Anda di halaman 1dari 31

SIRKULASI UDARA DI ATMOSFER

Makalah ini disusun untuk memenuhi


tugas mata kuliah Oceanografi
Dosen Pembimbing : Bapak Bagus Setiabudi Wiwoho

Disusun Oleh Kelompok 7:


Alfyananda Kurnia Putra
Eka Widyanty
Diena Rahmania Arief
Lusiana Handayani
Shinta Dewi Nirwana
Ziaullah Sudiana Rizki

(110721435004)
(110721435006)
(110721435012)
(110721435147)
(110721435137)
(110721407163)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
Oktober 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat serta
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul "Sirkulasi
Udara di Atmosfer. Makalah ini disusun untuk memenuhi m dari makalah mata kuliah
Oceanografi.
Makalah ini berisi tentang sirkulasi udara di atmosfer, pengaruh sirkulasi udara

di atmosfer terhadap laut, sirkulasi udara di atmosfer terhadap efek koriolis, dan
sirkulasi udara di atmosfer terhadap pola pergerakan udara . Kami menyadari dalam
penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran
dari semua pihak yang bersifat membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu menyelesaikan laporan
ini. Khususnya kepada Bapak Bagus Setiabudi Wiwoho, selaku dosen matakuliah
Oceanografi, serta teman-teman offering B angkatan 2011 terima kasih atas kerjasama
dan surport yang telah di berikan. Demikian yang dapat disampaikan.

Malang, 12 oktober
2013

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem energi atmosfer sumber utama adalah pemanasan matahari
langsung pada atmosfer atas. Pengaruh pemanasan matahari langsung berdampak
pada komponen komponen fisik bumi sebagai penggerak iklim di bumi. Tidak
dapat dipungkiri lagi jika sistem energi di bumi merupakan akibat adanya
interaksi antar komponen tersebut. Komponen - komponen fisik bumi yang
dimaksud adalah atmosfer (lapisan gas), hidrosfer (lapisan cair), pedosfer (lapisan
permukaan padat), kriosfer (lapisan es), dan biosfer (lapisan kehidupan).
Semuanya saling berinteraksi menghasilkan sebuah sistem yang nantinya akan
berdampak pada iklim yang ada di bumi.
Diantara interaksi antar komponen tersebut salah satu hal yang menarik
untuk dikaji adalah sistem interaksi antara laut-atmosfer. Interaksi antara laut dan
atmosfer sangat berkaiatan, dapat dilihat dari siklus hidrologi yang merupakan
siklus air di planet bumi. Energi matahari yang merupakan penggerak utama dari
siklus ini memanaskan subsistem di bumi sehingga terjadi interaksi yang cukup
kuat untuk menghasilkan atau membentuk suatu sistem kopling (interaksi dan
arah), dimana proses yang terjadi adalah perpindahan energi dan massa dalam
proses neraca energi dalam hal ini energi radiasi termasuk energi panas dan
momentum dalam friksi permukaan. Laut dianggap memainkan peranan yang
sangat penting dalam perubahan iklim. Salah satu parameter penting yang
memainkan peranan di laut adalah suhu permukaan laut (SPL), karena suhu
permukaan laut (SPL) menentukan fluks panas nyata (sensible) dan panas
terselubung (latent) melalui permukaan laut.
Interaksi kopel antara atmosfer dan lautan menyebabkan fenomena yang
sangat penting seperti El Nino, La Nina, Dipole Mode positif (+), Dipole Mode
negative ( -), Ossilasi Maden-Julian, Sirkulasi Walker,Siklus Sel Hadley, dan lain
lain.
Pergerakan udara pada umumnya disebabkan oleh pemanasan terhadap
udara dalam bentuk persebaran panas. Pemanasan atau persebaran panas dibagi
atas pemanasan langsung dan tidak langsung. Pemanasan langsung merupakan
absorpsi atau penyerapan panas oleh udara sedangkan pemanasan tidak langsung
terjadi pada lapisan udara paling bawah, panas yang berasal dari bumi (setelah
diterima bumi dari matahari) lalu disebarkan secara vertikal dan horizontal.
Berdasarkan pemanasan atau persebaran panas tersebut, maka pola gerakan udara
dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu konduksi, konveksi, adveksi, dan
turbulensi.

B. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.

Bagaimana sirkulasi udara di atmosfer?


Bagaimana pengaruh sirkulasi udara di atmosfer terhadap laut?
Bagaimana pengaruh sirkulasi udara di atmosfer terhadap efek koriolis?
Bagaimana pengaruh sirkulasi udara di atmosfer terhadap pola pergerakan
udara?

C. Tujuan
1.
2.
3.
4.

Mengetahui sirkulasi udara di atmosfer.


Mengetahui pengaruh sirkulasi udara di atmosfer terhadap laut
Mengetahui pengaruh sirkulasi udara di atmosfer terhadap efek koriolis
Mengetahui pengaruh sirkulasi udara di atmosfer terhadap pola pergerakan
udara

BAB II
PEMBAHASAN

Sirkulasi Udara Di Atmosfer


sirkulasi atmosfer adalah suatu pola gerakan angin dan tekanan dalam
skala besar yang tetap sepanjang tahun atau bersifat musiman. Sirkulasi ini terjadi
akibat adanya perbedaan intensitas radiasi matahari, tekanan dan kelembaban di
daerah lintang tinggi dengan daerah lintang rendah. Temperatur ditentukan oleh
adanya pemanasan didaerah panas dan dingin di lintangtinggi, dalam perbedaan
panas dan dingin terdapat sirkulasi udara akibat adanya perbedaan radiasi
matahari, tekanan dan kelembaban.

http://www.ees.rochester.edu/fehnlab/ees215/fig17_9.jpg
Sudut rotasi bumi yang miring 23,5 derajat mengakibatkan intensitas penyinaran
di daerah tropis, subtropis dan kutub menjadi berbeda sehingga menyebabkan
perbedaan suhu dan tekanan di sekitar daerah tersebut, akibatnya terjadi
pergerakan/sirkulasi udara dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan

rendah. Selain itu rotasi bumi mengakibatkan terciptanya gaya corriolis yang
mengakibatkan pembelokan arah angin di atmosfer. Pola sirkulasi atmosfer ini
memengaruhi terhadap keadaan cuaca dan iklim di bumi.
dengan sudut bumi yang miring23,5 derajat mengakibatkan tingkat intensitas
matahari di daerah tropis, subtopis dan kutub berbeda dan hal ini menimbulkan
oerbedaan teanan dan suhu yang menciptakan gaya corriolis (pembelok arah angin
di atmosfer) dan menjadikan keadaan cuaca dan iklim di bumi berbeda-beda

http://www.ux1.eiu.edu/~cfjps/1400/FIG07_006.jpg
Sirkulasi atmosfer ini menyebabkan di daerah tertentu terjadi pertemuan
antara udara dingin dan udara panas sehingga sering menimbulkan gejala cuaca
ekstrem seperti badai, tornado dan lainnya. Daerah pertemuan antara udara panas
dengan udara dingin dinamakan front. Sirkulasi penting dipelajari karena selain
menghasilkan angin, yang juga berarti mengatur gerakan awan, sirkulasi ini juga
menyebarkan kembali energi dan kelembaban, sehingga ketidak seimbangan antar
lintang dapat diatasi dan dengan demikian akhirnya menciptakan iklim. Untuk
memudahkan pengertian, sirkulasi secara umum dibagi menjadi 2 komponen yaitu
: Pertama, Sirkulasi Primer, berskala besar dan bergerak tetap yang meliputi
areal yang luas dari bumi ini dan meskipun jika dilihat secara terperinci beragam,
tetapi terjadi setiap saat. Kedua, Sirkulasi Sekunder dengan skala waktu yang
lebih pendek, dapat berupa gerakan yang cepat (siklon) atau yang agak lambat
(antisiklon), yang menyebabkan perubahan cuaca dari hari ke hari di sebagian
besar bumi ini. Di lautan terdapat juga sirkulasi umum masa yang agak mirip
dengan yang terjadi di udara, yang membantu atmosfir mendistribusikan kembali

energi dan uap air. Tetapi pemahaman untuk sirkulasi yang satu ini masih bersifat
deskriptif, terutama tentang bagaimana proses terjadinya.
Ketidak seimbangan penyerapan dan pemancaran radiasi karena posisi
lintang dan variasi lintang dalam komponen-komponen pembentuk sistem udaraair, menunjukkan bahwa gerakan horizontal diperlukan untuk mempertahankan
iklim yang ada sekarang ini. jadi peranan utama dari pergerakan udara secara
umum adalah untuk mendistribusikan kembali ketidak seimbangan tersebut
sehingga kondisi iklim dapat dipertahankan.
Perubahan iklim hanya
memodifikasi beberapa pola dasar, bukan merupakan pergeseran yang radikal dari
pola tersebut. Karena itu dapat menggunakan sirkulasi sekarang ini sebagai suatu
model yang sekali kita pahami akan menerangkan bukan hanya sistem iklim
sekarang tetapi juga iklim masa lalu dan iklim masa datang.
Ketidak-seimbangan positip (surplus) dari energi yang terjadi di daerah
tropis dan ekuator dikompensasikan oleh neraca neto negatif (minus) di daerah
berlintang tinggi.
Daerah lintang 30o sampai kutub memantulkan dan
memancarkan kembali radiasi lebih banyak daripada yang diserap, sementara
pada lintang rendah lebih banyak radiasi surya yang diserap daripada infra merah
yang dipancarkan. Keseimbangan harus dicapai dan disinilah sirkulasi berperan.
Tetapi pola sirkulasi yang dihasilkan lebih rumit karena adanya keragaman
musiman dari komponen neraca radiasi seperti albedo, radiasi gelombang panjang
yang pergi, radiasi surya yang diserap dan radiasi neto. Radiasi gelombang
panjang yang pergi menunjukkan banyak kesamaan karakteristik dengan albedo,
tetapi dalam nilai/kondisi yang berbanding terbalik. Hal ini disebabkan karena
secara umum penutupan awan biasanya meluas sampai ke bagian tengah dan atas
lapisan Troposfir yang membuat albedo bumi meningkat sementara radiasi
gelombang panjang bumi yang pergi rendah. Begitu juga kehadiran salju dan es
memberikan pengaruh yang sama.
Keragaman dari radiasi energi surya yang diserap menunjukkan
keragaman tahunan yang jelas untuk daerah diluar lintang 5 - 10oU. Energi yang
diserap mencapai maksimum sepanjang bulan-bulan musim panas di masingmasing belahan bumi, untuk lintang manapun. Fase keragaman secara jelas
mengikuti perjalanan matahari dalam setahun, seperti yang terlihat pada garis
deklinasi surya. Radiasi Netto juga menunjukkan keragaman tahunan yang jelas
mengenai hubungan fase yang hampir sama dengan energi surya yang diserap,
yaitu nilai maksimum terjadi selama musim panas di masing-masing belahan
bumi. Nilai maksimum dan surplus energinya juga mengikuti pola deklinasi
surya. Nampaknya keragaman tahunan dari radiasi netto sebagian besar
didominasi oleh keragaman energi surya yang diserap yang memiliki amplitudo
yang lebih besar daripada keragaman radiasi gelombang panjang yang pergi.

Radiasi surya netto mencapai surplus terbesar (lebih dari 100 Wm -2) di daerah
tekanan tinggi sub-tropis di Belahan Bumi Selatan.
Peranan yang jelas dari sirkulasi umum dalam mempertahankan iklim.
Tanpa gerakan horizontal, suhu pada setiap lintang akan total diatur oleh radiasi
surya, sehingga musim panas di sebagian besar bumi akan lebih panas daripada
yang sekarang kita. Peranan utama dari arus laut adalah perpindahan sebagian
panas terasa menjauhi ekuator melalui gerakan gelombang laut. Panas terasa yang
tertinggal dipindahkan melalui sirkulasi atmosfer yang secara sederhana berpola
dari ekuator ke kutub. Perpindahan dari panas laten lebih rumit. Daerah penghasil uap air utama adalah lautan-lautan di daerah Sub-tropis, dimana radiasi netto
tinggi. Sehingga arus perpindahannya adalah menuju kutub dan juga menuju
ekuator dengan daerah sumber berada pada sekitar lintang 10o.
Persentase dari peranan ketiga aliran ini dalam mendistribusikan energi
secara sangat kasar adalah: arus laut 25%, arus dinamika atmosfir (panas terasa)
60% dan arus atmosfir panas laten 15%. Dari pembagian tersebut terlihat bahwa
perpindahan panas secara dinamik di atmosfir kira-kira 2 kali dari total dua aliran
yang lain. Ketiga arus tersebut menghasilkan sebuah aliran yang bernilai
mendekati 0 di ekuator dan maksimum sekitar 5x1012 kJdet-1 pada kira-kira
lintang 35 LS dan 40 LU.
Meskipun telah ditekankan bahwa sirkulasi secara umum terjadi karena
adanya ketidak-seimbangan energi, tetapi dengan adanya pergerakan uap air
menunjukkan masih ada penghambat-penghambat lain yang harus diatasi oleh
sirkulasi ini untuk mempertahankan kondisi iklim. Sirkulasi ini juga harus
berperan dalam mempertahankan keseimbangan air secara global dengan cara
mengatur jumlah presipitasi dan evaporasi. Juga sirkulasi umum ini harus
mempertahankan massa atmosfir dan akhirnya harus mempertahankan
keseimbangan momentum dari sudut planet bumi. Agar sudut bumi konstan
diperlukan keseimbangan antara komponen angin yang bertiup ke barat dan ke
timur.
A. ATMOSFER DAN LAUT
Atmosfer adalah lapisan udara yang menyelimuti bumi. Dalam kegiatan
meteorologi termasuk pengamatan synoptik, kita tidak lepas dari atmosfer,
khususnya Trroposfer. Atmosfer adalah lapisan udara yang menyelimuti bumi,
diperkirakan tebel atmosfer mencapai sekitar 12.000 km. Lapisan udara ini
banyak mengandung nitrogen (78%) dan oksigen (21%) dalam bentuk gas. Fungsi
atmosfer antara lain :

Mengatur dan menyarring sinar matahari yang mengenai dan yang


dipantulkan oleh permukaan bumi sehingga suhu di permukaan bumi tidak
berubah dengan extrim.
Sebagai medium bagi penjalaran gelombang bunyi.
Mengatur sirkulasi udara.
Sebagai penahan radiasi matahari.
Sebagai tempat tersediannya gas oksigen (O2) bagi pernafasan dan
pembakaran.
Dapat dimanfaatkan pada bidang komunikasi dan transpotasi
Susunan Atmosfer

Sebanyak 97 % udara terletak pada lapisan paling bawah hingga 29 km di


atas permukaan air laut. Lapisan udara semakin tipis sejalan dengan
bertambahnya ketinggian. Ketingggian Troposfer tidak sama pada setiap
tempat di permukaan bumi, khusus di ekuator ketinggian troposfer bisa
mencapai 17-18 km, sedangkan di kutub sekitar 6-8 km.
Lapisan Atmosfer
Berdasarkan ketinggian, temperatur dan susunan gasnya, lapisan uadar dapat
dibagi menjadi beberapa lapisan, yaitu troposfer, startosfer, mesofer dan
termosfer.
a) Troposfer
Lapisan terbawah dari atmosfer, Termosfer dipisahkan dari lapisan atasnya
(stratosfer) oleh tropopause. Tebal troposfer di Khatulistiwa 16 km, di daerah
antara khatulistiwa dan kutub sekitar 11 km, dan di kutub kurang dari 8 km.
Temperatur udara di troposfer manurun dengan bertambahnya ketinggian pada
permukaan bumi, temperatur rata rata 20C, dan pada ketinggian sekitar 5
km temperatur udara mencapai 0C. Segala macam fenomena cuaca, seperti,
hujan, awan, angin, badai dan petir terjadinya pada lapisan ini.
b) Startosfer
Lapisan ini berada di atas lapisan troposfer, stratosfer dipisahkan dari lapisan
di atasnya (mesofer) oleh tropopause. Temperatur uadara di startosfer
meningkat dengan brtambahanya ketinggian. Pada lapisan startosfer terdapat
lapisan Ozon (O3), yang merupakan bagi makhluk hidup dari pengaruh radiasi
Ultraviolet sinar matahari. Lapisan ozon terletak pada ketinggian antara 20-55
km diatas permukaan bumi. Penipisan lapiasan ozon, seperti yang terjadi
dewasa ini, akan mengubah iklim sehingga dapat memperburuk kehidupan di
muka bumi ini. Pada lapisan stratosfer sudah tidak terdapat uap air, debu,

ataupun awan.
c) Mesofer
Lapisan ini berada di atas lapisan stratosfer, mesofer dipisahkan dari lapisan
diatasnya (termosfer) oleh Mesopause. Temperatur uudara pada lapisan
mesofer berkurang dengan adanya ketinggian.
d) Termosfer
Lapisan ini berada di atas lapisan mesofer. Termosfer berada diatas 80 km dari
permukaan bumim Temperatur pada lapisan termosfer meningkat dengan
bertambahnya ketinggian. Pada ketinggian 100-175 terdapat lapisan yang
sangat kuat, daya iomisasinya, dan disebut lapisan Kennely Heaviside.

Atmosfer adalah lapisan udara yang menyelimuti bumi secara menyeluruh


dengan ketebalan lebih dari 650 km. Gerakan udara dalam atmosfer terjadi
terutama karena adanya pengaruh pemanasan sinar matahari serta perputaran
bumi. Perputaran bumi ini akan mengakibatkan bergeraknya masa udara,
sehingga terjadilah perbedaan tekanan udara di berbagai tempat di dalam atmosfer
yang dapat menimbulkan arus angin.
Pada lapisan atmosfer terkandung berbagai macam gas. Berdasarkan
volumenya, jenis gas yang paling banyak terkandung berturut-turut adalah
nitrogen (N2) sebanyak 78,08%, oksigen (O2) sebanyak 20,95%, argon sebanyak
0,93%, serta karbon dioksida (CO2) sebanyak 0,03%. Berbagai jenis gas lainnya
jufga terkandung dalam atmosfer, tetapi dalam konsentrasi yang jauh lebih rendah,
misalnya neon (Ne), helium (He), kripton (Kr), hidrogen (H2), xenon (Xe), ozon
(O3), metan dan uap air. Di antara gas-gas yang terkandung di dalam atmosfer
tersebut, karbon dioksida dan uap air terkandung dalam konsentrasi yang
bervariasi dari tempat ke tempat, serta dari waktu ke waktu untuk uap air.
Keberadaan atmosfer yang menyelimuti seluruh permukaan bumi
memiliki arti yang sangat penting bagi kelangsungan hidup berbagai organisme di
muka bumi. Fungsi atmosfer antara lain :
1.
Mengurangi radiasi matahari yang sampai ke permukaan bumi pada siang
hari dan hilangnya panas yang berlebihan pada malam hari.
2.

Mendistribusikan air ke berbagai wilayah permukaan bumi

3.

Menyediakan okisgen dan karbon dioksida.

4.

Sebagai penahan meteor yang akan jatuh ke bumi.

Peran atmosfer dalam mengurangi radiasi matahari sangat penting.


Apabila tidak ada lapian atmosfer, suhu permukaan bumi bila 100% radiasi
matahari diterima oleh permukaan bumi akan sangat tinggi dan dikhawatirkan
tidak ada organisme yang mampu bertaham hidup, termasuk manusia. Dalam
mendistribusikan air antar wilayah di permukaan bumi, peran atmosfer ini terlihat
dalam siklus hidrologi. Tasnpa adanya atmosfer yang mampu menampung uap
air, maka seluruh air di permukaan bumi hanya akan mengumpul pada tempat
yang paling rendah. Sungai-sungai akan kering, seluruh air tanah akan merembes
ke laut, sehingga air hanya akan mengumpul di samudera dan laut saja.
Pendistribusian air oleh atmosfer ini memberikan peluang bagi semua mahluk
hidup untuk tumbuh dan berkembang di seluruh permukaan bumi. Selain itu,
atmosfer dapat menyediakan oksigen bagi mahluk hidup. Kebutuhan tumbuhan
akan CO2 juga dapat diperoleh dari atmosfer.
Berdasarkan perbedaan suhu vertikal, atmosfer bumi dapat dibagi menjadi lima
lapisan, yaitu :
a. Troposfer
Lapisan ini merupakan lapisan yang paling bawah, berada antara permukaan bumi
sampai pada ketinggian 8 km pada posisi kutub dan 18 19 km pada daerah
ekuator. Pada lapisan ini suhu udara akan menurun dengan bertambahnya
ketinggian. Setiap kenaikan 100 meter temperaturnya turun turun 0,5 oC.
Lapisan ini dianggap sebagai bagian atmosfer yang paling penting, karena
berhubungan langsung dengan permukaan bumi yang merupakan habitat dari
berbagai jenis mahluk hidup termasuk manusia, serta karena sebagain besar
dinamika iklim berlangsung pada lapisan troposfer. Susunan kimia udara troposfer
terdiri dari 78,03% nitrogrn, 20,99 oksigen, 0,93% argon, 0,03% asam arang,
0,0015% nenon, 0,00015% helium, 0,0001% kripton, 0,00005% hidrogen, serta
0,000005% xenon.
Di dalam lapisan ini berlangsung semua hal yang berhubungan dengan iklim.
Walaupun troposfer hanya menempati sebagian kecil saja dari atmosfer dalam,
akan tetapi, 90% dari semua masa atmosfer berkumpul pada lapisan ini. Di
lapisan inilah terbentuknya awan, jatuhnya hujan, salju, hujan es dan lain-lain. Di
dalam troposfer terdapat tiga jenis awan, yaitu awan rendah (cumulus), yang
tingginya antara 0 2 km; awan pertengahan (alto cumulus lenticularis), tingginya
antara 2 6 km; serta awan tinggi (cirrus) yang tingginya antara 6 12 km.
Troposfer terbagi lagi ke dalam empat lapisan, yaitu :
Lapisan Udara Dasar
Tebal lapisan udara ini adalah 1 2 meter di atas permukaan bumi. Keadaan di
dalam lapisan udara ini tergantung dari keadaan fisik muka bumi, dari jenis

tanaman, ketinggian dari permukaan laut dan lainnya. Keadaan udara dalam
lapisan inilah yang disebut sebagai iklim mikro, yang memperngaruhi kehidupan
tanaman dan juga jasad hidup di dalam tanah.
Lapisan Udara Bawah
Lapisan udara ini dinamakan juga lapisan-batasan planiter (planetaire grenslag,
planetary boundary layer). Tebal lapisan ini 1 2 km. Di sini berlangsung
berbagai perubahan suhu udara dan juga menentukan iklim.
Lapisan Udara Adveksi (Gerakan Mendatar)
Lapisan ini disebut juga lapisan udara konveksi atau lapisan awan, yang tebalnya
2 8 km. Di dalam lapisan udara ini gerakan mendatar lebih besar daripada
gerakan tegak. Hawa panas dan dingin yang beradu di sini mengakibatkan
kondisi suhu yang berubah-ubah.
Lapisan Udara Tropopouse
Merupakan lapisan transisi antara lapisan troposfer dan stratosfer terletak antara 8
12 km di atas permukaan laut (dpl). Pada lapisan ini terdapat derajat panas yang
paling rendah, yakni antara 46 o C sampai 80o C pada musim panas dan
antara 57 o C sampai 83 o C pada musim dingin. Suhu yang sangat rendah
pada tropopouse inilah yang menyebabkan uap air tidak dapat menembus ke
lapisan atmosfer yang lebih tinggi, karena uap air segera mengalami kondensasi
sebelum mancapai tropopouse dan kemudian jatuh kembali ke bumi dalam bentuk
cair (hujan) dan padat (salju, hujan es).
b. Stratosfer
Stratosfer merupakan bagian atmosfer yang berada di atas lapisan
troposfer sampai pada ketinggian 50 60 km, atau lebih tepatnya lapisan ini
terletak di antara lapisan troposfer dan ionosfer. Pada lapisan stratosfer, suhu akan
semakin meningkat dengan meningkatnya ketinggian. Suhu pada bagian atas
stratosfer hampir sama dengan suhu pada permukaan bumi. Dengan demikian,
profil suhu pada lapisan stratosfer ini merupakan kebalikan dari lapisan troposfer.
Ciri penting dari lapisan stratosfer adalah keberadaan lapisan ozon yang
berguna untuk menyerap radiasi ultraviolet, sehingga sebagian besar tidak akan
mencapai permukaan bumi. Serapan radiasi matahari oleh ozon dan beberapa gas
atmosfer lainnya menyebabkan suhu udara pada lapisan stratosfer meningkat.
Lapisanstratosfer tidak mengandung uap air, sehingga lapisan ini hanya
mengandung udara kering. Batas lapisan stratosfer disebut stratopouse.
Lapisan stratosfer dibagi dalam tiga bagian yaitu :

Lapisan udara isoterm; terletak antara 12 35 km dpl, dengan suhu udara 50o
C sampai -55o C.
Lapisan udara panas; terletak antara 35 50 km dpl, dengan suhu 50o C
sampai + 50o C.
Lapisan udara campuran teratas; terletak antara 50 80 km dpl, dengan suhu
antara +50o C sampai -70o C. karena pengaruh sinar ultraviolet, pada ketinggian
30 km oksigen diubah menjadi ozon, hingga kadarnya akan meningkat dari 5
menjadi 9 x 10-2 cc di dalam 1 m3.
c. Mesosfer
Mesosfer terletak di atas stratosfer pada ketinggian 50 70 km. Suhu di
lapisan ini akan menurun seiring dengan meningkatnya ketinggian. Suhunya
mula-mula naik, tetapi kemudian turun dan mencapai -72 derajat C di ketinggian
75 km. Suhu terendah terukur pada ketinggian antara 80 100 km yang
merupakan batas dengan lapisan atmosfer berikutnya, yakni lapisan mesosfer.
Daerah transisi antara lapisan mesosfer dan termosfer disebut mesopouse dengan
suhu terendah 110 derajat C .
d. Lapisan Termosfer
Berada di atas mesopouse dengan ketinggian sekitar 75 km sampai pada
ketinggian sekitar 650 km. Pada lapisan ini, gas-gas akan terionisasi, oleh
karenanya lapisan ini sering juda disebut lapisan ionosfer. Molekul oksigen akan
terpecah menjadi oksegen atomik di sini. Proses pemecahan molekul oksigen dan
gas-gas atmosfer lainnya akan menghasilkan panas, yang akan menyebabkan
meningkatnya suhu pada lapisan ini. Suhu pada lapisan ini akan meningkat
dengan meningkaknya ketinggian. Ionosfer dibagi menjadi tiga lapisan lagi, yaitu
:
1. Lapisan Udara E
Terletak antara 80 150 km dengan rata-rata 100 km dpl. Lapisan ini tempat
terjadinya proses ionisasi tertinggi. Lapisan ini dinamakan juga lapisan udara
KENNELY dan HEAVISIDE dan mempunyai sifat memantulkan gelombang
radio. Suu udara di sini berkisar 70o C sampai +50o C .

2. Lapisan udara F

Terletak antara 150 400 km. Lapisan ini dinamakan juga lapisan udara
APPLETON.
Lapisan udara atom
Pada lapisan ini, benda-benda berada dalam lbentuk atom. Letaknya lapisan ini
antara 400 800 km. Lapisan ini menerima panas langsung dari matahari, dan
diduga suhunya mencapai 1200o C .
e. Lapisan Ekosfer
Ekosfer merupakan lapisan atmosfer yang paling tinggi. Pada lapisan ini,
kandungan gas-gas atmosfer sangat rendah. Batas antara ekosfer (yang pada
dasarnya juga adalah batas atmosfer) dengan angkasa luar tidak jelas. Daerah
yang masih termasuk ekosfer adalah daerah yang masih dapat dipengaruhi daya
gravitasi bumi. Garis imajiner yang membatasi ekosfer dengan angkasa luar
disebut magnetopause.
Atmosfer tidaklah diam akan tetapi memiliki sirkulasi atau gerakan yang
disebut sirkulasi atmosfer. Sirkulasi atmosfer adalah suatu pola gerakan angin dan
tekanan dalam skala besar yang tetap sepanjang tahun atau bersifat musiman.
Sirkulasi ini terjadi akibat adanya perbedaan intensitas radiasi matahari, tekanan
dan kelembaban di daerah lintang tinggi dengan daerah lintang rendah. Sudut
rotasi bumi yang miring 23,5 derajat mengakibatkan intensitas penyinaran di
daerah tropis, subtropis dan kutub menjadi berbeda sehingga menyebabkan
perbedaan suhu dan tekanan di sekitar daerah tersebut, akibatnya terjadi
pergerakan/sirkulasi udara dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan
rendah. Selain itu rotasi bumi mengakibatkan terciptanya gaya corriolis yang
mengakibatkan pembelokan arah angin di atmosfer. Pola sirkulasi atmosfer ini
memengaruhi terhadap keadaan cuaca dan iklim di bumi. Sirkulasi atmosfer ini
menyebabkan di daerah tertentu terjadi pertemuan antara udara dingin dan udara
panas sehingga sering menimbulkan gejala cuaca ekstrem seperti badai, tornado
dan lainnya. Daerah pertemuan antara udara panas dengan udara dingin
dinamakan front.
Ada tiga komponen utama di bumi yakni Hidrosfer, Litosfer, Atmosfer.
Samudra adalah perwujudan Hidrosfer, Litosfer berupa lapisan batuan sedangkan
atmosfer berupa susunan udara. Biosfer atau bidang kehidupan melintasi beberapa
bagian dari ketiga lapisan tersebut. Biosfer membentang beberapa meter ke dalam
tanah (Litosfer), beberapa ratus meter ke dalam Atmosfer dan lebih dari 11.000
meter ke dalam samudra. Samudra bumi kurang lebih mencapai 71% permukaan
bumi. Samudra menguasai sebagian besar belahan bumi selatan, seringkali
mengacu pada Marine Hemsphere /belahan bumi berupa laut. Sedangkan daratan
di sisi lain mendominasi belahan bumi utara Bumi itu unik dalam sistem tata

surya karena kuantitas air yang sangat banyak sekali. Lautan menutupi kira-kira
140 juta dari total 200 juta mil permukaan bumi. Menurut volume mengandung
350 juta mil air. Lautan juga mengandung 3,5% garam tak larut, sama dengan
165 juta ton garam per mil. Dengan demikian tak diragukan lagi air merupakan
sumber bumi yang di dalamnya terdapat satu Mobile ore terbesar di permukaan
bumi.
Air laut sangat penting adanya bagi kehidupan di permukaan bumi.
Pertama, lautan secara berlebihan mempengaruhi hampir semua proses di
permukaan bumi. Lautan ,mengatur perputaran air dan gas karbon dioksida di
dalam lingkungan. Kedua, air lautan tidak hanya mendukung kehidupan tetapi
juga menjamin kehidupan pertumbuhan dinamikanya selama ratusan juta tahun
evolusi sehingga memungkinkan kehidupan tetap ada saat ini dalam bentuk dan
ukuran yang tak terhitung muai dari mikroorganisme sampai ikan paus. Ketiga,
lautan mengatur proses geoligis Weathering/pelapukan dan kerusakan erosi.
Lautan menyediakan tempat untuk milyaran ton sedimen yang dibawa oleh
sungai-sungai di dunia. Di lautan batuan pasir terbentuk oleh sedimen yang
berasal ari tanah dan batu kapur dari tubuh organisme laut. Batu karang ini
menyimpan petroleum di dunia. Karang dan sedimen laut juga menyimpan
endapan metalik besi, mangan dan non logam.
Volume yang besar dan fluiditasnya yang cepat maka lautan bisa
membersihkan sendiri dan dengan demikain bisa tetap tidak terkontaminasi untuk
waktu yang sangat lama. Namun akhir-akhir ini manusia telah mengancam
kapasitas pembersihan sendiri lautan yang unik. Jika lautan ini tidak rusak maka
mereka bisa memberi umat manusia sumber energy yang penting karena mereka
mengandung jumlah hydrogen berat yang besar, mereka juga bisa menyediakan
energy dari vulkano terutama di lautan pasifik . Atmosfer terdiri dari berbagai gas
dan serosol yang nantinya menghasilkan parikel-partikel sedikit padat dan cair
yang disakurkan melalui udara . untuk gas tertentu suhu udara sangat dominan,
tetapi tidak nyata. Udara merupakan kumpulan dari berbagai dari gas, diantaranya
dianggap menjadi suatu bagian yang pemanen dari atmosfer sebab gas-gas
tersebut mempunyai perbandingan yang tetap pada keseluruhan volumenya.
Berbagai gas berhamburan banyak sekali dalam ruang dan waktu.
Dalam oseanografi dikenal dua istilah untuk menentukan temperatur air
laut yaitu temperatur dan temperatur potensial. Temperatur adalah sifat
termodinamis cairan karena aktivitas molekul dan atom di dalam cairan tersebut.
Semakin besar aktivitas (energi), semakin tinggi pula temperaturnya. Temperatur
menunjukkan kandungan energi panas. Energi panas dan temperatur dihubungkan
oleh energi panas spesifik. Energi panas spesifik sendiri secara sederhana dapat
diartikan sebagai jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan
temperatur dari satu satuan massa fluida sebesar 1. Jika kandungan energi panas

nol (tidak ada aktivitas atom dan molekul dalam fluida) maka temperaturnya
secara absolut juga nol (dalam skala Kelvin). Jadi nol dalam skala Kelvin adalah
suatu kondisi dimana sama sekali tidak ada aktivitas atom dan molekul dalam
suatu fluida.
Temperatur air laut di permukaan ditentukan oleh adanya pemanasan
(heating) di daerah tropis dan pendinginan (cooling) di daerah lintang tinggi.
Kisaran harga temperatur di laut adalah -2 s.d. 35C. Tekanan di dalam laut akan
bertambah dengan bertambahnya kedalaman. Sebuah parsel air yang bergerak dari
satu level tekanan ke level tekanan yang lain akan mengalami penekanan
(kompresi) atau pengembangan (ekspansi). Jika parsel air mengalamai penekanan
secara adiabatis (tanpa terjadi pertukaran energi panas), maka temperaturnya akan
bertambah. Sebaliknya, jika parsel air mengalami pengembangan (juga secara
adiabatis), maka temperaturnya akan berkurang.
Perubahan temperatur yang terjadi akibat penekanan dan pengembangan
ini bukanlah nilai yang ingin kita cari, karena di dalamnya tidak terjadi perubahan
kandungan energi panas. Untuk itu, jika kita ingin membandingkan temperatur air
pada suatu level tekanan dengan level tekanan lainnya, efek penekanan dan
pengembangan adiabatik harus dihilangkan. Maka dari itu didefinisikanlah
temperatur potensial, yaitu temperatur dimana parsel air telah dipindahkan secara
adiabatis ke level tekanan yang lain. Di laut, biasanya digunakan permukaan laut
sebagai tekanan referensi untuk temperatur potensial. Jadi kita membandingkan
harga temperatur pada level tekanan yang berbeda jika parsel air telah dibawa,
tanpa percampuran dan difusi, ke permukaan laut. Karena tekanan di atas
permukaan laut adalah yang terendah (jika dibandingkan dengan tekanan di
kedalaman laut yang lebih dalam), maka temperatur potensial (yang dihitung pada
tekanan permukaan) akan selalu lebih rendah daripada temperatur sebenarnya.
Satuan untuk temperatur dan temperatur potensial adalah derajat Celcius.
Sementara itu, jika temperatur akan digunakan untuk menghitung kandungan
energi panas dan transpor energi panas, harus digunakan satuan Kelvin. 0C =
273,16K. Perubahan 1C sama dengan perubahan 1K. Seperti telah disebutkan di
atas, temperatur menunjukkan kandungan energi panas, dimana energi panas dan
temperatur dihubungkan melalui energi panas spesifik. Energi panas persatuan
volume dihitung dari harga temperatur menggunakan rumus:
Q = densitas x energi panas specific x temperatur (temperatur dalam satuan
Kelvin). Jika tekanan tidak sama dengan nol, perhitungan energi panas di lautan
harus menggunakan temperatur potensial. Satuan untuk energi panas (dalam mks)
adalah Joule. Sementara itu, perubahan energi panas dinyatakan dalam Watt
(Joule/detik). Aliran (fluks) energi panas dinyatakan dalam Watt/meter (energi
per detik per satuan luas).

Suhu permukaan laut mengatur massa udara yang berada di atmosfer.


Suhu permukaan laut juga menjadi faktor yang berpengaruh terhadap awal
pembentukan angin siklon tropis. Angin siklon tropis dapat menyebabkan alur
ombak menjadi dingin, yang kemudian memicu percampuran turbulen yang dapat
terjadi hingga 30 meter dari permukaan. Suhu permukaan laut berubah setiap
harinya, juga panas spesifiknya pun bisa berubah menjadi lebih tinggi. Di harihari yang berangin variasi suhu permukaan laut lebih rendah daripada di hari-hari
yang tenang tidak berangin. Rata-rata suhu permukaan laut dipengaruhi oleh dua
hal, yaitu arus global dan sirkulasi termohalin global.
Suhu permukaan laut merupakan parameter Oseanografi yang selalu
diukur untuk kepentingan penelitian. Ada beberapa instrumen yang digunakan
untuk mengukur suhu permukaan laut. Dengan menggunakan termometer dan
menggunakan satelit cuaca. Jika dengan termometer, salah satu metodenya adalah
dengan mencelupkan termometer ke dalam suatu wadah air yang yang secara
manual awalnya telah dimasukkan ke dalam air. Cara yang demikian merupakan
cara konvensional yang dilakukan pada tahun 1963. Kemudian, semakin
berkembang zaman, instrumen yang digunakan pun semakin maju. Pada tahun
1967 hingga 1970, orang-orang mulai menggunakan teknologi citra satelit untuk
menentukan suhu permukaan laut. Penggunaan satelit ini mulai sering digunakan
pada tahun 1982. Dengan teknologi citra satelit, kita mampu melihat suhu
permukaan laut secara global dengan beragam variasinya. Suhu in situ merupakan
suhu yang diukur oleh satelit cuaca ini. Pengukuran ini berdasarkan radiasi termal
dari lautan yang ditangkap oleh satelit, yang kemudian dua atau lebih panjang
gelombang dari radiasi ini diproses dalam sinyal infra merah yang merupakan
bagian dari spektrum elektromagnetik.
Suhu permukaan laut bervariasi di tiap tempat. Tentunya terdapat berbagai
faktor yang mempengaruhi hal ini. Variasi di daerah secara lokal itu biasa terjadi
karena adanya proses upwelling. Angin di lepas pantai menggerakkan air hangat
di permukaan yang kemudian digantikan dengan air yang lebih dingin dari
kedalaman laut yang berpindah oleh Transpor Ekman. Suhunya bisa bervariasi
hingga mencapai perubahan suhu 6oC. Variasi lain juga diakibatkan oleh adanya
angin siklon tropis. Perubahan suhu 0,2oC hingga 0,4oC bisa juga terjadi karena
pengaruh debu sahara. Faktor-faktor lain dintaranya, angin siklon ekstratropis, air
gletser yang meningkat, serta konsentrasi fitoplankton yang meningkat.
Variasi suhu permukaan laut secara regional bisa diakibatkan oleh
fenomena El-Nino dan La-Nina. Pertanda El-Nino sedang terjadi ialah ketika air
hangat menyebar dari Pasifik Barat dan Hindia menuju Pasifik Timur. Hal ini
membuat curah hujan tinggi di Pasifik Timur. Perubahan suhu yang ditimbulkan
oleh El-Nino atau La-Nina ialah 0,5oC.

INTERAKSI LAUT-ATMOSFER
Sistem interaksi antara laut dan atmosfer menyebabkan berbagai fenomena
alam yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Secara keselurahan dan dalam waktu
panjang akan membentuk iklim di suatu daerah tertentu. Fenomena alam terbebut
yaitu :
1.
El Nino , menurut sejarahnya adalah sebuah fenomena yang teramati oleh para
penduduk atau nelayan Peru dan Ekuador yang tinggal di pantai sekitar Samudera
Pasifik bagian timur menjelang hari natal (Desember). Fenomena yang teramati
adalah meningkatnya SPL(Suhu Permukaan Laut) yang biasanya dingin.
Fenomena ini mengakibatkan perairan yang tadinya subur dan kaya akan ikan
(akibat adanya upwelling atau arus naik permukaan yang membawa banyak
nutrien dari dasar) menjadi sebaliknya. . Pemberian nama El-Nino pada
fenomena ini disebabkan oleh karena kejadian ini seringkali terjadi pada bulan
DesemberPemberian nama El-Nino pada fenomena ini disebabkan oleh karena
kejadian ini seringkali terjadi pada bulan Desember. El-Nino (bahasa Spanyol)
sendiri dapat diartikan sebagai anak lelaki.
Pembentukan El-Nino dikaitkan dengan pola sirkulasi samudera pasifik yang
dikenal sebagai osilasi selatan sehingga disebut juga El Nino-Southern
Oscillation (ENSO) yang merupakan fenomena yang ditimbulkan oleh interaksi
laut-atmosfer. El-Nino merupakan fenomena global dari sistem interaksi laut dan
atmosfer yang ditandai dengan memanasnya suhu muka laut di Pasifik
Equator atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari
rata-ratanya). Pada saat yang bersamaan terjadi perubahan pola tekanan udara
yang mempunyai dampak sangat luas dengan gejala yang berbeda-beda, baik
bentuk dan intensitasnya. Fenomena El Nino secara umum akan menyebabkan
curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang, besar
pengurangannya tergantung dari lokasi dan intensitas El-Nino tersebut. Namun
demikian, karena luasnya wilayah Indonesia serta posisi geografisnya yang
dikenal sebagai benua maritim, maka tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi
oleh fenomena El-Nino.
2.

La-Nina(juga bahasa Spanyol) yang berarti anak perempuan. Fenomena ini


memiliki periode 2-7 tahun. Fenomena ini merupakan kebalikan dari El
Nino ditandai dengan anomali suhu muka laut di daerah tersebut negatif(lebih
dingin dari rata-ratanya). La Nina secara umum akan menyebabkan curah hujan di
Indonesia bertambah.

3.

IOD ( Indian Ocean Dipole) yakni interaksi kopel atmosfer-samudera Hindia


adlah beda temperatur permukaan laut antara pantai timur afrika dan pantai barat
sumatera. Fenomena dipole Ocean India dapat mempengaruhi curah hujan
dibeberapa tempat di indonesia. Index IOD didefinisikan sebagai beda anomali

temperatur permukaan laut 10 derajat LS 90 derajat sampai 110 derajat BT.


Nilai indeks > 0.35 digolongkan sebagai IOD (+) dan < -0.35 digolongkan sebagai
IOD (-).
IOD (+) artinya temperatur permukaan laut di pantai timur afrika lebih tinggi
daripada temperatur permukaan laut di pantai barat sumatera, sebaliknya untuk
IOD (-). Dengan demikian IOD (+) adalah fasa dingin laut pantai barat sumatera,
sehingga konveksi melemah, sebaliknya untuk IOD (-).
4.

Osilasi Madden-Julian (MJO) ,hasil-hasil analisis data atmosfer permukaan dan


atas pada kolam (basin) Pasifik equatorial menunjukan bahwa ada variasi
frekuensi rendah mengenai kekuatan angin atmosfer atas, temperatur pada
berbagai paras dan tekanan permukaan . periodisitas variasi ini ditemukan antara
41 dan 53hari dengan kejadian sangat sering sekitar 45 hari. Variasi ini dikenal
sebagai Osilasi Madden- Julian (MJO).
Osilasi ini memainkan peranan penting dalam menjelaskan variasi cuaca jangka
pendek pada lokasi ekuatorial yang menyebabkan fasa aktif dan berhenti monsun.

5.

Sirkulasi Walker adalah sirkulasi zonal dari timur ke barat sepanjang ekuator
yang ditandai dengan kenaikan udara di samudera pasifik bagian barat, kawasan
Indonesia dan penurunan udara di pasifik bagian timur lepas pantai Amerika
Selatan. Intensitas sirkulasi walker dikendalikan oleh radiasi temperatur
permukaan laut pada samudera pasifik bagian timur dan barat. Dengan demikian
perubahan urutan salah satu komponen sistem iklim ini akan mengakibatkan
perubahan lain.
B. EFEK KORIOLIS
I. Pengertian Gaya Coriolis
Zaman sekarang ini, masih ada orang yang menganggap bahwa bumi ini
diam. Atau lebih parah lagi: Bumi ini datar. Bagaimana membuktikan bahwa bumi
ini berputar pada porosnya. Kenyataan bahwa matahari, bulan dan benda langit
lainnya terbit dan terbenam setiap harin tampaknya tidak cukup membuktikan
bahwa bumilah yang berputar (bukan sebaliknya: matahari mengelilingi
bumi). Bukti harusnya dapat diperoleh berdasarkan hasil pengamatan. Jika benar
bumi berputar, pastilah ada efek atau fenomena alam sebagai hasil dari
pergerakannya. Karena bumi yang berputar, bukti itu harus dicari di bumi, bukan
di Matahari atau benda luar angkasa lain. Ada bukti seperti ini. salah satunya
"Efek Coriolis".

Efek Coriolis melekat pada fenomena defleksi (pembelokan arah) gerak


sebuah benda pada sebuah kerangka acuan yang berputar, khususnya di
permukaan Bumi. Pada intinya, sebuah benda yang bergerak lurus dalam
kerangka yang berputar, akan terlihat berbelok oleh pengamat yang diam di dalam
kerangka tersebut. Hukum Boys Ballot yang mengatakan "Angin cyclon di
belahan bumi utara akan berputar berlawanan arah jarum jam karena gerakan
angin (relatif terhadap permukaan bumi) di belokkan oleh efek dari rotasi bumi.
Inilah yang disebut dengan gaya Coriolis. Semakin ke arah khatulistiwa, gaya
coriolis makin mengecil. Gaya Coriolis dipengaruhi oleh posisi lintang suatu
wilayah.
Efek Coriolis melekat pada fenomena defleksi (pembelokan arah) gerak
sebuah benda pada sebuah kerangka acuan yang berputar, khususnya di
permukaan Bumi. Pada intinya, sebuah benda yang bergerak lurus dalam
kerangka yang berputar, akan terlihat berbelok oleh pengamat yang diam di dalam
kerangka tersebut. Dari penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa bumi selalu
berotasi. Dan dari rotasi tersebut selalu menimbulkan fenomena alam. Salah
satunya adalah angin yang dikenal dengan angin utama (angin timur, barat, dan
pasat). Angin-angin utama itu berhembus dalam suatu arah yang hampir tetap
pada garis-garis lintang tertentu. Angin itu timbul karena peredaran atmosfer dan
rotasi bumi.Seandainya bumi tidak berotasi, angin akan bergerak lurus ke utara
atau ke selatan. Namun rotasi bumi menimbulkan gaya rotasi yang disebut gaya
Coriolis, yaitu gaya yang membelokkan arah angin utama. Nama Coriolis sendiri
diambil dari nama seorang ilmuwan Perancis Gaspard Gustave Coriolis (1792).
Jadi pengertian dari gaya Coriolis adalah gaya semu yang timbul akibat efek dua
gerakan yaitu gerak rotasi bumi dan gerak benda relatif terhadap bumi.
II. Efek-efek Gaya Coriolis
Jika benar bumi berputar, pastilah ada efek atau fenomena alam sebagai
hasil dari pergerakannya. Karena bumi yang berputar bukti itu harus dicari di
bumi, bukan di Matahari atau benda luar angkasa lain. Sebagai buktinya ada "Efek
Coriolis". Efek Coriolis melekat pada fenomena defleksi (pembelokan arah) gerak
sebuah benda pada sebuah kerangka acuan yang berputar, khususnya di
permukaan Bumi. Diambil dari nama seorang ilmuwan prancis: Gaspard Gustave
Coriolis (1792). Pada intinya, sebuah benda yang bergerak lurus dalam kerangka
yang berputar, akan terlihat berbelok oleh pengamat yang diam di dalam kerangka
tersebut. Hukum Boys Ballot yang mengatakan "Angin cyclon di belahan bumi
utara akan berputar berlawanan arah jarum jam, namun sebaliknya berputar searah
jarum jam di belahan bumi selatan". Hal ini disebabkan oleh gerakan angin (relatif
terhadap permukaan bumi) di belokkan oleh efek dari rotasi bumi. Inilah yang
disebut dengan gaya Coriolis. Semakin ke arah khatulistiwa, gaya coriolis makin
mengecil. Gaya Coriolis dipengaruhi oleh posisi lintang suatu wilayah. Semakin

kecil letak lintang suatu wilayah, maka gaya Coriolis semakin kecil pengaruhnya
Itulah sebabnya angin cyclon hampir tidak pernah terjadi di wilayah khatulistiwa.
Jika benda melakukan gerakan di sistem K' (permukaan bumi), percepatan
Coriolis akan ikut berbicara karena adanya vektor kecepatan v'. Arah percepatan
ini sudah kita ketahui selalu tegak lurus terhadap arah kecepatan benda di sistem
K', sehingga arahnya tergantung pada arah kecepatan v'. Kita tinjau misalnya
gerak benda jatuh bebas. Pada awal geraknya arah kecepatan v' adalah vertikal ke
bawah. Jika kejadiannya itu di Surabaya yang terletak pada lintang 7 LS, arah
percepatan Coriolis yang terjadi ditunjukkan oleh gambar di bawah. Percepatan
ini akan menyebabkan lintasan benda menyimpang dari arah vertikal. Dapat
diduga bahwa simpangan yang terjadi cukup kecil, kecuali kalau laju gerak
bendanya besar sekali, sehingga arah kecepatannya setiap saat dapat didekati
dengan arah vertikal. Untuknya mudahnya gesekan udara kita abaikan dan arah
vertikal kita impitkan dengan arah radial, efek sentrifugalnya juga kita abaikan.
Efek Coriolis tampak paling jelas jika kita mengamati pola aliran arus laut
dan arah angin pasat sepanjang tahun. Pada semester Maret-September matahari
berada di belahan utara mengakibatkan atmosfir di belahan selatan
mempunyaikelebihan tekanan. Udara dari belahan selatan akan bergerak
menyeberangi khatulistiwa ke belahan utara. Gerakan massa udara ke utara ini
akan dibelokkan arahnya oleh percepatan Coriolis. Kita lihat dulu di belahan
selatan (gambar 9a), percepatan Coriolis yang diderita udara arahnya ke barat
sehingga angin akan berbelok ke barat laut. Angin ini adalah angin tenggara pada
musim kemarau di pulau Jawa. setelah menyeberangi khatulistiwa percepatan
Coriolis berbalik ke arah timur, sehingga angin berbelok ke arah timur laut.
Pada semester September-Maret yang terjadi adalah sebaliknya. Angin ke
selatan terkena percepatan Coriolis ke barat di belahan utara dan ke timur di
belahan selatan. Anda periksa sendiri arah-arahnya. Angin ini adalah angin barat
laut pada musim penghujan di pulau Jawa. Secara ringkas efek Coriolis
menyebabkan gerakan angin akan menyimpang ke kiri di belahan selatan dan
menyimpang ke kanan di belahan utara. Hal ini dapat mengakibatkan berputarnya
gerakan udara searah jarum jam di belahan utara dan berlawanan dengan arah
jarum jam di belahan selatan, angin yang berputar ini bisa disebut angin siklon.
C. POLA PERGERAKAN UDARA
Pergerakan udara pada umumnya disebabkan oleh pemanasan terhadap udara
dalam bentuk persebaran panas. Pemanasan atau persebaran panas dibagi atas
pemanasan langsung dan tidak langsung. Pemanasan langsung merupakan
absorpsi atau penyerapan panas oleh udara sedangkan pemanasan tidak langsung
terjadi pada lapisan udara paling bawah, panas yang berasal dari bumi (setelah

diterima bumi dari matahari) lalu disebarkan secara vertikal dan horizontal.
Berdasarkan pemanasan atau persebaran panas tersebut, maka pola gerakan udara
dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu konduksi, konveksi, adveksi, dan
turbulensi.
a. Konduksi, yaitu pemanasan secara kontak atau bersinggungan. Pemanasan ini
terjadi karena molekul-molekul yang dekat dengan permukaan bumi akan menjadi
panas karena bersinggungan dengan bumi yang menerima panas langsung dari
matahari. Molekul-molekul udara yang sudah panas bersinggungan dengan
molekul-molekul udara yang belum panas; lalu saling memberikan panas
sehingga menjadi sama- sama panas.
b. Koveksi, yaitu pemanasan atau penyebaran panas yang terjadi akibat adanya
gerakan udara secara vertikal, sehingga udara di atas yang belum panas menjadi
panas karena pengaruh udara di bawahnya yang sudah panas.
c. Adveksi, yaitu pemanasan atau persebaran panas yang terjadi sebagai akibat
gerakan udara panas secara horizontal atau mendatar dan menyebabkan udara di
sekitarnya juga menjadi panas.
d. Turbulensi, yaitu persebaran udara panas secara tak teratur, berputar-putar. Hal
ini akan menyebabkan udara yang sudah panas bercampur dengan udara yang
belum panas, sehingga udara yang belum panas akan ikut menjadi panas.
1. Angin
Angin adalah udara yang bergerak. Ada tiga hal penting yang menyangkut sifat
angin yaitu: kekuatan angin, arah angin, kecepatan angin.
a. Kekuatan Angin
Menurut hukum Stevenson, kekuatan angin berbanding lurus dengan gradient
barometriknya. Gradient baromatrik ialah angka yang menunjukkan perbedaan
tekanan udara dari dua isobar pada tiap jarak 15 meridian (111 km).
b. Arah Angin
Satuan yang digunakan untuk besaran arah angin biasanya adalah derajat.
1 derajat untuk angin arah dari Utara.
90 derajat untuk angin arah dari Timur.
180 derajat untuk angin arah dari Selatan.
270 derajat untuk angin arah dari Barat.
Angin menunjukkan dari mana datangnya angin dan bukan ke mana angin
itu bergerak. Menurut hukum Buys Ballot, udara bergerak dari daerah yang
bertekanan tinggi (maksimum) ke daerah bertekanan rendah (minimum), di
belahan bumi utara berbelok ke kanan sedangkan di belahan bumi selatan
berbelok ke kiri.
Arah angin dipengaruhi oleh tiga faktor:
1. Gradient barometric

2. Rotasi bumi
3. Kekuatan yang menahan (rintangan)
Makin besar gradient barometrik, makin besar pula kekuatannya. Angin
yang besar
kekuatannya makin sulit berbelok arah. Rotasi bumi, dengan bentuk bumi yang
bulat, menyebabkan pembelokan arah angin. Pembelokan angin di ekuator sama
dengan 0 (nol). Makin ke arah kutub pembelokannya makin besar. Pembelokan
angin yang mencapai 90 sehingga sejajar dengan garis isobar disebut angin
geotropik. Hal ini banyak terjadi di daerah beriklim sedang di atas samudra.
Kekuatan yang menahan dapat membelokan arah angin. Sebagai contoh, pada saat
melalui gunung, angin akan berbelok ke arah kiri, ke kanan atau ke atas.
c. Kecepatan angin
Atmosfer ikut berotasi dengan bumi. Molekul-molekul udara mempunyai
kecepatan gerak ke arah timur, sesuai dengan arah rotasi bumi. Kecepatan gerak
tersebut disebut kecepatan linier. Bentuk bumi yng bulat ini menyebabkan
kecepatan linier makin kecil jika makin dekat ke arah kutub. Alat yang digunakan
untuk mengukur kecepatan angin disebut anemometer.
2. Jenis-jenis Angin
A. Angin Siklon dan Anti Siklon
1. Angin siklon
Angin siklon adalah angin yang gerakannya berputar ke dalam, mengelilingi
daerah tekanan minimum. Tentu Anda masih ingat dengan Hukum Buys Ballot
bahwa antara lain di belahan bumi selatan angin berbias ke kiri. Gerakan angin
siklun mengikuti hukum ini, yaitu:
Di belahan bumi utara perputarannya berlawanan dengan arah perputaran jarum
jam.
Di belahan bumi selatan sesuai dengan arah putaran jarum jam. Berdasarkan
bergeraknya, siklon dibedakan atas siklon tropik, siklon ekstra tropik, dan
tornado. Siklon-siklon tersebut dapat terjadi:
a) Siklon tropik
Siklon tropik terjadi di daerah tropis, yaitu antara 10( - 20( LU dan 10( - 20( LS.
Sering terjadi di wilayah lautan daripada di daratan, misalnya di Indonesia pernah
terjadi di sekitar Pulau Timor 11(LS). Di beberapa negara badai siklon diberi
nama-nama khusus sesuai dengan bahasa negara masing-masing, dan umumnya
menggunakan nama wanita, antara lain:
o Di Samudera Atlantik dan Pasifik Timur dinamai Hurricanes artinya Dewa
Kehancuran.
o Di Samudera Atlantik Barat , masyarakat Jepang menyebutnya Typhoon.
o Di Filipina disebut Begieros (nama satu kota).

o Di Australia disebut Willy-Willies.


o Di Samudera Hindia disebut Siklon Tropik Lena (nama wanita).
o Di beberapa tempat lain diberi nama Siklon Anna, Dora, Corrie, Diana, Elly dan
sebagainya.
b) Siklon Ekstra Tropik
Siklon ekstra tropik terjadi di daerah sedang pada lintang 35- 65LU dan 3565LS, yaitu di sekitar wilayah front. Tempat bertemunya massa angin barat yang
panas dan angin timur yang dingin. Misalnya, Amerika Serikat dan Eropa.
Tekanan udara 15 mb dan kecepatannya 30 km/jam.
c) Tornado
Angin siklon tornado merupakan jenis angin yang paling cepat dan paling
merusak. Tornado sering terjadi di Amerika Serikat. Diameter angin siklon
tornado antara 100-500 km, panjang lintasannya mencapai 100 km. Kecepatannya
mencapai 700 km/jam.
2. Angin Anti Siklon
Angin anti siklon adalah angin yang gerakannya berputar ke luar, dengan tekanan
maksimum di pusatnya. Arah pergerakannya adalah sebagai berikut: Di belahan
bumi utara, putarannya searah dengan jarum jam. Di belahan bumi selatan,
putarannya berlawanan dengan arah jarum jam.
B. Angin Monsun Asia-Australia
Angin monsun di Asia dan Australia adalah sistem yang unik yang
bergerak dari Kutub Utara sampai Kutub Selatan dalam satu musim dan kemudian
membalik arah pada musim berikutnya. Sistem angin monsun tersebut tidak
bersamaan dengan pola atmosfer global yang umum dan itulah sebabnya sifatnya
unik. Penelitian ilmiah dewasa ini menunjukkan bahwa gelombang angin kutub
yang dingin mengawali siklus angin monsun dalam dua jalur yang sudah tertentu,
sebagaimana dibahas di bawah ini.
Angin monsun di bulan Juni sampai dengan bulan September. Selama
periode ini, di belahan bumi selatan adalah musim dingin dan gelombang angin
dingin bergerak di atas Australia dan di samudera sekitarnya. Terjadi sel tekanan
tinggi di atas Australia dan angin berhembus ke arah khatulistiwa. Angin ini
mengumpulkan kelembaban dan panas pada saat berhembus melewati samudera.
Di Asia musimnya adalah musim panas dan kawasan (zona) antartropis bergerak
ke sebelah utara India, melalui Cina Selatan, ke Filipina Utara. Kawasan panas
maksimum (kira-kira 40C) merentang dari bagian baratlaut sub-benua India ke
Timur Tengah. Suatu sel tekanan rendah berkembang di sebelah utara India.

Pada Garis Khatulistiwa, angin yang berada di bawah pengaruh Efek


Koriolis, berhembus ke kanan dan tertarik ke arah sel tekanan rendah dan menjadi
angin monsun barat-daya yang kuat dan yang membawa hujan deras ke selatan, ke
Asia Tenggara dan Timur pada saat angin itu bergerak ke arah utara. Di dekat
Jepang, angin tersebut berayun ke arah timur laut dan bergerak ke arah kawasan
kutub. Angin monsun bulan November sampai Februari. Saat itu musim dingin di
Asia Utara dan kawasan yang sangat dingin sekali (di bawah -40C) berkisar di
Siberia. Massa udara kutub yang dingin dan sel tekanan tinggi merentang di atas
sebagian besar Asia (sampai ke Pegunungan Himalaya dan sebagian besar Cina).
Angin barat laut bertiup dalam gelombang udara dingin dari Siberia ke arah
Jepang, di mana angin tersebut berputar dan menjadi angin monsoon timur laut,
yang berhembus ke arah khatulistiwa. Efek Koriolis menangkis angin yang
bergerak dari barat laut ke arah Australia. Angin monsoon ini diterima di Asia
bagian timur dan selatan serta di Australia Utara.
Di Australia terjadi musim panas, yang dalam suatu kawasan panas
maksimum (di atas 40C) berkembang bersama-sama dengan sel tekanan rendah
yang berkisar di Gurun Australia. Angin monsun berhembus ke arah sel tersebut
dan membawa hujan, kadang-kadang termasuk angin topan tropis, ke arah
Australia bagian utara. Angin monsun yang kuat juga mempengaruhi arus
samudera. Jadi, angin baratdaya menyebabkan arus yang kuat di Lautan Arab dan
Teluk Benggali, yang mengakibatkan arus samudera bergerak searah jarum jam
selama bulan Juni sampai dengan bulan September sedangkan angin timur laut
menyebabkan gerak berlawanan dengan arah jarum jam di samudera ini selama
bulan November sampai Pebruari. Arus yang mengalir antara Korea dan Jepang
mengalir ke arah utara selama angin monsun panas dan berbalik arah pada musim
dingin.
C. Angin Pasat dan Angin Anti Pasat
1. Angin pasat
Angin passat adalah angin bertiup tetap sepanjang tahun dari daerah
subtropik menuju ke daerah ekuator (khatulistiwa). Temperatur di daerah
tropis selalu tinggi, maka massa udara tersebut dipaksa naik secara vertikal
(konveksi). Daerah pertemuan kedua angin passat tersebut dinamakan Daerah
Konvergensi Antar Tropik (DKAT). DKAT ditandai dengan temperatur yang
selalu tinggi. Akibat kenaikan massa udara ini, wilayah DKAT terbebas dari
adanya angin topan. Akibatnya daerah ini dinamakan daerah doldrum (wilayah
tenang).

2. Angin Anti Pasat


Udara di atas daerah ekuator yang mengalir ke daerah kutub dan turun di
daerah maksimum subtropik merupakan angin Anti Passat. Di belahan bumi
Utara disebut Angin Anti Passat Barat Daya dan di belahan bumi Selatan
disebut Angin Anti Passat Barat Laut. Pada daerah sekitar lintang 20o - 30o
LU dan LS, angin anti passat kembali turun secara vertikal sebagai angin yang
kering. Angin kering ini menyerap uap air di udara dan permukaan daratan.
Akibatnya, terbentuk gurun di muka bumi, misalnya gurun di Saudi Arabia,
Gurun Sahara (Afrika), dan gurun di Australia. Di daerah Subtropik (30o
40o LU/LS) terdapat daerah teduh subtropik yang udaranya tenang, turun
dari atas, dan tidak ada angin. Sedangkan di daerah ekuator antara 10o LU 10o
LS terdapat juga daerah tenang yang disebut daerah teduh ekuator atau
daerah doldrum
D. Angin Lokal
Selain angin muson barat dan timur juga terdapat angin lokal. Angin ini
bertiup setiap
hari, seperti angin darat, angin laut, angin lembah dan angin gunung.
1). Angin Darat dan Angin Laut
Angin ini terjadi di daerah pantai yang diakibatkan adanya perbedaan sifat
daratan dan lautan. Pada malam hari daratan lebih dingin daripada lautan
sehingga di daratan merupakan daerah maksimum yang menyebabkan
terjadinya angin darat. Sebaliknya, pada siang hari terjadi angin laut.
Perhatikan gambar 20. Kedua angin ini banyak dimanfaatkan oleh para
nelayan tradisional untuk menangkap ikan di laut. Pada malam hari saat
bertiupnya angin darat, para nelayan pergi menangkap ikan di laut. Sebaliknya
pada siang hari saat bertiupnya angin laut, para nelayan pulang dari
penangkapannya.
2). Angin Lembah dan Angin Gunung
Pada siang hari puncak gunung lebih cepat menerima panas daripada lembah
yang dalam keadaan tertutup. Puncak gunung tekanan udaranya minimum dan
lembah tekanan udaranya maksimum. Karena keadaan ini maka udara
bergerak dari lembah menyusur lereng menuju ke puncak gunung. Angin dari
lembah ini disebut angin lembah. Pada malam hari puncak gunung lebih cepat
mengeluarkan panas daripada lembah. Akibatnya di puncak gunung
bertekanan lebih tinggi (maksimum) dibandingkan dengan di lembah
(minimum) sehingga angin bertiup dari puncak gunung menuruni lereng
menuju ke lembah. Angin dari puncak gunung ini disebut angin gunung.
3) Angin Jatuh yang sifatnya kering dan panas
Angin jatuh atau Fohn ialah angin jatuh bersifatnya kering dan panas terdapat
di lereng pegunungan Alpine. Sejenis angin ini banyak terdapat di Indonesia

dengan nama angin Bahorok (Deli), angin Kumbang (Cirebon), angin


Gending di Pasuruan (Jawa Timur), dan Angin Brubu di Sulawesi Selatan).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengaruh pemanasan matahari langsung berdampak pada komponen
komponen fisik bumi sebagai penggerak iklim di bumi. Tidak dapat dipungkiri
lagi jika sistem energi di bumi merupakan akibat adanya interaksi antar komponen
tersebut. Adanya unteraksi tersebut saling mempengaruhi antara sirkulasi udara di
atmosfer dengan lautan, efek koriolis dan pergerakan udara. Interaksi antara laut
dan atmosfer sangat berkaiatan, dapat dilihat dari siklus hidrologi yang
merupakan siklus air di planet bumi. Pergerakan udara pada umumnya disebabkan
oleh pemanasan terhadap udara dalam bentuk persebaran panas.
B. Saran
Makalah ini berisi tentang sirkulasi udara di atmosfer, pengaruh sirkulasi udara

di atmosfer terhadap laut, sirkulasi udara di atmosfer terhadap efek koriolis, dan
sirkulasi udara di atmosfer terhadap pola pergerakan udara . Kami menyadari dalam
penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran
dari semua pihak yang bersifat membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan
makalah ini.

DAFTAR RUJUKAN

Anonim. 2010. (Online),


http://one-geo.blogspot.com/2010/01/sirkulasi-udara-di-atmosfer.html,
diakses 31 agustus 2013. 21.29.
Sylve. 2011. (Online),
http://sylvesterunila.blogspot.com/2011/05/sirkulasi-udara.html. diakses 31
agustus 2013. 21.30.
Anonim. 2013. (Online),
http://geograph88.blogspot.com/2013/04/apa-itu-sirkulasi-atmosfer.html.
diakses 31 agustus 2013. 21.37.
Upi.pdf. (Online),
http://file.upi.edu/Direktori/DUALMODES/KONSEP_DASAR_BUMI_ANTARIKSA_UNTUK_SD/BBM_2.
pdf. Diakses 29 September 19:00.
Wayan. 2012. (Online),
http://wayanwisnuyoga.files.wordpress.com/2012/07/microsoft-powerpointpengelolaan-lingkungan_blok_sudib.pdf . Diakses 29 September. 19:04.
Unair. (Online),
http://fpk.unair.ac.id/webo/kuliah-pdf/PEMBENTUKAN%20AWAN
%202%20%5BCompatibility%20Mode%5D.pdf. Diakses 29 September.
19:12.
BMKG.pdf. 2010. (Online),
http://www.bmkg.go.id/Puslitbang/filePDF/Dokumen_169_Volume_11_No
mor_2_November_2010_Pengelompokkan_Pola_Curah_Hujan_yang_Terja
di_di_Beberapa_Kawasan_P_Sumatera_Berbasis_Hasil_Analisis_Teknik_S
pektral.pdf. Diakses 29 September. 19:17.
Upi.pdf. (Online),
http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN_IPA/BAYONG_TJ
ASYONO/Pengaruh_Interaksi_Kopel_Atmosfer.pdf. Diakses 29 September.
19:41.
Unair.pdf. (Online),

http://fpk.unair.ac.id/webo/kuliah-pdf/Lautan%20dan%20Iklim
%20%5BCompatibility%20Mode%5D.pdf. Diakses 29 September. 19:32.
Int. (Online),
http://unfccc.int/files/meetings/cop_13/press/application/pdf/sekilas_tentang
_perubahan_iklim.pdf. Diakses 29 September. 19:39.