Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENGINDERAAN JAUH

INTERPRETASI CITRA SECARA MANUAL dan DIGITAL


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Interpretasi Ruang (TKP 256)
Dosen Pembimbing : Dra. Bitta Pigawati, M. T

DisusunOleh:
Ajeng Pramitha Eka Cahya
21040113120035
Kelas A

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014
Kata Pengantar
Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, maka telah diselesaikan
pembuatan Laporan Penginderaan Jauh interpretasi secara manual dan interpretasi secara
Arc Gis, dalam selang waktu yang telah ditentukan. Materi kali ini dapat memberikan
pengenalan kepada kami sebagai mahasiswa jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Undip

yang nantinya akan berkesimpung dengan bahan pemetaan. Pengenalan ini merupakan
salah satu materi dari perkuliahan matakuliah interpretasi ruang JPWK Undip yang harus
dilalui oleh setiap mahasiswa JPWK Undip.
Kami mengucapkan terimakasih kepada dosen pengampu mata kuliah interpretasi
ruang yang telah memberikan tugas pembuatan kontur dan peta lereng, serta kepada
teman-teman yang telah mendukung. Kami berharap kedepan dapat mengikuti perkuliahan
secara baik dengan berbagai kondisi. Masih banyaknya kekurangan pada pembuatan
Laporan Penginderaan Jauh interpretasi secara manual dan interpretasi secara Arc Gis ini,
maka kami mengharapkan saran dan kritik dari pembaca.

Semarang, 11 April 2014


Penulis

Laporan Analisis
1. Judul
Laporan Penginderaan Jauh Interpretasi secara Manual
2. Tujuan
Tujuan praktikum ini yaitu :
1. Mangetahui cara interpretasi citra secara manual
2. Mengetahui karakteristik suatu wilayah dari sebuah peta citra
3. Mengetahui kunci-kunci interpretasi manual yang dapat digunakan dalam
mengidentifikasi suatu objek
3. Alat dan Bahan
- Peta Citra
- Penggaris
- Snowmen for OH
- Plastik Mika
- Penjepit Kertas
4. Langkah Kerja
1. Ambillah peta citra yang telah disediakan.
2. Tumpuk peta citra dengan platsik mika. Setelah itu, jepit kedua lembar tersebut
dengan penjepit kertas agar posisi peta citra dan plastik mika tidak berubah.
3. Menginterpretasikan sesuai dengan peta dan ketentuan.
5. Dasar Teori
A. Pengertian Penginderaan Jauh
Teknologi penginderaan jauh (remote sensing) berkembang dengan pesat sejak
eksplorasi atariksa berlangsung sekitar tahun 1960-an dengan mengorbitnya satelitsatelit Gemini, Apollo, Sputnik, Solyus. Kamera yang mengambil gambar permukaan
bumi dari satelit memberikan informasi berbagai gejala dipermukaan bumi seperti
geologi, kehutanan, kelautan dan sebagainya. Akan tetapi, seiring dengan
perkembangan iptek, ternyata inderaja seringkali berfungsi sebagai suatu ilmu.
Penginderaan jauh merupakan berbagai teknik yang dikembangkan untuk
memperoleh dan analisis informasi tentang bumi. Informasi tersebut khusus berbentuk
radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan dari permukaan bumi
(Lindgren). Sedangkan menurut Lillesand and Kiefer, tagun 1979, Penginderaan Jauh
adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala
dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak
langsung terhadap obyek, daerah, atau gejala yang dikaji. Berikut ini pandangan para ahli
terhadap Penginderaan jauh :
1. Menurut Colwell (1984)
Penginderaaan jauh yaitu suatu pengukuran atau perolehan data pada objek di
permukaan bumi dari satelit atau instrumen lain di atas atau jauh dari objek yang
diindera.
2. Menurut Curran (1985)
Penginderaan jauh yaitu penggunaan sensor radiasi elektromagnetik untuk
merekam gambar lingkungan bumi yang dapat diinterpretasikan sehingga
menghasilkan informasi yang berguna.
3. Menurut American Society of Photogrammetry (1983)

Penginderaan jauh merupakan pengukuran atau perolehan informasi dari beberapa


sifat objek atau fenomena, dengan menggunakan alat perekam yang secara fisik
tidak terjadi kontak langsung dengan objek atau fenomena yang dikaji.
B. Pengertian Interpretasi Citra
Interpretasi citra merupakan suatu kegiatan untuk menentukan bentuk dan sifat
obyek yang tampak pada citra, berikut deskripsinya.interpretasi citra dan fotogrametri
berhubungan erat, meskipun keduanya tidak sama. Bedanya, fotogrametri
berkepentingan dengan geometri obyek, sedangkan interpretasi citra berurusan dengan
manfaat, penggunaan, asal-usul, ataupun identitas obyek yang bersangkutan (Glossary of
the Mapping Science, 1994).
C. 8 kunci Interpretasi Citra Manual
Interpretasi secara manual adalah interpretasi data penginderaan jauh yang
mendasarkan pada pengenalan ciri atau karakteristik objek secara keruangan.
Sedangkan Interpretasi secara digital adalah evaluasi kuantitatif tentang informasi
spektral yang disajikan pada citra. Dasar interpretasi citra digital berupa klasifikasi citra
pixel berdasarkan nilai spektralnya dan dapat dilakukan dengan cara statistik.
Lillesand dan Kiefer (1994) dan juga Sutanto (1986) menyebutkan 8 unsur
interpretasi yang di gunakan secara konvergen untuk dapat mengenali suatu obyek yang
ada pada citra, kedelapan unsur tersebut ialah warna/rona, bentuk, ukuran, bayangan,
tekstur, pola, situs dan asosiasi. Diantara ke delapan unsur tersebut, warna/rona
merupakan hal yang paling dominan dan langsung mempengaruhi pengguna citra dalam
memulai interpretasi.
1. Rona dan warna (tone/color).
Rona (tone / color tone / grey tone) ialah tingkat kegelapan atau kecerahan objek
pada citra. Adapun warna adalah wujud yang tampak oleh mata. Rona ditunjukkan
dengan gelap putih. Ada tingkat kegelapan warna biru, hijau,merah,kuning dan
jingga.Rona dibedakan atas lima tingkat, yaitu putih, kelabu putih,kelabu, kelabu
hitam, dan hitam.
Karakteristik objek yang mempengaruhi rona, permukaan yang kasar cenderung
menimbulkan rona yang gelap, warna objek yang gelap cenderung menimbulkan
rona yang gelap, objek yang basah/lembap cenderung menimbulkan rona gelap.
Contoh pada foto pankromatik air akan tampak gelap, atap seng dan asbes yang
masih baru tampak rona putih, sedangkan atap sirap ronanya hitam.
2. Bentuk (shape)
Bentuk merupakan variabel kualitatif yang memerikan konfigurasi atau kerangka
suatu obyek (Lo, 1976). Bentuk merupakan atribut yang jelas sehingga banyak objek
yang dapat dikenaliberdasarkan bentuknya saja. seperti bentuk memanjang,
lingkaran, dan segi empat. Contoh gedung sekolah pada umumnya berbentuk huruf
I,L,U atau berbentuk empat persegi panjang. Rumah sakit berbentuk empat persegi
panjang.
Tajuk pohon palma berbentuk bintang, tajuk pohon pinus berbentuk kerucut, dan
tajuk bambu berbentuk bulu-bulu
3. Ukuran (size)
Berupa jarak, luas, tinggi,lereng, dan volume, selalu berkaitan dengan skalanya.
ukuran rumah sering mencirikan apakah rumah itu rumah mukim,kantor, atau
industri. Contoh Rumah mukim pada umumnya lebih kecil bila dibandingkan dengan
kantor atau pabrik. ukuran lapangan sepak bola 80 m X 100 m, 15 m X 30 m lapangan
tennis, 8 m X 15 m bagi lapangan bulu tangkis.
4. Kekasaran (texture)

Tekstur adalah frekuensi perubahan rona pada citra (Lillesand dan Kiefer, 1979) atau
pengulangan rona kelompok obyek yang terlalu kecil untuk dibedakan secara
individual (Estes dan Simonett, 1975). Tekstur adalah halus kasarnya objek pada
citra, Contoh pengenalan objek berdasarkan tekstur
1) hutan bertekstur kasar,belukar bertekstur sedang, semak bertekstur halus
2) tanaman padi bertekstur halus, tanaman tebu bertekstur sedang, dan tanaman
pekarangan bertekstur kasar.
3) permukaan air yang tenang bertekstur halus
5. Bayangan (shadow)
Bayangan bersifat menyembunyikan objek yang berada di daerah gelap. Bayangan
dapat digunakan untuk objek yang memiliki ketinggian, seperti objek bangunan,
patahan, menara.
6. Pola (pattern)
Pola adalah hubungan susunan spasial objek. Pola merupakan ciri yang menandai
objek bentukan manusia ataupun alamiah. pola aliran sungai sering menandai bagi
struktur geologi dan jenis tanah. Misalnya, pola aliran trellis menandai struktur
lipatan. kebun karet, kelapa sawit dan kebun kopi memiliki pola yang teratur
sehingga dapat dibedakan dengan hutan.
7. Situs (site)
Kaitan dengan lingkungan sekitarnya. tajuk pohon yang berbentuk bintang
menunjukkan pohon palma, yang dapat berupa kelapa,kelapa sawit,enau,sagu,
dipah dan jenis palma yang lain. Bila polanya menggerombol dan situsnya di air
payau maka dimungkinkan adalah nipah.
8. Asosiasi (Association)
Asosiasi adalah keterkaitan antara objek yang satu dengan objek lainnya. Suatu
objek pada citra merupakan petunjuk bagi adanya objek lain. stasiun kereta api
berasosiasi dengan rel kereta api yang jumlahnya bercabang. Selain bentuknya yang
persegi panjang, lapangan bola ditandai dengan situsnya yang berupa gawang.
6. Hasil dan Pembahasan
Dapat disimpulkan bahwa setiap objek memilki karakteristik masing-masing.
Walaupun sejenis, hutan, semak-semak, dan rumput memilki karakteristik yang
berbeda. Hutan memilki tekstur kasar, semak-semak memilki tekstur sedang, dan
rumput memiliki tekstur halus. Hal yang lainnya adalah pemukiman memiliki tekstur
yang kasar. Hal ini disebabkan karena rumah-rumah dalam suatu pemukiman
memilki ketinggian yang berbeda-beda.
Selain itu, terdapat pula suatu objek yang memilki keterkaitan dengan objek
lain. Seperti pemukiman selalu berkaitan dengan atap yang berwarna coklat tua
atau oranye. Sawah, semak-semak, dan pepohonan selalu berkaitan satu sama lain.
Laut selalu brkaitan dengan adanya pelabuhan. Pabrik berkaitan dengan atap yang
terbuat dari seng. Jalan raya berkaitan dengan garis pembatas jalan. Dan masih
banyak lagi objek lainnya yang saling berkaitan.
7. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu sebagai berikut :
1. Kemampuan interpretasi citra penginderaan jauh sangat dibutuhkan oleh seorang
perencana untuk mengidentifikasi karakteristik suatu wilayah tanpa kontak
langsung dengan wilayah tersebut.
2. Untuk mengidentifikasi suatu objek pada citra, dibutuhkan kunci interpretasi
citra.
3. Sebuah wilayah memiliki objek-objek dengan karakteristik yang berbeda sehingga
membutuhkan interpretasi yang berbeda pula.

Sumber :
Noo, Djauhari.2011. Geologi untuk Perencanaan. Yogyakarta : Graha Ilmu
Anonim. 2010. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. www.lk.ipb.ac.id. Di
unduh 7 April 2014
Sonmantri, Lili. Tanpa Angka Tahun. Teknologi Penginderaan Jah (Remote
Sensing). http://file.upi.edu. Di unduh paa 7 April 2014

Laporan Analisis
1. Judul
Laporan Interpretasi Citra dengan cara Digital
2. Tujuan
Tujuan praktikum ini yaitu :
1. Mangetahui cara interpretasi citra secara manual dan digital
2. Mengetahui karakteristik suatu wilayah dari sebuah peta citra
3. Mengetahui kunci-kunci interpretasi manual dan mengolah peta citra dengan ArcGIS.
4. Dapat mengetahui perbedan dari peta citra manual dan digital.
3. Alat dan Bahan
- Peta Citra Quick Birds
- Komputer yang telah diinstall ArcGIS
4. Langkah Kerja
1. Membuka aplikasi Arc Gis

2.

Menentukan koordinat sistem terlebih dahulu klik view

data frame properties

3. Pilih coordinate system


predefined
projected coordinate systems
WGS 1984
WGS 1984 UTM Zone 49S, lalu klik apply, ok

4.

Membuka folder gambar dengan klik Add data, lalu pilih folder yang sesuai

UTM

5. Pilih Arc Catalog

6.

Lalu klik kanan new shapfile. Ganti name menjadi TGL ubah typenya menjadi
polygon karena itu berbentuk bangun

7.

Mengubah koordinat dengan klik edit predefined


projected coordinate systems
UTM
WGS 1984
WGS 1984 UTM Zone 49S, lalu klik add, ok. Ulangi langkah
tersebut dengan mengulangi membuat shp jalan dan sungai dengan type polilyne

8.

Lalu klik pada editor pilih start editing lalu klik sketch tool lalu mulai mendigit pada
bagian pojok atas kiri hingga membentuk kotak kembali lagi ke pojok kiri atas lagi

9.

Klik kanan pada layer TGL


OK

properties pilih display. Pada tabel transparan 60% lalu

10. Lalu klik kanan pada shp TGL pilih data atributte tabel

11. Klik options lalu pilih add field tulis pada tebel name dengan membuat data 8 kunci
interpretasi citra ditambah kolom keterangan dan typenya di isi text ,kecuali ukuran
pilih long integer dan untuk asoaiasi, situs dan kterangan karakternya ditambah
menjadi 100 . Klik OK

12. Agar keterangannya tidak berpindah klik kanan pada kolom keterangan pilih freez.

13. Lalu mulai mendigit peta tersebut dengan task di ubah menjadi cut polygon future.
Lalu klik pada editor start editor jika sudah jangan lupa save editor lalu stop editing.

14. Lalu klik kanan lagi pada layer TGL pilih open attribute tabel, pada tabel keterangan
di klik maka akan muncul panah hitam dan itu sesuai dengan apa yang sudah kita
digit. Lalu diganti keterangan misalnya :
1. Keterangan : laut
2. Rona_warna : biru gelap
3. Bentuk : tidak berukuran
4. Ukuran : klik kanan pada kolom ukuran calculate geometric properties area unite
(mter) lalu OK
Begitu seterusnya.
Untuk mencari ukuran klik calculate geometric.

15. Jika sudah di digit semua klik kanan pada layer TGL
properties
category
unit value value field diganti keterangan

symbology

Lalu memilih warna yang sesuai dengan tatanan warna tata guna lahan.

16. Klik kanan pada TGL properties categories value field diganti keterangan pada all
other di unchecklist
17. Klik label, pada label field di isi keterangan pada kotak label field di cheklist, OK
18. Layar TGL klik kanan propertis display transparancy 50%

19. Untuk membuat UTP klik change layout

20. Untuk memisahkan keterangan klik kanan pada legenda tersebut lau pilihconvert
klik kanan lagi ungroup

5. Kajian Teori
A. Pengertian Penginderaan Jauh
Menurut Lilesand et al. (2004) mengatakan bahwa penginderaan jauh adalah ilmu
dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah, atau fenomena
melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan
objek, daerah, atau fenomena yang dikaji. Penginderaan jauh dalam bahasa Inggris
disebut
Remote Sensing bahasa Perancis disebut Teledetection, bahasa Jerman adalah
Fernerkundung, Portugis menyebutnya dengan Sensoriamento Remota, Rusia disebut
Distantionaya, dan Spanyol disebut Perception Remota
B. Pengertian Interpretasi Citra

Interpretasi citra merupakan suatu kegiatan untuk menentukan bentuk dan sifat
obyek yang tampak pada citra, berikut deskripsinya.interpretasi citra dan fotogrametri
berhubungan erat, meskipun keduanya tidak sama. Bedanya, fotogrametri
berkepentingan dengan geometri obyek, sedangkan interpretasi citra berurusan dengan
manfaat, penggunaan, asal-usul, ataupun identitas obyek yang bersangkutan (Glossary of
the Mapping Science, 1994).
Ada tiga hal penting yang perlu dilakukan dalam proses interpretasi, yaitu :
1. Deteksi : citra meruakan pengamatan tentang adanya suatu objek, misalkan
pendeteksi objek sebuah daerah dengan dengan perairairan.
2. Identifikasi : Identifikasi atau pengenalan merupakan upaya mencirikan
objek yang dideteksi dengan menggunakan keterangan yang cukup,
misalnya mengidentifikasikan suatu objek kotak -kotak sebagai tambak di
sekitar perairan karena objek tersebut dekat dengan laut.
3. Analisis : Analisis merupakan pengklasifikasian berdasarkan proses induksi dan
deduksi, seperti penambalan informasi bahwa tambak tersebut adalah tambak udang
dan diklasifikasikan sebagai daerah pertambakan udang.Interpretasi citra
penginderaan jauh
a. Interpretasi secara manual interpretasi secara manual adalah interpretasi data
penginderaan jauh yang mendasarkan pada pengenalan ciri/karakteristik objek secara
keruangan. Karakteristik objek dapat dikenali berdasarkan 8 unsur interpretasi yaitu
bentuk, ukuran, pola, bayangan, rona dan warna, tekstur, situs, dan asosiasi.
b. Interpretasi secara digitalInterpretasi secara digital adalah evaluasi
kuantitatif tentang informasi spektral yang disajikan pada citra. Dasar
interpretasi citra digital berupa klasifikasi ctra pixel berdasarkan n ilai
spektralnya dan dapat dilakukan dengan cara statistik. Dalam
pengklasifikasian citra secara digital, mempunyai tujuan khusus untuk
mengkategorikan secara otomatis setiap pixel yang mempunyai
informasi spektralyang sama dengan mengikutkan pengenalan po la
spektral, pengenalan pola spasialdan pengenalan pola temporal yang
akhirnya membentuk kelas atau tema keruangan (spasial) tertentu.
C. 8 kunci Interpretasi Citra
Rona / warna
Rona (tone / color tone / grey tone) adalah tingkat kegelapan atau tingkat kecerahan
obyek pada citra. Berbeda dengan rona yang hanya menyajikan tingkat kegelapan,
warna menunjukkan tingkat kegelapan yang lebih beraneka.
Bentuk
Bentuk dan ukuran merupakan asosiasi sangat erat. Bentuk menunjukkan konfigurasi
umum suatu obyek sebagaimana terekam pada citra penginderaan jauh . Bentuk
mempunyai dua makna yakni :
a. bentuk luar / umum
b. bentuk rinci atau sususnana bentuk yang lebih rinci dan spesifik.
Ukuran
Ukuran merupakan bagian informasi konstektual selain bentuk dan letak. Ukuran
merupakan atribut obyek yang berupa jarak , luas , tinggi, lereng dan volume
(sutanto, 1986). Ukuran merupakan cerminan penyajian penyajian luas daerah yang
ditempati oleh kelompok individu.
Tekstur
Tekstur merupakan frekuensi perubahan rona dalam citra ( Kiefer, 1979). Tekstur
dihasilkan oleh kelompok unit kenampkan yang kecil, tekstur sering dinyatakan

kasar,halus, ataupu belang-belang (Sutanto, 1986). Contoh hutan primer bertekstur


kasar, hutan tanaman bertekstur sedang, tanaman padi bertekstur halus.
Pola
Pola merupakan karakteristik makro yang digunakan untuk mendiskripsikan tata
ruang pada kenampakan di citra. Pola atau susunan keruangan merupakan ciri yang
yang menandai bagi banyak obyek bentukan manusia dan beberapa obyek alamiah.
Hal ini membuat pola unsure penting untuk membedakan pola alami dan hasil
budidaya manusia. Sebagai contoh perkebunan karet , kelapa sawit sanagt mudah
dibedakan dari hutan dengan polanya dan jarak tanam yang seragam.
Bayangan
Bayangan merupakan unsure sekunder yang sering embantu untuk identifikasi obyek
secara visual , misalnya untuk mengidentifikasi hutan jarang, gugur daun, tajuk ( hal
ini lebih berguna pada citra resolusi tinggi ataupun foto udara)
Situs
Situs merupakan konotasi suatu obyek terhadap factor-faktor lingkungan yang
mempengaruhi pertumbuhan atau keberadaan suatu obyek. Sirtus bukan cirri suatu
obyek secara langsung, teapi kaitanya dengan factor lingkungan. Contoh hutan
mangrove selalu bersitus pada pantai tropic, ataupun muara sungai yang
berhubungan langsung dengan laut ( estuaria).
Asosiasi (korelasi )
Asosiasi menunjukkan komposisi sifat fisiognomi seragam dan tumbuh pada kondisi
habita yang sama. Asosiasi juga berarti kedekatan erat suatu obyek dengan obyek
lainnya. Contoh permukiman kita identik dengan adanya jaringan tarnsportasi jalan
yang lebih kompleks dibanding permukiman pedesaan. Konvergensi bukti Dalam
proses penafsiran citra penginderaan jauh sebaiknya digunakan unsure diagnostic
citra sebanyak mungkin. Hal ini perlu dilakukan karena semakin banyak unsure
diagnostic citra yang digunakan semakin menciut lingkupnya untuk sampai pada
suatu kesimpulan suatu obyek tertentu. Konsep ini yang sering disebut konvergensi
bukti.
D. Pengertian Deliniasi
Deliniasi adalah batas pemisahan antara masing-maing strata atau kelompok
deliniasi juga dapat diartikan suatu kegiatan penilaian atau seleksi visual dan pembeda
wujud gambaran pada berbagai data informasi keadaan apangan atau areal hutan
dengan jalan menarik garis.
E. Pengertian Tata Guna Lahan
Tata guna tanah adalah rangkaian kegiatan untuk mengatur peruntukan,
penggunaan dan persediaan tanah secara berencana dan teratur sehingga diperoleh
manfaat yang lestari, optimal, seimbang dan serasi untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat dan negara. Tata guna lahan berupa :

Kawasan permukiman
Kawasan permukiman ini ditandai dengan adanya perumahan yang disertai prasana
dan sarana serta infrastrukutur yang memadai. Kawasan permukiman ini secara sosial
mempunyai norma dalam bermasyarakat. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 015% (datar hingga landai).

Kawasan perumahan
Kawasan perumahan hanya didominasi oleh bangunan-bangunan perumahan dalam
suatu wilayah tanpa didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Kawasan ini
sesuai pada tingkat kelerengan 0-15% (datar hingga landai).

Kawasan perkebunan

Perkebunan ini ditandai dengan dibudidayakannya jenis tanaman yang bisa


menghasilkan materi dalam bentuk uang. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 815% (landai).

Kawasan pertanian
Kawasan pertanian ditandai oleh adanya jenis budidaya satu tanaman saja. Kawasan
ini sesuai pada tingkat kelerengan 8-15% (landai).

Kawasan ruang terbuka hijau


Kawasan terbuka hijau ini dapat berupa taman yang hanya ditanami oleh tumbuhan
yang rendah dan jenisnya sedikit. Namun dapat juga berupa hutan yang didominasi oleh
berbagai jenis macam tumbuhan. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 15-25% (
agak curam ).

Kawasan perdagangan
Kawasan perdagangan ini biasanya ditandai dengan adanya bangunan pertokoan
yang menjual berbagai macam barang. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 0-8%
( datar )

Kawasan industri
Kawasan industri ditandai dengan adanya proses produksi baik dalam jumlah kecil
maupun dalam jumlah besar. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 8-15% ( hingga
landai ).

Kawasan perairan
Kawasan perairan ini ditandai oleh adanya aktifitas perairan, seperti budidaya ikan,
pertambakan, irigasi, dan sumber air bagi wilayah dan sekitarnya.

6. Hasil dan pembahasan


Dapat disimpulkan :
a. Kawasan Pendidikan
Kawasan pendidikan terdiri dari gedung-gedung kuliah dan lapangan parkir.
Gedung-gedung di kawasan pendidikan pada umumnya berwarna cokla dan

orange. Menurut hasil analisis, kawasan pendidikan merupakan kawasan yang


mendominasi kawasan.
b.Pemukiman
Pemukiman terdiri dari rumah-rumah penduduk, kos-kosan, dan pertokoan yang
sebagian besar bersatu dengan rumah penduduk. Ada 3 jenis pemukiman di
kawasan semarang, yaitu pemukiman sedang, rendah, dan pemukiman padat.
c.Lahan Kosong
Lahan kosong merupakan lahan yang telah memiliki dasar kepemilikan dan
dapat berupa lahan terbangun maupun tidak terbangun yang tidak
dimanfaatkan secara optimal oleh penguasa lahan tersebut.

Sumber :
Yaslinus. Tanpa Angka Tahun. TEORI DASAR INTERPRETASI CITRA SATELIT LANDSAT TM7+
METODE INTERPRETASI VISUAL ( DIGITIZE SCREEN). http://www.oocities.org. Di
unduh pada 7 April 2014
Sf, Rina. Tanpa Angka Tahun. Interpretasi Citra. http://www.scribd.com. Di unduh pada 7
April 2014
PT. Arfak Indra. 2011. Deliniasi batas kawasan koneksi dengan kawasan masyarakat
setmpat. www.issuu.com. Di unduh pada 7 April 2014
Dheandra, Rahma. 2012. Tata Guna Lahan. http://rahmadhendra.staff.unri.ac.id. Di unduh
pada 7 April 2014

Lampiran

Anda mungkin juga menyukai