Anda di halaman 1dari 3

FENOMENA SHORT TERM BOOM MENJELANG

LEBARAN
Oleh: Farlian Satrio Nugroho

Fenomena ekonomi pada saat menjelang Hari Raya Lebaran, menambah sederetan fenomena unik
perekonomian Indonesia. Tulisan singkat ini bermaksud menggambarkan sebagian fenomena ekonomi unik
pada saat hari raya lebaran terutama mengenai pola konsumsi masyarakat. Sebelum itu mari kita bahas
mengenai Konsumsi dan beberapa Teori Konsumsi yang dapat menggambarkan karakteristik atau pola
konsumsi masyarakat.
Konsumsi adalah suatu aktifitas menghabiskan barang atau menggunakan jasa dalam suatu aktifitas
perekonomian dengan membelanjakan pendapatan yang diperoleh. Fungsi konsumsi menunjukkan
hubungan antara tingkat pengeluaran konsumsi (C) dengan tingkat pendapatan pribadi yang siap
dibelanjakan (disposable income), yakni pendapatan setelah dikurangi beban pajak (Y - T).
Consumption
Saving
Disposable
Consumption
Fungsi
Income (Y-T)
Break Event
Autonomous
(C) Konsumsi
Point
Consumption

Teori JM Keynes (1936) menyatakan, konsumsi seseorang akan tergantung pada tingkat pendapatan
yang telah diterima (disebut sebagai pendapatan aktual atau absolut) oleh seseorang atau masyarakat. Jika
terjadi kenaikan pendapatan aktual maka kenaikan konsumsinya lebih kecil dari kenaikan pendapatan aktual
yang diterima. Hal ini dikarenakan seseorang pasti menyisihkan sebagian pendapatan yang diterimanya
untuk tujuan lain yaitu menabung dan membayar utang.
James Dussenberry (1949) mengemukakan teori lain lagi tentang konsumsi. Menurutnya, pengeluaran
konsumsi seseorang bukan tergantung dari pendapatan absolut aktualnya tetapi tergantung dari pendapatan
relatifnya. Maksudnya konsumsi seseorang tergantung dari tingkat pendapatannya dibanding atau relatif
terhadap pendapatan orang lain. Orang yang berpendapatan lebih rendah akan meniru pola konsumsi orang
yang pendapatannya lebih tinggi di sekelilingnya. Karakteristik lain dari pengeluaran konsumsi masih
menurut Dusssenberry adalah sekali pengeluaran konsumsi seseorang meningkat, maka tidak mungkin
pengeluaran konsumsi tersebut menurun sekalipun pendapatannya menurun.
Albert Ando, Franco Modigliani, dan Richard Brumberg punya teori lain lagi tentang perilaku
konsumsi seseorang atau masyarakat. Menurut ketiga ekonom tersebut, pengeluaran konsumsi akan
tergantung dari siklus hidup seseorang. Pada saat seseorang belum bekerja, maka untuk membiayai
pengeluaran konsumsinya ia akan disubsidi oleh orangtuanya atau utang.
Pada saat sudah bekerja ia akan menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung guna membayar
utang sebelum bekerja dan membiayai konsumsi setelah pensiun. Pada saat sudah pensiun, seperti telah
disebutkan, ia akan memakai tabungannya untuk membiayai konsumsinya
Ekonom berikutnya yang merumuskan teori konsumsi adalah Milton Friedman (1957). Menurut
Friedman konsumsi seseorang tergantung pada pendapatan permanennya (pendapatan yang rutin ia terima
setiap periode tertentu) dan bukan pada pendapatan transitori (pendapatan yang tak terduga).
Jika diamati maka pola konsumsi masyarakat Indonesia ketika lebaran sangat sulit untuk dimasukkan
ke dalam salah satu teori tersebut, konsumsi seseorang pada saat lebaran biasanya sangat besar. Hasil kerja
yang sebelum lebaran ditabung biasanya dihabiskan pada saat lebaran dan ada bahkan beberapa orang yang
berutang untuk menutup pengeluaran konsumsinya. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya
permintaan terhadap berbagai komoditas bahan pokok dan ritel, adanya peningkatan arus transportasi baik
pribadi ataupun umum dan meningkatnya penggunaan jasa hotel dan pariwisata.
Peningkatan Ekonomi Jangka Pendek
Ada beberapa hal yang mempengaruhi peningkatan aktifitas ekonomi menjelang lebaran, yakni;
Pertama, dari sisi konsumsi yaitu adanya peningkatan aktifitas ekonomi di masyarakat terutama dalam hal
konsumsi bahan pangan dan ritel (dikarenakan pada saat Lebaran menurut masyarakat harus dirayakan
dengan makan dan membutuhkan pengakuan sosial dari masyarakat di sekitarnya pada saat mudik dengan
cara membeli dan membawa berbagai barang baru). Faktor lain yang mendorong peningkatan aktifitas
ekonomi yakni adanya peningkatan permintaan jasa baik transportasi melalui penggunaan kendaraan umum
dan pribadi sebagai sarana transportasi ketika mudik Lebaran dan liburan, dan jasa hotel dan pariwisata
ketika musim liburan Lebaran. Peningkatan aktifitas ini agaknya tidak terlalu berdampak besar pada
pembentukan pendapatan di tingkat nasional, walaupun terdapat kemungkinan terjadi income multiplier
dalam perekonomian.
Kedua, dari sisi produksi yaitu adanya peningkatan produksi yang dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat ketika lebaran. Hal ini sudah diantisipasi oleh private sector dengan meningkatkan
kapasitas produksinya menjelang Lebaran tiba, terutama sektor bahan pangan. Hal ini pula yang mendorong
terjadinya peningkatan aktifitas ekonomi terutama dalam lingkup nasional, walaupun tidak terjadi pada
keseluruhan sektor dalam perekonomian.
Ketiga, dari sisi pendapatan yaitu adanya pendapatan yang diterima dari luar negeri melalui
peningkatan remittance dari TKI. Ketika menjelang lebaran pada tahun 2008 lalu, nilai transfer dari TKI
mencapai Rp 40 Triliun, yang berarti tidak sedikit (detikSurabaya, 23 September 2008). Pada tahun 2009,
selama bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran, pendapatan remittance melonjak. Penyebabnya, para TKI
mengirimkan uang simpanan ke keluarga mereka untuk merayakan Lebaran. Peningkatan nilai bisa
mencapai 50% (Surya, 29 Juli 2009).
Peningkatan jumlah kiriman uang dari para TKI itu lebih dari sekadar fenomena jangka pendek. Sebab
kiriman uang tersebut adalah tambahan pendapatan dalam arti sesungguhnya, bukannya sekadar pengunaan
tabungan atau simpanan lainnya yang direalokasikan untuk konsumsi. Tambahan pendapatan ini akan
memiliki implikasi cukup besar bagi perekonomian nasional dan lokal bila digunakan bukan sekadar untuk
konsumsi, tapi bisa digunakan, misalnya, untuk membuka usaha baru, tambahan modal usaha atau
membangun rumah.

Inflasi Meningkat
Selama puasa dan Lebaran, tekanan terhadap harga juga cenderung meningkat tajam. Satu hal yang
merupakan konsekuensi dari peningkatan permintaan dan transaksi, yang umumnya merupakan transaksi
cash. Celakanya, sudah merupakan satu fenomena tersendiri di Indonesia bahwa harga yang meningkat
cenderung untuk susah turun. Walau tidak berlaku umum dan merata pada semua jenis komoditas, fenomena
ini bertahan dan biasanya berpengaruh pada komoditas bahan makanan. Secara historis, fenomena ini dapat
dicermati dari data historis yang menunjukkan bahwa tingkat deflasi harga setelah Lebaran selalu lebih
rendah ketimbang inflasi yang terjadi pada saat puasa dan Lebaran.
Seperti biasanya, Bank Indonesia (BI) mencatat menjelang Hari Raya Idul Fitri jumlah uang yang
diedarkan? dan permintaan uang kartal bulanan oleh masyarakat diproyeksikan meningkat tajam.
Jumlah uang kartal yang diedarkan diperkirakan meningkat sebesar 40% dari Rp 242 triliun per tanggal
tanggal 23 Agustus (awal puasa) menjadi Rp 300,4 triliun per 18 September 2009 (2 hari menjelang
lebaran). Sedangkan untuk permintaan uang kartal naik 156% dari rata-rata bulanan Rp 20,1 triliun menjadi
Rp 51,6 triliun? dari periode yang sama (Yopie D. Alimudin, Deputi Direktur Peredaran Uang BI, 1
September 2009)
Inflasi selama Ramadan dan Lebaran diperkirakan di atas satu persen lebih tinggi dari bulan
sebelumnya yang hanya mencapai 0,3 persen. Badan Pusat Statistik memperkirakan penyumbang inflasi
sebagian besar adalah kenaikan harga bahan makanan akibat tingginya permintaan. Bahan makanan pokok,
terutama beras, terigu, minyak dan telur akan naik memasuki musim Lebaran. Harga bahan bakar untuk
memasak juga akan naik akibat besarnya pemakaian rumah tangga dan restoran.
Kenaikan harga menjelang Lebaran juga akan terjadi pada angkutan umum, terutama kereta api dan
transport antarpulau. Penyebab utama adalah keterbatasan armada yang harus melayani lonjakan penumpang
dalam rentang waktu yang bersamaan.
Kenaikan harga-harga bahan pokok seperti minyak goring selain dipengaruhi oleh permintaan dalam
negeri, tetapi juga dipengaruhi oleh permintaan luar negeri dan harga internasional mengingat Indonesia
merupakan produsen minyak goreng terbesar di dunia. Tidak berbeda dengan komoditas lainnya seperti gula
dan tepung terigu, dimana kita bergantung pada impor dari luar negeri sehingga pembentukan harga
komoditas tersebut tidak lepas dari besaran nilai tukar rupiah.
Kesimpulan yang dapat diambil yakni, bahwa pola konsumsi masyarakat menjelang Lebaran selalu
meningkat pada tingkat pendapatan berapapun, hal ini terjadi karena faktor self esteem dan pengakuan sosial
yang ada di masyarakat. Kenaikan aktifitas ekonomi hanya terjadi pada jangka pendek yakni ketika
menjelang Lebaran yang didorong oleh sisi Konsumsi, Produksi dan Transfer Remittance. Inflasi menjelang
lebaran dibentuk oleh Demand Pull Inflation, Harga Internasional dan Fluktuasi Nilai Tukar walaupun tidak
terlalu signifikan.