Anda di halaman 1dari 9

HIPERTENSI

Hipertensi adalah kondisi dimana tekanan darah tinggi selama beberapa


waktu. Hal ini dapat terjadi karena jantung memompa terlalu cepat, terlalu kuat
atau adanya penyempitan pembuluh darah. Sebenernya tekanan darah kita
bervariasi sepanjang hari: tekanan lebih tinggi terjadi pada pagi dan siang hari,
tekanan lebih rendah terjadi pada malam hingga dini hari. Pada penderita
hipertensi tekanan darahnya tetap bervariasi, namun angkanya selalu lebih tinggi
dari normal.
Hipertensi sering tidak disadari oleh penderitanya karena muncul secara
perlahan-lahan selama beberapa tahun, dan umumnya tanpa disertai gejala.
Seserorang dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah sistoliknya 140
mmHg dan diastoliknya 90 mmHg. Tekanan sistolik adalah tekanan yang terjadi
ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh. Tekanan diastolik adalah
tekanan yang terjadi ketika jantung menerima darah dari seluruh tubuh.
Tekanan darah (TD) diperngaruhi oleh dua faktor utama, yaitu curah
jantung dan resistensi perifer. Curah jantung merupakan hasil kali antara frequensi
denyut jantung dengan isi sekuncup jantung. Besarnya isi sekuncup jantung
ditentukan oleh kekuatan kontraksi ototjantung dan aliran vena. Curah jantung
rata-rata 4-8 liter per menit. Isi sekuncup jantung, jumlah yang dipompa dari
ventrikel kiri dalam setiap jantung berdenyut, kira-kira sebanyak 70 ml(1).
Curah jantung (4-8 L/menit) =
Denyut jantung x volume sekuncup (70 ml/denyut)

Free load
(pengisian
ventrikel)

Kotaktilitas
(kontraksi
ventrikel)

After load
(resistensi
perifer)

Resistensi perifer merupakan akibat resistensi pembuluh darah (arteri dan


arteriola) dan viskositas darah. Resistensi pembuluh darah ditentukan oleh tonus
otot polos arteri dan arteriola, dan elastisitas dinding pembuluh darah(1).

Pengaturan TD didominasi oleh tonus simpatis yang mengatur frekuensi


denyut, kontraktilitas jantung dan tonus arteri maupun vena, sedangkan
parasimpatis hanya ikut mempengaruhi frekuensi denyut jantung. Sistem simpatis
juga

mengaktifkan

sistem

renin-angiostensin-aldosteron

(RAA)

melalui

peningkatan sekresi renin. Homeostatis TD dipertahankan oleh refleks


baroreseptor sebagai kompensasi yang terjadi seketika, dan oleh sistem RAA
sebagai mekanisme kompensasi yang berlangsung lebih lambat(1).
A. Patofisiologi(2)
1. Hipertensi esensial atau primer yang penyebabnya tidak diketahui
disebut hipertensi idiobatik, kira-kira 90% kasus. Banyak faktor yang
mempengaruhi seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas sistem saraf
simpatis,

sistem

renin

angiotensin,

gangguan

ekskresi

Na+,

peningkatan Na+, dan Ca++ intraseluler, dan faktor-faktor resiko lain


seperti obesitas, alkohol, merokok, polisitemia.
2. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat 5% kasus
hipertensi yang penyebabnya diketahui, seperti penggunaan estrogen,
penyakit ginjal, hiperaldosteronisme primer, feokromatositomea, dan
kehamilan. Hipertensi sekunder juga dapat terjadi atau terinduksi
karena penggunaan obat-obat seperti amfetamin atau anorexians
(fentermin, sibutramin) kokain, cyklosporin, takrolimus, erithropoietin,
NSAID, kontrasepsi oral, dan pseudoefedrin.
3. Defisiensi zat-zat vasodilator yang disintesis oleh endotelium vaskuler
seperti prostasiklin, brandikinin, nitrogen oksid (NO) dan peningkatan
produksi zat-zat vasokonstriktor seperti angiotensin II dan endotelin I.
B. Manifestasi Klinik(2)
1. Pasien dengan hipertensi primer yang tidak disertai komplikasi kadang
tanpa menimbulkan gejala.
2. Sakit kepala, epitaksis, marah, telinga berdengung, rasa berat
ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang, dan pusing.

C. Diagnosis(2)
1. Hipertensi tidak dapat ditegakkan dalam satu kali pengukuran tekanan
darah, tetapi dapat ditegakkan setelah 2 kali atau lebih pengukuran
pada kunjungan yang berbeda, kecuali terjadi peningkatan tekanan
darah yang tinggi atau gejala-gejala klinis pendukung pada
pemeriksaan yang pertama kali.
2. Klasifikasi hipertensi menurut WHO
Tabel 1. Klasifikasi Hipertensi Menurut WHO
Klasifikasi

Sistolik

Diastolik

(mmHg)

(mmHg)

Normotensi

<140

<90

Hipertensi ringan

140-180

90-105

Hipertensi perbatasan

140-160

90-95

Hipertensi sedang-barut

>180

>105

Hipertensi sistolik terisolasi

>140

<90

Hipertensi sistolik perbatasan

140-160

<90

D. Tujuan Terapi(2)
1. Menurunkan morbiditas dan moralitas
2. Menurunkan tekanan darah hingga mencapai:
a. < 140/90 mmHg pada hipertensi non komplikasi
b. < 130/85 mmHg pada pasien DM, dan gagal ginjal
c. < 125/75 mmHg pada gangguan ginjal berat
d. < 140 mmHg pada hipertensi sistolik
3. Menghindari hipotensi dan ESO (Efek Samping Obat) yang lain serta
mencegah kerusakan organ (stroke, retinofati,gagal jantung, gagal
ginjal, dan infark jantung)
E. Terapi Hipertensi(2)
1. Non farmakologi
a. Mengidentifikasi dan mengurangi faktor resiko, seperti:
-

Merokok

Dislipidemia

Diabetes militus (DM)

> 60 th pada laki-laki dan wanita post menopause

Riwayat keluarga menderita hipertensi

Obesitas (Body mass index atau BMI 30 kg/m2) dan penyakit


jantung

Aktivitas fisik yang kurang

b. Modifikasi gaya hidup


-

Menurunkan berat badan bila kelebihan (BMI 27 kg/m2)

Membatasi konsumsi alkohol

Meningkatkan aktivitas fisik aerobik (30-45 menit/hari)

Mengurangi asupan garam (2,4 g Na atau 6 g NaCl/hari)

Mempertahankan asupan kalium yang adequate

Berhenti merokok dan mengurangi asupan lemak/kolesterol


dalam makanan

2. Terapi farmakologi(2)
a. Pemilihan obat harus berdasarkan pada efektivitasnya dalam
mengurangi morbiditas dan mortalitas, keamanan, biaya, penyakit
yang menyertainya, dan faktor resiko yang lain.
b. Pilihan awal tergantung pada tingginya tekanan darah (TD) dan
adanya kondisi khusus tertentu yang akan mempengaruhi
pemilihan obat. Kebanyakan hipertensi tingkat I harus diawali
dengan

pemberian

diuretik

thiazid.

Hipertensi

tingkat

II

menggunakan kombinasi yang salah satunya adalah diuretik


thiazid, jika tidak ada kontraindikasi.
c. Kondisi khusus yang akan mempengaruhi pemilihan obat
antihipertensi antara lain:
-

Diuretik, bloker, ACE inhibitors, angiostensin II receptor


bloker (ARBs), dan calcium channel blokers (CCBs) adalah
pilihan pertama berdasarkan efektivitas dan keamanan terhadap
organ tertentu,serta berdasarkan morbiditas, dan mortalitas.

1 bloker, central 2-agonis, penghambat adrenergik, dan


vasodilator adalah obat alternatif setelah obat pertama.

Hanya sekitar 40% tujuan pengobatan dicapai dengan


pemberian obat tunggal. Pemberian obat ke 2 dipilih yang
efeknya adiktif dengan obat pertama. Jika diuretik bukan
pilihan pertama, obat tersebut harus merupakan obat ke 2, jika
tidak kontraindikasi.

Terapi Hipertensi

Tidak Ada Penyakit


Lain

Hipertensi dengan
TD (140-159/90-99)

Hipertensi dengan
TD (>160/>100)

Pilihan pertama
diuretik thiazid,
alternatif (ACE, Ca,
dan blok), ARB
atau kombinasi

Kombinasi 2 obat,
diuretik thiazid
dengan (ACE, Ca,
dan blok), dan
ARB

Ada Penyakit Lain

Obat-obat tertentu
yang sesuai dengan
penyakit yang
menyertai. Obat
selain diuretik
thiazid, (ACE, Ca,
dan blok), dan
ARB mungkin
diperlukan

Gambar 1. Alogaritma Pemilihan Obat Untuk Hipertensi

Hipertensi Dengan
Kondisi Tertentu

Gagal
Jantung

Setelah
infark

Diuretik
dan
inhibitor
ACE

-bloker
dan
Inhibitor
ACE

-bloker

Antagonis
aldosteron

Antagonis
aldosteron,
ARB

Diabetes
Militus

Sakit
Ginjal
Kronis

Mencegah
Stroke
Kambuh

-bloker

Inhibitor
ACE
atau
ARB

Inhibitor
ACE
atau
ARB

Diuretik
dan
Inhibitor
ACE

Diuretik,
Inhibitor
ACE dan
Inhibitor
Ca

Diuretik

Resiko
Koroner
Tinggi

-bloker
dan
Inhibitor Ca

Gambar 2. Pemilihan Obat Hipertensi pada Kondisi Tertentu


F. Kondisi Khusus Yang Perlu Perhatian Dalam Memilih Obat(2)
Ada 6 kondisi khusus yang jika menyertai hipertensi akan mempengaruhi
pemilihan obat. Pemilihan obat harus mempertimbangkan kondisi khusus
itu supaya tujuan umum pengobatan yang mengurangi morbiditas,
mortalitas, dan perlindungan organ dapat tercapai.
1. Gagal Jantung
a. Diuretik merupakan terapi pilihan utama karena dapat mengurangi
udem dengan efek diuresisnya. Diuretik kuat mungkin diperlukan,
terutama pasien dengan tekanan sistolik yang benar.

b. ACE inhibitor juga merupakan obat pilihan pertama berdasarkan


pada bukti-bukti uji klinik yang terbukti paling baik dalam
menurunkan morbiditas dan mortalitas. Pada pasien gagal jantung
yang mempunyai kadar renin dan angiostensin II tinggi, terapi
harus dimulai dengan

dosis

untuk

menghindari

hipotensi

orthostatik.
c. ARB dapat sebagai alternatif ACE inhibitor pada pasien yang tidak
dapat menerima ACE inhibitor.
2. Pasien Yang Telah Mengalami Infark Jantung (Postmyocardial
Infarction)
a. bloker mengurangi stimulasi kerja jantung dan akan menurunkan
resiko terjadinya infark berikutnya dan meninggal mendadak
karena infark.
b. ACE inhibitor meningkatkan fungsi jantung dan dapat mengurangi
kejadian infark.
3. Pasien Dengan Resiko Tinggi (High Coronaskry Disease Risk)
a. bloker merupakan terapi lini pertama pada angina kronik stabil
(chronic stable angina) dan tidak stabil (unstable angina), dan
myocardial infarction.
b. CCBs (kecuali dihidropiridin verapamil dan diltiazem) menurunkan
tekanan darah dan mengurangi kebutuhan oksigen jantung.
Dihidropiridin CCBs mungkin menyebabkan stimulasi jantung dan
harus dicadangkan sebagai pilihan ke 2 atau ke 3.
4. Diabetes Militus
a. Sasaran TD pada penderita DM adalah kurang dari 130/80 mmHg.
b. Semua pasien DM dan hipertensi harus diterapi dengan
menggunakan baik ACE inhibitor atau ARB. Kedua golongan obat
tersebut bersifat nephroprotection dan menurunkan resiko pada
cardiovaskuler.
c. Diuretik thiazid direkomendasikan jika obat kedua diperlukan.

d. CCBs juga bermanfaat sebagai obat tambahan jika diperlukan


untuk mengontrol TD pada kasus DM.
5. Chronic Kidney Disease
a. ACE inhibitor dan ARB menurunkan TD dan juga menurunkan
tekanan intragomerular, yang selanjutnya akan mengurangi
menurunnya fungsi ginjal. Beberapa data menunjukkan bahwa
kombinasi ACE inhibitor dan ARB mungin lebih efektif
dibandingkan masing-masing obat.
b. Karena pasien biasanya memerlukan kombinasi obat, diuretik dan
CCB sering diperlukan.
Tabel 2. Pilihan Antihipertensi pada Kondisi Tertentu
No.
1

Kondisi
Gagal jantung

Diabetes

Menguntungkan

Hindari

ACE-inhibitor,

-bloker kecuali Carvediol

Diuretik, Carvediol,

dan metoprolol, Ca-bloker

Metoprolol, dan

kecuali Amlodipin dan -

Spironolakton

bloker

ACE-inhibitor

-bloker dan dosis tinggi

militus

diuretik, Ca-bloker untuk


terapi tunggal

Lansia

Diuretik

1-bloker dan 2-agonis

Infark jantung

Non ISA -bloker

Hidralasin dan minoksidil,


Ca-bloker dihidropiridin,
kecuali amlodipin atau
felodipin

Angina

Non ISA -bloker

Hidralasin dan minoksidil

Bronkospasme

Ca-bloker

-bloker dan ACEinhibitor

Hamil

Metildopa, labetalol,

ACE-inhibitor,

dan hidralasin

Angiostensin II reseptor
bloker dan Diuretik

Gout

-bloker dan ACE-

Diuretik

inhibitor
9

Insufisiensi

ACE-inhibitor, loop

Diuretik thiazid, dan

ginjal

diuretik, diltiazem,

hemat kalium

hidralasin, dan
minoksidil

Intan Putri Insyiroh 260112140025

DAFTAR PUSTAKA

1. Priyanto. 2008. Farmakologi Dasar Untuk Mahasiswa Farmasi &


Keperawatan. Leskonfi: Jakarta
2. Priyanto. 2009. Farmakoterapi & Terminologi Medis. Leskonfi: Jakarta