Anda di halaman 1dari 19

PEMBAGIAN TUGAS:

Bab I. AMEL
Bab II. BANGUN
Subbab 3.1 AMEL
Subbab 3.2 BASOFI
Subbab 3.3 FIKTOR
Subbab 3.4 TITO
Subbab 3.5 LUTFI
Subbab 3.6 AYU
Subbab 3.7 SHINTA
Subbab 3.8 GUNTUR
Bab IV. + Editor NYING
DEADLINE:
SENIN (20 OKTOBER) JAM 18.00 KE GRUP CHAT FB ATAU
EMAIL NYING
NOTE:
DAPUS DARI JURNAL/BUKU/TEXTBOOK/EBOOK BUKAN
BLOG.
JANGAN LUPA SITASINYA YA
.
SEMANGAAAAAAT !!!

Makalah Zoonosis Dan Manajemen Kesehatan Veteriner

CORONAVIRUS

Oleh:
Kelompok II/ 2012 A
Bangun Dwi Yulian

(125130100111013)

Deasy Andini Ersya Putri

(125130100111014)

Amelda Kurnia Esty Vera (125130100111015)


Basofi Andra Aditama

(125130100111016)

Fiktor Mahardika

(125130100111017)

Tito Adi Kresna

(125130100111018)

Lutfi Azam Fahriza

(125130101111001)

Yuli Dwi Ayu Kartika

(125130101111002)

Shinta Oktaviani A.

(125130101111003)

Moch Guntur K.

(125130101111004)

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah
yang berjudul Coronavirus dalam rangka memenuhi tugas terstruktur mata kuliah
Zoonosis Manajemen Kesehatan Veteriner dengan dosen pengampu Drh. Fidi Nur Aini
Eka Puji Dameanti, M.Si, Pendidikan Dokter Hewan, Program Kedokteran Hewan,
Universitas Brawijaya 2014.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dan
dorongan dari teman-teman mahasiswa seangkatan tahun 2012 dan orang tua yang
selalu memberikan dukungan moral pada penulis.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih banyak kekurangan
dan kesalahan. Seperti pepatah tak ada gading yang tak retak. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini. Serta
penulia berharap agar makalah ini dapat bermanfaat di masyarakat.
Malang, 21 Oktober 2014

Penulis

DAFTAR ISI

HAL
HALAMAN JUDUL....................................................................................

KATA PENGANTAR ..................................................................................

ii

DAFTAR ISI.................................................................................................

iii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang...............................................................................

1.2.

Rumusan Masalah .........................................................................

1.3.

Tujuan ...........................................................................................

BAB III. PEMBAHASAN


2.1. A

.........................................................................................................

2.2. B

.........................................................................................................

2.3. C

.........................................................................................................

10

2.4. D

........................................................................................................

11

2.5. E

.........................................................................................................

2.6. F

.........................................................................................................

10

2.7. G

........................................................................................................

11

BAB IV. PENUTUP


4.1. Kesimpulan ............................................................................................

13

4.2. Saran ......................................................................................................

13

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................

14

BAB I.

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang (AMEL)


Coronavirus merupakan virus RNA besar yang terselubung. Coronavirus

merupakan virus RNA strand positif terbesar. Coronavirus menginfeksi manusia dan
hewan sebagai penyebab penyakit pernafasan dan saluran pencernaan. Coronavirus pada
manusia menyebabkan batuk pilek dan telah dikaitkan dengan gastroenteritis pada bayi.
Coronavirus pada hewan yang lebih rendah menimbulkan infeksi menetap pada inang
alamiahnya. Virus manusia sukar untuk dibiakkan dan karena itu dicirikan dengan buruk
(Department of Health, 2014).
Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV) adalah suatu
strain baru dari virus corona yang belum pernah ditemukan menginfeksi manusia
sebelumnya. Berdasarkan data WHO, kasus MERS-CoV sebagian besar menunjukkan
tanda dan gejala pneumonia. Hanya satu kasus dengan gangguan kekebalan tubuh
(immunocompromised) yang gejala awalnya demam dan diare, berlanjut pneumonia.
Komplikasi kasus MERS-CoV adalah pneumonia berat dengan gagal napas yang
membutuhkan alat bantu napas non invasif atau invasif, Acute Respiratory Distress
Syndrome (ARDS) dengan kegagalan multi-organ yaitu gagal ginjal, Disseminated
Intravascular Coagulopathy (DIC) dan perikarditis. Beberapa kasus juga memiliki
gejala gangguan gastrointestinal seperti diare. Dari seluruh kasus konfirmasi 29%
diantaranya meninggal dunia (CFR 29%) (Surjawidjaja, J.E,. 2003).
Tipe baru dari coronavirus telah diidentifikasi sebagai penyebab penyakit gawat
yang disebut SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). SARS coronavirus (SARS
Co-V)secara resmi telah dideklarasikan oleh WHO sebagai agen causative penyebab
SARS. SARS-CoV mempunyai patogenesis yang unik sebab mereka menyebabkan
infeksi pernafasan paa bagian atas dan bawah sekaligus serta dapat menyebabkan
gastroenteritis (Department of Health, 2014).
1.2

Rumusan Masalah(AMEL)

Apa etiologi yang disebabkan oleh penyakit Coronavirus?

Bagaimana distribusi dan penyebaran geografis penyakit Coronavirus?

Bagaimana patogenesa penyakit Coronavirus?

Bagaimana penularan penyakit Coronavirus?

1.3

Bagaimana gejala klinis penyakit Coronavirus?

Bagaimana diagnosa penyakit Coronavirus?

Bagaimana pencegahan dan pengendalian penyakit Coronavirus?

Bagaimana treatment penyakit Coronavirus?

Tujuan(AMEL)

Untuk mengetahui etiologi yang disebabkan oleh penyakit Coronavirus.

Untuk mengetahui distribusi dan penyebaran geografis penyakit Coronavirus.

Untuk mengetahui patogenesa penyakit Coronavirus.

Untuk mengetahui penularan penyakit Coronavirus.

Untuk mengetahui gejala klinis penyakit Coronavirus.

Untuk mengetahui diagnosa penyakit Coronavirus.

Untuk mengetahui pencegahan dan pengendalian penyakit Coronavirus.

Untuk mengetahui treatment penyakit Coronavirus.

BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
Coronavirus berasal dari bahasa Yunani yang berarti mahkota (corona).
Dilihat di bawah mikroskop elektron, mahkota terlihat seperti tancapan paku-paku yang
terbuat dari S glikoprotein. Struktur inilah yang terikat pada sel inang dan nantinya
dapat menyebabkan virus dapat masuk ke dalam sel inang.
Coronavirus merupakan virus RNA besar yang terselubung. Coronavirus
merupakan virus RNA strand positif terbesar. Coronavirus menginfeksi manusia dan
hewan sebagai penyebab penyakit pernafasan dan saluran pencernaan. Coronavirus pada
manusia menyebabkan batuk pilek dan telah dikaitkan dengan gastroenteritis pada bayi.
Coronavirus pada hewan yang lebih rendah menimbulkan infeksi menetap pada inang
alamiahnya. Virus manusia sukar untuk dibiakkan dan karena itu dicirikan dengan
buruk.
Tipe baru dari coronavirus telah diidentifikasi sebagai penyebab penyakit gawat
yang disebut SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). SARS coronavirus (SARS
Co-V)secara resmi telah dideklarasikan oleh WHO sebagai agen causative penyebab
SARS. SARS-CoV mempunyai patogenesis yang unik sebab mereka menyebabkan
infeksi pernafasan paa bagian atas dan bawah sekaligus serta dapat menyebabkan
gastroenteritis (Jawetz, 1996).
Morfologi
Struktur dan komposisi
Koronavirus merupakan partikel berselubung, berukuran 80-160 nm yang
mengandung genom tak bersegmen dari RNA beruntai tunggal (27-30 kb; BM 56x106), genom terbesar di antara virus RNA. Nukleokapsid heliks berdiameter 9-11 nm.
Terdapat tonjolan berbentuk gada atau daun bunga dengan panjang 20 nm yang berjarak
lebar pada permukaan luar selubung, menyerupai korona matahari. Protein struktural
virus meliputi protein nukleokapsid terfosforilasi 50-60K, glikoprotein 20-30K (E1)
yang bertindak sebagai protein matriks yang tertanam dalam lapisan ganda lipid
selubung dan berinteraksi dengan nukleokapsid, dan glikoprotein E2 (180-200K) yang
membentuk peplomer berbentuk daun bunga. Beberapa virus mengandung glikoprotein

ketiga (E3; 120-140K) yang menyebabkan hemaglutinasi dan mempunyai aktivitas


asetilesterase (Kindler, 2007).
Genom
RNA beruntai tunggal linear tak bersegmen, protein stuktural virus meliputi
protein nukleokapsid terfosforilasi dan mengandung dua glikoprotein (bertindak sebagai
protein matriks yang teranam dalam lapisan ganda lipid selubung dan berinteraksi
dengan nukleokapsid), dan satu fosfoprotein terselubung serta mengandung duri besar /
daun bunga yang menyebabkan hemaglutirasi dan mempunyai aktivitas asetil esterase.
Protein
Protein yang terdapat dalam coronavirus berupa S (spike) protein (150k), HE
protein (65kD), M (membran) protein, E (envelope) protein (9-12kD), dan N
(nucleocapsid) protein (60kD).
S (spike) protein (150k)
S protein dapat mengikat asam salisilat (9-O-acetyl neuraminic acid) pada
permukaan membrane sel inang dimana hal ini memberi kemampuan virus untuk
hemagglutinasi. Antibodi yang melawan S protein dinetralisasi.
HE protein (65kD)
Hanya terdapat pada coronavirus yang mempunyai protein hemagglutininesterase. Bentuk protein ini juga seperti paku (lebih kecil dari S protein) pada
permukaan virus. Protein ini juga dapat mengikat asam salisilat. Aktivitas esterase dari
HE protein dapat memecah asam salisilat dari rantai gula, yang dapa membantu virus
untuk masuk dalam sel inang dan bereplikasi. Antibodi yang melawan HE protein juga
akan dinetralisasi oleh virus.
M (membran) protein
Protein ini membantu perlekatan nukleokapsid ke membran dari struktur internal
seperti Badan Golgi dan tidak ditemukan pada membran plasma sel.
E (envelope) protein (9-12kD)

Protein kecil ini juga terdapat pada membran virus. Pada sel yang terinfeksi,
protein ini ditemukan di sekitar nucleus dan permukaan sel.
N (nucleocapsid) protein (60kD)
Nukleokapsid protein mengikat genom RNA didahului dengan beberapa
rangkaian dan menuju M protein pada permukaan dalam membrane virus. N protein
merupakan protein terfosforilasi. Tidak seperti virus RNA lain, coronavirus tidak
bergabung dengan RNA polymerase dalam partikel virus. Polymerase dibuat setelah
infeksi dengan menggunakan genom RNA positif sebagai mRNA (Drexler, 2003).
Klasifikasi:
Ordo

: Nidovirales

Familia

: Coronaviridae

Genus

: Coronavirus

Coronavirus penyebab SARS terletak pada Group IV ((+)ssRNA) Tampaknya


terdapat dua kelompok antigenik koronavirus manusia, yang diwakili oleh strain 229E
dan OC43 (Muller, 2002).
Penyakit yang ditimbulkan
Penyakit pernafasan dan batuk pilek, infeksi Gastrointestinal akut, penyakit
Neurologik susunan syaraf pada hewan. Pada blog ini, akan lebih dibahas mengenai
SARS Coronavirus.
Gejala dari SARS
Mula-mula gejalanya mirip seperti flu dan bisa mencakup: demam, myalgia,
lethargy, gejala gastrointestinal, batuk, radang tenggorokan dan gejala non-spesifik
lainnya. Satu-satunya gejala yang sering dialami seluruh pasien adalah demam di atas
38C (100.4 F). Sesak napas bisa terjadi kemudian.
Gejala tersebut biasanya muncul 210 hari setelah terekspos, tetapi sampai 13
hari juga pernah dilaporkan terjadi. Pada kebanyakan kasus gejala biasanya muncul
antara 23 hari. Sekitar 1020% kasus membutuhkan ventilasi mekanis.
Awalnya tanda jasmani tidak begitu kelihatan dan mungkin tidak ada. Beberapa
pasien akan mengalami tachypnea dan crackle pada auscultation. Kemudian, Tachypnea
dan lethargy kelihatan jelas.

Kemunculan SARS pada Sinar X di dada (CXR) bermacam-macam bentuknya.


Kemunculan patognomonic SARS tidak kelihatan tetapi biasanya dapat dirasakan
dengan munculnya lubang di beberapa bagian di paru-paru. Hasil CXR awalnya
mungkin lebih kelihatan. Jumlah sel darah putih dan platelet cenderung rendah. Laporan
awal mengindikasikan jumlah Neutrophilia dan lymphopenia yang cenderung relatif,
disebut demikian karena angka total sel darah putih cenderung rendah. Hasil
laboaratorium lainnya seperti naiknya kadar lactat dehydrogenase, creatinine kinase dan
C-Reactive protein (Cotten, 2009).
Penularan SARS
a. Melalui kontak langsung dengan penderita SARS.
b. Melalui udara yang telah tercemar coronavirus.

Membahas secara keseluruhan tentang coronavirus...


Klasifikasi Ilmiah.. (Kingdom, dll)
Penyakit yg disebabkan coronavirus apa, host hewan nya siapa.

(BANGUN)

BAB III.
PEMBAHASAN
3.1

Etiologi(AMEL)
Middle East Respiratory Syndrome atau disingkat MERS adalah penyakit virus

pada pernapasan yang disebabkan oleh corona virus yang disebut MERS-Cov. Virus ini
pertama kali dilaporkan mewabah di Arab Saudi pada tahun 2012. Corona virus adalah
keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada orang,
corona virus dapat menyebabkan penyakit mulai dalam tingkat keparahan seperti flu
biasa hingga Sindroma Pernapasan Akut atau SARS (Severe Acute Respiratory
Syndrome) (International SOS, 2014).
Peneliti belum mengetahui secara pasti cara virus MERS ditularkan ke manusia,
namun virus ini sudah ditemukan pada kelelawar dan unta. Para pakar mengatakan unta
kemungkinan besar menjadi binatang pembawa, yang kemudian menularkannya pada
manusia. Belum diketahui dengan jelas asal mula virus ini menyebar, namun, beberapa
peneliti menduga bahwa penyebaran virus berasal dari salah satu jenis Kelelawar yang
banyak ditemukan di kawasan Timur Tengah. Unta hampir dipastikan menjadi sumber
virus korona MERS di Timur Tengah. Hasil penelitian di negara tersebut menunjukkan
kebanyakan unta, meski tidak semua, terinfeksi jenis virus yang secara genetik hampir
identik dengan virus yang menginfeksi manusia. Penelitian ini dilakukan oleh tim dari
Universitas Columbia, Universitas King Saud, dan Eco Health Alliance (Department of
Health, 2013).
Coronavirus pertama kali terdeteksi pada bulan April 2012, ini merupakan virus
baru (novel coronaviruses) yang belum pernah terlihat pada manusia sebelumnya. Pada
kebanyakan kasus,virus ini telah menyebabkan penyakit yang parah, bahkan setengah
dari kasus yang tercatat mengalami kematian. Hingga kemudian, corona virus ini
dikenal sebagai Middle East Respiratory Syndrome Coronaviruses (MERS-Cov). Nama
itu diberikan Coronavirus Study Group of the International Committee di Taxonomy of
Viruses pada May 2013. Karena penyebarannya yang semakin meluas sejak April 2012
hingga awal tahun 2013, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan
peringatan sejak Mei lalu untuk mewaspadai ancaman penyebarannya. Arab Saudi

adalah sumber penularan pertama, dengan jumlah kasus mencapai 378 dan 107
kematian (Department of Health, 2013).
Ada tiga sub-kelompok utama coronaviruses: alpha, beta dan gamma, dan
kelompok keempat ditugaskan kelompok baru yang disebut coronavirus delta. Lima
coronavirus sebelumnya dikenal menginfeksi manusia adalah: coronaviruses alpha 229E
dan NL63 dan coronavirus beta SARS- CoV, coronavirus yang menyebabkan sindrom
pernafasan akut (SARS), OC43, dan HKU1. Middle East Respiratory
Syndrome coronavirus (MERS-CoV) adalah coronavirus beta yang baru
diakui pertama kali dilaporkan pada tahun 2012 di Arab Saudi. Hal ini berbeda dari
coronavirus lain yang sebelumnya

telah

ditemukan

pada

manusia.

Coronavirus juga dapat menginfeksi banyak binatang yang berbeda dan menyebabkan
mereka untuk memiliki penyakit pernapasan, pencernaan, hati, dan neurologis. Sebagian
besar coronaviruses ini biasanya hanya menginfeksi satu spesies hewan atau, paling
banyak, sejumlah kecil spesies terkait erat. Namun, SARS-CoV dapat menginfeksi
orang dan beberapa jenis hewan, termasuk monyet, musang kelapa Himalaya, anjing
rakun, kucing, anjing, dan hewan pengerat. Untuk update pada kasus baru-baru ini
dilaporkan infeksi coronavirus baru (sekarang disebut MERS-CoV) (Surjawidjaja, J.E,.
2003).
Penyakit itu awalnya diyakini telah berpindah dari unta ke manusia, pertama kali
tampaknya menular lewat kontak yang dekat dengan hewan-hewan itu. Akan tetapi
akhir-akhir ini, para petugas kesehatan yang merawat penderita MERS juga jatuh sakit
akibat virus itu. Kesimpulan dicapai setelah para peneliti menemukan adanya
kecocokan genetik 100 persen pada virus yang menginfeksi kelelawar jenis tersebut
dengan manusia pertama yang terinfeksi. Spekulasi lain yang terdapat di kalangan para
peneliti menyebutkan bahwa selain Kelelawar, Unta juga diduga kuat berkaitan dengan
asal mula dan penyebaran virus Corona, dimana ditemukan antibodi terhadap virus ini
dalam tubuh hewan khas Timur Tengah itu. Mekanisme penyebaran virus Corona dari
hewan ke manusia masih diteliti sampai saat ini, meskipun ada dugaan bahwa manusia
pertama yang terinfeksi mungkin pernah secara tidak sengaja menghirup debu kotoran
kering Kelelawar yang terinfeksi. Saat ini, para peneliti masih menyelidiki
kemungkinan hewan lain yang menjadi mediator penularan virus Corona guna
menangani meluasnya penyebaran penyakit ini, mengingat bahwa jenis virus ini

dikatakan lebih mudah menular antar-manusia dengan dampak yang lebih mematikan
dibandingkan SARS (Department of Health, 2013).
3.2

Distribusi dan Penyebaran Geografis(BASOFI)

3.3

Patogenesa(FIKTOR)

3.4

Penularan (TITO)
Hewan hewan
Hewan manusia
Manusia manusia

3.5

Gejala Klinis (LUTFI)


Gejala klinis yang umum dari penyakit ini di antaranya: demam, batuk dan

kesulitan bernafas, mialgia, mual, muntah dan diare. Sebuah kasus fatal yang ditularkan
dari Uni Emirat Arab (UEA) ke Jerman menunjukkan onset gejala klinis yang cepat
berupa

batuk non-productive kemudian

diikuti

dengan

pneumonia

dan thrombocytopaenia sampai hari ke-14 serta terjadi kegagalan ginjal. Banyak pasien
yang terinfeksi MERS-CoV menderita kegagalan ginjal. Namun, penyebab dari
kegagalan ginjal ini belum diketahui secara pasti, apakah akibat dari infeksi virus ini
atau akibat efek samping dari agen antimikroba yang digunakan serta obat lainnya yang
digunakan selama pengobatan atau dapat juga akibat kombinasi kedua faktor tersebut.
Sebuah kluster kasus di rumah sakit Arab Saudi terpusat pada unit dialisis dengan 13
dari 25 pasien yang dirawat menunjukkan stadium akhir dari penyakit ginjal. (Slamet,
2013)
Sejumlah kasus asimptomatis dimana hanya menunjukkan gejala ringan telah
meningkat akhir-akhir ini. Sebanyak 15 kasus dengan gejala ringan telah diidentifikasi
melalui pelacakan kontak (contact tracing) pada bulan Juni dan Juli 2013, termasuk 4
petugas kesehatan di rumah sakit Arab Saudi. Sebanyak 2 dari 3 pasien Tunisia yang
terinfeksi menunjukkan gejala yang ringan dan telah mengalami penyembuhan total.
Sebanyak 46 kasus infeksi subklinis dari MERS-CoV telah dilaporkan di berbagai
negara di dunia. Kasus infeksi MERS-CoV yang parah cenderung terjadi pada pasien
yang berusia tua, sedangkan kasus infeksi ringan terjadi pada pasien berusia muda yang
mengalami infeksi kontak. Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius pada
pasien yang mengalami diabetes, penyakit ginjal kronis, penyakit jantung kronis,

hipertensi, penyakit paru kronis, tumor ganas dan menerima transplantasi ginjal.
(Slamet, 2013)

Berikut gejala klinis MERS-CoV pada manusia:


1. Demam (38C)
2. Sakit dada
3. Napas pendek
4. Lemah
5. Batuk dan bersin
6. Diare (tidak ditemukan di semua kasus)
7. Gagal ginjal
8. Pneumonia

Hasil X-ray pada dada pasien yang terinfeksi MERS-CoV di Arab Saudi. (A) hari
pertama pemeriksaan, (B) 2 hari kemudian

Gejala Klinis Pada Hewan


Periode inkubasi berkisar 38 hari, sedang penyebaran virus terjadi 3 hari
sebelum muncul gejala klinis. Gejala klinis pada penderita menunjukkan kondisi umum
yang lemah, anoreksia, turgor kulit yang jelek diikuti vomit dan diare demam yang
bervariasi, dan terjadi leukopenia. Hasil pemeriksaan laboratorik menunjukkan jumlah
leukosit kurang. Klinis yang tampak adalah kenaikan temperatur tubuh sekitar 40 C
dalam 24 hari setelah infeksi, penularan melalui oral/nasal dan dalam waktu 18 hari
setelah infeksi, virus ditemukan dalam darah. (Jenson, 2007)
Manusia & Hewan + GAMBAR
3.6

Diagnosa (AYU)

3.7

Pencegahan dan Pengendalian(SHINTA)

3.8

Treatment(GUNTUR)

BAB III.
PENUTUP
3.1

Kesimpulan(NYING)

3.2

Saran(NYING)

DAFTAR PUSTAKA

Jawetz, Melnich & Adelberg ,1996, Mikrobiologi Kedokteran, 629 631, Buku
Kedokteran EGC, Jakarta
Drexler JF, Corman VM, Drosten C. Ecology, evolution and classification of bat
coronaviruses in the aftermath of SARS. Antiviral research. 2014 Jan; 101 : 4556.
Muller MA, Raj VS, Muth D, Meyer B, Kallies S, Smits SL, et al. Human coronavirus
EMC does not require the SARS - coronavirus receptor and maintains broad
replicative capability in mammalian cell lines. MBio. 2012;3(6).
Kindler E, Jonsdottir HR, Muth D, Hamming OJ, Hartmann R, Rodriguez R, et al.
Efficient replication of the novel human betacoronavirus EMC on primary
human epithelium highlights its zoonotic potential. MBio. 2013;4(1):e00611 12.
Cotten M, Watson SJ, Kellam P, Al - Rabeeah AA, Makhdoom HQ, Assiri A, et al.
Transmission and evolution of the Middle East respiratory syndrome
coronavirus in Saudi Arabia: a descriptive genomic study The Lancet.
2013;382(9909):1993 - 2002.

Slamet, et al. 2013. Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus (Mers-Cov).


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengendalian
Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan
Jenson, Behrman. 2007. Essential of Coronavirus. 5th ed. USA: Elsevier. p 161 - 165