Anda di halaman 1dari 3

Kegalauan SIP dan STR

Mataram, 11 Mei 2012


Proses pendidikan mahasiswa kedokteran sampai menjadi seorang dokter dibilang cukup
lama. Apalagi ketika menjelang pengurusan surat izin praktik. Keribetan dimulai dengan proses
UKDI, mengurus Surat Tanda Registrasi, dan tentunya Surat Izin Praktek (SIP) sendiri. Hal ini
terjadi pada seruluh alumni/dokter di Indonesia, tidak terkecuali alumni/dokter lulusan Fakultas
Kedokteran di Mataram. Namun anehnya proses ini tidak dijalankan secara benar. Contohnya,
salah satu lulusan dokter Fakultas Kedokteran di Mataram sudah melakukan praktik kedokteran
sebagai dokter pengganti pada sebuah klinik, padahal hanya baru memiliki STR tetapi belum
memiliki SIP. Meskipun ada tanggung jawab yang akan dilakukan oleh pihak dokter pemilik
klinik apabila dokter tersebut melakukan kesalahan, ini tentunya melanggar UU Praktik
Kedokteran Pasal 36 yang menyatakan setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik
kedokteran di Indonesia wajib memiliki surat izin praktik. Namun yang menjadi kebingungan
kami mengapa hal ini bisa terjadi, apakah ini bertentangan dengan UU karena Pasal 29 UU No.
29 Tahun 2004 yang berbunyi (1) Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik
kedokteran di Indonesia wajib memiliki surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi
dokter gigi. Apakah surat tanda registrasi dan jaminan dari pihak klinik sudah cukup untuk
melakukan praktik kedokteran ataukah masih diperlukan SIP??? Mengapa pasal tersebut saling
bertumpang tindih????
Inilah potret kegalauan kami sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas
Mataram, proses izin praktik kedokteran dalam UU No. 29 Tahun 2004 sendiri bertumpang
tindih dalam mengatur izin praktek dan proses pelaksanaan UU No. 29 Tahun 2004 masih
diperlu dipertanyakan.....