Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Analisis

proksimat

adalah

suatu

metoda

analisis

kimia

untuk

mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat


pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan. Pendapat itu didukung
oleh pernyataan Mulyono (2000), menyatakan bahwa Analisis proksimat
adalah analisis atau pengujian kimia yang dilakukan untuk bahan baku yang
akan diproses lebih lanjut dalam industri menjadi barang jadi. Analisis proksimat
memiliki manfaat sebagai penilaian kualitas pakan atau bahan pangan terutama
pada standar zat makanan yang seharusnya terkandung di dalamnya. Selain itu,
analisis proksimat dapat digunakan untuk mengevaluasi dan menyusun formula
ransum dengan baik. Mengevaluasi ransum yang telah ada seperti mencari
kekurangan pada ransum tersebut kemudian kita bisa menyusun formula ransum
baru dengan menambahkan zat makanan yang diperlukan.
1.2

Tujuan dan Manfaat


1.2.1

Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum

yang berjudul Analisis proksimat adalah untuk mengetahui kandungan zat


makanan dari bahan pakan yang akan diuji. Dan juga bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan praktikan dalam menganalisis proksimat baik
meliputi pengetahuan dasar dan aplikasinya.
1.2.2

Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diperoleh pada praktikum ini ialah agar

mahasiswa dapat mengetahui kandungan dari setiap bahan pakan yang


dianalisis. Serta bervariasinya persentase dari setiap kandungan tersebut.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Adila, (2007) m e n y a t a k a n

bahwa

analisis

proksimat

a d a l a h a n a l i s i s terhadap suatu bahan yang menyangkut air, protein, lemak,


abu dan serat.
Amrullah (2004), Analisa proksimat merupakan uji analisa suatu bahan
pakan yang telah lama ada dan dapat digunakan untuk menduga nilai nutrien dan
nilai energi dari bahan atau campuran pakan yang berasal dari bagian komponen
bahan pakan tersebut (NRC, 1994). Analisa proksimat dibagi ke dalam enam
fraksi zat makanan yaitu kadar air, abu, protein kasar, lemak, serat kasar dan
bahan ekstrak tanpa nitrogen.
Anonymous,

(2002)

menyatakan

bahwa

analisis

proksimat

merupakan analisis yang diambil dari bahan pakan yang menguap


serta bahan yang tinggal adalah bahan kering yang dapat dihitung pada
penentuan kadar air.
Barry, (2004) yang menyatakan bahwa indikator dari daya cerna
dan bulkiness suatu bahan pakan merupakan inti utama dari serat kasar.
Buckle (2005) menyatakan sifat-sifat lemak yaitu tidak larut dalam air dan
lemak adalah campuran trigliserida dalam bentuk padat dan terdiri dari suatu fase
padat dan fase cair.
Chandra (2001) Serat kasar terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan lignin.
Selulosa dan hemiselulosa merupakan komponen dinding sel tumbuhan dan tidak
dapat dicerna oleh ternak monogastrik. Hewan ruminansia mempunyai
mikroorganisme rumen yang memiliki kemampuan untuk mencerna selulosa dan
hemiselulosa.
Defano (2000) menyatakan ditiap bahan pakan yang paling kering
sekalipun,masih terdapat kandungan air walaupun dalam jumlah yang kecil.
Halim (2006) menyatakan bahwa zat anorganik yang tertinggal di dalam
pemanasan dengan tanur disebut dengan abu(ash).
Haryanto, (2002) yang menyatakan bahwa Kadar air merupakan
banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam satuan

persen. Kadar air juga merupakan karakteristik yang sangat penting dalam bahan
pangan karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, serta ikut
menentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut. Kadar air
menyebabkan mudahnya bakteri, kapang dan khamir untuk berkembang biak
sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pangan. Kadar air adalah perbedaan
antara berat bahan sebelum dan sesudah dilakukan pemanasan. Setiap bahan bila
diletakkan dalam udara terbuka kadar airnya akan mencapai keseimbangan
dengan kelembaban udara disekitarnya. Kadar air ini disebut dengan kadar air
seimbang.
Herman, (2005) menyatakan bahwa Serat kasar merupakan
kemudahan bagi makluk hidup untuk mendapatkan zat-zat yang dibutuhkan oleh
tubuh.
Jossemariee (2010), Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai
penilaian kualitas pakan atau bahan pangan terutama pada standar zat makanan
yang seharusnya terkandung di dalamnya.
Karmia (2004) Istilah proksimat memiliki pengertian bahwa hasil
analisisnya tidak menunjukan angka sesungguhnya, tetapi mempunyai nilai
mendekati. Hal ini disebabkan dari komponen praktisi yang dianalisisnya masih
mengandung komponen lain yang jumlahnya sangat sedikit yang seharusnya tidak
masuk kedalam fraksi yang dimaksud. Namun demikian analisis kimia ini adalah
yang paling ekonomis (relative) dan datanya cukup memadai untuk digunakan
dalam penelitian dan keperluan praktis.
Karra (2007) menyatakan bahwa pemanasan di dalam tanur adalah dengan
suhu 400-600 derajat Celcius.
Khairul (2009) menyatakan bahwa lemak kasar yang dihasilkan dari
penentuan lemak kasar adalah ekstraksi dari klorofil, xanthofil, dan karoten.
M. Syarif, (2000) penentuan kadar abu yaitu usaha untuk
mengetahui kadar abu, dalam analisis secara umum ditentukan dengan
membakar bahan pakan biasanya hanya zat-zat organik selanjutnya ditimbang,
sisanya disebut abu.

Mulyono, (2000) menyatakan analisis kadar serat kasar adalah usaha untuk
mengetahui

kadar

serat

kasar

dalam

bahan

baku

pakan

pelaksanaan

dilaboratorium biasanya dilakukan secara kimiawi dengan metode mendell.


Poetra, (2005) menyatakan bahwa Serat kasar adalah semua zat
organik yang tidak larut dalam H 2SO4 0,3 N dan dalam NaOH 1,5 N
yang berturur-turut dimasak selama 30 menit.
Poetra, (2007) juga m e n y a t a k a n b a h w a K a n d u n g a n s e r a t
k a s a r y a n g t i n g g i dalam makanan akan menurunkan koefisiensi cerna dalam
bahan pakan tersebut, karena serat kasar megandung bagian yang sukar untuk
dicerna.
Susi (2001) menyatakan bahwa bahan ekstrak tanpa nitrogen adalah
kandungan zat makanan dikurangi persentase air, abu, protein kasar, lemak kasar,
dan serat kasar. Kadar Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen dihitung sebagai nutrisi
sampingan dari protein.
Sutardi, (2009) yang menyatakan bahwa protein merupakan komponen
penting

yang

terdapat

dalam

makanan,

dari

hasil

p e n e l i t i a n b a h w a p r o t e i n s a n g a t berkualitas tinggi.
Winarno, (2004) yang menyatakan bahwa Kandungan air dalam bahan
makanan ikut menentukan acceptability, kesegaran dan daya tahan bahan itu.
Selain merupakan bagian dari suatu bahan makanan, air merupakan pencuci yang
baik bagi bahan makanan tersebut atau alat-alat yang akan digunakan dalam
pengolahannya. Kandungan air dalam bahan makanan mempengaruhi daya tahan
bahan makanan terhadap serangan mikroba yang dinyatakan dengan Aw yaitu
jumlah

air

bebas

yang

dapat

digunakan

oleh

mikroorganisme

untuk

pertumbuhannya. Dari dua pernyataan yang disampaikan bahwa KA sangat


mempengaruhi kualitas pakan.
.Yunus (2008) yang mengatakan bahwa kandungan yang ada pada lemak
kasar merupakan bukanlah lemak murni melainkan campuran dari
beberapa zat yang terdiri dari klorofil, xantofil dan karoten.
BAB III

MATERI DAN METODE PRAKTIKUM


2.1

Waktu dan Tempat

Praktikum analisis proksimat dilaksanakan pada:


Hari/tanggal

: Sabtu, 08 Nopember 2014 s/d Sabtu, 16 November 2014

Waktu

: 07.30 slesai

Tempat

: Gedung D Lantai 3 Fakultas Peternakan Universitas


Mataram

3.2

Materi Praktikum
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain cawan,

eksikator, oven 1050c, penjepit, neraca analitik, tanur, pembakar bunzen, soxhlet,
kertas saring bebas lemak, sarung tangan karet, kapas bebas lemak, batu didih,
pinset, corong, gelas piala, corong buchner, pompa vacuum, pemanas listrik,
kertas saring, labu dekstruksi, labu destilasi, destilator, labu Erlenmeyer, biuret,
dan gelas ukur.
Bahan yang digunakan pada praktikum analisis proksimat ini adalah
3.3

Metode Praktikum
Adapun metoda dalam praktikum Analisis Proksimat yaitu:
1.

Penentuan Kadar Air


Adapun cara kerjanya adalah cawan porselen yang telah dicuci bersih,
dikeringkan di dalam oven selama waktu tertentu, biasanya 3 4 jam
dengan temperatur 105 oC. Kemudian didinginkan di dalam eksikator
sekitar 10-20 menit dan ditimbang. Sampel dihitung sebanyak dan

dimasukkan ke dalam cawan porselen. Kemudian cawan dan sampel


tersebut dikeringkan dalam oven 105oC selama 12-16 jam. Cawan dan
sampel dikeluarkan dari oven dan didinginkan dala eksikator selama
10-20 menit sampai diperoleh berat tetap.
2. Penentuan Kadar Abu
Adapun cara kerjanya antara lain : cawan porselen yang telah dicuci
bersih, dikeringkan di dalam oven sekitar 1 jam pada temperatur 105o
C. kemudian didinginkan dalam eksikator sekitar 10-20 menit dan
ditimbang dengan teliti ( F ). Sampel ditimbang dengan teliti sebanyak
3 gram untuk sampel hijauan atau 5 gram untuk kosentrat ( G ) dan
dimasukkan ke dalam cawan porselen. Pijarkan sampel yang terdapat
dalam cawan porselen hingga berasap. Bakar cawan porselen berisi
sampel dan tanur bersuhu 600oC. biarkan sampel terbakar selama 3-4
jam atau sampai warna sampel berubah menjadi putih semua. Setelah
sampel bewarna putih semua, kemudian dinginkan dalam tanur pada
suhu 120oC sebelum dipindahkan ke dalam eksikator. Setelah dingin
timbang dengan teliti ( H ).
3. Penentuan Protein Kasar
Adapun cara kerjanya antara lain : timbang sampel dengan teliti
sejumlah 0,3 gram ( I ) dan masukkan kedalam tabung destruksi.
Tambahkan kira-kira 0,2 gram katalis campuran dan 5 ml H2SO4 pekat.
Panaskan campuran tersebut dalam lemari asam. Perhatikan proses
destruksi selama pemanasan agar tidak meluap. Destruksi dihentikan
bila larutan sudah menjadi hijau terang atau jernih, lalu dinginkan
dalam lemari asam. Larutan dimasukkan ke dalam labu destilasi dan
diencerkan dengan 60 ml aquades. Masukkan beberapa buah batu didih.
Tambahkan pelan-pelan melalui dinding labu 20 ml NaOH 40 % dan
segera hubungkan dengan destilator. Suling ( NH 3 dan air ) ditangkap
oleh labu erlenmeyer yang berisi 25 ml H2SO4 0,3 N dan 2 tetes

indikator campuran ( methyl red 0,1 % dan bromcresol green 0,2 %


dalam alkohol ). Penyulingan dilakukan hingga nitrogen dari cairan
tersebut tertangkap oleh H2SO4 yang ada di dalam erlenmeyer ( 2/3 dari
cairan yang ada pada labu destilasi menguap atau terjadi letupanletupan kecil atau erlenmeyer mencapai volume 75 ml ). Labu
erlenmeyer berisi sulingan diambil dan dititer kembali dengan NaOH
0,3 N ( J ). Perubahan biru ke hijau menandakan titik akhir titrasi.
Bandingkan dengan titer blanko ( K ).
4. Penentuan Lemak Kasar
Adapun langkahnya antara lain, timbang sampel dengan teliti sebanyak
1 gram 9 L ) dan bungkus dengan kertas saring bebas lemak. Keringkan
dalam oven 105cC selama 5 jam, dinginkan dalam eksikator dan
timbang ( M ). Sampel dimasukkan kedalam tabung ekstraksi soxhlet.
Alat soxhlet diisi dengan pelarut lewat kondensor dengan corong. Alat
pendingin dialirkan dan panas dihidupkan. Ekstraksi berlangsung
selama 16 jam sempai pelarut pada alat soxhlet terlihat jernih. Sampel
dikeluarkan dari alat soxhlet dan keringkan ke dalam oven 105oC
selama 5 jam, kemudian dinginkan dalam eksikator dan timbang ( N ).
5. Penentuan Serat Kasar
Antara lain : keringkan kertas saring whatman No. 41 di dalam oven
105OC selama 1 jam dan timbang (O). timbang dengan teliti 1 gram
( P ) sampel masukkan kedalam gelas piala. Tambahkan 50 ml H 2SO4
0,3 N dan didihkan selama 30 menit. Cairan disaring melalui kertas
saring yang telah diketahui beratnya didalam corong buchner yang telah
dihubungkan dengan pompa vokum. Kertas saring bersama residu
dicuci berturut-turut dengan 50 ml H2O panas, 50 ml H2SO4 0,3 N, 50
ml H2O panas dan aseton. Kertas saring berisi residu dimasukkan
kedalam cawan porselen bersih dan kering dengan menggunakan oven.
Cawan berisi sampel yang dikeringkan ke dalam oven 105 oC sampai

didapat berat yang konstan, didinginkan dalam eksikator dan ditimbang


( Q ). Pijarkan sampel dalam cawan hingga tak berasap. Kemudian
cawan bersama isinya dimasukkan ke dalam tanur 600oC selama 3-4
jam. Setelah isi cawan berubah menjadi abu yang bewarna putih,
diangkat, didinginkan dan ditimbag ( R ).
6. Kadar Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN)
Dengan cara mengurangkan kandungan zat makanan dalam bahan
pakan ( % abu, protein kasar, lemak kasar, dan serat kasar) dari % BK
bahan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1

Hasil Praktikum

4.2 Pembahasan Praktikum


4.2.1
Analisis Fraksi Air
Semua bahan pakan mengandung air, bahkan yang paling kering
sekalipun. Untuk itu sebelum dianalisis di hitung dulu kadar airnya.
Defano (2000) menyatakan ditiap bahan pakan yang paling kering
sekalipun,masih terdapat kandungan air walaupun dalam jumlah yang
kecil.
Perhitungan kadar air :
Kadar Air (%) = (C +D) E x 100 %
D
Dari data bahwa sampel yang telah dilakukan dalam penganalisisan
sebagian besar kadar air yang didapat dibawah 15 % kecuali pada Tepung
Ikan, tepung kulit nanas, dan tepung kulit apel. Bahan pakan yang
memiliki kadar air dibawah 15% peluang untuk terjadinya kerusakan
sangat kecil. Sedangkan pada bahan pakan yang mengandung kadar air
yang lebig dari 15 % peluang kerusakannya relative besar.

Kadar air ini

didapat setelah bahan pakan dikeringkan pada oven 105 0c 12-16 jam.
Hasil diatas sangat sesuai dengan pernyataan dari Haryanto, (2002) yang
menyatakan bahwa Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung
dalam bahan yang dinyatakan dalam satuan persen. Kadar air juga
merupakan karakteristik yang sangat penting dalam bahan pangan karena
air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, serta ikut menentukan
kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut. Kadar air menyebabkan
mudahnya bakteri, kapang dan khamir untuk berkembang biak sehingga
akan terjadi perubahan pada bahan pangan. Kadar air adalah perbedaan
antara berat bahan sebelum dan sesudah dilakukan pemanasan. Setiap
bahan bila diletakkan dalam udara terbuka kadar airnya akan mencapai
keseimbangan dengan kelembaban udara disekitarnya. Kadar air ini

disebut dengan kadar air seimbang. Pernyataan Haryanto dikuatkan oleh


Winarno, (2004) yang menyatakan bahwa Kandungan air dalam bahan
makanan ikut menentukan acceptability, kesegaran dan daya tahan bahan
itu. Selain merupakan bagian dari suatu bahan makanan, air merupakan
pencuci yang baik bagi bahan makanan tersebut atau alat-alat yang akan
digunakan dalam pengolahannya. Kandungan air dalam bahan makanan
mempengaruhi daya tahan bahan makanan terhadap serangan mikroba
yang dinyatakan dengan Aw yaitu jumlah air bebas yang dapat digunakan
oleh mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Dari dua pernyataan yang
disampaikan bahwa KA sangat mempengaruhi kualitas pakan.
4.2.2

Analisis Fraksi Kadar Abu


Membakar bahan dalam tanur (furnace) dengan suhu 600C selama 4-

5 jam sehingga seluruh unsur pertama pembentuk senyawa organik


(C,H,O,N) habis terbakar dan berubah menjadi gas. Sisanya yang tidak
terbakar adalah abu yang merupakan kumpulan dari mineral-mineral yang
terdapat dalam bahan. Dengan perkataan lain, abu merupakan total mineral
dalam bahan.
Perhitungan kadar abu :
Kadar Abu (%) = H - F x100%
G
Karra (2007) menyatakan bahwa pemanasan di dalam tanur adalah
dengan suhu 400-600 derajat Celcius dan Halim (2006) menyatakan
bahwa zat anorganik yang tertinggal di dalam pemanasan dengan tanur
disebut dengan abu(ash). Menurut M. Syarif, (2000) penentuan
kadar abu yaitu usaha untuk mengetahui kadar abu, dalam analisis
secara umum ditentukan dengan membakar bahan pakan biasanya hanya
zat-zat organik selanjutnya ditimbang, sisanya disebut abu.
4.2.3

Analisis Fraksi Protein Kasar

Penetapan nilai protein kasar dilakukan secara tidak langsung, karena


analisis ini didasarkan pada penentuan kadar nitrogen yang terdapat dalam
bahan. Kandungan nitrogen yang diperoleh dikalikan dengan angka 6,25
sebagai angka konversi menjadi nilai protein. Nilai 6,25 diperoleh dari
asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen(perbandingan protein :
nitrogen =100 :16 = 6,25:1).
Perhitungan protein kasar :
Protein kasar (%) = (K - J)x Norm NaOH x 0,014 x 6,25 x 100%
I
4.2.4

Lemak Kasar
Melarutkan (ekstraksi) lemak yang terdapat dalam bahan dengan

pelaut lemak (ether) selama 16 jam. Ekstraksi menggunakan alat sokhlet.


Beberapa pelarut yang dapat digunakan adalah kloroform, eter, dan
benzen. Akan tetapi yang digunakan pada praktikum ini adalah pelarut
klorofofrm. Lemak yang terekstraksi (larut dalm pelarut) terakumulasi
dalam wadah pelarut (labu sokhlet) kemudian dipisahkan dari pelarutnya
dengan cara dipanaskan dalam oven suhu 105C. Pelarut akan menguap
sedangkan lemak tidak (titik didih lemak lebih besar dari 105C, sehingga
tidak menguap dan tinggal di dalam wadah). Lemak yang tinggal dalam
wadah ditentukan beratnya.
Perhitungan lemak kasar :
Lemak kasar % = M N x 100
L
Buckle (2005) menyatakan sifat-sifat lemak yaitu tidak larut dalam air
dan lemak adalah campuran trigliserida dalam bentuk padat dan terdiri
dari suatu fase padat dan fase cair. Khairul (2009) menyatakan bahwa
lemak kasar yang dihasilkan dari penentuan lemak kasar adalah ekstraksi
dari klorofil, xanthofil, dan karoten. Kadar Lemak kasar yang didapat dari

tabel

diatas merupakan hasil dari pengamatan terhadap bahan pakan

diatas. Walaupun lemak yang diperoleh bukan lemak murni karena


campuran beberapa zat-zat diantaranya klorofil,santofil, dan karoten.
Lemak kasar ini ditentukan menggunakan alat soxhlet. Lemak kasar ini
juga adalah zat yang tidak dapat larut dalam air akan tetapi dapat larut
pada pelarut lemak seperti eter, kloroform, dan benzene. Pembahasan dan
hasil diatas sesuai dengan pernyataan yang disampaikan oleh Yunus (2008)
yang

mengatakan

bahwa

kandungan

yang

ada

pada

lemak

kasar merupakan bukanlah lemak murni melainkan campuran


dari beberapa zat yang terdiri dari klorofil, xantofil dan karoten.
Bahan yang mengandung banyak lemak kasar adalah tepung kedele.
Ini dikarenakan tepung kedele merupakan sumber lemak nabati.
4.2.5 Analisis Fraksi Serat Kasar
Komponen dalam suatu bahan yang tidak dapat larut dalam
pemasakan dengan asam encer dan basa encer selama 30 menit adalah
serat kasar dan abu. Untuk mendapatkan nilai serat kasar, maka bagian
yang tidak larut tersebut (residu) dibakar sesuai dengan prosedur analisis
abu. Selisih antara residu dengan abu adalah serat kasar.
Serat kasar terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan lignin. Selulosa dan
hemiselulosa merupakan komponen dinding sel tumbuhan dan tidak dapat
dicerna oleh ternak monogastrik. Hewan ruminansia mempunyai
mikroorganisme rumen yang memiliki kemampuan untuk mencerna
selulosa dan hemiselulosa. Chandra (2001).
Perhitungan serat kasar :
Serat kasar = Q R- O x 100%
P
Kadar serat kasar dari tabel diatas menunjukkan bahwa serat kasarnya
rendah . Sehingga serat kasar yang didapatkan dari analisis ini dapat

dikatakan pakan diatas dapat mempermudah bagi ternak mencernanya.


Sehingga tidak menghambat kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan ternak. Hal
tersebut sesuai dengan pernyataan Barry, (2004) yang menyatakan bahwa
indikator dari daya cerna dan bulkiness suatu bahan pakan
merupakan inti utama dari serat kasar. Dan Herman, (2005) menyatakan
bahwa Serat kasar merupakan kemudahan bagi makluk hidup untuk
mendapatkan zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh. Poetra, (2007) juga
menyatakan

bahwa

Kandungan

serat

kasar

yang

t i n g g i dalam makanan akan menurunkan koefisiensi cerna dalam bahan


pakan tersebut, karena serat kasar megandung bagian yang sukar untuk
dicerna. Poetra, (2005) menyatakan bahwa Serat kasar adalah semua
zat organik yang tidak larut dalam H 2SO4 0,3 N dan dalam NaOH
1,5 N yang berturur-turut dimasak selama 30 menit. Mulyono, (2000)
menyatakan analisis kadar serat kasar adalah usaha untuk mengetahui kadar
serat kasar dalam bahan baku pakan pelaksanaan dilaboratorium biasanya
dilakukan secara kimiawi dengan metode mendell.
4.2.6

Analisis Fraksi Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN)


Kandungan BETN suatu bahan pakan sangat tergantung pada

komponen lainnya, seperti abu, protein kasar, serat kasar dan lemak kasar.
Hal ini disebabkan penentuan kandungan BETN hanya berdasarkan
perhitungan dari zat-zat yang tersedia. Susi (2001) menyatakan bahwa
bahan ekstrak tanpa nitrogen adalah kandungan zat makanan dikurangi
persentase air, abu, protein kasar, lemak kasar, dan serat kasar. Kadar Bahan
Ekstrak Tanpa Nitrogen dihitung sebagai nutrisi sampingan dari protein.
Penentuan

kadar Ekstrak Tanpa Nitrogen hanya berdasarkan

perhitungan 100% - (%air + %abu + %serat kasar + %protein kasar +


%lemak kasar).
Penentuan kadar BETN ini memiliki kentungan atau kelebihan dan
kerugiannya. Keuntungan dari penentuan BETN yaitu tidak perlu lagi

melakukan analisis dan bahkan proses penetuannya mudah. Sedangkan


kerugian dari penentuan BETN yaitu apabila salah satu dari nilai yang
didapat minus maka hasil yang akan ditentukan gagal. Dan Fatalnya lagi
harus melakukan pengulangan pada tahap penganalisisan tersebut.

4.2.7
BAB V
PENUTUP
4.1

Kesimpulan
Analisis

proksimat

adalah

suatu

metoda

analisis

kimia

untuk

mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat


pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan. Penentuan Kadar Air
Menguapkan air yang terdapat dalam bahan dengan oven dengan suhu 100105C dalam jangka waktu tertentu. hingga seluruh air yang terdapat dalam bahan
menguap atau penyusutan berat bahan tidak berubah lagi. Penentuan kadar abu
Membakar bahan dalam tanur (furnace) dengan suhu 600C selama 4-5 jam
sehingga seluruh unsur pertama pembentuk senyawa organik (C,H,O,N) habis
terbakar dan berubah menjadi gas. Sisanya yang tidak terbakar adalah abu yang
merupakan kumpulan dari mineral-mineral yang terdapat dalam bahan. Dengan
perkataan lain, abu merupakan total mineral dalam bahan. Penentuan kadar
protein Penetapan nilai protein kasar dilakukan secara tidak langsung, karena
analisis ini didasarkan pada penentuan kadar nitrogen yang terdapat dalam bahan.
Kadar lemak Melarutkan (ekstraksi) lemak yang terdapat dalam bahan dengan
pelarut lemak (ether) selama 16 jam. Ekstraksi menggunakan alat sokhlet.
Beberapa pelarut yang dapat digunakan adalah kloroform, heksana, dan aseton.
Lemak yang terekstraksi (larut dalm pelarut) terakumulasi dalam wadah pelarut
(labu sokhlet) kemudian dipisahkan dari pelarutnya dengan cara dipanaskan dalam
oven suhu 105C.

5.2

Saran
Pada saat praktikum berlangsung untuk para praktikan agar dapat lebih

meningkatkan disiplin lagi sehingga dalam praktikum kita akan cepat selesai dan
menggunakan peralatan laboratorium dengan hati-hati dan teliti sehingga dapat
digunakan lagi untuk masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
Amrullah. 2004. Analisa Bahan Pakan. Universitas Hasanudin. Makassar
Anonim. 2011. http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/bt111062.pdf
Anonymous. 2002. Wikipedia/Analisis-Proksimat/.html
Barry. 2004. Nutrisi Ternak. Gajah Mada University Press Fakultas
Peternakan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Buckle. 2005. Analisis kandungan pakan. Institut Pertanian Bogor


Defano. 2000 . Ilmu Makanan Ternak. Gajah Mada University Press Fakultas
Peternakan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Herman. 2005. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gadjah Mada University Press.
Jogjakarta.
Karra , 2003. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University.Yogyakarta
Khairul.2009 . Ilmu Gizi dan Makanan Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.
Mulyono.2000. Metode Analisis Proksimat. Jakarta : Erlangga.
Susi . 2001. Analisis dengan Bahan Kimia . Erlangga. Jakarta.