Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

APLIKASI DISTRIBUSI STATISTIKA FERMI-DIRAC


DALAM KEHANCURAN BINTANG KATAI PUTIH

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Fisika Statistika
Dosen Pengampu : Dr. Lilik Hasanah M.Si

Disusun oleh:
Zaenal Arifin
1103641

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2014

1. DISTRIBUSI STATISTIKA FERMI-DIRAC


Distribusi fermi-Dirac ini adalah distribusi yang mematuhi asas larangan pauli
seperti partikel-partikel berspin pecahan setengah (1/2, 3/2, ....) contohnya elektron atau
nukleon, yang disebut dengan fermion, dan fungsi distribusi yang berlaku bagi sistem
fermion ini adalah distribusi Fermi-Dirac:
( )
[Pers. 1.1]
untuk distribusi Fermi-Dirac, A sangat bergantung pada T, dan
ketergantungannya ini biasanya menghampiri bentuk eksponensial sehingga dapat ditulis
sebagai berikut:

[Pers. 1.2]
dengan demikian, fungsi distribusi Fermi-Dirac menjadi
( )

[Pers. 1.3]
EF disebut sebagai energi fermi. (Walaupun energi fermi sendiri bergantung pada
suhu, ketergantungannya cukup lemah sehingga EF dapat kita perlakukan sebagai sebuah
tetapan).
Marilah kita lihat secara kualitatif perbedaan antara
pada suhu rendah.
Untuk distribusi Bose-Einstein, pada limit T rendah, dengan menganggap sementara A
= 1, faktor eksponensial menjadi besar untuk E yang besar; karena itu,
untuk
keadaan dengan energi yang besar. Satu-satunya tingkat energi yang memiliki peluang
besar untuk ditempati adalah keadaan yang memiliki
karena faktor eksponensial
menghampiri 1, sehingga penyebut f menjadi sangat kecil, dan dengan demikian
. Jadi, bila T kecil, semua partikel dalam sistem berebut menempati keadaan
energi yang terendah. Efek ini dikenal sebagai pengembunan (condensation). Kelak akan
kita lihat bagaimana efek ini memberikan akibat-akibat tidak terduga yang cukup
menarik perhatian.
Efek pengembunan ini tidak mungkin terjadi pada sistem fermion, seperti sistem
elektron, karena sebagaimana telah kita ketahui, elektron-elektron dalam sebuah atom,
misalnya tidak semuanya menempati keadaan energi terendah, berapapun rendahnya
suhu. Marilah kita lihat bagaimana distribusi Fermi-Dirac mencegah terjadinya hal ini.
)
Faktor eksponensial dalam penyebut
adalah (
. Untuk
ceritanya sangat
(
)
berbeda, karena E EF negatif, sehingga untuk T yang kecil, faktor
mendekati

nol, dan
Dengan demikian, probabilitas populasi hanyalah satu fermion per
satu keadaan kuantum, sesuai dengan yang disyaratkan oleh asas Pauli. Jadi, pada
suhu yang rendah sekalipun, sistem fermion tidak mengembun ke tingkat energi yang
terendah. Pada

[Gambar 1.1: Pengisian berbagai energi elektron menurut distribusi Fermi-Dirac pada T=0]

Misalkan suatu assembly tertutup dan mengandung sejumlah N fermion yang tak
saling berinteraksi, dengan energi total E. Seperti pada pembahasan statistik sebelumnya,
konfigurasi assembly dapat dinyatakan dalam bentuk distribusi sistem pada sejumlah
pita energi. Tiap pita mengandung sejumlah g keadaan dengan energi yang berada dalam
interval
Konfigurasi assembly ditandai oleh nilai yang menyatakan jumlah
sistem yang dapat ditempatkan pada berbagai nilai s. Karena assemblynya tertutup, maka
jumlah total sistem dan energi total haruslah memenuhi syarat

Seperti halnya dengan boson, pertukaran dua fermion tidak akan menghasilkan
susunan yang baru karena partikelnya identik (tak dapat dibedakan). Selanjutnya jika
terdapat
cara menyusun
sistem diantara pita energi s yang memiliki
keadaan, maka
jumlah totall konfigurasinya adalah

Yang tentu saja W tak lain adalah bobot konfigurasi


Oleh karena fermion memenuhi larangan Pauli, maka jumlah yang dapat ditempatkan
pada suatu keadaan hanya dapat bernilai 0 atau 1. Jika sejumlah
sistem telah ditempatkan

dalam
keadaan, maka terdapat (
banyaknya cara untuk mengisinya adalah

) dari g keadaan yang masih kosong. Maka

Untuk menggambarkan proses pengisian ini, gambar berikut memperlihatkan 3


sistem (digambarkan dengan titik) pada 5 keadaan (digambarkan dengan kotak). Hasil
menunjukkan bahwa terdapat 10 cara, nilai ini sesuai jika kita menggunakan rumus 5.3
Bobot konfigurasi secara keseluruhan diperoleh dengan mengalikan masing-masing jumlah
susunan yang mungkin, yakni

Oleh karena
Stirling

dan

cukup besar, maka kita dapat menggunakan pendekatan

Mengikuti metode sebelumnya, syarat yang harus dipenuhi adalah


(

Nilai yang ada dalam tanda kurung haruslah bernilai nol untuk setiap harga s
manapun

Dari persamaan 1.5


(
(

Nilai n yang bersesuaian dengan konfigurasi yang memiliki peluang terbesar

Persamaan di atas disebut distribusi Fermi-Dirac untuk assembly fermion.


Bentuk

secara

umum

dikenal

dengan

nama

fungsi Fermi dan

umumnya ditulis dalam bentuk


( )

Persamaan di atas diperoleh dengan melakukan substitusi

dan

dalam persamaan di atas disebut energi Fermi. Jika rapat keadaan dengan energi berada
di antara
, maka jumlah sistem yang berada dalam interval energi tersebut
adalah
( )

( ) ( )

1.2 Konfigurasi Fermion


Salah satu sifat yang dimiliki fermion adalah terpenuhinya prinsip ekslusi Pauli.
Tidak boleh lebih dari satu fermion memiliki keadaan kuantum yang sama. Satu
keadaan hanya boleh kosong atau hanya ditempati oleh satu fermion. Konsekuensi dari
prinsip eksklusi Pauli adalah jumlah fermion harus lebih sedikit atau sama dengan
jumlah keadaan. Ini berbeda dengan sistem klasik atau boson di mana tidak ada
pembatasan jumlah partikel yang menempati keadaan tertentu. Berapa pun jumlah
keadaan yang tersedia, maka keadaan tersebut dapat menampung partikel klasik maupun
boson yang jumlahnya berapa pun. Untuk menurunkan fungsi distribusi Fermi-Dirac kita
pun akan memulai dengan membagi keadaan-keadaan atas kelompok-kelopok sebagai
berikut :
Kelompok-1 memiliki jumlah keadaan

dan eneri rata-rata

Kelompok-2 memiliki jumlah keadaan

dan energi rata-rata

Kelompok-s memiliki jumlah keadaan


-

dan energi rata-rata

Kelompok-M memiliki jumlah keadaan

dan energi rata-rata

Kita akan menentukan berapa cara penyusunan yang dapat dilakukan jika :
Terdapat

sistem di kelompok-1

Terdapat

sistem di kelompok-2

Terdapat

sistem dikelompok-s

Terdapat

sistem di kelompok-M

Jika ditinjau kelompok-1 di mana terdapat

keadaan dan

sistem. Mari kita

analogikan satu keadaan sebagai sebuah kursi dan satu sistem dianalogikan sebagai
sebuah benda yang akan diletakkan dikursi tersebut. Satu kursi dapat saja kosong atau
menampung benda dalam jumlah beberapa saja. Untuk menghitung jumlah penyusun
benda, dapat dilakukannya sebagai berikut :

Gambar 2. Contoh penyusunan fermion


analog dengan penyusunan kursi. Sebagian kursi ditempeli
benda (keadaan yang diisi fermion) dan sebagian kursi kosong (keadaan yang tidak
ditempati fermion).

Untuk menentukan jumlah cara menempatkan benda pada kursi-kursi tersebut,


kita

tempelkan

benda

ditempelkan satu

benda.

pada

kursi-kursi

tesebut.

Pada

Penempelan ini menjamin bahwa

satu

kursi

hanya boleh

tidak boleh lebih dari satu

benda berada pada satu lursi. Akibatnya kita dapatkan :


Ada

buah kursi yang ditempeli benda

Ada

buah kursi yang kosong.

Kemudian kita melakukan permutasi semua kursi yang ada baik yang kosong
maupun yang ditempeli benda, karena benda sudah menempel pada kursi maka permutasi
tidak memungkinkan munculnya satu kursi yang menampung lebih dari satu benda.
Jumlah kursi yang dipermutasi adalah
sebanyak

kursi sehingga menghasilkan jumlah permutasi


) buah kursi kosong tidak terbedakan dan Ada

cara. tetapi, karena (

buah kursi yang ditempeli benda juga tidak dapat dibedakan maka jumlah permutasi
buah kursi harus dibagi dengan permutasi buah kursi kosong, tidak terbedakan dan buah
kursi yang ditempeli benda untuk mendapatkan penyusunan yang berbeda. Jadi, jumlah
penyusunan yang berbeda hanyalah

( )

Hal yang sama berlaku untuk kelompok-2 yang mengandung


populasi

keadaan dengan

sistem. Jumlah cara penyusunan yang berada sistem-sistem, ke dalam keadaan-

keadaan tersebut adalah


(

( )

Terakhir hingga kelompok energi ke-M, jumlah cara penyusunan yang berbeda untuk
sistem dalam
(

keadaan adalah
)

( )

Akhirnya jumlah total cara penyusunan yang berbeda secara bersamaan


keadaan,

sistem di dalam

.,

sistem dalam

keadaan adalah

sistem di dalam

)
( )

Harus juga diperhitungkan jumlah cara membawa N sistem dari luar untuk
didistribusikan ke dalam tingkat-tingkat energi di atas. Jumlah cara pengambilan N sistem
adalah N! cara. Karena sistem tidak dapat dibedakan maka jumlah tersebut harus dibagi
dengan N!, sehingga jumlah total cara membawa N sistem ke dalam tingkat-tingkat energi di
dalam assembli adalah N!/N!=1. Akhirnya, kita dapatkan jumlah penyusunan sistem-sistem
dalam assembli boson adalah

( )

2. KATAI PUTIH
Hasil akhir dari sebuah evolusi bintang adalah bergantung dari pada konfigurasi masa
awalnya. Data dari hasil observasi maupun perhitungan secara teoritis mengindikasikan
bahwa bintang dengan masa
setelah melepaskan sebagian masanya dalam bentuk
nebula-nebula planet melahirkan sebuah katai putih, dengan massa, jari-jari dan kerapatan
yang khas
dan
. Katai putih sebagian besar
tersusun atas helium, karbon dan oksigen, karena massa nenek moyangnya yang sedemikian
rupa sehingga suhunya tidak pernah cukup untuk dapat membakar karbon secara lebih jauh,
dan kalaupun pembakaran tersebut dapat terjadi, pada prinsipnya, hal tersebut akan
membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan usia alam semesta kita. Seperti
yang akan kita tunjukan selanjutnya, bahwa katai putih dengan massa melebihi nilai kritis
tidak akan pernah ada.
Bintang neutron atau lubang hitam dianggap sebagai sisa dari keruntuhan gravitasi,
setelah terjadinya ledakan supernova, dari sebuah bintang yang massanya lebih besar dari
, akan tetapi mekanismenya sampai dengan sekarang ini masihlah belum jelas. Simulasi
numerik menunjukan bahwa apabila masa dari nenek moyang bintang lebih kecil dari
, bintang neutron lah yang akan terbentuk, namun apabila masanya lebih besar
maka akan menghasilkan lubang hitam. Seperti pada katai putih, kehadiran masa kritis juga
terjadi pada bintang neutron. Batas atas mutlak berada pada kisaran
; nilai dari
masa kritis bergantung daripada persamaan keadaan yang dipilih dalam menggambarkan
materi dalam kerapatan supernuklir. Seperti yang berlaku pada inti sebuah bintang neutron.
Bintang-bintang neutron telah diamati dalam sebuah sistem biner atau sebagai objek yang
terisolasi. Parameter khususnya sekitar
dan
.
Lubang hitam dapat memiliki perbedaan masa yang sangat berbeda, berkisar dari
beberapa masa matahari sampai ke lubang hitam yang sangat masif, dengan masa
, yang mana terdapat dipusat beberapa galaksi.
2.1 Penemuan Bintang Katai Putih
Katai putih yang pertama, yaitu Sirius B, diamati pertama kali pada tahun 1915 oleh
Adams. Beliau menemukan bahwa terdapat sebuah spektrum dari objek bintang mengorbit di
seputaran Sirius, dinamakan Sirius B karena merupakan bintang putih, tidak terlalu berbeda
dengan spektrum dari Sirius. Massa dari sebuah bintang yang baru ditemukan dapat
ditentukan dengan menggunakan hukum ketiga Kepler.

dan diperkirakan massa Sirius B ini berada disekitaran


. Dengan mengetahui
jarak dari sistem tersebut terhadap bumi, dan dari pengamatan fluks radiasinya dimungkinkan
untuk memperkirakan suhu efektifnya, yang dalam hal ini diperkirakan berkisar
.
Semenjak ditemukannya radiasi benda hitam
, dari perhitungan spektral ini

dimungkinkan untuk memperkirakan jari-jari bintang tersebut, yang mana cukup


mengejutkan, yaitu sekitar
, jauh lebih kecil dibandingkan dengan
matahari! Nilai yang sesungguhnya dari massa dan jari-jarinya adalah
dan
(i.e
)
Pada waktu itu hasil ini sangat mengejutkan karena bintang tersebut memiliki massa
yang sebanding dengan matahari namun memiliki jari-jari 40 kali lebih kecil dari matahari.
Sebagai tambahan, meskipun pergeseran merah gravitasi yang diprediksi oleh teori relatifitas
Einstein telah di ukur pada sebuah ekspedisi Eddington yang sangat terkenal pada tahun
1919, pergeseran merah dari garis-garis spektral Sirius B ini diukur oleh Adams sendiri pada
tahun 1925 dengan verifikasi yang lebih baik pada teori tersebut, dan faktanya didalam
bukunya The internal constitution of stars Sir Arthur Eddington menulis Profesor Adams
telah membunuh 2 ekor burung dengan 1 buah batu: dia telah melakukan tes baru terhadap
teori relativitas umum Einstein, dan dia telah mengkonfirmasi kecurigaan kita bahwa materi
yang 2000 kali lipat lebih rapat dari platinum ialah tidak mungkin, namun kenyataanya
adalah ada di alam semesta kita.
Penemuan dari sebuah bintang dengan kerapatan yang seperti demikian memberikan
sebuah pertanyaan: bagaimana katai putih ini, mendukung materi tersebut untuk tidak
mengalami kehancuran? Memang, apabila materi yang menyusun bintang tersebut adalah gas
yang sempurna pada temperatur tersebut tetaplah terlalu rendah untuk mencegah terjadinya
kehancuran, yaitu karena gradien tekanan yang sesuai tidak akan cukup untuk
menyeimbangkan gaya tarik gravitasi. Mengenai masalah ini Eddington kemudian menulis:
Ini terlihat seperti kekeliruan yang lumrah terjadi pada hukum gas karena untuk
ukuran yang terbatas pada molekul akan terjadi pada kepadatan yang tinggi, dan saya tidak
mengira katai putih ini berprilaku seperti sebuah gas ideal.
Kemudian apa yang membuat katai putih ini terjaga dalam keseimbangannya?
Jawaban untuk pertanyaan ini datang beberapa tahun setelahnya, ketika Dirac
memformulasikan Statistik Fermi-Dirac (August 1926), R.H Fowler mengidentifikasi bahwa
tekanannya lah yang memegang peranan bagi katai putih ini untuk terhindar dari kehancuran
yaitu dengan tekanan degenerasi elektron (Desember 1926). Hal ini telah menjadi langkah
yang krusial bagi formulasi yang konsisten terhadap teori dari bintang tersebut yang
kemudian menuntun S. Chandrasekar untuk memprediksikan keberadaan dari masa kritis
diatas yang mana katai putih yang tidak stabil tersebut dapat hidup.
Dalam rangka untuk memformulasikan teori tersebut, marilah secara singkat kita
memanggil beberapa persamaan dari degenerasi gas.
2.1.1 Degenerasi Gas didalam Mekanika Kuantum
Gas ideal dapat dikatakan telah terdegenerasi apabila perilakunya berbeda dari
perilaku klasik karena sifat kuantum dari sistem partikelnya. Karena degenerasi gas ini
penting didalam mempelajari struktur dalam dari bintang-bintang yang padat, kita akan
mencoba untuk menguraikan beberapa elemen dasar dari teori tersebut. Dengan menganggap

bahwa gas tersebut tersusun atas partikel yang kesemuanya sama. Secara umum, sistem
secara utuh dapat digambarkan apabila kita menetapkan jumlah partikel per satuan volume
ruang fase, yaitu nilai kerapatan didalam ruang fasa
(

[Pers. 2.1]
Yang mana
adalah volume dari sel didalam ruang fasa,
adalah jumlah
kestabilan dari sebuah partikel dengan diberikan nilai dari ketiga momentum p, s adalah spin,
dan f(x, p) adalah fungsi probabilitas kerapatan, yaitu probabilitas dari menemukan sebuah
partikel didalam posisi antara x dan x+dx dan ketiga momentum antara p dan p+dp. Apabila
masa diam dari sebuah partikel adalah m, maka total energinya adalah
dan total kerapatan energi gasnya adalah

[Pers. 2.2]
Fungsi distribusi gas ideal untuk fermion atau boson didalam kesetimbangan adalah

[Pers. 2.3]
Yang mana tanda + digunakan untuk fermion (Statistika Fermi-Dirac) dan tanda untuk
boson (Statistika Bose-Eisnetin)
Didalam persamaan [Pers. 2.3]

adalah energi kinetik partikel

dan adalah potensial kimia, yang mana penurunan secara parsial terhadap
setiap potensial termodinamika dari sistem (entalpi, energi dalam, dll) relatif terhadap nilai
molnya, menjaga agar jumlah mol dari setiap spesies partikel lain yang ada tetap atau
konstan, dan parameter diam dalam kaitannya dari yang mana potensial diekspresikan.
Sebagai contoh
{

[Pers. 2.4]
Yang mana H adalah entalpi dan U adalah energi dalam, dari persamaan [2.3] kita meilhat
bahwa semenjak f harus merupakan bilangan positif, potensial kimia dari fermion dapat
diambil dari setiap nilai, baik itu positif maupun negatif, sedangkan untuk partikel boson
terbatas kepada
.

Apabila temperaturnya tinggi, atau energinya rendah (


) distribusi Bose-Einstein dan
distribusi Fermi-Dirac cenderung kepada distribusi klasik Maxwell-Boltzmann.

[Pers. 2.5]
Karena f yang diberikan pada persamaan [Pers. 2.3] hanya bergantung pada
, yaitu
hanyalah bergantung pada aturan dari ketiga momentum p, distribusi dari momentumnya
menjadi isotropik, atau sama ke segela arah, sehingga kita dapat menulis
,
dengan demikian persamaan [Pers. 2.2] menjadi

[Pers. 2.6]
Dengan tekanan dapat ditulis

[Pers. 2.7]

Dimana
adalah kecepatan partikel dan faktor 1/3 datang dari hipotesa keisotropian,
pernyataan ini mendefinisikan tekanan sebagai aliran momentum.
Selanjutnya jumlah dari partikel dan energi dalam dari sistem dapat ditulis sebagai

[Pers. 2.8]

2.1.2 Kriteria untuk berdegenerasi


Mari kita pertimbangkan batas non-relatifistik ketika
mengenalkan variabel

Dapat dilihat bahwa persamaan [Pers. 2.8] berubah menjadi

. Jika kita

dan
(

[Pers. 2.9]
Pada prinsipnya, integral ini dapat diselesaikan dan dapat ditemukan sebagai fungsi dari
variabel termodinamika. Disini kita akan membahas secara eksplisit limit ketika
, yaitu
untuk statistika Fermi-Dirac yang mana menjadi sorotan utama kita, ketika bernilai negatif
dan jauh lebih besar dibandingkan . Pada kasus ini integralnya berubah menjadi

Kemudian, mengkombinasikan pernyataan dari N dan U yang diberikan pada persamaan


[Pers. 2.9] kita menemukan
(
Dan karena

dan

kita menemukan

yang mana ini merupakan pernyataan klasik dari energi dalam sebuah gas ideal. Dengan
demikian ketika
sesuai dengan limit klasik. Pada limit ini, pada persamaan pertama
dari [2.9] kita temukan bahwa
(

[Pers. 2.10]
Apabila sekarang kita mengambil
didefinisikan degenerasi suhunya adalah

, dimana

(
[Pers. 2.11]
Persamaan [Pers. 2.10] dapat ditulis sebagai

jumlah partikel per

, dan

[Pers. 2.12]
Jadi apabila,
, kemudian
dan gas berperilaku sebagai gas klasik; sebaliknya
sebuah gas ideal dikatakan berdegenerasi apabila
(
). Ketika
temperatur berdegenerasi menjadi nol, menunjukan bahwa degenerasi dari gas bersifat
kuantum. Degenerasi diatur dalam kepadatan yang tinggi atau temperatur yang rendah.
Persamaan [2.11] menunjukan bahwa pada kerapatan tertentu
,
lebih tinggi untuk
partikel dengan massa yang lebih kecil. Sehingga, elektron berdegenerasi lebih awal
dibandingkan partikel lain yang lebih berat.
CONTOH

Untuk

gas

hidrogen

pada

kondisi normal, yaitu ketika


dan
dan kesesuaian degenerasi suhu nya adalah
, dengan demikian hal ini berperilaku sebagai gas klasik ideal.
Untuk gas yang lebih berat dibandingkan hidrogen dan
menjadi lebih kecil, dan
akibatnya pada suhu dan tekanan normal mereka tidak berdegenerasi
Gas foton selalu mengalami degenerasi karena
dan
Elektron didalam logam berdegenerasi karena masanya yang cukup kecil yaitu sekitar
dan kerapatannya yang cukup tinggi
. Memang pada
kasus seperti ini
, dan apabila, untuk contoh tadi
.

Mari sekarang kita kembali kepada katai putih. Seperti yang kita bicarakan sebelumnya,
mereka secara umum tersusun atas helium, karbon dan oksigen, dan elemen-elemen yang
lebih berat didalam inti dalamnya. Ketika material nuklir didalam inti terbakar, inti mengerut
sampai menuju titik ketika jarak antara kedua inti menjadi sebanding dengan dimensi dari inti
tersebut (ini terjadi ketika
dan
dimana z adalah muatan inti). Pada
situasi seperti ini, disana tidak terdapat lagi ruang bagi orbit eksternal dari elektron-elektron
yang diperas untuk memulai sebuah dorongan tekanan proses ionisasi yang membuat
kerapatannya meningkat, semakin melibatkan orbit dalam. Sebagai akibat dari proses ini inti
padat dari nukleous terbentuk, direndam dalam sebuah gas elektron bebas yang terdegenerasi.
Pada waktu yang sama kulit dari elemen yang lebih terang yang mengelilingi inti
melanjutkan evolusi nuklirnya sampai semua bahan bakar intinya habis, dan proses kontraksi
serta ionisasi berlangsung juga dalam lapisan yang lebih luar; sang bintang kemudian
meradiasikan sisa panasnya dan kemudian mendingin. Penggambaran yang lebih akurat dari
katai putih haruslah mempertimbangkan efek-efek lainnya, seperti misalnya koreksi
elektrostatik karena faktanya muatan positif terkonsentrasi pada pada inti secara individual
tidak merata. Meskipun demikian, untuk selanjutnya kita akan mengabaikan efek ini. Kita
akan membahas sebuah katai putih pada titik akhir evolusinya, anggap bahwa proses
ionisasinya telah selesai untuk seluruh konfigurasi dan bintang telah memancarkan sebuah

radiasi termal, sehingga secara ekslusif hal ini terdiri dari sebuah inti padat dari sebuah intiinti atom, yang terbenam didalam gas elektron yang berperilaku sebagai gas yang
berdegenerasi pada suhu nol.
Untuk menggambarkan struktur dari katai putih kita tidak membutuhkan relatifitas
umum. Memang, untuk katai putih tertentu nilai gravitasi permukaannya relatif kecil
(

Kemudian kita akan menggunakan persamaan newtonian dari struktur bintang, yang mana
dapat dengan mudah ditemukan sebagai berikut
Mari kita pertimbangkan kulit dari sebuah materi dengan radius r dengan ketebalan dr.
Menjadi
volume dari sebuah elemen cair termasuk kedalam kulitnya, yang mana
dA adalah bagian (ortogonal terhadap r), dan menjadi
untuk massanya. Gaya
yang bekerja pada elemen cair adalah gaya tarik gravitasi yang diberikan oleh bola massa
M(r) dan gradien dari tekanan menyilang kepada kulitnya; apabila elemen fluida didalam
kesetimbangan mereka seimbang, yaitu
( ) ( )

( )
[Pers. 2.13]

Masa yang terkandung dalam sebuah bola dengan radius r adalah


( )

( )

( )

( )

[Pers. 2.14]
Persamaan (16.15) dan (16.16) dapat diselesaikan hanya jika kita menetapkan sebuah
persamaan lebih lanjut yang menghubungkan antara tekanan dan kerapatan, yaitu dengan
persamaan keadaan
( ). Akhirnya, persamaan kesetimbangan dapat terselesaikan.
( )

( )
( ) ( )

( )
[Pers. 2.15]

Sekarang kita akan mencoba untuk menentukan persamaan keadaan (PK) dari gas yang
terdegenerasi.
2.1.3 Persamaan Keadaan untuk Gas yang Terdegenerasi

Ketika

fungsi distribusi Fermi-Dirac menjadi


( )

[Pers. 2.16]
Dimana
dan
adalah energi dan momentum Fermi. Karena suhunya nol, partikel
memiliki energi kinetik sebesar nol. Apabila mereka adalah boson mereka akan menduduki
energi level terendah
, yang disebut sebagai kondensasi Bose. Akan tetapi Fermion
tidaklah demikian, karena prinsip eksklusi Pauli yang menyatakan bahwa dalam setiap
tingkat energi akan ada paling banyak dua elektron, yang satu spin-up dan yang satu spin
down. Dengan demikian, elektron akan mengisi setiap tempat dengan energi lebih rendah
daripada .
Ungkapan dari
sebagai fungsi dari kerapatan dapat ditemukan sebagai berikut.
Jumlah dari momentum antara dan
per unit volume adalah

[Pers. 2.17]
Karena prinsip pauli menetapkan dua keadaan spin yang tersedia, dimana dua elektron
untuk masing-masing tingkatan; dengan demikin jumlah elektron per unit volumenya adalah

[Pers. 2.18]

Apabila disana terdapat buah nukleon untuk masing-masing elektron (


untuk
bintang-bintang yang telah menggunakan bahan bakar hidrogen mereka) masa jenisnya
adalah

[Pers. 2.19]
Dimana
adalah masa dari nukleon. Kontribusi elektron-elektron
terhadap masa jenisnya dapat kita abaikan karena
. Dari persamaan [Pers. 2.18]
dan [Pers. 2.19] kita dapat meneumkan
sebagai fungsi dari kerapatan
(

)
[Pers. 2.20]

Dengan mengetahui
, kita dapat menentukan kerapatan energi kinetik
tekanan P dari gas sebagai berikut

dan

{[
[Pers. 2.21]

Dimana,
[
adalah energi kinetik untuk masingmasing elektron, dan dengan menggunakan persamaan [Pers. 2.7]

[Pers. 2.22]
Persamaan ini dapat dengan mudah diintegrasikan kedalam dua cara: 1) nonrelatifistik dan 2) ultrarelatifistik. Untuk tujuan ini, sangatlah bergunan untuk mendefinisikan
kerapatan kritis,
, sebagai sebuah kerapatan yang mana momentum fermi menjadi sama
dengan
dengan menggunakan persamaan [Pers. 2.20]
(

[Pers. 2.23]

1) apabila
,
dan elektron-elektronnya tidaklah reltifistik.
Dalam kasus ini, persamaan [Pers. 2.22] menjadi

[Pers. 2.24]
Dengan menggunakan persamaan [Pers. 2.20]
*

[Pers. 2.25]
Dengan demikian, gas dari degenerasi elektron berperilaku sebagai gas ideal depan
persamaan keadaan politropik.

[Pers. 2.26]
[

) (

) ]

Selain itu, dari persamaan [Pers. 2.21] kerapatan-energi kinetik adalah


}

{[

[Pers. 2.27]
Dan dengan menggunakan persamaan [Pers. 2.24]

[Pers. 2.28]

2) apabila
dan elektron-elektron bersifat sebagai ultrarelatifistik. Dalam kasus ini, dari persamaan (16.24) kita temukan

[Pers. 2.29]
Dan menggunakan persamaan [Pers. 2.20]
[

( ) (

)]

[Pers. 2.30]
Lagi, degenerasi gas elektron berperilaku sebagai gas ideal dengan persamaan keadaan
politropik

[Pers. 2.31]
[

( ) (

) ]

Selain itu,

[Pers. 2.32]
i.e

[Pers. 2.33]

RINGKASAN: kita dapat tunjukan bahwa degenerasi dari gas elektron dapat digambarkan
oleh persamaan keadaan

Didalam dua keadaan cara:

Keadaan non-relatifistik yaitu ketika


[

) (

) ]

[Pers. 2.34]
Keadaan ultra-relatifistik yaitu ketika
[

( ) (

) ]

[Pers. 2.35]
Pada pernyataan ini kita dapat melihat, pada gas yang sudah benar-benar
terdegenerasi, tekanan hanyalah bergantung kepada kerapatannya. Apabila
kerapatannya meningkat, maka tekanan degenerasinya pun meningkat pula, dan
gradien tekanan yang berkembang didalam bintang telah cukup untuk mendukung
keseimbangan melawan gaya tarik gravitasinya. Dengan demikian maka benarlah,
seperti yang kita kemudian kita akan lihat, apabila masanya tidak melebihi nilai kritis.
Hal ini juga harus dicatat bahwa, baik untuk non-relatifistik maupun relatifistik tinggi,
gas yang terdegenerasi berperilaku sebagai gas ideal dengan persamaan keadaan
politropik. Hal ini jelas bertentangan dengan pemikiran Eddington bahwa pada
keadaan kerapatan tinggi pada bagian dalam bintang katai putih, materi penyusunnya
tidaklah harus berupa fluida yang ideal.
2.1.4 Struktur Katai Putih
Sekarang kita akan menemukan konfigurasi keseimbangan daripada katai putih
dengan menggunakan persamaan-persamaan newtonian dari kesetimbangan hidrostatik [2.15]
dan menggunakan hasil yang diperoleh pada bagian yang sebelumnya.
Seperti yang telah disebutkan pada bagian 2.1.2, dalam rangka untuk memecahkan
persamaan [2.15] kita perlu mengetahui persamaan keadaan dari materinya, yaitu pada
persamaan yang menghubungkan tekanan dengan kerapatan; karena kita tertarik dalam
penggambaran dua macam cara pada bagian 16.1.3, yaitu cara non relatifistik (
),
dan cara relatifistik (
), kita harus mengasumsikan bahwa persamaan keadaanya
memiliki bentuk politropik; dengan demikin kumpulan lengkap dari persamaan untuk
menyelesaikannya dengan memberlakukan kondisi batas yang sesuai adalah

( )
( )
{
[Pers. 2.36]
Dengan ini dapat dengan mudah dilihat bahwa dua persamaan pertama dapat dikombinasikan
pada persamaan kedua yang selanjutnya (petunjuk: diferensialkan persamaan kedua dan ganti
( )

ungkapan dari

dengan yang diberikan pertama kali)


(

[Pers. 2.37]
Menjadi

) pusat kerapatan; dengan mengambil

( )
( )

[Pers. 2.38]
Persamaan [Pers. 2.37] menjadi
(

[Pers. 2.39]
Apabila sekarang kita mengenalkan koordinat radial tak berdimensi berikut

[Pers. 2.40]
[Pers. 2.39] menjadi
(

[Pers. 2.41]

Diketahui sebagai persamaan Lane-Emden. Haruslah dicatat bahwa persamaan tak


berdimensional ini yang bergantung hanya pada indek politropik n.
Kondisi batas fisik yang harus dikenakan untuk memecahkan struktur persamaan ini adalah
bahwa pada saat
kerapatannya memiliki beberapa nilai yang diberikan
dan pada
permukaan bintang, yaitu ketika r=R, tekanannya menghilang, yaitu
( )

( )
[Pers. 2.42]

Karena

, kondisi pertama menyiratkan bahwa pada saat ( )

massanya menjadi nol sebagai

( )

, dari persamaan [Pers. 2.36] ini berarti bahwa

Yaitu ia menuju nol sebagai r. Dari persamaan keadaan

Dari yang berikut apabila

selain itukarena

cenderung menuju nol

kita temukan

harus juga cenderung menuju nol.

Dengan demikian, kondisi lebih lanjut memaksa bagi


adalah theta
(r=0)=0.
Kesimpulannya, persamaan Lane-Emden (16.43) haruslah diintegrasikan secara paksa pada
pusat dari bintang tersebut.
{

( )
( )

[Pers. 2.43]
Hal ini dapat ditunjukan apabila

( ) lenyap untuk beberapa

kerapatan dan tekanannya menghilang, oleh karena itu


dapat ditentukan secara numerik.

. Ketika

adalah batas bagi bintang, yang

Anda mungkin juga menyukai