mengandung karbohidrat, glukosa dan selulosa, ada
juga pengertian yang lain tentang bioetanol. Bioetanol adalah istilah yang digunakan
untuk etanol yang dihasilkan dari proses fermentasi gula reduksi, untuk
membedakannya dari etanol yang dihasilkan dengan cara sintesis. Bioetanol telah
dikenal sejak lama, dan dewasa ini senyawa ini menarik perhatian yang sangat besar
karena selain manfaat tradisionalnya, senyawa ini juga merupakan bahan bakar
alternatif dan terbarukan. Sebagai bahan bakar, bioetanol dapat digunakan langsung
atau dicampur dengan bahan bakar lain, terutama gasoline, dan campurannnya
dikenal sebagai gasohol. Selain cara pemanfaatan di atas, bioetanol juga memiliki
sejumlah keunggulan dibandingkan bahan bakar fosil. Bioetanol termasuk bahan
bakar ramah lingkungan karena gas CO2 yang dihasilkan dari pembakarannya jauh
lebih kecil dibandingkan CO2 yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil.
Sebagai contoh, reaksi pembakaran 1 mol etanol akan menghasilkan 2 mol gas
CO2, sementara pembakaran 1 mol isooktana (kandungan utama pada gasoline) akan
menghasilkan 8 mol CO2, seperti terlihat dalam reaksi berikut ini.
C2H5OH + 3O2 2CO2 + 3H2O H 0c = -1381,38 kJ mol-1
C8H18 + 12O2 8CO2 + 9H2O H 0c = -5640 kJ mol-17
Energi yang dihasilkan dari pembakaran 1 mol etanol adalah sebesar 1381,38
kJ dan energi yang dihasilkan dari pembakaran 1 mol isooktana adalah sebesar 5460
kJ. Dilihat dari sisi CO2 yang dihasilkan, pembakaran 4 mol etanol setara dengan
pembakaran 1 mol isooktana. Energi yang dihasilkan untuk pembakaran 4 mol etanol

adalah sebesar 5525,52 kJ. Artinya dengan jumlah CO2 yang sama, pembakaran
etanol menghasilkan energi yang jauh lebih besar daripada pembakaran isooktana,
dengan selisih energi sebesar 65,52 kJ. Keuntungan lain dari bioetanol adalah bersifat
terbarukan, artinya dapat dihasilkan dari bahan baku atau sumber yang dapat
dibudidayakan, misalnya ubi kayu (Collares et al., 2012), jagung (Nicoli et al.,
2010), gandum (Perez et al., 2007), dan sorgum (Herrera et al., 2003). Faktor lain
yang sangat mendukung produksi bioetanol adalah perkembangan teknologi yang
telah memungkinkan bioetanol dapat diproduksi dari karbohidrat yang bukan
merupakan bahan pangan utama. Tiga diantaranya yang paling banyak dimanfaatkan
adalah pati (Zamora et al., 2010; Anozie and Aderibigbe, 2011), selulosa (Yu and
Zhang, 2004; Wyman, 2008), dan lignoselulosa (Sun and Cheng, 2002; Mosier et al.,
2005).
Fermentasi mempunyai pengertian aplikasi metabolisme mikroba untuk
mengubah bahan baku menjadi produk yang bernilai tinggi, seperti asamasam
organik, protein sel tunggal, antibiotika, dan biopolymer. Salah satu produk yang
dihasilkan dalam proses fermentasi adalah ethanol (Puspitasari dan Sidik, 2009).
Produksi etanol dapat diperoleh dari gula (sukrosa) dengan proses fermentasi secara
anaerob (tanpa O2) oleh aktifitas khamir Saccharomyces cerevisiae. Saccharomyces
cerevisiae telah lama digunakan dalam industri alkohol dan minuman beralkohol
sebab memiliki kemampuan dalam memfermentasi glukosa menjadi ethanol. Proses
fermentasi ethanol pada khamir tersebut berlangsung pada kondisi aerob.
Setiap mikroorganisme seperti layaknya makhluk hidup pasti membutuhkan makanan

sebagai sumber energi. Sumber energi utama bagi hampir semua makhluk hidup
adalah karbohidrat, mulai dari yang rantai panjang seperti pati sampai yang paling
sederhana (mono dan disakarida). Monosakarida paling utama adalah glukosa, gula
dengan rumus kimia C6H12O11.
Hampir semua makhluk hidup mengolah karbohidrat menjadi glukosa,
menyebabkan glukosa menjadi muara utama dari metabolisme karbon. Beberapa
organisme seperti Saccharomyces dapat hidup, baik dalam kondisi lingkungan cukup
oksigen maupun kurang oksigen. Organisme yang demikian disebut aerob fakultatif.
Dalam keadaan cukup oksigen, Saccharomyces akan melakukan respirasi biasa. Akan
tetapi, jika dalam keadaan lingkungan kurang oksigen Saccharomyces akan
melakukan fermentasi. Fermentasi alkohol, secara sederhana, berlangsung sebagai
berikut.
C6H12O6 -----> 2C2H5OH + 2CO2 + 2ATP

Gambar 1. Proses fermentasi glukosa menjadi ethanol dan CO2

Dalam keadaan anaerob, asam piruvat yang dihasilkan oleh proses glikolisis
akan diubah menjadi asam asetat dan CO2. Selanjutnya, asam asetat diubah menjadi
alkohol. Proses perubahan asam asetat menjadi alkohol tersebut diikuti pula dengan
perubahan NADH menjadi NAD+. Dengan terbentuknya NAD+, peristiwa glikolisis
dapat terjadi lagi. Dalam fermentasi alkohol ini, dari satu mol glukosa hanya dapat
dihasilkan 2 molekul ATP.
Pada beberapa mikroba, peristiwa pembebasan energi terlaksana karena asam
piruvat diubah menjadi asam asetat dan karbondioksida selanjutnya asam asetat
diubah menjadi alkohol. Dalam fermentasi alkohol, satu molekul glukosa hanya dapat
menghasilkan 2 molekul ATP, jika dibandingkan dengan respirasi aerob, satu
molekul glukosa mampu menghasilkan 38 molekul ATP.

Gula yang berfungsi sebagai substrat awal diubah menjadi asam piruvat melalui
proses glikolis. Kemudian terjadi proses dekarboksilasi asam piruvat menjadi
asetaldehid dan karbondioksida dengan bantuan enzim piruvat dekarboksilase.
Asetaldehid hasil dari dekarboksilasi asam piruvat tersebut kemudian diubah menjadi
alkohol (ethanol) dengan adanya alkohol dehidrogenase.
1. Berikut adalah reaksi kimia dan enzimatis yang terjadi selama proses fermentasi.
Gula (C6H12O6) ------------------------------------> asam piruvat (glikolisis)
2. Dekarboksilasi asam piruvat
Asam

piruvat

----------------------------------------->

asetaldehid

CO2

piruvat dehidrogenase (CH3CHO)


3. Asetaldehid

diubah

menjadi

alkohol

(ethanol)

2CH3CHO + 2NADH2 -----------------------------------> 2C2H5OH (ethanol) + 2NAD


Persamaan reaksi tersebut dapat disingkat menjadi:
C6H12O6

----->

2C2H5OH

2CO2

2NADH2

Energi

Sebagaimana halnya fermentasi asam laktat, reaksi ini merupakan suatu pemborosan.
Sebagian besar dari energi yang terkandung di dalam glukosa masih terdapat di
dalam etanol, karena itu etanol sering dipakai sebagai bahan bakar mesin. Reaksi ini,
seperti fermentasi asam laktat, juga berbahaya. Ragi dapat meracuni dirinya sendiri
jika konsentrasi etanol mencapai 13% (Hal ini menjelaskan kadar maksimum alkohol
pada minuman hasil fermentasi seperti anggur).
Secara umum, produksi bioethanol ini mencakup 3 (tiga) rangkaian proses, yaitu:
Persiapan Bahan baku, Fermentasi, dan Destilasi (Pemurnian).

a. Persiapan bahan baku


Persiapan

bahan

baku

dilakukan

untuk

mendapatkan

glukosa.

Glukosa

diperoleh melalui 2 tahap yaitu delignifikasi dan hidrolisa. Pada tahap delignifikasi
akan menghasilkan selulosa. Selulosa akan diproses lebih lanjut dengan proses
hidrolisa sehingga akan dihasilkan glukosa. Untuk bahan molase (tetes) dapat
langsung ditambahkan yeast (ragi) tanpa perlu melalui proses delignifikasi dan
hidrolisis.
Delignifikasi
Dalam proses pembuatan bioetanol lignin merupakan salah satu bagian yang
mengayu dari tanaman seperti janggel, kulit keras, biji, bagian serabut kasar, akar,
batang dan daun. Lignin mengandung substansi yang kompleks dan merupakan suatu
gabungan beberapa senyawa yaitu karbon, hidrogen dan oksigen. Pada tahap
delignifikasi ini akan dihasilkan selulosa. Selulosa merupakan polisakarida yang
didalamnya mengandung zat-zat gula. Proses pemisahan atau penghilangan lignin
dari serat-serat selulosa disebut delignifikasi atau pulping.
Proses pemisahan lignin dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :
a.

Cara mekanis

b.

Cara kimia

c. Cara semikimia
Hidrolisis
Prinsip dari hidrolisis pati ini pada dasarnya adalah pemutusan rantai polimer
pati menjadi unit-unit dekstrosa (C6H12O6). Pemutusan rantai polimer tersebut dapat

dilakukan dengan berbagai metode, misalnya secara enzimatis, kimiawi ataupun


kombinasi keduanya. Hidrolisis secara enzimatis memiliki perbedaan mendasar
dibandingkan hidrolisis secara kimiawi dan fisik dalam hal spesifitas pemutusan
rantai polimer pati. Hidrolisis secara kimiawi dan fisik akan memutus rantai polimer
secara acak, sedangkan hidrolisis enzimatis akan memutus rantai polimer secara
spesifik pada percabangan tertentu. Sedangkan untuk pembuatan etanol dengan bahan
baku selulosa, hidrolisisnya meliputi proses pemecahan polisakarida di dalam
biomassa lignoselulosa, yaitu: selulosa dan hemiselulosa menjadi monomer gula
penyusunnya.
Hidrolisis sempurna selulosa menghasilkan glukosa, sedangkan hemiselulosa
menghasilkan beberapa monomer gula pentose (C5) dan heksosa (C6). Hidrolisis
dapat dilakukan secara kimia (asam) atau enzimatik. Meskipun demikian, produk
akhir etanol yang dimaksudkan merupakan konversi dari glukosa yang didapat baik
dari pati maupun selulosa. Di dalam metode hidrolisis asam, biomassa lignoselulosa
dipaparkan dengan asam pada suhu dan tekanan tertentu selama waktu tertentu, dan
menghasilkan monomer gula dari polimer selulosa dan hemiselulosa. Beberapa asam
yang umum digunakan untuk hidrolisis asam antara lain adalah asam sulfat (H2SO4),
asam perklorat, dan HCl. Asam sulfat merupakan asam yang paling banyak diteliti
dan dimanfaatkan untuk hidrolisis asam. Hidrolisis asam dapat dikelompokkan
menjadi: hidrolisis asam pekat dan hidrolisis asam encer (Taherzadeh & Karimi,
2007). Hidrolisa merupakan proses antara reaktan dengan menggunakan air supaya
suatu persenyawaan pecah atau terurai. Reaksi hidrolisa yaitu :

(C6H10O5)n + nH2O
Selulosa

Air

nC6H12O6
Glukosa

Zat - zat penghidrolisa ada beberapa rnacam, antara lain :


a.

Air

b. Asam
c. Basa
d. Enzim
b.

Fermentasi
Tahap selanjutnya pada produksi bioetanol adalah proses fermentasi.

Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa
oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan
tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai
respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal. Pada
proses fermentasi penguraian bahan - bahan karbohidrat tidak menimbulkan bau
busuk dan menghasilkan gas karbondioksida. Suatu fermentasi yang busuk
merupakan fermentasi yang mengalami kontaminasi.
Fermentasi pembentukan alkohol dari gula dilakukan oleh mikroba. Mikroba
yamg biasa digunakan adalah Saccharomyces cereviseae. Perubahan yang terjadi
biasanya dinyatakan dalarn persamaan berikut:
C6H12O6 + Saccharomyces cereviseae
Gula sederhana + ragi (yeast)

2 C2H5OH + 2 CO2
alkohol + karbondioksida

Yeast tersebut dapat berbentuk bahan murni pada media agar - agar atau dalam
bentuk yeast yang diawetkan (dried yeast). Misalnya ragi roti dengan dasar
pertimbangan teknik dan ekonomis, maka biasanya sebelum digunakan untuk
meragikan gula menjadi alkohol, yeast terlebih dahulu dibuat starter.
Tujuan pembuatan starter adalah :
a. Memperbanyak jumlah yeast, sehingga yang dihasilkan lebih banyak,
reaksi

biokimianya akan berjalan dengan baik.

b. Melatih ketahanan yeast lerhadap kondisi must.


Untuk tujuan tersebut yang perlu diperhatikan adalah zat asam yang terlarut.
Karena itu botol pembuatan starter cukup ditutup dengan kapas atau kertas saring,
dikocok untuk memberi aerasi. Aerasi ini penting karena pada pembuatan starter
tidak diinginkan terjadinya peragian alkohol.
C6H12O6 + 6O2

6CO2 + 6H2O + energi

c. Pemurnian / Destilasi
Untuk

memisahkan

alkohol

dari

hasil

fermentasi

dapat

dilakukan

dengan destilasi.Destilasi adalah metode pemisahan berdasarkan perbedaan titik


didih. Proses ini dilakukan untuk mengambil alkohol dari hasil fermentasi.Destilasi
dapat dilakukan pada suhu 80C, karena titik alkohol 78C. sedangkan titik didih air
100oC.
Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia
berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan.
Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini

kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih
lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini merupakan termasuk unit operasi
kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa
pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya.
Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dari beer (sebagian besar adalah air dan
etanol).

DIAGRAM ALIR PROSES PEMBUATAN BIOETANOL

Gambar 2. Diagram Alir Proses Pembuatan Bioetanol

Bahan baku untuk proses produksi bioetanol diklasifikasikan menjadi tiga


kelompok, yaitu gula, pati dan selulosa. Sumber gula yang berasal dari gula tebu,
gula bit, molase dan buah-buahan, dapat langsung dikonversi menjadi etanol. Sumber
dari bahan berpati seperti jagung, singkong, kentang dan akar tanaman harus
dihidrolisis terlebih dahulu menjadi gula. Sumber selulosa yang berasal dari kayu,
limbah pertanian, limbah pabrik pulp dan kertas, semuanya harus dikonversi menjadi
gula dengan bantuan asam mineral.
Hasil praktikum pembuatan etanol :

Percobaan

Vol. Vol.
awal akhir

Waktu

Rendemen

pH

Kadar
bioetanol

Sebelum
didestilasi

1000
mL

3 jam

53 mL

3.9

30%

53
mL

Sesudah 1000
didestilasi mL

53
mL

(180menit)

3.45

30%

Waktu 3 jam (180menit)


0.35
0.3
0.25
0.2
Waktu 3 jam
(180menit)

0.15
0.1
0.05
0
1

Gambar 3. Grafik hubungan antara waktu destilasi dengan kadar Bioetanol


yang di hasilkan.

Etanol merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang mempunyai kelebihan
dibandingkan BBM. Berdasarkan siklus karbon, etanol dianggap lebih ramah
lingkungan karena CO2 yang dihasilkan oleh hasil buangan mesin akan diserap oleh
tanaman. Etanol dapat juga meningkatkan efisiensi pembakaran karena mengandung
35% oksigen, selain itu juga etanol ramah lingkungan karena emisi gas buangannya
seperti kadar karbon monoksida, nitrogen oksida, dan gas-gas lain rendah (1925%). bensin premium memiliki angka oktan 88. Beberapa keunggulan lain yang
dapat diperoleh dari bioethanol sebagai bahan bakar adalah nilai oktan yang tinggi
menyebabkan campuran bahan bakar terbakar tepat pada waktunya sehingga tidak

menyebabkan fenomena knocking, pembakaran tidak menghasilkan partikel timbal


dan benzena yang bersifat karsinogen, serta mempunyai efisiensi yang tinggi
dibandingkan bensin, mengurangi emisi fine-particulates yang membahayakan
kehidupan manusia. Akan tetapi penggunaan bioetanol sebagai pengganti bahan
bakar minyak memunyai kelemahan yaitu mesin memerlukan modifikasi terlebih
dahulu jika ingin meenggunakan etanol murni pada kendaraan dan juga ada
kemungkinan etanol akan mengeluarkan emisi polutan beracun.
Selain dapat menggantikan fungsi dari bahan bakar minyak bioetanol juga
mempunyai banyak manfaat lainnya, yaitu :
1.

Sebagai bahan dasar minuman beralkohol

2.

Sebagai bahan kimia dasar senyawa organic, pelarut untuk parfum, cat dan
larutan obat, antidote beberapa racun

3.

Sebagai antiseptic, pengobatan untuk mengobati depresi dan obat bius

4.

Digunakan untuk pembuatan beberapa deodorant


Brix adalah jumlah zat padat semu yang larut (dalam gr) dalam setiap 100 gram

larutan. Jadi jika nira memiliki kadar BRIX = 16, berarti dalam 100 gram nira, 16
gram merupakan zat padat terlarut dan 84 gram adalah air. Untuk mengetahui
seberapa banyak zat padat yang terlarut dalam larutan (brix) maka diperlukan suatu
alat ukur. Nilai indeks bias suatu larutan gula atau nira memiliki kaitan yang sangat
erat dengan kadar BRIX. Jadi kesimpulanya jika indeks bias nira bisa diukur, maka
brix nira dapat kita ketahui berdasarkan indeks bias tersebut. Alat yang digunakan
untuk mengukur kadar BRIX dengan indeks bias disebut dengan Refraktometer Brix.

Dengan menggunakan alat ini sampel nira yang dibutuhkan sangat sedikit dan alatnya
juga tidak mudah rusak untuk pemakaian jangka panjang.
Fermentasi bioetanol dapat didefenisikan sebagai proses penguraian gula
menjadi bioetanol dan karbondioksida yang disebabkan enzim yang dihasilkan
oleh massa sel mikroba. Perubahan yang terjadi selama proses fermentasi adalah
perubahan glukosa menjadi bioetanol oleh sel-sel saccharomyces cereviseae.

1.

C6H12O6 + saccharomyces cereviseae

C2H5OH + 2CO2

(Glukosa)

(etanol) (karbondioksida)

(enzim zimosa)

Proses Distilasi
Distilasi atau lebih umum dikenal dengan istilah penyulingan dilakukan

untuk memisahkan alkohol dalam cairan beer hasil fermentasi. Dalam proses
distilasi, pada suhu 78C (setara dengan titik didih alkohol) etanol akan menguap
lebih dulu ketimbang air yang bertitik didih 95C. Uap etanol didalam distillator
akan dialirkan kebagian kondensor sehingga terkondensasi menjadi cairan etanol.
Kegiatan penyulingan etanol merupakan bagian terpenting dari keseluruhan
proses produksi bioetanol. Dalam pelaksanaannya dibutuhkan tenaga operator
yang sudah menguasai teknik penyulingan etanol. Selain operator, untuk
mendapatkan hasil penyulingan etanol yang optimal dibutuhkan pemahaman
tentang teknik fermentasi dan peralatan distillator yang berkualitas.
Manfaat Bioetanol sendiri dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai bahan
bakar altenatif yang ramah lingkungan karena memiliki bilangan oktan yang cukup
tinggi, selain itu bioetanol juga dijadikan sebagai bahan baku beralkohol. Etanol

merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang mempunyai kelebihan


dibandingkan BBM. Berdasarkan siklus karbon, etanol dianggap lebih ramah
lingkungan karena CO2 yang dihasilkan oleh hasil buangan mesin akan diserap oleh
tanaman.
Etanol dapat juga meningkatkan efisiensi pembakaran karena mengandung 35%
oksigen, selain itu juga etanol ramah lingkungan karena emisi gas buangannya seperti
kadar karbon monoksida, nitrogen oksida, dan gas-gas lain rendah (19-25%). bensin
premium memiliki angka oktan 88. Beberapa keunggulan lain yang dapat diperoleh
dari bioetanol sebagai bahan bakar adalah nilai oktan yang tinggi menyebabkan
campuran bahan bakar terbakar tepat pada waktunya sehingga tidak menyebabkan
fenomena knocking, pembakaran tidak menghasilkan partikel timbal dan benzena
yang bersifat karsinogen, serta mempunyai efisiensi yang tinggi dibandingkan bensin,
mengurangi emisi fine-particulates yang membahayakan kehidupan manusia. Akan
tetapi penggunaan bioetanol sebagai pengganti bahan bakar minyak memunyai
kelemahan yaitu mesin memerlukan modifikasi terlebih dahulu jika ingin
meenggunakan etanol murni pada kendaraan dan juga ada kemungkinan etanol akan
mengeluarkan emisi polutan beracun.
Adapun manfaat bioetanol secara lengkap dalam kehidupan sehari-hari
diantaranya adalah sebagai berikut :
1.

Sebagai bahan dasar minuman beralkohol

2.

Sebagai bahan bakar kendaraan

3.

Sebagai bahan bakar

4.

Sebagai bahan bakar roket

5.

Sebagai bahan kimia dasar senyawa organik

6.

Sebagai antiseptik

7.

Sebagai antidote beberapa racun

8.

Sebagai pelarut untuk parfum, cat dan larutan obat


Dalam hal ini kali proses destilasi pada praktikum merupakan destilasi

tahapan pertama, maka produk bioetanol yang dihasilkan berupa minuman beralkohol
yang memiliki kadar bioetanol sebesar 30%, biasanya digunakan untuk minuman
dengan kadar etanol sebesar itu. Dapat kita simpulkan rendemen yang terdapat pada
proses destilasi hanya sesbesar 5.3% setelah dibandingkan antara volume akhir yang
dihasilkan dalam produk etanol dengan jumlah volume awalnya sebelum didestilasi.
Praktikum acara Bioetanol ini menghasilkan kadar bioetanol 30% dengan
perhitungan rendemen yang di hasilkan adalah 5,3 % dalam waktu 180 menit.
Bioetanol tersebut di hasilkan dari fermentasi gula yang melalu beberapa proses rumit
di dalam alat destilasi.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A.

1.

Kesimpulan

Pengertian bietanol yang merupakan cairan biokimia dari hasil proses


fermentasi

gula

dari

karbohidrat

dengan

menggunakan

bantuan mikroorganisme. Umumnya proses bioetanol ini harus melewati


tahapan fermentasi untuk bisa menghasilkan senyawa alcohol atau etanol
tersebut.
2.

Mengetahui proses satu per satu pada pembuatan etanol yaitu proses
fermentasi, destilasi, hidrolisis (dehidrasi).

B.

Saran

Sebaiknya penggunaan alat pencetak briket dijelaskan lagi pada praktikan


sehingga saat praktikum berlangsung dapat menggunakan alat tersebut dengan baik
dan benar

DAFTAR PUSTAKA

Arbianto, Purwo. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Depdikbud.


Anonim. 1995 dalam Muljadkk. 2003. Pengembangan Metode Kromatografi Gas
Untuk Penetapan Kadar etanol dalam Nira Siwalan (Borassus flabillifer
Linn). UNAIR. Surabaya
Chemiawan T. 2007. Membangun Industri Bioetanol Nasional Sebagai Pasokan
Energi Berkelanjutan Dalam Menghadapi Krisis Energi Global. Jakarta :
Erlangga
Sulistyawan, R.D.T. 2002. Mufu Tape 4 Macam Beras Ketan. Fak. Biologi. Univ.
Atma JayaYogyakarta.
Yudiarto, Arif. 2008. Bensin Singkong Dari Halaman. Trubus 458-Januari
2008/XXXIX hlm 16. Bandung.

Beri Nilai