Anda di halaman 1dari 11

TRAGEDI MINAMATA DI

JEPANG dan
hubungannya dengan
kesalahan etika
engineering
Oleh :

ALFIN HIDAYAT
11210005

MATA KULIAH ETIKA REKAYASA

PENDAHULUAN

Penyakit Minamata pertama kali ditemukan pada


tahun 1958 di kota Minamata, Prefektur Komamoto,
Jepang. Prefektur Kumamoto ( Kumamotoken) adalah prefektur yang terletak di sebelah
baratdaya Jepang.
Minamata adalah sebuah desa kecil yang
menghadap ke laut Shiranui,
bagian selatan jepang sebagian besar penduduknya
hidup sebagai nelayan dan merupakan
pengkonsumsi ikan cukup tinggi, yaitu 286410gram/hari.
Kota Minamata sendiri adalah merupakan kota industri, disitu berdiri sebuah pabrik
kimia terbesar di Jepang dengan nama perusahaan Shin Nihon Chisso Hiryo
Kabushik Kaisha, atauNew Japan Nitrogenous Fertilizaers, Inc, atau terkenal
dengan nama Chisso. Perusahaan ini mulai beroperasi sejak tahun 1908, dan tahun
1909 perusahaan ini memiliki hak paten untuk memproduksi pupuk nitrigenus
dengan menggabungkan kalsium karbid dengan nitrogen atmosforik, yang kemudian
dikembangkan pada satu perusahaan elektro kimia dengan skala besar.
Namun pabrik sebesar Chisso ini tidak mempunyai sistem pengelolaan limbah yang
memadai, sehingga semua limbah-limbah kimia, hasil industri yang beracun tersebut
hanya dibuang langsung begitu saja melalui pipa-pipa pembuangan ke laut yang
bermuara di teluk Minamata tanpa proses penetralisir limbah. Tak pelak, berbagai
ekosistem yang mendiami teluk Minamata semua tercemar.

PENYAKIT MINAMATA

Penyakit Minamata terjadi akibat banyak mengkonsumsi ikan dan kerang dari Teluk Minamata yang
tercemar metil merkuri. Penyakit Minamata bukanlah penyakit yang menular atau menurun secara genetis.
Penyakit ini ditemukan pertama kali di kota Kumamoto pada tahun 1956 dan pada tahun 1968 pemerintah
Jepang menyatakan bahwa penyakit ini disebabkan oleh pencemaran pabrik Chisso Co., Ltd.

Metil merkuri yang masuk ke tubuh manusia akan menyerang sistem saraf pusat. Penyakit ini bersifat
neurologik, atau gangguan pada sistem sensorik. Gejala awal antara lain kaki dan tangan menjadi gemetar
dan lemah, kelelahan, telinga berdengung, kemampuan penglihatan melemah, kehilangan pendengaran,
bicara cadel dan gerakan menjadi tidak terkendali. Beberapa penderita berat penyakit Minamata menjadi
gila, tidak sadarkan diri dan meninggal setelah sebulan menderita penyakit ini.

Merkuri dikelompokkan menjadi merkuri anorganik dan merkuri organik (metil merkuri). Logam merkuri
adalah merkuri anorganik yang digunakan dalam pembuatan lampu fluoresen, batere dan termometer. Metil
merkuri adalah merkuri organik yang berbentuk serbuk putih dan berbau seperti belerang pada sumber air
panas. Senyawa ini mudah terserap oleh organ pencernaan dan dibawa oleh darah ke dalam otak, liver dan
ginjal bahkan ke dalam janin.

Merkuri anorganik dapat berubah menjadi metil merkuri karena ditransformasi oleh bakteri di perairan
misalnya Desulfovibrio desulfuricans LS. Merkuri organik akan terserap oleh ikan dan kerang melalui insang
atau saluran pencernaan. Metil merkuri yang terbentuk di perairan secara bertahap diakumulasi dalam tubuh
ikan dan kerang dan konsentrasinya berlipat ganda dalam rantai makanan biota perairan. Contohnya
merkuri dalam plankton diserap oleh ikan kecil dan jumlahnya berlipat sesuai dengan jumlah plankton yang
dimakan ikan, kemudian ikan kecil dimakan oleh ikan besar dan merkurinya berlipat ganda. Beberapa
polutan seperti metil merkuri dan dioksin yang dilepaskan ke lingkungan menunjukkan konsentrasi yang
tinggi pada organisme yang menempati puncak rantai makanan.
Methylmercuri dalam ikan tidak dapat direduksi dengan memasaknya karena metil merkuri dalam ikan terikat
erat pada protein dan pemanasan pada temperatur yang biasa digunakan saat memasak kecuali jika ikan
dibakar pada suhu diatas 400 dan ikan akan menjadi arang.

JUMLAH KORBAN PENYAKIT


MINAMATA

Hingga April 30 April 1997, jumlah penduduk Provinsi Kumamoto dan Kagoshima yang menyatakan
diri sebagai korban Minamata disease berjumlah lebih dari 17.000 orang, sebanyak 2264
diantaranya telah diakui oleh Pemerintah dan 1408 diantaranya telah meninggal sebelum 31
Oktober 2000. Disamping itu 10.353 yang telah resmi dinyatakan sebagai penderita/korban
Minamata menerima ganti rugi sebagai kompensasi. Sehingga jumlah penderita penyakit Minamata
akibat keracunan merkuri dilaporkan sekitar 12.617 orang.
PARA KORBAN PENYAKIT MINAMATA

BANTAHAN PERUSAHAAN
CHISSO

Setelah diketahui bahwa ikan dan kerang yang ditangkap di perairan teluk Minamata ini
telah tercemar oleh limbah dari pabrik Chisso, dan menyebabkan penyakit Minamata.
Namun perusahaan ini membantah, bahwa limbahnya menjadi penyebab penyakit
Minamata tersebut. Berbagai upaya dilakukan oleh pihak perusahaan untuk berkelit
dari tanggung jawab yang harus mereka emban.

Para peneliti dibawah Kementrian Kesehatan Masyarakat Jepang, yang kelompok


penelitinya berasal dari Fakultas Kedokteran Universitas Kumamoto terus melakukan
upaya keras untuk mencari sedetil-detilnya penyebab penyakit Minamata ini, mereka
menganalisis satu persatu korban dengan menelusuri apa saja yang dikonsumsi, dan
apakah penyakit tersebut adalah penyakit turunan atau kutukan. Selain melakukan
penelitian dari para korban, mereka juga melakukan penelitian tentang air, lumpur, ikan
dan kerang yang ada di sekitar teluk Minamata. Mereka juga melakukan berbagai
percobaan dengan menggunakan kucing dan tikus yang diberikan makanan dari ikan
yang ditangkap di perairan teluk Minamata, hasilnya kucing-kucing dan tikus-tikus
tersebut menjadi gila lalu mengalami kejang-kejang dan akhirnya mati.

Kemudian tanggal 12 November 1959, anggota Komite Dewan Investigasi Makanan


dan Sanitasi Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan memaparkan laporannya
kepada menteri, yang menyatakan bahwa Penyakit Minamata adalah suatu penyakit
keracunan yang utamanya mempengaruhi sistem saraf pusat akibat mengkonsumsi
ikan dan kerang-kerangan dari teluk Minamata dan sekitarnya dalam jumlah banyak,
dimana agen penyebabnya adalah semacam campuran merkuri organik.

GANTI RUGI KEPADA


KORBAN

Penderita Minamata dan Chisso membuat kesepakatan kompensasi


pada bulan Juli 1973 berdasarkan keputusan pengadilan pada Maret
1973 yang menetapkan negosiasi langsung setelah persidangan.
Korban yang telah terdaftar menerima ganti rugi sebesar 16-18 juta yen
dan mendapat tambahan biaya pengeluaran tahunan untuk perawatan
medis, biaya perawatan, pemakaman dan perawatan berendam di air
panas, dan akupuntur . Disamping itu Chisso menggunakan bunga
anggaran kompensasi untuk membiayai pemenuhan perlengkapan
penderita Minamata, upah perawat, pembelian hadiah, terapi pijat dan
transportasi ke rumah sakit. Bahkan bagi penderita yang belum
terdaftar dan mengalami mati rasa pada tangan dan kaki akibat
mengkonsumsi banyak ikan dan kerang, pemerintah Kumamoto dan
Kagoshima akan membayar pengeluaran medis yang tidak tertanggung
dalam asuransi kesehatannya serta untuk pengeluaran pengobatan
lainnya sebesar 17.200 sampai 23.500 yen perbulan sampai November
2000 dalam Proyek terpadu pemulihan penyakit Minamata.
Setiap penderita Minamata baik yang telah meninggal maupun masih
hidup dan memenuhi persyaratan telah tercemar oleh metil merkuri
(kecuali korban yang telah terdaftar) bersedia untuk tidak menuntut
Chisso lebih lanjut dan menerima ganti rugi sebesar 2,6 juta yen.

PERBAIKAN TELUK
MINAMATA

Lumpur di Teluk Minamata mengandung merkuri di atas 25 ppm dipulihkan dengan mengeruk sebagian lumpur dan mereklamasinya
yang menghabiskan 48,5 milyar yen selama lebih dari 14 tahun. Biaya pemulihan ini ditanggung oleh pemerintah Kumamoto.
Akibatnya sebagian Teluk Minamata diurug hingga menjadi daratan seluas 58 hektar. Kualitas air di Teluk Minamata saat ini menjadi
air yang paling bersih dan jernih di Kumamoto dan masyarakat tidak takut lagi untuk berenang dan bermain di sana. Untuk
mencegah tersebarnya ikan yang terkontaminasi merkuri, pemerintah memasang jaring isolasi di mulut teluk pada tahun 1974 dan
mendata nelayan yang menangkan ikan di sana. Chisso membeli ikan yang ditangkap dari Teluk Minamata dan membuangnya.

Kandungan merkuri dalam ikan dan kerang di Minamata telah menurun sejak Chisso berhenti memproduksi asetaldehid. Pada tahun
1994, pemerintah Kumamoto menyebutkan bahwa tidak ada hewan yang mengandung merkuri dalam jumlah melebihi ambang batas
yang ditetapkan pemerintah yaitu 0,04 ppm total merkuri dan 0,3ppm metil merkuri. Gubernur Kumamoto menyatakan Minamata
telah aman pada bulan Juli 1997 dan jaring isolasi dilepas pada bulan Oktober, sehingga ikan dan kerang di Teluk Minamata telah
aman seperti ikan dari daerah lain yang tidak tercemar.
Meskipun jaring isolasi telah diangkat dari laut, pemantauan kandungan merkui di dalam ikan dan kerang tetap dilakukan dua kali
setiap tahunnya selama tiga tahun ke depan. Data menyeluruh tentang laut Minamata seperti kerusakan lingkungan yang sangat
luas dan kesehatan penduduk setempat perlu disampaikan ke seluruh dunia agar dapat belajar dari kasus Minamata.

PELAJARAN YANG DIPETIK


DARI TRAGEDI MINAMATA

Penyakit Minamata terjadi karena masyarakat banyak mengkonsumsi ikan


yang terkontaminasi metil merkuri dari limbah pabrik Chisso dan
menimbulkan perpecehan di masyarakat. Penduduk Minamata telah
menyadari bahwa air dan makanan sangat penting bagi kehidupan,
sehingga limbah industri dan rumah tangga jangan sampai merusak
lingkungan.
Produksi masal dan konsumsi masal membuat hidup lebih nyaman tetapi
juga menghasilkan limbah masal yang mengorbankan lingkungan dan
kesehatan, dikelilingi oleh asap, pupuk kimia, pengawet makanan dan
bahan beracun lainnya. Kita tidak boleh mementingkan kehidupan materialis
tanpa memperhatikan hubungan antar bangsa. Penyakit Minamata
menunjukkan bahwa manusia menyebabkan terjadinya masalah sekaligus
menjadi korban dari masalah yang dibuatnya sendiri.
Penyakit Minamata juga mengajarkan kebersamaan dengan alam bahwa
kita dapat hidup karena adanya alam semesta, membina hubungan dengan
manusia, sungai, laut dan membutuhkan makanan yang aman, perlu
mengurangi limbah rumah tangga dan industri serta berupaya melakukan
daur ulang untuk mengatasi berbagai masalah global.

PELANGGARAN ETIKA
ENGINEERING
Membuang limbah anorganik jenis metil
merkuri langsung ke teluk minamata, yang
merupakan salah satu sumber kehidupan
masyarakat sekitar.
Tidak adanya pengolahan limbah yang
baik, dari pabrik sebesar chisso yang
merupakan salah satu pabrik yang
terkemuka pada jaman itu.
Lemahnya kesadaran yang dimiliki oleh
pihak perusahaan, akan hubungan dengan
masyarakat sekitar.

ANALISA DALAM ETIKA


REKAYASA

SELESAI