Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Analisis untuk dapat memprediksi beban eksternal yang dibutuhkan serta

distribusi regangan dan tegangannya, menentukan atau memilih kapasitas


mesin, perkakas, dan peralatan yang paling sesuai. Metode-metode analisis yang
telah dikembangkan, pada dasarnya ditujukan untuk membantu pekerjaan
insinyur di dalam mendisain proses pembentukan logam,terutama di dalam
menentukan hubungan kinematik dan batas-batas pembentukan,memprediksi
gaya-gaya eksternal atau tegangan internal.
Oleh

karena itu, dalam makalah ini akan membahas konsep-konsep

tegangan dasar. Tegangan merupakan salah satu materi yang sangat diperlukan
dalam dunia keteknikan.

1.2

Tujuan

Memahami konsep tentang tegangan geser dan tegangan normal

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Pengertian
Dalam mekanika bahan, pengertian tegangan tidak sama dengan vektor

tegangan. Tegangan merupakan tensor derajat dua, sedangkan vektor, vektor


apapun,

merupakan tensor derajat satu.

Besaran skalar merupakan tensor

derajat nol. Tensor ialah besaran fisik yang keadaannya pada suatu titik dalam
ruang, tiga dimensi, dapat dideskripsikan dengan 3n komponennya, dengan n
ialah derajat tensor tersebut. Dengan demikian, untuk persoalan tegangan tiga
dimensi pada suatu titik dalam ruang dapat dideskripsikan dengan 32
komponennya. Pada sistem koordinat sumbu silang, tegangan tersebut adalah
xx , yy , zz , txy , tyx , txz , tzx , tyz , dan tzy seperti ditunjukkan pada Gambar
1.1(a). Namun demikian, karena txy = tyx , txz = tzx dan tyz = tzy , maka
keadaan tegangan tersebut dapat dinyatakan dengan enam komponennya, xx ,
yy , zz , txy , txz , tyz. Sedangkan untuk tegangan bidang, dua dimensi, pada
suatu titik dapat dideskripsikan dengan 22 komponennya, Gambar 1.1(b), dan
karena tij = tji

untuk

maka tiga komponen telah dapat mendeskripsikan

tegangan bidang pada titik itu.

Gambar 2.1 Keadaan tegangan pada satu titik

Pada dasarnya, tegangan secara garis besar dapat diklasifikasikan


menjadi dua, yakni tegangan normal, dengan notasi sij , i = j, serta tegangan
geser dengan notasi tij , . Perhatikan penulisan pada paragrap di atas. Karakter
indek yang pertama menyatakan bidang tempat bekerjanya gaya, sedangkan
karekter indek yang kedua menyatakan arah bekerjanya vektor tegangan
tersebut. Tegangan normal ialah tegangan yang bekerja tegak lurus terhadap
bidang pembebanan. Sedangkan tegangan geser ialah tegangan yang bekerja
sejajar

dengan

bidang

pembebanan.

Jadi

keenam

tegangan

yang

mendeskripsikan tegangan pada suatu titik terdiri atas tiga tegangan normal, xx
, yy , dan zz , serta tiga tegangan geser, txy , tyz , dan tzx. Nilai tegangan
bisa positif dan bisa pula negatif.

Tegangan bernilai positif bila tegangan

tersebut bekerja pada bidang positif dengan arah positif, atau bekerja pada
bidang negatif dengan arah negatif. Selain itu, nilainya negatif.

Besar tegangan rata-rata pada suatu bidang dapat didefinisikan sebagai


intensitas gaya yang bekerja pada bidang tersebut. Sehingga secara matematis
tegangan normal rata-rata dapat dinyatakan sebagai

F
ij = n
A

i=j

ij

= tegangan normal rata-rata (N/mm2 = MPa)

Fn

= gaya normal yang bekerja (N)

= luas bidang (mm2)

i, j

= sumbu koordinat pada sistem sumbu silang, x, y, z

2.1

Tegangan Normal
Konsep paling dasar dalam mekanika bahan adalah tegangan dan

regangan. Konsep ini dapat diilustrasikan dalam bentuk yang paling mendasar
dengan meninjau sebuah batang prismatis yang mengalami gaya aksial. Batang
prismatis adalah sebuah elemen struktur lurus yang mempunyai penampang
konstan di seluruh panjangnya, dan gaya aksial adalah beban yang mempunyai
arah yang sama dengan sumbu elemen, sehingga mengakibatkan terjadinya tarik
atau tekan pada batang. Kondisi tarik atau tekan terjadi pada struktur, misalnya
pada elemen di rangka batang di jembatan, dan kondisi tekan terjadi pada
strukur, yaitu pada elemen kolom di gedung. Pembebanan batang secara aksial
dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Pembebanan batang secara aksial

Sebagaimana terlihat pada Gambar 2.2, suatu batang dengan luas


penampang konstan, dibebani melalui kedua ujungnya dengan sepasang gaya
linier dengan arah saling berlawanan yang berimpit pada sumbu longitudinal
batang dan bekerja melalui pusat penampang melintang masing-masing.
Untuk keseimbangan statis besarnya gaya-gaya harus sama. Gaya-gaya
diarahkan menjauhi batang, maka batang disebut ditarik, sedangkan gaya-gaya
diarahkan pada batang, maka batang disebut ditekan. Aksi pasangan gaya-gaya
tarik

atau

tekan,

hambatan

internal

terbentuk

di

dalam

bahan

dan

karakteristiknya dapat dilihat pada potongan melintang di sepanjang batang.


Intensitas gaya (gaya per satuan luas) disebut tegangan dan diberi notasi
(sigma). Jadi gaya aksial P yang bekerja pada penampang adalah resultan dari
teganagan yang terdistribusi kontinu.
Dengan mengasumsikan bahwa tegangan terbagi rata di seluruh
potongan penampang, kita dapat melihat bahwa resultannya harus sama dengan
intensitas dikalikan dengan luas penampang A dari batang tersebut. Dengan
demikian, besarnya tegangan dapat dinyatakan dengan rumus:

............ (2.1)
Jadi dapat didefinisikan bahwa tegangan normal adalah intensitas gaya normal
per unit luasan, yang dinyatakan dalam satuan N/m2 disebut juga pascal (Pa))
atau N/mm2 disebut juga megapascal (MPa).
Apabila gaya-gaya dikenakan pada ujung-ujung batang dalam arah
menjahui dari batang, sehingga batang dalam kondisi tertarik, maka terjadi suatu
tegangan tarik pada batang, selanjutnya dapat dinyatakan dengan rumus:

.............. (2.1a)
Jika batang -gaya dikenakan pada ujung-ujung batang dalam arah
menuju ke batang, sehingga batang dalam kondisi tertekan, maka terjadi
tegangan tekan, batang, selanjutnya dapat dinyatakan dengan rumus:

.................. (2.1b)

2.2

Tegangan Geser
Tegangan geser bekerja di sepanjang atau sejajar bidang. Tegangan

geser merupakan tegangan yang bekerja dalam arah tangensial terhadap


permukaan bahan, dan dapat dilihat pada Gambar 2.3.
dinotasikan dengan

Tegangan geser

t (tou), yaitu gaya gesek dibagi luasan, dengan satuan

N/m2 atau N/mm2, dan dinyatakan dengan persamaan:

.................... (2.2)

Gambar 2.3 Tegangan geser pada bidang

Gambar 2.4 Sambungan dengan baut


Aksi tegangan geser, misalnya terjadi pada sambungan dengan baut
dengan menggunakan plat pengapit, dimana akibat aksi beban yang bekerja
pada batang dan plat pengapit akan cendrung menggeser baut, dan
kecendrungan ini ditahan oleh tegangan geser pada baut, bentuk sambungan
dengan baut dapat dilihat pada Gambar 2.4. Diagram benda menunjukkan
bahwa ada kecendrungan untuk menggeser baut, terlihat juga bahwa gaya geser

V bekerja pada permukaan potongan dari baut. Pada gambar di atas ada dua
bidang geser (mn dan pq), sehingga baut dikatakan mengalami geser ganda
(dua irisan). Dalam geser ganda, masing-masing gaya geser sama dengan
setengah dari beban total yang disalurkan oleh baut, artinya Fs = V = P/2.
Gambaran lebih lengkap tentang aksi tegangan geser, dapat dilihat pada
elemen dari suatu bahan berbentuk persegi panjang, sebagaimana diperlihatkan
pada Gambar 2.5. Muka depan dan belakang dari elemen tidak bertegangan,
asumsikan bahwa tegangan geser t terbagi rata di seluruh muka atas.

Agar

elemen berada dalam keseimbangan dalam arah x, maka gaya geser total di
muka atas harus diimbangi oleh gaya geser yang sama besar tetapi berlawanan
arah di muka bawah.

Oleh karena luas muka atas dan bawah sama, maka

tegangan geser di kdua muka tersebut sama.

Gambar 2.5 Elemen persegi panjang mengalami tegangan geser

BAB III
KESIMPULAN

Tegangan dapat didefinisikan sebagai besarnya gaya-gaya yang bekerja


pada tiap satuan luas tampang benda yang dikenai suatu besaran gaya tertentu.
Tegangan dan regangan hubungannya selalu dipermasalahkan, dihitung dan
ditentukan. tegangan normal adalah intensitas gaya normal per unit luasan, yang
dinyatakan dalam satuan N/m2 disebut juga pascal (Pa)) atau N/mm2 disebut
juga megapascal (MPa). Tegangan geser merupakan tegangan yang bekerja
dalam arah tangensial terhadap permukaan bahan.

Daftar Pustaka

Neuber H. Theory of stress concentration for shear strained prismatic bodies with
arbitrary stressstrain law. J Appl Mech 1961; 28: 544550.
http://ascelibrary.org/doi/abs/10.1061/(ASCE)0733-9445(1988)114%3A8(1804)
Ayhan ince and Grzegorz Glinka. The Journal of Strain Analysis for Engineering
design. originally published online 5 April 2013The Journal of Strain Analysis for
Engineering Design